NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

Everything happens for a reason

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

Everything happens for a reason

17/06/26
Mungkin Anda pernah mendengar quote sederhana di atas. Yup, itu adalah kata bijak dari Tony Robbin, yang beberapa waktu ini namanya tetiba saja bersinar terang di kalangan elit Indonesia setelah fotonya muncul di medsos bersama presiden RI. 

Anthony Robbins adalah salah satu murid John Grinder yang kemudian menjadi motivator top dunia. Kemarin saya juga mendengar ungkapan bijak ini dari salah satu murid John Grinder lain, yaitu Suhu Krishnamurti. 

Saya, Pak KM, dan beberapa kawan memang rutin berkumpul informal untuk sekedar 'ngopi syantik' dan membahas perkembangan ilmu 'badar' (bawah sadar) termasuk NLP dan Ericksonian. Tempat yang paling sering kami jadikan lokasi rendez-vous adalah Starbuck Juanda. 

Saya menuliskan artikel ini bukan sebagai resume dari perbincangan kemarin, tapi tulisan ini memang terpicu oleh obrolan seru setengah harian kemarin. 

Dalam satu dan lain kesempatan sering muncul pertanyaan sederhana ini, kepada kami praktisi pembelajaran pikiran badar. 


"Anak saya itu ngeyel sekali. Gimana sih cara ngasih tahunya?" atau
"Suami saya kayaknya orangnya PND deh. Bisa gak ya diubah?"

Secara tak tersirat, inti pertanyaannya adalah:
"Bagaimana caranya mengubah belief seseorang?"

Lucunya, ada beberapa orang yang justru baru belajar ilmu ini, NLP misalnya, dengan yakin menjawab, "Gampang itu. Banyak belief change technique yang bisa digunakan"

Seolah-olah keyakinan manusia hanyalah baut yang bisa diputar dengan obeng bahasa.

Seolah-olah cukup dengan teknik tertentu, seseorang bisa menghapus keyakinan lama lalu memasang keyakinan baru seperti mengganti aplikasi di telepon genggam.

Padahal, persoalannya jauh lebih rumit.
Karena manusia bukan mesin.
Manusia adalah makhluk pemakna.

Dan belief bukan sekadar pikiran.
Belief adalah realitas subjektif.

Dalam NLP, belief sering dipahami sebagai *generalisasi tentang sebab-akibat, identitas, kemungkinan, atau makna hidup yang dianggap benar oleh seseorang.*

Tetapi ada definisi sederhana yang sering terlupakan:
*Belief adalah segala sesuatu yang nyata dalam pikiran seseorang.*

Definisi nyata juga sangat sederhana, yaitu bisa dicapai oleh indera kita. Bisa dilihat, didengar, diraba, dibaui, bahkan dicecap rasanya. 

Maka ketika seseorang percaya dirinya bodoh, maka kebodohan itu menjadi nyata dalam pengalaman batinnya.

Kalau seseorang yakin dunia berbahaya, maka setiap sudut kehidupan tampak seperti ancaman.

Kalau seseorang percaya bahwa ia dicintai Tuhan, maka kesulitan pun bisa dipandang sebagai bentuk pendidikan.

Apakah keyakinan-keyakinan itu objektif?
Belum tentu.

Tetapi bagi pemiliknya, keyakinan itu nyata.

Dan sesuatu yang nyata di pikiran seseorang tidak bisa dicabut begitu saja oleh orang lain.

Inilah kesalahpahaman yang kadang terjadi dalam pembelajaran NLP.

Sebagian orang mempelajari teknik reframing, belief change, atau submodalities, lalu merasa memiliki kemampuan untuk "mengubah orang."

Padahal yang terjadi sering kali hanyalah:
mereka sedang menawarkan sudut pandang baru.

Yang memutuskan menerima atau menolaknya tetaplah individu itu sendiri.

Kita bisa menyajikan cermin.
Tetapi kita tidak bisa memaksa seseorang melihat bayangannya.

Kita bisa membuka pintu.
Tetapi kita tidak bisa memaksa seseorang melangkah masuk.

Kita bisa menunjukkan jalan.
Tetapi kaki yang berjalan tetap milik mereka.

Bayangkan seseorang memegang segelas air laut. Seumur hidup ia percaya bahwa seluruh air di dunia rasanya asin.

Lalu kita datang membawa segelas air pegunungan. Kita berkata, "Tidak semua air asin."

Apakah saat itu keyakinannya langsung berubah?

Belum tentu.
Bisa jadi ia berkata, "Ah, itu pasti air palsu."

Bisa jadi ia curiga.
Bisa jadi ia marah.
Bisa jadi ia menolak mentah-mentah.

Mengapa?

Karena menerima informasi baru sering kali berarti mengguncang identitas lama.
Dan identitas adalah benteng psikologis yang dijaga sangat ketat oleh manusia.

Dalam praktik hipnosis pun demikian.
Banyak orang mengira hipnosis adalah kemampuan mengendalikan pikiran orang lain.

Padahal seorang hipnoterapis yang baik tahu: tidak ada hipnosis tanpa persetujuan.

Yang ada hanyalah proses memfasilitasi seseorang memasuki kondisi belajar yang lebih terbuka.

Hipnoterapis tidak menyembuhkan. Klienlah yang menyembuhkan dirinya sendiri.

Terapis hanya menjadi pendamping perjalanan. Seperti bidan yang membantu proses kelahiran.

Bidan tidak menciptakan bayi. Bidan hanya membantu sesuatu yang memang sudah siap untuk lahir.

Lalu, apa peran seorang praktisi NLP dan atau Hipnoterapis?

Bukan menjadi arsitek kehidupan orang lain.

Tetapi menjadi tukang kebun. Tukang kebun tidak bisa memerintahkan bunga mawar agar mekar hari ini.

Ia hanya memastikan tanahnya subur. Airnya cukup. Gulmanya dibersihkan.

Lalu ia bersabar.

Karena mekar memiliki waktunya sendiri. Demikian pula perubahan manusia.

Terkadang kita terlalu tergesa. Kita ingin pasangan segera berubah. Kita ingin anak segera sadar. Kita ingin murid segera memahami. Kita ingin klien segera sembuh.

Padahal perubahan bukan peristiwa mekanis. Perubahan adalah *perjumpaan antara kesiapan, kesadaran, dan pilihan.*

Mungkin yang perlu diubah bukan belief orang lain. Melainkan belief kita sendiri tentang orang lain.

Milton Erickson pernah mengajarkan, bahwa terapis bukan penyelamat. Terapis juga bukan pengendali.

Dan seorang terapis tidak bertugas mengatur arah hidup siapa pun.

Tugas kita sebagai terapis adalah menghadirkan ruang yang aman. Mengajukan pertanyaan yang tepat. Menyampaikan cerita yang menyentuh.

Dan kalau bisa menjadi teladan yang hidup.

Karena sering kali manusia berubah bukan karena dipaksa. Tetapi karena merasa dipahami.

Bukan karena disalahkan. Tetapi karena menemukan makna baru.

Bukan karena diperintah. Tetapi karena menyadari bahwa mereka memiliki pilihan.

Ada kalimat bijak yang patut direnungkan oleh setiap pembelajar NLP:

'People are not broken. They are making the best choices available to them based on their model of the world.'

Manusia tidak sedang rusak. Mereka hanya sedang bertindak berdasarkan peta kehidupan yang mereka yakini.

Dan tugas kita bukan merobek peta itu.

Melainkan membantu mereka melihat bahwa mungkin ada jalan lain yang belum pernah mereka jelajahi.

Jadi, bisakah kita mengubah belief orang lain?

Mungkin jawabannya adalah:
*tidak.*

Yang bisa kita lakukan hanyalah menciptakan kondisi agar mereka berani mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Karena perubahan sejati tidak pernah datang dari paksaan.

Perubahan lahir dari kesadaran.

Dan kesadaran adalah pintu yang gagangnya hanya ada di sebelah dalam.

Maka jika hari ini engkau menjadi orang tua, guru, terapis, pemimpin, atau pembicara, ingatlah:

_jangan terlalu sibuk menarik batang mawar agar cepat tinggi._

Menariknya hanya akan merusaknya.

Rawatlah tanahnya.

Siramilah dengan kasih.

Terangi dengan keteladanan.

Lalu percayalah...

bahwa setiap jiwa memiliki musim mekarnya sendiri.

Dan ketika waktunya tiba, mereka tidak berubah karena engkau mengubah mereka.

Mereka berubah, karena akhirnya mereka memilih untuk bertemu dengan versi terbaik dirinya sendiri.
---

Sahabatku yang berbahagia, jika Anda merasa nyaman dengan tulisan di atas, itulah gaya Erickson bertutur. Dan ending dari ngupi syantik kemarin adalah rencana menyusun program pemahaman Ericksonian bersama Pak Krishnamurti. Tunggu tanggal mainnya 


Tabik
-dewahipnotis- 
www.thecafetherapy.com


BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang