POSTINGAN POPULER

Friday, April 10, 2020

INNER CHILD THERAPY



Pernahkah suatu saat Anda merespon omongan pasangan Anda yang sebenarnya biasa saja, dengan tindakan yang lebay, uring-uringan atau bahkan berlaku kasar?

Atau pernahkah Anda tiba-tiba saja kehilangan kata tanpa bisa berucap satu patahpun ketika berhadapan dengan seseorang? 

Tahukah Anda fenomena apakah itu? 

Dari hari ke hari orang-orang terus bertumbuh tanpa menyadari bahwa ada 'sosok anak kecil' (Inner Child) dalam diri mereka. Lebih parahnya lagi mereka tak pernah menyadari pernah ada luka bathin yang dirasakan oleh Inner Child ini semasa dalam pengasuhan orang tua. Hal inilah yang menyebabkan seseorang semakin mudah tersulut emosinya, atau sebaliknya tersabotase keberaniannya seperti situasi yang saya sebutkan di atas. 

Sayangnya, tidak semua orang tahu dan sadar bahwa 'anak kecil' dalam diri mereka sedang terluka.  

'Apa itu Inner Child?'
Inner Child adalah sisi kepribadian seseorang yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil atau sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang. Pada dasarnya Inner Child mengalami luka bathin karena dia terkejut mengalami sebuah peristiwa yang tidak dia sangka akan terjadi, dan dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kata lain ada rasa takut yang menyebabkan Inner Child ini terluka dan dia merasa menanggung semua itu sendirian. 

Mengapa Inner Child ini berpengaruh terhadap kepribadian, dan cara bersikap seseorang ketika dewasa? Karena pengalaman  seseorang di masa lalu yang sangat kental emosi negatifnya bisa muncul kapan saja dan memiliki efek destruktif pada masa kini. Inner Child pada setiap orang adalah inti dari kepribadian yang terbentuk dari pengalaman-pengalamannya tentang  cara bertindak untuk dicintai atau diperhatikan yang didapatkan selama masa kanak-kanak.

Inner Child tidak harus terjadi di masa kanak-kanak, namun bisa terjadi kapan saja di masa lalu. Masa lalu di sini juga tidak berhubungan dengan lampaunya kejadian itu berlangsung. Satu detik dari sekarang juga merupakan masa lalu kita dan berpotensi memunculkan sebuah Inner Child. Inner Child bukanlah sebuah kondisi emosi tertentu, melainkan sebuah respon seperti membisu, ngambek, menangis, kabur, berteriak dll, seperti yang biasa dilakukannya ketika masa kanak-kanak. 

'Apa pencetus munculnya Inner Child?' 
Dalam mengamati dunia sosial, kita seringkali melakukan perkiraan, dugaan, perbandingan, berusaha mengingat kembali dan sebagainya. Misalnya saat kita datang ke satu daerah baru yang kita belum pernah mengunjunginya. Maka kita akan melakukan pengamatan awal untuk mengetahui bagaimana kebiasaan masyarakat setempat. Mengamati dengan seksama bagaimana mereka melakukan penyambutan terhadap kita, melihat sekeliling kita, bagaimana orang-orang akan berperilaku, mengingat-ingat hal-hal yang mirip dengan situasi yang kita alami di masa lalu dan sebagainya.

Dalam ilmu psikologi hal ini disebut dengan skema (schema), yaitu struktur mental yang membantu kita mengorganisasi informasi sosial dan yang menuntun pemrosesannya. Secara umum skema berkisar pada suatu subyek atau tema tertentu. Skema adalah kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasi informasi sosial. Skema bisa dibentuk oleh budaya di mana kita tinggal, misalnya dalam contoh di atas kita membandingkan budaya di tempat asal kita dengan budaya yang ada di daerah baru.

Ketika skema terbentuk, skema akan sangat berpengaruh pada beberapa aspek kognisi sosial sehingga akan memengaruhi perilaku sosial kita. Jika skema yang muncul negatif terus tanpa ada pilihan skema positif, maka ketika dewasa, skema itu akan muncul menjadi perilaku negatif, meski tanpa kita sadari. Skema yang berulang, terutama dengan tema yang sama inilah yang mencetuskan munculnya Inner Child 

Agar lebih memudahkan Anda memahami Inner Child, berikut ini saya berikan beberapa contoh klien yang pernah saya tangani. 

1. Pengusaha Kuliner. 
Suatu hari datang ke saya seorang laki-laki pengusaha yang mengaku selalu gagal ketika memulai bisnis kulinernya. Semua daya upaya telah dia lakukan, bahkan berbagai pelatihan wirausaha kuliner juga telah dia ikuti, namun tetap saja usaha kulinernya tidak pernah berkembang, kalau tidak mau dikatakan bangkrut.

Menggunakan teknik age regression, akhirnya saya berhasil menemukan akar masalahnya. Ternyata ketika kanak-kanak, pengusaha ini suka bermain ‘pasaran’ (bermain masak-masakan) bersama kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika sedang asyik bermain pasaran, ayahnya pulang dan ketika melihat anak laki-lakinya ‘pasaran’, sang ayah langsung murka. Sambil melempar semua peralatan mainnya sang ayah mengatakan bahwa ‘pasaran’ bukanlah mainan anak laki. Anak laki seharusnya lebih jantan, bermain perang-perangan atau mobil-mobilan. 

Banyak kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah saat itu. Pengusaha muda (yang masih kecil) ini sangat ketakutan, dan hanya bisa menangis untuk kemudian lari menghambur ke pelukan ibunya. Tanpa disadari rupanya kemarahan sang ayah telah melukai Inner Child-nya dan menjadi belief dalam pikiran pengusaha tadi, bahwa laki-laki tidak boleh main masak-masakan (yang oleh bawah sadarnya dibaca sebagai tidak boleh berbisnis kuliner). 

Jadi meskipun peristiwa itu terjadi puluhan tahun silam, namun setiap kali mencoba memulai bisnis kuliner, sang Inner Child-lah yang menguasai diri pengusaha ini. 

2. LGBT
Di waktu yang berbeda, saya kedatangan tamu dari kota tetangga yang merasa memiliki disorientasi seksual. Dia adalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang lebih tertarik ketika melihat pria bertelanjang dada. 

Dengan teknik yang sama, yaitu Age Regression, saya ajak pemuda ini jalan-jalan ke masa lalu. Dan ternyata ada memori yang terlupa dia ceritakan dalam kondisi awake. Sampai dia kelas 4 SD, di rumah orangtuanya ikut menumpang paman dan tante dari pihak ibu. Menurut dia, sang tante adalah seorang perempuan judes, galak dan sangat tidak bersahabat dengan anak-anak, termasuk dirinya. 

Selain kata-kata kasar yang acapkali terlontar dari mulutnya, tante ini tak jarang juga mencubit dirinya jika sedang kesal atau menganggap dirinya nakal. Sebuah Inner Child negatif terbentuk di sini karena skema yang berulang dari tantenya. Sehingga dalam benak innerchild ini semua perempuan adalah judes dan jahat. 

Sebaliknya sang paman sangatlah baik kepada dirinya. Selain tutur kata yang halus, parasnya juga lumayan rupawan. Sang paman inilah yang kerap menyelamatkan dirinya dari cengkeraman tantenya. Seringkali ketika menolong keponakannya ini, sang paman hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Dari sini sebuah Inner Child juga terbentuk (saya bingung harus mengatakan ini positif atau negatif), namun intinya dia merasa nyaman kepada paman yang notabene seorang pria (yang sering bertelanjang dada) 

Nah..., rupanya ini asal muasal terjadinya persepsi yang salah pada pemuda tadi di waktu kecil. Bagian dirinya yang paling dalam waktu itu tentu sangat membenci tantenya, dan secara tak sadar menyanjung pamannya.

Peristiwa ini juga terjadi puluhan tahun silam, namun menghadapi perempuan di masa kini, justru Inner Child-nya yang dominan. 

3. English Phobic
Pada waktu yang berbeda pula, saya mendapat klien yang menurut saya situasinya lumayan menarik. Dia adalah seorang pemuda Batak yang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan ekspedisi multinasional yang lumayan tenar di tanah air. Dengan posisi yang sudah berada pada level managerial, tentunya dia dituntut untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Namun apesnya, boro-boro berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, mendengar kata berbahasa asing itu saja sudah mampu membuat keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Wew...!

Kemudian saya minta dia untuk mengingat peristiwa asal dirinya mengalami ketaknyamanan terhadap bahasa Inggris ini. Rupanya dia masih sangat ingat  detail peristiwanya yang terjadi ketika dia masih balita. Saat itu orang tuanya mewajibkan semua anaknya untuk menguasai bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Maka ayah klien saya ini mendatangkan guru les Inggris ke rumah untuk ketiga anaknya. Klien saya yang masih balita dan dua abangnya yang waktu itu sudah SMP.

Berbeda dengan kedua abang yang menyambut gembira kedatangan tentor bahasa Inggris ini, klien saya justru merasa ketakutan pada sosok tua tentor itu yang menyerupai datuk Maringgih. Alih-alih ikut belajar, setiap kali tentor itu datang ke rumah, klien saya pasti langsung bersembunyi di dalam lemari. Runyamnya hal ini berulang hingga SMA, setiap kali ada pelajaran Bahasa Inggris, dia pasti kabur dari kelas. 

Sama dengan dua kasus sebelumnya, di mana sebuah Inner Child menguasai perilaku seseorang pada masa sekarang, diakibatkan oleh sebuah skema yang berulang di masa lalu. Bedanya kali ini pencetusnya (precipating event) adalah bahasa Inggris. 

4. Fobia Pepaya
Klien yang satu ini adalah adik tingkat saya di kampus, sebut saja namanya Bunga. Dia mengalami fobia pepaya. Boro-boro makan, mendengar kata pepaya disebut saya bisa membuat Bunga mual. Saya pikir pasti ada pencetus Bunga mual setiap mendengar kata pepaya meski dia ingin mencicipinya. 

Dan pasti ada masa di mana phobia itu tercetus karena menurut ceritanya sebelum SMA dia termasuk penyuka pepaya. Dia tidak ingat kapan dan kenapa mulai mual terhadap pepaya.

Menggunakan teknik mesin waktu berbentuk roller coaster, saya bawa Bunga masa lalu dan tepat pada tanggal 6 juni 1994, menjelang maghrib terkuaklah misteri fobia pepayanya. 

Bunga bercerita bahwa hari itu dia disuruh kalau tidak boleh dibilang dipaksa oleh kakaknya untuk menyuapi pepaya yang dihaluskan (seperti jus) kepada keponakannya.

Mungkin rasa kesalnya saat itu karena terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya menjadikan kondisi emosi yang sangat intens dibarengi dengan aroma pepaya tumbuk yang menyengat membuatnya merasa mual setiap mengingat buah pepaya di kemudian hari. Ada luka hati yang menimpa Inner Child Bunga yang berimbas fobia dalam kasus ini. 

5. Akrofobia
Anak sulung saya Aini mengalami fobia ketinggian, meski dalam tataran yang masih ringan. Setiap berada di lantai dua sebuah gedung (mal atau hotel) yang bisa terlihat lantai dasarnya, dia pasti mencengkeram tangan saya. Atau kalau naik pesawat, dia pasti minta duduk di gang, dan juga mencengkeram tangan saya. 

Awalnya saya tidak paham penyebab akrofobia anak saya ini. Sampai saya teringat ketika dia berumur sekitar satu tahunan, saya suka mencandain dia dengan menurunkannya dari springbed, dan membiarkan kedua tangannya menahan tubuhnya di tepi springbed. Karena badannya belum tinggi, maka kakinya belum sampai ke lantai, meski hanya tinggal beberapa sentimeter saja. Awalnya dia senang dengan permainan ini, tapi ketika dia tidak bisa turun, dia mulai ketakutan dan menangis. "Papaa atuttt!" 

Bagi saya, tangisan Aini adalah hal yang lucu waktu itu. Karena sebenarnya hanya dengan melepas pegangan tangannya, dia sudah akan menjejak lantai dan bisa bebas dari gelantungan di tepian springbed tersebut. Saya menyesal, rupanya candaan saya waktu itu, berujung akrofobia sekarang ini. Anak saya merespon ketinggian menggunakan Inner Child-nya, bukan usia sekarang yang sudah dewasa. 
***

Sahabat yang berbahagia, mungkin ada di antara Anda yang juga mengalami hal-hal di atas. Anda merespon masa kini menggunakan pengalaman masa lalu (Inner Child), yang tidak relevan dengan konteks kekiniannya. Tentu saja situasi ini menjadikan Anda terlihat aneh di mata orang lain. 

Menurut teori NLP (Neuro Linguistic Programming) contoh-contoh kasus di atas, atau mungkin yang terjadi pada diri Anda muncul akibat terjadinya proses disosiasi antara Anda dengan Inner Child Anda. Disosiasi adalah kondisi di mana seseorang seolah keluar dari dirinya. Disosiasi merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri di mana ketika seseorang merasa kehilangan jejak waktu dan/atau orang, mereka kemudian malah menemukan keberadaan diri mereka dalam kondisi yang lain. 

Inner Child mesti diselesaikan sehingga jika semua Inner Child yang ada pada diri seseorang telah habis, tidak ada ruang lagi bagi dirinya untuk melakukan disosiasi. Dengan kata lain orang ini akan hidup di masa kini dengan respon yang relevan terhadap stimulus yang ada. 

Inti dari Inner Child Therapy adalah dengan menjalin hubungan dengan Inner Child sehingga dia tidak merasa sendirian lagi. Dia merasa bahwa dia dicintai dan diperhatikan.  Kemudian kita akan memberitahu si Inner Child apa yang akan terjadi nanti, sehingga dia bisa melalui ulang peristiwanya dengan penuh kesiapan. Ibarat kita mau nonton film horor, ending dari cerita itu sudah kita bocorkan sebelum film diputar (spoiler), sehingga kengerian menonton film horor tersebut menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. 

Dan pada akhirnya kita akan satukan Inner Child tersebut dengan kesadaran dewasanya, sehingga kesadaran klien menjadi utuh, tidak terpecah lagi di masa lalu. 

Tekniknya akan banyak sekali jika saya tuliskan di sini. Jadi mohon bersabar saja ya Kawan, karena semua teknik tersebut sudah saya tuliskan dalam buku ke-empat saya yang berjudul "The Indonesian Encyclopedia of Hypnotherapy" yang akan launch Q3/Q4 tahun ini. 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist 
Happiness Life Coach

No comments:

Artikel Unggulan

"Tolong Saya Pak!"

Menjadi terapis adalah sebuah pilihan jalan hidup tersendiri. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Dengan kompetensi unik bisa memberdaya...