POSTINGAN POPULER

Monday, December 23, 2019

NEGATIVE EMOTIONS CLOUD (NEC)


Dalam kelas Terapi-Terapi Kilat ala NLP beberapa hari yang lalu di hotel Rio City Palembang, ada satu peserta yang bertanya, "Pak Hari, kalau kita sering melakukan terapi apakah kita tidak akan terpapar oleh emosi-emosi negatif dari klien kita?" 

Ini bukan kali pertama saya mendapatkan pertanyaan sejenis, karena pada sebuah praktek terapi, apalagi yang berbasis olah pikir, seorang terapis memang rawan terpapar oleh emosi negatif dari para klien. Mulai dari keluhan, curhatan, atau bahkan terkadang melihat abreaksi yang tak jarang terjadi. 

Situasi seperti ini mirip dengan kejadian para tenaga medis di RS yang rawan terpapar infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah istilah yang merujuk pada suatu infeksi yang berkembang di lingkungan rumah sakit. Artinya, seseorang dikatakan terkena infeksi nosokomial apabila penularannya didapat ketika berada di rumah sakit. Untuk mencegah munculnya kondisi yang tidak diinginkan ini, maka di RS biasanya disediakan cuci tangan anti bakteri yang mesti digunakan sebelum dan atah sesudah para tenaga medis ini memeriksa pasien mereka. 

Jika para tenaga medis itu memiliki aksi pencegahan dengan melakukan cuci tangan, maka hipnoterapis juga wajib memiliki sebuah tindakan preventif agar tidak terpapar emosi negatif tersebut. Saya biasanya akan membuat sebuah wadah imajiner di atas kepala saya untuk mengkerangkeng emosi-emosi negatif klien saya. Kerangkeng tersebut dalam imajinasi saya berbentuk seperti awan berwarna hitam, oleh karena itu saya menamainya Negative Emotions Cloud. 

Cara kerjanya sangat sederhana, sebelum klien mulai bercerita, saya akan membuka pintu cloud tersebut, sehingga ketika klien menceritakan semua situasi yang membelenggunya, emosi-emosi negatifnya saya arahkan untuk mengalir ke arah cloud tersebut. 

Tentunya banyak cara lain untuk menghindari paparan emosi negatif ini, namun bagi saya NEC (Negative Emotions Cloud) merupakan cara paling mudah dan adequate bagi saya. 

Anda bisa membuat sendiri tools semacam NEC dengan berpegang pada prinsip bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi di depan kita itu netral saja adanya, kitalah yang memberikan makna pada kejadian tersebut. 

Yang jelas, jangan sampai sebagai terapis, Anda justru membutuhkan terapis lain karena pikiran Anda dipenuhi emosi negatif klien Anda. 

Sila tebar jika manfaat 

PS:
Anda ingin tahu lebih banyak mengenai keilmuan hipnosis in?  Daftar saja di Workshop Fundamental Hypnosis yang akan dilaksanakan pada tgl 29 Desember 2019 di hotel Aston Imperium Purwokerto 

Tabik 
-haridewa-
Professional Hipnotherapist
Happiness Life Coach

Thursday, December 05, 2019

Terapi Anti Ngompol 2



Sepulang dari mengisi seminar di UIN Walisongo minggu lalu, tak sengaja saya bertemu dengan anak kawan SMP saya yang sedang mengambil pendidikan dokter gigi di salah satu universitas swasta bergengsi di Semarang. Saya masih ingat beberapa tahun silam ketika anak ini masih duduk di bangku SMP, dia memiliki kebiasaan yang sempat membuatnya kurang percaya diri, yaitu ngompol! Gegara kebiasaan buruknya itu, dia tidak pernah mau jika diajak menginap di rumah kawannya, atau bahkan dia akan selalu menghindar jika ada acara camping! 

Padahal di usia remaja seperti itu, biasanya anak-anak akan sangat menyukai petualangan seperti camping, mendaki gunung atau sekedar saling menginap di rumah kawan mereka. Ketika tahu bahwa saya bisa melakukan terapi hipnosis maka ibunya (kawan saya SMP tadi), meminta saya untuk melakukan terapi anti ngompol kepada anak lelakinya tersebut. 

Seperti biasanya ketika melakukan terapi, maka setelah menjalin koneksi (building rapport), saya melanjutkan dengan penggalian tujuan/goal atau dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) dikenal dengan istilah WFO (Well Formed Outcome). Saya menggunakan teknik Miracle Question, sbb: "Jika nanti malam terjadi keajaiban. Entah apapun dan bagaimanapun keajaiban itu terjadi, kondisi kamu besok pagi yang kamu harapkan seperti apa Mas?"

Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, "Mmmm aku bisa tidur dengan aman tanpa ngompol,  sehingga paginya terbangun dengan kondisi kasur kering"

"Baiklah Mas, Om mau tahu, apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi situasimu ini? Apakah sudah cek ke dokter juga?" (Teknik Coping Question)
"Sudah Om. Menurut dokter, tidak ada gangguan fisik. Dan aku juga sudah berusaha untuk pipis setiap mau tidur"
"Ow, jadi meskipun sudah pipis sebelum tidur, kamu tetap akan mengompol?"
"Iya Om"
"Pernahkah dalam satu malam, kamu bisa terbebas dari ngompolmu itu?" (Teknik Exception Question)
"Enggak pernah Om"

Waduh, teknik pamungkas (Exception Question) yang biasanya akan menemukan titik terang dari sebuah situasi, kali ini tidak berhasil seperti yang saya harapkan (untuk lebih paham mengenai teknik ini, silakan baca dulu tulisan saya yang berjudul: Terapi Anti Ngompol http://www.thecafetherapy.com/2019/11/terapi-anti-ngompol.html?m=1). Alhasil saya mesti merenung sejenak, membiarkan pikiran kristis saya istirahat (Know Nothing State) dan memancing si jenius terapi serta si kreatif mengambil alih. Setelah menarik nafas dan menghembuskan nafas dari mulut beberapa kali, akhirnya, "Ahaaaa, saya menemukan sebuah solusi!"

"Mas, pernah nggak ikut papa atau mama ke pom bensin?"
"Nggg, pernah Om. Tapi apa hubungan pom bensin dengan kebiasaan ngompol saya?", agak bingung anak itu menjawab pertanyaan saya. 
"Kamu perhatikan nggak, bagaimana petugas pom bensin tersebut ketika mengisi bensin?", tanpa memedulikan kebingungannya, saya justru mengajukan pertanyaan lain
"Kadang sih aku perhatikan Om"
"Bagaimana agar bensin mengalir ke tangki mobil?"
"Ya ujung pipa dimasukkan ke lubang tangki mobil Om"
"Betul. Apakah ketika ujung pipa itu sudah dimasukkan, maka bensin akan otomatis mengalir?"
"Nggg, sepertinya tidak Om. Ada tangkai yang mesti ditekan dengan telunjuk agar bensinnya mengalir"
"Tepat sekali Mas. Maka setelah ini Om akan buatkan program sementara (anchor) untuk mengatasi kebiasaan ngompol kamu. Caranya sederhana, nanti setelah Om masukkan program baru tersebut ke pikiran bawah sadar kamu, maka kamu hanya akan bisa pipis jika telunjuk kanan kamu dibengkokkan seperti petugas pom bensin yang sedang menekan tangkai nozzle pipa bensin. Mengerti Mas?"
"Siap Om. Mengerti!"
***

Singkat kata, setelah saya bawa anak itu dalam kondisi hipnosa, saya berikan sugesti seperti kesepakatan saya dengannya. Dia hanya akan mampu pipis ketika jari telunjuk kanannya membengkok. Saya tahu pasti ada di antara Anda yang penasaran. Memangnya dalam kondisi tidur, seseorang tidak akan mampu membengkokkan telunjuknya? Enggak usah repot mencari jawabannya, coba saja ketika baru bangun tidur (tak perlu dalam kondisi delta, dalam kondisi alfa saja, Anda akan mengalami kondisi yang disebut limb catalepsy) Anda langsung membengkokkan jari Anda jika bisa! 

Namun program tadi tidak saya kunci menjadi program permanen, dan hanya temporer saja sampai dia mampu membebaskan dirinya dari kebiasaan ngompolnya seiring dengan bertambahnya kedewasaannya. 

Sidang Pembaca yang berbahagia, darimana saya mendapatkan ide mengenai teknik jari bengkok ini? Apakah saya sudah pernah menangani kasus yang sama sebelumnya? 

Jika kita mengenali diri kita dengan baik, maka sebenarnya di dalam pikiran bawah sadar kita ada sebuah kamus pengetahuan yang maha luas yang bernama The Infinite Inteligent. Apapun pertanyaan yang muncul di kepala kita sudah ada jawabannya di sana. The Infinite Inteligent bisa kita akses jika pikiran kritis kita non aktif. Artinya kita hanya akan mampu mengaksesnya dengan teknik self hipnosis tanpa sugesti, tanpa mendengarkan CD atau yang lainnya. Know Nothing State. Suwung. Kita hanya berfokus pada nafas kita. Dan salah satu teknik yang ampuh adalah teknik Core Breathing. 

Semoga penasaran, wkwkwkkw! 

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

BECOMING PROFESSIONAL HYPNOTHERAPIST

Menjadi seorang terapis adalah pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Meskipun banyak pelatihan menuju jenjang terapis, ...