Tak terasa ibadah puasa ramadhan sudah memasuki hari ke-3. Kemarin sore, saya duduk di masjid, menjelang maghrib.
Di sebelah saya, seorang bapak menatap lantai. Tangannya terkatup. Bibirnya bergerak pelan. Tidak dramatis. Tidak menangis. Tapi wajahnya tenang, seperti orang yang sedang yakin, bukan sekedar berharap.
Saya baru sadar satu hal, puasa bukan sekedar menahan lapar. Puasa adalah posisi paling kuat untuk meminta.
Ada tiga jenis doa yang tidak ditolak.
Bukan karena kata-katanya indah, tapi karena posisi batinnya tepat.
- Orang yang berpuasa
- Pemimpin yang adil
- Orang yang terdzalimi
Perhatikan.
Tiga-tiganya sedang berada dalam kondisi rendah hati. Bukan lemah, tapi luruh.
Dan langit, entah kenapa, selalu condong pada orang-orang seperti ini.
Apalagi di bulan Ramadhan.
Menariknya, di bulan ini, bahkan orang yang sedang tidak berpuasa pun doanya dimakbulkan. Seolah Ramadhan itu sendiri adalah amplifier doa.
Kalau puasa di hari biasa itu “makbul”,
maka puasa di Ramadhan itu makbul kuadrat. Bukan ditambah, tapi dilipatgandakan.
Banyak orang mengira puasa hanya urusan pahala. Padahal tubuh kita pun ikut “bersyukur”.
Secara ilmiah, puasa memberi ruang bagi tubuh untuk:
- Autophagy: proses pembersihan sel-sel rusak
- Menurunkan peradangan
- Memperbaiki sensitivitas insulin
- Mengistirahatkan sistem pencernaan
Sahabatku, secara natural tubuh kita sebenarnya ingin berpuasa. Hanya saja, kita terlalu sering memaksanya bekerja tanpa jeda.
Puasa bukan membuat kita lemah. Puasa mengingatkan tubuh cara memulihkan diri.
Sahabatku, tahukah Anda bahwa ada ibadah yang pahalanya dihitung.
Ada ibadah yang balasannya disebutkan.
Dan ada ibadah yang Allah simpan sendiri ganjarannya.
Puasa termasuk yang terakhir.
Bahkan ada satu pintu surga—khusus—untuk orang yang berpuasa.
Artinya apa?
Puasa bukan sekadar menahan makan.
Puasa adalah latihan kejujuran paling sunyi.
Tidak ada yang tahu kita batal atau tidak. Kecuali Allah.
Dan kejujuran seperti ini, tidak mungkin dibiarkan tanpa balasan.
Sekarang, sambil membaca tulisan ini, mungkin tanpa sadar Anda mulai bertanya pada diri sendiri:
“Kalau puasa sebegini dahsyatnya, doa apa yang selama ini ingin aku titipkan?”
Anda tidak perlu menjawabnya sekarang.
Biarkan pertanyaan itu ikut berpuasa hari ini.
Karena sering kali, doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa yang lahir dari kesadaran. Bukan keterpaksaan.
Dan siapa tahu, di antara lapar dan sabar yang kita jalani, ada satu pintu langit yang sedang dibuka. Khusus untuk kita.
Wallahu a’lam bis-shawabi.
Selamat menahan lapar dan bersabar, Sahabatku!
Tabik
-dewahipnotis-
