POSTINGAN POPULER

Thursday, October 10, 2019

FORGIVENESS THERAPY

Pagi ini ada seorang hipnoterapis yang menelpon saya dan menanyakan mengenai penanganan pada kawannya yang mengalami anxiety pasca terpuruknya bisnis yang dialami. Apakah bisa menggunakan forgiveness therapy untuk awalnya? Dan apakah untuk melakukan forgiveness therapy mesti regresi ?

Sebelum menjawab pertanyaan tadi, saya balik bertanya dulu, apakah anxiety yang muncul hanya karena bisnis yang terpuruk, atau ada hutang bawaan akibat terpuruknya bisnis tersebut? Dan konon kabarnya memang kawan dari hipnoterapis ini sekarang terlilit hutang dalam jumlah lumayan besar.

Maka berikut adalah jawaban saya:

1. Jika penyebab anxietynya adalah sebuah peristiwa atau kondisi yang sampai sekarang masih berlangsung seperti kecemasan karena memiliki hutang maka faktor penyebabnya mesti dieliminasi dulu.

Keadaan dimana terdapat sebuah hal yang belum selesai sampai sekarang ini dalam keilmuan psikologi disebut dengan Unressolved Experiences.

Bagaimana jika orang tersebut memang tidak memiliki kemampuan untuk membayar hutangnya, tanya kawan saya lagi. Mendengar ketukan pintu atau suara motor yang berhenti di depan rumahnya saja bisa membuat jantungnya berdebar kencang, begitu menurutnya.

Banyak sekali orang yang dengan mudah mengasihani diri dan menyatakan tidak mampu membayar hutangnya, sementara hidupnya masih dikelilingi dengan kemewahan. Rumah besar, pergi kemana-mana dengan mobil pribadi dan masih rutin makan di restoran.  Namun mereka tidak siap menghadapi kenyataan bahwa mereka sebenarnya sudah pailit. Hidupnya senantiasa was was karena selalu merasa dibuntuti oleh debt collector. 

Maka solusi pertama yang mesti dilakukan adalah membereskan beban hutang ini, apalagi jika mengandung unsur ribawi. Rumah, mobil, semua aset bisa dilepas dulu dan kemudian berazzam (berniat kuat) untuk tidak berurusan dengan riba lagi. Bisa jadi begitu semua hutang lunas, anxietynya juga ikut musnah.

Namun jika kecemasan masih muncul  meskipun semua urusan hutang sudah kelar,  bisa jadi kecemasan tersebut terjadi dikarenakan oleh trauma akan kegagalan bisnisnya. Peristiwa kegagalan yang terjadi pada masa lampau, dan kecemasan masih terbawa sampai sekarang dikenal dengan istilah Unressolved Past Experiences.

Nah dari pengalaman saya, pada situasi kedua inilah kita bisa menggunakan teknik forgiveness therapy untuk menguras emosi negatif yang masih tersisa akibat peristiwa kegagalan di masa lampau tersebut.

2. Apakah untuk melakukan forgiveness therapy mesti regresi dulu? Pertanyaan semacam ini lumayan sering ditanyakan kepada saya. Dan jawaban saya juga selalu sama.

Saya adalah penganut Solution Focused Based Therapy yang memegang 3 prinsip:

A. Tidak perlu mengintervensi masa lalu
B. Berfokus pada solusi bukan masalah
C. Menguatkan sisi yang sudah kuat bukan sisi yang lemah

Maka jawaban saya adalah langsung saja lakukan forgiveness therapy tanpa harus regresi dulu. Ketika nanti seorang klien dibimbing untuk memaafkan semua peristiwa di masa lampau, dengan sendirinya dia akan mengalami regresi. Dan yang perlu kita ingat, regresi tidak harus menuju waktu yang sangat lama di masa lalu. Waktu sedetik yang telah lewat dari sekarang itu juga sudah regresi.

Dan berikut ini saya kutipkam sedikit script forgiveness therapy yang biasa saya lakukan.

Script ini biasa saya berikan kepada klien yang memiliki meta program internal, maka mereka saya minta untuk mengikuti kalimat yang saya katakan, sehingga seolah kalimat tersebut muncul dari dalam dirinya sendiri.

“Aku sayang pada diriku sendiri. Yang berlalu biarlah berlalu. Masa depan lebih penting. Hai diriku, tetaplah tersenyum. Tetaplah bahagia. Aku melihat diriku yang ceria itu. Aku melihat diriku yang bahagia itu. Itulah diriku yang sesungguhnya. Aku ingin kembali. Kemanakah aku selama ini? Aku sangat berharga. Aku ini diinginkan Tuhan. Masa depanku penting. Keluargaku penting. Hidupku ini sangat penting. Hal-hal yang tidak penting tidak boleh mengganggu aku. Perasaan-perasaan tidak berharga aku letakkan, aku tinggalkan. Aku maafkan ibundaku, aku maafkan ayahandaku, aku maafkan keluargaku, aku maafkan lingkunganku dan aku maafkan diriku sendiri. Demi kebahagiaanku, demi ketenangan hidupku, aku ikhlaskan masa laluku. Bukan aku kalau tidak lkhlas. Aku letakkan. Aku lepaskan agar ringan langkahku. Agar sehat badanku. Agar indah masa depanku.Ya Tuhan mudahkanlah bahagiaku semudah nafasku. Hai diriku, tetaplah tersenyum, tetaplah bahagia”

Forgiveness Therapy merupakan salah satu teknik andalan saya. Dan menurut saya teknik ini manjur hampir di semua situasi, karena fungsinya yang luas untuk mendetoksifikasi emosi negatif.

Mau lebih paham retorika melakukan forgiveness therapy?
Mau mendapatkan script lengkap forgiveness therapy?

Join saja di kelas Advanced Hypnotherapy yang akan diadakan pada hari
Minggu, 13 October 2019
Jam 09.00-21.00 WIB
di Hotel Ibis Kemayoran, Jakarta

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

Friday, September 20, 2019

MENUNGGU

Beberapa hari yang lalu saya menunggu taxi online di seputaran UKI yang saya pesan untuk menuju Condet. Melalui pesan singkatnya driver pertama mengabarkan sbb, "Saya ada di Jl. Dewi Sartika. Kondisi macet jadi mungkin agak lama. Mau nunggu gak?"
Saya kemudian meng cancel pesanan tadi, setelah minta maaf kepada drivernya.
Tak berselang lama, driver kedua juga berkirim pesan singkat, ""Saya ada di Jl. Dewi Sartika. Kondisi macet, tapi saya akan mencari jalan tercepat. Perkiraan menunggu 15 menit, bagaimana?"
Dan saya bersedia menunggu pesanan kali ini.

Apa yang membedakan kedua driver tersebut?

Yup, Anda benar! Driver pertama berfokus  pada masalah, sementara driver kedua berfokus pada solusi. Driver pertama memberikan saya pilihan untuk memilih menunggu atau tidak, sementara driver kedua memberikan saya sebuah kepastian, meski harus menunggu, meski pada prakteknya saya menunggu sekitar 20 menit. Lebih lama dari janjinya, tapi hal itu menjadi tidak terasa karena semua orang di jaman now ini pastilah ditemani oleh gadgetnya masing-masing.

Pelajaran yang saya petik hari itu adalah:
1. Fokuslah pada solusi bukan situasi
2. Berikan kepastian bukan harapan palsu
3. Mending pulang saja kalau gadget ketinggalan, wkwkwk

Gitu ajah....

Tabik
-haridewa-

TRANCE

Masih dari ajang workshop Fundamental Hypnosis by IHC, Sabtu 14 September 2019. Pagi itu setelah menunjukkan video tentang aksi hypno stage yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu, beberapa pesrta menanyakan kenapa orang-orang di video tersebut bisa saya hypnosis.

Jawabannya sederhana saja, sbb:
1. Karena mereka sukarela melakukannya
2. Karena mereka bisa diajak berkomunikasi, dan
3. Karena mereka bisa difokuskan

Apakah kalau sudah memenuhi ketiga syarat tersebut, semua orang pasti akan semudah itu dihipnosis, seperti pada tayangan video tersebut? Tentu tidak, karena masih ada satu query tambahan yang mesti kita penuhi, yaitu mencari suyet dengan tingkat sugestivitas tinggi melalui serangkaian tes yang disebut suggestibility test.

Orang bisa dihipnosis karena dalam pikiran mereka terdapat beberapa gelombang besar, yaitu:

1. BETA (12 hz s/d 19 hz)
2. ALPHA ( 8 hz - 12 hz )
3. THETA ( 4 hz - 8 hz )
4. Delta (0.5 hz - 4 hz)

Dan kondisi hipnosa terjadi ketika kita berhasil mengarahkan orang tersebut menuju gelombang alfa-theta. Kondisi pikiran manusia ketika berada dalam gelombang alfa-theta ini sering disebut dengan trance. Pengertian trance di kalangan masyarakat  sering salah kaprah. Ada yang berpendapat trance adalah kondisi pikiran kosong. Pertanyaannya adalah, bisakah seorang manusia hidup mengosongkan pikiran mereka? Tidak mungkin bukan?

Bahkan terdapat pendapat yang  lebih parah lagi, trance dianggap sebagai kondisi kesurupan. Kalau sudah ada kata kesurupan, yang kata dasarnya adalah ‘surup’, maka pertanyaan saya adalah Anda memilih surup ABC atau surup Marjan, hehehe. Dalam Bahasa Jawa kata surup berarti masuk, jadi kesurupan artinya adalah diri kita sedang dimasuki oleh mahluk lain. Apakah itu semua benar adanya?
Kita coba telaah premis tersebut dengan beberapa teori di bawah ini:

Seperti kita ketahui bahwa pikiran kita terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Nah, kondisi trance terjadi saat kita berhasil mengakses subconscious mind kita. Lalu apakah conscious dan subconscious mind tadi terpisah? Sebenarnya tidak. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Suatu saat Anda pergi ke sebuah perpustakaan nasional yang berisi jutaan buku dalam sebuah ruangan. Sejauh mata memandang penglihatan Anda dimanjakan oleh deretan rak buku yang berjajar rapi. Anda tinggal memilih genre buku apa yang akan Anda pinjam. Namun tetiba saja aliran listrik di perpustakaan tersebut terputus, sehingga semua lampu yang berada dalam ruangan tersebut padam. Celakanya semua emergency lamp tidak berfungsi, sehingga kondisi ruang perpustakaan tadi benar-benar gulita. Melihat hidung sendiri saja Anda tak mampu.

Untunglah HP Anda dilengkapi dengan fitur flashlight alias senter. Maka sejurus kemudian, Anda segera mengaktifkan fitur senter tersebut dan mengarahkan cahayanya ke rak buku yang Anda inginkan. Saat itu di depan Anda akan muncul sebuah bidang (biasanya berbentuk lingkaran) dengan bagian pusat sangat terang, dan semakin keluar lingkaran intensitas cahanyanya semakin pudar, bahkan bagian di luar bidang tadi akan tetap berada dalam kondisi gelap. Buku yang terlihat jelas oleh mata kita saat itu juga hanya yang berada dalam jangkauan bidang melingkar tersebut.

Kita andaikan saja seluruh ruang perpustakaan tadi adalah pikiran kita. Nah, bagian terang tadi adalah subconscious mind kita, sementara bagian lain yang gelap pada saat itu adalah conscious mind kita.

Dengan kata lain, kondisi trance sebenarnya justru kondisi dengan konsentrasi sangat tinggi (sangat sadar atau sangat FOKUS). Ingat, pada saat kita menyalakan senter, perhatian kita pastilah terpusat pada lingkaran cahaya tadi. So, apapun yang berada dalam lingkaran itu dengan mudah akan kita lihat, tanpa memerhatikan lagi benda lain yang berada dalam kegelapan.

Dari beberapa ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk membuat orang trance, kita tinggal mengarahkan (leading) senter ke ruang gelap mereka. Namun untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu mempunyai senter terlebih dahulu. Dan senter ini bukanlah sembarang senter, karena setiap senter haruslah sesuai dengan minat dan perhatian pikiran orang yang akan kita senter.

Artinya kita haruslah memahami pikiran mereka dulu (pacing), atau minimal kita mencari persamaan kondisi dari orang-orang tadi (common sense), agar kita bisa memahami mereka. Dalam bahasa kerennya, teori ini disebut pacing-leading. Dan idealnya untuk sukses melakukan sebuah leading, kita perlu melakukan tiga kali pacing. Pahami kondisi orang yang ingin kita hipnosis, akui kelebihan, kekurangan mereka, cari common sense-nya, baru kemudian berikan sugesti Anda.

Ternyata mudah sekali untuk bisa menghipnosis orang bukan?
Ya, karena hipnosis bukanlah ilmu untuk menidurkan orang. Hipnosis adalah sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya. 

Tertarik untuk bisa menghipnosis orang lain atau diri sendiri? Klik saja link di bawah ini http://bit.ly/DAFTAR-FTHIY-BGR

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#FTHIY
#IHC
#PKHI

Artikel Unggulan

FORGIVENESS THERAPY

Pagi ini ada seorang hipnoterapis yang menelpon saya dan menanyakan mengenai penanganan pada kawannya yang mengalami anxiety pasca terpuruk...