_Masya Allah..._
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sejak lahir hingga hari ini, ada satu tamu yang tak pernah sekalipun meninggalkan kita?
Ia datang...
Ia pergi...
Lalu datang lagi.
Tak pernah meminta upah.
Tak pernah mengeluh.
Tak pernah berhenti.
Namanya... *napas*.
Ironisnya, sesuatu yang paling setia justru menjadi hal yang paling sering kita abaikan.
---
Dua hari satu malam dalam *Bootcamp Meditasi Sadar Batch 1*, kami tidak sedang belajar menjadi manusia yang lebih hebat.
Kami hanya belajar menjadi manusia yang *hadir.*
Hadir saat bernapas.
Hadir saat berjalan.
Hadir saat makan.
Hadir saat mendengar.
Hadir saat berbicara.
Hadir saat berdoa.
Hadir saat menerima rezeki.
Bahkan... hadir ketika tertidur.
Semakin lama saya mengamati, semakin jelas terlihat bahwa semua latihan itu sebenarnya hanyalah ranting-ranting.
Batangnya hanya satu.
*Napas.*
Karena setiap perubahan besar selalu masuk melalui pintu yang sangat kecil.
Dan pintu itu, adalah satu tarikan napas yang disadari.
---
Sabtu malam...,
Sebelum sesi Tidur Sadar dimulai, saya bertanya iseng kepada peserta,
*"Adakah yang memiliki fobia?"*
Seorang perempuan muda mengangkat tangan.
Ia mengalami *herpetofobia*.
Bukan takut ular.
Bukan takut buaya.
Tetapi, takut melihat *cicak*.
Bahkan hanya melihat gambar cicak dari jarak beberapa meter saja sudah cukup membuat tubuhnya menegang dan wajahnya tertutup panik.
Saya tersenyum.
"Lalu... mau kita ajak berdamai malam ini?"
Ia mengangguk.
Saya tidak menghapus rasa takutnya.
Saya hanya mengajaknya mengganti cara pikirannya memegang rasa takut itu.
Saya memintanya mengubah rasa takut tersebut menjadi sebuah bentuk.
Lingkaran.
Bujur sangkar.
Atau segitiga sama sisi.
Ia memilih *segitiga.*
Maka yang kami sentuh bukan lagi cicaknya.
Bukan traumanya.
Melainkan, dimensi segitiga itu.
Kurang dari sepuluh menit.
Yang semula bahkan tak sanggup melihat gambar cicak, kini tertawa sambil memegang cicak karet di tangannya sendiri.
*Masya Allah...*
Terkadang yang berubah bukan dunia.
Yang berubah hanyalah cara pikiran memberi makna pada dunia.
---
Kejadian itu rupanya membuat peserta lain penasaran.
Seorang bapak berusia enam puluh tahun lebih bercerita bahwa sejak muda beliau memiliki ketakutan yang sulit dijelaskan.
Beliau merasa jijik dan takut berlebihan kepada lumut dan bercak hitam yang sering muncul di kamar mandi atau selokan.
Beliau bertanya,
*"Bisakah saya juga dibantu?"*
Saya mengangguk.
Namun kali ini saya bahkan tidak menggunakan bentuk geometris.
Saya hanya memberikan selembar tisu.
"Pak... pindahkan semua ketakutan Bapak ke atas kertas ini."
Beliau menulis.
Lalu saya bertanya,
*"Sekarang yang ada di tangan Bapak itu apa?"*
Beliau menjawab mantap,
*"Semua ketakutan saya."*
"Mau dibuang?"
"Mau."
"Bagaimana caranya?"
"Bakar saja."
Saya tersenyum.
"Kalau benar-benar ikhlas melepasnya... biarkan api menyelesaikan sisanya."
Sebelum tisu itu dibakar...
Saya hanya meminta beliau melakukan sesuatu yang sangat sederhana.
Tarik napas...
Perlahan...
Sadar...
Penuh niat...
Tiga kali.
Lalu...
_*Wusss...*_
Tisu itu habis terbakar.
Tanpa sisa abu.
Mata beliau membesar.
Bukan karena apinya.
Tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut terbakar bersama tisu itu.
Beberapa menit kemudian saya memintanya masuk ke kamar mandi yang penuh lumut.
Beliau masuk.
Keluar.
Lalu tersenyum.
"Sudah hilang..."
---
Sahabatku...
Banyak orang mengira keajaiban malam itu terjadi karena teknik hipnoterapi.
Padahal teknik hanyalah kendaraan.
Yang menghidupkan kendaraan itu adalah...
*satu tarikan napas yang dilakukan dengan penuh kesadaran.*
Dalam hipnoterapi, kondisi itu membuka gerbang menuju pikiran bawah sadar.
Dan pikiran bawah sadar...
adalah gudang tempat keyakinan, emosi, kebiasaan, luka, sekaligus keajaiban disimpan.
Sering kali kita sibuk mencari pintu rahasia ke dalam diri.
Padahal Allah telah meletakkan pintu itu tepat di bawah hidung kita.
Keluar...
Masuk...
Keluar...
Masuk...
Setiap detik.
Tanpa henti.
Napas ternyata bukan sekadar pertukaran oksigen.
Napas adalah jembatan antara tubuh, pikiran, dan ruh.
Napas adalah kunci yang selama ini menggantung di leher kita sendiri.
Hanya saja...
kita lupa menggunakannya.
Bayangkan...
Jika satu tarikan napas yang disadari saja mampu mengubah rasa takut yang telah bertahun-tahun tinggal di dalam diri...
Bagaimana jika seluruh napas dalam hidup kita dijalani dengan kesadaran yang sama?
Mungkin...
yang berubah bukan hanya rasa takut.
Melainkan seluruh cara kita menjalani kehidupan.
Dan itulah yang kami sebut sebagai...
*Napas Sadar (Mindful Breathing).*
Karena terkadang...
Allah tidak mengubah hidup seseorang melalui sesuatu yang besar.
Dia hanya mengajarkan cara menarik satu napas...
dengan benar.
---
