POSTINGAN POPULER

Friday, September 20, 2019

TRANCE

Masih dari ajang workshop Fundamental Hypnosis by IHC, Sabtu 14 September 2019. Pagi itu setelah menunjukkan video tentang aksi hypno stage yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu, beberapa pesrta menanyakan kenapa orang-orang di video tersebut bisa saya hypnosis.

Jawabannya sederhana saja, sbb:
1. Karena mereka sukarela melakukannya
2. Karena mereka bisa diajak berkomunikasi, dan
3. Karena mereka bisa difokuskan

Apakah kalau sudah memenuhi ketiga syarat tersebut, semua orang pasti akan semudah itu dihipnosis, seperti pada tayangan video tersebut? Tentu tidak, karena masih ada satu query tambahan yang mesti kita penuhi, yaitu mencari suyet dengan tingkat sugestivitas tinggi melalui serangkaian tes yang disebut suggestibility test.

Orang bisa dihipnosis karena dalam pikiran mereka terdapat beberapa gelombang besar, yaitu:

1. BETA (12 hz s/d 19 hz)
2. ALPHA ( 8 hz - 12 hz )
3. THETA ( 4 hz - 8 hz )
4. Delta (0.5 hz - 4 hz)

Dan kondisi hipnosa terjadi ketika kita berhasil mengarahkan orang tersebut menuju gelombang alfa-theta. Kondisi pikiran manusia ketika berada dalam gelombang alfa-theta ini sering disebut dengan trance. Pengertian trance di kalangan masyarakat  sering salah kaprah. Ada yang berpendapat trance adalah kondisi pikiran kosong. Pertanyaannya adalah, bisakah seorang manusia hidup mengosongkan pikiran mereka? Tidak mungkin bukan?

Bahkan terdapat pendapat yang  lebih parah lagi, trance dianggap sebagai kondisi kesurupan. Kalau sudah ada kata kesurupan, yang kata dasarnya adalah ‘surup’, maka pertanyaan saya adalah Anda memilih surup ABC atau surup Marjan, hehehe. Dalam Bahasa Jawa kata surup berarti masuk, jadi kesurupan artinya adalah diri kita sedang dimasuki oleh mahluk lain. Apakah itu semua benar adanya?
Kita coba telaah premis tersebut dengan beberapa teori di bawah ini:

Seperti kita ketahui bahwa pikiran kita terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Nah, kondisi trance terjadi saat kita berhasil mengakses subconscious mind kita. Lalu apakah conscious dan subconscious mind tadi terpisah? Sebenarnya tidak. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Suatu saat Anda pergi ke sebuah perpustakaan nasional yang berisi jutaan buku dalam sebuah ruangan. Sejauh mata memandang penglihatan Anda dimanjakan oleh deretan rak buku yang berjajar rapi. Anda tinggal memilih genre buku apa yang akan Anda pinjam. Namun tetiba saja aliran listrik di perpustakaan tersebut terputus, sehingga semua lampu yang berada dalam ruangan tersebut padam. Celakanya semua emergency lamp tidak berfungsi, sehingga kondisi ruang perpustakaan tadi benar-benar gulita. Melihat hidung sendiri saja Anda tak mampu.

Untunglah HP Anda dilengkapi dengan fitur flashlight alias senter. Maka sejurus kemudian, Anda segera mengaktifkan fitur senter tersebut dan mengarahkan cahayanya ke rak buku yang Anda inginkan. Saat itu di depan Anda akan muncul sebuah bidang (biasanya berbentuk lingkaran) dengan bagian pusat sangat terang, dan semakin keluar lingkaran intensitas cahanyanya semakin pudar, bahkan bagian di luar bidang tadi akan tetap berada dalam kondisi gelap. Buku yang terlihat jelas oleh mata kita saat itu juga hanya yang berada dalam jangkauan bidang melingkar tersebut.

Kita andaikan saja seluruh ruang perpustakaan tadi adalah pikiran kita. Nah, bagian terang tadi adalah subconscious mind kita, sementara bagian lain yang gelap pada saat itu adalah conscious mind kita.

Dengan kata lain, kondisi trance sebenarnya justru kondisi dengan konsentrasi sangat tinggi (sangat sadar atau sangat FOKUS). Ingat, pada saat kita menyalakan senter, perhatian kita pastilah terpusat pada lingkaran cahaya tadi. So, apapun yang berada dalam lingkaran itu dengan mudah akan kita lihat, tanpa memerhatikan lagi benda lain yang berada dalam kegelapan.

Dari beberapa ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk membuat orang trance, kita tinggal mengarahkan (leading) senter ke ruang gelap mereka. Namun untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu mempunyai senter terlebih dahulu. Dan senter ini bukanlah sembarang senter, karena setiap senter haruslah sesuai dengan minat dan perhatian pikiran orang yang akan kita senter.

Artinya kita haruslah memahami pikiran mereka dulu (pacing), atau minimal kita mencari persamaan kondisi dari orang-orang tadi (common sense), agar kita bisa memahami mereka. Dalam bahasa kerennya, teori ini disebut pacing-leading. Dan idealnya untuk sukses melakukan sebuah leading, kita perlu melakukan tiga kali pacing. Pahami kondisi orang yang ingin kita hipnosis, akui kelebihan, kekurangan mereka, cari common sense-nya, baru kemudian berikan sugesti Anda.

Ternyata mudah sekali untuk bisa menghipnosis orang bukan?
Ya, karena hipnosis bukanlah ilmu untuk menidurkan orang. Hipnosis adalah sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya. 

Tertarik untuk bisa menghipnosis orang lain atau diri sendiri? Klik saja link di bawah ini http://bit.ly/DAFTAR-FTHIY-BGR

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#FTHIY
#IHC
#PKHI

No comments:

Artikel Unggulan

FORGIVENESS THERAPY

Pagi ini ada seorang hipnoterapis yang menelpon saya dan menanyakan mengenai penanganan pada kawannya yang mengalami anxiety pasca terpuruk...