POSTINGAN POPULER

Thursday, September 06, 2018

ENTER

Sudah hampir 2 tahun ini masyarakat Purwakarta dan sekitarnya dimanjakan oleh pertunjukan airmancur menari yang dihelat setiap malam minggu di Taman Sri Baduga.
Dulu, tempat ini adalah sebuah situ yang bernama Situ Buleud yang merupakan danau tempat berkubangnya para badak. Kini, satu-satunya badak yang tersisa adalah patung badak putih di depan Taman Sri Baduga. Danaunya sekarang sudah dibersihkan dan dipercantik.

Kursi tribun berkapasitas 5.000 orang disusun bertingkat mengelilingi danau seluas 4 hektare tersebut. Mirip amphiteater, tapi panggungnya danau. Di tengah danau, terdapat patung Sri Baduga yang dikelilingi empat ekor macan.

Ada dua set air mancur di sisi kiri dan kanan patung. Keduanya menari seirama dengan musik yang diputar. Laser warna-warni yang ditembakkan ke arah air membuat pertunjukan tersebut semakin hidup. Di tengah pertunjukan, sisi tribun juga menembakkan air mancur, yang terkadang mengenai wajah dan tubuh para penonton. Gerak air mancurnya pun jauh dari kata monoton. Terkadang meliuk, lurus sampai 5 meter ke atas, dan sesekali diselingi semburan api.

Selama dua puluh menit pertunjukan airmancur, lagu yang diputarpun berganti-ganti, ada musik klasik, pop tanah air, dan pastinya lagu Sunda dengan instrumen angklung. Di pertunjukan tersebut, akan selalu terdengar lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong yang dilantunkan Doel Sumbang dan Nini Carlina yang pernah populer tahun 2000-an. Sangat sunda pisan, euy!
***

Kita tinggalkan sejenak cerita mengenai Taman Sri Baduga dan airmancur menarinya tersebut. Meski ajang bergengsi Asian Games telah usai,  saya ajak Anda mengingat gegap gempitanya event menyambut Asian Games, tahun lalu. Di pelataran Monas saat itu dipertunjukkan atraksi laser yang sangat luar biasa juga konstelasi dari ribuan drone yang mampu membentuk pelbagai figur di udara dengan menakjubkan.

Tentu semua penonton berdecak kagum pada konfigurasi laser serta drone yang sangat sempurna itu. Tugu monas bisa seolah berubah bentuk atau warna dalam waktu sekejap. Permainan laser ini betul-betul memanipulasi penglihatan para penontonnya. Belum lagi bentuk-bentuk unik seperti Garuda Pancasila, logo Asian Games dan beberapa figur futuristik lain yang terbentuk dari susunan pesawat kecil tanpa awak tersebut. Alangkah sempurnanya penerbangan tersebut.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, meskipun Anda belum pernah melihat airmancur menari di Taman Sri Baduga, atau tidak sempat melihat aksi laser serta drone di Monas tahun lalu itu, tentu Anda setuju dengan saya bahwa keparipurnaan konstelasi airmancur, laser serta drone itu diatur oleh satu program komputer yang sangat canggih. Tidak mungkin kesempurnaan itu dilakukan secara manual. Tentunya sebelum acara berlangsung, para programer pertunjukan tersebut telah bekerja keras  menyusun kodifikasi susunan perintah komputer yang memungkinkan terselenggaranya tontonan yang menakjubkan tersebut. Ketika semua kodifikasi telah sempurna dan mengikuti semua kaidah bahasa komputernya, maka sebagai pamungkas, mereka akan menekan tombol ENTER.

Meskipun seluruh proses pemrograman telah selesai, namun ketika tombol enter tidak ditekan, maka tidak akan terjadi prosesi pertunjukan tersebut. Atau sebaliknya, meskipun tombol enter ditekan, namun ketika ada salah satu algoritma (kaidah) pemrograman yang tidak sesuai, maka pertunjukan juga bakal urung terlaksana.

Bagi yang paham teknik pemrograman komputer, ada tiga hal yang tak boleh terlupa ketika membuat sebuah program komputer, yaitu: variabel, konstanta dan tipe data. Bahasa pemrograman apapun dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, mengharuskan programer untuk mengerti ketiga hal tersebut.

'Tipe Data' adalah adalah jenis data yang dapat diolah oleh komputer untuk memenuhi kebutuhan dalam pemrograman komputer.

'Konstanta' adalah variabel yang nilai datanya bersifat tetap dan tidak bisa diubah.

'Variabel' adalah tempat dimana kita dapat mengisi atau mengosongkan nilainya dan memanggil kembali apabila dibutuhkan.

Secara umum ada aturan yang berlaku untuk hampir semua bahasa pemrograman.

Aturan-aturan tersebut adalah:

Ø Nama variabel harus diawali dengan huruf.

Ø Tidak boleh menggunakan spasi pada satu nama variabel. Spasi bisa diganti dengan karakter underscore (_).

Ø Nama variabel tidak boleh mengandung karakter-karakter khusus, seperti : .,+, -, *, /, <, >, &, (, ) dan lain-lain.

Ø Nama variabel tidak boleh menggunakan kata-kata kunci di bahasa Pemrograman.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, tentunya kita juga sadar bahwa alam semesta ini tersusun atas beragam konstelasi, dari susunan bintang dan planet yang serba macro, hingga aturan atom serta gen yang sangat micro. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Angin laut bertiup dari darat ke laut di malam hari, sementara angin darat bertiup sebaliknya dan di waktu sebaliknya pula. Alam semesta ini memiliki jam tersendiri untuk beroperasi.

Dan tahukah Anda jika semua sel yang ada di dalam tubuh juga mempunyai jam dan jadwalnya sendiri-sendiri untuk melakukan tugasnya masing-masing? Jam tubuh alami ini disebut dengan ritme sirkadian. Ritme sirkadian mengatur waktu tubuh kapan harus makan, tidur, bangun, atau melakukan berbagai fungsi lainnya. Sehingga, jika Anda memiliki waktu 24 jam dalam sehari, maka tubuh akan mengatur dan menentukan secara otomatis waktu makan dan kegiatan lainnya.

Nah, bercermin pada airmancur menari dan konstelasi drone di atas, sebagai manusia bodoh, saya kok berpendapat bahwa Allah Sang Pencipta Alam Semesta ini jugalah merupakan Sang Maha Programer dengan Maha Komputer yang tentunya juga Maha Canggih.

Secanggih apapun komputer itu pastinya juga memiliki algoritma pemrograman sehingga alam semesta macro dan micro tadi bisa berjalan dengan sempurna. Jika ada algoritma, tentunya Allah juga telah menyediakan buku petunjuk algoritma tadi, yaitu Al Quran. Maka ayat yang pertama diturunkanpun adalah Iqro, atau bacalah! 

Sebagai seorang muslim, saya sangat meyakini bahwa buku algoritma alam semesta ini adalah Al Quran, dan sebagai penjelasnya adalah Hadits Nabi Muhammad SAW. Dan dalam pencarian jati diri ketika memahami aplikasi Quranic serta Hadits dalam mencapai goal baik duniawi maupun surgawi, saya bertemu dengan sebuah ilmu pemberdayaan diri yang menurut saya sangat Quranic sekali. Ilmu tadi bernama NLP (Neuro Linguistic Programming).

NLP adalah sebuah pendekatan  komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi  yang diciptakan oleh Richard Bandler  dan John Grinder di California, USA pada tahun 1970-an. Penciptanya mengklaim adanya hubungan antara proses syaraf (neuro), bahasa (linguistic) dan pola perilaku yang dipelajari melalui pengalaman (programming) dan bahwa hal tersebut dapat diubah untuk mencapai  tujuan tertentu dalam kehidupan.

Cara mencapai tujuan dalam NLP dikenal sebagai WFO (Well Formed Outcome), yang memiliki 8 kaidah (algoritma), yaitu:

1. WFO perlu disusun dengan kalimat yang berstruktur grammar positif, alias absen dari kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.

2. WFO perlu bisa dimengerti oleh indera, makin banyak indera bisa mengerti seperti apa WFO  yang diharapkan, maka makin mudah pikiran untuk mendapatkannya. Jadi WFO minimal bisa dihayati 3 dari 5 indera: secara Penglihatan, Pendengaran, Perabaan/Perasaan, dan lebih baik lagi Penciuman atau Pencecapan. Dengan membuat WFO dimengerti indera, maka pikiran menjadi mengerti, apakah sudah tercapai, atau belum WFO itu?

3. WFO perlu disusun dengan spesifik, bila perlu gunakan standard 5W,  1H.

4. Sesuai konteks

5. Pastikan WFO tadi berada dalam kendali kita

6. Kita memiliki sumberdaya untuk mencapainya

7. WFO perlu ekologis, alias tidak melawan sistem keseimbangan internal diri sendiri dan terhadap kehidupan sekitarnya.

8. Tentukan langkah awal. WFO yang bisa diinisiasi (diawali) dan dijaga oleh pemiliknya, akan lebih mudah didapatkan, dari pada WFO yang (tercapai atau tidaknya) sangat digantungkan dari pihak luar.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia,  jika kita cermati sebenarnya WFO merupakan sebuah rangkaian kata yang berupa doa. Dengan retorika  pemikiran di atas dan dari pengalaman pribadi, saya menjadi paham bahwa ketika sebuah doa disusun dengan algoritma  alam semesta  maka sebagai Maha Programmer,  Allah akan segera menekan tombol ENTER,  yang artinya doa kita diijabah olehNya.

Bagaimana jika kita melewatkan salah satu algoritma  di atas, apa yang akan terjadi. Menurut  Anda tombol apa yang akan ditekan?  Jika Anda berpikir bahwa tombol yang akan ditekan adalah 'delete', 'back space',  'ins',  atau yang lain, berarti Anda belum  benar-benar mengenal  Sang Maha Programmer. Bukankah Dia pernah berjanji bahwa semua doa kita akan dikabulkan? 

Ketahuilah saudaraku,  ketika salah satu algoritma kehidupan ini belum terpenuhi maka bukan ENTER yang akan ditekan, bukan juga del, atau back space melainkan ENTAR! 
***

Sidang Pembaca yang berbahagia,  merupakan hak Andalah untuk  memilih mendapatkan ENTER atau ENTAR!

Namun jika Anda memilih mendapatkan  ENTER maka masih ada kesempatan bagi Anda untuk segera mempelajari kaidah WFO dalam Workshop NNLP :
- Tgl 29-30 September 2018 di Palembang
- Tgl 16-20 November 2018 di  Bogor.

Yuk segera enter jadwal Anda pada workshop ini, jangan entar-entar mulu

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Wednesday, August 22, 2018

Ketuk Pintu Hatinya

Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika saya masih aktif sebagai Sales Manager di sebuah perusahaan farmasi. Saat itu saya sedang up country (istilah tugas luar kota di dunia farmasi) ke Padang dalam rangka pipe lining sebuah product baru. Yang namanya memasarkan produk baru selalu memiliki tantangan tersendiri. Meskipun kita sudah merasa mengenal dekat para dokternya, namun selalu ada saja penolakan atau ketidakpercayaan mereka.

Singkat cerita malam itu saya sengaja diajak untuk mendatangi seorang dokter paling potensial di Padang yang sejauh ini masih menolak penggunaan produk baru tersebut. Pak Naim Firdausz sebagai Area Manager Sumatera Barat menjelaskan tipikal dokter lengkap dengan histori hubungan dengan perusahaan kita.

Sekitar jam setengah 12 malam, saya, Pak Naim dan seorang anak buahnya baru berhasil berjumpa dengan dokter tersebut. Setelah masuk dan sedikit berbasa basi kemudian Pak Naim memperkenalkan saya sebagai perwakilan dari Head Office. Seperti biasanya dokter daerah akan selalu menyambut dengan gegap gempita kedatangan orang HO, maka dengan hangat dokter itu juga menyambut kedatangan saya tengah malam itu.

Yang luar biasa adalah, sebelum saya memulai untuk menawarkan produk baru kami, dokter tersebut sudah mendahului bercerita mengenai kedatangan pasien beberapa hari sebelumnya yang menginginkan sebuah produk bagus yang didapatkannya dari Malaysia. Sambil menunjukkan kemasan obat yang dimaksud, sang dokter menanyakan apakah kami memiliki produk yang sama. Saya tersenyum simpul sambil menghela nafas panjang. Pak Naim berpandangan dengan anak buahnya penuh heran setengah takjub. Apa pasal?
Ya karena malam itu kami memang berniat menawarkan produk yang isinya sama persis dengan kemasan obat yang dipegang dokter tadi. Pucuk dicinta, ulampun tiba!  Akhirnya tengah malam itu kami berhasil menjual 50 box produk baru kepada dokter tersebut. Sebuah prestasi luar biasa untuk daerah luar Jakarta dalam hal penjualan pertama sebuah produk baru. Apakah ini sebuah kebetulan? Tentu tidak!  Saya yakin Anda semua bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Saya yakin sampai sekarang Pak Naim juga masih heran dengan peristiwa itu.
***

Baiklah, saya akan bongkar rahasia 'kebetulan' yang terjadi tengah malam itu.  Dalam NLP ada sebuah teknik penyusunan GOAL yang disebut WFO atau Well Formed Outcome  (Hasil yang direncanakan dengan matang). WFO memiliki setidaknya 5 syarat yang memungkinkan tercapainya sebuah GOAL, yaitu:

1. Goal perlu disusun dengan kalimat yang berstruktur grammar positif, alias absen dari kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.

2. Goal perlu bisa dimengerti oleh indra, makin banyak indra bisa mengerti seperti apa goal yang diharapkan, maka makin mudah pikiran untuk mendapatkannya. Jadi goal minimal bisa dihayati 3 dari 5 indra: secara Penglihatan, Pendengaran, Perabaan/Perasaan, dan lebih baik lagi Penciuman atau Pencecapan. Dengan membuat goal dimengerti indra, maka pikiran menjadi mengerti, apakah sudah tercapai, atau belum goal itu?

3. Goal perlu mempertahankan niat baik (intensi positif) yang ada di perilaku lama (yang tadinya menghambat goal itu).

4. Goal perlu ekologis, alias tidak melawan sistem keseimbangan internal diri sendiri dan terhadap kehidupan sekitarnya.

5. Tentukan langkah awal. Goal yang bisa diinisiasi (diawali) dan dijaga oleh pemilik goalnya, akan lebih mudah didapatkan, dari pada goal yang (tercapai atau tidaknya) sangat digantungkan dari pihak luar.

Nah, malam itu ketika mendengar deskripsi dari tim Padang mengenai pencapaian sales produk baru mereka dan keinginan untuk menawarkan produk baru tersebut kepada dokter potensial di Padang, saya langsung membuat sebuah WFO, yang tentunya mengikuti 5 kaidah di atas. Saya langsung membuat sebuah kalimat afirmatif, "Saya yakin, atas ijin Allah saya mampu meyakinkan dokter Fulan agar bersedia membantu meresepkan/membeli produk 'A' malam ini dan seterusnya"

Tanpa perlu saya jelaskan, tentunya Anda semua paham bahwa kalimat afirmasi itu adalah positif secara gramatikal. Dan kami bisa membayangkan ketika produk itu diresepkan maka ada sebuah kepuasan tersendiri serta kebangaan karena berhasil memecahkan telur sebuah produk baru. Kaidah 1 dan 2 sudah terpenuhi. Kaidah 3 dan 4 pun pastinya terpenuhi karena niat baik kami sebagai marketer kesehatan adalah tersedianya preparat yang bagus dan terjangkau oleh masyarakat. Belum lagi niat baik mendapatkan insentif kalau penjualan kami mencapai target, hehehe. Dari sisi ekologis, tentu sudah sangat ekologis, karena kalau sampai target tak tercapai bisa jadi kami mendapatkan sanksi dari HO.

Sekarang tinggal lakukan langkah awal sebagai pemenuhan kaidah ke 5. Saya mengkombinasikan teknik afirmasi dan visualisasi. Ketika mengantri di depan ruang praktek dokter, inilah rahasia yang saya simpan selama ini:
1. Baca doa ini: Robbisy-roh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wah lul 'uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii.

Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.

2. Setelah menarik nafas dalam kira-kira 3 kali, saya membayangkan bahwa saya sudah berada di hadapan dokter, dan saya ketuk hatinya (sambil saya menggerakkan telunjuk kanan yang ditekuk seolah sedang mengetuk pintu) sambil berkata: "Assalamu alaikum Dokter Fulan, saya Hari Dewanto dengan ikhlas saya mengetuk hati Dokter, dengan ijin Allah sudilah kiranya Dokter Fulan membantu saya untuk meresepkan produk 'A' ini untuk malam ini dan seterusnya"

3. Ikhlaskan. Lupakan semua beban. Masuk saja ke ruang praktek dokter dengan santai dan nyaman, seolah tidak ada target yang dikejar. Datang berkunjung dengan ikhlas untuk menjalin silaturahmi.
***

Itulah sebenarnya yang terjadi tengah malam itu sahabatku, namun Anda jangan percaya cerita saya sebelum Anda membuktikan sendiri teknik ampuh ini. Dan hebatnya teknik ketuk pintu hati ini bisa digunakan untuk hal lain diluar urusan selling skill. Ketuklah hati atasan, bawahan, pasangan, anak, siswa, guru Anda dengan teknik ini, dan buktikan hasilnya.

Kalau ada hal lain yang ingin diketahui silakan hubungi saya di nomor 08119487572

Semoga bermanfaat

Tabik
- haridewa -

Professional Hypnotherapist
Happiness Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Ekologis

Dalam sebuah seminar parenting ada pertanyaan dari seorang ibu muda terkait pemaparan saya mengenai salah satu syarat cita-cita yaitu ekologis.
Syarat ekologis akan membuat sebuah goal lebih mind friendly. Lebih mudah dipahami oleh pikiran kita dan lebih mudah bagi tubuh untuk menggapainya karena sadar bahwa tubuh fisik dan mental tetap akan aman dalam mengejarnya.
Ibarat hama sawah yaitu tikus dan ular, yang paling ditakuti petani pastilah ular. Namun petani tidak akan serta merta membasmi semua ular di sawah karena ketika semua ular musnah maka tikus akan merajalela. Itulah sistem keseimbangan lingkungan atau ekologi.
***

"Pak Hari saya pernah mengikuti training motivasi dan motivatornya mengatakan jangan pernah menurunkan target kita, namun tambahlah power kita agar sebuah cita cita bisa dicapai. Kok berbeda dengan pemaparan Anda yang perlu memikirkan aspek ekologis ini. Mana yang benar Pak?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya minta ibu tadi maju ke stage, bersama dengan seorang laki laki kecil dan seorang laki laki tegap. Kemudian saya minta mereka secara bergantian untuk mengangkat sofa besar yang ada di stage. Bapak tegap dengan mudah mengangkat sofa tersebut, mas kecil agak kepayahan mengangkat sofa tadi. Hanya sebentar terangkat langsung dijatuhkan dengan berdebam. Keringat dingin mengucur dari ibu muda tadi. Dia berusaha mengangkat sofa tersebut namun hanya terangkat sebagian. "Bagaimana Ibu, bisa mengangkat sofa ini?", tanya saya. "Emmm berat Pak.", jawabnya sambil tersenyum kecut. "Seandainya saya berikan motivasi sampai subuh untuk meningkatkan power Ibu, kira kira sofa ini bakal terangkat nggak?", tanya saya lagi. "Mmm sepertinya sih gak bisa Pak",  jawabnya sambil geleng geleng kepala. "Kalau saya beri waktu sebulan untuk latihan angkat berat, apakah bulan depan Ibu bakal kuat mengangkat sofa ini?" "Mungkin bisa Pak"
"Bagus. Namun coba perhatikan tubuh Ibu yang kecil ini, kalaupun sofa ini terangkat, kira-kira apakah tubuh Ibu akan tetap sehat dan selamat?"
"Mmmmm, bisa jadi terkilir atau patah tulang karena bebannya terlalu berat"

"Nah, kalau Mas kecil, kalau diberi waktu sama dengan ibu ini apakah akan mampu mengangkat sofa ini lebih lama?", saya beralih bertanya ke laki laki dengan tubuh kecil.
"In syaa Allah bisa Pak", jawabnya mantab
"Dan tetap selamat?",  kejar saya lagi
"Yup, saya yakin.",  jawabnya lagi

"Nah,  ini yang saya sebut ekologis Bu. Target berhasil dicapai dan kondisi kita tetap aman dan afiat", saya mencoba mengambil kesimpulan dari pertanyaan ibu tadi.

"Kalau begitu motivator itu salah dong Pak?", ternyata ibu tadi belum puas dengan jawaban saya

"Wah, saya tidak berani mengatakan apakah dia salah atau benar. Sekarang kalau lain kali kita ketemu lagi apakah Ibu akan bersedia mengangkat sofa ini lagi. Atau memilih kursi yang lebih kecil ini?", tanya saya sambil menunjuk kursi kecil pendamping kiri kanan sofa besar itu.

"Ya saya memilih yang kecil saja Pak"
"Kenapa?"
"Mmm karena lebih eko.... ekologis Pak", jawabnya terbata dan tersipu
"Nah.... "

Gitu aja

Silakan tebar bila manfaat

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

ENTER

Sudah hampir 2 tahun ini masyarakat Purwakarta dan sekitarnya dimanjakan oleh pertunjukan airmancur menari yang dihelat setiap malam minggu ...