POSTINGAN POPULER

Monday, June 01, 2020

"Tolong Saya Pak!"




Menjadi terapis adalah sebuah pilihan jalan hidup tersendiri. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Dengan kompetensi unik bisa memberdayakan orang lain, maka tak heran jika kemudian banyak orang yang menggantungkan situasi dan kondisinya kepada kita. Bahkan terkadang para klien itu melakukan over expectation kepada kita. Mereka pikir kita pasti berhasil membantunya, tak peduli apapun situasinya. 

Dalam kelas-kelas terapi seperti Advanced Hypnotherapy dan NLP, saya selalu menekankan bahwa tugas kita adalah memberdayakan klien, bukan sebaliknya memperdayakan mereka. Apa maksudnya? 

Dalam NLP ada sebuah presuposisi luar biasa mengenai kondisi setiap orang yaitu bahwa dalam diri kita sudah terdapat semua sumberdaya untuk sukses (sembuh/berdaya), kita hanya perlu mengenali, memperkuat dan mengurutkannya. Maka ketika ada seorang klien datang kepada kita dan mengutarakan kondisinya (yang sedang tidak berdaya saat itu), ingatlah presuposisi tadi. Mereka merasa tidak berdaya hanya karena belum mengenali sum-berdaya mereka. So, tugas kitalah mengenalkan mereka kepada sum-berdayanya tadi. 

Bagaimana kita bisa mengenali sumberdaya mereka? Jawabannya adalah lakukan pre induction talk sebelum melakukan sesi terapi. Dalam pre induction talk ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan sbb:

- Building Rapport atau menjalin hubungan demi tercapainya keterhubungan bawah sadar (Sub conscious connected) antara terapis dengan klien. Tujuan dari langkah ini adalah mendapatkan TRUST klien.

• Exploring Client Modalities atau mencari tahu preferensi klien dalam menerima informasi dari dunia luar. Apakah dia dominan Visual, Auditori ataukah Kinestetik

• Hypnotherapy Training adalah penjelasan logis mengenai proses dan keseluruhan sesi terapi.

• Suggestibility Test yang merupakan serangkaian tes sederhana untuk mengetahui apakah klien itu memiliki tingkat sugestivitas tinggi, menengah atau rendah

Secara agak ekstrem bahkan saya selalu berpesan untuk tidak melakukan terapi sebelum melakukan pre induction talk. 

Tapi apakah pesan saya tadi mutlak hukumnya? 
-----------------

Sahabatku yang berbahagia, suatu malam saya sedang berada dalam mobil bersama team menuju Jakarta, sepulang dari pelatihan di Purwokerto. Tetiba saja masuk telepon dari nomor tak dikenal. Dan ketika saya angkat teleponnya, di seberang sana terdengar suara seorang perempuan muda yang sedang mengalami kepanikan. 
"Halo, ini dengan Pak Hari?"
"Betul Mbak, apa yang bisa saya bantu?"
"Pak, tolong saya Pak. Saya bisa mati kalau Bapak tidak segera menolong saya. Please, tolong saya sekarang Pak!"

Suara di seberang telepon itu membombardir saya laksana senapan uzi, nyaris tanpa memberikan saya kesempatan untuk bicara. 

"Sebentar Mbak. Boleh tahu nama Mbak siapa. Dan tahu nomor saya dari mana, dan situasi apa yang sedang dialami?", saya berusaha memotong serbuan panic attack yang sedang dialami oleh perempuan muda tadi. 

"Nama saya Bunga (bukan nama sebenarnya), saya takut mati Pak Hari. Saya mendapat nomor Bapak dari guru saya, Pak Anu (juga bukan nama sebenarnya). Katanya Bapak pasti bisa membantu saya" ujar perempuan tadi dengan nada masih penuh kecemasan. 

Begitu klien tadi menyebut nama Pak Anu sebagai referensor saya, maka saya langsung membimbing klien tadi membuat WFO (Well Formed Outcome):
"Bismillahir rahmanir rahiim, saya yakin atas ijin Allah, sebentar lagi saya bisa merasa tenang dan damai begitu selesai sesi terapi. Aamiin"

Kemudian saya langsung meminta klien ini masuk ke kamar, rebahan dengan tiga bantal mengganjal kepalanya. Saya juga minta dia untuk menggunakan headset agar semua suara saya bisa masuk ke kepalanya, sementara tangannya saya minta untuk menempel pada mic headsetnya. Guna dari tangan ini adalah sebagai ganti ideo motor response. Jadi setiap kali selesai memberikan sugesti, saya minta dia untuk mengetuk mic tadi jika dia setuju dengan sugesti saya. 

Lebih kurang setengah jam saya memandu klien tadi untuk mengenali si tenang dan damai dalam dirinya, sampai kemudian ketika saya bangunkan lagi, dia sudah bisa bercerita dengan kondisi yang lebih tenang. 

"Terimakasih Pak Hari, sudah mau membantu saya. Boleh gak saya minta satu hal lagi?"
"Tentu boleh. Apa itu Mbak Bunga?"
"Berapa nomor rekening Pak Hari"

Alhamdulillah..... 
-----------------------

Sahabatku yang berbahagia, dalam kasus malam itu saya tidak melakukan pre induction talk. Saya langsung membimbing klien untuk membuat goal dan melakukan terapi? Lho kok bisa? 

Sebenarnya inti dari pre induction talk ada pada Building Rapport, atau menjalin kedekatan emosional. Ketika terapis dan klien sudah mengalami kedekatan emosional, maka akan terjalin rasa percaya (trust) secara timbal balik. Klien percaya terapisnya, dan terapis percaya kepada kliennya. Ini penting, karena dengan hubungan vice-versa ini maka terciptalah pusaran energi positif (disingkat epos) atau lingkaran malaikat. Jika salah satu saja tidak memberikan rasa percayanya, maka yang muncul adalah pusaran energi negatif (disingkat eneg) atau lingkaran setan. 

Dan ketika klien sudah percaya kepada terapis, maka secara otomatis apapun yang dikatakan oleh terapis langsung menjadi kenyataan dalam pikiran klien. Kemudian dengan menanamkan future pacing, maka apapun yang berhasil menjadi kenyataan dalam pikiran klien, juga menjadi kenyataan dalam kehidupan mereka. 

Dalam kondisi biasa, diperlukan beberapa teknik khusus untuk melakukan building Rapport, seperti mirroring dan matching. Namun dalam kasus malam itu proses building rapport mengalami by passed, dengan adanya referensi dari satu sosok yang juga sangat dipercaya oleh klien saya tadi. 

Kalau gitu ente plin plan dong? 

Bukan plin plan Bro, tapi fleksible. Bukankah itu merupakan salah satu pilar NLP? 

Wah, bisa panjang nih kalau dilanjutkan dengan membahas pilar NLP. Mending join saja di kelas online saya tgl 3-7 Juni ini, jam 13-16 WIB. Masih ada seat kok..... 


Tabik ah

-haridewa-
Happiness Life Coach 
NNLP Master Trainer 

Tuesday, May 26, 2020

The Pillow Technic



Saya mendapatkan tehnik ini dari guru saya, Kang Asep Haerul Gani. 

Luarbiasanya, tehnik ampuh ini berasal dari kearifan lokal. Tepatnya bersumber dari naskah-naskah kuno abad 17-an, yang merupakan rahasia 'kebesaran hati' para raja Jawa yang berkuasa di Pakualaman, Praja Mangkunegaran, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. 

Diceritakan dalam naskah kuno tadi bahwa para pemimpin kerajaan jawa ini selain memiliki tutur bahasa halus, juga senantiasa memiliki kendali emosi yang sangat bagus ketika berbicara di depan rakyatnya. Apapun kondisi yang sedang dihadapi, namun setiap kali ada kesempatan untuk melakukan orasi, kondisi fisik dan emosi sang raja pasti sangat terjaga dengan baik. Emosinya sangat netral,  bahkan seperti tanpa emosi sedikitpun. 

Bagaimana bisa seseorang, apalagi dia seorang raja, mampu memiliki pengendalian emosi sehebat itu? Apakah memang kehidupan mereka sudah sempurna, sehingga mereka sudah tidak memiliki emosi lagi? Tidak mungkin bukan, karena emosi merupakan salah satu perangkat non fisik yang wajib dimiliki manusia dalam menunjang hidup dan kehidupannya. 

Rupanya para raja tadi memang memiliki rahasia yang telah turun temurun dipraktekkan ketika menghadapi hantaman emosi negatif tingkat tinggi. Dalam beberapa literatur, dikatakan bahwa ketika Sri Sultan Hamengkubuwono (raja Jogja) sedang 'peteng penggalihe' (bingung atau galau) maka Kanjeng Sinuwun ini akan masuk ke ruangan khusus untuk melakukan semadi. Ada juga beberapa pihak yang meyakini bahwa di dalam ruangan tersebut Kanjeng Sinuwun sedang minta bantuan dari Kanjeng Ratu Kidul. 

Namun rupanya terdapat versi tersendiri dalam naskah kuno tersebut yang mengatakan bahwa ketika sedang bingung, sang raja memang akan masuk ke sebuah ruang khusus, kemudian mengunci diri dari dalam. 

Di dalam ruang khusus tersebut telah tersedia beberapa 'ubo rampe' (tools), yang salah satunya adalah bantal, daun lontar serta alat tulis. Kemudian sang raja akan mengambil daun lontar serta alat tulis. Dengan berlasakan bantal, beliau mulai menggambar situasi atau wajah orang yang membuatnya galau. Sang raja juga akan menuliskan semua keadaan atau sifat, perilaku dan semua hal mengenai sosok yang mengganggu pikirannya tadi. 

Ketika sudah puas menggambar dan menuliskan semua kondisi yang dialaminya, sang raja mulai merasai semua sensasi yang muncul. Bisa marah, kesal, murka, kecewa, dll. Kemudian sang raja akan menyadari dan mengakui apa yang sedang dirasakannya. Namun hal ini tidak dibiarkan lama terjadi, karena sang raja buru-buru mengeluarkan bagian diri itu dari tubuhnya. Kalau sekarang mungkin kita mengenalnya dengan melakukan disosiasi. 

Setelah melakukan disosiasi maka raja membiarkan bagian dirinya itu (yang sudah keluar dari tubuhnya) merespon semua perilaku dari orang atau situasi yang mengganggunya tadi  dengan sebebas-bebasnya. 

Dia bisa memaki dengan intensitas yang adekuat untuk me-'release' emosi negatifnya tadi. Dia bisa menendang bantalnya, menggigit, memukul, menyobek dll sampai emosi negatifnya hilang. Sang raja hanya akan berhenti saat sudah merasa tenang dan netral ketika melihat gambar yang ada di daun lontar tadi. Dan ketika hal itu terjadi, bagian diri itu akan kembali masuk ke dalam tubuhnya. Asosiasi. Wow... 
---------------------------

Sahabatku yang berbahagia, rupanya itu rahasia para raja jawa dalam mengontrol emosi negatifnya. Jika diperhatikan teknik ini mirip dengan teori Gestalt-nya Fritz Perls yang baru dikembangkan pada awal abad 20. Sementara teknik bantal ini sudah berlangsung semenjak abad 17. Maka sebagai terapis nusantara kita tidak perlu berkecil hati dengan teknik-teknik dari luar, karena kearifan lokal kita menyimpan banyak teknik yang jika diulik dengan seksama juga memiliki keampuhan tersendiri. 

Berikut saya ulang cara melakukan teknik bantal ini sesuai dengan kondisi kita sekarang:

1. Cari tempat yang nyaman dan aman dari gangguan. 

2. Ambil bantal, kertas dan alat tulis

3. Bayangkan situasi yang sedang Anda alami. Kemudian tuliskan situasinya dengan gaya 'show', bukan 'tell' (baca tulisan saya terdahulu, Show don't Tell). Munculkan semua sensasi dalam panca indera Anda (VAKOG) 

4. Sadari dan akui semua emosi yang muncul, dan jika semua sensasi emosi negatif sudah muncul, segera lakukan disosiasi. Intinya adalah itu bukan Anda, hanya bagian kecil dari diri Anda (part of) 

5. Kemudian ijinkan PART Anda tadi melakukan apa yang ingin dilakukan. Pastikan saja melakukannya secara kongruen. Jika ingin memaki, ya memakilah dengan teriakan dan bahasa tubuh yang sesuai. "ASUUUUU, DIANCUUUK!" bukan sekedar "nuwun sewu panjenengan segawon"

6. Pukul, gigit, tendang, sobek, remas bantal tadi sampai puas

7. Kuncinya adalah Ex-press-i kan. Ex adalah keluarkan. Press adalah tekanan. Maka keluarkanlah semua tekanan yang ada di dalam dada Anda. 

8. Tandanya Anda sudah sembuh adalah ketika sudah merasa netral ketika melihat kertas yang berisi gambar yang Anda buat tadi. 

9. Segera lakukan asosiasi lagi ketika Anda sudah merasa tenang. Jika diperlukan, buatlah sebuah anchor rasa tenang dan damai. 
----------------------------

Sahabatku yang berbahagia, teknik asosiasi-disosiasi, bahkan Gestalt biasa dipelajari dalam kelas-kelas NLP. 

Saya ada kelas NLP online tgl 3-7 Juni 2020 ini, dan tersisa 1 seat dengan harga Early Bird Rp 2 mio. 

Namun jangan khawatir, jika Anda belum berminat mengikuti kelas online ini, tapi memiliki keinginan kuat untuk belajar NLP, silakan bergabung di grup Belajar NLP bersama para alumni terdahulu, dengan meng-klik tautan di bawah ini: 

https://chat.whatsapp.com/InIqHJUQrQMKCtdqTLjgwD

Silakan tebar, jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Friday, May 22, 2020

Show don't Tell!



Tulisan ini terpancing oleh diskusi ringan di sebuah whatsapp group mengenai bagaimana sebuah proses kreatif bisa muncul tadi malam. Selain sebagai trainer dan terapis, saya juga senang menulis. Bahkan mungkin bisa dikatakan jika saya juga seorang penulis, mengingat saya sudah menelorkan beberapa buku pemberdayaan diri dan juga puisi. Selain artikel yang berhubungan dengan hipnosis, NLP dan happiness, saya juga senang menulis cerita pendek (meski menurut sahabat yang membaca, cerpen saya tidak pernah pendek, wkwkwk) 

Bagi saya menorehkan tinta ke sebuah kertas merupakan sebuah kebutuhan, sebagai salah satu cara mengekspresikan pikiran saya. Apalagi di saat saya sedang tidak mengajar, maka kebutuhan mengeluarkan ide tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan. 

Menurut hemat saya, ada persamaan mendasar dalam tiga profesi saya di atas, trainer, terapis dan penulis, yaitu kekuatan imajinasi dan proses kreatif. 

Yang masih sering menjadi perdebatan dan kebingungan beberapa pihak adalah bagian pikiran yang bertugas melakukan imajinasi itu bagian sadar atau bawah sadar? 

Untuk memudahkan Anda memahami hal ini, ijinkan saya memberikan definisi imajinasi. Menurut KBBI Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan)  atau khayalan. Membayangkan atau berkhayal itu artinya membuat sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. 

Coba diingat lagi membuat sesuatu yang belum pernah ada itu fungsi PS or PBS? 

Masih bingung? Baiklah, mari kita gunakan sebuah metafora atau analogi agar memudahkan pemahaman kita. 

Jika diibaratkan komputer, PS itu diwakili oleh keyboard atau RAM?

Yes, saya setuju dengan Anda, PS itu keyboard, PBS itu RAM. Nah dalam hal komputer ini, yang bertugas memunculkan hal baru, sebuah kata baru misalnya saja LIKITIK, keyboard atau RAM. Tentu saja keyboard bukan? Setelah kata likitik tercipta, maka akan masuk ke gudang memori (RAM) 

Fungsi ini mirip sekali dengan layanan predictive text pada smartphone kita. Predictive text tidak akan pernah muncul ketika kita belum pernah mengetikkan kata bersangkutan. 

Membuat sesuatu yang baru dilakukan oleh pikiran sadar karena meskipun memiliki mega space, namun PBS "hanya" merupakan gudang data personal kita. 

Pertanyaan selanjutnya adalah, bukankah hasil imajinasi yang bagus ditentukan juga oleh data yang tersimpan di gudang memori tersebut? Betul sekali, itulah yang dinamakan proses kreatif. Jadi imajinasi diatur oleh PS, tapi fungsi proses kreatif didukung oleh PBS. 

Kembali ke predictive text tadi, ketika kita baru mengetik huruf 'a' saja, maka sudah akan tersedia data beragam seperti 'apa, aku, anu, ada, asa, aja, asu', dll, sesuai dengan kata yang pernah kita masukkan. Itu ditentukan oleh sistem memori (PBS). Tapi yang menentukan kita mau mengambil predictive text yang mana itu keputusan pikiran sadar to?

Itulah kenapa keluarga seniman biasanya menurunkan bakatnya kepada anak cucu mereka. Karena bank datanya sudah ada sedari mereka berada di dalam kandungan. 

Anak penyanyi biasanya juga menjadi musisi, anak pelukis biasanya juga berbakat menjadi pelukis. Karena bank data mengenai seni sudah diberikan oleh lingkungan sedari dalam kandungan. 
------------------------------

Diskusi berkembang dengan pertanyaan menarik mengenai terapi. Apakah mungkin seorang yang merasa tidak memiliki memori atau kenangan yang menyenangkan diminta mengakses kenangan yang menyenangkan? 

Tentu tidak bisa! 
Terus bagaimana membantu klien yang seperti ini? Itulah tugas dari terapis. 

Terapis yang berpengalaman akan lebih banyak menggunakan teknik showing, bukan telling dalam melakukan terapi kepada klien seperti ini. 

Nah apa pula bedanya? 

Showing mengajak klien ikut merasakan.  Sementara telling hanya ngasih tahu aja. Lu paham atau kagak itu bukan urusan gua, yang penting gua dapetin duit lu! 

Telling bersifat abstrak dan cenderung tidak melibatkan klien. Klien hanya dijejali pandangan terapis tentang kondisi ideal yang diharapkan, tanpa diajak untuk mengolah informasi dalam narasi tersebut.

Showing kebalikannya, bersifat konkret dan secara aktif melibatkan klien. Showing berusaha menciptakan gambaran dalam benak klien sehingga menjadikan karakter baru yang diharapkan atau narasi situasi yang diharapkan semakin hidup. Showing mendorong klien untuk ikut mengolah apa yang disampaikan terapis dan bahkan mengambil kesimpulannya sendiri.

Contoh Telling: 
"Semakin lama, Anda merasa semakin sehat"

Contoh Showing: 
"Dari hari ke hari,  Anda bisa melihat badan Anda semakin tegap. Langkah Anda semakin tegak. Otot-otot tubuh Anda semakin menguat, dan persendian Anda semakin lentur. Tarikan nafas Anda sangat dalam. Detak jantung Anda juga sedemikian berirama. Bahkan irama lagu paling indahpun kalah oleh teraturnya detak jantung Anda. Anda bisa mendengar decak kagum kawan-kawan Anda melihat kondisi tubuh Anda sekarang. Situasi ini membuat Anda merasa lebih sehat, semakin sehat dan bahagiaaa...."

Sangat berbeda bukan? 

Berikut saya share tips membuat sugesti yang bersifat showing:

1. Gambarkan desired state-nya secara terperinci. Semakin konkret penggambaran Anda, bayangan di benak klien semakin jelas. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan satu kalimat sederhana, dan kembangkan dengan memasukkan detail-detail yang relevan.

2. Rangsang semua pancaindra (VAKOG) klien saat menggambarkan sebuah benda, misalnya, jangan hanya menyampaikan bentuk dan warnanya. Sebutkan pula ukuran, tekstur, bahkan bau dan rasanya jika ada.

3. Dorong emosi klien melalui penggambaran karakter baru yang diharapkan, apa yang dipikirkan dan dirasakan klien, dengan jelas dan terperinci. Jangan sekadar memberitahukan apa yang dirasakan dan dipikirkan klien. Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan tindakan-tindakan perbaikan yang diambil klien, alih-alih menceritakan sifatnya.

4. Jika diperlukan gunakan script dialog yang ekspresif untuk menunjukkan emosi dan sifat klien yang baru. 

Diskusi  semakin asyik, dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01 lewat, maka kamipun bersepakat untuk mengakhiri  unformal discussion tadi malam agar tak terlewatkan malam yang lebih bagus dibanding seribu bulan. 

Terimakasih Mas Johan Firdaus, Mas Anton  Wibowo,  Mas Andi Alamsyah,  Mas Dwi Batman,  Mas Henry Tedi yang telah menemani saya berburu mba Laila tadi malam. 

Sila tebar jika tulisan ini bermanfaat. 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Wednesday, May 13, 2020

SANTET



Kemarin sore saya mendapat kehormatan untuk mengisi sesi bincang santai bersama Kang Iwan D. Gunawan, salah satu tokoh hipnoterapi Indonesia yang saya kagumi. Dalam program selama 1,5 jam tersebut, saya membedah tuntas mengenai pemanfaatan simbolisasi dalam ranah terapi. Judul materi saya adalah Optimizing Object Imagery Therapy (OOIT). Sudah sejak pertama kali menjalani profesi sebagai seorang hipnoterapis profesional, OOIT memang telah menarik perhatian saya, sehingga saya sangat mendalami teknik ini. 

Kali ini saya tidak akan mengupas lagi materi mengenai OOIT, karena saya sudah pernah menulis materi ini beberapa waktu yang lalu. 

Saya justru akan membahas mengenai pertanyaan peserta mengenai fenomena santet dan barang-barang yang kemudian
 keluar dari perut klien seperti rambut, jarum, paku, dll. 

Sahabatku yang berbahagia, menurut saya jenis santet yang dikenal di masyarakat kita selama ini ada 2:

1. Santet Persepsi
Yang saya maksud santet persepsi di sini adalah ketika ada klien yang perutnya sakit, dan dia merasa bahwa dia kena santet. Biasanya klien jenis ini akan datang ke orang pintar atau dukun. Kemudian sang dukun akan mengambil sebutir telur, yang kadang ada rajah huruf arabnya. Dengan satu dan dua aksi teaterikal, kemudian sang dukun memecahkan telur tadi, dan dari dalam telur akan keluar jarum, rambut, paku dan sebagainya. Hebatnya begitu ritual pemecahan telur tadi selesai, sakit perut yang diderita klien juga ikut hilang. 

Bagaimana menjelaskannya? 

Hal ini murni aplikasi dari object imagery tadi. Rasa sakit yang ada dalam perut dikonversi menjadi jarum, rambut, paku atau apapun keyakinan klien. Maka ketika semua benda yang mewakili rasa sakit perut tadi sudah dikeluarkan, maka klien juga merasa sembuh. 

Terus bagaimana menjelaskan benda-benda yang keluar dari telur tadi?

Ini sih permainan sulap sederhana, yang sekarang sudah banyak dibongkar di youtube. Cara memasukkan benda tersebut sangatlah mudah. Rendam saja sebutir telur di dalam cairan cuka makan (100%) selama semalaman. Kulit telur akan menjadi lembek, dan bisa Anda sayat dengan cutter atau silet. Dengan hati-hati masukkan benda-benda tadi melalui sayatan tadi, kemudian selotiplah bekas sayatan tadi, dan rendamlah telur di dalam air dingin. 

Tunggu sebentar maka kulit telur akan mengeras lagi. Pada bekas sayatan itu tulislah huruf arab atau simbol apapun guna menyamarkan cacat kulit telurnya. Sederhana bukan? Namun saya tidak terlalu setuju dengan teknik seperti ini, karena bagi saya praktek seperti ini sama saja dengan pembohongan publik. 
***

2. Santet Aseli
Apakah memang ada ilmu santet yang bisa memindahkan benda ke dalam tubuh manusia. Dari pengalaman saya ketika dulu masih suka bermain-main dengan dunia klenik, jawabannya adalah ada. Nyatanya ketika dilakukan rontgen, benda-benda asing tersebut tergambar dengan jelas di layar. 

Fenomena apalagi ini? 

Sahabatku yang berbahagia, saya ingin mengajak Anda semua untuk menyelami dunia ini dengan lebih baik lagi. Kita tahu bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri. Ada makhluk lain yang hidup berdampingan dengan kita meskipun kita tidak bisa melihat mereka. Ya, mereka adalah para makhluk ghoib. Fakta ini didukung oleh beberapa ayat di kitab suci kita, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56).

Dalam sebuah Ensiklopedi Islam tertulis bahwa penciptaan jin lebih dulu dari manusia, namun secara detail berapa jarak antara penciptaan kedua makluk tersebut tidak tercantum dalam Al-Qur’an. Dalam surah Al-Hijr [15] ayat 26-27 diterangkan bahwa Allah menciptakan jin lebih dahulu dibandingkan dengan manusia. Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr [15]: 26-27).

Meskipun kita tidak tahu jarak penciptaan jin sebelum manusia, dengan menggunakan logika dasar saja, saya yakin bahwa teknologi mereka sudah lebih maju dibandingkan kita. Bahkan ada beberapa pihak yang meyakini bahwa alien itu sebenarnya adalah bangsa jin. Saya tidak akan mengajak Anda berdebat mengenai hal ini. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk menyadari bahwa dengan teknologinya yang sudah sangat tinggi, bjsa jadi mereka sudah memiliki tools teleportasi. Dalam film-film fiksi sains, digambarkan bahwa alat teleportasi bisa memindahkan satu benda dari satu lokasi ke lokasi lain, dalam hitungan detik. Mirip seperti alat faksimili, namun yang dikirim adalah benda, bukan sekedar image atau hasil scan. 

Kita manusia saja sudah mencapai kemajuan teknologi yang lompatannya sangat luar biasa. Dua dasawarsa yang lalu kita masih akan takjub melihat ada alat yang bisa mengambil gambar dan langsung mengirim ke tempat lain, dengan instant. Ya, alat tersebut adalah phone camera. Kini hanya bermodal satu jari saja kita bisa mengambil gambar, jepret kiri, jepret kanan, dan hasilnya bisa langsung diterima di belahan bumi lainnya. 

Sampai sini apakah sudah bisa dipahami Kawan? 

Baiklah saya akan lanjut. Secanggih apapun gadget yang kita miliki, yang kita gunakan untuk mengirim image tadi, namun jika setingan di gadget yang dituju tidak diatur auto download, maka gambar tersebut tidak akan masuk ke gadget tertuju. 

Gambar hanya akan masuk dan bisa disimpan ketika sang pemilik gadget dengan sengaja menekan tombol accept, atau download. 

Menggunakan analogi ini, maka kita tidak perlu cemas dengan kenyataan bahwa ada segelintir manusia yang berkolaborasi dengan bangsa jin, dan memanfaatkan teknologi teleportasi milik mereka demi menyakiti manusia lain. Kenapa, biarlah mereka mengirimkan sebanyak apapun sampah ke dalam diri kita, selama kita tidak menerimanya (accept) atau mendonlotnya, maka sia-sialah usaha mereka untuk menyakiti kita. 

Kita bisa disebut mendonlot justru ketika kita merasa ketakutan, was-was, syak wasangka dll. 

"Jangan-jangan si fulan mengirim santet nih. Kami khan sedang berselisih paham nih. Nah benar khan, perutku terasa nyeri nih!"

Maka untuk menangkal santet aseli ini, berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik kepada orang lain
2. Rajin berdoa dan menyibukkan pikiran dengan aktifitas yang bermanfaat 
3. Mindfullness (Tubuh dan pikir berada di sini dan sekarang)

Semoga bermanfaat 

PS: Nuhun utk kesempatan sharing Kang @⁨Iwan D Gunawan⁩ 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Friday, May 01, 2020

Rahasia Dagang Abdurahman bin Auf



Meski dalam situasi lockdown seperti ini, namun ibadah dan pembelajaran mesti jalan terus. Karena tidak bisa shalat tarawih di mesjid, cukuplah shalat tarawih di rumah. Fatwa para ulama sudah menyatakan bahwa keutamaan shalat di rumah dalam kondisi darurat ini tetaplah sama dengan shalat di masjid. Bedanya adalah khotbah tarawih yang tak kita dapatkan ketika shalat tarawih di rumah. 

Namun usah risau dengan kondisi ini, sekarang khotbah online ada dimana mana. Asalkan paket internet kita mencukupi, tinggal pilih mau mencari khotbah dengan topik apa.  

Malam ini, tak sengaja saya mendapatkan kiriman khotbah dari satu grup yang menampilkan Ust Ir. Adiwarman Awar Karim, SE sebagai khotibnya. Ustadz yang juga seorang ekonom ini menceritakan sejarah perekonomian Islam yang sangat fenomenal pada masa awal tahun hijriah. Anda tentu sudah sering mendengar tokoh ekonom Islam waktu itu, yaitu Abdurahman bin Auf, yang terkenal dengan ucapannya, "Tunjukkan di mana pasar, akan aku tunjukkan cara umat Islam berdagang"

Dan berikut ini saya rangkumkan teknik dagang ala Abdurahman bin Auf menurut cerita Ust Adiwarman tersebut:

1. Jujur adalah syarat pertama yang mencerminkan pengusaha muslim. Jujur ada dua jenis. 
A. Jujur kepada Allah atau disebut shiddiq.  Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya.
B. Jujur kepada manusia atau amanah. Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya

2. Cerdas, jujur saja tidaklah cukup tanpa kecerdasan. Cerdas juga dibagi dua, yaitu
A. Fathonah atau memahami ilmu perdanganan dan situasi terkini. 
B. Tabliq atau mampu berkomunikasi kepada orang lain dengan baik sehingga meyakinkan mereka untuk berkolaborasi dengan kita

3. Khoirunnas anfa uhum linnas. Bisnis jangan hanya mau mencari untung. Berbisnislah agar bisa memberi manfaat ke orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk sesamanya. Jangan takut juga bersaing, apalagi malah mematikan rejeki pihak yang dianggap kompetitor tadi. Karena rejeki Allah sangatlah berlimpah dan lebih dari cukup untuk diberikan kepada mereka yang mau berusaha. 

4. Jangan bangga dengan sukses yang kita capai dan merasa bahwa kesuksesan itu adalah hasil kita sendiri. Ada sebuah hadits yang berbunyi: "man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah”

Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah.
(HR. Abu Daud dan At-Turmuzi).

Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia yang telah mendukungnya, maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri nikmat Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga.

Nathaniel Lambert, pakar psikologi dalam jurnal Psychological Science mengatakan, ”Saat kita mengekspresikan rasa terima kasih kepada seseorang, kita akan lebih fokus pada hal-hal baik yang telah dilakukan orang itu kepada kita. Hal ini akan membuat kita lebih fokus pada hal-hal positif dalam hubungan kita dan dia.”

Singkat cerita pasar yang dibangun oleh Abdurahman bin Auf mulai membesar dan mengalahkan dominasi ekonomi pasar Yahudi waktu itu. 

Sahabatku yang berbahagia, masa memang telah berbeda, namun saya yakin teknik berdagang ala Abdurahman bin Auf ini masih bisa kita amalkan sampai sekarang. 

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach 

Saturday, April 18, 2020

The Inverse Suggestion

The Inverse Suggestion

Sebagai praktisi hipnosis dan hipnoterapi, pernahkah suatu saat Anda mengalami penolakan dari suyet?

"Lho Pak Hari, syarat utama seseorang bisa dihipnosis adalah sukarela, jadi jika mereka menolak ya tinggalin saja. Gitu aja kok repot!"

Saya yakin ada di antara Anda yang berpendapat seperti itu, dan pendapat Anda enggak salah kok Bro. Maksud saya begini, ada satu pihak yang merasa sangat yakin bahwa dia tidak akan bisa dihipnosis. Atau ada satu pihak yang menantang kita untuk membuktikan bahwa kita tidak akan berhasil menghipnosisnya. Pernah?

Saya pernah, dan saya akan ceritakan di sini caranya.

Tapi sebelum saya ceritakan, marilah kita tengok lagi definisi dari hipnosis.

DARI SEGI KEILMUAN
Hipnosis adalah ilmu yang mempelajari pengaruh sugesti dan imajinasi terhadap PIKIRAN MANUSIA.

DARI SEGI FENOMENA
Hipnosis adalah diterimanya suatu ide atau perintah tanpa disaring dulu karena filter mental tidak aktif.

FILTER MENTAL adalah bagian dari pikiran manusia yang berfungsi menganalisa dan merasionalisasi setiap informasi yang masuk ke pikiran.
***

Saya mengalami peristiwa ini beberapa waktu yang lalu ketika mudik lebaran ke rumah orangtua saya. Seperti biasa suasana lebaran, maka keluarga dari seluruh penjuru kota dan desa akan saling mengunjungi dan berkumpul. Ada salah satu sepupu saya yang dari kecil terkenal kebandelannya. Selain tukang berkelahi, kesukaannya adalah minuman keras. Saya tidak menyebut dia preman, karena dia tidak pernah melakukan aksi pemalakan atau aksi kriminal lain.

Entah dia mendapat cerita apa mengenai profesi saya sebagai seorang hipnoterapis, namun dia berpikir bahwa sekarang saya adalah seorang paranormal. Maka sambil bercanda dia menantang saya. "Ayo kalau memang kamu sakti, coba aku dihipnotis!"

Dan dia mengucapkan tantangan ini dengan lantang di hadapan sanak saudara lain. Waduh, runyam juga situasi ini. Kalau tidak dituruti, apa kata orang nanti. Dikiranya saya memang tidak bisa melakukan hipnosis. Tapi kalau dituruti, kembali ke syarat pertama orang dihipnosis khan mesti sukarela!

Untung saya teringat ilmu yang pernah saya peroleh dari salah satu guru saya, yaitu Kang Asep Haerul Gani. Bahwa dengan kreatifitas kita sebagai terapis, maka semua orang, selama dia masih bisa diajak berkomunikasi, pastilah bisa dihipnosis. Karena setiap komunikasi yang berhasil adalah hipnosis. Jika orang tidak mau atau menolak, yang jangan disuruh mau. Justru sebaliknya, mintalah dia untuk melawan.

Baiklah, saatnya mencoba teknik ini.

"Baiklah Bro, tapi untuk bisa dihipnosis syaratnya kamu mesti mau. Nah mau enggak aku hipnosis kamu!", saya mulai melakukan pre induction talk
"Lha kok begitu? Aku khan sedang mau menguji kamu. Mosok disuruh nurut? Ogah!"
"Ya sudah kalau gak mau nurut. Jadi maunya melawan dong?"
"Ya iyalah. Kalau aku nurut, berarti aku kalah dong!"
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Kita mulai ya?"
"Ya!"
"Lha kok nurut?"
"Eh, gak mau!"

"Ok. Sekarang silakan berdiri", saya mulai dengan perintah yang sangat mantap

Apa yang terjadi? Sepupu saya sontak duduk di kursi.

"Buka matamu lebar-lebar!"
Dia menutup mata

"Sekarang tarik nafas dengan terburu-buru"
Dia menarik nafas dengan lembut dan pelan

"Bagus sekali. Coba sekarang kejangkan seluruh ototmu dari kepala sampai kaki!"
Dia melemaskan seluruh ototnya.

"Nafasnya dibuat lebih memburu lagi"
Nafasnya semakin lembut

"Kencangkan semua ototmu, dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya"
Tubuhnya semakin lunglai

"Dan terakhir, jaga kesadaranmu. Jaga jangan sampai ngantuk. Jangan  sampai tidur. Namun anehnya semakin kamu menahan untuk tetap terjaga, rasa kantuk itu menyerangmu begitu kuat. Semakin dilawan sekarang kamu semakin mengantuk, dan dalam hitungan mundur sepuluh sampai satu, kamu tertidur dengan sangat lelap. 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 daaan tidur"

"Grrooook brrrrmmm groook"
"Bagus Bro. Nikmati saja rasa nyaman ini. Pergilah sesukamu ke tempat yang paling indah. Dan lihatlah di sana dirimu ketika kecil sedang ditimang oleh ibumu. Nikmati rasa bahagia itu. Nanti ketika kamu sudah sangat puas dengan rasa bahagia itu, kamu boleh bangun dengan sendirinya. Dan entah kenapa begitu membuka mata, kamu merasa sangat ingin sungkem kepada ibumu. Kamu minta maaf kepada ibumu. Sesuatu yang sudah sangat lama kamu lalaikan"

Saudara-saudara yang lain tertawa melihat sepupu saya ini tertidur sangat pulas di kursinya, bahkan sampai mengorok. Kamipun melanjutkan perbincangan ngalor ngidul, menceritakan pengalaman kami di kota tempat masing-masing. Tanpa kami sadari sepupu saya ini terbangun, setelah mengerjapkan mata sejenak tetiba saja dia menghambur ke kaki ibunya (Budhe saya) sambil menangis minta maaf. "Maaaak, ampuni anakmu ini"

Sahabat yang berbahagia, dalam menjalani profesi yang mulia ini jangan pernah menyerah menghadapi situasi serumit apapun. Percayalah bahwa dalam diri kita terdapat ultimate inteligent yang akan selalu memicu kreatifitas kita dalam menemukan solusi dari setiap situasi. Teknik tersebut kemudian saya beri nama The Inverse Suggestion.

Silakan tebar jika manfaat

PS: Teknik inipun, bersama teknik-teknik ajaib lain ada dalam buku "The Indonesian Encyclopedia of Hypnotherapy"

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Friday, April 10, 2020

INNER CHILD THERAPY



Pernahkah suatu saat Anda merespon omongan pasangan Anda yang sebenarnya biasa saja, dengan tindakan yang lebay, uring-uringan atau bahkan berlaku kasar?

Atau pernahkah Anda tiba-tiba saja kehilangan kata tanpa bisa berucap satu patahpun ketika berhadapan dengan seseorang? 

Tahukah Anda fenomena apakah itu? 

Dari hari ke hari orang-orang terus bertumbuh tanpa menyadari bahwa ada 'sosok anak kecil' (Inner Child) dalam diri mereka. Lebih parahnya lagi mereka tak pernah menyadari pernah ada luka bathin yang dirasakan oleh Inner Child ini semasa dalam pengasuhan orang tua. Hal inilah yang menyebabkan seseorang semakin mudah tersulut emosinya, atau sebaliknya tersabotase keberaniannya seperti situasi yang saya sebutkan di atas. 

Sayangnya, tidak semua orang tahu dan sadar bahwa 'anak kecil' dalam diri mereka sedang terluka.  

'Apa itu Inner Child?'
Inner Child adalah sisi kepribadian seseorang yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil atau sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang. Pada dasarnya Inner Child mengalami luka bathin karena dia terkejut mengalami sebuah peristiwa yang tidak dia sangka akan terjadi, dan dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kata lain ada rasa takut yang menyebabkan Inner Child ini terluka dan dia merasa menanggung semua itu sendirian. 

Mengapa Inner Child ini berpengaruh terhadap kepribadian, dan cara bersikap seseorang ketika dewasa? Karena pengalaman  seseorang di masa lalu yang sangat kental emosi negatifnya bisa muncul kapan saja dan memiliki efek destruktif pada masa kini. Inner Child pada setiap orang adalah inti dari kepribadian yang terbentuk dari pengalaman-pengalamannya tentang  cara bertindak untuk dicintai atau diperhatikan yang didapatkan selama masa kanak-kanak.

Inner Child tidak harus terjadi di masa kanak-kanak, namun bisa terjadi kapan saja di masa lalu. Masa lalu di sini juga tidak berhubungan dengan lampaunya kejadian itu berlangsung. Satu detik dari sekarang juga merupakan masa lalu kita dan berpotensi memunculkan sebuah Inner Child. Inner Child bukanlah sebuah kondisi emosi tertentu, melainkan sebuah respon seperti membisu, ngambek, menangis, kabur, berteriak dll, seperti yang biasa dilakukannya ketika masa kanak-kanak. 

'Apa pencetus munculnya Inner Child?' 
Dalam mengamati dunia sosial, kita seringkali melakukan perkiraan, dugaan, perbandingan, berusaha mengingat kembali dan sebagainya. Misalnya saat kita datang ke satu daerah baru yang kita belum pernah mengunjunginya. Maka kita akan melakukan pengamatan awal untuk mengetahui bagaimana kebiasaan masyarakat setempat. Mengamati dengan seksama bagaimana mereka melakukan penyambutan terhadap kita, melihat sekeliling kita, bagaimana orang-orang akan berperilaku, mengingat-ingat hal-hal yang mirip dengan situasi yang kita alami di masa lalu dan sebagainya.

Dalam ilmu psikologi hal ini disebut dengan skema (schema), yaitu struktur mental yang membantu kita mengorganisasi informasi sosial dan yang menuntun pemrosesannya. Secara umum skema berkisar pada suatu subyek atau tema tertentu. Skema adalah kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasi informasi sosial. Skema bisa dibentuk oleh budaya di mana kita tinggal, misalnya dalam contoh di atas kita membandingkan budaya di tempat asal kita dengan budaya yang ada di daerah baru.

Ketika skema terbentuk, skema akan sangat berpengaruh pada beberapa aspek kognisi sosial sehingga akan memengaruhi perilaku sosial kita. Jika skema yang muncul negatif terus tanpa ada pilihan skema positif, maka ketika dewasa, skema itu akan muncul menjadi perilaku negatif, meski tanpa kita sadari. Skema yang berulang, terutama dengan tema yang sama inilah yang mencetuskan munculnya Inner Child 

Agar lebih memudahkan Anda memahami Inner Child, berikut ini saya berikan beberapa contoh klien yang pernah saya tangani. 

1. Pengusaha Kuliner. 
Suatu hari datang ke saya seorang laki-laki pengusaha yang mengaku selalu gagal ketika memulai bisnis kulinernya. Semua daya upaya telah dia lakukan, bahkan berbagai pelatihan wirausaha kuliner juga telah dia ikuti, namun tetap saja usaha kulinernya tidak pernah berkembang, kalau tidak mau dikatakan bangkrut.

Menggunakan teknik age regression, akhirnya saya berhasil menemukan akar masalahnya. Ternyata ketika kanak-kanak, pengusaha ini suka bermain ‘pasaran’ (bermain masak-masakan) bersama kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika sedang asyik bermain pasaran, ayahnya pulang dan ketika melihat anak laki-lakinya ‘pasaran’, sang ayah langsung murka. Sambil melempar semua peralatan mainnya sang ayah mengatakan bahwa ‘pasaran’ bukanlah mainan anak laki. Anak laki seharusnya lebih jantan, bermain perang-perangan atau mobil-mobilan. 

Banyak kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah saat itu. Pengusaha muda (yang masih kecil) ini sangat ketakutan, dan hanya bisa menangis untuk kemudian lari menghambur ke pelukan ibunya. Tanpa disadari rupanya kemarahan sang ayah telah melukai Inner Child-nya dan menjadi belief dalam pikiran pengusaha tadi, bahwa laki-laki tidak boleh main masak-masakan (yang oleh bawah sadarnya dibaca sebagai tidak boleh berbisnis kuliner). 

Jadi meskipun peristiwa itu terjadi puluhan tahun silam, namun setiap kali mencoba memulai bisnis kuliner, sang Inner Child-lah yang menguasai diri pengusaha ini. 

2. LGBT
Di waktu yang berbeda, saya kedatangan tamu dari kota tetangga yang merasa memiliki disorientasi seksual. Dia adalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang lebih tertarik ketika melihat pria bertelanjang dada. 

Dengan teknik yang sama, yaitu Age Regression, saya ajak pemuda ini jalan-jalan ke masa lalu. Dan ternyata ada memori yang terlupa dia ceritakan dalam kondisi awake. Sampai dia kelas 4 SD, di rumah orangtuanya ikut menumpang paman dan tante dari pihak ibu. Menurut dia, sang tante adalah seorang perempuan judes, galak dan sangat tidak bersahabat dengan anak-anak, termasuk dirinya. 

Selain kata-kata kasar yang acapkali terlontar dari mulutnya, tante ini tak jarang juga mencubit dirinya jika sedang kesal atau menganggap dirinya nakal. Sebuah Inner Child negatif terbentuk di sini karena skema yang berulang dari tantenya. Sehingga dalam benak innerchild ini semua perempuan adalah judes dan jahat. 

Sebaliknya sang paman sangatlah baik kepada dirinya. Selain tutur kata yang halus, parasnya juga lumayan rupawan. Sang paman inilah yang kerap menyelamatkan dirinya dari cengkeraman tantenya. Seringkali ketika menolong keponakannya ini, sang paman hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Dari sini sebuah Inner Child juga terbentuk (saya bingung harus mengatakan ini positif atau negatif), namun intinya dia merasa nyaman kepada paman yang notabene seorang pria (yang sering bertelanjang dada) 

Nah..., rupanya ini asal muasal terjadinya persepsi yang salah pada pemuda tadi di waktu kecil. Bagian dirinya yang paling dalam waktu itu tentu sangat membenci tantenya, dan secara tak sadar menyanjung pamannya.

Peristiwa ini juga terjadi puluhan tahun silam, namun menghadapi perempuan di masa kini, justru Inner Child-nya yang dominan. 

3. English Phobic
Pada waktu yang berbeda pula, saya mendapat klien yang menurut saya situasinya lumayan menarik. Dia adalah seorang pemuda Batak yang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan ekspedisi multinasional yang lumayan tenar di tanah air. Dengan posisi yang sudah berada pada level managerial, tentunya dia dituntut untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Namun apesnya, boro-boro berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, mendengar kata berbahasa asing itu saja sudah mampu membuat keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Wew...!

Kemudian saya minta dia untuk mengingat peristiwa asal dirinya mengalami ketaknyamanan terhadap bahasa Inggris ini. Rupanya dia masih sangat ingat  detail peristiwanya yang terjadi ketika dia masih balita. Saat itu orang tuanya mewajibkan semua anaknya untuk menguasai bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Maka ayah klien saya ini mendatangkan guru les Inggris ke rumah untuk ketiga anaknya. Klien saya yang masih balita dan dua abangnya yang waktu itu sudah SMP.

Berbeda dengan kedua abang yang menyambut gembira kedatangan tentor bahasa Inggris ini, klien saya justru merasa ketakutan pada sosok tua tentor itu yang menyerupai datuk Maringgih. Alih-alih ikut belajar, setiap kali tentor itu datang ke rumah, klien saya pasti langsung bersembunyi di dalam lemari. Runyamnya hal ini berulang hingga SMA, setiap kali ada pelajaran Bahasa Inggris, dia pasti kabur dari kelas. 

Sama dengan dua kasus sebelumnya, di mana sebuah Inner Child menguasai perilaku seseorang pada masa sekarang, diakibatkan oleh sebuah skema yang berulang di masa lalu. Bedanya kali ini pencetusnya (precipating event) adalah bahasa Inggris. 

4. Fobia Pepaya
Klien yang satu ini adalah adik tingkat saya di kampus, sebut saja namanya Bunga. Dia mengalami fobia pepaya. Boro-boro makan, mendengar kata pepaya disebut saya bisa membuat Bunga mual. Saya pikir pasti ada pencetus Bunga mual setiap mendengar kata pepaya meski dia ingin mencicipinya. 

Dan pasti ada masa di mana phobia itu tercetus karena menurut ceritanya sebelum SMA dia termasuk penyuka pepaya. Dia tidak ingat kapan dan kenapa mulai mual terhadap pepaya.

Menggunakan teknik mesin waktu berbentuk roller coaster, saya bawa Bunga masa lalu dan tepat pada tanggal 6 juni 1994, menjelang maghrib terkuaklah misteri fobia pepayanya. 

Bunga bercerita bahwa hari itu dia disuruh kalau tidak boleh dibilang dipaksa oleh kakaknya untuk menyuapi pepaya yang dihaluskan (seperti jus) kepada keponakannya.

Mungkin rasa kesalnya saat itu karena terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya menjadikan kondisi emosi yang sangat intens dibarengi dengan aroma pepaya tumbuk yang menyengat membuatnya merasa mual setiap mengingat buah pepaya di kemudian hari. Ada luka hati yang menimpa Inner Child Bunga yang berimbas fobia dalam kasus ini. 

5. Akrofobia
Anak sulung saya Aini mengalami fobia ketinggian, meski dalam tataran yang masih ringan. Setiap berada di lantai dua sebuah gedung (mal atau hotel) yang bisa terlihat lantai dasarnya, dia pasti mencengkeram tangan saya. Atau kalau naik pesawat, dia pasti minta duduk di gang, dan juga mencengkeram tangan saya. 

Awalnya saya tidak paham penyebab akrofobia anak saya ini. Sampai saya teringat ketika dia berumur sekitar satu tahunan, saya suka mencandain dia dengan menurunkannya dari springbed, dan membiarkan kedua tangannya menahan tubuhnya di tepi springbed. Karena badannya belum tinggi, maka kakinya belum sampai ke lantai, meski hanya tinggal beberapa sentimeter saja. Awalnya dia senang dengan permainan ini, tapi ketika dia tidak bisa turun, dia mulai ketakutan dan menangis. "Papaa atuttt!" 

Bagi saya, tangisan Aini adalah hal yang lucu waktu itu. Karena sebenarnya hanya dengan melepas pegangan tangannya, dia sudah akan menjejak lantai dan bisa bebas dari gelantungan di tepian springbed tersebut. Saya menyesal, rupanya candaan saya waktu itu, berujung akrofobia sekarang ini. Anak saya merespon ketinggian menggunakan Inner Child-nya, bukan usia sekarang yang sudah dewasa. 
***

Sahabat yang berbahagia, mungkin ada di antara Anda yang juga mengalami hal-hal di atas. Anda merespon masa kini menggunakan pengalaman masa lalu (Inner Child), yang tidak relevan dengan konteks kekiniannya. Tentu saja situasi ini menjadikan Anda terlihat aneh di mata orang lain. 

Menurut teori NLP (Neuro Linguistic Programming) contoh-contoh kasus di atas, atau mungkin yang terjadi pada diri Anda muncul akibat terjadinya proses disosiasi antara Anda dengan Inner Child Anda. Disosiasi adalah kondisi di mana seseorang seolah keluar dari dirinya. Disosiasi merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri di mana ketika seseorang merasa kehilangan jejak waktu dan/atau orang, mereka kemudian malah menemukan keberadaan diri mereka dalam kondisi yang lain. 

Inner Child mesti diselesaikan sehingga jika semua Inner Child yang ada pada diri seseorang telah habis, tidak ada ruang lagi bagi dirinya untuk melakukan disosiasi. Dengan kata lain orang ini akan hidup di masa kini dengan respon yang relevan terhadap stimulus yang ada. 

Inti dari Inner Child Therapy adalah dengan menjalin hubungan dengan Inner Child sehingga dia tidak merasa sendirian lagi. Dia merasa bahwa dia dicintai dan diperhatikan.  Kemudian kita akan memberitahu si Inner Child apa yang akan terjadi nanti, sehingga dia bisa melalui ulang peristiwanya dengan penuh kesiapan. Ibarat kita mau nonton film horor, ending dari cerita itu sudah kita bocorkan sebelum film diputar (spoiler), sehingga kengerian menonton film horor tersebut menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. 

Dan pada akhirnya kita akan satukan Inner Child tersebut dengan kesadaran dewasanya, sehingga kesadaran klien menjadi utuh, tidak terpecah lagi di masa lalu. 

Tekniknya akan banyak sekali jika saya tuliskan di sini. Jadi mohon bersabar saja ya Kawan, karena semua teknik tersebut sudah saya tuliskan dalam buku ke-empat saya yang berjudul "The Indonesian Encyclopedia of Hypnotherapy" yang akan launch Q3/Q4 tahun ini. 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist 
Happiness Life Coach

Sunday, April 05, 2020

THERAPIST VS THE-RAPIST


Pada suatu siang yang terik, seorang nenek terlihat berdiri di trotoar pinggir jalan. Sesekali nenek tersebut menengok ke kiri dan ke kanan, seolah menunggu kendaraan yang berlalu lalang memadati jalanan di depannya. Ada kalanya nenek tadi turun dari trotoar, untuk kemudian menengok kiri, kanan dan sejurus kemudian kembali naik ke trotoar. 

Rupanya perilaku nenek ini menjadi perhatian seorang pemuda yang sedang nongkrong di trotoar seberang jalan. "Mmm kasihan nenek itu tidak berani menyeberang jalan. Aku mesti membantu nenek itu sampai di sini", gumam pemuda tadi dalam hati. 

Dengan sigap pemuda tadi menyeberang jalan yang lumayan padat, menghampiri sang nenek untuk kemudian membopong nenek sampai ke seberang jalan. 

"Anak muda, apa yang kau lakukan. Turunkan aku cepat" teriak nenek itu sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke badan sang pemuda. Sambil meringis menahan sakit pemuda itupun menjawab, "Saya hanya ingin membantu nenek menyeberang jalan. Saya perhatikan nenek kesulitan menyeberang jalan tadi"

"Eeee, siapa yang mau nyeberang, orang nenek lagi nonton mobil yang seliweran juga!" jawab nenek tadi tanpa merasa berdosa. 
***
Suatu hari sepulang sekolah, Ucok dengan riangnya bercerita kepada Bapaknya.
Ucok : "Tadi Ucok dan enam orang teman Ucok membantu seorang nenek menyeberang jalan, Pak." 
Bapak : "Oh, bagus sekali, Nak. Itu namanya anak yang baik. Tapi, mengapa sampai sebanyak itu kalian membantunya ?" 
Ucok : "Soalnya, nenek itu tidak mau menyeberang jalan." Wkwkwkwk 
***

Sahabatku, Anda boleh tersenyum simpul atau bahkan tertawa membaca 2 cerita singkat di atas, dan setelah selesai tertawanya, saya akan ajak Anda untuk membahas sesuatu yang lebih serius. 

Bukankah perilaku pemuda dan sekumpulan bocah itu terkadang menjadi perilaku kita. Dengan segala kompetensi dan kuasa kelompok yang kita miliki, kita merasa sudah membantu satu atau dua orang. Nyatanya orang tersebut sebenarnya tidak sedang membutuhkan bantuan kita. Sudut pandang kitalah yang memberikan signal tersebut. Betul tidak!

Nah, sekarang saya akan mengajak diskusi lebih khusus lagi kepada Anda yang berprofesi sebagai terapis. Coba ingat berapa sering Anda menunjukkan perilaku di atas. Dengan semena-mena Anda merasa telah membantu seseorang melalui keilmuan yang Anda miliki, padahal dengan selaksa alasan sebenarnya orang tersebut tidak ingin dibantu! 

Pernahkah Anda merasa telah membantu seorang suami  berhenti merokok  atas permintaan istrinya? Atau pernahkan Anda merasa telah membantu seorang anak yang atas permintaan bundanya diminta untuk lebih rajin belajar? Atau kasus-kasus lain yang senada. Seseorang datang ke Anda untuk dibantu, atas permintaan orang lain? 

Pernahkah Anda mendengar satu pameo sakti dalam dunia penyembuhan, 'Every healing is self healing'. Bahwa pada prinsipnya semua kesembuhan berasal dari diri sendiri. Seampuh apapun teknik yang diberikan oleh seorang terapis, namun jika klien tidak bersedia mengikuti anjuran teknik tersebut, maka nihil pula hasilnya. Semujarab apapun obat yang diberikan oleh seorang dokter, namun jika pasien tidak mau meminumnya, maka nol besar pula khasiatnya. 

Bahkan kita para hipnoterapis sangat mahfum bahwa syarat utama seseorang bisa dihipnosis adalah sukarela. Sudah suka, juga mesti rela. Suka kepada terapisnya dan rela mengikuti semua sugestinya. 

Oleh karena itu, sebelum saya melakukan sebuah sesi terapi, setelah saya mendapatkan kondisi yang kurang memberdayakan dari klien, maka biasanya  saya menyiapkan 3 langkah awal sbb:

1. Menanyakan apakah klien SUKARELA (MAU) dibantu. Jika jawabannya adalah YA

2. Minta klien menyatakan GOALnya yang memiliki unsur sbb
a. Spesifik
b. Kalimat positif
c. Kendali ada di klien
d. Memiliki sumber daya
e. Ekologis

3. Membuat goal yang mendukung goal klien. 
Maka, jika goal klien adalah ingin berhenti merokok, goal terapis adalah membantu klien berhenti merokok, bukan mendapatkan uang dari sesi terapis tersebut. Uang adalah bonus. 

Sahabatku, dalam bahasa Inggris pengusada atau terapis disebut THERAPIST. Dan sebutan ini hanya layak kita sandang jika kita  memiliki 3 langkah awal di atas, karena jika tidak, maka kita hanyalah akan menjadi seorang THE-RAPIST. Fahimtum!

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist 
Happiness Life Coach

Sunday, March 29, 2020

Badai & Corona



Seorang pria gagah baru saja menikah dan dalam perjalanan pulang bersama istrinya menuju rumah mereka di seberang danau. Mereka menaiki perahu kecil, dan ketika perahu mereka sampai tengah danau, tetiba saja terjadi badai yang sangat besar. 

Sang suami adalah seorang prajurit dengan tekad kuat dan keberanian yang luar biasa. Dia hadapi badai tersebut dengan gagah berani. Tapi si istri merasa sangat ketakutan menyadari badai yang sangat besar tersebut.  Perahu yang mereka naiki hanya sebuah perahu kecil, sementara badai yang mereka hadapi sangatlah dahsyat. Kapanpun mereka bisa tenggelam dan rasanya mustahil bisa selamat sampai seberang. 

Namun anehnya sang suami masih bisa duduk tenang, dan santai, bahkan seolah tidak terjadi apapun. 

Dengan gemetar si istri bertanya, "Apakah kamu tidak takut? Mungkin ini adalah saat terakhir kita. Bisa jadi kita tidak akan sampai ke seberang! Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan kita, sementara ajal sudah di depan mata" Sang suami tetap tenang dalam duduknya. 

Ketakutan si istri semakin menjadi, pertanyaannya kali ini sudah berubah menjadi teriakan, "Apakah kamu tidak takut? Apakah kamu sudah gila? Jawab suamiku, jangan mematung saja seperti itu!"

Sang suami kemudian beranjak dari kursinya, tersenyum menghampiri istrinya sembari mengeluarkan pedang dari sarungnya. Si istri semakin bingung dengan perilaku suaminya. Dengan tegas dan cekatan sang suami kemudian mendekatkan pedang yang sudah terhunus tadi ke leher jenjang istrinya. Sekarang pedang itu nyaris menempel di urat nadi leher istrinya, dengan satu gerakan saja maka leher jenjang itu bisa tertebas. Sang suami kemudian bertanya, "Apakah kamu takut, istriku?"

Seolah baru tersadar dari mimpi, si istri menjawab sambil tertawa, "Kenapa aku mesti takut?"
"Tapi posisimu sedang di ujung ajal ini. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkanmu!" ujar suaminya lagi tanpa menurunkan pedang tadi dari leher istrinya. 
"Jika kamu yang memegang pedang itu, kenapa aku mesti takut. Aku tahu pasti bahwa kamu mencintaiku", jawab istrinya manja sambil menepis pedang tersebut. 

"Itulah jawabanku, istriku sayang!", kata sang suami sambil menyarungkan pedangnya kembali. "Badai itu ada di tangan Tuhan. Dan aku tahu bahwa Dia mencintaiku! Maka apapun yang terjadi, pastilah sebuah kebaikan. Jika kita selamat, berarti itu sebuah kebaikan untuk kita. Jika kita tidak selamatpun, itu pastilah juga yang terbaik bagi-Nya. Semua yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman-Nya, dan tidak mungkin Dia melakukan kesalahan"
***

Sahabatku, sudah hampir satu bulan ini negara kita digempur horor virus corona. Berita di media sosial berseliweran, saling bersaing antara yang hoax dan turnback hoax. Pemerintah juga sudah mengeluarkan kebijakan untuk lockdown beberapa wilayah, termasuk meliburkan sekolah-sekolah.  

Dari pengamatan saya sebagai seorang hipnoterapis, rupanya horor rasa cemas terhadap kematian yang bisa ditimbulkan oleh covid-19 ini lebih mendominasi postingan-postingan di media sosial kita. Nyatanya informasi dari beberapa pihak yang dapat dipercaya, meskipun covid-19 termasuk virus dengan tingkat penyebaran paling cepat, namun kasus kematian yang diakibatkannya tidak pernah lebih dari 4%. 

Maka sudah banyak pihak juga yang menyarankan agar kita tidak mengalami kepanikan akibat covid-19 ini. Justru jika kita panik. Bin  cemas, maka imunitas kita akan anjlok, yang malah bisa membuat diri kita diserang covid-19. 

Cerita di atas saya adopsi dari sebuah video yang menurut saya sangat relevan dengan kondisi yang sedang menimpa negara kita ini. Kita tahu bahwa pandemi covid-19 ini sangat berbahaya, sudah terbukti membuat banyak orang berada di ujung ajal. Hanya keajaiban yang bisa membuat kita selamat. Namun, lupakah kita bahwa covid-19 berada dalam genggaman Allah, Dzat yang sangat mencintai kita? Maka apapun yang terjadi, pastilah sebuah kebaikan. Jika kita selamat, berarti itu sebuah kebaikan untuk kita. Jika kita tidak selamatpun, itu pastilah juga yang terbaik bagi-Nya. Semua yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman-Nya, dan tidak mungkin Dia melakukan kesalahan!

Tanpa bermaksud takabur, marilah kita tetap berdoa dan mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah. 

Hasbunallah Wanikmal Wakil, Nikmal Maula Wanikman Nasir

Sila tebar jika manfaat 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist 
Happiness Life Coach

#coronafighting
#menolakcemas

Tuesday, March 10, 2020

Genting atau Penting

Setiap hari semua orang akan selalu melakukan aktifitas dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Ada yang menjadi ASN, Polisi, Tentara, Pengusaha, Trainer, Dokter dll. Namun sayangnya dengan segala kesibukan yang kita miliki, waktu yang tersedia hanyalah 24 jam, sehingga kita mesti pandai-pandai mengalokasikan waktu yang dimiliki agar semua aktifitas bisa selesai dengan baik. 

Manusia paling cerdas yang pernah ada, Einstein saja tidak mampu menciptakan tambahan waktu meski hanya sedetik. Itulah makanya dia hanya mau membeli baju warna putih dan abu-abu serta pantalon hitam dan biru gelap, agar waktunya tidak habis hanya untuk memadu padan baju ketika mau bekerja. 

Dunia manajemen kemudian memperkenalkan aplikasi time management, yang menurut saya salah kaprah karena waktu tidak bisa dimenej. Yang bisa dimenej adalah aktifitasnya. So seharusnya istilahnya adalah activity management. 

Dalam teori activity management, kita mengenal dua komponen yaitu:
1. Importancy (sesuatu yang kita anggap penting) 
2. Urgency (sesuatu yang kita anggap genting) 

Dari dua komponen tersebut, kita bisa mendapatkan 4 kuadran,
A. Penting & Genting
B. Tak Penting & Tak Genting
C. Penting tapi Tak Genting
D. Tak Penting tapi Genting

Secara urutan melaksanakannya maka sudah sangat jelas bahwa kuadran A selalu menjadi prioritas utama. Segala sesuatu yang penting dan genting mesti didahulukan. Kuadran B tentu menjadi prioritas terakhir, karena segala sesuatu yang tak penting dan tak genting hanya akan menghabiskan waktu Anda. 

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah sekuensial setelah kuadran A itu kuadran C atau D. Kebanyakan dari kita akan memilih D. Apa sebab?  Ya karena ada situasi yang sudah genting. Sudah urgent! 

Sebelum setuju dengan pendapat mayoritas ini, marilah kita telaah beberapa premis di bawah ini. 

Kita tahu bahwa suplay energi di Indonesia dikuasai oleh negara, dalam hal ini PLN. Dan demi mentertibkan pelanggannya, kian hari PLN kian ketat dalam memberlakukan peraturan, utamanya terhadap pelanggan paska bayar. Telat satu bulan saja sudah akan dicabut sambungannya. 

Mensikapi situasi seperti ini apakah menurut Anda membayar listrik adalah sebuah hal penting? Ya, saya setuju jika Anda menjawab penting. 

Apakah membayar listrik di awal bulan seperti ini penting? Ya, saya juga setuju jika Anda menjawab penting, meskipun belum genting alias urgent. Pada tanggal 20 setiap bulan, barulah hal ini menjadi genting. 

Dari ilustrasi ini bisa disimpulkan bahwa sebuah kepentingan (Importancy) tidak bisa digeser kadarnya karena 
Sementara kegentingan (Urgency) justru bisa digeser karena hanya berhubungan dengan masalah waktu. 

Maka kuadran C merupakan sekuen kedua setelah kuadran A, dilanjutkan kuadran D. Alasannya sangatlah jelas, ketika hal yang penting tidak diprioritaskan maka hal-hal tersebut akan menjadi genting, sehingga semua kehidupan Anda akan dipenuhi kuadran A. Semuanya penting dan genting. 

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, saya akan ajukan beberapa pertanyaan tambahan kepada Anda. 

Apakah Anda setuju bahwa olah raga merupakan hal yang PENTING dalam hidup kita? Saya yakin sebagian besar dari Anda akan setuju. 

Jika Anda setuju, apakah setiap hari Anda melakukan olah raga? Apa? Tidak! 

Padahal Anda tahu khan bahwa olahraga yang memiliki efek menyehatkan tubuh adalah yang rutin. Jika hanya sekali sekali itu hanya akan membuat tubuh lelah. Lalu jika Anda yakin bahwa olahraga itu penting, kenapa tidak setiap hari melakukannya? Ya, saya paham kok. Banyak sekali alasan Anda, yang intinya adalah tidak ada waktu! 

Pertanyaan saya ganti sekarang. Apakah mandi merupakan hal yang PENTING bagi Anda? Tentu Anda jawab ya! Dan apakah setiap hari Anda mandi? Tentu jawaban Anda juga ya. Bagaimana jika suatu hari Anda bangun kesiangan, apakah Anda tetap mandi sebelum berangkat ke kantor? Tetap mandi khan? 

Nah, dari pertanyaan tambahan ini bisa kita tuliskan sebuah quote: 
'Sebenarnya tidak ada situasi atau hal dimana Anda bisa mengatakan TIDAK ADA WAKTU  yang ada adalah Anda belum menganggap situasi atau hal itu PENTING!' 

Maka tanyalah diri Anda sendiri, apakah shalat itu PENTING? Jam berapa biasanya Anda shalat dhuhur? Jam 2? Kenapa? Terlalu sibuk dengan kerjaan kantor, sehingga tidak ada waktu? Tidak ada waktu atau Anda belum menganggap shalat itu penting! 
***

Hari ini, tanggal 5 maret, sekali lagi saya melewatkan hari ulang tahun di luar kota, demi membersamai klien memberdayakan diri mereka. Bukan berarti saya  menganggap harlah saya tidak penting, namun saya memilih mendahulukan kepentingan klien yang meminta saya membersamai mereka di hari yang bersejarah bagi diri saya ini. 

Klien saya memilih saya di antara sekian banyak trainer lain, yang artinya mereka menganggap diri saya ini penting, maka saya perlu membalas pilihan mereka ini dengan menggeser kebersamaan saya dengan keluarga, karena masih akan selalu ada waktu untuk mereka. 

Terimakasih untuk keluarga saya yang selalu bisa memahami situasi genting ini!
Terimakasih kepada Anda semua (yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang telah ikut merayakan hari penting ini dengan ucapan-ucapan serta kiriman virtual card melalui medsos. 

Ingat ya bahwa
"Sebenarnya tidak ada istilah TIDAK ADA WAKTU,  kita hanya belum menganggap hal itu PENTING! Ituh....! "

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Wednesday, March 04, 2020

Quranic Memory Photographic



"Penasaran bangeeett ingatan fotografik Al Quran, bener terjadi. Kaila itu sebenarnya blm hafal Al Muzamil 1-20...eeeh benar dia bisa hafal dengan instan setelah dihipnotis.."

Pesan whatsapp tersebut saya baca di salah satu grup alumni IHC sehari setelah pelatihan Fundamental Hypnosis di Kendari yang saya ampu, minggu yang lalu. Artinya, sepulang pelatihan, peserta yang notabene seorang dokter ini langsung melakukan praktek beberapa teori yang sudah diberikan di kelas, hari itu juga. 

Wow, saya sendiri juga takjub dengan kemajuan teknik yang kemudian saya beri nama Qur'anic Memory Photographic tersebut. 

Sejujurnya teknik ini bukan murni kreasi saya. Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah video dari Syekh Ali Jaber yang sedang mengajarkan cara menghafal Al Qur'an dengan cepat. Beliau mencontohkan dengan memanggil salah satu santri dan minta dia membaca satu ayat seperti kebiasaan hariannya. Dan santri itu meletakkan mushaf di pangkuannya, sehingga posisi kepala agak menunduk. Setelah selesai membaca, mushaf segera diambil oleh Syekh Ali Jaber, dan santri tadi diminta untuk mengulangi bacaannya. Dengan tegang dan kebingungan, santri tadi berusaha mengucapkan lagi bacaannya. Namun meski berusaha keras, santri tadi hanya berhasil melafalkan akhir ayat tersebut. 

Kemudian Syekh Ali Jaber meminta santri tadi memegang mushaf dalam posisi agak ke atas sebelah kanan (sebelah kiri dari posisi kita, jika berhadapan dengan santri tadi), wajah tetap menghadap ke depan, hanya mata yang melirik ke arah mushaf,  dan menyuruh santri tadi untuk  memotret lembaran mushaf tadi. Hanya memotret, tidak boleh membaca meskipun hanya di dalam hati. Santri tadi diberi waktu selama beberapa menit untuk memerhatikan satu lembar pada bagian kiri atas (satu ayat saja). Ajaibnya setelah mushaf ditutup, seolah melihat lagi lembaran yang ada di dalam pikirannya, satu ayat bisa dilafalkan dengan baik. Menurut Syekh Ali Jaber, satu halaman mushaf bisa dihafalkan hanya dalam waktu 10 menit. 
***

Setelah melihat video tadi, saya seperti tersadar dari kelalaian saya selama ini. Bukankah saya mempelajari pemberdayaan pikiran bawah sadar sudah puluhan tahun, kenapa saya tidak mencoba teknik Syekh Ali Jaber tadi dengan lebih sempurna, yaitu menggunakan hipnosis. 

Seperti yang selama ini kita ketahui, bahwa pikiran manusia dibagi 2, yaitu Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind) di mana porsi PBS sebesar 88% atau 7x lebih kuat dari PS. Dalam menerima informasi, PS akan susah masuk dan mudah keluar, sehingga dikenal sebagai pikiran STM (Short Term Memory). Sementara PBS cenderung mudah memasukkan informasi dan susah melepaskannya, sehingga dikenal dengan pikiran LTM (Long Term Memory).

Memang terdapat tantangan tersendiri untuk membuat LTM ini aktif, yang sebenarnya sangatlah mudah, yaitu hanya tinggal me-nonaktif-kan faktor kritis yang selalu menyertai PS. Ada beberapa kondisi di mana  faktor kritis ini akan non aktif, yaitu:
1. Pengulangan
2. Sosok Otoritas
3. Emosi yang sangat intens
4. Bingung/Kaget
5. Visualisasi/Imajinasi
6. Relaksasi Pikiran
7. Hipnosis

Maka sebagai praktisi hipnosis, saya melakukan eksperimen kepada beberapa klien, yang sebagian besar adalah anak-anak. Di bawah ini saya akan beberkan denga singkat teknik Qur'anic Memory Photographic 

1. Ajarkan klien untuk membuat GOAL (dalam NLP hal ini dikenal dengan istilah WellFormed Outcome), yang minimal memiliki 5 komponen
a. Kalimat positif 
b. Spesifik
c. Berada dalam kendali klien
d. Memiliki sumber daya
e. Menentukan langkah pertama

2. Selalu gunakan mushaf yang sama (Usahakan bukan digital) 

3. Lakukan induksi untuk membawa klien ke dalam kondisi hipnosa. Latih dulu memori klien (anak) dengan mengajak mereka bermain ke tempat favorit mereka, bisa mall, pantai atau kolam renang favorit mereka. Biarkan mereka bermain sesuka hati mereka selama beberapa saat, dan tanyakan apa pengalaman mereka ketika sudah terbangun. Cek apakah mereka bisa menceritakan dengan detail, apa yang mereka lihat, dengar dan rasa. Jika mereka belum terbiasa menceritakan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa, maka ajarkan dulu mereka akan hal ini. 

4. Induksi lagi, kemudian katakan bahwa ketika membuka mata nanti, kita akan memasangkan kamera ajaib ke dalam mata mereka, sehingga mereka akan mampu memotret halaman mushaf yang akan ditunjukkan nanti. 

5. Bangunkan klien, kemudian  letakkan mushaf sedikit ke atas agak ke kanan.  Wajah tetap ke depan, mata saja yang melirik. Minta mereka memotret satu halaman mushaf tadi. 

Dengan cara ini maka mata akan mengakses otak kanan. Dalam NLP kita mengenal istilah eye accessing cue. Posisi mata melirik ke kanan atas sama dengan kondisi visual creation. 

Dengan cara ini maka klien akan melakukan scanning. Kita semua paham bahwa sebuah alat scan akan menghasilkan output yang sama. Mata manusia memiliki pixel (picture elemen) tujuh puluh ribu kali kekuatan dibandingkan alat scan/kamera paling canggih sekalipun. Maka hasil scan-nya juga pasti sama persis dengan benda yang discan. 

Kemudian minta klien melihat di dalam pikirannya (bisa mata terbuka atau tertutup) yang berada pada sudut kiri atas (dalam NLP  kondisi ini adalah visual remembering) dan membaca mushaf yang sekarang sudah nyata berada dalam pikirannya. Dengan sistem ini maka satu lembar mushaf, in syaa Allah akan langsung masuk menjadi LTM dalam hitungan detik. 

Bagaimana, mudah bukan? 

Tetiba saja, masuk satu pesan whatsapp lagi di grup yang sama: 

"Terimakasih atas ilmu dan pengalaman Master Hari yg dibagikan ke peserta walaupun hanya sesaat (saya telat datang Krn Ada agenda lain), namun sangat berkesan, terutama anak saya Dian  tadi malam pesan untuk dihipnoterapy kl pas ulangan biar TDK susah menghafal pelajaran. Salam dari Dian untuk om Master, 
See you again.  Trm's"

Di sinilah, sebagai trainer saya merasa bahagia. Jadi kata siapa, belajar hipnosis perlu waktu lama? 

Daftarkan segera diri Anda di kelas-kelas Fundamental Hypnosis yang rutin kami lakukan di seluruh Indonesia melalui www.centerhipnotis.com

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#ihc
#pkhi
#hipnosisuntuknegeri

Wednesday, January 29, 2020

MARKETING LANGIT


Sekelumit kisah mengenai RM Tamansari tempat saya dan team CafĂ© Therapy makan siang selepas seminar Find The Happiness in YOU di Pondok Pesantren Darul Qur’an beberapa waktu yang lalu masih membekas dalam hati saya sampai saat ini. Adalah Mas Didin (Direktur Operasional Putra, Darul Quran Solo Raya) yang menceritakan asal muasal ramainya tempat makan tersebut.

Rumah makan yang beralamat di Jl. Adi Sucipto No.168, Colomadu, Kabupaten Karanganyar tersebut selain letaknya yang sangat strategis, juga menyajikan aneka macam lauk khas makanan Jawa yang sangat enak sehingga memanjakan lidah pelanggannya. Setiap hari tak kurang dari ratusan bis, baik pariwisata maupun antar kota yang merapat di rumah makan yang memiliki halaman sangat luas tersebut. Belum lagi puluhan kendaraan pribadi dari warga sekitar Solo yang juga hilir mudik bergantian parkir di depan rumah makan yang didirikan oleh pasangan suami istri Bapak dan Ibu Ismail. Di halaman dalam bahkan disediakan sebuah masjid dengan nama Masjid Ismail yang lumayan luas dan mewah karena dilengkapi dengan lift untuk menuju lantai 2. 

Dalam perjalanan pulang ke pondok itulah Mas Didin bercerita. Konon Bu Ismail memulai rumah makannya dalam bentuk warung kecil yang sederhana. Meski warungnya kecil, namun halaman parkirnya termasuk luas, karena memang ditujukan untuk menampung bis antar kota dan bis pariwisata. Pada suatu waktu  ada satu rombongan wisata yang terdiri dari beberapa bis yang singgah di warung Tamansari tersebut. Ketika waktu istirahat sudah usai, dan rombongan hendak berangkat melanjutkan perjalanan, rupanya ada satu bis yang tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan lumayan parah.

Pimpinan rombongan segera mencari armada bis cadangan dari pool terdekat. Namun bis naas tadi mesti ditinggal di halaman warung Tamansari karena bergerakpun sudah tak sanggup lagi. Konsekuensi logisnya adalah kru bis mesti tinggal sembari menunggui montir yang juga sudah dipanggil untuk segera melakukan servis pada mesin bis tersebut. 

Ketika minta ijin untuk meminjam halaman parkir guna melakukan servis, kepala kru bis tersebut terkejut ketika Bu Ismail justru minta dihubungkan dengan juragan PO (Perusahaan Otobus) via telepon. Inti dari pembicaraan per telepon itu adalah Bu Ismail minta agar sang juragan tenang saja. Bu Ismail berjanji untuk menjaga kru bisnya, mereka boleh tidur di warung Tamansari, bahkan bonus dengan makan, minum serta rokok sampai bis tersebut selesai diperbaiki. 

Tentu saja juragan bis yang rupanya seorang wanita separuh baya keturunan Tionghoa tersebut mengucapkan terimakasih kepada Bu Ismail sambil berurai air mata. Dia tidak menyangka masih ada orang sebaik Bu Ismail di jaman yang serba tidak menentu kala itu. Mereka tidak saling kenal, namun Bu Ismail memperlakukan kru bisnya layaknya saudara saja. 

Singkat cerita, setelah 4 hari diservis, bis tersebut sudah bisa berjalan lagi dengan lancar. Para kru bis berpamitan sambil tak henti mengucapkan terimakasih kepada Bu Ismail. Bu Ismail melepas mereka dengan bonus lagi memberikan mereka bekal untuk makan, minum dan rokok di perjalanan. 

Keajaiban terjadi setelah hari itu. Seolah air bah, rombongan bis pariwisata dan antar kota yang singgah di warung Tamansari tak bisa dibendung lagi. Bu Ismail bahkan belum ngeh bahwa pertolongan kepada kru bis itu yang menjadi penyebab rombongan bis berdatangan. Rupanya kru bis termasuk sang juragan menceritakan kebaikan Bu Ismail kepada kolega mereka. Mereka berpesan, kalau lewat Colomadu, maka sempatkanlah mampir di warung Tamansari. Selain makanannya enak, pelayanannya sangat ramah, tempatnya juga bersih. Word of mouth (pesan dari mulut ke mulut) memang telah terbukti merupakan alat promosi nomor satu di dunia marketing. 

Karena tak sanggup lagi menampung parkir serta tempat duduk para pelanggan, maka dengan pesat warung Tamansari bermetamorfosis menjadi Restoran Tamansari seperti sekarang ini. 

Semua terjadi atas ijin Allah. Ketika menolong kru bis tersebut, bahkan Bu Ismail tak pernah terpikirkan akan memeroleh balasan sebesar ini. Yang namanya IKHLAS adalah menolong tanpa pamrih sedikitpun. IKHLAS adalah kependekan dari Ini Kulakukan Hanya Lantaran Allah Semata. Inilah Marketing Langit, yang jika dilakukan secara rutin maka akan menjamin kebaikan kita di dunia dan di akhirat.

Maka Kawan, ketika ingin berbuat baik, janganlah memikirkan perbuatan itu ditujukan untuk sesama, namun tujukanlah perbuatan baik itu seolah untuk Allah, Sang Maha Pencipta. Jika kita telah sanggup melakukannya, maka in syaa Allah Marketing Langit akan mendatangi kita. 

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

PART THERAPY PART THREE



Sekilas cerita terapi dari Workshop Advanced Hypnotherapy Solo beberapa waktu yang lalu. Cerita Part Therapy Part Two, yang mampu membuat Mbak Vee membatasi konsumsi gula rupanya menarik perhatian Ki Seno untuk mencobanya. 

Dan demi melatih peserta pelatihan mempraktekkan tekniknya, maka saya minta Mas Ricky untuk melakukan induksi kepada Ki Seno. Teknik induksi yang paling praktis serta client friendly dalam terapi adalah trance recall. Maka setelah Ki Seno duduk dengan nyaman dan memejamkan mata, Mas Ricky meminta Ki Seno untuk membayangkan tempat yang paling nyaman demi mengakses kondisi kenyamanan (trance) yang paling dalam. 

Mengikuti cerita pada Part Therapy Part Two, Mas Ricky memegang pundak Ki Seno sambil mengatakan bahwa setiap kali dia memegang pundak kiri, dia sedang bicara dengan Gula. Setelah itu dia memegang pundak kanan, sambil berkata bahwa setiap kali dia memegang pundak kanan, dia berbicara dengan Ki Seno. 

Proses terapipun dimulai. Mas Ricky yang dalam pre induction talk sudah mendapat informasi bahwa selama ini asupan gula Ki Seno adalah 8 sendok per hari, langsung memegang pundak kanan sambil berkata, "Ki Seno, apakah bersedia mengurangi asupan gula dari delapan ke tujuh sendok? Jika setuju gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Bagus" Sekarang Mas Ricky memegang pundak kiri, "Wahai Gula, Ki Seno sudah sepakat untuk mengurangi asupan gula menjadi 7 sendok sehari. Apakah Gula juga setuju, jika ya gerakkan telunjuk tangan kiri" (Telunjuk kiri diam) 

Mas Ricky terdiam kebingungan. Maka saya memberi masukan untuk bertanya secara verbal. 

"Gula, silakan sekarang Gula bisa menjawab secara verbal, apa yang diharapkan?", Mas Ricky melanjutkan sesi terapinya
"Saya mau kondisi gula darah stabil 80-120 mg/dL", mulut Ki Seno menjawab dengan lirih. 

Mas Ricky diam terbengong-bengong mendengar jawaban ini. Maka saya memanggil dr. Erlambang untuk mengambil alih sesi terapi. 

"Ki Seno, saya dr. Erlambang, ijinkan saya meneruskan sesi ini. Jadi Ki Seno mengharapkan gula darah normal 80-120 mg/dL? Jika betul gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)

Kemudian dr. Erlambang memegang pundak kanan, "Jika Ki Seno berharap kondisi gula darah normal tersebut, apakah bersedia mengurangi lagi asupan gula di bawah 7 sendok per hari? Jika bersedia gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan diam) 

"Jika demikian apa yang akan dilakukan untuk mencapai kondisi tersebut. Silakan se"Baiklah. Olah raga apa yang akan dilakukan? ",karang Ki Seno bisa menjawab dengan verbal"
"Olah raga rutin", jawab Ki Seno lirih
 tanya dr. Erlambang lagi. 

Singkat cerita part Ki Seno akan menambah latihan rutin berupa badminton, renang dan jalan sehat masing-masing sebanyak 3x satu minggu. Part gula mengurangi konsumsi gula menjadi 7 sendok per hari. Saatnya untuk melakukan integrasi antar part, dan menjadikan kesepakatan ini sebagai program baru Ki Seno. Namun keanehan terjadi ketika klarifikasi terakhir mengenai kebiasaan olah raga ini, part kanan (Ki Seno) tidak merespon. (Telunjuk kanan diam) 

Setelah berpikir sejenak, akhirnya sesi terapi saya ambil alih, 
"Assalamualaikum Ki Seno, saya Hari Dewanto akan lanjutkan sesi ini. Ketika saya memegang pundak kanan maka saya bicara dengan Pak Seno. Dan ketika saya memegang pundak kiri saya bicara dengan Gula. Jika setuju gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak) 

"Apakah Gula sudah bersedia mengurangi asupan gula menjadi 7 sendok perhari? Jika ya gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)
"Bagus. Pak Seno, agar gula darah normal tetap di angka 80-120 mg/dL, apakah Pak Seno bersedia untuk rutin melakukan olah raga badminton, renang, dan jalan sehat seminggu tiga kali? Jika bersedia, silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak"

"Bagus. Maka sekarang saatnya untuk melakukan integrasi. Pak Seno dan gula silakan bersatu lagi menjadi Ki Seno, dimana program barunya adalah asupan gula 7 sendok per hari dan olah raga rutin badminton, renang dan jalan sehat seminggu tiga kali. Apakah Ki Seno setuju? Jika setuju silakan gerakkan telunjuk tangan kanan" (Telunjuk kanan bergerak)

"Baiklah Ki Seno, program ini permanen menjadi milik Ki Seno dari sekarang dan selamanya. Sampai nanti sampai mati. Dan dalam hitungan tiga, silakan buka mata, bangun dalam kondisi sehat dan segar. Sehat dan segar. Satu, dua, dan tiga. Sehat. Segar"
***

Sidang Pembaca yang berbahagia adakah di antara Anda yang menandai, kenapa proses integrasi pertama yang akan dilakukan oleh dr. Erlambang terhambat? 

Bingung? 

Yes. Pikiran bawah sadar itu sangat cerdas dan sangat konsisten. Ini hanya masalah konsistensi. Ketika Mas Rian pertama kali memanggil part Ki Seno sambil memegang pundak kanan, dia memberi nama Ki Seno. Apa salahnya dengan nama ini? Tidak ada yang salah, hanya saja nama ini identik dengan whole body Ki Seno. Ki Seno adalah entitas atau identitas keseluruhan badan dan pikir dari Ki Seno itu sendiri, maka ketika nama itu dijadikan identitas sebuah part, terjadi kebingungan pada pikiran bawah sadar. 

Itulah kenapa ketika saya ambil alih, part kanan saya ganti namanya menjadi Pak Seno. Bisakah kita ganti namanya langsung menjadi Seno saja? Mungkin saja bisa, namun tidak akan ekologis mengingat usia terapis yang berada di bawah usia klien. 

Asyik ya ternyata bermain dengan pikiran bawah sadar? Asyik dan diperlukan kreatifitas tingkat tinggi. 

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist

Thursday, January 23, 2020

BECOMING PROFESSIONAL HYPNOTHERAPIST


Menjadi seorang terapis adalah pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Meskipun banyak pelatihan menuju jenjang terapis, namun nyatanya hanya segelintir orang yang mendedikasikan dirinya untuk benar-benar membantu kesembuhan orang lain. 

Demikian juga halnya dalam hal hipnoterapi. Maka agar mampu terjun dalam ranah terapi dengan benar, dibutuhkan pelatihan hipnoterapi yang berkualitas, dipandu oleh terapis yang mumpuni serta diselenggarakan  oleh lembaga yang legal. 

Meski titelnya adalah hipnoterapi, namun jangan dipikir bahwa kita akan langsung menghipnosis klien begitu tiba di runag praktek kita. Ada dua jenis intervensi yang mesti kita lakukan, yaitu:

A. CONSCIOUS MIND INTERVENTION 
Merupakan tahap intervensi dalam keadaan 'fully awake' (gelombang beta). Tahapan ini sudah bisa dimulai ketika calon klien menghubungi terapis. Sebagai terapis, kita bisa minta semua data 'sosmed'-nya, sehingga kita sudah bisa melakukan stalking sebelumnya. Adapun langkah lengkapnya adalah sbb:

1. Pre-Induction Talk
Ketika melakukan wicara sebelum induksi, kita mesti menggali sebanyak mungkin informasi dari klien, termasuk di antaranya adalah:

Building Rapport atau menjalin hubungan demi tercapainya keterhubungan bawah sadar (Sub conscious connected) antara terapis dengan klien. Tujuan dari langkah ini adalah mendapatkan TRUST klien.

Exploring Client Modalities atau mencari tahu preferensi klien dalam menerima informasi dari dunia luar. Apakah dia dominan Visual, Auditori ataukah Kinestetik

Hypnotherapy Training adalah penjelasan logis mengenai proses dan keseluruhan sesi terapi.

Suggestibility Test yang merupakan serangkaian tes sederhana untuk mengetahui apakah klien itu memiliki tingkat sugestivitas tinggi, menengah atau rendah

2. Intake Interview
Prinsip dari tahap ini adalah, semakin banyak data yang kita miliki mengenai klien, maka akan semakin mudah proses intervensi yang nantinya akan kita lakukan. Apa saja yang perlu kita tanyakan kepada klien?

Symptom, tanyakan gejala gangguan atau situasi yang sedang dialami klien. Gunakan Scaling Question untuk mengetahui seberat apa kondisi yang sedang dialami klien

Outcome (Clear, Realistic, Staging) atau GOAL klien. Biasanya ketika menggali goal dari klien, maka saya akan menggunakan teknik Miracle Question, sbb:

“Jika nanti malam terjadi sebuah keajaiban, bisakah Anda ceritakan kondisi Anda keesokan harinya yang sudah sembuh?”

Agar sebuah GOAL mudah dicapai, maka perlu mengikuti sebuah kaidah yang sesuai dengan cara kerja pikiran manusia, sbb:
- Ditulis dalam kalimat positif
- Berada dalam kendali kita
- Spesifik
- Rasional dan ekologis
- Terukur dan bisa dirasakan oleh indera kita

Mengklarifikasi Negative Mindset
- Menghakimi masa depan
- Negative Thinking
- Menyalahkan Lingkungan / Pihak Luar
- Menginginkan perubahan instan
- Menyesali masa silam
- Menyalahkan diri sendiri
- Dan lain-lain

3. Reframe
Atau memaknai ulang segala kejadian yang sudah atau sedang terjadi. Dengan memberikan makna baru, maka klien menjadi memiliki pilhan tindakan yang akan diambilnya. Tahap ini meliputi:

New Understanding, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan memahamkan bahwa klien tidak sedang berada dalam sebuah masalah, mereka hanya sedang berada dalam sebuah SITUASI.

Clarify The Problem (Map vs Territory), pisahkan antara keluhan dan kondisi yang ingin diintervensi.

Realistic, meski menggunakan hypnosis, namun perubahan yang terjadi tetap bertahap dan perlu usaha yang konsisten dari klien  
***

B. SUBCONSCIOUS MIND INTERVENTION
Setelah semua urusan intervensi pikiran sadar kelar, masih ada 3 hal penting yang mesti disiapkan:
  1. Tanyakan apakah klien siap dibantu
  2. Jika klien siap, maka pandu klien menemukan GOALnya (dalam NLP dikenal dengan WellFormed Outcome/WFO) 
  3. Tentukan WFO kita sebagai terapis yang mendukung WFO klien.

Ketika semua tahapan di atas dilalui, maka sekarang saatnya terapis melakukan Formal Hypnosis (Trance/Relax) dengan semua urutannya seperti induksi, deepening, sugesti dan terminasi. Adapun strateginya adalah sbb:

• Phase 1 : Conditioning
Tentukan induksi apa yang cocok, deepening yang paling sesuai, dan latihlah klien untuk keluar masuk kondisi trance dengan baik

• Phase 2 : Optional Therapeutic
Ada beberapa teknik yang bisa dipilih untuk masing-masing sesi, seperti Part Therapy, Forgiveness Therapy,  Direct Suggestion, Object Imagery, Future Pacing
Gestalt, Anchoring, Role Model, Desensitization, Sub modalities Intervention, dll

• Phase 3 : Empowerment
Ketika mengakhiri sebuah sesi, terapis wajib memberikan kalimat empowerement. Kalimat yang paling sederhana adalah, “Dalam hitungan ke 3, Anda akan membuka mata dalam kondisi sehat, segar, dan penuh percaya diri”

Demikian sekilas ulasan saya mengenai tahapan menjadi hipnoterapis professional. Saya akan menutup tulisan ini dengan quote terkenal dari Bapak Hipnoterapi Modern, Milton Erickcon, “People do not come into therapy to change their past but their future”

Maka marilah kita penuhi keinginan para calon klien kita dengan menjadi seorang hipnoterapis yang mumpuni serta legal.

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist

Artikel Unggulan

"Tolong Saya Pak!"

Menjadi terapis adalah sebuah pilihan jalan hidup tersendiri. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Dengan kompetensi unik bisa memberdaya...