POSTINGAN POPULER

Saturday, January 04, 2020

Ujian Para Terapis



Purwokerto, 29 Desember 2019
Membaca berita di medsos mengenai oknum terapis yang mencabuli kliennya membuat saya teringat sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu.

Pada satu kesempatan, saya sedang membersamai sebuah organisasi kepemudaan under dispora di sebuah kabupaten. Seperti biasa, di sela-sela pelatihan pasti ada saja permintaan untuk menunjukkan kemampuan saya sebagai seorang hipnotis. Rupanya justru bapak kadispora yang takjub dengan aksi yang saya tampilkan hari itu, sehingga dia minta tolong agar saya menghentikan kebiasaan merokok istrinya.

Singkat cerita, kami janjian untuk melakukan terapi malam harinya di kamar hotel saya. Sekitar jam 8 malam pintu kamar hotel saya ada yang mengetuk. Saya pikir pastilah pak kadispora datang bersama istrinya. Betapa kagetnya saya ketika membuka pintu dan nampak dua orang wanita muda dengan dandanan yang sangat mencolok untuk ukuran kota kabupaten tersebut. Mereka mengenakan tshirt ketat warna putih yang tak mampu menyembunyikan organ rahasia di dada mereka, rok mini motif kotak dan rambut diikat ekor kuda.

Kontan saya tutup lagi pintu kamar karena saya merasa tidak pernah memesan duo serigala tersebut, wkwkwk. Rupanya mereka tidak menyerah dan mengetuk pintu lagi sambil bertanya, "Ini benar kamar Pak Hari khan? Saya istri pak kadispora, katanya Anda bisa membantu saya"

Saya sempat kaget mengetahui postur istri kadispora yang sudah berusia 50 tahun lebih tersebut. Tadinya saya berpikir istri beliau adalah wanita setengah baya yang mengalami kecanduan merokok sehingga perlu dibantu menghentikannya.

Masih dengan agak ragu, saya buka lagi pintu kamar saya sambil berkata, "Maaf Teh, saya pikir orang lain. Mana Bapak?"
"Bapak nunggu di lobby Pak, menghabiskan rokoknya. Saya datang bersama kakak saya yang juga ingin dibantu"

Setelah saya persilakan mereka masuk, akhirnya saya tahu bahwa salah satu wanita muda ini adalah istri kedua bapak kadispora. Dia dan kakaknya berprofesi sebagai penyanyi dangdut di kota kabupaten tersebut.

Entah informasi apa yang disampaikan suaminya mengenai profesi saya, namun permintaanya adalah agar aura mereka menjadi lebih bagus sehingga tidak akan terkalahkah oleh para biduanita muda pendatang baru. Sementara permintaan suaminya adalah menghentikan kebiasaan merokoknya. Waduh, beda kepentingan nih.

Namun, bukan ini masalah intinya karena dengan beberapa teknik hipnoterapi, saya bisa menaikkan rasa percaya diri mereka (sehingga dia akan merasa bahwa auranya sudah saya intervensi). Setelah itu bisa juga kebiasaan merokoknya diintervensi sekalian.

Justru dandanan mereka yang agak seronok ini yang bisa menjadi kendala proses terapi ini. Sebagaimana biasanya perempuan mengenakan rok pendek, ketika duduk pasti mereka akan berusaha menutupi paha mereka. Dan itu hanya terjadi ketika mereka dalam kondisi sadar, saya hanya membayangkan dalam kondisi hipnosa di mana semua otot tubuh lunglai, tentu dia tidak akan mampu melakukan hal itu lagi. Anda bisa membayangkan akibatnya kan?
Bisa-bisa malah saya yang akan terhipnosis hehehe

Maka sebelum memulai proses terapi, saya minta mereka memakai sarung dulu. "Teh, silakan pakai sarung ini dulu ya"
"Harus ya Pak?", tanya mereka nyaris serempak
"Gak juga sih. Tapi demi keamanan kita bersama, silkan dipakai saja sarung ini", kata saya setengah memaksa

Setelah mereka siap, saya memulai proses terapi. Mereka duduk di sofa dan saya mulai dengan teknik hand levitation. Saya berikan sugesti bahwa di tangan kanan mereka ada beberapa balon gas, sehingga tangan mereka perlahan terangkat. Ketika tangan itu sudah setinggi kepala mereka, saya minta mereka membayangkan semua balon gas meledak sehingga tangan mereka terjatuh. Bersamaan dengan jatuhnya tangan itu, mereka langsung masuk ke kondisi trance. Semua anggota tubuh mereka langsung lunglai. Kepala mereka tersender ke sofa, tangannya lunglai, daaaan kedua paha mereka merekah terbuka. Untung mereka sudah memakai sarung. Amaaan gumam saya dalam hati.

Hampir satu jam saya melakukan prosesi terapi ini, dan mereka merasa sangat segar serta percaya diri ketika terbangun.

Saya mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini yaitu dalam ruang terapi kita mesti menyediakan kain/selimut untuk melindungi klien agar merasa nyaman. Dan sebenarnya untuk melindungi kita dari godaan luar biasa profesi kita sebagai praktisi terapi olah pikir.

Anda ingin belajar menjadi terapis handal, bersahaja, serta memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Lembaga Pelatihan Hipnosis yang terdaftar di Kemendikbud?

Ikuti saja Pelatihan pelatihan dari Indonesian Hypnosis Centre (satu-satunya LKP hipnosis yang memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional) yang rutin diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bali, Palembang, Medan, Aceh, Surabaya, Yogyakarta, dll.


Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Coach 

No comments:

Artikel Unggulan

Genting atau Penting

Setiap hari semua orang akan selalu melakukan aktifitas dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Ada yang menjadi ASN, Polisi, Te...