NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

Pengalaman Pertama

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

Pengalaman Pertama

14/11/23
"Pengalaman pertama ini Pak nama saya hilang 不不. Masih ngakak aja saya Pak sampai skrng, trnyta ada yg lebih sakti dari trainer saya"不不. 

Itu adalah sepenggal pesan WhatsApp salah satu peserta kelas online Optimizing Object Imagery Therapy malam kemarin. Jadi ceritanya ada praktisi hipnosis yang sudah belajar secara offline kepada salah satu trainer hipnosis di Indonesia (Tak perlulah saya sebut LKP nya). Dengan semangat belajarnya yang luar biasa, dia masih belum merasa puas, sampai dia membeli buku The Indonesian Encyclopaedia of Hypnotherapy. Beberapa saat setelah dia membaca buku saya tadi, dia banyak melakukan konsultasi via WhatsApp. 

Sebagai bentuk pelayanan purna jual, di sela-sela kesibukan saya, saya selalu melayani konsultasi tadi. Beberapa kali dia heran kok saya mau menjawab pertanyaan yang kadang berada di luar konteks, padahal dia hanya membeli buku, bukan peserta pelatihan. Bagi saya sih ini hal lumrah. Jika saya bisa jawab, maka akan saya jawab. Siapa pun dia yang sudah mau belajar dari saya lewat media apa pun selalu saya hargai setara. 

Mereka adalah orang-orang yang berkontribusi pada perkembangan keilmuan saya. Karena senyatanya melalui merekalah terkadang saya mendapatkan pencerahan. 

Karena lokasinya di luar Bogor, maka dia belum bisa ikut kelas offline saya. Maka ketika saya membuka kelas OOIT, dia langsung daftar. Meskipun melalui media zoom, namun kualitas kelas saya tidak jauh berbeda dengan kelas luring. Salah satunya adalah sesi praktik. 

Dan di ujung kelas, saya mempraktikkan varian OOIT, yaitu Color Imagery. Tekniknya sederhana sahaja, ketika gangguan psikologis bisa diberi warna, kemudian warna tersebut kita intervensi, ajaibnya kondisi psikologisnya ikut berubah. 

Dan sebagai latihan, saya minta peserta ini memberi warna pada namanya. Kemudian saya hapus warna tadi menggunakan teknik swiss pattern. "Wussss, lupakan warna tadi. Kosongkan dari pikiran Anda. Dan entah kenapa tanpa alasan yang jelas, nama Anda juga ikut hilang. Nah, siapa nama Anda?"

Dhuaar, dia hanya tersenyum sambil berusaha menyebut namanya. Bagai orang gagu, dia hanya tertawa sampai keringat bercucuran dari dahi dan tenggorokannya. 

Setelah saya kembalikan warnanya, baru dia bisa menyebutkan namanya kembali. Usai kelas dia mengirimkan pesan WhatsApp tadi. 
---

Sahabatku yang berbahagia, ini bukan masalah sakti atau tidak, namun bagaimana sebagai terapis kita memunculkan pawang singa kita (selalu PD) dan paham kapan mesti melakukan sebuah intervensi. Karena pada dasarnya manusia tidak akan mau dipengaruhi oleh orang lain. Mereka hanya mau bergerak sesuai belief mereka. Dan repotnya, setinggi apa pun ilmu kita, kita tidak akan pernah mampu mengubah belief seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan belief mereka agar perilakunya berubah sesuai harapan kita. 

Dulu ada salah satu peserta saya yang begitu pulang dari pelatihan langsung bisa 'menelanjangi' kawan sesama security. Tentu saja sesama pria. Dengan PD dia bisa membuat koleganya membuka baju dan celana hingga hanya tersisa kolor saja. Dia juga berhasil mengganti sama salah seorang lady security menjadi nama biduanita idolanya. 

Merasa dirinya sudah 'sakti', sifat isengnya muncul. Dia meneruskan sugesti kepada lady security tadi agar ketika membuka mata nanti langsung memeluk dirinya. Boro-boro menuruti sugesti tadi, belum dilakukan terminasi saja, dia sudah membuka mata sambil berteriak, "Tiiiidaak!!!"

Keesokan harinya kawan saya tadi menelpon saya dan menanyakan fenomena tersebut. Kenapa suyet yang sudah trans, ditandai sudah bisa diubah namanya, tapi kok menolak ketika diminta untuk memeluk dirinya. 

Jawabannya simple, lady security tadi sudah punya keyakinan bahwa haram hukumnya memeluk pria non muhrim atau yang bukan suaminya. Ini belief yang sangat kuat bagi dirinya yang orang timur, apalagi muslimah. Sugesti yang tidak selaras dengan belief seseorang tidak akan mempan diterapkan kepadanya. 

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah dengan belief seperti itu lady security tadi tidak akan mungkin memeluk pria yang bukan suaminya atau muhrimnya? 

Saya akan berikan ilustrasi yang berbeda. Seandainya dia sedang berada dalam kondisi terdesak, dan satu-satunya pihak yang diharapkan bisa menolongnya hanya kita, mungkin enggak hal itu terjadi. Misal kita sedang berada di hutan atau kebun. Dan tetiba saja muncul seekor ular meluncur ke arahnya?

Atau, kita sedang berada di kuburan. Dan tetiba saja ada hantu yang muncul, apa kira-kira yang akan dilakukan lady security tadi?

Saya yakin Anda bisa menduganyalah. Lalu ketika dia memeluk kita, apa itu tandanya beliefnya sudah bergeser? Tentu tidak. Belief yang itu tetap. Namun ada belief lain sebagai alat perlindungan diri yang membuat perilakunya berubah. Kebetulan pilihan perilaku belief perlindungan diri ini sesuai dengan kehendak kita, hehehe. 

Timing yang tepat beserta sugesti yang selaras akan membuat suyet (seolah) menuruti kehendak kita. Di sinilah seringkali terjadinya kegagalan sesi terapi, utamanya pada terapis pemula. Mereka ngotot berusaha mengubah belief klien. Padahal klien datang sebenarnya ingin mengalami perubahan perilaku. Karena dari perilaku inilah seseorang biasanya akan dinilai, bukan dari beliefnya. 

Maka dibutuhkan kreativitas terapis dalam melakukan terapi. Salah satunya menggunakan teknik simbolisasi yang tidak secara langsung mengintervensi kondisi psikologis klien. Dan dalam bentuk simbol, kita betul-betul bisa mengubah kondisi psikologis itu layaknya sebuah benda. Bisa dikecilkan, dibesarkan, diubah bentuk, dihapus, dikasih warna, dlsb. 

Jadi ingat pesan guru saya. Sebenarnya tidak ada klien yang resisten, terapisnya saja yang kurang kreatif. Atau saya lebih suka mengatakan tidak ada klien bandel, tapi terapisnya saja yang terlalu egois, wkwkwk. 


Tabik
-haridewa-
The Storyteller Coach


BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang