NaZaMWZcMGZ8LGZ7MGxaNGtaLDcsynIkynwbzD1c

Hipnosis Bukan Hanya Kemampuan Orang Dewasa, Anak Kecil Kecilpun Bisa Melakukannya

BLANTERLANDINGv101
3034015059065731839

Hipnosis Bukan Hanya Kemampuan Orang Dewasa, Anak Kecil Kecilpun Bisa Melakukannya

14/01/20


Gili Trawangan, 09 Jan 2020
Akhir-akhir ini kata hipnosis begitu marak diperbincangkan di media massa, baik elektronik maupun media cetak. Dari mulai kejahatan yang ditengarai menggunakan ilmu hipnosis, sampai pentas hiburan yang menggunakan keahlian yang sama. Asumsi masyarakat terhadap keahlian yang satu ini juga beragam, ada yang menganggapnya sebagai ilmu klenik, menggunakan kuasa kegelapan, jin atau setan, bahkan sampai ada beberapa ustadz yang mengharamkannya. 

Sebenarnya apa sih ilmu hipnosis itu sendiri? Sebelum kita beranjak ke ranah yang lebih jauh mengenai hipnosis, saya mempunyai beberapa pertanyaan. Pernahkah Anda dihipnosis, atau terhipnosis?

Pasti ada di antara Anda yang menjawab pernah, dan sebagian lagi berkata belum. 

Bagi yang merasa belum pernah dihipnosis, saya punya pertanyaan lagi. Pernahkah Anda menonton sebuah film, atau sinetron untuk kemudian terhanyut ke dalam alur cerita film tadi. Anda akan ikut menangis ketika ada adegan yang menyedihkan, atau sebaliknya Anda akan tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut ketika ada adegan lucu. Suatu saat bahkan mungkin Anda bisa menjadi benci kepada seorang tokoh antagonis, yang di dalam adegan tadi selalu berlaku jahat. 

Apakah Anda benar-benar sedang bersedih hati ketika menangis tadi? Oo tentu tidak. Anda hanya terhanyut pada alur cerita yang menyedihkan, sementara Anda sendiri belum tentu mengalami nasib yang sama dengan tokoh dalam adegan tadi. 

Tapi kenapa Anda tetap menangis? Apakah tokoh antagonis dalam adegan tadi jahat kepada Anda. Atau apakah tokoh tadi benar-benar jahat dalam kehidupan kesehariannya? 

Belum tentu bukan? 

Namun kenapa Anda masih menyimpan rasa kesal bahkan mungkin benci kepada sang tokoh tadi? 

Kalau Anda pernah merasa berada dalam keadaan seperti di atas, itu artimya Anda pernah terhipnosis.

Pertanyaan selanjutnya, pernahkan Anda menghipnosis orang lain? Saya yakin sebagian besar dari Anda akan mengatakan belum pernah. 

Well, kita coba menengok ke belakang sejenak. Pernahkan Anda melakukan sebuah orasi dengan berapi-api, sehingga para audiens Anda menjadi begitu bersemangat untuk melakukan atau sebaliknya menolak suatu hal. Ah, tapi hanya sedikit orang yang mempunyai kemampuan seperti ini. Kita cari contoh yang lebih sederhana saja. 

Pernahkah Anda bercerita –curhat- kepada teman Anda, tentang suatu hal yang sangat menyedihkan, sehingga teman Anda tadi terhanyut dalam cerita Anda, bahkan dia bisa ikut menitikkan air mata? Kalau jawaban Anda pernah, itu artinya Anda sudah pernah menghipnosis orang lain. Apakah sesederhana itu praktik hipnosis dalam kehidupan keseharian kita? Jawabannya jelas: YA!

Meski secara harafiah kata hipnosis berasal dari bahasa Yunani ‘hypnos’ yang berarti tidur, namun praktik hipnosis dalam keseharian kita tidaklah selalu berarti menidurkan orang seperti yang kita lihat dalam stage hypnosis yang sering dilakonkan oleh Romi Rafael atau Uya Kuya. 

Tujuan dari hypnosis adalah kondisi trance. Dan pengertian trance itu sendiri juga sering salah kaprah. Ada yang berpendapat trance adalah kondisi pikiran kosong. Atau lebih parah lagi, trance dianggap sebagai kondisi kesurupan. Kalau sudah ada kata kesurupan, yang kata dasarnya adalah ‘surup’ atau masuk, artinya diri kita sedang dimasuki oleh mahluk lain. Apakah itu semua benar adanya?

Seperti kita ketahui bahwa pikiran kita terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Nah, kondisi trance terjadi saat kita berhasil mengakses subconscious mind kita. Lalu apakah conscious dan subconscious mind tadi terpisah? Sebenarnya tidak. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi sederhana mengenai hal ini. Ketika suatu saat Anda berada di ruang gelap, kemudian Anda menyalakan senter, maka di depan Anda akan muncul subuah bidang (biasanya berbentuk lingkaran) terang, sementara bagian di luar bidang tadi tetap gelap. Kita andaikan saja seluruh ruangan tadi adalah pikiran kita. 

Nah, bagian terang tadi adalah subconscious mind kita, sementara bagian lain yang gelap pada saat itu adalah conscious mind kita. Dengan kata lain, kondisi trance sebenarnya justru kondisi dengan konsentrasi sangat tinggi. Ingat, pada saat kita menyalakan senter, perhatian kita pastilah terpusat pada lingkaran cahaya tadi. So, apapun yang berada dalam lingkaran itu dengan mudah akan kita lihat, tanpa memperhatikan lagi benda lain yang berada dalam kegelapan.

Dari beberapa ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk membuat orang trance, kita tinggal mengarahkan (leading) senter ke ruang gelap mereka. Namun untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu mempunyai senter terlebih dahulu. Dan senter ini bukanlah sembarang senter, karena setiap senter haruslah sesuai dengan minat dan perhatian pikiran orang yang akan kita senter. Artinya kita haruslah memahami pikiran mereka dulu atau menyelaraskan (pacing), atau minimal kita mencari persamaan kondisi dari orang-orang tadi (common sense), agar kita bisa memahami mereka. Dalam bahasa kerennya, teori ini disebut pacing-leading. Dan idealnya untuk sukses melakukan sebuah leading, kita perlu melakukan tiga kali pacing. Pahami kondisi orang yang ingin kita hipnosis, akui kelebihan, kekurangan mereka, cari common sensenya, baru kemudian berikan sugesti Anda. 

Ternyata mudah sekali untuk bisa menghipnosis orang bukan? Tidak perlu baca buku ataupun kursus. Bahkan anak kecilpun  bisa melakukannya. Ya, karena hipnosis bukanlah ilmu untuk menidurkan orang. Hipnosis adalah sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya.

Bicara mengenai anak kecil, saya punya pengalaman dihipnosis oleh anak saya sendiri, beberapa tahun yang lalu. Anak saya yang paling kecil, laki-laki saat itu masih berumur 6 th, namanya Adit. Dalam keseharian, beberapa kali saya  melakukan praktik hypnosis kepadanya. Adit akan merasa senang jika diantar tidur dan diprogramkan agar bisa bermimpi menjadi tokoh idolanya seperti Power Ranger, Naruto, Ben Ten dlsb. Dengan teknik relaksasi progresif yang saya kombinasi dengan keinginannya tadi, maka dia selalu berhasil mendapatkan mimpi seperti yang dia inginkan. Membersihkan luka dan memasang plester tanpa rasa sakit ketika dia terluka juga mampu saya lakukan, karena memang saya sudah begitu memahami karakter anak bungsu ini. Tanpa saya sadari, ternyata dia juga belajar memahami kebiasaan saya. Sebagai contoh, kalau dia melihat saya sedang asyik di depan laptop, dia sambil menenteng bola kesayangannya akan berkata,

“Pa, kalau sudah selesai ngetiknya, kita main bola ya”.

Dia tahu saya tidak suka diganggu ketika sedang ‘bekerja’ dengan laptop saya. Makanya dia melakukan pacing dengan mengatakan,”kalau sudah selesai ngetiknya”. Dan ajaibnya, kalau dia sudah berkata seperti itu, saya langsung berhenti sejenak dari keasyikan mengadu ujung jari dengan keyboard, untuk kemudian meladeni dia bermain bola meski barang sebentar.

Adit juga tahu kalau sedang berbelanja ke pusat perbelanjaan, kecuali buku, saya tidak mudah untuk membelikan dia barang lain. Maka pada suatu kali kami sedang berbelanja, dia mengajak saya untuk masuk ke toko mainan.

Ajakannya sangat sopan, “Lihat-lihat saja Pa, nggak beli kok”.

Ya, dia sangat memahami saya, maka saya turuti permintaanya. Pacing pertama.

Kamipun masuk ke toko mainan tadi. Sibuk dia melihat sana, memilih sini, masih dengan tatapan lucunya yang mengisyaratkan,

“Lihat-lihat saja kok Pa!”.

Dengan sabar, saya tetap mengikutinya dari belakang, sampai di satu sudut dia melihat sebuah t-shirt Ben Ten (original, dengan bandrol Rp 120.000).

Dia menatap saya, dan bertanya, “Bagus ya Pa?”.

Saya agak melotot ketika dia mulai menanyakan hal itu. Lagi-lagi dia mengulang pacing pertamanya,

 “Lihat-lihat saja kok Pa. Tapi bagus khan?”.

Dalam hati saya akui memang t-shirt itu bagus, karena memang original.

“Ya bagus”, jawab saya. Pacing kedua.


Tiba-tiba datang pramuniaga mendekati kami, sambil menawarkan kepada Adit untuk mencoba t-shirt tadi. Saya belum menyadari bahwa sebentar lagi saya akan mengeluarkan dompet saya. Setelah mengenakan t-shirt Ben Tennya, Adit bergaya sejenak ala peragawan professional, mematut-matut dirinya di depan kaca

Sejurus kemudian dia bertanya lagi, “Bagus yang merah, atau yang hitam Pa?”.

Saya yang masih belum sadar apa yang terjadi menjawab’”Kayaknya bagus yang hitam deh Dit”.

Ya, dia tahu saya suka warna hitam. Pacing ketiga.


Dia kemudian mencoba lagi t-shirt warna hjtam, dan bertanya lagi,

“Ganteng gak Adit pakai baju ini Pa”. “Ya gantenglah, anak Papa!”, jawab saya, mulai merasa ada yang tak beres. Belum sadar hal yang tak beres tadi, Adit sudah memberondong dengan pertanyan lagi,

 “Pastinya Papa bangga dong kalau anaknya tambah ganteng. Boleh dong Pa, kaos yang hitam ini untuk Adit!”. Skak mat! Leading!!!


Pramuniaga tadi menambahkan kompornya dengan mengatakan memang Adit jadi tambah ganteng. Kaya artis cilik. Meski kesadaran saya sudah pulih sepenuhnya, dan saya tahu kalau membeli di pasar, saya bisa mendapat tiga buah dengan harga tadi, namun akhirnya saya memang memilih untuk mengeluarkan lembaran seratus ribu dan duapuluh ribu untuk membelikan Adit t-shirt Ben Ten tadi. Adit tidak tahu teori pacing-leading ini, namun dia telah berhasil mempraktekkan kepada saya. 

Ya, karena memang hypnosis sangatlah sederhana. Memahami, memahami, memahami, baru kemudian mengarahkan. 

Semoga bermanfaat.

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang