POSTINGAN POPULER

Monday, June 01, 2020

"Tolong Saya Pak!"




Menjadi terapis adalah sebuah pilihan jalan hidup tersendiri. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Dengan kompetensi unik bisa memberdayakan orang lain, maka tak heran jika kemudian banyak orang yang menggantungkan situasi dan kondisinya kepada kita. Bahkan terkadang para klien itu melakukan over expectation kepada kita. Mereka pikir kita pasti berhasil membantunya, tak peduli apapun situasinya. 

Dalam kelas-kelas terapi seperti Advanced Hypnotherapy dan NLP, saya selalu menekankan bahwa tugas kita adalah memberdayakan klien, bukan sebaliknya memperdayakan mereka. Apa maksudnya? 

Dalam NLP ada sebuah presuposisi luar biasa mengenai kondisi setiap orang yaitu bahwa dalam diri kita sudah terdapat semua sumberdaya untuk sukses (sembuh/berdaya), kita hanya perlu mengenali, memperkuat dan mengurutkannya. Maka ketika ada seorang klien datang kepada kita dan mengutarakan kondisinya (yang sedang tidak berdaya saat itu), ingatlah presuposisi tadi. Mereka merasa tidak berdaya hanya karena belum mengenali sum-berdaya mereka. So, tugas kitalah mengenalkan mereka kepada sum-berdayanya tadi. 

Bagaimana kita bisa mengenali sumberdaya mereka? Jawabannya adalah lakukan pre induction talk sebelum melakukan sesi terapi. Dalam pre induction talk ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan sbb:

- Building Rapport atau menjalin hubungan demi tercapainya keterhubungan bawah sadar (Sub conscious connected) antara terapis dengan klien. Tujuan dari langkah ini adalah mendapatkan TRUST klien.

• Exploring Client Modalities atau mencari tahu preferensi klien dalam menerima informasi dari dunia luar. Apakah dia dominan Visual, Auditori ataukah Kinestetik

• Hypnotherapy Training adalah penjelasan logis mengenai proses dan keseluruhan sesi terapi.

• Suggestibility Test yang merupakan serangkaian tes sederhana untuk mengetahui apakah klien itu memiliki tingkat sugestivitas tinggi, menengah atau rendah

Secara agak ekstrem bahkan saya selalu berpesan untuk tidak melakukan terapi sebelum melakukan pre induction talk. 

Tapi apakah pesan saya tadi mutlak hukumnya? 
-----------------

Sahabatku yang berbahagia, suatu malam saya sedang berada dalam mobil bersama team menuju Jakarta, sepulang dari pelatihan di Purwokerto. Tetiba saja masuk telepon dari nomor tak dikenal. Dan ketika saya angkat teleponnya, di seberang sana terdengar suara seorang perempuan muda yang sedang mengalami kepanikan. 
"Halo, ini dengan Pak Hari?"
"Betul Mbak, apa yang bisa saya bantu?"
"Pak, tolong saya Pak. Saya bisa mati kalau Bapak tidak segera menolong saya. Please, tolong saya sekarang Pak!"

Suara di seberang telepon itu membombardir saya laksana senapan uzi, nyaris tanpa memberikan saya kesempatan untuk bicara. 

"Sebentar Mbak. Boleh tahu nama Mbak siapa. Dan tahu nomor saya dari mana, dan situasi apa yang sedang dialami?", saya berusaha memotong serbuan panic attack yang sedang dialami oleh perempuan muda tadi. 

"Nama saya Bunga (bukan nama sebenarnya), saya takut mati Pak Hari. Saya mendapat nomor Bapak dari guru saya, Pak Anu (juga bukan nama sebenarnya). Katanya Bapak pasti bisa membantu saya" ujar perempuan tadi dengan nada masih penuh kecemasan. 

Begitu klien tadi menyebut nama Pak Anu sebagai referensor saya, maka saya langsung membimbing klien tadi membuat WFO (Well Formed Outcome):
"Bismillahir rahmanir rahiim, saya yakin atas ijin Allah, sebentar lagi saya bisa merasa tenang dan damai begitu selesai sesi terapi. Aamiin"

Kemudian saya langsung meminta klien ini masuk ke kamar, rebahan dengan tiga bantal mengganjal kepalanya. Saya juga minta dia untuk menggunakan headset agar semua suara saya bisa masuk ke kepalanya, sementara tangannya saya minta untuk menempel pada mic headsetnya. Guna dari tangan ini adalah sebagai ganti ideo motor response. Jadi setiap kali selesai memberikan sugesti, saya minta dia untuk mengetuk mic tadi jika dia setuju dengan sugesti saya. 

Lebih kurang setengah jam saya memandu klien tadi untuk mengenali si tenang dan damai dalam dirinya, sampai kemudian ketika saya bangunkan lagi, dia sudah bisa bercerita dengan kondisi yang lebih tenang. 

"Terimakasih Pak Hari, sudah mau membantu saya. Boleh gak saya minta satu hal lagi?"
"Tentu boleh. Apa itu Mbak Bunga?"
"Berapa nomor rekening Pak Hari"

Alhamdulillah..... 
-----------------------

Sahabatku yang berbahagia, dalam kasus malam itu saya tidak melakukan pre induction talk. Saya langsung membimbing klien untuk membuat goal dan melakukan terapi? Lho kok bisa? 

Sebenarnya inti dari pre induction talk ada pada Building Rapport, atau menjalin kedekatan emosional. Ketika terapis dan klien sudah mengalami kedekatan emosional, maka akan terjalin rasa percaya (trust) secara timbal balik. Klien percaya terapisnya, dan terapis percaya kepada kliennya. Ini penting, karena dengan hubungan vice-versa ini maka terciptalah pusaran energi positif (disingkat epos) atau lingkaran malaikat. Jika salah satu saja tidak memberikan rasa percayanya, maka yang muncul adalah pusaran energi negatif (disingkat eneg) atau lingkaran setan. 

Dan ketika klien sudah percaya kepada terapis, maka secara otomatis apapun yang dikatakan oleh terapis langsung menjadi kenyataan dalam pikiran klien. Kemudian dengan menanamkan future pacing, maka apapun yang berhasil menjadi kenyataan dalam pikiran klien, juga menjadi kenyataan dalam kehidupan mereka. 

Dalam kondisi biasa, diperlukan beberapa teknik khusus untuk melakukan building Rapport, seperti mirroring dan matching. Namun dalam kasus malam itu proses building rapport mengalami by passed, dengan adanya referensi dari satu sosok yang juga sangat dipercaya oleh klien saya tadi. 

Kalau gitu ente plin plan dong? 

Bukan plin plan Bro, tapi fleksible. Bukankah itu merupakan salah satu pilar NLP? 

Wah, bisa panjang nih kalau dilanjutkan dengan membahas pilar NLP. Mending join saja di kelas online saya tgl 3-7 Juni ini, jam 13-16 WIB. Masih ada seat kok..... 


Tabik ah

-haridewa-
Happiness Life Coach 
NNLP Master Trainer 

Tuesday, May 26, 2020

The Pillow Technic



Saya mendapatkan tehnik ini dari guru saya, Kang Asep Haerul Gani. 

Luarbiasanya, tehnik ampuh ini berasal dari kearifan lokal. Tepatnya bersumber dari naskah-naskah kuno abad 17-an, yang merupakan rahasia 'kebesaran hati' para raja Jawa yang berkuasa di Pakualaman, Praja Mangkunegaran, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. 

Diceritakan dalam naskah kuno tadi bahwa para pemimpin kerajaan jawa ini selain memiliki tutur bahasa halus, juga senantiasa memiliki kendali emosi yang sangat bagus ketika berbicara di depan rakyatnya. Apapun kondisi yang sedang dihadapi, namun setiap kali ada kesempatan untuk melakukan orasi, kondisi fisik dan emosi sang raja pasti sangat terjaga dengan baik. Emosinya sangat netral,  bahkan seperti tanpa emosi sedikitpun. 

Bagaimana bisa seseorang, apalagi dia seorang raja, mampu memiliki pengendalian emosi sehebat itu? Apakah memang kehidupan mereka sudah sempurna, sehingga mereka sudah tidak memiliki emosi lagi? Tidak mungkin bukan, karena emosi merupakan salah satu perangkat non fisik yang wajib dimiliki manusia dalam menunjang hidup dan kehidupannya. 

Rupanya para raja tadi memang memiliki rahasia yang telah turun temurun dipraktekkan ketika menghadapi hantaman emosi negatif tingkat tinggi. Dalam beberapa literatur, dikatakan bahwa ketika Sri Sultan Hamengkubuwono (raja Jogja) sedang 'peteng penggalihe' (bingung atau galau) maka Kanjeng Sinuwun ini akan masuk ke ruangan khusus untuk melakukan semadi. Ada juga beberapa pihak yang meyakini bahwa di dalam ruangan tersebut Kanjeng Sinuwun sedang minta bantuan dari Kanjeng Ratu Kidul. 

Namun rupanya terdapat versi tersendiri dalam naskah kuno tersebut yang mengatakan bahwa ketika sedang bingung, sang raja memang akan masuk ke sebuah ruang khusus, kemudian mengunci diri dari dalam. 

Di dalam ruang khusus tersebut telah tersedia beberapa 'ubo rampe' (tools), yang salah satunya adalah bantal, daun lontar serta alat tulis. Kemudian sang raja akan mengambil daun lontar serta alat tulis. Dengan berlasakan bantal, beliau mulai menggambar situasi atau wajah orang yang membuatnya galau. Sang raja juga akan menuliskan semua keadaan atau sifat, perilaku dan semua hal mengenai sosok yang mengganggu pikirannya tadi. 

Ketika sudah puas menggambar dan menuliskan semua kondisi yang dialaminya, sang raja mulai merasai semua sensasi yang muncul. Bisa marah, kesal, murka, kecewa, dll. Kemudian sang raja akan menyadari dan mengakui apa yang sedang dirasakannya. Namun hal ini tidak dibiarkan lama terjadi, karena sang raja buru-buru mengeluarkan bagian diri itu dari tubuhnya. Kalau sekarang mungkin kita mengenalnya dengan melakukan disosiasi. 

Setelah melakukan disosiasi maka raja membiarkan bagian dirinya itu (yang sudah keluar dari tubuhnya) merespon semua perilaku dari orang atau situasi yang mengganggunya tadi  dengan sebebas-bebasnya. 

Dia bisa memaki dengan intensitas yang adekuat untuk me-'release' emosi negatifnya tadi. Dia bisa menendang bantalnya, menggigit, memukul, menyobek dll sampai emosi negatifnya hilang. Sang raja hanya akan berhenti saat sudah merasa tenang dan netral ketika melihat gambar yang ada di daun lontar tadi. Dan ketika hal itu terjadi, bagian diri itu akan kembali masuk ke dalam tubuhnya. Asosiasi. Wow... 
---------------------------

Sahabatku yang berbahagia, rupanya itu rahasia para raja jawa dalam mengontrol emosi negatifnya. Jika diperhatikan teknik ini mirip dengan teori Gestalt-nya Fritz Perls yang baru dikembangkan pada awal abad 20. Sementara teknik bantal ini sudah berlangsung semenjak abad 17. Maka sebagai terapis nusantara kita tidak perlu berkecil hati dengan teknik-teknik dari luar, karena kearifan lokal kita menyimpan banyak teknik yang jika diulik dengan seksama juga memiliki keampuhan tersendiri. 

Berikut saya ulang cara melakukan teknik bantal ini sesuai dengan kondisi kita sekarang:

1. Cari tempat yang nyaman dan aman dari gangguan. 

2. Ambil bantal, kertas dan alat tulis

3. Bayangkan situasi yang sedang Anda alami. Kemudian tuliskan situasinya dengan gaya 'show', bukan 'tell' (baca tulisan saya terdahulu, Show don't Tell). Munculkan semua sensasi dalam panca indera Anda (VAKOG) 

4. Sadari dan akui semua emosi yang muncul, dan jika semua sensasi emosi negatif sudah muncul, segera lakukan disosiasi. Intinya adalah itu bukan Anda, hanya bagian kecil dari diri Anda (part of) 

5. Kemudian ijinkan PART Anda tadi melakukan apa yang ingin dilakukan. Pastikan saja melakukannya secara kongruen. Jika ingin memaki, ya memakilah dengan teriakan dan bahasa tubuh yang sesuai. "ASUUUUU, DIANCUUUK!" bukan sekedar "nuwun sewu panjenengan segawon"

6. Pukul, gigit, tendang, sobek, remas bantal tadi sampai puas

7. Kuncinya adalah Ex-press-i kan. Ex adalah keluarkan. Press adalah tekanan. Maka keluarkanlah semua tekanan yang ada di dalam dada Anda. 

8. Tandanya Anda sudah sembuh adalah ketika sudah merasa netral ketika melihat kertas yang berisi gambar yang Anda buat tadi. 

9. Segera lakukan asosiasi lagi ketika Anda sudah merasa tenang. Jika diperlukan, buatlah sebuah anchor rasa tenang dan damai. 
----------------------------

Sahabatku yang berbahagia, teknik asosiasi-disosiasi, bahkan Gestalt biasa dipelajari dalam kelas-kelas NLP. 

Saya ada kelas NLP online tgl 3-7 Juni 2020 ini, dan tersisa 1 seat dengan harga Early Bird Rp 2 mio. 

Namun jangan khawatir, jika Anda belum berminat mengikuti kelas online ini, tapi memiliki keinginan kuat untuk belajar NLP, silakan bergabung di grup Belajar NLP bersama para alumni terdahulu, dengan meng-klik tautan di bawah ini: 

https://chat.whatsapp.com/InIqHJUQrQMKCtdqTLjgwD

Silakan tebar, jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Friday, May 22, 2020

Show don't Tell!



Tulisan ini terpancing oleh diskusi ringan di sebuah whatsapp group mengenai bagaimana sebuah proses kreatif bisa muncul tadi malam. Selain sebagai trainer dan terapis, saya juga senang menulis. Bahkan mungkin bisa dikatakan jika saya juga seorang penulis, mengingat saya sudah menelorkan beberapa buku pemberdayaan diri dan juga puisi. Selain artikel yang berhubungan dengan hipnosis, NLP dan happiness, saya juga senang menulis cerita pendek (meski menurut sahabat yang membaca, cerpen saya tidak pernah pendek, wkwkwk) 

Bagi saya menorehkan tinta ke sebuah kertas merupakan sebuah kebutuhan, sebagai salah satu cara mengekspresikan pikiran saya. Apalagi di saat saya sedang tidak mengajar, maka kebutuhan mengeluarkan ide tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan. 

Menurut hemat saya, ada persamaan mendasar dalam tiga profesi saya di atas, trainer, terapis dan penulis, yaitu kekuatan imajinasi dan proses kreatif. 

Yang masih sering menjadi perdebatan dan kebingungan beberapa pihak adalah bagian pikiran yang bertugas melakukan imajinasi itu bagian sadar atau bawah sadar? 

Untuk memudahkan Anda memahami hal ini, ijinkan saya memberikan definisi imajinasi. Menurut KBBI Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan)  atau khayalan. Membayangkan atau berkhayal itu artinya membuat sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. 

Coba diingat lagi membuat sesuatu yang belum pernah ada itu fungsi PS or PBS? 

Masih bingung? Baiklah, mari kita gunakan sebuah metafora atau analogi agar memudahkan pemahaman kita. 

Jika diibaratkan komputer, PS itu diwakili oleh keyboard atau RAM?

Yes, saya setuju dengan Anda, PS itu keyboard, PBS itu RAM. Nah dalam hal komputer ini, yang bertugas memunculkan hal baru, sebuah kata baru misalnya saja LIKITIK, keyboard atau RAM. Tentu saja keyboard bukan? Setelah kata likitik tercipta, maka akan masuk ke gudang memori (RAM) 

Fungsi ini mirip sekali dengan layanan predictive text pada smartphone kita. Predictive text tidak akan pernah muncul ketika kita belum pernah mengetikkan kata bersangkutan. 

Membuat sesuatu yang baru dilakukan oleh pikiran sadar karena meskipun memiliki mega space, namun PBS "hanya" merupakan gudang data personal kita. 

Pertanyaan selanjutnya adalah, bukankah hasil imajinasi yang bagus ditentukan juga oleh data yang tersimpan di gudang memori tersebut? Betul sekali, itulah yang dinamakan proses kreatif. Jadi imajinasi diatur oleh PS, tapi fungsi proses kreatif didukung oleh PBS. 

Kembali ke predictive text tadi, ketika kita baru mengetik huruf 'a' saja, maka sudah akan tersedia data beragam seperti 'apa, aku, anu, ada, asa, aja, asu', dll, sesuai dengan kata yang pernah kita masukkan. Itu ditentukan oleh sistem memori (PBS). Tapi yang menentukan kita mau mengambil predictive text yang mana itu keputusan pikiran sadar to?

Itulah kenapa keluarga seniman biasanya menurunkan bakatnya kepada anak cucu mereka. Karena bank datanya sudah ada sedari mereka berada di dalam kandungan. 

Anak penyanyi biasanya juga menjadi musisi, anak pelukis biasanya juga berbakat menjadi pelukis. Karena bank data mengenai seni sudah diberikan oleh lingkungan sedari dalam kandungan. 
------------------------------

Diskusi berkembang dengan pertanyaan menarik mengenai terapi. Apakah mungkin seorang yang merasa tidak memiliki memori atau kenangan yang menyenangkan diminta mengakses kenangan yang menyenangkan? 

Tentu tidak bisa! 
Terus bagaimana membantu klien yang seperti ini? Itulah tugas dari terapis. 

Terapis yang berpengalaman akan lebih banyak menggunakan teknik showing, bukan telling dalam melakukan terapi kepada klien seperti ini. 

Nah apa pula bedanya? 

Showing mengajak klien ikut merasakan.  Sementara telling hanya ngasih tahu aja. Lu paham atau kagak itu bukan urusan gua, yang penting gua dapetin duit lu! 

Telling bersifat abstrak dan cenderung tidak melibatkan klien. Klien hanya dijejali pandangan terapis tentang kondisi ideal yang diharapkan, tanpa diajak untuk mengolah informasi dalam narasi tersebut.

Showing kebalikannya, bersifat konkret dan secara aktif melibatkan klien. Showing berusaha menciptakan gambaran dalam benak klien sehingga menjadikan karakter baru yang diharapkan atau narasi situasi yang diharapkan semakin hidup. Showing mendorong klien untuk ikut mengolah apa yang disampaikan terapis dan bahkan mengambil kesimpulannya sendiri.

Contoh Telling: 
"Semakin lama, Anda merasa semakin sehat"

Contoh Showing: 
"Dari hari ke hari,  Anda bisa melihat badan Anda semakin tegap. Langkah Anda semakin tegak. Otot-otot tubuh Anda semakin menguat, dan persendian Anda semakin lentur. Tarikan nafas Anda sangat dalam. Detak jantung Anda juga sedemikian berirama. Bahkan irama lagu paling indahpun kalah oleh teraturnya detak jantung Anda. Anda bisa mendengar decak kagum kawan-kawan Anda melihat kondisi tubuh Anda sekarang. Situasi ini membuat Anda merasa lebih sehat, semakin sehat dan bahagiaaa...."

Sangat berbeda bukan? 

Berikut saya share tips membuat sugesti yang bersifat showing:

1. Gambarkan desired state-nya secara terperinci. Semakin konkret penggambaran Anda, bayangan di benak klien semakin jelas. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan satu kalimat sederhana, dan kembangkan dengan memasukkan detail-detail yang relevan.

2. Rangsang semua pancaindra (VAKOG) klien saat menggambarkan sebuah benda, misalnya, jangan hanya menyampaikan bentuk dan warnanya. Sebutkan pula ukuran, tekstur, bahkan bau dan rasanya jika ada.

3. Dorong emosi klien melalui penggambaran karakter baru yang diharapkan, apa yang dipikirkan dan dirasakan klien, dengan jelas dan terperinci. Jangan sekadar memberitahukan apa yang dirasakan dan dipikirkan klien. Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan tindakan-tindakan perbaikan yang diambil klien, alih-alih menceritakan sifatnya.

4. Jika diperlukan gunakan script dialog yang ekspresif untuk menunjukkan emosi dan sifat klien yang baru. 

Diskusi  semakin asyik, dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01 lewat, maka kamipun bersepakat untuk mengakhiri  unformal discussion tadi malam agar tak terlewatkan malam yang lebih bagus dibanding seribu bulan. 

Terimakasih Mas Johan Firdaus, Mas Anton  Wibowo,  Mas Andi Alamsyah,  Mas Dwi Batman,  Mas Henry Tedi yang telah menemani saya berburu mba Laila tadi malam. 

Sila tebar jika tulisan ini bermanfaat. 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Artikel Unggulan

"Tolong Saya Pak!"

Menjadi terapis adalah sebuah pilihan jalan hidup tersendiri. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Dengan kompetensi unik bisa memberdaya...