Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga di hari Jum'at yang penuh berkah ini, hidup kita sepenuhnya berada dalam kendali diri kita sendiri. Aamiin.
Sahabatku, pernahkah Anda merasa hidup Anda seperti remote TV yang entah kenapa lebih sering dipegang orang lain? Mereka menekan tombol volume emosi kita. Mereka mengganti channel suasana hati kita, bahkan mematikan semangat kita. Sementara kita hanya duduk diam, menonton hidup sendiri seperti penonton konser kelas festival.
Lucunya, seringkali kita marah kepada orang yang menekan tombol itu. Padahal kita sendiri yang menyerahkan remotenya.
Orang lain tidak akan pernah mampu mengendalikan kita. Kitalah yang mengizinkan mereka mengendalikan diri kita.
Saya pernah bertemu seseorang klien yang berkata, “Saya sakit hati karena ucapan dia.” Saya tersenyum dan bertanya pelan, “Ucapan itu memang masuk lewat telinga Anda, tapi siapa yang memberi kursi VIP di hati Anda?”
Kadang kita lupa, dunia ini penuh suara. Ada yang memuji, ada yang mencaci, ada yang meremehkan, ada yang meragukan. Tetapi semua itu hanyalah gelombang suara. Gelombang itu baru berubah menjadi badai, ketika kita membiarkannya menetap dan membuat rumah di dalam pikiran kita.
Sahabatku, hidup ini sebenarnya seperti berenang. Kita tidak mati hanya karena jatuh ke dalam air. Kita mati jika berhenti bergerak. Kita akan tenggelam jika membiarkan kepanikan mengambil alih kesadaran. Tubuh kita akan tersedot ke bawah ketika lupa bahwa tubuh kita sebenarnya sudah dirancang untuk mampu mengapung.
Masalahnya bukan airnya. Masalahnya adalah reaksi kita terhadap air.
Ada orang yang jatuh ke dalam kolam masalah, lalu panik, menjerit, dan akhirnya tenggelam oleh ketakutannya sendiri. Ada juga orang yang jatuh, kaget sebentar, lalu mulai menggerakkan tangan dan kaki, mencoba mengatur napas, dan perlahan kemudian menemukan ritme keselamatan.
Air yang sama. Situasi yang sama. Hasil yang berbeda.
Begitulah kehidupan.
Tekanan, kritik, penolakan, kegagalan, semua itu hanyalah air yang mengelilingi kita. Air memang basah, kadang dingin, kadang membuat kita tidak nyaman. Tetapi air tidak diciptakan untuk membunuh kita. Air hanya menjadi berbahaya jika kita kehilangan kendali atas respon kita sendiri.
Lihatlah perahu yang berlayar di lautan luas. Perahu itu dikelilingi air dari segala arah. Ombak datang, angin bertiup, badai sesekali menyapa. Namun perahu itu tetap mengapung dengan anggun.
Mengapa?
Karena air tetap berada di luar.
Perahu tidak tenggelam karena berada di tengah laut. Perahu tenggelam ketika air laut mulai masuk ke dalam perahu.
Begitu pula dengan hidup kita. Kritik orang lain tidak akan merusak kita, sampai kita mulai mempercayai kritik itu lebih daripada kita mempercayai diri sendiri.
Penolakan tidak akan menghancurkan kita, sampai kita menolak diri kita sendiri. Ucapan orang tidak akan melukai kita, sampai kita mengulang-ulang ucapan itu dalam dialog batin kita setiap malam sebelum tidur.
Seringkali kita terlalu sibuk menyalahkan badai, padahal yang perlu kita periksa adalah apakah ada kebocoran kecil di dalam perahu kita.
Kebocoran itu biasanya bernama:
- Keraguan diri,
- Luka lama yang belum disembuhkan,
- Keyakinan bahwa kita tidak cukup baik,
- Kebiasaan mencari validasi dari orang lain.
Dan menariknya, kebocoran itu jarang dibuat oleh orang lain. Kita sendirilah yang tanpa sadar memegang bor dan melubangi dinding perahu kita.
Ada orang yang hidupnya tenang bukan karena lingkungannya ramah, tetapi karena batinnya kokoh. Ada juga yang hidupnya selalu terasa terancam, bukan karena dunia terlalu keras. Tetapi karena ia terlalu mudah membuka pintu hatinya untuk setiap opini yang lewat.
Mungkin kita perlu belajar menjadi perahu yang baik. Bukan perahu yang anti air, tetapi perahu yang tahu cara menjaga batas. Bukan manusia yang anti kritik, tetapi manusia yang tahu kritik mana yang perlu dijadikan kompas. Dan kritik mana yang cukup dijadikan angin lalu.
Sahabatku, kita tidak perlu mengendalikan dunia. Itu pekerjaan yang terlalu melelahkan. Bahkan para raja pun tidak pernah berhasil melakukannya. Tetapi kita selalu memiliki satu wilayah kekuasaan yang absolut: 'cara kita merespon apa pun yang terjadi.'
Dan seringkali, kebebasan terbesar manusia bukan terjadi ketika dunia berubah. Tetapi ketika kita sadar bahwa kita memiliki kendali atas makna yang kita berikan terhadap setiap kejadian.
Sahabatku, mungkin hari ini Anda sedang berada di tengah lautan yang tidak tenang. Mungkin ada ombak komentar orang, badai ekspektasi, atau arus kegagalan yang membuat Anda lelah berenang.
Jika itu terjadi, mungkin Anda bisa mulai menarik napas perlahan. Rasakan bahwa Anda masih hidup, masih punya pilihan, masih punya kendali atas bagaimana Anda ingin berdiri kembali.
Dan mungkin, sambil Anda membaca tulisan sederhana ini, ada bagian kecil dalam diri Anda yang mulai menyadari. Bahwa Anda sebenarnya sudah tahu cara berenang. Sudah lama bahkan. Anda hanya sempat lupa menggunakannya.
Karena sesungguhnya, selama Anda menjaga agar air tetap di luar perahu, perjalanan Anda akan selalu punya harapan untuk sampai ke pelabuhan yang tepat. #eeaa
Dan menariknya, seringkali pelabuhan itu bukan tempat yang jauh. Melainkan keadaan batin ketika Anda kembali memegang kemudi hidup Anda sendiri.
Semoga bermanfaat
Tabik
-dewahipnotis-
