NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

Bayar Harganya!

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

Bayar Harganya!

22/06/26


Bogor adalah kota hujan. Hampir tiap sore bisa dipastikan turun hujan. Suatu sore saya melihat beberapa anak tetangga berlarian di gang depan rumah di bawah guyuran air hujan. Ia tertawa seolah langit sedang mengajaknya bermain. Setiap tetes air menjadi alasan untuk melompat, setiap genangan menjadi cermin yang memantulkan kebebasan.

Di sisi lain jalan, seorang pria dewasa berdiri tergesa membuka payung. Wajahnya menunjukkan satu misi: jangan sampai setetes pun air hujan menyentuh tubuhnya.

Lucu ya, Kawan, waktu kecil kita menari di bawah hujan. Ketika dewasa, kita justru sibuk menghindarinya.

Lalu saya teringat sebuah quote sederhana.

"You say you love rain, but you open your umbrella. You say you love the sun, but you find a place to hide in the shade. You say you love the wind, but you close your window."

Mungkin, bukan hujannya yang kita cintai. Bukan mataharinya yang kita rindukan. Bukan anginnya yang kita sukai.

Yang kita cintai hanyalah gagasannya. Bukan realitasnya.

Begitulah kebanyakan manusia menjalani hidup.

Kita berkata ingin bertumbuh. Namun setiap kritik dianggap serangan. Setiap kegagalan dianggap kutukan. Setiap rasa sakit dianggap alasan untuk berhenti.

Padahal, tidak ada pohon yang tumbuh tanpa ditembus hujan, diterpa angin, dan dipanggang matahari.

Ironisnya, kita ingin menjadi pohon besar sambil terus meminta cuaca selalu teduh. Tenang , dan damai. 

Kita berkata ingin sukses. Tetapi kita alergi terhadap tekanan.

Begitu pekerjaan menjadi berat, kita berkata, "Mungkin ini bukan jalanku."

Begitu bisnis mengalami kerugian, kita menyimpulkan, "Alam semesta tidak mendukungku."

Padahal tekanan bukan musuh. Tekanan adalah bidan yang membantu melahirkan versi terbaik diri kita.

Lihatlah berlian. Berlian bukan tercipta karena kenyamanan. Berlian lahir karena tekanan yang luar biasa. Anda tahu kan, bahwa berlian sebenarnya adalah arang yang mengalami gesekan, tekanan dan gosokan beribu tahun?

Kalau batu bara bisa berbicara, mungkin ia akan mengeluh setiap hari. Ia tidak tahu bahwa tekanan itu sedang mengubah identitasnya. Dari fosil kayu menjadi bahan bakar yang bernilai tinggi. 

Kita berkata ingin dicintai. Namun kita membangun benteng setinggi langit. Takut disakiti. Takut ditinggalkan. Takut dikhianati.

Akhirnya kita hidup sendirian, lalu menyalahkan takdir karena cinta tak kunjung datang.

Padahal cinta selalu meminta satu harga. Kerentanan. Tidak mungkin seseorang memeluk kita jika kita terus memakai baju zirah.

Kita ingin hasil. Tetapi membenci proses. Ingin tubuh sehat, tetapi enggan berkeringat.

Ingin hafal Al-Qur'an, tetapi malas membuka mushaf. Ingin kaya, tetapi tidak mau belajar menjual. Ingin damai, tetapi tidak pernah berdamai dengan diri sendiri.

Kita sedang berharap panen. Tanpa pernah rela menanam.

Di sinilah saya semakin percaya bahwa alam semesta bekerja dengan hukum yang sangat jujur.

Apa yang kita inginkan hampir selalu dibungkus oleh sesuatu yang tidak kita inginkan.

Ingin otot? 
Hadiahnya dibungkus rasa pegal.

Ingin ilmu?
Hadiahnya dibungkus kebingungan.

Ingin kebijaksanaan?
Hadiahnya dibungkus ujian.

Ingin naik kelas?
Hadiahnya dibungkus ketidaknyamanan.

Karena sesungguhnya ketidaknyamanan bukan hukuman. Ketidaknyamanan adalah kemasan. Hadiahnya ada di dalam. Masalahnya, banyak orang berhenti di bungkusnya.

Dalam dunia hipnosis, ada satu prinsip menarik. Pikiran bawah sadar tidak berubah karena sekedar niat. PBS berubah karena pengalaman.

Karena itulah seseorang tidak menjadi pemberani hanya dengan membaca buku tentang keberanian.

Ia menjadi pemberani ketika berkali-kali menghadapi rasa takut.

Seseorang tidak menjadi sabar hanya karena memahami definisi sabar.

Ia menjadi sabar karena berkali-kali dipertemukan dengan situasi yang memaksanya memilih antara amarah atau kebijaksanaan.

Jadi Kawan, kehidupan sebenarnya bukan sedang menghukum kita.

Kehidupan sedang melatih sistem saraf kita agar mampu menjadi pribadi yang selama ini kita doakan.

Maka untuk memulai minggu ini, saya ingin mengajak Anda merenung.

Mungkin selama ini kita tidak benar-benar menginginkan kesuksesan. Kita hanya menyukai cerita tentang orang sukses.

Mungkin kita tidak benar-benar menginginkan perubahan. Kita hanya menyukai bayangan menjadi pribadi yang lebih baik.

Mungkin kita tidak benar-benar mencintai hujan. Kita hanya menyukai puisi tentang hujan.

Karena jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, kita juga akan bersedia menerima harga yang menyertainya.

Dan setiap impian selalu memiliki harga!

Jadi pertanyaannya bukan lagi...

"Apakah saya ingin sukses?"

Tetapi...

"Apakah saya juga bersedia mencintai proses yang mengantar saya menuju sukses?"

Bukan...

"Apakah saya ingin bertumbuh?"

Melainkan...

"Apakah saya bersedia bersahabat dengan ketidaknyamanan?"

Karena pada akhirnya, hidup tidak memberikan apa yang kita kagumi.

Hidup memberikan apa yang kita latih untuk sanggupi.

Maka, jika setelah membaca tulisan ini Anda mulai melihat tekanan sebagai guru, kegagalan sebagai latihan, dan ketidaknyamanan sebagai pintu masuk menuju versi terbaik diri Anda...

Mungkin tanpa sadar, hari ini Anda sudah mulai berjalan menuju kehidupan yang selama ini hanya menjadi ide. Kini saatnya menjadikannya nyata.

Semoga bermanfaat,

Tabik,
-dewahipnotis- 


BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang