Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Sahabatku,
Saya menulis artikel ini terpercik oleh quote dari salah satu 'Peserta' Pertemuan Lintas Komunitas tadi malam di Thamrin Nine, yang diinisiasi oleh FP one, pimpinan Pak Thomas Sugiharto.
Sebagai seorang Storyteller Mind Therapist, izinkan saya menyusunnya dalam bentuk cerita.
Di sebuah desa, ada dua penjual bakso yang berjualan berseberangan.
Yang satu memasang spanduk besar: "Bakso Paling Enak di Kota Ini."
Yang satunya lagi tak mau kalah. Esok paginya, ia memasang spanduk yang lebih besar: "Bakso Nomor Satu di Indonesia."
Beberapa hari kemudian, pelanggan mulai terbelah. Sebagian datang karena penasaran. Sebagian lagi datang karena ingin membuktikan siapa yang lebih hebat.
Anehnya, yang paling banyak untung justru bukan kedua penjual bakso itu.
Yang untung adalah penjual es teh di tengah-tengah mereka.
Semakin banyak orang berdebat, semakin banyak yang haus.
Sahabatku yang berbahagia, mungkin Anda akan tersenyum tipis membaca kisah tadi. Sebab dunia memang sering sibuk mempertentangkan siapa yang menang, sementara pemenang sesungguhnya diam-diam menikmati hasil dari pertarungan yang tidak perlu.
Begitulah paradigma lama mengajari kita memandang kehidupan.
Ada yang memilih menjadi _accommodating._ Selalu mengalah. Selalu memberi jalan. Selalu berkata, "Tidak apa-apa saya rugi, yang penting orang lain senang." Kelihatannya mulia. Namun jika dilakukan terus-menerus, yang lahir bukan kedamaian, melainkan luka yang dipendam. Ini bukan *lose-win.* Ini hanya cara yang elegan untuk perlahan menghilang dari dunia persilatan.
Sebaliknya, ada yang hidup dengan paradigma _competing._ Semua harus dikalahkan. Semua adalah lawan. Semua percakapan adalah arena pertandingan. Ironisnya, ketika semua orang dianggap musuh, kemenangan terasa sepi. Sebab tak ada lagi yang tersisa untuk merayakannya bersama. Pada akhirnya, semua kalah. _Lose lose_
Lalu datang slogan yang terdengar begitu indah: *collaborating,* win-win solution.
Kalimat itu memenuhi ruang seminar, buku bisnis, hingga ruang rapat.
Namun kehidupan sering kali lebih jujur daripada teori.
Karena pada kenyataannya, dalam setiap keputusan selalu ada satu arah yang menjadi penentu. Selalu ada satu visi yang memimpin. Selalu ada satu tujuan yang menjadi poros. Tidak semua orang menang dengan cara yang sama.
Di sinilah saya mulai memandang kolaborasi dengan cara yang berbeda.
Menurut saya, dalam semua hal hanya ada satu pemenang.
Kalimat itu mungkin terdengar keras.
Namun tunggu dulu.
Yang perlu kita ubah bukan keberadaan pemenangnya, melainkan *definisi tentang kemenangan* itu sendiri.
Pemenang sejati bukan orang yang paling banyak mengambil.
*Pemenang adalah orang yang paling banyak menciptakan dampak positif.*
Pemenang bukan yang membuat semua orang tunduk.
Pemenang adalah yang membuat semakin banyak orang bertumbuh.
Seorang guru menang ketika murid-muridnya melampaui dirinya.
Seorang pemimpin menang ketika timnya menjadi lebih hebat daripada dirinya.
Seorang pengusaha menang ketika usahanya menghidupi ribuan keluarga.
Seorang ayah menang ketika anaknya kelak tidak lagi membutuhkan pundaknya untuk berdiri.
Lihatlah matahari.
Setiap pagi hanya ada satu matahari yang terbit.
Ia tidak berbagi langit dengan matahari lain.
Namun justru karena hanya satu itulah, seluruh bumi memperoleh cahaya.
Itulah bentuk kemenangan yang agung.
Bukan kemenangan yang membuat langit menjadi gelap bagi yang lain.
Melainkan kemenangan yang membuat semua makhluk bisa melihat jalan.
Maka kolaborasi bukanlah tentang membagi piala agar semua merasa menjadi juara.
Kolaborasi adalah tentang memastikan bahwa ketika kita menjadi pemenang, kemenangan itu *menghadirkan manfaat yang menjalar ke mana-mana.*
Semakin tinggi kita berdiri, semakin luas bayangan teduh yang bisa kita berikan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk mengalahkan manusia lain.
Hidup adalah kesempatan menjadi saluran manfaat.
Dan jika suatu hari nanti Anda memang ditakdirkan menjadi pemenang...
Jadilah pemenang yang membuat lebih banyak orang ikut merasakan hangatnya kemenangan itu.
Sebab mungkin, tanpa Anda sadari, sejak tadi semesta sedang bertanya dalam diam:
_"Jika kemenangan itu benar-benar datang kepadamu... Siapa saja yang akan ikut tersenyum karenanya?"_
Barangkali pertanyaan itu layak menemani langkah Anda hari Jum'at penuh berkah ini, dan ketika jawabannya mulai muncul dari dalam diri, mungkin saat itulah Anda sedang menemukan makna kolaborasi yang sesungguhnya.
Karena Kolaborasi yang benar adalah kolaborasi yang membuat kita menjadi _rahmatan Lil aalamiin._ Rahmat untuk alam dan seisinya.
Wallahu alam bisawab.
Salam Jum'at berkah,
Tabik,
-dewahipnotis-
www.thecafetherapy.com
