POSTINGAN POPULER

Thursday, September 12, 2019

KAPOK ROKOK JILID 3

Mataram, 11 Sep 2019

Hari kedua Workshop Creative Happy NLP di Hotel Lombok Plaza juga berjalan lancar. Setelah kuat pondasi pemahaman NLP diberikan pada hari pertama, di hari kedua ini peserta mulai belajar beberapa teknik dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Teknik terapi praktis tersebut di antaranya adalah anchoring, new behavior generator, six step reframing, perceptual position, optimizing object imagery therapy, dan time line therapy.

Setelah break makan siang saya kedatangan tamu seorang kawan SMP yang sudah 30 tahun lebih tidak bertemu. Kebetulan dia sedang ada rapat dinas di Mataram juga.

Sembari menemani beberapa peserta yang sedang merokok, kami ngobrol mengingat masa lalu dan saling betukar kabar kegiatan yang digeluti sekarang. Dikarenakan rokok kawan saya tadi habis maka dia minta sebatang rokok kepada salah satu peserta workshop.

"Mmm kurang mantab nih rokoknya", kawan saya bergumam lirih.

Rupanya merk rokok kawan saya berbeda dengan peserta workshop tadi. Rokok dia LA Menthol, sementara rokok yang dia dapat adalah Dunhill.

Mendengar gumaman kawan saya tadi, saya tawarkan bantuan. "Mau dibuat mantab rokoknya?"

"Emang bisa?", tanya kawan saya setengah ragu namun penuh harap
"Bisalah asal sampeyan mau", jawab saya sambil tersenyum
"Ojeh, mau"

"Baiklah. Menurut sampeyan, nikmatnya rokok yang sekarang dipegang itu (Dunhill) jika dikonversi ke dalam bentuk 2 dimensi akan menjadi apa? Saya kasih pilihan, segitiga sama sisi, lingkaran atau bujur sangkar?", saya memulai proses intervensi sembari menunjukkan simbol segitiga, lingkaran dan bujur sangkar dengan kedua tangan saya.

"Nggg apa ya? Segitiga deh"
"Bagus. Nah segitiga khan punya dimensi. Berapa ukuran sisi-sisinya?"
"Mmm rokok ini sih cuma sekitar 3 cm"
"Oke. Lha kalau yang rokok sampeyan tadi berapa cm kira-kira dimensinya?"
"Sepuluh senti kalau itu. Mantab banget"

"Baiklah Bro, sekarang coba lihat ke sini. Tarik nafas panjang. Saya akan membesarkan segitiga di tangan saya ini dari 3 cm menjadi 10 cm. Ziiiiuuuud!", kata saya sembari memeragakan pembesaran segitiga di tangan saya, lengkap dengan bunyi-bunyian yang keluar dari mulut saya yang menandakan sebuah pembesaran.

"Nah sekarang silakan dinikmati rokok di tangan sampeyan. Entah kenapa sekarang rasanya sudah seperti LA Menthol. Semakin sampeyan ragu, anehnya rasa LA Menthol semakin kuat", saya melanjutkan intervensi saya dengan 'the more pattern'

"Nah ini baru enak Bro. Segar. Terimakasih ya", ujar kawan saya setengah takjub.

Menyadari 'keajaiban' yang baru saja terjadi, peserta workshop yang berbagi rokok tadi menjadi penasaran. "Teknik apa yang barusan digunakan Pak?"
"Object Imagery Mas. Seperti yang sudah dibahas di kelas bahwa jika satu kondisi psikologis bisa dikonversikan dalam bentuk benda atau 'dibendakan' dan ketika benda tadi diintervensi maka kondisi psikologisnya juga ikut berubah. Kecanduan merokok pada dasarnya juga sebuah kondisi psikologis. Maka sensasi nikmatnya rokok juga bisa diintervensi menggunakan object imagery ini"

"Kalau begitu rokok saya juga bisa dibuat lebih nikmat dong?" tanya peserta tadi penasaran.
"Tapi itu khan memang rokok yang sudah enak bagi Anda. Untuk apa lagi diintervensi?", tanya saya juga penasaran
"Iseng aja sih Pak. Ingin tahu sehebat apa teknik object imagery ini", jawab peserta tadi
"Baiklah jika demikian. Jika dikonversi ke dalam bidang 2 dimensi, Anda memilih apa?, tanya saya sejurus kemudian
"Samain saja Pak. Segitiga. Ukuran 10 cm"
"Oke, silakan lihat ke sini. Saya akan besarkan segitiga di tangan saya ini sebesar-besarnya. Zzziiiuuuuuuuuuddd!", dan tangan saya memang membentuk sebuah segitiga yang sangat besar, sampai kedua tangan saya tertarik ke belakang.

"Silakan dinikmati rokoknya, yang sudah super nikmat tersebut", ujar saya sambil menahan senyum

Dan kemudian terjadilah hal yang sudah saya prediksikan sebelumnya. Peserta tadi batuk-batuk menahan mual dan heran dengan perubahan rasa rokoknya. "Uhuks uhuks uhuks!"

Senyum sayapun meledak menjadi tawa tertahan.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, sebenarnya apa yang terjadi pada peserta workshop tadi? Bukankah ketika kawan saya diintervensi rasa rokoknya, dia menjadi puas karena rasa rokoknya berubah sesuai keinginannya dengan teknik object imagery. Tapi kenapa dengan teknik yang sama hasilnya kok berbeda ketika diaplikasikan kepada peserta workshop tadi?

Ini jawabannya:

Kawan saya sudah memiliki tujuan yang jelas dan terukur (dalam NLP hal ini disebut WFO atau Well Formed Outcome), sehingga proses intervensi yang saya lakukan juga sesuai dengan keinginan dia. Sementara peserta workshop tadi hanya iseng saja sehingga saya juga iseng membesarkan segitiga sebesar mungkin. Loh, kalau segitiganya dibuat sebesar mungkin bukankah rasa nikmatnya juga akan menjadi sangat nikmat?

Betul Bro, memang menjadi sangat nikmat. Namun coba Anda bayangkan ketika Anda diminta untuk makan nasi satu bakul dengan lauk soto satu baskom. Apakah akan nikmat, atau muntah?

Hehehe, yang saya lakukan dalam teknik kapok rokok jilid 3 ini adalah Compulsion Blowout. Prinsip kerjanya masih menggunakan object imagery, dan ketika klien sudah bersedia mengkonversikan kondisi psikologisnya ke dalam bentuk benda, maka kita akan paksa (compulsion) perbesar benda tadi sampai titik maksimal, bahkan jika dibutuhkan sampai meledak (blowout)

Dengan meledaknya kondisi psikologis tadi, diharapkan pikiran bawah sadar akan belajar bahwa kondisi yang sedang dialaminya hanya sebuah persespsi semu belaka yang dengan mudah bisa dibuang.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

No comments:

Artikel Unggulan

KAPOK ROKOK JILID 3

Mataram, 11 Sep 2019 Hari kedua Workshop Creative Happy NLP di Hotel Lombok Plaza juga berjalan lancar. Setelah kuat pondasi pemahaman NLP ...