POSTINGAN POPULER

Thursday, January 23, 2020

PARTS THERAPY PART TWO


Kasus perilaku buruk atau kebiasaan buruk, seringkali sulit diselesaikan, karena melibatkan 2 sub-kepribadian yang saling bertentangan. Kedua sub-kepribadian ini walaupun bertentangan, akan tetapi masing-masing memiliki “maksud baik” menurut versinya masing-masing. Dengan kata lain, walaupun salah satu sisi dianggap buruk, akan tetapi sisi tersebut pasti juga memiliki maksud baik, atau memiliki “keuntungan tersembunyi” (Secondary Gain).

Contoh :
Seorang anak balita yang sangat mudah makan, biasanya akan menyenangkan dan membanggakan orang tuanya, dan dianggap anak yang sehat.

Ketika dewasa, saat yang bersangkutan mengalami obesitas dan akan menjalankan diet, maka ada salah satu sub-kepribadian yang selalu melakukan sabotase, selain satu pribadi lainnya yang ingin melakukan perubahan (diet). Sisi sub-kepribadian yang melakukan sabotase, disebabkan adanya Secondary Gain hasil dari “Faulty Programming” saat usia balita.

Dalam kasus dimana diduga terjadi konflik internal antara 2 sisi sub-kepribadian, maka perlu dilakukan proses mediasi antara kedua bagian ini, dan inilah yang disebut sebagai PARTS THERAPY.
***

Masih dari  Workshop Advanced Hypnotherapy yang dilakukan di hotel Aston Marina Jakarta beberapa waktu yang lalu, ketika akan mempraktekkan teknik Parts Therapy ini, salah satu peserta menawarkan diri untuk menjadi klien, sebut saja namanya Mbak Vee.

Rupanya Mbak Vee memiliki kebiasaan mengkonsumsi gula secara berlebihan, dan ingin dibantu untuk menguranginya.

“Baiklah Mbak Vee, apakah sudah siap untuk dibantu?”

“Siap Pak Hari”

“Apa GOALNYA?”

“Setelah sesi ini saya mampu mengontrol konsumsi gula sesuai dengan kebutuhan badan saya”

Kemudian saya meminta seorang peserta lain (Mas Hendi) untuk melakukan induksi menggunakan trance recall kepada Mbak Vee. Karena sebelum sesi ini kita sudah melakukan asesmen dan hasilnya preferensi Mbak Vee adalah auditori, maka saya putarkan musik sebagai alat bantu menuju trance. Mas Hendi memulai aksinya dengan memberikan perintah sederhana agar Mbak Vee memperbaiki posisi duduknya, “Silakan duduk dengan nyaman, kedua kaki di lantai, kedua tangan di paha, dan pejamkan mata Anda. Sekarang bayangkan sebuah tempat yang sangat nyaman, nyaman sekali untuk Anda. Masuki gelombang relaksasi Anda semakin dalam, dan dalam hitungan 10 sampai 1, Anda akan merasa sangat nyaman. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1”

Mbak Vee sudah terlihat lelap, namun saya perhatikan kepalanya masih tegak, maka saya berasumsi bahwa dia masih berada dalam gelombang alfa, atau masih mengalami light trance. Padahal untuk melakukan teknik parts therapy paling tidak kita membutuhkan gelombang mid atau bahkan deep trance. Maka ketika mengambil alih kendali, saya lakukan deepening sekali lagi, sesuai dengan preferensinya, yaitu auditori.

“Mbak Vee, sesi saya ambil alih, dan sekarang dengarkan suara saya, serta fokus pada suara musik yang terdengar. Silakan diingat sebuah tempat atau sebuah suasana yang sangat nyaman untuk Anda. Munculkan suasana nyaman tersebut, lengkap dengan suara-suara yang ada di dalamnya. Dan dalam hitungan 10 sampai 1, Anda bisa langsung merasa sangat nyaman. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Nyaman sekali”

Pelan namun pasti kepala Mbak Vee mulai terkulai menandakan sudah tercapai relaksasi sempurna. Deep trance. Maka inilah saat tepat bagi saya untuk memulai teknik Parts Therapy.

“Mbak Vee, untuk melancarkan sesi ini saya minta ijin untuk menyentuh bahu kanan dan kiri. Jika diijinkan silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Mbak Vee. Kita mulai sesi ini. Jika nanti saya sentuh bahu kanan ini (sambil tangan saya menyentuh bahu kanan), maka saya memanggil bagian tubuh Anda yang ingin hidup lebih sehat. Sebut saja namanya Vee. Apakah Vee mengerti, jika mengerti maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Dan jika saya menyentuh bahu kiri ini (sambil saya menyentuh bahu kiri), maka saya memanggil bagian tubuh yang selama ini sangat menyukai gula. Sebut saja namanya adalah Gula. Apakah Gula mengerti, jika mengerti maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah, sekarang saya berbicara dengan gula (tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Apakah betul selama ini Gula sangat menyukai gula? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih sudah mau jujur Gula. Kalau boleh tahu, berapa sendok konsumsi gula Anda setiap hari, apakah di atas 10 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Lumayan banyak ya? Apakah di atas 15 sendok per hari? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Baiklah, berarti antara 10-15 sendok. Kita ambil tengahnya, apakah 13 sendok per hari? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Gula. Sekarang saya berbicara kepada Vee. (tangan saya menyentuh bahu kanan klien). Apakah Anda ingin jumlah asupan gula tadi dikurangi? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah Vee, sampai angka berapa pegurangan tersebut? Apakah di bawah 10 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Vee, sekarang saya berbicara kepada Gula (Tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Gula, Vee minta agar jumlah asupan gula dikurangi sampai di bawah 10 sendok per hari. Apakah Gula setuju, jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Bagus Gula, sampai angka berapakah? Apakah Gula setuju, jika kita kurangi sampai 5 sendok per hari saja? Jika setuju, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

Sampai tahap ini, saya berpikir masalah sudah selesai, karena Gula sudah bersedia mengurangi jumlah asupan gulanya. Namun masih ada satu langkah lagi, yaitu menanyakan kepada Vee, apakah dia juga setuju dengan Gula.

“Sekarang saya berbicara dengan Vee (tangan saya menyentuh bahu kanan klien). Vee, Gula sudah bersedia mengurangi asupan gula menjadi 5 sendok per hari. Apakah Anda bisa menerima keputusan Gula tersebut. Jika bisa, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Artinya Anda ingin lebih. Apakah cukup 6 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Apakah cukup 8 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah terimakasih Vee. Sekarang saya berbicara kepada Gula (tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Vee sudah setuju dengan jumlah asupan harian, yaitu 8 sendok, apakah Gula bisa menerima keputusan Vee ini? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

Yes, kelar sudah urusan ini. Saya bisa segera mengintegrasikan kedua part tadi. Namun sebelum menuju tahap tadi, saya mesti melakukan cek n ricek lagi kepada Vee. 

"Baiklah Vee (tangan saya menyentuh bahu kanan klien) Gula sudah sepakat juga dengan asupan 8 sendok per hari. Apakah ini artinya kita bisa akhiri sesi ini. Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan. (Telunjuk kanan diam) 

"Apakah Anda masih membutuhkan asupan lain, selain 8 sendok gula tadi? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Vee. Sekarang Anda bisa bicara dan kondisi Anda tetap seperti ini. Asupan apa lagi yang Anda butuhkan?"

"Buah...", jawab Mbak Vee pelan
"Oke. Buah apa dan berapa jumlahnya?"
"Empat pisang"
"Oke Vee, apakah artinya Anda sepakat dengan asupan 8 sendok gula dan 4 buah pisang? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan diam) 
"Oo belum cukup? Jika demikian ditambah apa lagi?"
"Apel tiga"
"Baiklah. Jadi 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Saya bicara dengan Gula sekarang. (Tangan saya menyentuh bahu kiri) Apakah gula setuju dengan asupan 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Vee dan Gula (Tangan saya menyentuh bahu kanan dan kiri), silakan bersatu lagi. Mulai sekarang dan selanjutnya demi kesehatan Mbak Vee secara holistik, maka asupan harian yang sesuai dan sehat adalah 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel. Ini merupakan program baru untuk Mbak Vee yang permanen. Program ini akan tetap menjadi milik Mbak Vee sampai nanti, sampai mati. Jika mengerti dan setuju dengan sugesti saya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Mbak Vee, bersiap untuk bangun. Dalam hitungan ke 3, silakan buka mata, dan kembali ke kesadaran Anda. Satu, dua, dan tiga. Sehat dan segar"
***

Meski terkesan sederhana, namun sekitar setengah jam juga sesi tadi terjadi. Sebagai terapis, kita mesti bersabar memandu klien mendapatkan goalnya. Berikut ini saya share langkah-Langkah Teknis Parts Therapy :

  1. Identifikasikan 2 sub-kepribadian yang saling bertentangan (harus menjadi 2 bagian, tidak boleh lebih), selanjutnya disebut sebagai Part (Silakan beri nama yang sesuai dan ciptakan anchor sebagai pembeda antar Part)
  2. Lakukan komunikasi kepada setiap Part, tanyakan alasan (Niat baik)  setiap Part.
  3. Mintalah antar Part untuk saling berkomunikasi, dengan pengarahan agar Part yang “negatif” dapat mendukung Part yang “positif”. Tidak boleh ada part yang dikalahkan, hasil komunikasi mesti win win solution
  4. Ketika hasil komunikasi sudah disetujui oleh kedua part, maka integrasikan kedua Part ini agar dapat mendukung perubahan yang diinginkan klien 
***

Ketika break makan malam saya perhatikan Mbak Vee sudah mulai mengubah pola makannya. Nasi hanya sedikit, lebih banyak sayur. Bahkan ketika desert berupa bolu coklat dia bertanya, ada pisang atau apel nggak? 

Disinilah sebagai terapis, saya merasa senang. Dan inilah saat yang tepat untuk mengatakan, "SEMPURNA!"




No comments:

Artikel Unggulan

MARKETING LANGIT

Sekelumit kisah mengenai RM Tamansari tempat saya dan team Café Therapy makan siang selepas seminar Find The Happiness in YOU di Pondok Pesa...