POSTINGAN POPULER

Tuesday, November 06, 2018

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai keuntungan mengkonsumsi pete, saya sudah menjadi 'pete mania'. Ibarat kata saya ditawarin makan pete atau sate, saya pasti memilih sate, sama pete! Wkwkwk

Istri sayapun mahfum bahwa isi kulkas boleh kosong dari telur, daging atau ikan, tapi tak boleh absen dari sayur yang namanya pete ini! Pagi ini saya cek stok pete di kulkas, dan ternyata tersisa satu papan saja. "Waduh, mesti segera hunting lagi nih", si pete mania dalam diri saja berbisik.

Maka selesai mengantar si bungsu ke sekolahnya, sayapun meluncur ke pasar tradisional yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah anak saya tadi. Di pasar tadi ada beberapa penjual sayur yang biasanya menyediakan pete sebagai dagangan pelengkap mereka. Namun pagi ini rupanya mereka sedang tidak ready stock.

Seingat saya masih ada satu kios di pojok pasar yang malah hanya menjual pete, jengkol dan beberapa buah tertentu. Biasanya kios ini buka agak siang, jadi kalau saya datang pagi sehabis mengantar anak sekolah tadi, kios tadi belum buka. Untunglah pagi ini, kios tadi sudah buka. Bergegas saya menuju ke pojok pasar, dan betul saja, bapak penjual sedang menyusun pete yang sangat segar serta montok di lapaknya.
"Berapaan petenya Pak?"
"Tujuh ribu saja Mas", jawabnya dengan logat Jawa yang sangat kental
Menyadari ternyata penjualnya adalah orang Jawa, spontan saya menimpalinya dengan bahasa Jawa (tanpa perlu dimedok-medokkan, karena bahasa Jawa saya memang masih medok, meski sudah tinggal lama di ranah Parahiyangan ini)
"Larang men (mahal amat) Pak? Biasane mung rong ewuan (biasanya cuma dua ribuan)?"
"Wah mboten wonten pete kok rong ewu, niki sampun arang petenipun (gak ada pete 2 ribuan, pete sudah mulai jarang sekarang ini)", penjual pete tadi berargumen.

Sejurus kemudian saya sengaja mengajak dia mengobrol menggunakan bahasa Jawa, selain karena saya juga merindukan obrolan Jawa ini, juga ada satu maksud terselebung, yaitu melakukan pendekatan batiniah (pace to get connected)

"Asli pundi to Mas, kok saged boso Jowo (Asli mana Mas kok bisa bicara dalam bahasa Jawa)", penjual tadi akhirnya menanyakan asal saya
"Kulo saking Kendal Pak. Lha njenengan? (Saya dari Kendal Pak. Kalau Bapak dari mana?)", sembari menjawab, saya balik bertanya
"Oalah jebul tonggo. Kulo ungaran. Lha niki pete ayu-ayu niki nggih saking Ungaran (Oo ternyata kita masih tetangga. Saya dari Ungaran. Pete yang cantik-cantik ini juga dari  Ungaran)", jelas penjual pete tadi bersemangat karena bertemu tetangga jauh di perantauan
"Dados menawi kulo mendet sejinah, terus pinten niki petene? (Jadi kalau saya ambil 10, terus berapa nih)", saya mulai melakukan leading setelah merasa connectedness nya terbangun.
"Lha monggo kagem Mase cekap 35 ewu kemawon (Silakan untuk Anda cukup 35 ribu saja)"
"Alhamdulillah, bonus setunggal nggih (Bonus satu ya)"
"Monggo, kagem tonggo kulo tambahin setunggal (Silakan, untuk tetangga sih saya tambah satu lagi)"
***

Wew, dari harga Rp 77 ribu untuk 11 papan pete, akhirnya saya hanya mengeluarkan kocek Rp 35 ribu sahaja. Apakah penjual pete tadi merugi? Tentu saja tidak! Dia tentu sudah menghitung margin minimal yang akan dia peroleh dengan mengimpor pete dari Ungaran ke Bogor.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa memotong harga drastis 50% lebih pagi ini?

Kalau kita mempelajari NLP (Neuro Linguistic Programming), kita pasti akan dikenalkan pada 4 Pilarnya, yaitu:
1. Outcome Thinking (Menentukan goal)
2. Building Rapport (Jalin Koneksi)
3. Sensory Acuity (Kepekaan Indrawi)
4. Behavior Flexibility (Keluwesan Perilaku)

Sebagai seorang pembelajar NLP, maka dimanapun tempat dan situasi, proses pembelajaran ini akan senantiasa terbawa. Jadi ketika pagi tadi, saya mendengar harga pete yang menurut saya masih terlalu mahal, dalam benak saya langsung terbentuk sebuah goal (pilar pertama). Sederhana saja goalnya, yaitu saya ingin membeli pete dengan harga di bawah 5 ribu.

Kemudian saya mulai menjalin koneksi (pilar kedua) dengan penjual tadi ketika mulai menanyakn harga dll. Dan ketika menyadari ternyata penjualnya orang Jawa (pilar ketiga), maka saya kemudian melanjutkan obrolan menggunakan bahasa Jawa (pilar ke empat)

Dalam menjalin koneksi, ada sebuah teknik ampuh agar bisa segera tercipta keakraban batiniah (connectedness), yaitu teknik Pacing (menyesuaikan)-Leading (mengarahkan).

Pacing dan Leading sangat penting dalam membangun hubungan baik dan menentukan kita berhasil atau tidak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk itulah para pakar komunikasi menyarankan agar kita memahami gambar orang lain dahulu, berempati; baru mereka akan memahami kita. Dalam habit ke 4, Stephen Covey, mengatakan, “pahami dan mengertilah maka Anda akan mengerti orang lain.”

Jangan menunggu orang lain untuk terlebih dahulu melakukan PACING terhadap kita. Kitalah yang harus memulainya.

Indikasi dari proses menyesuaikan adalah perasaan nyaman dan munculnya kepercayaan kepada diri kita dari pasangan komunikasi kita. Untuk melakukan PENYESUAIAN (pacing) kita perlu menggunakan teknik membangun keakraban dan kesamaan model dunia dengannya (Matching). Itulah alasan saya menggunakan bahasa Jawa, dan mengajak penjual tadi mengobrol sejenak sebelum saya menawar petenya.

Sehingga dia merasa nyaman, merasa sama model dunianya, dan searah peta pikirannya. Frequensi emosi yang sama, gerakan tubuh yang sama (Mirroring), tutur kata dan pemilihan kalimat yang sejenis mampu mendorong perasaan dua orang ke dalam sebuah ikatan emosi (connectedness).

Dan ketika sudah terjadi penyesuaian, langkah selanjutnya adalah arahkan. Arahkan komunikasi sesuai dengan harapan dari tujuan ‘untuk apa kita berkomunikasi' yaitu untuk mencapai hasil atau outcome thinking.

Sidang Pembaca yang berbahagia, itulah oleh-oleh saya dari pasar pagi ini, Pete Matching

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

Friday, October 26, 2018

NLP CHANGE MODEL


Beberapa hari yang lalu saya melakukan perjalanan dari Kelapa Gading menuju Jagakarsa menggunakan taksi online. Salah satu alasan kenapa saya lebih memilih taksi online dibandingkan taksi konvensional, selain harga, adalah keramahan driver serta wawasan mereka. Biasanya mereka adalah orang-orang yang 'well educated' sehingga nyambung ketika diajak ngobrol.

Rupanya melihat penampilan saya yang memang tidak seperti orang kebanyakan (jas batik, topi fedora, rambut gondrong) drivernya kepo, apa pekerjaan saya.

Saya ceritakan saja sekilas, bahwa saya adalah seorang terapis, lebih tepatnya hipnoterapis. Dan bisa diduga ketika saya menyebutkan kata hipnotis, orang akan selalu menanyakan apakah acara Uya Kuya itu benar? Apakah hipnosis bisa untuk membongkar aib dll.

"Itu tidak benar Mas. Itu hanya tontonan rekayasa kuya belaka. Karena, meski dalam kondisi hipnosa, seseorang tetap tidak akan melakukan sebuah hal yang berada di luar keyakinannya (belief/value)", jelas saya sesingkat mungkin (mata sudah tinggal 5 watt)
"Lha kalau begitu, apa manfaat hipnosis Pak?", driver itu masih belum puas

Mendengar pertanyaan sensitif ini tetiba saja kantuk saya lenyap, mata 5 watt saya langsung berpendar menjadi 100 watt, "Buanyak Mas. Bisa untuk terapeutik (penyembuhan) atau non terapeutik (motivational). Tentunya ada beberapa kaidah yang perlu diikuti"
"Kalau memotivasi anak yang malas belajar bisa gak Pak?", rupanya driver ini memiliki seorang putra berusia 10 tahun yang menurutnya sangat malas kalau disuruh belajar.

"Baik Mas Driver, sebelum saya jawab pertanyaan Anda, ijinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan dulu. Kenapa Anda mau mengantar saya?"
"Ya karena ini adalah tugas saya", jawabnya agak bingung
"Ya betul mengantar penumpang adalah tugas Anda sebagai seorang driver. Tapi bukan itu inti pertanyaan saya. Kenapa Anda bersedia mengantar saya?"
"Nggg, saya paham maksud Bapak. Karena saya dibayar?"
"Bayaran hanya sebuah konsekuensi logis dari sebuah pelayanan Mas. Saya ganti pertanyaannya, apa hal yang membuat Anda bisa mengantar saya?"
"Karena saya punya mobil?"
"Nyaris. Mobilnya diapain?"
"Dikendarailah!"
"Betul. Kemana?"
"Oh iya. Saya sudah nangkep maksud Bapak. Saya bisa mengantar Bapak karena ada sebuah tujuan", akhirnya driver tadi mengerti arah pertanyaan saya

"Seratus untuk Anda Mas Driver. Dan jangan lupa, setelah saya menentukan 'destination' tadi, saya juga menentukan 'pick up location' khan? Nah, dalam keilmuan NLP (Neuro Linguistic Programming) yang saya pelajari, ada sebuah pemahaman yang disebut NLP Change Model dimana pick up location tadi disebut sebagai titik NOW (current situation) sementara destination merupakan titik GOAL (desired situation). Sebuah perubahan dianggap terjadi ketika sudah terjadi pergerakan dari titik now menuju titik goal.

Sepanjang proses pergerakan menuju titik goal tadi, kita pasti akan selalu dipengaruhi oleh dua faktor:
1. Sumber Daya (Faktor pendukung)
2. Hambatan (Faktor pengganggu)

Mobil, BBM, e-toll card, keahlian Anda mengemudi dll merupakan faktor pendukung baik internal maupun eksternal. Sementara kemacetan jalan, kerusakan mesin, cuaca dll merupakan faktor pengganggu yang bisa menghambat tercapainya tujuan kita. Menurut Anda, sebaiknya kita lewat mana Mas Driver?"

"Kalau biasanya saya lewat Cawang, terus Kramatjati dst, tapi sebentar Pak, saya lihat GPS dulu. Menurut GPS, jalur yang biasa saya lewati itu dalam keadaan macet parah Pak, jadi saran saya kita lewat tol dalam kota saja. Bagaimana?"

"Baik, saya setuju saja Mas Driver. Dan tahukah Anda, bahwa kejelian Anda menakar  rute yang lancar atau macet itu disebut 'kepekaan inderawi' (sensory awareness/acuity). Sementara keputusan mengubah rute ini dalam pemahaman NLP tadi disebut dengan 'fleksibilitas'."

Driver tadi manggut-manggut tanda mengerti, namun sejurus kemudian dia mengajukan sebuah pertanyaan lagi, "Apa beda fleksibel dengan plin plan Pak?"
"Kita mengubah rute tadi dalam rangka apa Mas Driver?"
"Mencapai tujuan Pak"
"Exactly. Itulah bedanya. Orang disebut fleksible adalah orang yang sanggup mengubah rute kehidupannya demi mencapai goalnya. Bedanya ada pada GOAL. Sementara orang plin plan itu gak punya goal. Dia berubah-ubah terus karena bingung. Sekarang gantian saya yang nanya lagi. Kenapa tadi Anda melihat GPS, sebelum berangkat"
"Agar tahu Rute mana yang paling cocok dan cepat dalam perjalanan kita menuju Jagakarsa"
"Bagus. Nah, dalam pemahaman NLP tadi, hal ini disebut 'menjalin kedekatan' (dengan tujuan) atau Building Rapport. Menjalin kedekatan juga perlu dilakukan kepada diri sendiri (Menguatkan niat) dan kepada pihak lain yang bakal mendukung tercapainya tujuan kita tadi. Satu pertanyaan lagi Mas Driver. Meskipun dibayar, seandainya saya minta Anda untuk melintas daerah banjir, apakah Anda bersedia?"
"Oo tentu tidak Pak!"
"Kenapa? Khan kita sudah punya tujuan. Anda menjalankan tugas Anda, dan dibayar!"
"Karena saya bisa rugi Pak. Mobil saya bisa rusak kalau nekat menembus banjir"
"Nah, ini yang disebut mempertimbangkan 'faktor ekologis' atau keselarasan (Ecologically Sound). Meski tujuan bisa dicapai, ketika ada kerusakan bawaan (collateral damage), akan lebih baik kalau kita mencari alternatif lain (kembali bersikap fleksibel)"

"Nah, Anda sudah tahu apa yang mesti dilakukan kepada Putra Anda Mas Driver?"
"Tahu Pak", jawabnya mantab, "Saya akan tanyakan apa cita-citanya (goal), saya akan ajarkan dia cara menguatkan faktor pendukung dan mengurangi faktor penghambatnya. Saya akan dampingi dan dukung dia akan semakin dekat dengan cita-citanya serta menjaga agar lingkungannya senantiasa selaras"
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, tanpa terasa saya sudah menjelaskan hal paling prinsip dalam pemahaman NLP kepada driver taksi online tadi, yaitu 4 pilarnya yang berupa:
1. Outcome Thinking (Goal)
2. Sensory Acuity
3. Building Rapport &
4. Flexibility
Bahkan dengan bonus ecologically sounds sebagai faktor penyelaras.

Nah, kalau driver online saja menjadi paham cara mengubah diri dan putranya, saya yakin Anda juga pasti sudah 'ngeh' apa yang mesti dilakukan untuk membuat hidup Anda lebih BERDAYA lagi.

Kalau Anda ingin lebih paham lagi mengenai NLP,  join saja di NNLP Comprehensive Bootcamp tgl 16-20 November 2018

Selama 5 hari kita akan menginap di Hotel New Cipayung Asri Puncak dan saya akan sharing mengenai teori, sejarah, teknik NLP sehingga Anda akan memiliki attitude seorang NLP-ers sejati. Bukan sekedar menjadi NLP Practitioner, selama 5 hari 4 malam, Anda akan digembleng untuk menjadi seorang NNLP Trainer yang handal.

Malam harinya kita akan langsung mempraktekkan keilmuan yang kita pelajari  untuk membantu karyawan hotel dan masyarakat sekitar mendapatkan ultimate goal mereka. Menarik bukan?
***

Investasi:
Berapa investasi yang perlu Anda keluarkan untuk program yang luar biasa ini?
- Investasi Normal: Rp 10 juta,
- Early bird bulan October: Rp 9 juta
- Early bird 15-30 Sep: Rp 8 juta
- Super Earlybird (bayar lunas) 1-14 Sep: Rp 7 juta saja
***

Fasilitas:
- Kamar ber AC 2 sharing
- 13x meal, 10x Coffee Break,
- Tshirt NLP,
- Buku NLP,
- Sertifikat Nasional Trainer NLP
- Free Coaching
***

Manfaat:
- Menguasai komunikasi hipnotik
- Menguasai teknik coaching praktis
- Langsung bisa membuka kelas sertifikasi nasional NLP dengan mendapatkan keuntungan minimal Rp 1 juta/peserta

Tunggu apalagi, segera hubungi nomor kontak di bawah ini, karena seat yang tersedia hanya untuk 12 peserta saja (dan tersisa tinggal 4 seat saja)

- Mas Joko: +62817878337
- Mas Kono: +6287872152653

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

Saturday, September 29, 2018

ANCHOR PUTIH

Cerita ini sederhana sahaja, terjadi sekitar 9 atau 10 tahun silam. Saat itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan berkantor di bilangan Pulogadung. Di kantor ini setiap hari disediakan makan siang berjamaah di ruang kantin yang didesain layaknya resto kekinian.

Beberapa set meja dengan empat kursi empuknya, AC sentral yang sangat dingin, plus seperangkat karaoke system juga tersedia di kantin tersebut. Yang menarik adalah seluruh hidangan yang terdiri dari nasi, dua lauk, buah serta sayur,  telah tersusun rapi dalam satu nampan stainless steel, sehingga para karyawan tinggal memilih kombinasi lauk mana yang paling cocok untuk dirinya.

Biasanya kami akan menikmati hidangan siang sambil bercanda, berdiskusi atau sekedar saling curcol. Suatu hari saya makan satu meja dengan seorang kawan perempuan yang dikenal sangat mudah terpengaruh jika mendengar sebuah cerita yang menjijikkan. Sebut saja namanya Mawar. Hanya mendengar kata 'ingus' disebut ketika makan, dia bisa langsung mual, bahkan tak jarang muntah. Apalagi jika yang disebutkan lebih parah dari itu, semisal 'feses', atau 'nanah'. Gegara hal inilah maka seringkali Mawar menjadi ajang 'food bullying' (hehehe ini hanya istilah saya sendiri ya). Ketika jam makan siang, ada saja yang sengaja nyamperin dia atau sekedar lewat sambil menyebutkan satu item yang menjijikkan.

Hari itu saya sengaja makan semeja dengan Mawar, bersama dua kawan lain. Saya bersebelahan dengan satu kawan cowok, Mawar bersebelahan dengan satu kawan cewek. Dan memang siang itu saya berniat iseng, hehehe.

Sembari makan, saya seolah bercerita kepada kawan yang duduk di sebelah saya mengenai kebiasaan bule mengkonsumsi keju dan es krim ternyata memengaruhi pencernaan mereka. Meski tidak saya tujukan kepada Mawar, namun saya yakin dia juga ikut mendengar cerita saya. Sampai di sini Mawar masih belum terpengaruh. Dan ketika saya berkata, "Tahu gak Bro, karena kebiasaannya tadi, feses mereka itu berwarna putih lho!" dengan suara agak dikeraskan dengan tujuan serangan food bullying kali ini tepat sasaran kepada Mawar yang sangat sugestif tadi. "Hoooeks, apaan sih Pak HD ini, lagi makan kok ngomong begituan" semprotnya sambil kabur ke toilet perempuan dan tak berani kembali ke meja kami. Xixixi kami tertawa geli melihatnya kalang kabut berlari ke toilet.
***

Gegara insiden siang itu, Mawar jadi kapok makan semeja dengan saya. Kebetulan memang saya ada tugas keluar kota, sehingga selama seminggu sesudah kejadian itu dia bisa merasa aman.

Ketika sudah berada di kantor lagi, suatu hari saya lewat di meja tempat Mawar sedang asyik makan bersama 3 orang kawan ceweknya. Dia tidak menyadari kehadiran saya, sehingga tetap asyik menyantap hidangan makan siangnya. Sambil melewatinya saya berkata agak keras, "Putih!"

Tahukah kawan, apa yang terjadi?

"Hoooeks, iih pak HD, apaan sih ngomong jorok begitu!", semprot Mawar, terlambat menyadari kehadiran saya, sambil kalang kabut berlari ke toilet perempuan. Xixixi, saya tertawa geli, sementara ketiga kawan Mawar kebingungan.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, mungkin ada di antara Anda yang juga kebingungan, seperti halnya ketiga kawan Mawar di atas. Bagaimana mungkin sebuah kata 'putih' bisa memicu seseorang menjadi mual atau muntah. Dalam dunia psikologi atau hipnosis atau NLP (Neuro Linguistic Programming) fenomena ini disebut sebagai ANCHOR (lebih tepatnya Auditory Anchor)

Pada saat ini sangat banyak definisi tentang Anchor yang dibuat oleh para ahli NLP.  Namun salah satu yang paling sederhana, tetapi sudah sangat mencukupi adalah:

“Any stimulus that is associated with a specific response”,

yang dapat diartikan secara bebas sebagai :

“Setiap stimulus yang akan memicu suatu reaksi spesifik tertentu.”
***

Penelitian tentang fenomena Anchor pertama kali dilakukan oleh Ivan Pavlov, seorang Psikolog berkebangsaan Rusia, peraih hadiah Nobel.

Pavlov melakukan percobaan dengan memberikan makan seekor anjing pada jam tertentu, dan didahului dengan membunyikan bel. Setelah hal ini dilakukan berulang-ulang, maka saat berikutnya saat bel dibunyikan, maka segera anjing bereaksi mengeluarkan air liur. Dalam hal ini bel merupakan Anchor yang akan memicu sang Anjing untuk secara tidak sadar mengeluarkan air liurnya, dan proses Anchor yang terbentuk karena pengkondisian yang berulang-ulang.

Dalam kasus Mawar yang sangat sugestif itu, pengkondisian awal terjadi beberapa hari sebelumnya ketika saya bercerita mengenai kebiasaan bule makan keju dan es krim, sehingga fesesnya berwarna putih. Maka dalam benak Mawar sudah tercipta sebuah pola:

Keju-> feses -> putih

Sehingga meskipun waktu sudah berlalu, namun ketika frasa 'putih' disebutkan, pikiran Mawar langsung mengacu pada kata feses, dan itu sangat menjijikkan.

Di keilmuan hypnosis dikenal istilah 'Post Hypnotic Suggestion' atau sugesti yang tetap akan bekerja walaupun suyet telah berada pada kondisi pasca hypnosis (emerging). Dari penjelasan di atas, dapat dipahami dengan mudah bahwa 'Post Hypnotic Suggestion' merupakan salah satu bentuk rekayasa Anchor, hanya saja dilakukan dalam kondisi hypnosis.

Terbentuknya suatu anchor dikarenakan suatu pengkondisian tertentu, baik pengkondisian secara cepat, maupun secara perlahan-lahan atau berulang karena kebiasaan. Oleh karena itu secara umum anchor tidak saja dapat dibentuk dalam kondisi hypnosis semata, melainkan juga melalui proses normal yang berulang.

Sebuah proses hipnosis akan dengan mudah terjadi ketika otoritas pelaku hipnosisnya sangat dominan. Misal orang tua kepada anak, bos kepada bawahan, guru kepada murid, penguasa kepada rakyat dll.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, bisa Anda bayangkan bahayanya proses anchor yang tak sengaja tercipta ketika ada orang tua yang berkata negatif kepada anaknya. Semisal mengatakan anaknya malas, bodoh, nakal, monyet, setan dlsb, yang tentunya akan berimbas pada perilaku sang anak di masa depan, meski waktu sudah berlalu.

Saya pernah menangani klien seorang laki-laki pengusaha yang mengaku selalu gagal ketika memulai bisnis kulinernya. Semua daya upaya telah dia lakukan, bahkan berbagai pelatihan wirausaha kuliner juga telah dia ikuti, namun tetap saja usaha kulinernya tidak pernah berkembang, kalau tidak mau dikatakan bangkrut.

Menggunakan teknik 'past life age regression', akhirnya saya berhasil menemukan akar masalahnya. Ternyata ketika kanak-kanak, pengusaha ini suka bermain ‘pasaran’ (bermain masak-masakan) bersama kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika sedang asyik bermain pasaran, ayahnya pulang dan ketika melihat anak laki-lakinya ‘pasaran’, sang ayah langsung murka.

Sambil melempar semua peralatan mainnya, sang ayah berteriak, "Le (singkatan dari Tole, panggilan kesayangan anak lelaki di Jawa) pasaran itu permainan anak perempuan. Kamu lelaki, mestinya bermain perang-perangan atau mobil-mobilan!"
Dan masih banyak kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah saat itu, yang tak pantas untuk ditulis di sini.

Kawan pengusaha (yang masih kecil) ini sangat ketakutan, dan hanya bisa menangis untuk kemudian lari menghambur ke pelukan ibunya. Tanpa disadari rupanya kata-kata sang ayah telah menjadi anchor dalam pikiran pengusaha tadi, bahwa laki-laki tidak boleh main masak-masakan (yang oleh bawah sadarnya menjadi belief bahwa dirinya tidak boleh berbisnis kuliner).

Setelah diterapi akar masalahnya tadi dengan menghadirkan (introject) figur ayahnya lagi (karena ayahnya sudah meninggal dunia) yang kemudian secara imajiner mengatakan bahwa anaknya boleh bermain pasaran dlsb, maka anehnya beberapa bulan kemudian pengusaha tadi menceritakan bahwa usaha kulinernya pelahan namun pasti sudah mengalami peningkatan.
***

Maka Kawan, jika Anda adalah seorang atasan, orang tua, pejabat atau apapun posisi Anda yang memiliki otoritas besar, berhati-hatilah dalam menyusun kata, menyampaikan makna.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Hadist di atas menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan kita selalu berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk yang lain. Hal ini menjadi indikator bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang lainnya.

Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya.

Maka Kawan, marilah kita hanya menyusun kata, menyampaikan makna yang berkualitas. Yang akan menghantarkan orang di sekitar kita menuju pada pemberdayaan diri mereka. Kenapa kita perlu berlaku seperti itu? Ya karena ketika kita memberdayakan orang lain sebenarnya kita justru akan makin BERDAYA.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...