POSTINGAN POPULER

Sunday, March 29, 2020

Badai & Corona



Seorang pria gagah baru saja menikah dan dalam perjalanan pulang bersama istrinya menuju rumah mereka di seberang danau. Mereka menaiki perahu kecil, dan ketika perahu mereka sampai tengah danau, tetiba saja terjadi badai yang sangat besar. 

Sang suami adalah seorang prajurit dengan tekad kuat dan keberanian yang luar biasa. Dia hadapi badai tersebut dengan gagah berani. Tapi si istri merasa sangat ketakutan menyadari badai yang sangat besar tersebut.  Perahu yang mereka naiki hanya sebuah perahu kecil, sementara badai yang mereka hadapi sangatlah dahsyat. Kapanpun mereka bisa tenggelam dan rasanya mustahil bisa selamat sampai seberang. 

Namun anehnya sang suami masih bisa duduk tenang, dan santai, bahkan seolah tidak terjadi apapun. 

Dengan gemetar si istri bertanya, "Apakah kamu tidak takut? Mungkin ini adalah saat terakhir kita. Bisa jadi kita tidak akan sampai ke seberang! Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan kita, sementara ajal sudah di depan mata" Sang suami tetap tenang dalam duduknya. 

Ketakutan si istri semakin menjadi, pertanyaannya kali ini sudah berubah menjadi teriakan, "Apakah kamu tidak takut? Apakah kamu sudah gila? Jawab suamiku, jangan mematung saja seperti itu!"

Sang suami kemudian beranjak dari kursinya, tersenyum menghampiri istrinya sembari mengeluarkan pedang dari sarungnya. Si istri semakin bingung dengan perilaku suaminya. Dengan tegas dan cekatan sang suami kemudian mendekatkan pedang yang sudah terhunus tadi ke leher jenjang istrinya. Sekarang pedang itu nyaris menempel di urat nadi leher istrinya, dengan satu gerakan saja maka leher jenjang itu bisa tertebas. Sang suami kemudian bertanya, "Apakah kamu takut, istriku?"

Seolah baru tersadar dari mimpi, si istri menjawab sambil tertawa, "Kenapa aku mesti takut?"
"Tapi posisimu sedang di ujung ajal ini. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkanmu!" ujar suaminya lagi tanpa menurunkan pedang tadi dari leher istrinya. 
"Jika kamu yang memegang pedang itu, kenapa aku mesti takut. Aku tahu pasti bahwa kamu mencintaiku", jawab istrinya manja sambil menepis pedang tersebut. 

"Itulah jawabanku, istriku sayang!", kata sang suami sambil menyarungkan pedangnya kembali. "Badai itu ada di tangan Tuhan. Dan aku tahu bahwa Dia mencintaiku! Maka apapun yang terjadi, pastilah sebuah kebaikan. Jika kita selamat, berarti itu sebuah kebaikan untuk kita. Jika kita tidak selamatpun, itu pastilah juga yang terbaik bagi-Nya. Semua yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman-Nya, dan tidak mungkin Dia melakukan kesalahan"
***

Sahabatku, sudah hampir satu bulan ini negara kita digempur horor virus corona. Berita di media sosial berseliweran, saling bersaing antara yang hoax dan turnback hoax. Pemerintah juga sudah mengeluarkan kebijakan untuk lockdown beberapa wilayah, termasuk meliburkan sekolah-sekolah.  

Dari pengamatan saya sebagai seorang hipnoterapis, rupanya horor rasa cemas terhadap kematian yang bisa ditimbulkan oleh covid-19 ini lebih mendominasi postingan-postingan di media sosial kita. Nyatanya informasi dari beberapa pihak yang dapat dipercaya, meskipun covid-19 termasuk virus dengan tingkat penyebaran paling cepat, namun kasus kematian yang diakibatkannya tidak pernah lebih dari 4%. 

Maka sudah banyak pihak juga yang menyarankan agar kita tidak mengalami kepanikan akibat covid-19 ini. Justru jika kita panik. Bin  cemas, maka imunitas kita akan anjlok, yang malah bisa membuat diri kita diserang covid-19. 

Cerita di atas saya adopsi dari sebuah video yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi yang sedang menimpa negara kita ini. Kita tahu bahwa pandemi covid-19 ini sangat berbahaya, sudah terbukti membuat banyak orang berada di ujung ajal. Hanya keajaiban yang bisa membuat kita selamat. Namun, lupakah kita bahwa covid-19 berada dalam genggaman Allah, Dzat yang sangat mencintai kita? Maka apapun yang terjadi, pastilah sebuah kebaikan. Jika kita selamat, berarti itu sebuah kebaikan untuk kita. Jika kita tidak selamatpun, itu pastilah juga yang terbaik bagi-Nya. Semua yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman-Nya, dan tidak mungkin Dia melakukan kesalahan!

Tanpa bermaksud takabur, marilah kita tetap berdoa dan mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah. 

Hasbunallah Wanikmal Wakil, Nikmal Maula Wanikman Nasir

Sila tebar jika manfaat 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist 
Happiness Life Coach

#coronafighting
#menolakcemas

Tuesday, March 10, 2020

Genting atau Penting

Setiap hari semua orang akan selalu melakukan aktifitas dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Ada yang menjadi ASN, Polisi, Tentara, Pengusaha, Trainer, Dokter dll. Namun sayangnya dengan segala kesibukan yang kita miliki, waktu yang tersedia hanyalah 24 jam, sehingga kita mesti pandai-pandai mengalokasikan waktu yang dimiliki agar semua aktifitas bisa selesai dengan baik. 

Manusia paling cerdas yang pernah ada, Einstein saja tidak mampu menciptakan tambahan waktu meski hanya sedetik. Itulah makanya dia hanya mau membeli baju warna putih dan abu-abu serta pantalon hitam dan biru gelap, agar waktunya tidak habis hanya untuk memadu padan baju ketika mau bekerja. 

Dunia manajemen kemudian memperkenalkan aplikasi time management, yang menurut saya salah kaprah karena waktu tidak bisa dimenej. Yang bisa dimenej adalah aktifitasnya. So seharusnya istilahnya adalah activity management. 

Dalam teori activity management, kita mengenal dua komponen yaitu:
1. Importancy (sesuatu yang kita anggap penting) 
2. Urgency (sesuatu yang kita anggap genting) 

Dari dua komponen tersebut, kita bisa mendapatkan 4 kuadran,
A. Penting & Genting
B. Tak Penting & Tak Genting
C. Penting tapi Tak Genting
D. Tak Penting tapi Genting

Secara urutan melaksanakannya maka sudah sangat jelas bahwa kuadran A selalu menjadi prioritas utama. Segala sesuatu yang penting dan genting mesti didahulukan. Kuadran B tentu menjadi prioritas terakhir, karena segala sesuatu yang tak penting dan tak genting hanya akan menghabiskan waktu Anda. 

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah sekuensial setelah kuadran A itu kuadran C atau D. Kebanyakan dari kita akan memilih D. Apa sebab?  Ya karena ada situasi yang sudah genting. Sudah urgent! 

Sebelum setuju dengan pendapat mayoritas ini, marilah kita telaah beberapa premis di bawah ini. 

Kita tahu bahwa suplay energi di Indonesia dikuasai oleh negara, dalam hal ini PLN. Dan demi mentertibkan pelanggannya, kian hari PLN kian ketat dalam memberlakukan peraturan, utamanya terhadap pelanggan paska bayar. Telat satu bulan saja sudah akan dicabut sambungannya. 

Mensikapi situasi seperti ini apakah menurut Anda membayar listrik adalah sebuah hal penting? Ya, saya setuju jika Anda menjawab penting. 

Apakah membayar listrik di awal bulan seperti ini penting? Ya, saya juga setuju jika Anda menjawab penting, meskipun belum genting alias urgent. Pada tanggal 20 setiap bulan, barulah hal ini menjadi genting. 

Dari ilustrasi ini bisa disimpulkan bahwa sebuah kepentingan (Importancy) tidak bisa digeser kadarnya karena 
Sementara kegentingan (Urgency) justru bisa digeser karena hanya berhubungan dengan masalah waktu. 

Maka kuadran C merupakan sekuen kedua setelah kuadran A, dilanjutkan kuadran D. Alasannya sangatlah jelas, ketika hal yang penting tidak diprioritaskan maka hal-hal tersebut akan menjadi genting, sehingga semua kehidupan Anda akan dipenuhi kuadran A. Semuanya penting dan genting. 

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, saya akan ajukan beberapa pertanyaan tambahan kepada Anda. 

Apakah Anda setuju bahwa olah raga merupakan hal yang PENTING dalam hidup kita? Saya yakin sebagian besar dari Anda akan setuju. 

Jika Anda setuju, apakah setiap hari Anda melakukan olah raga? Apa? Tidak! 

Padahal Anda tahu khan bahwa olahraga yang memiliki efek menyehatkan tubuh adalah yang rutin. Jika hanya sekali sekali itu hanya akan membuat tubuh lelah. Lalu jika Anda yakin bahwa olahraga itu penting, kenapa tidak setiap hari melakukannya? Ya, saya paham kok. Banyak sekali alasan Anda, yang intinya adalah tidak ada waktu! 

Pertanyaan saya ganti sekarang. Apakah mandi merupakan hal yang PENTING bagi Anda? Tentu Anda jawab ya! Dan apakah setiap hari Anda mandi? Tentu jawaban Anda juga ya. Bagaimana jika suatu hari Anda bangun kesiangan, apakah Anda tetap mandi sebelum berangkat ke kantor? Tetap mandi khan? 

Nah, dari pertanyaan tambahan ini bisa kita tuliskan sebuah quote: 
'Sebenarnya tidak ada situasi atau hal dimana Anda bisa mengatakan TIDAK ADA WAKTU  yang ada adalah Anda belum menganggap situasi atau hal itu PENTING!' 

Maka tanyalah diri Anda sendiri, apakah shalat itu PENTING? Jam berapa biasanya Anda shalat dhuhur? Jam 2? Kenapa? Terlalu sibuk dengan kerjaan kantor, sehingga tidak ada waktu? Tidak ada waktu atau Anda belum menganggap shalat itu penting! 
***

Hari ini, tanggal 5 maret, sekali lagi saya melewatkan hari ulang tahun di luar kota, demi membersamai klien memberdayakan diri mereka. Bukan berarti saya  menganggap harlah saya tidak penting, namun saya memilih mendahulukan kepentingan klien yang meminta saya membersamai mereka di hari yang bersejarah bagi diri saya ini. 

Klien saya memilih saya di antara sekian banyak trainer lain, yang artinya mereka menganggap diri saya ini penting, maka saya perlu membalas pilihan mereka ini dengan menggeser kebersamaan saya dengan keluarga, karena masih akan selalu ada waktu untuk mereka. 

Terimakasih untuk keluarga saya yang selalu bisa memahami situasi genting ini!
Terimakasih kepada Anda semua (yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang telah ikut merayakan hari penting ini dengan ucapan-ucapan serta kiriman virtual card melalui medsos. 

Ingat ya bahwa
"Sebenarnya tidak ada istilah TIDAK ADA WAKTU,  kita hanya belum menganggap hal itu PENTING! Ituh....! "

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Wednesday, March 04, 2020

Quranic Memory Photographic



"Penasaran bangeeett ingatan fotografik Al Quran, bener terjadi. Kaila itu sebenarnya blm hafal Al Muzamil 1-20...eeeh benar dia bisa hafal dengan instan setelah dihipnotis.."

Pesan whatsapp tersebut saya baca di salah satu grup alumni IHC sehari setelah pelatihan Fundamental Hypnosis di Kendari yang saya ampu, minggu yang lalu. Artinya, sepulang pelatihan, peserta yang notabene seorang dokter ini langsung melakukan praktek beberapa teori yang sudah diberikan di kelas, hari itu juga. 

Wow, saya sendiri juga takjub dengan kemajuan teknik yang kemudian saya beri nama Qur'anic Memory Photographic tersebut. 

Sejujurnya teknik ini bukan murni kreasi saya. Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah video dari Syekh Ali Jaber yang sedang mengajarkan cara menghafal Al Qur'an dengan cepat. Beliau mencontohkan dengan memanggil salah satu santri dan minta dia membaca satu ayat seperti kebiasaan hariannya. Dan santri itu meletakkan mushaf di pangkuannya, sehingga posisi kepala agak menunduk. Setelah selesai membaca, mushaf segera diambil oleh Syekh Ali Jaber, dan santri tadi diminta untuk mengulangi bacaannya. Dengan tegang dan kebingungan, santri tadi berusaha mengucapkan lagi bacaannya. Namun meski berusaha keras, santri tadi hanya berhasil melafalkan akhir ayat tersebut. 

Kemudian Syekh Ali Jaber meminta santri tadi memegang mushaf dalam posisi agak ke atas sebelah kanan (sebelah kiri dari posisi kita, jika berhadapan dengan santri tadi), wajah tetap menghadap ke depan, hanya mata yang melirik ke arah mushaf,  dan menyuruh santri tadi untuk  memotret lembaran mushaf tadi. Hanya memotret, tidak boleh membaca meskipun hanya di dalam hati. Santri tadi diberi waktu selama beberapa menit untuk memerhatikan satu lembar pada bagian kiri atas (satu ayat saja). Ajaibnya setelah mushaf ditutup, seolah melihat lagi lembaran yang ada di dalam pikirannya, satu ayat bisa dilafalkan dengan baik. Menurut Syekh Ali Jaber, satu halaman mushaf bisa dihafalkan hanya dalam waktu 10 menit. 
***

Setelah melihat video tadi, saya seperti tersadar dari kelalaian saya selama ini. Bukankah saya mempelajari pemberdayaan pikiran bawah sadar sudah puluhan tahun, kenapa saya tidak mencoba teknik Syekh Ali Jaber tadi dengan lebih sempurna, yaitu menggunakan hipnosis. 

Seperti yang selama ini kita ketahui, bahwa pikiran manusia dibagi 2, yaitu Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) di mana porsi PBS sebesar 88% atau 7x lebih kuat dari PS. Dalam menerima informasi, PS akan susah masuk dan mudah keluar, sehingga dikenal sebagai pikiran STM (Short Term Memory). Sementara PBS cenderung mudah memasukkan informasi dan susah melepaskannya, sehingga dikenal dengan pikiran LTM (Long Term Memory).

Memang terdapat tantangan tersendiri untuk membuat LTM ini aktif, yang sebenarnya sangatlah mudah, yaitu hanya tinggal me-nonaktif-kan faktor kritis yang selalu menyertai PS. Ada beberapa kondisi di mana  faktor kritis ini akan non aktif, yaitu:
1. Pengulangan
2. Sosok Otoritas
3. Emosi yang sangat intens
4. Bingung/Kaget
5. Visualisasi/Imajinasi
6. Relaksasi Pikiran
7. Hipnosis

Maka sebagai praktisi hipnosis, saya melakukan eksperimen kepada beberapa klien, yang sebagian besar adalah anak-anak. Di bawah ini saya akan beberkan denga singkat teknik Qur'anic Memory Photographic 

1. Ajarkan klien untuk membuat GOAL (dalam NLP hal ini dikenal dengan istilah WellFormed Outcome), yang minimal memiliki 5 komponen
a. Kalimat positif 
b. Spesifik
c. Berada dalam kendali klien
d. Memiliki sumber daya
e. Menentukan langkah pertama

2. Selalu gunakan mushaf yang sama (Usahakan bukan digital) 

3. Lakukan induksi untuk membawa klien ke dalam kondisi hipnosa. Latih dulu memori klien (anak) dengan mengajak mereka bermain ke tempat favorit mereka, bisa mall, pantai atau kolam renang favorit mereka. Biarkan mereka bermain sesuka hati mereka selama beberapa saat, dan tanyakan apa pengalaman mereka ketika sudah terbangun. Cek apakah mereka bisa menceritakan dengan detail, apa yang mereka lihat, dengar dan rasa. Jika mereka belum terbiasa menceritakan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa, maka ajarkan dulu mereka akan hal ini. 

4. Induksi lagi, kemudian katakan bahwa ketika membuka mata nanti, kita akan memasangkan kamera ajaib ke dalam mata mereka, sehingga mereka akan mampu memotret halaman mushaf yang akan ditunjukkan nanti. 

5. Bangunkan klien, kemudian  letakkan mushaf sedikit ke atas agak ke kanan.  Wajah tetap ke depan, mata saja yang melirik. Minta mereka memotret satu halaman mushaf tadi. 

Dengan cara ini maka mata akan mengakses otak kanan. Dalam NLP kita mengenal istilah eye accessing cue. Posisi mata melirik ke kanan atas sama dengan kondisi visual creation. 

Dengan cara ini maka klien akan melakukan scanning. Kita semua paham bahwa sebuah alat scan akan menghasilkan output yang sama. Mata manusia memiliki pixel (picture elemen) tujuh puluh ribu kali kekuatan dibandingkan alat scan/kamera paling canggih sekalipun. Maka hasil scan-nya juga pasti sama persis dengan benda yang discan. 

Kemudian minta klien melihat di dalam pikirannya (bisa mata terbuka atau tertutup) yang berada pada sudut kiri atas (dalam NLP  kondisi ini adalah visual remembering) dan membaca mushaf yang sekarang sudah nyata berada dalam pikirannya. Dengan sistem ini maka satu lembar mushaf, in syaa Allah akan langsung masuk menjadi LTM dalam hitungan detik. 

Bagaimana, mudah bukan? 

Tetiba saja, masuk satu pesan whatsapp lagi di grup yang sama: 

"Terimakasih atas ilmu dan pengalaman Master Hari yg dibagikan ke peserta walaupun hanya sesaat (saya telat datang Krn Ada agenda lain), namun sangat berkesan, terutama anak saya Dian  tadi malam pesan untuk dihipnoterapy kl pas ulangan biar TDK susah menghafal pelajaran. Salam dari Dian untuk om Master, 
See you again.  Trm's"

Di sinilah, sebagai trainer saya merasa bahagia. Jadi kata siapa, belajar hipnosis perlu waktu lama? 

Daftarkan segera diri Anda di kelas-kelas Fundamental Hypnosis yang rutin kami lakukan di seluruh Indonesia melalui www.centerhipnotis.com

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#ihc
#pkhi
#hipnosisuntuknegeri

Artikel Unggulan

Badai & Corona

Seorang pria gagah baru saja menikah dan dalam perjalanan pulang bersama istrinya menuju rumah mereka di seberang danau. Mereka menaiki pera...