POSTINGAN POPULER

Tuesday, March 10, 2020

Genting atau Penting

Setiap hari semua orang akan selalu melakukan aktifitas dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Ada yang menjadi ASN, Polisi, Tentara, Pengusaha, Trainer, Dokter dll. Namun sayangnya dengan segala kesibukan yang kita miliki, waktu yang tersedia hanyalah 24 jam, sehingga kita mesti pandai-pandai mengalokasikan waktu yang dimiliki agar semua aktifitas bisa selesai dengan baik. 

Manusia paling cerdas yang pernah ada, Einstein saja tidak mampu menciptakan tambahan waktu meski hanya sedetik. Itulah makanya dia hanya mau membeli baju warna putih dan abu-abu serta pantalon hitam dan biru gelap, agar waktunya tidak habis hanya untuk memadu padan baju ketika mau bekerja. 

Dunia manajemen kemudian memperkenalkan aplikasi time management, yang menurut saya salah kaprah karena waktu tidak bisa dimenej. Yang bisa dimenej adalah aktifitasnya. So seharusnya istilahnya adalah activity management. 

Dalam teori activity management, kita mengenal dua komponen yaitu:
1. Importancy (sesuatu yang kita anggap penting) 
2. Urgency (sesuatu yang kita anggap genting) 

Dari dua komponen tersebut, kita bisa mendapatkan 4 kuadran,
A. Penting & Genting
B. Tak Penting & Tak Genting
C. Penting tapi Tak Genting
D. Tak Penting tapi Genting

Secara urutan melaksanakannya maka sudah sangat jelas bahwa kuadran A selalu menjadi prioritas utama. Segala sesuatu yang penting dan genting mesti didahulukan. Kuadran B tentu menjadi prioritas terakhir, karena segala sesuatu yang tak penting dan tak genting hanya akan menghabiskan waktu Anda. 

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah sekuensial setelah kuadran A itu kuadran C atau D. Kebanyakan dari kita akan memilih D. Apa sebab?  Ya karena ada situasi yang sudah genting. Sudah urgent! 

Sebelum setuju dengan pendapat mayoritas ini, marilah kita telaah beberapa premis di bawah ini. 

Kita tahu bahwa suplay energi di Indonesia dikuasai oleh negara, dalam hal ini PLN. Dan demi mentertibkan pelanggannya, kian hari PLN kian ketat dalam memberlakukan peraturan, utamanya terhadap pelanggan paska bayar. Telat satu bulan saja sudah akan dicabut sambungannya. 

Mensikapi situasi seperti ini apakah menurut Anda membayar listrik adalah sebuah hal penting? Ya, saya setuju jika Anda menjawab penting. 

Apakah membayar listrik di awal bulan seperti ini penting? Ya, saya juga setuju jika Anda menjawab penting, meskipun belum genting alias urgent. Pada tanggal 20 setiap bulan, barulah hal ini menjadi genting. 

Dari ilustrasi ini bisa disimpulkan bahwa sebuah kepentingan (Importancy) tidak bisa digeser kadarnya karena 
Sementara kegentingan (Urgency) justru bisa digeser karena hanya berhubungan dengan masalah waktu. 

Maka kuadran C merupakan sekuen kedua setelah kuadran A, dilanjutkan kuadran D. Alasannya sangatlah jelas, ketika hal yang penting tidak diprioritaskan maka hal-hal tersebut akan menjadi genting, sehingga semua kehidupan Anda akan dipenuhi kuadran A. Semuanya penting dan genting. 

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, saya akan ajukan beberapa pertanyaan tambahan kepada Anda. 

Apakah Anda setuju bahwa olah raga merupakan hal yang PENTING dalam hidup kita? Saya yakin sebagian besar dari Anda akan setuju. 

Jika Anda setuju, apakah setiap hari Anda melakukan olah raga? Apa? Tidak! 

Padahal Anda tahu khan bahwa olahraga yang memiliki efek menyehatkan tubuh adalah yang rutin. Jika hanya sekali sekali itu hanya akan membuat tubuh lelah. Lalu jika Anda yakin bahwa olahraga itu penting, kenapa tidak setiap hari melakukannya? Ya, saya paham kok. Banyak sekali alasan Anda, yang intinya adalah tidak ada waktu! 

Pertanyaan saya ganti sekarang. Apakah mandi merupakan hal yang PENTING bagi Anda? Tentu Anda jawab ya! Dan apakah setiap hari Anda mandi? Tentu jawaban Anda juga ya. Bagaimana jika suatu hari Anda bangun kesiangan, apakah Anda tetap mandi sebelum berangkat ke kantor? Tetap mandi khan? 

Nah, dari pertanyaan tambahan ini bisa kita tuliskan sebuah quote: 
'Sebenarnya tidak ada situasi atau hal dimana Anda bisa mengatakan TIDAK ADA WAKTU  yang ada adalah Anda belum menganggap situasi atau hal itu PENTING!' 

Maka tanyalah diri Anda sendiri, apakah shalat itu PENTING? Jam berapa biasanya Anda shalat dhuhur? Jam 2? Kenapa? Terlalu sibuk dengan kerjaan kantor, sehingga tidak ada waktu? Tidak ada waktu atau Anda belum menganggap shalat itu penting! 
***

Hari ini, tanggal 5 maret, sekali lagi saya melewatkan hari ulang tahun di luar kota, demi membersamai klien memberdayakan diri mereka. Bukan berarti saya  menganggap harlah saya tidak penting, namun saya memilih mendahulukan kepentingan klien yang meminta saya membersamai mereka di hari yang bersejarah bagi diri saya ini. 

Klien saya memilih saya di antara sekian banyak trainer lain, yang artinya mereka menganggap diri saya ini penting, maka saya perlu membalas pilihan mereka ini dengan menggeser kebersamaan saya dengan keluarga, karena masih akan selalu ada waktu untuk mereka. 

Terimakasih untuk keluarga saya yang selalu bisa memahami situasi genting ini!
Terimakasih kepada Anda semua (yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang telah ikut merayakan hari penting ini dengan ucapan-ucapan serta kiriman virtual card melalui medsos. 

Ingat ya bahwa
"Sebenarnya tidak ada istilah TIDAK ADA WAKTU,  kita hanya belum menganggap hal itu PENTING! Ituh....! "

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Wednesday, March 04, 2020

Quranic Memory Photographic



"Penasaran bangeeett ingatan fotografik Al Quran, bener terjadi. Kaila itu sebenarnya blm hafal Al Muzamil 1-20...eeeh benar dia bisa hafal dengan instan setelah dihipnotis.."

Pesan whatsapp tersebut saya baca di salah satu grup alumni IHC sehari setelah pelatihan Fundamental Hypnosis di Kendari yang saya ampu, minggu yang lalu. Artinya, sepulang pelatihan, peserta yang notabene seorang dokter ini langsung melakukan praktek beberapa teori yang sudah diberikan di kelas, hari itu juga. 

Wow, saya sendiri juga takjub dengan kemajuan teknik yang kemudian saya beri nama Qur'anic Memory Photographic tersebut. 

Sejujurnya teknik ini bukan murni kreasi saya. Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah video dari Syekh Ali Jaber yang sedang mengajarkan cara menghafal Al Qur'an dengan cepat. Beliau mencontohkan dengan memanggil salah satu santri dan minta dia membaca satu ayat seperti kebiasaan hariannya. Dan santri itu meletakkan mushaf di pangkuannya, sehingga posisi kepala agak menunduk. Setelah selesai membaca, mushaf segera diambil oleh Syekh Ali Jaber, dan santri tadi diminta untuk mengulangi bacaannya. Dengan tegang dan kebingungan, santri tadi berusaha mengucapkan lagi bacaannya. Namun meski berusaha keras, santri tadi hanya berhasil melafalkan akhir ayat tersebut. 

Kemudian Syekh Ali Jaber meminta santri tadi memegang mushaf dalam posisi agak ke atas sebelah kanan (sebelah kiri dari posisi kita, jika berhadapan dengan santri tadi), wajah tetap menghadap ke depan, hanya mata yang melirik ke arah mushaf,  dan menyuruh santri tadi untuk  memotret lembaran mushaf tadi. Hanya memotret, tidak boleh membaca meskipun hanya di dalam hati. Santri tadi diberi waktu selama beberapa menit untuk memerhatikan satu lembar pada bagian kiri atas (satu ayat saja). Ajaibnya setelah mushaf ditutup, seolah melihat lagi lembaran yang ada di dalam pikirannya, satu ayat bisa dilafalkan dengan baik. Menurut Syekh Ali Jaber, satu halaman mushaf bisa dihafalkan hanya dalam waktu 10 menit. 
***

Setelah melihat video tadi, saya seperti tersadar dari kelalaian saya selama ini. Bukankah saya mempelajari pemberdayaan pikiran bawah sadar sudah puluhan tahun, kenapa saya tidak mencoba teknik Syekh Ali Jaber tadi dengan lebih sempurna, yaitu menggunakan hipnosis. 

Seperti yang selama ini kita ketahui, bahwa pikiran manusia dibagi 2, yaitu Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) di mana porsi PBS sebesar 88% atau 7x lebih kuat dari PS. Dalam menerima informasi, PS akan susah masuk dan mudah keluar, sehingga dikenal sebagai pikiran STM (Short Term Memory). Sementara PBS cenderung mudah memasukkan informasi dan susah melepaskannya, sehingga dikenal dengan pikiran LTM (Long Term Memory).

Memang terdapat tantangan tersendiri untuk membuat LTM ini aktif, yang sebenarnya sangatlah mudah, yaitu hanya tinggal me-nonaktif-kan faktor kritis yang selalu menyertai PS. Ada beberapa kondisi di mana  faktor kritis ini akan non aktif, yaitu:
1. Pengulangan
2. Sosok Otoritas
3. Emosi yang sangat intens
4. Bingung/Kaget
5. Visualisasi/Imajinasi
6. Relaksasi Pikiran
7. Hipnosis

Maka sebagai praktisi hipnosis, saya melakukan eksperimen kepada beberapa klien, yang sebagian besar adalah anak-anak. Di bawah ini saya akan beberkan denga singkat teknik Qur'anic Memory Photographic 

1. Ajarkan klien untuk membuat GOAL (dalam NLP hal ini dikenal dengan istilah WellFormed Outcome), yang minimal memiliki 5 komponen
a. Kalimat positif 
b. Spesifik
c. Berada dalam kendali klien
d. Memiliki sumber daya
e. Menentukan langkah pertama

2. Selalu gunakan mushaf yang sama (Usahakan bukan digital) 

3. Lakukan induksi untuk membawa klien ke dalam kondisi hipnosa. Latih dulu memori klien (anak) dengan mengajak mereka bermain ke tempat favorit mereka, bisa mall, pantai atau kolam renang favorit mereka. Biarkan mereka bermain sesuka hati mereka selama beberapa saat, dan tanyakan apa pengalaman mereka ketika sudah terbangun. Cek apakah mereka bisa menceritakan dengan detail, apa yang mereka lihat, dengar dan rasa. Jika mereka belum terbiasa menceritakan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa, maka ajarkan dulu mereka akan hal ini. 

4. Induksi lagi, kemudian katakan bahwa ketika membuka mata nanti, kita akan memasangkan kamera ajaib ke dalam mata mereka, sehingga mereka akan mampu memotret halaman mushaf yang akan ditunjukkan nanti. 

5. Bangunkan klien, kemudian  letakkan mushaf sedikit ke atas agak ke kanan.  Wajah tetap ke depan, mata saja yang melirik. Minta mereka memotret satu halaman mushaf tadi. 

Dengan cara ini maka mata akan mengakses otak kanan. Dalam NLP kita mengenal istilah eye accessing cue. Posisi mata melirik ke kanan atas sama dengan kondisi visual creation. 

Dengan cara ini maka klien akan melakukan scanning. Kita semua paham bahwa sebuah alat scan akan menghasilkan output yang sama. Mata manusia memiliki pixel (picture elemen) tujuh puluh ribu kali kekuatan dibandingkan alat scan/kamera paling canggih sekalipun. Maka hasil scan-nya juga pasti sama persis dengan benda yang discan. 

Kemudian minta klien melihat di dalam pikirannya (bisa mata terbuka atau tertutup) yang berada pada sudut kiri atas (dalam NLP  kondisi ini adalah visual remembering) dan membaca mushaf yang sekarang sudah nyata berada dalam pikirannya. Dengan sistem ini maka satu lembar mushaf, in syaa Allah akan langsung masuk menjadi LTM dalam hitungan detik. 

Bagaimana, mudah bukan? 

Tetiba saja, masuk satu pesan whatsapp lagi di grup yang sama: 

"Terimakasih atas ilmu dan pengalaman Master Hari yg dibagikan ke peserta walaupun hanya sesaat (saya telat datang Krn Ada agenda lain), namun sangat berkesan, terutama anak saya Dian  tadi malam pesan untuk dihipnoterapy kl pas ulangan biar TDK susah menghafal pelajaran. Salam dari Dian untuk om Master, 
See you again.  Trm's"

Di sinilah, sebagai trainer saya merasa bahagia. Jadi kata siapa, belajar hipnosis perlu waktu lama? 

Daftarkan segera diri Anda di kelas-kelas Fundamental Hypnosis yang rutin kami lakukan di seluruh Indonesia melalui www.centerhipnotis.com

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#ihc
#pkhi
#hipnosisuntuknegeri

Wednesday, January 29, 2020

MARKETING LANGIT


Sekelumit kisah mengenai RM Tamansari tempat saya dan team CafĂ© Therapy makan siang selepas seminar Find The Happiness in YOU di Pondok Pesantren Darul Qur’an beberapa waktu yang lalu masih membekas dalam hati saya sampai saat ini. Adalah Mas Didin (Direktur Operasional Putra, Darul Quran Solo Raya) yang menceritakan asal muasal ramainya tempat makan tersebut.

Rumah makan yang beralamat di Jl. Adi Sucipto No.168, Colomadu, Kabupaten Karanganyar tersebut selain letaknya yang sangat strategis, juga menyajikan aneka macam lauk khas makanan Jawa yang sangat enak sehingga memanjakan lidah pelanggannya. Setiap hari tak kurang dari ratusan bis, baik pariwisata maupun antar kota yang merapat di rumah makan yang memiliki halaman sangat luas tersebut. Belum lagi puluhan kendaraan pribadi dari warga sekitar Solo yang juga hilir mudik bergantian parkir di depan rumah makan yang didirikan oleh pasangan suami istri Bapak dan Ibu Ismail. Di halaman dalam bahkan disediakan sebuah masjid dengan nama Masjid Ismail yang lumayan luas dan mewah karena dilengkapi dengan lift untuk menuju lantai 2. 

Dalam perjalanan pulang ke pondok itulah Mas Didin bercerita. Konon Bu Ismail memulai rumah makannya dalam bentuk warung kecil yang sederhana. Meski warungnya kecil, namun halaman parkirnya termasuk luas, karena memang ditujukan untuk menampung bis antar kota dan bis pariwisata. Pada suatu waktu  ada satu rombongan wisata yang terdiri dari beberapa bis yang singgah di warung Tamansari tersebut. Ketika waktu istirahat sudah usai, dan rombongan hendak berangkat melanjutkan perjalanan, rupanya ada satu bis yang tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan lumayan parah.

Pimpinan rombongan segera mencari armada bis cadangan dari pool terdekat. Namun bis naas tadi mesti ditinggal di halaman warung Tamansari karena bergerakpun sudah tak sanggup lagi. Konsekuensi logisnya adalah kru bis mesti tinggal sembari menunggui montir yang juga sudah dipanggil untuk segera melakukan servis pada mesin bis tersebut. 

Ketika minta ijin untuk meminjam halaman parkir guna melakukan servis, kepala kru bis tersebut terkejut ketika Bu Ismail justru minta dihubungkan dengan juragan PO (Perusahaan Otobus) via telepon. Inti dari pembicaraan per telepon itu adalah Bu Ismail minta agar sang juragan tenang saja. Bu Ismail berjanji untuk menjaga kru bisnya, mereka boleh tidur di warung Tamansari, bahkan bonus dengan makan, minum serta rokok sampai bis tersebut selesai diperbaiki. 

Tentu saja juragan bis yang rupanya seorang wanita separuh baya keturunan Tionghoa tersebut mengucapkan terimakasih kepada Bu Ismail sambil berurai air mata. Dia tidak menyangka masih ada orang sebaik Bu Ismail di jaman yang serba tidak menentu kala itu. Mereka tidak saling kenal, namun Bu Ismail memperlakukan kru bisnya layaknya saudara saja. 

Singkat cerita, setelah 4 hari diservis, bis tersebut sudah bisa berjalan lagi dengan lancar. Para kru bis berpamitan sambil tak henti mengucapkan terimakasih kepada Bu Ismail. Bu Ismail melepas mereka dengan bonus lagi memberikan mereka bekal untuk makan, minum dan rokok di perjalanan. 

Keajaiban terjadi setelah hari itu. Seolah air bah, rombongan bis pariwisata dan antar kota yang singgah di warung Tamansari tak bisa dibendung lagi. Bu Ismail bahkan belum ngeh bahwa pertolongan kepada kru bis itu yang menjadi penyebab rombongan bis berdatangan. Rupanya kru bis termasuk sang juragan menceritakan kebaikan Bu Ismail kepada kolega mereka. Mereka berpesan, kalau lewat Colomadu, maka sempatkanlah mampir di warung Tamansari. Selain makanannya enak, pelayanannya sangat ramah, tempatnya juga bersih. Word of mouth (pesan dari mulut ke mulut) memang telah terbukti merupakan alat promosi nomor satu di dunia marketing. 

Karena tak sanggup lagi menampung parkir serta tempat duduk para pelanggan, maka dengan pesat warung Tamansari bermetamorfosis menjadi Restoran Tamansari seperti sekarang ini. 

Semua terjadi atas ijin Allah. Ketika menolong kru bis tersebut, bahkan Bu Ismail tak pernah terpikirkan akan memeroleh balasan sebesar ini. Yang namanya IKHLAS adalah menolong tanpa pamrih sedikitpun. IKHLAS adalah kependekan dari Ini Kulakukan Hanya Lantaran Allah Semata. Inilah Marketing Langit, yang jika dilakukan secara rutin maka akan menjamin kebaikan kita di dunia dan di akhirat.

Maka Kawan, ketika ingin berbuat baik, janganlah memikirkan perbuatan itu ditujukan untuk sesama, namun tujukanlah perbuatan baik itu seolah untuk Allah, Sang Maha Pencipta. Jika kita telah sanggup melakukannya, maka in syaa Allah Marketing Langit akan mendatangi kita. 

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

PART THERAPY PART THREE



Sekilas cerita terapi dari Workshop Advanced Hypnotherapy Solo beberapa waktu yang lalu. Cerita Part Therapy Part Two, yang mampu membuat Mbak Vee membatasi konsumsi gula rupanya menarik perhatian Ki Seno untuk mencobanya. 

Dan demi melatih peserta pelatihan mempraktekkan tekniknya, maka saya minta Mas Ricky untuk melakukan induksi kepada Ki Seno. Teknik induksi yang paling praktis serta client friendly dalam terapi adalah trance recall. Maka setelah Ki Seno duduk dengan nyaman dan memejamkan mata, Mas Ricky meminta Ki Seno untuk membayangkan tempat yang paling nyaman demi mengakses kondisi kenyamanan (trance) yang paling dalam. 

Mengikuti cerita pada Part Therapy Part Two, Mas Ricky memegang pundak Ki Seno sambil mengatakan bahwa setiap kali dia memegang pundak kiri, dia sedang bicara dengan Gula. Setelah itu dia memegang pundak kanan, sambil berkata bahwa setiap kali dia memegang pundak kanan, dia berbicara dengan Ki Seno. 

Proses terapipun dimulai. Mas Ricky yang dalam pre induction talk sudah mendapat informasi bahwa selama ini asupan gula Ki Seno adalah 8 sendok per hari, langsung memegang pundak kanan sambil berkata, "Ki Seno, apakah bersedia mengurangi asupan gula dari delapan ke tujuh sendok? Jika setuju gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Bagus" Sekarang Mas Ricky memegang pundak kiri, "Wahai Gula, Ki Seno sudah sepakat untuk mengurangi asupan gula menjadi 7 sendok sehari. Apakah Gula juga setuju, jika ya gerakkan telunjuk tangan kiri" (Telunjuk kiri diam) 

Mas Ricky terdiam kebingungan. Maka saya memberi masukan untuk bertanya secara verbal. 

"Gula, silakan sekarang Gula bisa menjawab secara verbal, apa yang diharapkan?", Mas Ricky melanjutkan sesi terapinya
"Saya mau kondisi gula darah stabil 80-120 mg/dL", mulut Ki Seno menjawab dengan lirih. 

Mas Ricky diam terbengong-bengong mendengar jawaban ini. Maka saya memanggil dr. Erlambang untuk mengambil alih sesi terapi. 

"Ki Seno, saya dr. Erlambang, ijinkan saya meneruskan sesi ini. Jadi Ki Seno mengharapkan gula darah normal 80-120 mg/dL? Jika betul gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)

Kemudian dr. Erlambang memegang pundak kanan, "Jika Ki Seno berharap kondisi gula darah normal tersebut, apakah bersedia mengurangi lagi asupan gula di bawah 7 sendok per hari? Jika bersedia gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan diam) 

"Jika demikian apa yang akan dilakukan untuk mencapai kondisi tersebut. Silakan se"Baiklah. Olah raga apa yang akan dilakukan? ",karang Ki Seno bisa menjawab dengan verbal"
"Olah raga rutin", jawab Ki Seno lirih
 tanya dr. Erlambang lagi. 

Singkat cerita part Ki Seno akan menambah latihan rutin berupa badminton, renang dan jalan sehat masing-masing sebanyak 3x satu minggu. Part gula mengurangi konsumsi gula menjadi 7 sendok per hari. Saatnya untuk melakukan integrasi antar part, dan menjadikan kesepakatan ini sebagai program baru Ki Seno. Namun keanehan terjadi ketika klarifikasi terakhir mengenai kebiasaan olah raga ini, part kanan (Ki Seno) tidak merespon. (Telunjuk kanan diam) 

Setelah berpikir sejenak, akhirnya sesi terapi saya ambil alih, 
"Assalamualaikum Ki Seno, saya Hari Dewanto akan lanjutkan sesi ini. Ketika saya memegang pundak kanan maka saya bicara dengan Pak Seno. Dan ketika saya memegang pundak kiri saya bicara dengan Gula. Jika setuju gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Apakah Gula sudah bersedia mengurangi asupan gula menjadi 7 sendok perhari? Jika ya gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)
"Bagus. Pak Seno, agar gula darah normal tetap di angka 80-120 mg/dL, apakah Pak Seno bersedia untuk rutin melakukan olah raga badminton, renang, dan jalan sehat seminggu tiga kali? Jika bersedia, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak"

"Bagus. Maka sekarang saatnya untuk melakukan integrasi. Pak Seno dan gula silakan bersatu lagi menjadi Ki Seno, dimana program barunya adalah asupan gula 7 sendok per hari dan olah raga rutin badminton, renang dan jalan sehat seminggu tiga kali. Apakah Ki Seno setuju? Jika setuju silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)

"Baiklah Ki Seno, program ini permanen menjadi milik Ki Seno dari sekarang dan selamanya. Sampai nanti sampai mati. Dan dalam hitungan tiga, silakan buka mata, bangun dalam kondisi sehat dan segar. Sehat dan segar. Satu, dua, dan tiga. Sehat. Segar"
***

Sidang Pembaca yang berbahagia adakah di antara Anda yang menandai, kenapa proses integrasi pertama yang akan dilakukan oleh dr. Erlambang terhambat? 

Bingung? 

Yes. Pikiran bawah sadar itu sangat cerdas dan sangat konsisten. Ini hanya masalah konsistensi. Ketika Mas Rian pertama kali memanggil part Ki Seno sambil memegang pundak kanan, dia memberi nama Ki Seno. Apa salahnya dengan nama ini? Tidak ada yang salah, hanya saja nama ini identik dengan whole body Ki Seno. Ki Seno adalah entitas atau identitas keseluruhan badan dan pikir dari Ki Seno itu sendiri, maka ketika nama itu dijadikan identitas sebuah part, terjadi kebingungan pada pikiran bawah sadar. 

Itulah kenapa ketika saya ambil alih, part kanan saya ganti namanya menjadi Pak Seno. Bisakah kita ganti namanya langsung menjadi Seno saja? Mungkin saja bisa, namun tidak akan ekologis mengingat usia terapis yang berada di bawah usia klien. 

Asyik ya ternyata bermain dengan pikiran bawah sadar? Asyik dan diperlukan kreatifitas tingkat tinggi. 

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist

Thursday, January 23, 2020

BECOMING PROFESSIONAL HYPNOTHERAPIST


Menjadi seorang terapis adalah pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Meskipun banyak pelatihan menuju jenjang terapis, namun nyatanya hanya segelintir orang yang mendedikasikan dirinya untuk benar-benar membantu kesembuhan orang lain. 

Demikian juga halnya dalam hal hipnoterapi. Maka agar mampu terjun dalam ranah terapi dengan benar, dibutuhkan pelatihan hipnoterapi yang berkualitas, dipandu oleh terapis yang mumpuni serta diselenggarakan  oleh lembaga yang legal. 

Meski titelnya adalah hipnoterapi, namun jangan dipikir bahwa kita akan langsung menghipnosis klien begitu tiba di runag praktek kita. Ada dua jenis intervensi yang mesti kita lakukan, yaitu:

A. CONSCIOUS MIND INTERVENTION 
Merupakan tahap intervensi dalam keadaan 'fully awake' (gelombang beta). Tahapan ini sudah bisa dimulai ketika calon klien menghubungi terapis. Sebagai terapis, kita bisa minta semua data 'sosmed'-nya, sehingga kita sudah bisa melakukan stalking sebelumnya. Adapun langkah lengkapnya adalah sbb:

1. Pre-Induction Talk
Ketika melakukan wicara sebelum induksi, kita mesti menggali sebanyak mungkin informasi dari klien, termasuk di antaranya adalah:

Building Rapport atau menjalin hubungan demi tercapainya keterhubungan bawah sadar (Sub conscious connected) antara terapis dengan klien. Tujuan dari langkah ini adalah mendapatkan TRUST klien.

Exploring Client Modalities atau mencari tahu preferensi klien dalam menerima informasi dari dunia luar. Apakah dia dominan Visual, Auditori ataukah Kinestetik

Hypnotherapy Training adalah penjelasan logis mengenai proses dan keseluruhan sesi terapi.

Suggestibility Test yang merupakan serangkaian tes sederhana untuk mengetahui apakah klien itu memiliki tingkat sugestivitas tinggi, menengah atau rendah

2. Intake Interview
Prinsip dari tahap ini adalah, semakin banyak data yang kita miliki mengenai klien, maka akan semakin mudah proses intervensi yang nantinya akan kita lakukan. Apa saja yang perlu kita tanyakan kepada klien?

Symptom, tanyakan gejala gangguan atau situasi yang sedang dialami klien. Gunakan Scaling Question untuk mengetahui seberat apa kondisi yang sedang dialami klien

Outcome (Clear, Realistic, Staging) atau GOAL klien. Biasanya ketika menggali goal dari klien, maka saya akan menggunakan teknik Miracle Question, sbb:

“Jika nanti malam terjadi sebuah keajaiban, bisakah Anda ceritakan kondisi Anda keesokan harinya yang sudah sembuh?”

Agar sebuah GOAL mudah dicapai, maka perlu mengikuti sebuah kaidah yang sesuai dengan cara kerja pikiran manusia, sbb:
- Ditulis dalam kalimat positif
- Berada dalam kendali kita
- Spesifik
- Rasional dan ekologis
- Terukur dan bisa dirasakan oleh indera kita

Mengklarifikasi Negative Mindset
- Menghakimi masa depan
- Negative Thinking
- Menyalahkan Lingkungan / Pihak Luar
- Menginginkan perubahan instan
- Menyesali masa silam
- Menyalahkan diri sendiri
- Dan lain-lain

3. Reframe
Atau memaknai ulang segala kejadian yang sudah atau sedang terjadi. Dengan memberikan makna baru, maka klien menjadi memiliki pilhan tindakan yang akan diambilnya. Tahap ini meliputi:

New Understanding, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan memahamkan bahwa klien tidak sedang berada dalam sebuah masalah, mereka hanya sedang berada dalam sebuah SITUASI.

Clarify The Problem (Map vs Territory), pisahkan antara keluhan dan kondisi yang ingin diintervensi.

Realistic, meski menggunakan hypnosis, namun perubahan yang terjadi tetap bertahap dan perlu usaha yang konsisten dari klien  
***

B. SUBCONSCIOUS MIND INTERVENTION
Setelah semua urusan intervensi pikiran sadar kelar, masih ada 3 hal penting yang mesti disiapkan:
  1. Tanyakan apakah klien siap dibantu
  2. Jika klien siap, maka pandu klien menemukan GOALnya (dalam NLP dikenal dengan WellFormed Outcome/WFO) 
  3. Tentukan WFO kita sebagai terapis yang mendukung WFO klien.

Ketika semua tahapan di atas dilalui, maka sekarang saatnya terapis melakukan Formal Hypnosis (Trance/Relax) dengan semua urutannya seperti induksi, deepening, sugesti dan terminasi. Adapun strateginya adalah sbb:

• Phase 1 : Conditioning
Tentukan induksi apa yang cocok, deepening yang paling sesuai, dan latihlah klien untuk keluar masuk kondisi trance dengan baik

• Phase 2 : Optional Therapeutic
Ada beberapa teknik yang bisa dipilih untuk masing-masing sesi, seperti Part Therapy, Forgiveness Therapy,  Direct Suggestion, Object Imagery, Future Pacing
Gestalt, Anchoring, Role Model, Desensitization, Sub modalities Intervention, dll

• Phase 3 : Empowerment
Ketika mengakhiri sebuah sesi, terapis wajib memberikan kalimat empowerement. Kalimat yang paling sederhana adalah, “Dalam hitungan ke 3, Anda akan membuka mata dalam kondisi sehat, segar, dan penuh percaya diri”

Demikian sekilas ulasan saya mengenai tahapan menjadi hipnoterapis professional. Saya akan menutup tulisan ini dengan quote terkenal dari Bapak Hipnoterapi Modern, Milton Erickcon, “People do not come into therapy to change their past but their future”

Maka marilah kita penuhi keinginan para calon klien kita dengan menjadi seorang hipnoterapis yang mumpuni serta legal.

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist

PARTS THERAPY PART TWO


Kasus perilaku buruk atau kebiasaan buruk, seringkali sulit diselesaikan, karena melibatkan 2 sub-kepribadian yang saling bertentangan. Kedua sub-kepribadian ini walaupun bertentangan, akan tetapi masing-masing memiliki “maksud baik” menurut versinya masing-masing. Dengan kata lain, walaupun salah satu sisi dianggap buruk, akan tetapi sisi tersebut pasti juga memiliki maksud baik, atau memiliki “keuntungan tersembunyi” (Secondary Gain).

Contoh :
Seorang anak balita yang sangat mudah makan, biasanya akan menyenangkan dan membanggakan orang tuanya, dan dianggap anak yang sehat.

Ketika dewasa, saat yang bersangkutan mengalami obesitas dan akan menjalankan diet, maka ada salah satu sub-kepribadian yang selalu melakukan sabotase, selain satu pribadi lainnya yang ingin melakukan perubahan (diet). Sisi sub-kepribadian yang melakukan sabotase, disebabkan adanya Secondary Gain hasil dari “Faulty Programming” saat usia balita.

Dalam kasus dimana diduga terjadi konflik internal antara 2 sisi sub-kepribadian, maka perlu dilakukan proses mediasi antara kedua bagian ini, dan inilah yang disebut sebagai PARTS THERAPY.
***

Masih dari  Workshop Advanced Hypnotherapy yang dilakukan di hotel Aston Marina Jakarta beberapa waktu yang lalu, ketika akan mempraktekkan teknik Parts Therapy ini, salah satu peserta menawarkan diri untuk menjadi klien, sebut saja namanya Mbak Vee.

Rupanya Mbak Vee memiliki kebiasaan mengkonsumsi gula secara berlebihan, dan ingin dibantu untuk menguranginya.

“Baiklah Mbak Vee, apakah sudah siap untuk dibantu?”

“Siap Pak Hari”

“Apa GOALNYA?”

“Setelah sesi ini saya mampu mengontrol konsumsi gula sesuai dengan kebutuhan badan saya”

Kemudian saya meminta seorang peserta lain (Mas Hendi) untuk melakukan induksi menggunakan trance recall kepada Mbak Vee. Karena sebelum sesi ini kita sudah melakukan asesmen dan hasilnya preferensi Mbak Vee adalah auditori, maka saya putarkan musik sebagai alat bantu menuju trance. Mas Hendi memulai aksinya dengan memberikan perintah sederhana agar Mbak Vee memperbaiki posisi duduknya, “Silakan duduk dengan nyaman, kedua kaki di lantai, kedua tangan di paha, dan pejamkan mata Anda. Sekarang bayangkan sebuah tempat yang sangat nyaman, nyaman sekali untuk Anda. Masuki gelombang relaksasi Anda semakin dalam, dan dalam hitungan 10 sampai 1, Anda akan merasa sangat nyaman. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1”

Mbak Vee sudah terlihat lelap, namun saya perhatikan kepalanya masih tegak, maka saya berasumsi bahwa dia masih berada dalam gelombang alfa, atau masih mengalami light trance. Padahal untuk melakukan teknik parts therapy paling tidak kita membutuhkan gelombang mid atau bahkan deep trance. Maka ketika mengambil alih kendali, saya lakukan deepening sekali lagi, sesuai dengan preferensinya, yaitu auditori.

“Mbak Vee, sesi saya ambil alih, dan sekarang dengarkan suara saya, serta fokus pada suara musik yang terdengar. Silakan diingat sebuah tempat atau sebuah suasana yang sangat nyaman untuk Anda. Munculkan suasana nyaman tersebut, lengkap dengan suara-suara yang ada di dalamnya. Dan dalam hitungan 10 sampai 1, Anda bisa langsung merasa sangat nyaman. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Nyaman sekali”

Pelan namun pasti kepala Mbak Vee mulai terkulai menandakan sudah tercapai relaksasi sempurna. Deep trance. Maka inilah saat tepat bagi saya untuk memulai teknik Parts Therapy.

“Mbak Vee, untuk melancarkan sesi ini saya minta ijin untuk menyentuh bahu kanan dan kiri. Jika diijinkan silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Mbak Vee. Kita mulai sesi ini. Jika nanti saya sentuh bahu kanan ini (sambil tangan saya menyentuh bahu kanan), maka saya memanggil bagian tubuh Anda yang ingin hidup lebih sehat. Sebut saja namanya Vee. Apakah Vee mengerti, jika mengerti maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Dan jika saya menyentuh bahu kiri ini (sambil saya menyentuh bahu kiri), maka saya memanggil bagian tubuh yang selama ini sangat menyukai gula. Sebut saja namanya adalah Gula. Apakah Gula mengerti, jika mengerti maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah, sekarang saya berbicara dengan gula (tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Apakah betul selama ini Gula sangat menyukai gula? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih sudah mau jujur Gula. Kalau boleh tahu, berapa sendok konsumsi gula Anda setiap hari, apakah di atas 10 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Lumayan banyak ya? Apakah di atas 15 sendok per hari? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Baiklah, berarti antara 10-15 sendok. Kita ambil tengahnya, apakah 13 sendok per hari? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Gula. Sekarang saya berbicara kepada Vee. (tangan saya menyentuh bahu kanan klien). Apakah Anda ingin jumlah asupan gula tadi dikurangi? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah Vee, sampai angka berapa pegurangan tersebut? Apakah di bawah 10 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Terimakasih Vee, sekarang saya berbicara kepada Gula (Tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Gula, Vee minta agar jumlah asupan gula dikurangi sampai di bawah 10 sendok per hari. Apakah Gula setuju, jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Bagus Gula, sampai angka berapakah? Apakah Gula setuju, jika kita kurangi sampai 5 sendok per hari saja? Jika setuju, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

Sampai tahap ini, saya berpikir masalah sudah selesai, karena Gula sudah bersedia mengurangi jumlah asupan gulanya. Namun masih ada satu langkah lagi, yaitu menanyakan kepada Vee, apakah dia juga setuju dengan Gula.

“Sekarang saya berbicara dengan Vee (tangan saya menyentuh bahu kanan klien). Vee, Gula sudah bersedia mengurangi asupan gula menjadi 5 sendok per hari. Apakah Anda bisa menerima keputusan Gula tersebut. Jika bisa, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Artinya Anda ingin lebih. Apakah cukup 6 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan diam)

“Apakah cukup 8 sendok? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

“Baiklah terimakasih Vee. Sekarang saya berbicara kepada Gula (tangan saya menyentuh bahu kiri klien). Vee sudah setuju dengan jumlah asupan harian, yaitu 8 sendok, apakah Gula bisa menerima keputusan Vee ini? Jika ya, maka gerakkan telunjuk tangan kanan” (Telunjuk kanan bergerak)

Yes, kelar sudah urusan ini. Saya bisa segera mengintegrasikan kedua part tadi. Namun sebelum menuju tahap tadi, saya mesti melakukan cek n ricek lagi kepada Vee. 

"Baiklah Vee (tangan saya menyentuh bahu kanan klien) Gula sudah sepakat juga dengan asupan 8 sendok per hari. Apakah ini artinya kita bisa akhiri sesi ini. Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan. (Telunjuk kanan diam) 

"Apakah Anda masih membutuhkan asupan lain, selain 8 sendok gula tadi? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Vee. Sekarang Anda bisa bicara dan kondisi Anda tetap seperti ini. Asupan apa lagi yang Anda butuhkan?"

"Buah...", jawab Mbak Vee pelan
"Oke. Buah apa dan berapa jumlahnya?"
"Empat pisang"
"Oke Vee, apakah artinya Anda sepakat dengan asupan 8 sendok gula dan 4 buah pisang? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan diam) 
"Oo belum cukup? Jika demikian ditambah apa lagi?"
"Apel tiga"
"Baiklah. Jadi 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Saya bicara dengan Gula sekarang. (Tangan saya menyentuh bahu kiri) Apakah gula setuju dengan asupan 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel? Jika ya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan". (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Vee dan Gula (Tangan saya menyentuh bahu kanan dan kiri), silakan bersatu lagi. Mulai sekarang dan selanjutnya demi kesehatan Mbak Vee secara holistik, maka asupan harian yang sesuai dan sehat adalah 8 sendok gula plus 4 buah pisang dan 3 buah apel. Ini merupakan program baru untuk Mbak Vee yang permanen. Program ini akan tetap menjadi milik Mbak Vee sampai nanti, sampai mati. Jika mengerti dan setuju dengan sugesti saya,  silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Baiklah Mbak Vee, bersiap untuk bangun. Dalam hitungan ke 3, silakan buka mata, dan kembali ke kesadaran Anda. Satu, dua, dan tiga. Sehat dan segar"
***

Meski terkesan sederhana, namun sekitar setengah jam juga sesi tadi terjadi. Sebagai terapis, kita mesti bersabar memandu klien mendapatkan goalnya. Berikut ini saya share langkah-Langkah Teknis Parts Therapy :

  1. Identifikasikan 2 sub-kepribadian yang saling bertentangan (harus menjadi 2 bagian, tidak boleh lebih), selanjutnya disebut sebagai Part (Silakan beri nama yang sesuai dan ciptakan anchor sebagai pembeda antar Part)
  2. Lakukan komunikasi kepada setiap Part, tanyakan alasan (Niat baik)  setiap Part.
  3. Mintalah antar Part untuk saling berkomunikasi, dengan pengarahan agar Part yang “negatif” dapat mendukung Part yang “positif”. Tidak boleh ada part yang dikalahkan, hasil komunikasi mesti win win solution
  4. Ketika hasil komunikasi sudah disetujui oleh kedua part, maka integrasikan kedua Part ini agar dapat mendukung perubahan yang diinginkan klien 
***

Ketika break makan malam saya perhatikan Mbak Vee sudah mulai mengubah pola makannya. Nasi hanya sedikit, lebih banyak sayur. Bahkan ketika desert berupa bolu coklat dia bertanya, ada pisang atau apel nggak? 

Disinilah sebagai terapis, saya merasa senang. Dan inilah saat yang tepat untuk mengatakan, "SEMPURNA!"




Monday, January 20, 2020

DORAEMON



Hotel Aston Marina, 19 Jan 2020

Sepenggal cerita menarik dari pelatihan Advanced Hypnotherapy (Level 2) di Jakarta kemarin. Dikarenakan pada level ini peserta diharapkan mampu mempraktekkan teknik-teknik terapi dengan baik, maka trainer dituntut kelihaiannya dalam memberikan contoh kepada para peserta. 

Salah satu teknik yang selalu menarik perhatian saya adalah Age Regression atau menarik mundur usia klien, yang mampu membawa pikiran klien menuju masa lalu demi menemukan akar masalah yang sedang dihadapinya.  

Secara garis besar teknik ini dibagi 2, yaitu:

1. Hypermnesia dimana ingatan klien dibuat menjadi beberapa kali lebih tajam guna mengingat peristiwa yg telah dialami, namun tanpa membawanya ke masa lalu

2. Revivication dimana pikiran klien betul-betul dibawa ke masa lalu seperti menggunakan mesin waktu. Klien seolah mengalami lagi peristiwa tersebut. 
***

Nah, ketika ingin menunjukkan teknik hipermnesia ini, saya tanyakan apakah ada peserta yang mau dibantu menemukan benda yang hilang (lupa meletakkan). Dan salah satu peserta (Mas Otig) berkata jika dia lupa menyimpan buku rapor anaknya. 

Tentunya diperlukan tips dan trik tersendiri ketika melakukan teknik ini, karena kita tidak bisa sekedar memberikan sugesti seperti ini, "Dalam hitungan ketiga, ingatan Anda akan semakin tajam. Anda semakin ingat dan ingat"

Pikiran bawah sadar membutuhkan sebuah visualisasi yang nyata ketimbang sebuah kata 'ingat', maka saya biasanya membuat sebuah skenario pencarian menggunakan benda ajaib, makhluk ajaib, hewan, atau apapun yang menurut belief klien bisa membantunya menemukan bendanya. Dalam pengalaman saya membantu klien, ada yang menggunakan tokoh detektif dalam kartun kesukaannya. Ada yang menggunakan alat ajaib doraemon, ada yang memunculkan kucing, anjing, bahkan mahkluk astral berupa asap putih yang bisa terbang. Semua tergantung klien, bukan kehendak kita sebagai terapis.
***

Hari itu saya gunakan detektif Conan untuk membantu Mas Otig. Dalam trance-nya, saya minta Mas Otig mengikuti gerakan detektif Conan di pikirannya sampai detektif tadi berhenti, di situlah buku rapor berada. Hampir setengah jam berlalu, dan tidak ada tanda-tanda dari Mas Otig yang menunjukkan bahwa detektif Conan telah menemukan buku rapor. Maka saya bangunkan dulu Mas Otig, dan melanjutkan mencari informasi. 

"Apakah Detektif Conan tidak berhenti Mas?"
"Tidak Pak Hari, dia muter-muter saja. Bisa tidak kalau dibantu dengan cara lain. Saya curiga buku itu tidak berada di rumah saya. Bisa jatuh di jalan, atau tertinggal di rumah mertua?", tanya Mas Otig

Pantesan Conan hanya muter-muter saja, rupanya ada kemungkinan buku tadi berada di tempat lain. 

"Baiklah Mas Otig, kita gunakan alat Doraemon saja ya. Alatnya berbentuk tongkat pencari buku rapor. Ada tiga lampu di stangnya, kuning, merah dan hijau. Jika nanti saat Anda tekan tombol pencarian, kemudian lampu kuning menyala, artinya buku itu jatuh di jalan, jika merah artinya ada di rumah Anda, jika hijau artinya ada di rumah mertua. Apakah Anda siap?"

Kemudian, saya minta salah satu peserta lain untuk melakukan induksi kepada Mas Otig menggunakan teknik tercepat, yaitu trance recall. Dan ketika kepala Mas Otig sudah terkulai, menunjukkan dia sudah masuk dalam kondisi deep sleep, saya berikan dia narasi sbb: "Baiklah Mas Otig, sekarang di tangan Anda sudah ada sebuah alat pencari. Silakan tekan tombol on. Apakah lampu kuning menyala? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda. (Telunjuknya diam) 

Baiklah, berarti rapor itu tidak jatuh di jalan. Apakah lampu merah menyala? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda. (Telunjuknya masih diam) 

Baiklah, berarti rapor itu juga tidak berada di rumah Anda. Apakah lampu hijau menyala? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda. (Telunjuknya bergerak lemah) 

Baiklah Mas Otig, artinya buku rapor itu ada di rumah mertua Anda. Sekarang silakan ikuti gerakan dari tongkat pencari itu, sampai tongkat itu berhenti dan lampu hijau berkedip-kedip. Jika itu terjadi, silakan anggukkan kepala Anda"

Saya kemudian melanjutkan materi mengenai revivication, sampai seorang peserta memberitahu bahwa Mas Otig sudah menganggukkan kepalanya. 

"Baiklah Mas Otig, apakah tongkat itu sudah berhenti. Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda. (Telunjuknya bergerak) 

Apakah itu artinya Anda sudah menemukan buku rapor anak Anda? Jika ya, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan Anda. (Telunjuknya bergerak)

Baiklah, jika begitu dalam hitungan ketiga, silakan Anda buka mata Anda, dalam kondisi segar dan sehat. Satu, dua dan tiga. Segar, dan sehat"

Begitu Mas Otig membuka mata, semua peserta langsung memintanya untuk menelpon mertua, demi membuktikan keampuhan dari teknik ini. Namun sampai kelas berakhir pada jam 9 malam, kami belum mendapatkan kabar tersebut. Kami juga larut pada materi-materi lain yang tak kalah serunya, seperti Part Therapy, Forgiveness Therapy, Mengenali Kesurupan serta reinkarnasi, dll. 

Dan siang ini saya mendapatkan pesan whatsapp dari Mas Otig sbb: 

"Bukan sulap bukan sihir... akhirnya ketemu... Terimakasih Master @Hari Dewanto, SS, CHt..."

Maka inilah saat yang tepat untuk mengatakan, "SEMPURNA!"

Anda ingin juga menguasai teknik canggih tersebut? Ikuti saja Kelas Advanced Hypnotherapy (Level2) di LKP Indonesian Hypnosis Centre yang sudah resmi terdaftar di Kemendikbud. 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist

#IHC
#PKHI
#legallebihnyaman
#cafetherapy

Tuesday, January 14, 2020

SEBUAH ISYARAT

Ibis Kemayoran, Tahun Baru 2020

Semangat pagi sahabat. Saya mendapatkan inspirasi menulis cerita ini dari sebuah sebuah blog. Menurut saya, cerita ini sangat menarik dan bisa mengayakan pemahaman kita akan keberadaan diri kita di dunia ini. 
***

Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak berusia tiga tahun sedang memperhatikan sebuah suara yang datang dari luar rumahnya. "Ting…ting…ting! Ting…ting…ting!" 
Dia mencoba melongok keluar mencari tahu, suara apakah gerangan yang berbunyi berisik di malam hari tersebut. 
"Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" kata sang ibu menangkap kebingungan anaknya. 
"Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak polos. Sambil tersenyum, ibu itu menjelaskan. "Itulah isyarat. Tukang bakso itu cuma ingin bilang, aku ada di sekitar sini! Belilah" 

Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi mendengar sebuah suara asing. Kali ini bunyinya beda. Persis seperti bambu kentongan dipukul "Tong tong tong tong!"

Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan kentongan. Berisik lagi!

"Anakku. Itu tukang nasi goreng. Suara kentongan itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. 

"Kok ibu tahu?" kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.

"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham hal itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat seperti itu!" ucap si ibu penuh perhatian. 
***

Sahabatku yang berbahagia, salah satu tanda kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahkan Tuhan untuk makhluk yang bernama manusia.

Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem ‘ehm’ misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tertinggal. Anak diam tak bersuara sepanjang hari, contohnya. Jika ortunya peka maka dia pasti akan tahu bahwa sang anak sedang mencari perhatian. 

Bahkan  NLP (Neuro Linguistic Programming) juga menggarisbawahi keahlian ini dalam salah satu pilarnya yaitu Sensory Acuity atau kepekaan inderawi. Dalam pengamatan saya pilar yang satu ini sangat menentukan terlaksananya ke 3 pilar lain, yaitu: Outcome Thinking, Behavior Flexibility dan Building Rapport. Barang siapa memiliki kepekaan tingkat tinggi dalam hidupnya, maka dia akan memenangi banyak kesempatan yang ada. 

Sudah banyak bukti yang bisa kita telusuri dari jaman nenek moyang kita, bahwa orang-orang yang dianggap sakti pada jaman dahulu, pada dasarnya adalah mereka yang memiliki kepekaan inderawi tingkat tinggi. Mereka memiliki kemampuan membaca tanda, isyarat atau simbol dari alam semesta  ini dengan baik dan persisten. 

Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.

Itulah bahasa tingkat tinggi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang telah dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!"

Bulan berputar mengelilingi bumi, dus bumi juga berputar mengelilingi matahari sehingga terjadilah perputaran waktu juga sebuah isyarat. "Waktumu akan tiba, maka manfaatkan hidupmu dengan baik!"

Sahabatku yang berbahagia, mari kita simak dan pahami semua isyarat itu, agar kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan kentongan tukang nasi goreng itu.  

Gegara perputaran waktu itu maka sebentar lagi kita akan mengalami pergantian tahun lagi. 

Selamat tahun baru 2020 kawan, jadilah orang yang PEKA karena kalau tidak peka, kata kawan saya, kita hanya akan menjadi orang yang PEKOK, wkwkwk.... 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach 

Hipnosis dan Al Fatihah

Hipnosis adalah sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya.

Salah satu kaidah hipnosis yang sangat powerful adalah teknik pacing-leading (menyelaraskan-mengarahkan). 

Selama ini banyak pihak yang menyalahartikan ilmu komunikasi ini sebagai pemanipulasian pikiran orang lain. Bahkan lebih ekstrim lagi beberapa ustadz malah mengharamkannya, karena menganggap hipnotis ada hubungannya dengan pemanfaatan kuasa kegelapan atau penggunaan makhluk ghaib.
Hipnotis itu sihir, maka haram hukumnya! 

Untuk menghilangkan persepsi yang salah tadi, dalam kesempatan yang berbahagia,  ini saya akan mengajak Anda untuk memahami hipnotis dari sudut pandang yang lebih religius. Harapan saya, setelah selesai membaca tulisan ini, Anda akan bertambah pemahaman, bahwa hipnotis bukanlah sebuah ilmu aneh, bahkan ajaib. Hipnotis ada dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan dalam agama kita. Islam. 
***

Dalam Islam, amalan yang wajib dilakukan setiap hari oleh pemeluknya adalah shalat. Asholatu ‘imaduddin, shalat itu tiangnya agama. Maka barang siapa mendirikan shalat, maka dia sedang memerkokoh agamanya, dan barang siapa meninggalkan amalan shalatnya, maka dia sedang merobohkan agamanya.  Begitu seringkali saya mendengar para Ustadz membicarakan amalan wajib yang satu ini.  

Menurut bahasa, shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah, shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syariat yang ada.

Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk ibadah yang didalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’ (Imam Bashari Assayuthi, 30). 

Dan salah satu syarat sahnya shalat adalah dibacanya ummul kitab, yaitu surah Al Fatihah.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak dibaca surat al-Fatihah.”

 Lalu dalam sumber lain Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

 “Tidak sah shalat kecuali dengan surat al-Fatihah.”

Apa alasannya?

Menjawab pertanyaan itu mari kita simak dan maknai surat AL-Fatihah berikut:

Bismillahirrahmaanirrahiim 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang)

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin 
(Segala Puji Bagi Allah Penguasa Alam Semesta)

Ar Rahmaanirrahiim 
(Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang)

Maaliki yaumid diin 
(Yang Menguasai Hari Pembalasan)

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin 
(Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.)

Ihdinas shiraatal mustaqiim 
(Tunjukilah kami jalan yang lurus,)

Siraathal ladzii na’an ‘amta ‘alaihim, ghairil maghduu bi’alaihim, walad dhaalliin 
(Yaitu jalan yang Engkau beri nikmat di dalamnya, yang tidak Engkau murkai dan tidak sesat.)

Sebenarnya kalau mau diringkas, surat ini mempunyai inti sebagai berikut:

'Segala Puji Bagi Allah Penguasa Alam Semesta'

 dan

'Tunjukilah kami jalan yang lurus'

Jadi apa hubungan ummul kitab ini dengan hipnotis? 

Erat, sangat erat bahkan. Saya akan ulang lagi salah satu definisi hipnotis, yaitu sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya. 

Sementara shalat, dengan Al Fatihah sebagai salah satu unsur wajibnya juga merupakan sarana komunikasi hamba dengan Tuhannya. Apa tujuan komunikasi ini? Tentunya mendapatkan hal yang kita inginkan, melalui sugesti yang kita berikan.

Sesuai dengan teknik pacing-leading, marilah kita kupas satu persatu ayat yang berada dalam Al Fatihah. Saya jamin Anda akan takjub begitu menyadarinya, dan lebih yakin lagi bahwa hipnotis ternyata sangatlah religius.

a. Segala Puji Bagi Allah Penguasa Alam Semesta

Setelah membaca basmalah, maka ini adalah langkah 'pacing' pertama yang diajarkan Allah untuk kita lakukan. Memuji Allah, dan berterimakasih atas karunia alam semesta beserta isinya, di mana termasuk kita berada di dalamnya.

b.Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Belum puas dengan sekali 'pacing', maka memuji Allah akan kasih dan sayangNya yang memang sudah terbukti berlimpah ruah kita terima merupakan pacing yang kedua.

c. Yang Menguasai Hari Pembalasan

Dan untuk meyakinkan diri lagi maka, kita juga melakukan 'post hypnotic suggestion' (yaitu kepasrahan kita akan kuasa Allah sebagai Sang Penguasa Hari Pembalasan) masih dalam bentuk pacing.

Ayat selanjutnya merupakan bridge atau penghubung yang akan memperhalus transisi dari pacing menuju leading.

Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan

Bagaimana Kawan, sudah mulai ‘ngeh’ dengan pendapat saya? 
Sudah? 
Bagus! 

Kita sudah membuktikan teori tiga kali pacing yang perlu dilakukan dalam teknik hipnosis, seperti banyak diulas dalam buku teori hipnosis dan NLP. 

Tinggal langkah terakhir. Langkah penguncinya, yaitu 'Leading'. 

Mari kita bersama-sama membaca dua ayat terakhir dengan khusyu. Kita resapi maknanya, dan rasakan pengaruhnya dalam hati kita. 

Mari kita LEAD Tuhan kita. Mari kita hipnosis Allah.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau beri nikmat di dalamnya, yang tidak Engkau murkai dan tidak sesat.

Menurut Anda, setelah tiga kali kita melakukan _pacing_ (baca: penyelarasan dengan kepasrahan tingkat tinggi), dan diakhiri dengan *leading* dengan khusyu ini, berapa persen kemungkinan Allah mengabulkan doa kita. Dalam istilah lain, bukankah doa adalah permintaan. Dan sebenarnya permintaan adalah sebuah perintah dalam tataran terhalusnya. 
Sebuah sugesti. 

Anda yang merasakan, maka Anda pulalah yang bisa menjawabnya.

Singkat kata maksud surah Al-Fatihah adalah: 

'Ya Allah Tunjukilah kami jalan yang lurus' 

Insya Allah inilah inti dari surah Al-Fatihah.
***

Surat Al-Fatihah  merupakan Ummul Kitab atau induk dari Al-Quran, merupakan intisari dari Al-Quran yang mengandung pelajaran aqidah, syariah dan akhlaq. Aqidah, syariah dan ahlaq merupakan intisari dari ajaran Islam. Sehingga jika intisari ajaran Islam ini dipahami, dihayati dan diamalkan setiap muslim, maka mereka akan menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh Allah, orang-orang yang diridhoi Allah swt. 

Saya sudah banyak membaca buku dan atau mendengar motivator yang mengatakan bahwa seseorang bisa mencapai dream-nya melalui proses pemrograman kata-kata/bahasa ke dalam pikirannya. Pemrograman kata-kata tersebut adalah kata-kata yang memiliki makna positif atau konstruktif. 

Kata-kata yang paling baik adalah Firman Allah dalam Kitab Suci Al-Quran, yang jika secara rutin diprogramkan ke dalam jiwa (pikiran) manusia dengan membacanya akan mampu menciptakan perubahan pada diri orang tersebut.

Surat Al-Fatihah bagi seorang muslim yang taat akan dibaca minimal 17 kali dalam sehari semalam. Sebagai induk dari Al-Quran (Ummul Kitab), Al-Fatihah memiliki makna yang dahsyat yang bisa mengubah seseorang. Surat ini mampu melejitkan kualitas diri seseorang secara spiritual, sosial maupun finansial.  

Tentu saja jika kita mampu memaknai ayat-ayat yang dibaca secara benar. Pemaknaan yang mampu menggerakkan jiwa secara spiritual, menumbuhkan sifat-sifat sosial dan mendorong kita untuk melakukan usaha atau ihtiar dalam membuka kunci-kunci keberkahan dari langit dan bumi.

Pemaknaan pacing-leading ini akan membantu kita memodel makna Al Fatihah dalam perilaku keseharian kita. In syaa Allah.

Al Fatihah disebut sebagai ummul kitab tentunya bukan tanpa alasan. Dan ketika mau membedahnya lebih dalam lagi ternyata kita menemukan bahwa Allah telah menurunkan Al Fatihah dengan teori 'pacing-leading' tadi. 

Artinya, Allah justru mengajarkan kita untuk menghipnosis-Nya. 

Maka, Saudaraku, ketika Anda mempunyai sebuah 'dream'. Sebuah keinginan baik demi kemajuan perusahaan Anda. Kebahagiaan keluarga Anda. Ketentraman Negara tercinta ini. Bersegeralah, hipnotislah Tuhanmu.

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan pemahaman saya yang bodoh ini. 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

Genting atau Penting

Setiap hari semua orang akan selalu melakukan aktifitas dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Ada yang menjadi ASN, Polisi, Te...