Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh, semangat pagi Sahabatku....
Minggu pagi di kota Bogor selalu memunculkan elegi kerinduan pada dedaunan menghijau yang masih rimbun di sana sini. Sepulang dari masjid pun, aroma embun bercampur wangi melati yang tumbuh liar di sepanjang jalan menuju masjid menjadi penghibur tersendiri hidung yang kadang masih mampet sepagi ini.
Pagi ini, di antara lautan scroll yang kadang bikin jempol lebih capek daripada pikiran, lewat satu nasihat sederhana. Pendek. Ringan. Tapi kalau direnungkan bisa jadi rahasia hidup bahagia.
Dan lucunya, bahagia itu sering bukan soal menambah sesuatu, tapi justru mengurangi beban yang tak perlu dipanggul.
1. Jangan Membenci
Membenci itu seperti meminum racun, lalu berharap orang lain yang pusing.
Kita menyimpan wajah seseorang di kepala, mengulang kejadian lama, memelihara luka seperti koleksi barang antik. Padahal hidup ini terlalu singkat untuk dijadikan gudang dendam.
Ada orang yang bahkan sudah lupa pernah menyakiti kita, tapi kita masih setia menderita karena mengingatnya. Bodoh bukan? :D
Melepaskan bukan berarti membenarkan kesalahan mereka.
Melepaskan berarti menyelamatkan diri kita sendiri.
Karena hati yang penuh kebencian, tak punya ruang untuk kebahagiaan.
2. Jangan Membandingkan
Rumput tetangga terlihat lebih hijau, sampai kita tahu ternyata itu karpet sintetis.
Sering kali kita sedih bukan karena hidup kita buruk, tapi karena sibuk melihat hidup orang lain dari etalase media sosial.
Dia sukses di usia muda.
Dia menikah duluan.
Dia punya rumah gedong
Dia liburan terus. De el el.
Padahal kita sedang membandingkan behind the scenes hidup kita, dengan highlight hidup orang lain.
Tugas kita bukan menjadi mereka.
Tugas kita adalah menjadi versi terbaik diri kita sendiri.
Bunga mawar tak iri pada bunga melati.
Matahari tak minder pada bulan.
Keduanya bersinar di waktunya masing-masing.
3. Jangan Khawatir
Khawatir itu seperti kursi goyang.
Bikin sibuk, tapi tidak membawa kita ke mana-mana.
Sebagian besar hal yang kita takutkan tidak pernah benar-benar terjadi. Dan sebagian yang memang terjadi, ternyata bisa kita hadapi.
Saat kita berhenti menciptakan film horor di kepala sendiri, di situlah hidup baru dimulai.
Tarik napas.
Tenangkan pundak.
Hari ini belum tentu seburuk yang pikiran kita ramalkan.
Kesimpulannya apa Gaes?
Jadi mungkin rahasia hidup bahagia itu sederhana:
1. Kurangi benci.
2. Kurangi membandingkan.
3. Kurangi khawatir.
Karena sering kali, bahagia bukan datang dari luar, melainkan muncul ketika batin kita tak lagi ribut sendiri.
Dan kalau hari ini ada satu beban yang bisa kita letakkan, mungkin itulah awal dari hidup yang lebih ringan.
Tabik
-dewahipnotis-
