NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

SABAR

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

SABAR

16/05/26



Sahabatku, pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang mengklakson dengan brutal di lampu merah yang baru saja berubah warna? 

Seolah-olah polusi suara yang ditiupkannya bisa memaksa sistem digital lampu lalu lintas melompat lebih cepat. Itu adalah potret akurat dari kita semua ketika sedang dijangkiti penyakit ketidaksabaran. 

Kita mendadak bertransformasi menjadi pembalap F1 gadungan di atas sirkuit kehidupan yang sebenarnya menuntut ketelitian, bukan sekadar kecepatan.

Ketika indikator ketidaksabaran di dalam dada kita menyala, refleks pertama kita adalah menginjak pedal gas ego dalam-dalam. Kita ingin ngebut. 

Namun di sinilah ironi kosmik itu terjadi:
Saat raga kita melaju kencang menerobos batas, pikiran kita justru melompat terlalu jauh ke masa depan, meninggalkan momen saat ini. 

Jiwa kita tertinggal di belakang, terengah-engah. Jarak emosional antara "di mana kita berada sekarang" dan "di mana kita ingin berada" justru melebar menjadi jurang yang menganga. 

Semakin kita menghentak gas, jalan di depan terasa semakin panjang dan melelahkan. Mengapa? Karena kita kehilangan jeda. Kita lupa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum bereaksi.

Dan lucunya lagi, semakin kita terburu-buru, semakin jiwa kehilangan napas. Mata hanya fokus pada “kapan sampai”, sampai lupa menikmati jalan. Dan orang yang lupa menikmati jalan, biasanya mulai merasa perjalanan itu sangat panjang.

Di situlah jarak sebenarnya justru tercipta.

Bukan karena tujuan menjauh.
Tetapi karena hati kita meninggalkan momen saat ini.

Sabar itu bukan lambat.
Sabar adalah sinkronisasi antara langkah kaki dan kesiapan jiwa.

Karena orang yang benar-benar mengenal tujuannya, biasanya tidak gaduh. Ia tidak perlu membuktikan apa-apa kepada dunia. Ia paham kapan harus berjalan, kapan berhenti, kapan menunggu. Ia tahu bahwa mangga yang dipaksa matang dengan karbit memang cepat kuning, tapi rasanya sering kehilangan manis alami.

Begitulah hidup.

Hal-hal besar sering tumbuh diam-diam.

Pohon tidak berisik saat akar sedang bekerja.
Langit tidak terburu-buru saat menurunkan hujan.
Dan matahari pun tidak pernah panik meski setiap sore ia tenggelam. Karena ia tahu, besok pagi ia akan kembali.

Orang yang sabar memahami satu rahasia besar hidup ini:
"bahwa waktu bukan musuh."

Waktu adalah teman perjalanan.

Ketika kita benar-benar memahami tujuan kita, terjadi sesuatu yang ajaib dalam jiwa. Waktu terasa berbeda. Ada fenomena time distortion dalam batin. Perjalanan yang panjang terasa ringan. Penantian yang lama terasa singkat. Karena hati tidak lagi melawan proses.

Coba perhatikan orang yang jatuh cinta.

Menunggu dua jam terasa seperti dua menit.
Tapi menunggu mie instan tiga menit saat lapar, terasa seperti seminar filsafat tujuh SKS. Wkwkwk ..

Artinya, rasa dekat atau jauh sering kali bukan soal waktu, tetapi soal kondisi jiwa.

Maka semakin kita tergesa-gesa, semakin kita sebenarnya sedang menjauh dari diri sendiri. Dan ketika seseorang jauh dari dirinya sendiri, ia mulai kehilangan kejernihan. Keputusan menjadi emosional. Langkah menjadi kasar. Hati menjadi mudah lelah.

Karena itu sabar bukan sekadar kemampuan menunggu.

Sabar adalah kemampuan tetap tenang sambil tetap berjalan.

Tetap percaya meski belum melihat hasil.
Tetap lembut meski keadaan keras.
Tetap bersyukur meski doa belum seluruhnya diijabah. 

Dan anehnya, ketika hati sudah tenang, tujuan justru terasa mendekat.

Bukan karena jalannya memendek.
Tetapi karena jiwa tidak lagi membebani langkahnya sendiri.

Mungkin hidup memang bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tetapi siapa yang tetap utuh selama perjalanan.

Karena ada orang yang cepat tiba, tapi kehilangan dirinya.
Dan ada orang yang berjalan perlahan, namun pulang dengan jiwa yang matang.

Maka kalau hari ini semesta terasa lambat, jangan buru-buru marah.

Barangkali Tuhan sedang memasak hidup kita dengan api kecil, agar diri kita matang sampai ke dalam.

Lha kalau memasak mie instan saja butuh proses.
Apalagi mimpi besar!

Jadi Sahabatku, tahukah Anda bahwa SABAR ternyata pengejawantahan dari:

Saya
Ahli
Bersyukur
Atas
Rahmat-Nya


Semoga bermanfaat 

Tabik
-dewahipnotis- 
www.thecafetherapy.com

BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang