Suatu pagi itu saya melihat seorang anak kecil menangis di depan minimarket. Saya yakin, Anda juga pasti pernah melihat hal sepele semacam ini. Anak itu menangis bukan karena jatuh. Bukan juga karena lapar.
Tapi karena ibunya berkata, “Sudah, jangan lebay. Kamu kan cuma kecapekan.”
Bagi sebagian besar orang, mungkin termasuk Anda, ini adalah hal biasa. Namun bagi saya, yang notabene adalah terapis, yang sering membantu anak-anak untuk lebih berdaya, ini adalah sebuah pelanggaran.
Karena, pada saat itu yang anak kecil itu butuhkan bukan larangan. Bukan nasihat.
Bukan ceramah tiga juz.
Dia hanya ingin satu hal sederhana:
dimengerti.
Sahabatku, tahukah Anda banyak luka manusia terjadi bukan karena masalah besar, melainkan karena tidak ada yang benar-benar memahami.
Dalam hidup ini, ada tiga kalimat yang diam-diam menjadi kebutuhan terdalam manusia.
Bukan “Aku cinta kamu.”
Bukan “Tenang saja.”
Bukan “Sabar ya.”
Tetapi ini:
- I Understand You.
- I Feel For You.
- I Am Taking Care of You.
Tiga kalimat ini, kalau dirangkai, bisa menyelamatkan pernikahan, menyembuhkan hubungan kerja, bahkan menenangkan batin sendiri.
1. Level Pertama: Dipahami Pikirannya
“I Understand You.”
Ini level kepala. Level logika. Level peta pikiran.
Di sini kita belajar satu hal penting: setiap orang hidup di peta realitasnya sendiri.
Kalau seseorang marah, itu bukan karena dia jahat. Mungkin karena peta pikirannya sedang sempit saat itu.
Kalau seseorang keras, bukan karena hatinya batu. Mungkin karena dunianya sedang penuh saat itu.
Masalahnya, kita sering mendengar untuk menjawab. Bukan untuk memahami.
Kita sibuk menyiapkan argumen, padahal kawan bicara sedang menyiapkan air mata.
Dan anehnya, ketika seseorang berkata,
“Ah, akhirnya ada yang ngerti saya,”
separuh masalahnya langsung mengecil.
Sahabatku, sadarkah Anda bahwa kita cenderung menilai orang lain berdasarkan perilaku mereka, namun kita menilai tindakan kita berdasarkan niat positif kita.
Coba saja ingat, ketika suatu hari Anda disalip dengan sembarang di jalan raya. Pasti yang Anda ingat adalah perilaku sembarangannya tadi. Sementara ketika kita melakukan hal sama, mungkin karena sedang mengantar anak ke RS. Kita pasti berharap mereka maklum, karena kondisi kita sedang emergency.
Maka untuk tataran pertama ini, izinkan saya mengingatkan. Nilailah orang lain berdasarkan niat positif mereka, dan jangan berharap orang lain menilai kita berdasarkan niat positif kita. Maklumilah orang lain, dan jangan minta dimaklumi oleh orang lain
2. Level Kedua: Dirasakan Perasaannya
“I Feel For You.”
Ini level hati. Level empati. Level rasa.
Di sinilah keajaiban terjadi. Karena manusia bukan butuh solusi dulu. Kita butuh validasi emosi.
Bukan, “Kamu harusnya kuat.”
Tapi, “Wajar kalau kamu capek.”
Bukan, “Kamu kurang bersyukur.”
Tapi, “Kalau aku di posisimu, mungkin aku juga menangis.”
Lucunya, kadang kita lebih ber-empati pada tokoh sinetron daripada pada pasangan sendiri.
Kita bisa nangis melihat drama Korea, tapi cuek melihat air mata di rumah. Astaghfirullahal adziim.
Padahal satu kalimat empatik saja bisa bekerja seperti obat:
“Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti,
tapi aku peduli dengan apa yang kamu rasakan.”
Dan di titik itu, hati mulai membuka pintu.
Sementara dalam keseharian kita banyak melakukan kebaikan yang kejam. Coba ingat ketika anak lelaki kita sedang mencoba memompa ban sepedanya. Apa tindakan kita? "Sini Papa saja. Nanti kamu kecapekan" atau "Biar Papa saja. Daripada nanti malah rusak sepedanya"
Ketika si Cantik kecil sedang mencoba membantu mencuci piring. Apa kata Bunda? "Sini, Bunda saja. Nanti nggak bersih piringnya." Atau, "Nanti malah pecah"
Akan jadi apa anak-anak kita jika kita tidak pernah memahami perasaan mereka.
Mestinya kita berani melakukan kekejaman yang baik. Yaitu memberikan kesempatan mereka untuk mulai mandiri. Meskipun awalnya berat, tapi anak-anak perlu diberdayakan. Bukan diperdayakan. Atau, membangunkan anak ketika azan subuh berkumandang. Meskipun masih mengantuk, anak wajib sholat subuh. Dan sholat wajib lainnya
3. Level Ketiga: Dijaga Kehidupannya
“I Am Taking Care of You.”
Nah, ini level langit. Level kematangan. Level cinta yang tidak ribut di status.
Karena empati sejati, bukan berhenti di kata.
Tapi berbuah di tindakan.
Bukan hanya: “Aku kasihan padamu.”
Tapi: “Apa yang bisa aku lakukan untuk meringankanmu?”
Inilah bahasa cinta tertinggi. Kehadiran yang melindungi.
Menepati janji. Menjaga rahasia. Tidak menusuk dari belakang. Tidak meninggalkan di saat lemah.
Di level ini, orang tidak lagi bertanya,
“Dia pintar atau tidak?”
Tapi satu hal saja, “Apakah aku aman bersamanya?”
Dan percayalah, manusia selalu mengikuti orang yang membuatnya merasa aman.
Sahabatku, sekarang sebelum kita sibuk ingin dipahami, dicintai, dan dijaga.
Mari bertanya pelan-pelan pada diri sendiri, "Sudahkah saya benar-benar memahami orang di rumah saya?"
"Sudahkah saya hadir di perasaan mereka atau hanya di gawai saya?"
"Sudahkah saya menjadi tempat aman, atau justru sumber luka?"
Karena sering kali, masalah bukan karena hidup terlalu berat. Melainkan karena
kita berjalan sendirian, di tengah keramaian.
Dan menariknya, saat kita mulai mempraktikkan tiga kalimat ini:
“I Understand You…”
“I Feel For You…”
“I Am Taking Care of You…”
Perlahan, tanpa perlu memaksa, tanpa perlu membujuk.
Orang akan merasa nyaman di dekat Anda.
Percaya pada Anda. Dan dengan sendirinya, mengikuti pengaruh Anda.
Karena pada akhirnya, persuasi terbaik bukan datang dari kata-kata indah. Melainkan dari hati yang membuat orang merasa, “Di sini… aku aman.”
Maka Sahabatku, yuk kita coba lakukan sesuatu untuk bebruat baik kepada orang lain. Meskipun kecil namun sering.
Ingatlah bahwa kebaikan hati adalah sebuah kewajaran hidup, bukan kewajiban.
Life is not about collection but about contribution.
Semoga bermanfaat
Tabik
-dewahipnotis-
