POSTINGAN POPULER

Monday, August 12, 2019

Mengatasi Kesurupan dengan Aman dan Damai

Indonesia merupakan bangsa kaya budaya termasuk budaya kesurupan, bahkan di daerah daerah tertentu  fenomena kesurupan justru disengajakan, dan menjadi tontonan menarik seperti reog, kuda lumping, debus dan tari kecak.
Setiap kita memiliki potensi untuk kesurupan karena memang bawah sadar kita dalam collective unconciousness berisi mitos mitos seperti memedi pocong, wewe gombel, jin penunggu rumah, jin penunggu sungai, dan banyak lagi, bahkan penunggu laut selatan.

Mitos inilah yang turun menurun dari jaman dulu terus hingga sekarang. Ditambah lagi pengalaman masa kecil yang sering ditakut takuti dengan berbagai macam hantu dan segala varian nya, yang kemudian tersimpan dalam personal unconciousness sehingga kedua kenyataan itu klop membentuk suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang setiap saat bisa muncul bila ada pemicunya (precipitating event).

Dalam kasus kesurupan masal yang menjadi precipitating event adalah teman yang sudah kesurupan, dalam istilah hipnotisme teman yang sudah kesurupan menginduksi bawah sadar teman lainnya sehingga seperti penyakit menular yang bila tidak diisolasi akan mewabah ke kawan yang lain.

Seringkali orang yang kesurupan memiliki kekuatan yang melebihi kemampuan biasanya, dalam beberapa kasus kesurupan dia bisa berteriak teriak hingga berjam jam, atau bisa melemparkan beberapa orang yang sedang memeganginya. Ada lagi kesurupan mampu berbicara seperti bukan dia yang bicara, dalam keadaan seperti ini seseorang yang kesurupan sedang memasuki alam bawah sadarnya tepatnya di alam ketidaksadaran kolektif dimana menurut freud ketidaksadaran tersebut mengandung kekuatan jiwa (psyche) sehingga dia memiliki kekuatan yang melebihi seperti biasanya

Mengapa orang bisa masuk kedalam alam bawah sadarnya (atau kesurupan)? Sebab utamanya adalah melemahnya tingkat kesadaran (faktor kritis) seperti orang yang memasuki kondisi tidur (sensasi awal mirip orang mengantuk)
***

Psikologi memberikan penjelasan mengenai fenomena kesurupan sebagai berikut :

1. Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya;
2. Hysteria , saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya ,
3. Split personality , saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.

Saya akan menggarisbawahi penjelasan nomor 3. Dalam psikoanalisa,  Freud menyatakan bahwa tingkat kesadaran manusia terbagi 3, yaitu Id, Ego dan Superego.

-Id adalah komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Contoh kebutuhan makan dan minum dipengaruhi oleh Id.

-Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani  realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata.

-Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat

Lebih mudahnya kita pahami seperti ini. Kita ignore dulu Id.  Dalam diri kita ada 2 entitas yang memengaruhi perilaku kita. Saya (ego) yang banyak dipengaruhi oleh pikiran kritis. Dan AKU (Superego) yang lebih kontemplatif dan banyak dipengaruhi oleh perasaan. Porsi dominansi aku lebih besar dari saya dengan prosentase 88:12.

Dengan kekuatan dominan 88% maka kapanpun dibentrokkan selalu yang keluar sebagai pemenang adalah si AKU. Kenapa demikian? Ya karena tugas si AKU memang untuk melindungi seluruh tubuh dan pikiran kita. Menjaga agar keseluruhan sistem tubuh dan pikiran kita berada dalam keadaan paling nyaman.
***

Kembali ke kasus kesurupan di tanah air. Biasanya orang kesurupan ketika mereka berada dalam tekanan (stress).  Kesurupan juga cenderung terjadi pada perempuan dan biasanya massal. Apa alasannya?

1. Dalam kondisi tertekan maka untuk membuat kondisi diri lebih nyaman si AKU biasanya akan mengambil alih kendali diri. Dengan preferensi masa lalu yang mungkin lebih menyenangkan  (minimal menurut si AKU) maka AKU kemudian muncul ke permukaan.

2. Perempuan cenderung lebih feeling, maka superego (aku) nya akan lebih dominan

3. Kesurupan memang cenderung menular. Karena pemicunya justru orang di sekitar yang sudah kesurupan duluan

Maka kasus kesurupan biasanya terjadi pada siswi ketika mendekati ujian. Atau karyawati pabrik ketika musim pesanan produksi melejit tinggi. Kondisi di atas tentunya penuh dengan tekanan. Bagaimana kalau nilai ujian nanti jelek? Tentu kena marah mama. Atau, bagaimana kalau target produksi tak terkejar? Tentu kena semprot manajer.

Nah, dalam kondisi tertekan inilah secara otomatis si AKU akan menyetabilkan kondisi tubuh agar terhindar dari ketaknyamanan (kemarahan mama atau semprotan manajer).  Maka muncullah AKU dengan tingkah anehnya seperti  menangis bombay, teriak tak berkesudahan dll. Gunanya untuk apa? Agar mama jadi kasihan dengan anak kesayangannya sehingga tak jadi marah meski nilai ujian anaknya jelek. Demikian juga manajer tak marah meski produksi tak sesuai target. Nyamanlah jadinya (menurut si AKU)
***

Berikut beberapa tips menangani kasus kesurupan
1. Isolasi sesegera mungkin orang yang kesurupan agar tak memengaruhi orang lain
2. Tenangkan suasana, karena kesurupan cenderung membuat suasana menjadi gaduh, ketakutan, dan crowded atau ramai.
3. Tenangkan orang yang mengalami kesurupan dengan membiarkannya, jangan dipaksa atau dipegang apalagi diteriaki terlebih di pukul pukul (kecuali kondisinya sudah membahayakan dirinya atau orang lain)
4. Karena penngendali setiap kita adalah diri kita sendiri maka katakan bahwa dia adalah pengendali dirinya sendiri. Dan minta dia untuk mengendalikan dirinya. Katakan dengan tegas namun tidak membentak. Kalau perlu sambil usap wajahnya.
5. Kalau hal ini belum berhasil juga maka gunakan senjata pamungkas ini. Katakan dengan keras agar orang yang kesurupan mendengarnya.

'Baiklah. Karena diri orang ini dimasuki oleh jin maka saya akan berikan makanan kesukaan jin yaitu kotoran. Tolong segera carikan saya kotoran ayam sesendok saja. Saya akan berikan makanan ini agar jinnya senang dan mau diajak kerja sama! Tolong pegangi dia dan buka mulutnya! '

Tunggu beberapa waktu, daaan sim salabim, orang itu akan tersadar dengan sendirinya bahkan sebelum kita kasih kotoran tadi. Kenapa bisa begitu?

Ingat bahwa AKU akan selalu menyetabilkan kondisi pikiran dan tubuh dengan preferensinya sendiri. Maka ketika dia mendengar bahwa dirinya akan dikasih makan kotoran, dia segera mengembalikan kendali kepada saya. Kenapa? Ya supaya kotoran tidak jadi dimasukkan ke mulutnya. Siapa sih orang yang mau dikasih makan kotoran?

Sederhana saja khan? Bahkan kalau orang terdekat menghalangi kita untuk memberikan kotoran, silakan gunakan hadits berikut yang menguatkan bahwa makanan bangsa jin adalah tulang dan kotoran.

"Tulang dan kotoran merupakan makanan jin. Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Lalu aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan”. (HR. Bukhari no. 3860)

Ternyata pemahaman hipnosis punya manfaat banyak dalam kehidupan sehari-hari kita ya?
Selamat mencoba.

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist,
Happiness Life Coach

Wednesday, May 08, 2019

NEW BEHAVIOR GENERATOR


Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan. Mental Creation dan physical creation. Proses pertama yang terjadi di pikiran kita memiliki peran yang sangat penting dalam memudahkah kita mewujudkan proses selanjutnya. Mari kita perhatikan lebih jauh bagaimana seorang arsitek tentu membuat sketsa sebelum membangun sebuah rumah, seorang sutradara akan membuat atau menyuruh orang lain menulis skenario sebelum membesut sebuah film. Bahkan dalam keseharian kita, meski cuma sesaat kreasi mental akan selalu mendahului kreasi fisik. Contoh ketika kita ingin makan sesuatu, tentu sudah terbayang makanan apa yang ingin kita nikmati. Begitu pula ketika kita mengendarai mobil atau motor. Di kepala kita tentu terbayang rute mana yang akan kita tempuh. 



Kita mengenal kreasi mental ini sebagai imajinasi. Meski banyak orang yang sudah mengakui kehebatan sebuah imajinasi dalam mendukung kesuksesan, namun masih saja ada orang yang menafikannya.  Sekali kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran kita, fisik kita pun mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikirkan.

Agar Anda lebih mudah memahami kekuatan imajinasi, berikut ada dua kisah nyata yang mewakilinya.

Pertama, kisah hidup Mayor James Nesmeth, seorang tentara yang gemar main golf. Dia begitu tergila-gila dengan golf. Tapi sayang sekali, sebelum menikmati kesempatan itu, dia ditugaskan ke Vietnam Utara.

Sungguh sial, saat di Vietnam dia ditangkap oleh tentara musuh dan dijebloskan ke penjara yang pengap dan sempit. Dia tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siapa pun. Situasi pengap, kosong, dan beku itu sungguh menjadi siksaan fisik dan mental yang meletihkan baginya.

Untungnya, Nesmeth sadar dirinya harus menjaga pikirannya agar tidak sinting. Dia mulai berlatih mental. Setiap hari, dengan imajinasinya, dia membayangkan dirinya berada di padang golf yang indah dan memainkan golf 18 hole. Dia berimajinasi secara detail. Dia melakukannya rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun.

Lantas, tujuh tahun kemudian, dia pun dibebaskan dari penjara. Luar biasanya saat dia mulai bermain golf kembali untuk pertama kalinya. Ternyata Mayor James Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang pun bertanya kepada siapa dia berlatih.

Tentu saja, tidak dengan siapa pun. Yang jelas, dia hanya bermain dengan imajinasinya. Tetapi, ternyata itu berdampak pada hasil kemampuannya. Nah, inilah kekuatan imajinasi itu.
***

Kisah kedua adalah cerita tentang Tara Holland, seorang gadis yang bermimpi menjadi Miss America sejak kecil. Pada 1994, dia berusaha menjajaki menjadi Miss Florida. Sayangnya, dia hanya menyabet runner-up pertama. Tahun berikutnya dia mencoba, tapi lagi-lagi hanya di posisi yang sama. Hati kecilnya mulai membisikkan dirinya untuk berhenti.

Tapi, dia bangkit dan membulatkan tekadnya lagi. Dia pindah ke negara bagian lain, Kansas. Pada 1997, dia terpilih menjadi Miss Kansas. Dan di tahun yang sama, dia berhasil menjadi Miss America! Yang menarik, adalah saat Tara diwawancarai setelah kemenangannya, Tara menceritakan bagaimana dia sudah ingin menyerah setelah dua kali kalah di Florida.

Tapi, tekadnya sudah bulat. Selama beberapa tahun kemudian, dia membeli video dan semua bahan yang bisa dipelajari tentang Miss Pagent, Miss Universe, Miss America, dan sebagainya. Dia melihatnya berkali-kali. Setiap kali melihat para diva meraih penghargaan tertinggi, Tara membayangkan dirinyalah yang menjadi pemenangnya.

Satu lagi yang menarik dari wawancaranya adalah saat dia ditanya apakah dia merasa canggung saat berjalan di atas karpet merah. Dengan mantap, Tara Holland menjawab, “Tidak sama sekali. Anda mesti tahu saya sudah ribuan kali berjalan di atas panggung itu.”

Seorang reporter menyela dan bertanya bagaimana mungkin dia sudah berjalan ribuan kali di panggung, sementara dia baru pertama kalinya mengikuti kontes. Tara menjawab, “Saya sudah berjalan ribuan kali di panggung itu,…dalam pikiran saya.”
***
Salah satu teknik berbasis mental creation yang dikembangkan NLP adalah  New Behavior Generator. Teknik membentuk perilaku baru merupakan salah satu teknik yang memanipulasi sub modalitas untuk menciptakan perilaku baru yang diinginkan. Ini adalah teknik NLP yang menggunakan citra mental atau latihan untuk mendapatkan hasil jangka panjang.

Tujuan dari teknik ini adalah memungkinkan diri Anda untuk membentuk ‘PERILAKU BARU’ dengan menerapkannya dalam pikiran (mind) sehingga mengaktifkan semua sumber daya yang Anda miliki di system saraf (neurological resources).
Imajinasi adalah energi. Energi yang kalau diolah terus-menerus akan mewujud dalam apa yang kita imajinasikan itu. Kita tidak harus belajar semuanya dari awal. Sesuai dengan bunyi sebuah presuposisi bahwa semua manusia telah memiliki sumber daya untuk sukses. Yang perlu dilakukan hanyalah mengakses, memperkuat dan mengurutkannya. Kita telah memiliki banyak referensi dan perilaku bawah sadar mengenai sebuah keterampilan, baik itu berasal dari diri kita maupun dari orang lain di sekitar kita. Kita hanya perlu  mengatur dan mengurutkan agar bisa menjadi keterampilan baru. Ketrampilan kita. Orang belajar melalui observasi, praktek dan perbaikan. Kita bisa menciptakan strategi untuk mencapai hal-hal baru. Teknik ini akan mengadopsi pemahaman eye accessing cue yang akan mengakses semua sumber daya Anda pada tataran neurological resources

New Behavior Generator ini didasarkan pada sistim keyakinan yang kita miliki:
  • Orang belajar perilaku baru dengan menciptakan peta mental baru dalam otak mereka.
  • Semakin lengkap Anda membuat peta mental Anda, semakin besar kemungkinan Anda akan mendapatkan perilaku baru yang Anda inginkan.
  • Fokus pada tujuan Anda (WFO) adalah cara tercepat untuk mencapai perilaku baru.
  • Setiap orang memiliki sumber daya mental yang mereka butuhkan untuk mencapai perilaku baru.
  • Sukses adalah fungsi dari mengakses dan mengatur sumberdaya yang sudah ada



 Sebelum Anda membantu klien ada baiknya Anda memulai  langkah berikut:
  1. Bangunlah rapport dan lakukan kalibrasi dengan baik.
  2. Nyatakan intensi atau tujuan Anda kepada klien bahwa Anda ingin membantunya.
  3. Mintalah kesediaan klien untuk dibantu dan bangun keyakinan klien serta dapatkan kepercayaan dari klien bahwa Anda akan berhasil bila klien juga bisa diajak bekerja sama dengan baik.
  4. Mintalah klien untuk menyatakan WFO atau keinginan dengan jelas untuk menghindari kesalahpahaman atau salah langkah dalam proses kerja sama tersebut.
  5. Buatlah WFO Anda sendiri yang inline dengan WFO klien
  6. Tanyakanlah manfaat apa yang akan diperoleh bila klien mencapai apa yang diinginkannya itu? Siapa saja yang akan memeroleh keuntungan tersebut?

Berikut adalah enam langkah dasar cara melakukan Strategi Pembentukan Perilaku Baru. Silakan gunakan alat bantu berupa pinsil atau pulpen, dan minta mata klien untuk mengikuti arah dari pinsil yang Anda gerakkan nanti:
1.  Arahkan mata klien ke kanan bawah (dari sudut pandang Anda sebagai terapis) dan tanyakan, “Jika Anda sudah mencapai WFO Anda nanti, seperti apakah diri Anda nanti?” Langkah pertama ini merupakan pemaparan keinginan klien sesuai dengan self talk mereka (Auditory Digital)

2.  Arahkan mata klien ke kiri atas dan tanyakan, “Coba sekarang lihat, dengar dan rasakan diri Anda di masa yang akan datang dimana diri Anda sudah memiliki perilaku baru tersebut” Pandu klien untuk menggunakan semua inderanya, sehingga mereka bisa menjawab, “Aku melihat…., aku mendengar….., aku merasa……” Langkah kedua ini merupakan sebuah imajinasi masa depan (Visual Construction)

3.   Arahkan mata klien ke kanan atas, dan minta klien untuk mengingat sebuah peristiwa dimana mereka pernah mengalami minimal sensasi yang sama dengan WFO yang sedang direncanakan. Untuk lebih memudahkan langkah ini, Anda bisa membantu dengan menanyakan:
a.  “Coba ingat sebuah kesuksesan yang pernah Anda capai yang menggunakan perilaku yang mirip dengan perilaku baru yang sedang Anda proses ini?”
b.    “Coba ingat sebuah keberhasilan kecil saja yang pernah Anda capai menggunakan perilaku yang sedang Anda proses ini?”
c.    “Coba ingat seorang tokoh yang sangat ahli dengan perilaku ini, dan Anda bisa mulai memodelnya”
Langkah ketiga ini merupakan sebuah pengaksesan sumber daya (Visual Remembered)

4.    Arahkan mata klien ke kiri atas lagi, dan tanyakan, “Dengan semua sumber daya yang sudah Anda miliki tadi, bagaimana sekiranya diri Anda nanti?”

5.  Arahkan mata klien ke kiri bawah, dan minta klien merasakan bahwa perilaku yang mereka inginkan memang sekarang sudah menjadi satu dengan diri mereka. Goal sudah tercapai. Dan tanyakan perasaan mereka, “Apa yang Anda rasakan sekarang? Senangkah Anda melakukan perilaku tersebut ?” Langkah ini juga sekaligus untuk melakukan kalibrasi apakah proses yang dijalankan sudah sesuai dengan harapan klien. (Kinaesthetic)

6.  Arahkan mata klien ke kanan bawah lagi, dan minta mereka membandingkan kesuksesan ini dengan kesuksesan lain yang pernah dicapai di masa silam, dan apakah sama perasaannya. Jika perasaannya tidak sama maka minta klien untuk menambahkan detail dari WFO mereka, sehingga diharapkan pada proses pembentukan perilaku baru nantinya, perasaan yang dicapai juga sesuai dengan yang diharapkan. Langkah ini kembali memandu klien untuk melakukan self-talk (Auditory Digital)
Seperti yang telah saya sampaikan pada awal tulisan ini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan, mental creation dan physical creation. Maka jika Anda ingin perilaku baru tadi benar-benar terwujud, Anda mesti memiliki komitmen yang kuat serta selalu melatih diri menuju WFO Anda tadi. Maka berikut tambahan langkah yang mesti dilakukan:
1.       Future Pacing dan tes.
Lakukan tes di kehidupan nyata, cari situasi yang cocok untuk melakukan perilaku baru tersebut dan rasakan serta nikmati.
2.      Ucapkan syukur di dalam hati dan nikmati lagi perasaannya.
Anda bisa mengulangi proses ini berkali-kali sampai fisik Anda bekerja sama untuk mewujudkan perilaku baru Anda tadi.

Selamat mencoba

Thursday, April 11, 2019

Five Days Becoming NNLP Trainer Batch#2


Alhamdulillah wa syukurillah,  kelar juga program akbar tahunan Cafe Therapy dengan melahirkan 14 Certified Neo NLP baru.

Trainer is a leader, maka stamina mereka mesti kuat dan handal sehingga perlu sebuah kawah Candradimuka untuk menggodognya. Selama 5 hari, peserta digembleng dari jam 6 pagi sampai 10 malam, namun luar biasanya hal ini tidak membuat peserta kelelahan tapi malah tertantang setiap harinya. 

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah bagi peserta pria muslim, kami langsung meregangkan fisik dengan serangkaian senam sederhana seperti brain gym, poco-poco, sajojo, maumere serta Javanese Taichi.

Secara bergantian peserta mesti memimpin senam ini, karena hal ini akan bermanfaat ketika mereka sudah membuka kelas sendiri nantinya sebagai salah satu icebreaker keren.
Peserta batch kali ini beruntung karena mendapatkan bonus teknik taichi dari salah satu peserta yang rupanya merupakan bos dari Taman Air Spa Bali, yaitu mbak Debra. Maka saya akan menamakan teknik ini Water Castle Taichi. (Saya akan mengulas teknik taichi ini dalam tulisan tersendiri)
***

Setelah istirahat sesaat, jam 9 sesi classroom dimulai dengan melakukan review materi sebelumnya. Cara review yang kami lakukan tidaklah seperti kelas pada umumnya dimana trainer akan mengulang poin-poin penting materi hari sebelumnya. Justru para peserta yang akan mengungkapkan hal paling menarik yang mereka dapatkan kepada kawan semeja mereka.

Setelah itu masing-masing meja mesti mengirimkan wakil untuk mempresentasikan hal menarik mejanya di depan kelas. Cara ini menantang semua peserta untuk belajar menjadi trainer dari hari pertama mereka belajar.

Jika dihitung menggunakan jam belajar regular, maka sebenarnya bootcamp ini setara dengan 10 hari pelatihan, dimana setiap hari para peserta selain diberikan bekal teori juga mesti melakukan role play, serta mengerjakan borang (paperwork) baik berupa ‘daily test’, WFO Form, Ecological Form, dll.

Setiap malam, sesi classroom diakhiri dengan gimmick yang akan membuat para peserta ingin segera kembali ke ruang kelas keesokan harinya.

Malam pertama kami sajikan ‘ring and chain magic trick’ yang merepresentasikan salah satu presuposisi, yaitu jika seseorang mampu melakukan sebuah keahlian, maka orang lain juga mampu melakukannya, asalkan mau mempelajari caranya. 

Meski hanya menggunakan alat sederhana berupa kalung dan gelang, namun para peserta sangat antusias untuk memodel 7 style permainan sulap yang diperagakan oleh Pak Kono dan Pak Joko ini.

Malam kedua, semua peserta diminta mentransfer mental block-nya ke dalam sebuah pinsil untuk kemudian mematahkan pinsil tersebut. Meski pada awalnya beberapa peserta wanita merasa ngeri, namun begitu berhasil mematahkan sebuah pinsil dan mereka merasakan plongnya perasaan mereka, beberapa emak-emak ini malah minta beberapa pinsil lagi untuk dipatahkan.

Malam ketiga, kami melakukan eksperimen telepati sederhana setelah mendemokan teknik mirroring yang sangat ajaib. Dua orang peserta diminta untuk maju ke depan kelas, dimana salah satu akan memirror dan peserta satunya akan dimirror. Setelah tujuh kali gerakannya dimirror, peserta ini diminta untuk menebak sebuah angka yang ditulis oleh peserta yang memirror. Dan luarbiasanya dua kali kesempatan menebak angka, keduanya dilakukan dengan tepat.

Malam ke empat, saya berikan tantangan kepada para peserta untuk menghantamkan bola pijar (bohlam bening) pada sebuah keramik. Saya memberikan prolog dengan pengandaian bahwa bohlam ini adalah sumber daya dan keramik merupakan hambatan. Sumberdaya yang terlihat ringkih tadi mesti dihantamkan pada hambatan yang kokoh.
Premis awal, semua peserta kompak menyatakan bahwa bohlam-lah yang akan pecah. Sumber daya yang terlalu kecil pasti akan hancur berkeping-keping menghadapi hambatan yang besar dan kuat.

Sebelum tantangan dimulai, saya kembali mengulas framework NLP Change Model. Saya tekankan lagi bahwa framework ini bisa terbentuk ketika kita memulainya dengan meletakkan titik goal kita (desired state) dan juga menentukan titik start (current situation), sehingga terbentanglah sebuah roadmap di antara start dan goal tadi.
Dalam perjalanan menuju goal, selalu kita akan didampingi oleh sumberdaya baik internal maupun eksternal, namun juga selalu dibayangi oleh hambatan (internal dan eksternal juga)

Sumberdaya adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik goal. Dan hambatan adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik start. (Jangan Anda pikir hambatan adalah segala aspek yang menjauhkan dari titik goal. Karena secara sadar tidak ada orang yang menjauh dari goalnya. Namun alangkah banyaknya orang yang terjebak di zona nyaman, sehingga enggan berjauhan dengan titik start. Itulah senyatanya hambatan!)
Ketika berfokus pada sumberdaya dalam mencapai goal (outcome thinking), kita mesti peka (sensory acuity), serta senantiasa menjalin hubungan (building rapport) dengan semua pihak terkait, juga fleksibel dalam berperilaku.

Dan ketika usai prolog saya, peserta mulai mencoba menghantamkan bohlam tadi pada keramik. Kami sudah menyiapkan sebuah kardus untuk menjaga jika bohlam pecah maka belingnya terlokalisir dengan aman di dalam kardus. Bergantian peserta mencoba peruntungan mereka. Ada yang langsung memukulkan, ada yang gagal, ada yang berhasil. Ada yang menjatuhkan dan juga gagal. Namun mereka mulai takjub dengan kekuatan bohlan ketika pada kesempatan pertama mereka, bohlam yang terlihat ringkih tersebut tidak pecah.

Maka pada kesempatan berikutnya, peserta mulai melakukan modifikasi. Ada yang meletakkan penyangga pada sudut keramik, sehingga terdapat ruang di bawahnya. Masuk akal. Ada yang mengambil kursi dan menjatuhkan dari ketinggian yang menurut mereka cukup untuk memberikan daya dorong pada bohlam tersebut.
Dan satu persatu peserta yang premis awalnya adalah memecahkan bohlam, mulai bisa yakin bahwa keramik mereka yang pecah, setelah melalui beberapa percobaan.
Setelah para peserta puas dengan tantangan mereka, kami berdiskusi untuk membahas fenomena ini.

Dan kesimpulannya adalah:
1. Ini bukan magis tapi logis
2. Jangan suka meremehkan sumberdaya meski sekecil apapun
3. Fleksibilitas membantu kita menguatkan sumberdaya dalam rangka mencapai goal
***
Bootcamp ini menggabungkan 3 kelas regular, yaitu NNLP Practitioner, Master Practitioner dan diakhiri  dengan materi NNLP trainer, yang membuat si genius dan si rajin harus sering dipanggil untuk dapat menyerap semua materi dalam waktu singkat.
Peserta bootcamp kali ini berasal dari berbagai macam profesi dan lokasi.  Peserta paling jauh terbang dari ternate, yaitu bu Ernie Arifin, seorang widya iswara yang selalu antusias mengikuti sesi demi sesi.  

Ada juga ASN dari kemenkumham yang baru mendapatkan sertifikasi profesi advokat dari peradi yaitu bu Hj. Sri Sulistijaningsih. Meski usianya tidak lagi muda, namun Bu Sulis (begitu beliau biasa dipanggil) merupakan peserta paling aktif selama pembelajaran lima hari itu.  Saya merasa sanga tersanjung karena salah satu peserta bootcamp yang datang dari Semarang merupakan seorang Psikolog yang juga Dosen di UIN Walisongo Semarang. Dengan gayanya yang sangat kalem, Bu Fitriyati Sjirozi  bisa melengkapi informasi yang saya butuhkan jika berhubungan dengan keilmuan psikologi.  Ada bu Evi Sofiyah, seorang Dosen yang haus ilmu sehingga rela melakukan reseat lagi demi mengejar ketuntasan pemahaman NLP-nya, lalu ada mbak Asturida Dewi Astika Asturida, seorang akuntan dengan kekuatan thinkingnya, yang terbang dari Bali demi memuaskan rasa  penasarannya akan manfaat belajar NLP. Syukurlah di hari terakhir dia akhirnya menemukan jawabannya. Semoga dia juga segera menemukan jodohnya, hehehe.
Bootcamp kali ini juga menjadi ramai berkat kehadiran seorang course-holic, yang juga seorang praktisi energy-healer, Mbak Debra Maria Rumpesak yang bermurah hati berbagi serta memimpin senam taichi setiap pagi dan sekaligus membuka aura energy para peserta.   

Ada sosok emak tangguh yang haus ilmu berasal dari negeri jiran yang tinggal di Bekasi yaitu Mba Sarinah Jameaan, yang kami panggil Kak Ros kerana logat bicaranya mengingatkan kita pada kakak sulung Ipin dan Upin. Meski masih merasakan jetlag dan sempat mengalami demam sepulang umroh, namun Kak Ros tetap berjuang untuk mengikuti semua sesi dan mengerjakan semua tugas yang ada.
Dan hadir juga sahabat lama serta saudari saya, seorang yang selalu mengabdi untuk penyembuhan anak-anak trauma sex abuse dan sebagai owner Lintas Organizer serta pemilik yayasan Bushido.  yaitu Mbak Adriana Eko Susanthy.
Ada seorang magician yang punya toko alat sulap online juga paling rajin mengikuti materi dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas harian juga hadir full dalam acara ini yaitu Mas Bernartdous Sugiharto

Lalu ada Kang Riswan Ekananta  seorang spesialist cleaning service dari zero to hero, yang berhati sangat mulia karena bersedia menjemput Bu Erni dari Bandara dan mengantar sampai Hotel. Betul-betul walk the talk sebagai seorang Service Excellent Practitioner.
Ada mas ''oji' Fauzi Yusdi seorang praktisi HR yang dikirim oleh organisasinya agar banyak belajar mengenai NLP, sehingga bisa ditularkan kepada kawan se-organisasinya.   Peserta berikut merupakan peserta yang pertama kali mendaftarkan diri pada bootcamp kali ini. Seorang yang juga sangat hobby mencari ilmu melalui kursus-kursus singkat demi melengkapi pemahaman retorika bisnis English Centernya, dia adalah Bro Thomas Pakaya, yang akrab dipanggil Uncle Tom.

Peserta satu ini merupakan seorang Internal Trainer dari ATC (Air Training Center) milik Lion Air yang akrab disapa Captain Yadhee Muhammad Sutiyadi. Adapun CAPTAIN sendiri rupanya akronim merupakan kredo hidupnya, yaitu Communicator, Arranger, Professional, Trainer, Assessor, Ideator, Networker
Peserta terakhir adalah ibu dari anak-anak saya, Elita Taurisiawati yang selama ini tidak terlalu tertarik dengan dunia training apalagi NLP, sampai dia diminta untuk menjadi Trainer untuk ibu-ibu PKK oleh istri Walikota Bogor.

Mereka semua adalah manusia-manusia pembelajar yang sangat hebat, disiplin, kompeten serta siap mengabdikan diri mereka demi perkembangan diri serta orang di sekitar mereka.
Terimakasih untuk kebersamaan kita selama 5 hari kemarin, in sya Allah dengan niat mulia ingin mengembangkan orang di sekitar kita mencapai kebahagiaan mereka, kita akan dimnudahkan dalam mencapai kebahagiaan kita juga.
Terima kasih juga untuk kawan seperjuangan saya Mas Kono dan Pak Joko yang senantiasa ceria dalam segala suasana. Terimakasih juga untuk Master Hypno Massage Therapist yang membantu melemaskan otot saya dan peserta lain. Terimakasih juga untuk Certified Trainer batch 1, Mas
Adun Muhar yang telah meluangkan waktunya untuk reseat sekaligus memimpin sesi review pagi hari 4-5.

Agar selalu ingat proses melakukan therapy/coaching, di bawah ini saya tuliskan lagi langkahnya:
1. Building Rapport (kepada diri sendiri, klien, dan lingkungan sekitar)
2. Menanyakan kesediaan klien untuk dibantu (menanyakan kesediaan diri untuk melakukan sebuah tindakan)
3. Membuat WFO (diri sendiri dan klien)

Akhirul kalam, selamat mengaplikasikan keahlian yang telah dipelajari selama 5 hari kemarin. 

Siapa kita?

eN eL Pe TRAINER!

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
#salambahagia
#semangatpagi
#becomingnlptrainer
#cafetherapy

Artikel Unggulan

Mengatasi Kesurupan dengan Aman dan Damai

Indonesia merupakan bangsa kaya budaya termasuk budaya kesurupan, bahkan di daerah daerah tertentu  fenomena kesurupan justru disengajakan, ...