NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

If Cats Disappeared from the World

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

If Cats Disappeared from the World

07/01/26


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sahabatku.
Semoga keselamatan dunia akhirat tercurah untuk kita semua. Aamiin. 

Pagi ini, sebelum dunia benar-benar bangun, mari kita mulai hari dengan satu pertanyaan aneh namun jujur:

Apa yang akan hilang dari hidup Anda jika sesuatu yang paling sederhana tiba-tiba lenyap?

Bukan gaji.
Bukan jabatan.
Bukan juga pencapaian yang bisa dipamerkan di media sosial.

Tapi sesuatu yang diam-diam menemani, tanpa tepuk tangan, tanpa tuntutan?

Bagi Anda yang menyaksikan acara stand comedy terbesar se Asia Tenggara tahun lalu, Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono pasti masih ingat epilog-nya. 

Dia berpesan kepada anak-anaknya menceritakan kisah yang dia nukil dari novel If Cats Disappeared from the World karya Genki Kawamura. 

Seorang pria yang hanya dikenal sebagai “Aku” hidup sendirian bersama kucingnya, Cabbage. Tidak ada keluarga di rumah itu. Ibunya telah meninggal. Kekasihnya telah menjadi masa lalu. Yang tersisa hanyalah rutinitas, kesepian, dan seekor kucing yang setia duduk di sudut hari.

Si Aku mengalami sakit kepala tidak jelas, sehingga dia konsultasi ke seorang dokter. Hingga suatu pagi, hidupnya dipotong oleh satu kalimat dingin dari dokter:
“Waktu Anda tidak lama. Anda mengidap kanker otak terminal”

Dan seperti hidup yang suka bercanda saat kita sedang serius-seriusnya, muncullah Aloha, iblis berkaos santai yang wajahnya mirip dirinya sendiri. Aloha tidak membawa neraka. Ia membawa penawaran.

“Hapus satu hal dari dunia, dan kau dapat satu hari tambahan hidup.”

Aku memilih menghapus telepon. Dia sudah merasa muak dengan gangguan dering dan notifikasi teleponnya. Maka dia bisa bertahan hidup sehari lagi. Yang aku tidak sadari ternyata semua kenangan berkaitan dengan telepon ikut lenyap. 

Pada pilihan kedua, aku memilih menghapus film. Dia lupa bahwa dia dulu sering menemani ibunya nonton film. Dan kenangan itu pun ikut lenyap. 

Kali ketiga, aku berpikir keras sebelum memutuskan untuk menghapus jam. Jam berhenti berdetak. Namun waktu jalan terus. Dan ternyata memiliki waktu tanpa ada pengukuran justru membuat hidupnya semakin hampa. 

Setiap penghapusan terasa ringan di awal—bahkan rasional. Bukankah kita juga sering berkata, “Ah, hidup tanpa hal ini masih baik-baik saja.”

Sampai tiba pada satu titik di mana tokoh aku sudah tidak mampu memilih lagi. Maka Aloha yang memberikan sebuah pilihan:

“Bagaimana kalau… kucing?”

Di titik itu, sang tokoh terdiam. Karena Cabbage bukan sekadar hewan. Ia adalah alasan pulang, saksi diam kesedihan, dan makhluk yang mencintai tanpa meminta penjelasan.

Menghapus kucing berarti menghapus jeda.
Menghapus cinta yang tidak menuntut.
Menghapus alasan untuk pulang lebih cepat tanpa harus menjelaskannya ke siapa pun.

Hidup yang diperpanjang dengan menghapus makna ternyata bukan hadiah,
melainkan hukuman yang dikemas rapi.

Kematian mendadak terlihat lebih jujur daripada hidup panjang yang dikosongkan. Tokoh “Aku” akhirnya memilih untuk tidak menghapus kucing dari dunia. Ia menerima kematian, tetapi menolak hidup yang kosong. Sebuah keputusan yang tidak heroik, tidak viral, tapi sangat manusiawi. End of story. 

Dan sahabatku, pagi ini saat kita masih diberi napas, cerita ini sebenarnya tidak sedang bicara tentang kucing. Ia bicara tentang hal-hal kecil yang kita anggap sepele, padahal diam-diam menjaga kewarasan kita.

Tentang orang yang kehadirannya tidak heboh, rutinitas yang tidak instagramable,
doa pendek yang nyaris otomatis, atau keheningan yang tidak pernah kita pamerkan.

Mungkin hari ini kita belum didatangi Aloha.
Tapi hidup selalu menagih dengan cara yang sama: mengambil dulu, baru mengajari.

Maka sebelum pagi berubah menjadi penyesalan, berhentilah sejenak.

Pagi ini, kita mungkin tidak sedang bernegosiasi dengan iblis. Namun diam-diam, kita sering melakukan hal yang sama.

Kita menukar:
- waktu dengan ambisi
- kehadiran dengan kesibukan
- hubungan dengan alasan “nanti saja”

Kita memperpanjang hidup, sambil perlahan menghapus maknanya.

Novel ini mengajarkan satu kebijaksanaan sunyi:
Hidup bukan tentang berapa lama kita bernapas, tapi tentang siapa dan apa yang membuat kita ingin bernapas. 

Maka Sahabatku, pagi ini sebelum daftar tugas menjerat Anda, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:

Apa “kucing”- kita hari ini?

Apa yang selama ini kita anggap sepele, padahal ia yang menjaga jiwa kita tetap waras?

Dan… jangan-jangan tanpa sadar, kita sedang menghapusnya pelan-pelan?

Pagi yang baik bukan tentang produktivitas tinggi. Pagi yang baik adalah saat kita masih tahu apa yang tidak rela kita hilangkan.

Semangat pagi.
Rawat yang sederhana.
Peluk yang setia.
Dan jalani hari ini dengan utuh 🐾

Semoga bermanfaat 

Tabik 
-dewahipnotis- 



BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang