Semangat pagi Sahabatku, apa kabar Anda di hari Minggu terakhir bulan ini? Semoga Anda semua berada dalam versi terbaik Anda. Aamiin.
Sebagai terapis yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia psikoterapi, sudah banyak kondisi manusia yang saya temui. Dari yang hanya yang takut bicara di depan umum, takut ketinggian, stress ringan sampai psikososial.
Saya pernah duduk berhadapan dengan seorang klien yang menggenggam tisu seperti memegang sisa harapan terakhirnya. Ia bercerita panjang tentang kebiasaannya yang merusak hubungan, pekerjaan, bahkan harga dirinya sendiri. Di akhir ceritanya ia menatap saya dalam-dalam lalu bertanya, “Pak Hari, tolong ubah saya.”
Saat itulah saya tersenyum kecil, bukan karena meremehkan, tapi karena sadar, manusia bukan tanah liat yang bisa dibentuk dari luar. Ia lebih seperti benih. Kita bisa menyiram, memberi cahaya, menjaga tanahnya, tapi yang memutuskan untuk tumbuh, tetaplah benih itu sendiri.
Dulu, saya kira tugas seorang terapis, coach, atau bahkan orang tua adalah mengubah orang lain. Seolah-olah kita ini montir jiwa. Datang membawa kunci inggris, obeng, dan palu, lalu memperbaiki manusia yang “rusak”.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Semakin lama saya belajar tentang manusia, semakin saya menyadari satu kenyataan yang kadang terasa menohok, tapi justru membebaskan:
'Tidak ada orang di dunia ini yang bisa mengubah orang lain. Tidak juga terapis. Tidak juga guru. Tidak juga pasangan. Bahkan tidak juga orang tua.'
Terapis tidak pernah mengubah manusia.
Manusialah yang mengubah dirinya sendiri.
Terapis, guru, sahabat, kita ini lebih mirip penunjuk arah di persimpangan jalan. Kita memegang papan petunjuk. Kita bisa bilang, “Kalau ke sana mungkin lebih terang. Kalau ke sana mungkin lebih tenang.” Tapi, kaki yang melangkah tetap milik orang itu sendiri.
Seringkali yang orang butuhkan bukan nasihat yang panjang. Bukan ceramah yang berapi-api. Bukan juga daftar solusi yang membuat kepala makin penuh.
Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang percaya bahwa mereka mampu berubah.
Kepercayaan itu aneh. Ia tidak berisik. Tidak dramatis. Tapi dampaknya bisa lebih dalam daripada seribu kata motivasi.
Karena ketika seseorang merasa dipercaya, ia mulai meminjam keyakinan kita, sampai akhirnya ia menemukan keyakinannya sendiri.
Dan menariknya, konsep ini bukan hanya ditemukan dalam psikologi modern. Dalam perjalanan spiritual manusia, pelajaran ini sudah ada sejak lama.
Bahkan para nabi, manusia-manusia pilihan, tidak diberi kemampuan untuk mengubah hati manusia.
Mereka hanya menunjukkan jalan.
Mereka mengetuk pintu kesadaran. Mereka menyalakan lampu di lorong gelap. Mereka menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, dengan keteguhan, dengan cinta. Tapi keputusan untuk membuka pintu, tetap milik pemilik rumah itu sendiri.
Kalau para nabi saja tidak diberi mandat untuk mengendalikan pilihan manusia, mungkin kita bisa sedikit lebih rileks saat mendampingi orang lain. Atau saat melihat ada orang yang perilakunya di luar harapan kita.
Salah satu guru saya bahkan pernah berpesan. Jika ada orang terdekat yang membuat kita kecewa atau sakit hati, bisa jadi bukan karena perilaku mereka. Tapi karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi.
Kadang kita terlalu lelah karena merasa bertanggung jawab atas perubahan orang lain. Kita merasa gagal saat orang yang kita bantu kembali jatuh. Kita merasa bersalah saat nasihat kita tidak diikuti.
Padahal, setiap manusia sedang menjalani kurikulumnya masing-masing.
Setiap keputusan, sekecil apapun, sebenarnya adalah titik belok kehidupan.
Memilih menahan emosi atau meledakkannya. Memilih memaafkan atau memelihara luka. Memilih bangkit atau nyaman menjadi korban keadaan.
Setiap keputusan adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi lebih baik, atau justru sebaliknya.
Dan seringkali, perubahan besar dalam hidup manusia tidak terjadi karena satu nasihat hebat. Tapi karena satu momen kecil. Ketika ia sadar bahwa pilihan itu ada di tangannya.
Saya pernah bertemu seseorang yang berkata, “Saya berubah bukan karena kata-kata Anda. Tapi karena Anda tidak pernah menyerah percaya bahwa saya bisa berubah.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di situlah rahasianya.
Manusia jarang berubah karena dipaksa. Manusia lebih sering berubah karena merasa dimanusiakan.
Maka mungkin, peran kita bukan menjadi pengubah manusia. Tapi menjadi penjaga harapan. Menjadi saksi bahwa di dalam diri seseorang selalu ada potensi kebaikan yang menunggu dipanggil pulang.
Dan Sahabatku, menariknya prinsip ini juga berlaku untuk diri kita sendiri.
Karena seringkali, orang yang paling sulit kita ubah adalah diri kita sendiri.
Mungkin hari ini kita sedang berdiri di sebuah persimpangan kecil. Tidak selalu tentang keputusan besar seperti karier, pernikahan, atau hidup spiritual. Kadang hanya tentang memilih merespon sesuatu dengan lebih bijak. Atau mengikuti pola lama yang itu-itu lagi.
Dan barangkali, tanpa sadar, ada bagian dalam diri kita yang sedang menunggu seseorang berkata, “Aku percaya kamu bisa berubah.”
Sahabatku, bagaimana kalau hari ini kita mulai mengatakan kalimat itu kepada diri sendiri?
Pelan saja. Tidak perlu dramatis. Cukup jujur.
Karena siapa tahu, keputusan kecil yang kita ambil pagi ini sedang membuka pintu menuju versi diri kita yang selama ini menunggu untuk dilahirkan. The best version of us.
Semoga bermanfaat
Tabik
-dewahipnotis-
