Suatu pagi, seorang klien datang ke Cafe Therapy dan mengeluh.
"Hidup saya berat, Mas."
Saya mengangguk.
"Apa yang membuat berat?"
Ia menarik napas panjang.
"Orang-orang tidak menghargai saya. Keadaan tidak mendukung. Rezeki seret. Banyak yang menjatuhkan saya."
Saya tersenyum kecil.
Lalu saya bertanya, "Kalau semua orang yang menyakiti Anda tetiba pindah ke Antartika, apakah hidup Anda langsung bahagia?"
Ia tertawa.
"Ya nggak juga."
"Nah, berarti mungkin bukan mereka sumber penderitaannya."
Ia terdiam, dan tersedak air ludahnya sendiri.
Sahabatku, terkadang hidup ini lucu. Kita sibuk menunjuk keluar, padahal yang menusuk dari dalam.
Rumi pernah berkata:
"Tidak ada yang menyakitimu kecuali pikiranmu. Tidak ada yang membatasimu kecuali ketakutanmu. Tidak ada yang mengendalikanmu kecuali keyakinanmu."
Kalimat ini sederhana, tetapi jika direnungkan dalam-dalam, rasanya seperti palu godam yang menghantam tembok kesadaran. Quote di atas itu simpel, namun terasa sangat menghunjam pikiran saya. Mari kita urai satu per satu, Kawan.
'Pikiran: Tukang Cerita yang Kadang Bohong'
Kapan terakhir Anda melihat bioskop? Bioskop itu hanya layar lebar putih di depan kita. Layar putih itu tidak pernah menangis. Yang menangis adalah penontonnya. Kita! Padahal yang tampil hanya cahaya.
Hidup juga begitu. Peristiwa hanyalah peristiwa.
Yang membuatnya menjadi drama dan penderitaan adalah cerita yang kita tempelkan di atasnya.
Seseorang tidak membalas pesan WhatsApp kita.
Faktanya hanya satu: "Pesan belum dibalas."
Tetapi pikiran mulai bekerja lembur
"Dia marah."
"Dia tidak suka saya."
"Pasti ada orang lain."
"Selesai sudah hubungan ini."
Dalam hitungan menit, pikiran mampu membuat sinetron 500 episode tanpa produser dan tanpa biaya produksi. Heuheu...
Peristiwa tidak melukai. Interpretasilah yang menciptakan luka.
Itulah sebabnya dua orang bisa mengalami kejadian yang sama tetapi menghasilkan nasib yang berbeda.
Satu melihat kegagalan sebagai akhir.
Yang lain melihat kegagalan sebagai guru.
Satu menjadi korban.
Yang lain menjadi juara.
Bukan karena dunia berbeda.
Tetapi karena cerita dalam kepalanya berbeda.
'Ketakutan: Penjaga Pintu yang Tidak Pernah Ada'
Di sebuah desa di Thailand, ada seekor gajah besar yang diikat dengan tali kecil.
Anak-anak heran. "Mengapa gajah itu tidak kabur?"
Padahal tubuhnya mampu mencabut pohon. Ternyata sejak kecil ia pernah mencoba melepaskan diri berkali-kali. Gagal.
Akhirnya ia percaya bahwa tali itu lebih kuat darinya. Ketika dewasa, tubuhnya membesar. Tetapi keyakinannya tetap kecil.
Bukankah banyak manusia hidup seperti itu?
Bukan gagal karena tidak mampu.
Tetapi gagal karena takut mencoba.
Takut ditolak.
Takut dikritik.
Takut rugi.
Takut salah.
Takut sukses.
Ya, ada juga yang takut sukses.
Karena sukses berarti harus keluar dari zona nyaman dan berhenti menyalahkan keadaan. Ketakutan adalah penjara yang pintunya sebenarnya tidak terkunci.
Masalahnya, sebagian besar orang tidak pernah mencoba memutar gagangnya.
'Keyakinan: Sopir yang Mengendalikan Arah'
Sekarang, bayangkan Anda naik taksi.
Mobilnya mewah. Mesinnya hebat. Bensinnya penuh.
Tetapi sopirnya yakin bahwa tujuan Anda mustahil dicapai. Kira-kira sampai tidak?
Tidak.
Karena kendaraan kehidupan tidak bergerak mengikuti kemampuan. Ia bergerak mengikuti keyakinan.
Ada orang yang memiliki bakat biasa-biasa saja tetapi keyakinannya luar biasa.
Akhirnya ia melampaui mereka yang berbakat tetapi selalu ragu.
Ada orang yang modalnya sedikit tetapi keyakinannya besar. Akhirnya ia membangun kerajaan.
Ada orang yang fisiknya sederhana tetapi keyakinannya kokoh. Akhirnya ia mengubah dunia.
Keyakinan adalah cetak biru yang diam-diam mengarahkan perilaku.
Jika Anda yakin dunia ini keras, Anda akan menemukan bukti bahwa dunia keras.
Jika Anda yakin manusia tidak bisa dipercaya, Anda akan menemukan pengkhianatan di mana-mana.
Tetapi jika Anda yakin setiap peristiwa membawa pelajaran, maka bahkan badai pun berubah menjadi guru.
'Ketika Cermin Disalahkan'
Suatu hari ada seseorang marah-marah kepada cermin. Rambutnya berantakan. Ia menyalahkan cermin.
Wajahnya kusut. Ia memukul cermin.
Tentu saja itu konyol. Tetapi bukankah sering kali kita melakukan hal yang sama?
Kita marah kepada dunia karena memantulkan isi kepala kita sendiri.
Kita menyalahkan keadaan atas ketakutan yang kita pelihara.
Kita menyalahkan orang lain atas keyakinan yang kita bangun sendiri.
Padahal dunia sering kali hanyalah cermin raksasa.
Cermin itu memantulkan apa yang kita bawa di dalam pikiran kita.
'Menjadi Tuan atas Pikiran'
Maka perjalanan hidup sejatinya bukan tentang menaklukkan dunia. Melainkan menaklukkan ruang kecil di antara kedua telinga kita. Karena di sanalah surga dan neraka pertama kali diciptakan.
Di sanalah ketakutan bertumbuh.
Di sanalah keberanian lahir.
Di sanalah penderitaan diperbesar.
Dan di sanalah kedamaian ditemukan.
Mungkin hari ini tidak semua masalah kita selesai. Mungkin keadaan belum berubah. Mungkin masih ada orang yang mengecewakan kita.
Tetapi ketika cara pandang kita berubah, sesuatu yang ajaib mulai terjadi.
Pikiran yang tadinya menjadi penjara berubah menjadi taman. Ketakutan yang tadinya menjadi tembok berubah menjadi pintu. Dan keyakinan yang tadinya menjadi rantai berubah menjadi sayap.
Maka malam ini, sebelum tidur, cobalah bertanya kepada diri kita sendiri:
*"Apakah yang benar-benar menahanku selama ini adalah dunia, atau cerita yang terus kuulang di dalam kepalaku?"*
Dan siapa tahu, ketika pertanyaan itu mulai bekerja di kedalaman pikiran kita, perlahan-lahan kita akan menemukan bahwa kebebasan yang selama ini kita cari di luar, ternyata diam-diam sudah menunggu di dalam diri kita sendiri.
Semoga bermanfaat,
Tabik
-dewahipnotis-
