POSTINGAN POPULER

Monday, March 18, 2019

META MODEL

'Kemahalan'
Dalam sebuah kelas Master NLP, saya menunjukkan gambar Vanesa Angel, kemudian minta komentar dari para peserta. Dan berikut saya sarikan beberapa komentar mereka:

Peserta 1: "Wow, gadis 80 jeti!"
Peserta 2: "Cewek ga bener tuh!"
Peserta 3: "Kasihan dia... "
Peserta 4: "Kemahalan kalau segitu!"

Hehehe, saya yakin Anda juga punya segudang komentar berbeda jika dihadapkan pada peristiwa sejenis. Pertanyaannya adalah kenapa satu gambar yang sama bisa memunculkan komentar beragam?
Sebelum kita cari tahu jawaban pertanyaan ini, saya akan ajak Anda memahami beberapa hal yang melatari fenomena tersebut.
***

'Prior Knowledge'
Sepanjang hidup kita, hari demi hari, bulan dan tahun yang terlewati pasti memberikan kita pengalaman dan informasi mengenai sekeliling kita. Bahkan konon kabarnya pengetahuan tadi sudah bermula saat usia kita masih 4 bulan di dalam kandungan ibunda. Pengalaman dan informasi tadi dikenal dengan istilah Prior Knowledge (pengetahuan awal)

Hailikari dalam disertasinya: Assessing University Students’ Prior Knowledge: Implications For Theory And Practice. Finland: Helsinki University. 2009,  mendefinisikan pengetahuan awal (prior knowledge) sebagai kombinasi antara pengetahuan dan keterampilan. Lebih lanjut, ia menjelaskan pengaruh pengetahuan awal dalam proses pembelajaran yaitu:

1. Pengetahuan awal berfungsi sebagai kategori label yang mempengaruhi informasi baru untuk ditambahkan ke pengetahuan struktur yang sudah ada

2. Pengetahuan awal berfungsi sebagai konteks asimilasi di mana materi baru akan saling berkaitan, sehingga akan lebih mudah mengkonstruksi pengetahuan melalui proses elaborasi, dan

3. Pengaktifan pengetahuan awal dapat meningkatkan akses pengetahuan selama proses pembelajaran.

Jadi, dapat dinyatakan pengetahuan awal adalah pengetahuan yang dibangun oleh seseorang sebelum sebuah proses pembelajaran terjadi. Kalangan praktisi pendidikan mengenal Prior Knowledge dengan istilah APERSEPSI.
***

'Model dari Model'
Sebuah experience masuk ke dalam pikiran manusia melalui panca indera (vakog) yang setelah melalui proses filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi) kemudian akan menjadi sebuah belief (deep structure). Belief terbentuk karena adanya prior knowledge. Dengan kata lain prior knowledge sama dengan Deep Structure. Proses terbentuknya deep structure ini merupakan pemodelan pertama yang terbentuk dalam sebuah jalinan komunikasi intrapersonal.

Komunikasi intrapersonal akan membuat para penuturnya melakukan wicara timbal balik. Proses wicara yang dilakukan seseorang merupakan proses transliterasi yang juga mesti melewati filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi) deep structure menjadi jalinan kata (surface structure). Proses ini merupakan pemodelan kedua yang secara tak sadar terjadi.
Dengan kata lain sebenarnya Meta Model merupakan 'model dari model' perilaku wicara intrapersonal manusia.
Proses pembelajaran paling dasar terjadi ketika informasi (data) terbaru terkoneksi dengan prior knowledge /deep structure kita. Istilahnya dalam pembelajaran adalah ASOSIASI.

Nah, terjawab sudah kenapa satu gambar yang sama bisa memunculkan beberapa komentar berbeda. Para peserta tadi mencari konektivitas (asosiasi)  gambar tadi dengan data yang ada di pikiran mereka. Kemudian ketika mereka memroses pendapat mereka (deep structure) menjadi jalinan kata (surface structure) secara tak sadar mereka melakukan filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi), maka munculah komentar-komentar tersebut.

Agar data awal dan informasi baru terkoneksi dengan baik, maka isi deep structure mesti JELAS. Akan terjadi blunder ketika kita terlalu cepat mengambil  kesimpulan deep structure seseorang hanya berbasis dari jalinan kata (surface structure) mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah proses KLARIFIKASI.

UNTUK melakukan klarifikasi, diperlukan pertanyaan bersifat chunking down, yang berfungsi:
1. Men-spesifik-kan yang telah tergeneralisir
2. Melengkapi yang telah terdelesi
3. Mengungkap hubungan distorsi yang terjadi

'META MODEL'
Meta Model bukan sekedar ‘TEKNIK BERTANYA’, melainkan lebih dalam dari itu. Sebagaimana dibahas dalam buku THE ULTIMATE INTRODUCTION OF NLP karya RICHARD BANDLER, ALESSIO ROBERTI & OWEN FITZPATRICK, tujuan penggunaan Meta Model adalah sebagai berikut:

• Mendapatkan informasi yang lebih SPESIFIK.
• MENGKLARIFIKASI informasi.
• Membuka MODEL DUNIA seseorang

A. GENERALIZATION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi disampaikan dengan DISAMARKAN dalam bentuk PENYAMARATAAN, seolah-olah satu hal berlaku untuk berbagai atau semua hal lain. Kalimat yang mengandung kata SETIAP, SEHARUSNYA, TIDAK PERNAH, SEMUA, SELURUH, TIDAK ADA, dll.

a. UNIVERSAL QUANTIFIER
--> Kamu tidak pernah peduli sama aku (Sejak kapan? Tidak pernah?)
b. MODAL OPERATOR
--> Kita harus bisa! Kita bisa melakukannya. Harus! (Bisa apa? Bagiamana caranya?)
c. LOST PERFORMER
Informasi yang seolah dilontarkan dari figur otoritas, biasanya keyakinan turun-temurun, yang tidak jelas sumber asalnya
--> Ini ide bodoh! (Ide siapa? Siapa yang menilai?)

B. DELETION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi disampaikan dengan tidak utuh, karena ada bagian yang TERHAPUS di dalamnya (S+P+O, P+O+K, S+P+K)

a. SIMPLE DELETION
Menggunakan simple deletion, kita mengucapkan suatu kalimat dengan mengabaikan informasi mengenai seseorang, suatu benda/hal, atau keterkaitan antara keduanya.
--> Pergi! (Siapa yang Anda suruh pergi, saya? Atau?)

b. COMPARATIVE DELETION
Membandingkan suatu hal dengan hal lain, tanpa menyebutkan secara jelas pembandingnya.
--> Kemahalan! (Dibandingkan apa?Apanya yang kemahalan)

c. UNSPECIFIED NOUN OR VERBS DELETION
Mengucapkan sebuah kalimat yang tidak secara spesifik menunjuk suatu obyek atau kata kerja tertentu.
--> Cewek ga bener! (Menurut siapa? Apanya yang ga bener?)

C. DISTORTION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi MENYIMPANG pemaknaannya, apa yang disampaikan berpotensi menciptakan makna tersendiri yang lain meski kenyataannya mungkin tidak begitu.

a. COMPLEX EQUIVALENCE (A=B)
Informasi yang disampaikan dengan melibatkan dua hal yang seolah ada hubungannya padahal keduanya belum tentu memiliki keterhubungan satu sama lain

“Dia tidak pernah memberi saya bunga lagi, dia tidak mencintai saya lagi.”

Analisa:
Apa hubungannya antara memberi bunga dengan cinta? Apakah cinta harus selalu disimbolkan dengan bunga? Bagaimana jika ia menggantinya dengan hal lain kali ini?

b. CAUSE EFFECT (A --> B)
Informasi yang menyiratkan ada keterhubungan dari suatu hal yang menyebabkan hal lain terjadi, Menyakini bahwa sesuatu terjadi oleh hukum sebab akibat.
--> Dia membuat saya marah! (Bagaimana ceritanya)

c. MIND READING
Informasi yang disampaikan seolah dengan membaca pikiran atau persepsi orang lain
--> Maaf telah membuat Anda kecewa (Kecewa, apanya? Bagaimana?)

d. NOMINALIZATION
Informasi yang disampaikan seolah membuat sebuah proses perilaku menjadi seperti ‘benda’ mati yang kaku. Dalam normalization perlu diungkap: AKTOR dan AKSI
--> Kebahagiaannya semakin berkurang sejak dia pergi. (Maksud Anda rasa bahagianya?)
***

Jika Anda perhatikan kumpulan pola kalimat di atas, sesungguhnya bisa kita simpulkan bahwa satu pola MELIBATKAN pola lain. Ada kalanya sebuah kalimat memiliki unsur deletion, di saat yang bersamaan memiliki unsur distortion dan generalization.

Yang terpenting bukan mengetahui pola pelanggarannya secara teori, melainkan memahami esensi di balik kalimat yang diucapkan klien, ada informasi apa yang hilang disana yang Anda ingin ketahui lebih dalam.

Tanya diri Anda apakah informasi itu sudah cukup spesifik untuk Anda pahami? Apakah Anda masih harus mengklarifikasinya karena kalimat itu masih perlu diuji? Apa yang Anda ingin lakukan kemudian, membuka model dunia klien untuk apa dan dengan cara bagaimana? Semua kembali pada tujuan dasar Anda melakukan komunikasi dengan orang tersebut

Anda masih ingin memahami pelanggaran apa lagi yang sering dilakukan orang di sekitar kita? Daftarkan diri Anda dalam NNLP Comprehensive Bootcamp, tanggal 3-7 April 2019 bertempat di Hotel Grand Mutiara Megamendung Puncak Bogor.

Selama 5 hari 4 malam, kita akan bersama-sama ngulik pemahaman kita tentang diri kita sendiri dan bagaimana bisa memahami orang di sekitar kita agar kita bisa hidup berdampingan dengan harmonis bersama mereka.
Masih tersisa 2 seat lagi.

Jadi, tunggu apa lagi, segera hubungi nomor di bawah ini:
•Mas Joko: +62817878337
•Mas Kono: +6287872152653
•Mas Dewo: +628119487572
•Mas Muhar: +6282213438963

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
www.thecafetherapy.com

PS: Sebagian besar materi ini saya dapatkan ketika mengikuti kelas NF NLP yang diampu oleh guru saya Kang Surya Kresnanda. Sungkem pak guru...

Tuesday, March 05, 2019

JANGAN LUPA BAHAGIA

Saya pernah mendengar sebuah kisah menarik dari seorang  ustadz dalam sebuah pengajian.

Dikisahkan suatu hari, ada seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?”

“Tidak mungkin, Nak,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu penasaran. Baginya, bisa saja ada orang yang tidak melakukan dosa selama hidupnya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?”

Sambil menggelengkan kepalanya, ayahnya berkata, “Tak mungkin, Nak.”

Gadis kecil itu tidak mau berhenti bertanya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?”

Sang ayah berkata, “Tidak mungkin, Nak.”

Gadis kecil itu bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?”

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawabnya. Lantas ia berkata, “Hmm.. Satu hari 24 empat jam Nak, sepertiganya (terpotong) 8 jam kita gunakan untuk tidur, dan sisanya kita gunakan untuk bersosialisai, jadi tidak mungkin kita tidak berbuat berdosa dalam sehari”

Gadis kecil itu mengajukan pertanyaan lagi, “Lalu bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, ayah? Bisakah?”

Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu mungkin bisa, Nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar untuk tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ayah,” kata gadis kecil itu.

Ayahnya berkata : “Kalau begitu nak,  Yuk satu jam ini,  kita taat menahan diri untuk tidak berbuat dosa, kalau memang satu jam ini kita bisa,  maka pelan-pelan kita  tambah  setengah jam, dan jam-jam berikutnya…"
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, menurut saya cara Ustadz ini berkisah sangatlah luar biasa. Dia mencoba mencacah sebuah perilaku besar menjadi perilaku-perilaku kecil yang lebih sederhana dan terasa mudah untuk dilakukan. Menghikmati kisah di atas maka kita bisa menarik sebuah analogi, berarti kita bisa berbuat baik sepanjang usia kita. Atau bahkan kita akan mampu merasa bahagia sepanjang usia kita. Caranya dengan mengulang perbuatan baik dan kebahagiaan kita setiap saat, setiap jam. Bukankah ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa pengulangan merupakan ibu dari semua keahlian?
***

Tahun 70-an ada dua orang jenius dari Amerika yang menemukan teknik kunci mengulang ini. Mereka menyebutnya dengan modeling. Dua orang jenius tadi adalah Richard Bandler, seorang mahasiswa matematika dan ilmu komputer, dan John Grinder, seorang associate profesor bidang linguistik. Keilmuan yang mereka ciptakan kemudian diberi nama NLP (Neuro Linguistic Programing)

Bandler dan Grinder mengklaim bahwa ketrampilan seseorang dapat 'dimodel' menggunakan metodologi NLP kemudian ketrampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Artinya dengan memelajari NLP maka keinginan anak kecil tadi akan lebih mudah diwujudkan. Dengan mendapatkan polanya, maka kita bisa mengulang perasaan bahagia kita dari masa ke masa. Keren apa keren?

Salah satu asumsi NLP yang paling dasar adalah the map is not the territory. Bahwa peta itu meskipun mewakili sebuah wilayah, namun bukanlah wilayah itu sesungguhnya. Bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita hanyalah sebuah kilasan peristiwa belaka, sampai kita memberinya sebuah makna.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membuat sebuah eksperimen kecil. Yaitu pergi ke kantor hanya berbekal uang tunai sebesar Rp 10 ribu. Dan semuanya baik-baik saja ketika pikiran saya menganggap bahwa seluruh perjalanan saya PP kantor rumah akan berjalan baik. Tentu bensin dalam kondisi penuh, dan kartu tol juga tersedia.

Biasanya orang baru merasa aman ketika di dompet mereka tersedia dana yang cukup untuk mengatasi kasus emergensi yang mungkin muncul. Taruh kata untuk perjalanan Jakarta Bogor, ya tersedia uang Rp 200-300 ribu. Ketika dana di dompet kurang dari itu, biasanya orang akan merasa galau. Dan biasanya memang ada saja hal tak diiginkan yang terjadi. Ban gemboslah, nyenggol kendaraan lainlah, dlsb.

Luar biasanya ketika dompet kita tertinggal, namun kita tidak menyadarinya, kok kita merasa nyaman saja berkendara sampai kantor. Dan biasanya perjalanan juga berjalan dengan lancar saja. Betul tidak?

Terbukti, bahwa yang membuat kita nyaman bukan jumlah uang di dompet, namun perasaan memiliki dana yang cukup. Atau dalam istilah kerennya abundance mentality. Perasaan berkecukupan ini rupanya bisa dilatih tanpa harus menilik wilayah sesungguhnya.

Hari ini usia saya ganjil 47 tahun (bukan genap khan?) dan sudah banyak berseliweran peristiwa demi peristiwa yang saya lalui. Dengan berpegang pada tausiah ustadz di atas, serta pemahaman saya tentang NLP, maka saya senantiasa berjuang untuk menjadi bahagia, masa demi masa.

Terimakasih saya ucapkan kepada semua sahabat, kerabat yang telah mendoakan yang terbaik bagi saya, pesan saya untuk Anda semua.

Jangan lupa bahagia, apapun situasi yang sedang Anda hadapi

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Tuesday, February 26, 2019

MANCING MANIA!

Di tengah laut, terlihat sebuah fishing boat yang berjalan pelan. Begitu kamera mulai mendekat, terlihat ada 5 orang pria dengan perlengkapan memancing sedang sibuk mengulurkan joran mereka. Mereka mengulur, dan memutar fishing reel beberapa kali, dan tak lama berselang salah satu dari mereka berteriak, "Strike!"

Jorannya melengkung, tangan kiri mempertahankan ujung joran yang menempel di fishing rod belt, sementara tangan kanan sibuk memutar fishing reel, mengulur lagi, menunggu ikannya kelelahan.
Terlihat betapa cerianya pria yang berhasil mendapatkan seekor ikan kue lumayan besar itu. Dia berfoto dengan ikan hasil pancingannya tadi sambil berucap, "Mancing Mania. Maantaab!"

Fragmen di atas merupakan cuplikan acara TV yang masih sering saya tonton, yaitu Mancing Mania.
Saya punya kawan yang sangat hobby mancing di laut. Dan takjub dengan pengetahuan dia mengenai dunia permancingan. Dus, termasuk penguasaan dia mengenai lahan tempat dia mancing, yaitu lautan lepas. Dia bahkan punya aplikasi yang bisa memprediksi cuaca dan tingginya gelombang di lautan. Wow...
***

Disadari atau tidak, saya kok merasa ada persamaan antara trainer dan fisherman.
Ternyata menjadi trainer itu tidak sekedar menguasai materi dan menyampaikan materi tersebut dengan sempurna, kemudian selesai. Jauh sebelum hal itu dilakukan, ada sebuah proses panjang yang mesti dilalui oleh seorang trainer. Apakah itu?
***

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiriBagi Anda yang hobby memancing tentu sangat mahfum bahwa terdapat beberapa tipe memancing lengkap dengan pelbagai tingkat kesulitannya. Ada yang hobby mancing di empang, di sungai, di pantai, bahkan sampai ke tengah laut. Mancing yang paling 'murmer' tentu saja di sungai. Tinggal cari sungai yang banyak spot ikan kumpulnya, pakai umpan cacing, maka duduklah di tepian sungai sembari sesekali menarik joran. Namun bekal kesabaran memang modal utama pada hobby memancing tipe ini.

Memancing yang high risk sekaligus menyedot budget yang tidak bisa dibilang murah adalah deep sea fishing. Tentu saja ikan yang diperoleh serta kepuasannya juga sepadan.
Nah, bagi Anda yang tidak berani ke tengah laut, dan malas nunggu lama di pinggir kali, Anda bisa mencoba mancing di empang. Di empang kita bisa memilih untuk mendapatkan ikan apa saja. Biasanya pemilik empang sudah memisah-misahkan ikan mereka pada kolam yang berbeda. Ada ikan mas, patin, bawal, lele dll. Memang ada tarif tersendiri untuk masing-masing ikan yang akan kita pancing tersebut.
***

Bagaimana kawan, sudah ngeh dengan metafora yang saya berikan? Ya, selain keahlian yang mumpuni sebagai seorang trainer, kita juga perlu memelajari keahlian lain memancing ikan, alias mencari peserta training. Idem dito dengan metafora di atas, kita bisa memilih style river fishing atawa mancing di kali. Selain perlu kesabaran tingkat tinggi, biasanya hasil yang diperoleh tidak akan terlalu banyak. Ya wajar sahaja kerana modal yang dikeluarkan juga tidak banyak. Trainer tipe ini adalah mereka yang setelah menyiapkan sebuah pelatihan, memesan tempat, kemudian puas dengan menebar brosur di medsos tak berbayar (atau berbayar minimal).

Atau kita bisa memilih deep sea fishing. Modal besar, risiko tinggi, hasil sepadan. Biasanya trainer tipe ini adalah mereka yang berdompet tebal. Mereka pasang iklan lewat TV, Radio atau memasang baliho dengan investasi yang tidak bisa dibilang murah. Beberapa di antara mereka bisa sukses dengan cara demikian. Berarti ada juga yang kurang berhasil.

Nah, kalau kita merasa tak sanggup memilih dua tipe pemancing di atas, masih ada kok empang penuh ikan yang bisa kita pancing kapanpun kita mau. Dan berapapun ikan yang kita ingin dapatkan, boleh dibawa. Asal kita siap dengan maharnya, hehehe.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, dunia berjalan begitu pesat. Dunia internet sudah mencapai kecepatan 5G. Dunia industri sudah menginjak masa 4.0, dimana salah satu kunci agar pelaku bisnis bisa bertahan adalah kolaborasi.

Maka, jika sebagai trainer jika kita belum memiliki kolam sendiri, pinjamlah kolam kawan kita. Tentu syarat dan ketentuan akan berlaku. Sembari meminjam kolam, kita bisa belajar bagaimana membuat dan mengelola sebuah kolam. Istilah jaman now nya adalah 'funneling market'. Dan sebagai trainer, jangan lupa untuk senantiasa membaca literatur terbaru, sehingga kita juga dengan mudah akan mulai menulis. Yup, tulisan kita merupakan representasi dari siapa diri kita.
Dengan tulisan pula, kita bisa mulai membuat kolam kita.

Saya masih sangat ingat pesan yang diberikan oleh salah satu guru saya, Alm. Yan Nurindra. "Har, kalau Anda ingin orang lain mengenal Anda, maka menulislah"

"Strike!"


Sila tebar jika manfaat...

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Artikel Unggulan

META MODEL

'Kemahalan' Dalam sebuah kelas Master NLP, saya menunjukkan gambar Vanesa Angel, kemudian minta komentar dari para peserta. Dan be...