Suatu sore, saya melihat seorang anak kecil bermain layang-layang di lapangan. Anginnya cukup kencang. Layang-layang itu menari tinggi di langit, seolah sedang bercakap-cakap dengan awan.
Tetiba talinya putus.
Anak itu berlari sekuat tenaga mengejar layang-layangnya. Ia berlari melewati semak, menerjang onak, menyeberangi jalan kecil, bahkan jatuh beberapa kali. Namun layang-layang itu terus terbang menjauh, mengikuti arah angin yang tak bisa ia kendalikan.
Sampai akhirnya ia berhenti.
Ia berdiri diam. Terengah-engah. Menatap titik kecil yang semakin hilang di langit.
Lalu sesuatu yang menarik terjadi.
Ia tidak menangis lama. Ia tidak terus berlari. Ia tidak memaki angin.
Ia mengambil gulungan benang yang masih tersisa, lalu mulai membuat layang-layang baru.
Sahabatku, kisah anak kecil itu mungkin sering kita lihat di sekitar kita. Atau, bisa jadi, kitalah sang anak kecil itu. Karena hidup memang seperti itu.
Ada orang yang hadir seperti angin musim semi. Membawa warna, tawa, harapan, dan cerita. Kita begitu menikmati kehadirannya hingga tanpa sadar mulai membangun masa depan di atas bayangannya.
Lalu suatu hari ia pergi. Bukan karena kita kurang baik. Bukan karena kita tidak layak dicintai.
Kadang memang karena jalan hidupnya berbeda. Kadang karena takdir memanggilnya ke arah lain. Kadang karena semesta sedang menyiapkan pelajaran yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun selain oleh kehilangan.
Di titik inilah banyak orang mulai membungkuk. Membungkuk pada penolakan. Membungkuk pada kenangan.
Membungkuk pada seseorang yang bahkan sudah tak lagi menoleh ke belakang.
Mereka mengemis perhatian yang sudah tidak tersedia. Mereka menawarkan harga diri demi secuil harapan. Mereka menunggu pesan yang tak pernah datang. Mereka menjadikan masa lalu sebagai rumah, padahal masa lalu hanyalah museum.
Mungkin inilah yang ingin disentil oleh Jalaluddin Rumi ketika berkata:
*"Tidak ada rukuk dalam shalat jenazah."*
Dalam shalat jenazah, kita berdiri. Tidak rukuk. Tidak membungkuk.
Seolah ada pesan simbolik yang sangat dalam: Ada saatnya sesuatu harus kita lepaskan dengan tetap tegak.
Bukan karena tidak mencintai. Justru karena pernah mencintai.
Karena cinta yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan martabatnya.
Laut tidak mengejar sungai yang pergi menuju samudra. Matahari tidak memohon kepada senja agar tidak tenggelam. Pohon tidak berlari mengejar daun-daunnya yang gugur.
Mereka memahami satu hukum kehidupan: Yang pergi, biarlah pergi. Yang tinggal, rawatlah. Dan yang akan datang, sambutlah.
Ketika seseorang meninggalkanmu, sesungguhnya yang diuji bukan kemampuanmu mempertahankannya. Yang diuji adalah kemampuanmu mempertahankan dirimu sendiri.
Masihkah kau percaya pada nilai dirimu ketika ia tak lagi memilihmu? Masihkah kau mampu tersenyum ketika cerita itu berakhir? Masihkah kau bisa berdiri tegak tanpa menjadikan orang lain sebagai sumber harga dirimu?
Karena sesungguhnya nilai emas tidak berkurang hanya karena seseorang menolak membelinya. Mawar tidak kehilangan harum hanya karena ada orang yang tidak menyukainya.
Dan dirimu tidak menjadi lebih rendah hanya karena seseorang memutuskan pergi.
Barangkali kehilangan bukanlah hukuman. Barangkali kehilangan adalah proses pemindahan.
Allah sedang memindahkan fokusmu dari seseorang kepada dirimu sendiri. Memindahkan cintamu dari ketergantungan menuju kedewasaan. Memindahkan energimu dari mengejar yang hilang menuju membangun yang masih mungkin.
Jadi jika hari ini ada seseorang yang pergi dari hidupmu, hormatilah kepergiannya.
Doakan yang baik. Ambil pelajarannya. Simpan kenangannya di tempat yang semestinya.
Lalu berdirilah tegak.
Karena hidupmu belum selesai. Ceritamu belum berakhir.
Dan siapa tahu, justru setelah pintu itu tertutup, kau akan melihat gerbang yang jauh lebih besar sedang terbuka di depanmu.
Maka tarik napas perlahan... Biarkan yang pergi menjadi bagian dari perjalanan.
Dan izinkan dirimu percaya bahwa tidak semua kehilangan datang untuk mengurangi hidupmu.
Sebagian kehilangan hadir untuk mengembalikan dirimu kepada dirimu sendiri. Dirimu yang sejati. The version of you.
Semoga bermanfaat
Tabik
-dewahipnotis-
www.thecafetherapy.com
