NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

EGO IS

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

EGO IS

18/01/26




Sahabatku, mumpung masih dalam suasan tahun baru, di mana resolusi baru, baru saja kita canangkan. Saya mengajak Anda merenung sejenak. Pernahkah Anda merasa hidup terasa “makin ramai, tapi justru makin sepi”?


Agenda penuh. 

Pikiran penuh. 

Ambisi penuh. 

Namun hati, entah mengapa terasa kosong.


Saya pernah berada di titik itu.


Suatu pagi, saat bercermin, untuk pertama kalinya saya sadar: bukan hidup yang menjauh dari Tuhan. Saya yang perlahan mendorong Tuhan ke pinggir.


Pelan. 

Tidak kasar. 

Tidak dramatis. 

Hanya sedikit demi sedikit.


Sahabatku, tahukah Anda apa sebenarnya ego itu? Saya yakin, kata ini bukan ‘diksi’ baru bagi Anda. 


Tapi tahukah Anda bahwa ego itu sangat licik. Ia tidak datang sambil berteriak, “Hei, aku mau menggantikan posisi Tuhan!”


Ego datang dengan lembut sambil berbisik:

• “Tenang, aku bisa mengatur urusan ini sendiri.”

• “Doa nanti saja, sekarang fokus kerja dulu.”

• “Aku tahu yang terbaik untuk hidupku.”


Dan tanpa sadar, kita mulai mempercayai suara itu. Dan saat itulah ego mulai duduk di kursi Tuhan. Karena sejatinya EGO is 'Edging God Out!'


Kita menggeser Tuhan keluar. Bukan dengan penolakan, melainkan dengan kepercayaan berlebihan pada diri sendiri.


Ego tidak jahat, tetapi bisa berbahaya. 

Ego bukanlah musuh. 

Ego adalah alat, jika kita tahu tempatnya.


Masalah muncul saat ego:

• ingin selalu benar

• alergi terhadap koreksi

• haus pengakuan

• dan takut terlihat lemah


Di titik itu, ego bukan lagi penjaga diri. Ego berubah menjadi penguasa hidup kita.

Dan di mana ego berkuasa, Tuhan sering kali hanya menjadi tamu. 

Dia hanya dipanggil saat darurat. 

Saat kritis. Dan dilupakan saat keadaan terasa aman. 

Ngaku aja, pernah kan mengalami situasi semacam ini? Atau sering malah?


Dan inilah bagian yang paling sunyi. Tuhan tidak pergi. Kita yang mengusir-Nya. Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Dia hanya didorong keluar secara halus.


Setiap kali kita berkata:

• “Aku bisa sendiri.”

• “Aku tidak membutuhkan arahan.”

• “Aku tahu jalan tercepat.”


Sesungguhnya kita sedang berkata:

“Tuhan, tunggu di luar dulu. Aku bisa urus ini sendiri.”


Dan anehnya, hidup tetap berjalan. 

Namun kehilangan kedalaman. 

Kehilangan damai. 

Kehilangan makna.


Tapi jangan khawatir sahabatku. Kabar baiknya, pintu itu tidak pernah dikunci dari dalam. Kita masih bisa kembali lagi kok. 


Jalan pulang itu bernama kerendahan hati

Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna.

Dia menunggu kita menjadi sadar.


Sadar bahwa:

• kita kuat, tetapi terbatas

• kita pintar, tetapi tidak maha tahu

• kita mampu, tetapi tetap membutuhkan tuntunan


Kerendahan hati bukan tentang merendahkan diri. Kerendahan hati adalah mengembalikan Tuhan ke pusat hidup.


Dan Sahabatku, sekarang perhatikan ini sejenak. 


Mungkin saat Anda membaca tulisan ini, ada bagian hidup yang terasa berat tanpa alasan yang jelas. Mungkin Anda tidak membutuhkan jawaban baru. Mungkin Anda hanya perlu menggeser ego satu langkah ke samping.


Bayangkan, bagaimana rasanya hidup ketika Anda tidak harus selalu memegang kendali. Ketika Anda mengizinkan Tuhan masuk kembali. Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai Pemimpin.


Dan Anda bisa memulainya kapan saja. Tanpa tekanan. Tanpa paksaan.

Karena sering kali, perubahan terdalam terjadi, saat kita cukup diam untuk mendengarkan. Saya kasih tahu rahasia kecil agar kita bisa mendengarkan (LISTEN) dengan baik. Kita cukup mengubah susunan hurufnya, menjadi SILENT.


Atau kabar lebih hebatnya lagi. Anda bisa mengendalikan EGO dengan cara 'Hadir Utuh dan Sadar Penuh' dengan membaca buku Spiritual Mindful Tranceformation. 


💰 Hanya Rp199.000 

📦 Pesan Sekarang! 

📲 Scan QR untuk order atau klik https://bit.ly/Beli_BukuSMT


Tabik

-dewahipnotis-

www.thecafetherapy.com



BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang