Sahabatku, pernah nggak sih Anda merasa hidup itu seperti, sudah masuk level yang cukup jauh, tapi tetiba saja ketemu satu hal kecil yang bikin Anda bingung total?
Bukan hal besar.
Bukan krisis hidup.
Cuma hal sederhana.
Kayak, masak nasi.
Atau benerin keran bocor.
Atau sekadar bangun pagi tanpa drama lima babak.
Saya pernah.
Waktu itu saya berpikir hidupku sudah “lumayan jadi”. Sudah bisa ini-itu, sudah paham banyak hal. Sampai suatu hari, saya berdiri di dapur. Menatap rice cooker. Istri dan anak perempuan sedang di luar rumah semua. Perut keroncongan. Mau jajan, itu bukan kebiasaann saya.
Saya harus masak nasi. Dan anehnya, saya ragu.
Airnya berapa ya?
Kalau kebanyakan gimana?
Kalau kurang nanti jadi batu bata nggak?
Di situ saya sadar sesuatu yang agak nggak enak diakui:
kadang kita ingin terlihat “sudah jadi orang”, tapi kita melewati hal-hal dasar.
Lucunya, kita sering berpikir keterampilan dasar -seperti memasak nasi- itu sepele.
Padahal justru di situlah fondasinya.
---
Ada satu cerita yang sering saya bayangkan.
Tentang seorang sahabat saya yang ingin menjadi “ahli”.
Dia belajar banyak hal yang kompleks.
Baca buku berat.
Ikut pelatihan mahal.
Diskusi panjang sampai larut malam.
Tapi setiap kali menghadapi masalah sederhana, dia goyah.
Emosinya meledak untuk hal kecil.
Rutinitasnya berantakan.
Hal-hal dasar yang seharusnya otomatis, malah jadi sumber stres.
Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang lebih tua.
Bukan orang yang terlihat “hebat” di permukaan.
Tidak banyak teori.
Tidak banyak bicara.
Orang itu cuma melakukan hal-hal sederhana, dengan rapi.
Bangun pagi, ya bangun.
Makan, ya makan dengan sadar.
Bekerja, ya bekerja sampai selesai.
Nggak dramatis.
Nggak filosofis.
Agak membosankan kalau dilihat sekilas.
Dan justru itu yang bikin sahabat saya penasaran.
“Kenapa hidupmu kelihatan ringan?” tanya sahabat saya suatu hari.
Orang tua itu tertawa kecil.
“Karena saya tidak lompat.”
“Lompat?”
“Iya. Banyak orang ingin langsung ke hal besar. Padahal hidup itu lebih sering jatuh di hal kecil yang diulang setiap hari.”
Ia lalu menunjuk hal-hal sederhana.
Cara menyapu.
Cara menyimpan barang.
Cara berbicara tanpa melukai.
Cara berhenti sebelum lelah jadi marah.
“Keterampilan dasar itu seperti otot kecil,” katanya.
“Kalau Anda abaikan, Anda akan cepat lelah bahkan sebelum mengangkat beban besar.”
Yang menarik, belajar hal-hal dasar ini kadang terasa, ‘merendahkan ego’.
Karena kita harus mengakui:
“Oh, ternyata saya belum bisa ya.”
Dan jujur saja, itu nggak selalu enak.
Lebih enak merasa kita sudah tahu segalanya,daripada kembali jadi “newbie”.
Tapi di situlah titik baliknya.
Karena saat seseorang benar-benar belajar hal dasar, bukan cuma tahu, tapi melakukan.
Hidupnya mulai berubah pelan-pelan.
Bukan karena tiba-tiba jadi luar biasa, tapi karena hal-hal kecil tidak lagi jadi sumber kekacauan.
Jadi kalau hari ini Anda merasa hidup Anda agak berantakan, belum tentu Anda butuh jawaban besar.
Mungkin Anda cuma perlu kembali ke hal yang sangat sederhana.
Tidur yang cukup.
Makan yang benar.
Menyelesaikan satu hal kecil sampai tuntas.
Kedengarannya sepele, ya?
Tapi justru di situlah sering tersembunyi kekuatan yang kita cari-cari ke mana-mana.
Dan soal rice cooker tadi, akhirnya saya belajar juga.
Takaran airnya, ritmenya, bahkan kapan harus berhenti membuka tutupnya tiap dua menit (iya, itu godaan nyata).
Nasinya nggak selalu sempurna.
Kadang lembek, kadang agak kering.
Tapi lama-lama… jadi.
Dan anehnya, dari hal sekecil itu,
Saya mulai percaya: mungkin hidup juga begitu.
Nggak harus langsung jago.
Yang penting, mau belajar dasar dulu, tanpa gengsi.
Tabik
-dewahipnotis-
