NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

Dunia Tak Sama Lagi Tanpamu

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

Dunia Tak Sama Lagi Tanpamu

12/05/26



Dua tahun lalu aku berada di kota ini. Dan hari ini aku juga ada di sini. Hari ini aku khusus datang ke sini untuk membantu seorang ibu yang sedang terjebak dalam ketakberdayaan pikirannya. 

Sementara dua tahun lalu aku justru kehilangan Ma'e di salah satu RS kota ini. In syaa Allah Ma'e sudah husnul khatimah. Namun dunia ini terasa tak sama tanpa kehadiran Ma'e. 

Ada orang-orang yang ketika pergi, rumah tetap rumah. Kursi tetap kursi. Pagi tetap pagi. Dan kopi masih terasa seperti kopi.

Tapi ada juga manusia yang ketika wafat, semesta ikut berubah bentuk.

Mae adalah jenis yang kedua.

Sudah dua tahun sejak tanah menelan tubuhnya perlahan.
Dua tahun sejak doa-doa mulai lebih sering dipanjatkan daripada percakapan.
Dua tahun sejak namanya berubah menjadi gema di kepala orang-orang yang pernah disayanginya.

Dan anehnya, dunia tetap berjalan seperti biasa.

Matahari masih terbit dari timur seolah tak terjadi apa-apa.
Motor-motor masih meraung di jalanan.
Tagihan pinjol tetap datang tepat waktu.
Orang-orang masih sempat tertawa di TikTok sambil menertawakan hidup.

Padahal diam-diam, ada satu dunia kecil yang runtuh saat Ma'e pergi.

Sebab kehilangan terbesar bukan ketika seseorang dikuburkan.
Melainkan ketika kita sadar, tidak ada lagi tempat pulang yang sama.

Mae mungkin bukan orang paling terkenal.
Bukan selebritas.
Bukan pula penguasa negeri.

Namun ada manusia-manusia sederhana yang keberadaannya diam-diam menjadi penyangga jiwa banyak orang.

Seperti akar pohon tua yang tak pernah dipuji, tetapi membuat rumah tetap berdiri saat badai datang.

Dan Mae adalah akar itu.

Kini setelah dua tahun berlalu, orang-orang mulai terbiasa menyebut namanya tanpa menangis.
Tetapi luka ternyata tidak benar-benar sembuh.
Ia hanya belajar diam.

Kadang Ma'e hadir lewat aroma masakan tertentu.
Lewat lagu lama.
Lewat suara hujan selepas magrib.
Lewat kalimat sederhana yang dulu terasa biasa:

"Wis mangan rung Le?"

Dan mendadak dada menjadi sesak.

Begitulah cara semesta mengenalkan rindu:
bukan dengan ledakan, melainkan dengan hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa sangat kehilangan.

Aku pernah membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa manusia takut mati karena merasa hidup adalah rumahnya.
Padahal mungkin bumi hanyalah terminal singgah.
Dan kematian adalah kendaraan terakhir menuju pulang.

Kalau begitu, mungkin Ma'e tidak benar-benar hilang.

Ma'e hanya lebih dulu sampai rumah.

Sementara kita masih tertatih mendaki gunung kehidupan, membawa tas penuh kenangan, rasa bersalah, dan kata-kata yang dulu gagal diucapkan.

Ada yang bilang waktu menyembuhkan.

Tidak. Bull shit itu!

Waktu hanya mengajari kita cara berjalan sambil pincang.

Dan dua tahun ini, dunia sudah belajar berjalan tanpa Ma'e, meski tidak pernah benar-benar siap.

Ma'e kini hidup dalam bentuk yang berbeda:
dalam doa anak-anaknya,
dalam cerita yang terus diulang,
dalam kebiasaan kecil yang diwariskan,
dan dalam hati orang-orang yang diam-diam masih memanggil namanya setiap malam.

Karena sesungguhnya, manusia tidak benar-benar mati saat nafasnya berhenti.

Ia mati ketika namanya tak lagi disebut dengan cinta.

Dan Ma'e, masih terlalu hidup di kepala banyak orang. *Terutama di kepalaku.* 

Semarang, 12 Mei 2026

Tabik


-dewahipnotis- yang sedang merindukan Ma'e




BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang