Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Sahabatku. TGIF. Thanks God It's Friday again. Meski saya tidak punya rutinitas untuk ngantor setiap hari, tapi entah kenapa setiap memasuki Jumat pagi, perasaan TGIF ini masih terasa sama seperti dahulu ketika masih wajib ngantor. Ada perasaan lega sejenak. Mungkin beberapa di antara Anda memiliki perasaan mirip dengan saya.
Pagi ini, saya masih berada di lereng gunung Prahu. Di rumah orang tua. Sambil menyeruput teh tubruk yang entah lebih pahit dari hidup atau memang kebanyakan serpihan daun tehnya, saya mendengar tausyiah singkat dari seorang ustadz di TikTok.
Lucu ya zaman sekarang. Hidayah kadang datang bukan dari mimbar masjid, tapi dari layar 6 inci yang biasanya dipakai stalking mantan dan lihat diskon flash sale. Heu heu...
Dan seperti biasa, Allah punya cara unik mengetuk kepala manusia yang sering merasa paling paham jalan menuju-Nya.
Ustadz itu berbicara sederhana. Tidak berteriak. Tidak meledak-ledak. Tapi kalimatnya seperti batu kecil yang dilempar ke danau batin. Riaknya panjang.
Beliau berkata tentang dua ibadah yang tidak diterima Allah.
Yang pertama, ibadah yang disertai kemusyrikan.
Yang kedua, ibadah yang disertai kebodohan.
Saya terdiam.
Ternyata masalah iman manusia bukan sekadar malas ibadah.
Kadang rajin pun belum tentu benar.
Ada orang yang shalatnya rajin, tapi masih menggantungkan nasib pada jimat.
Ada yang lisannya dzikir, tapi hatinya lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan Allah.
Ada pula yang ibadahnya semangat, namun ilmunya kosong seperti deretan galon bekas air mineral di belakang rumah yang belum sempat dibuang. Kelihatannya berharga, padahal isinya angin. Wkwkwk...
Lalu saya teringat, ayat pertama yang turun bukanlah “shalatlah”, bukan “puasalah”, bukan pula “bersedekahlah”.
Tapi, “Iqro.”
Bacalah.
Seakan Allah sedang berkata:
“Jangan buru-buru merasa suci sebelum kau memahami.”
Karena ibadah tanpa ilmu ibarat orang naik motor malam-malam tanpa lampu.
Semangat jalan, tapi nabrak terus. Hiks..
Makanya Rasulullah mengatakan, tidak diterima shalat tanpa wudhu.
Artinya sebelum berdiri menghadap Allah, ada proses membersihkan diri terlebih dahulu yang perlu kita lakukan.
Dan anehnya, setan sering kali tidak melarang orang beribadah.
Setan justru lebih suka manusia rajin ibadah tapi malas belajar.
Karena orang bodoh lebih mudah ditipu.
Mudah merasa paling benar.
Mudah menghakimi.
Mudah fanatik.
Dan ironisnya, mudah diperalat atas nama agama.
Setan tahu, orang yang mengaji akan mulai berpikir.
Mulai sadar bahwa hidup bukan sekadar mengejar pengakuan manusia.
Kemudian Ustdz tadi mengingatkan lagi tentang empat bekal penting dalam perjalanan ruhani.
- Tawadhu.
- Qonaah.
- Waro’.
- Yakin.
- Tawadhu adalah ketika ilmu tidak membuat kepala naik, tapi justru membuat hati makin tunduk.
Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar dirinya ini cuma debu yang diberi kesempatan bernapas.
Lucunya manusia sekarang, baru baca dua thread Twitter tentang filsafat sudah merasa jadi wali LinkedIn.
Baru hafal istilah healing langsung merasa lebih tercerahkan daripada orang tuanya.
Padahal padi semakin berisi semakin merunduk.
Yang tegak biasanya cuma tiang listrik dan orang keras kepala. Wkwkwk...
- Lalu qonaah.
Menerima ketetapan Allah.
Ini bukan menyerah tanpa usaha.
Bukan pasrah malas berkedok spiritual.
Qonaah adalah saat hati berhenti iri pada jalan hidup orang lain.
Karena kita sering lupa…
Allah tidak pernah salah menaruh nasib seseorang dalam cerita hidupnya.
Ada yang diuji dengan kekurangan.
Ada yang diuji dengan kelimpahan.
Dan sering kali yang paling berat justru yang dompetnya penuh tapi jiwanya kosong.
Qonaah membuat manusia tidur lebih nyenyak.
Sebab yang melelahkan itu bukan kurangnya harta, tapi tidak adanya rasa cukup.
- Kemudian waro’.
Orang Jawa bilang, “apik njogo diri.”
Menjaga diri.
Menjaga hati dari yang haram.
Menjaga pikiran dari kesombongan.
Menjaga lisan dari menyakiti.
Menjaga diri bahkan dari perkara syubhat yang samar.
Karena kadang manusia tidak hancur oleh dosa besar.
Tapi bocor perlahan dari dosa-dosa kecil yang dianggap biasa.
Seperti rayap.
Rumahnya masih berdiri gagah di luar, tapi keropos di dalam.
- Dan terakhir… yakin.
Ini yang paling mahal.
Yakin bahwa Allah tahu apa yang sedang Dia lakukan dalam hidup kita.
Yakin bahwa doa yang belum terkabul bukan berarti ditolak.
Yakin bahwa kehilangan kadang adalah cara Allah menyelamatkan.
Yakin bahwa tidak semua yang kita tangisi layak dimiliki.
Kadang hidup memang seperti naik perahu di tengah kabut.
Kita tidak selalu tahu arah.
Tapi yakinlah, Allah tidak pernah kehilangan peta.
Pagi ini saya menutup TikTok perlahan.
Bukan karena videonya selesai.
Tapi karena hati saya yang sedang diputar ulang oleh Allah.
Dan saya sadar…
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk terlihat saleh, sampai lupa belajar menjadi hamba yang benar.
Semoga bermanfaat
Salam Jum'at berkah
Tabik
-dewahipnotis-
