POSTINGAN POPULER

Friday, September 20, 2019

MENUNGGU

Beberapa hari yang lalu saya menunggu taxi online di seputaran UKI yang saya pesan untuk menuju Condet. Melalui pesan singkatnya driver pertama mengabarkan sbb, "Saya ada di Jl. Dewi Sartika. Kondisi macet jadi mungkin agak lama. Mau nunggu gak?" 


Saya kemudian meng-cancel pesanan tadi, setelah minta maaf kepada drivernya.
Tak berselang lama, driver kedua juga berkirim pesan singkat, "Saya ada di Jl. Dewi Sartika. Kondisi macet, tapi saya akan mencari jalan tercepat. Perkiraan menunggu 15 menit, bagaimana?"
Dan saya bersedia menunggu pesanan kali ini.

Apa yang membedakan kedua driver tersebut?

Yup, Anda benar! Driver pertama berfokus  pada masalah, sementara driver kedua berfokus pada solusi. Driver pertama memberikan saya pilihan untuk memilih menunggu atau tidak, sementara driver kedua memberikan saya sebuah kepastian, meski harus menunggu, meski pada prakteknya saya menunggu sekitar 20 menit. Lebih lama dari janjinya, tapi hal itu menjadi tidak terasa karena semua orang di jaman now ini pastilah ditemani oleh gadgetnya masing-masing.

Pelajaran yang saya petik hari itu adalah:
1. Fokuslah pada solusi bukan situasi
2. Berikan kepastian bukan harapan palsu
3. Mending pulang saja kalau gadget ketinggalan, wkwkwk

Gitu ajah....

Tabik
-haridewa-

TRANCE

Masih dari ajang workshop Fundamental Hypnosis by IHC, Sabtu 14 September 2019. Pagi itu setelah menunjukkan video tentang aksi hypno stage yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu, beberapa pesrta menanyakan kenapa orang-orang di video tersebut bisa saya hypnosis.

Jawabannya sederhana saja, sbb:
1. Karena mereka sukarela melakukannya
2. Karena mereka bisa diajak berkomunikasi, dan
3. Karena mereka bisa difokuskan

Apakah kalau sudah memenuhi ketiga syarat tersebut, semua orang pasti akan semudah itu dihipnosis, seperti pada tayangan video tersebut? Tentu tidak, karena masih ada satu query tambahan yang mesti kita penuhi, yaitu mencari suyet dengan tingkat sugestivitas tinggi melalui serangkaian tes yang disebut sugestibility tes

Orang bisa dihipnosis karena dalam pikiran mereka terdapat beberapa gelombang besar, yaitu:

1. BETA (12 hz s/d 19 hz)
2. ALPHA ( 8 hz - 12 hz )
3. THETA ( 4 hz - 8 hz )
4. Delta (0.5 hz - 4 hz)

Dan kondisi hipnosa terjadi ketika kita berhasil mengarahkan orang tersebut menuju gelombang alfa-theta. Kondisi pikiran manusia ketika berada dalam gelombang alfa-theta ini sering disebut dengan trance. Pengertian trance di kalangan masyarakat  sering salah kaprah. Ada yang berpendapat trance adalah kondisi pikiran kosong. Pertanyaannya adalah, bisakah seorang manusia hidup mengosongkan pikiran mereka? Tidak mungkin bukan?

Bahkan terdapat pendapat yang  lebih parah lagi, trance dianggap sebagai kondisi kesurupan. Kalau sudah ada kata kesurupan, yang kata dasarnya adalah ‘surup’, maka pertanyaan saya adalah Anda memilih surup ABC atau surup Marjan, hehehe. 

Dalam Bahasa Jawa kata surup berarti masuk, jadi kesurupan artinya adalah diri kita sedang dimasuki oleh mahluk lain. Apakah itu semua benar adanya?
Kita coba telaah premis tersebut dengan beberapa teori di bawah ini:

Seperti kita ketahui bahwa pikiran kita terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Nah, kondisi trance terjadi saat kita berhasil mengakses subconscious mind kita. Lalu apakah conscious dan subconscious mind tadi terpisah? Sebenarnya tidak. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Suatu saat Anda pergi ke sebuah perpustakaan nasional yang berisi jutaan buku dalam sebuah ruangan. Sejauh mata memandang penglihatan Anda dimanjakan oleh deretan rak buku yang berjajar rapi. Anda tinggal memilih genre buku apa yang akan Anda pinjam. Namun tetiba saja aliran listrik di perpustakaan tersebut terputus, sehingga semua lampu yang berada dalam ruangan tersebut padam. Celakanya semua emergency lamp tidak berfungsi, sehingga kondisi ruang perpustakaan tadi benar-benar gulita. Melihat hidung sendiri saja Anda tak mampu.

Untunglah HP Anda dilengkapi dengan fitur flashlight alias senter. Maka sejurus kemudian, Anda segera mengaktifkan fitur senter tersebut dan mengarahkan cahayanya ke rak buku yang Anda inginkan. Saat itu di depan Anda akan muncul sebuah bidang (biasanya berbentuk lingkaran) dengan bagian pusat sangat terang, dan semakin keluar lingkaran intensitas cahanyanya semakin pudar, bahkan bagian di luar bidang tadi akan tetap berada dalam kondisi gelap. Buku yang terlihat jelas oleh mata kita saat itu juga hanya yang berada dalam jangkauan bidang melingkar tersebut.

Kita andaikan saja seluruh ruang perpustakaan tadi adalah pikiran kita. Nah, bagian terang tadi adalah subconscious mind kita, sementara bagian lain yang gelap pada saat itu adalah conscious mind kita.

Dengan kata lain, kondisi trance sebenarnya justru kondisi dengan konsentrasi sangat tinggi (sangat sadar atau sangat FOKUS). Ingat, pada saat kita menyalakan senter, perhatian kita pastilah terpusat pada lingkaran cahaya tadi. So, apapun yang berada dalam lingkaran itu dengan mudah akan kita lihat, tanpa memerhatikan lagi benda lain yang berada dalam kegelapan.

Dari beberapa ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk membuat orang trance, kita tinggal mengarahkan (leading) senter ke ruang gelap mereka. Namun untuk bisa melakukan hal ini, kita perlu mempunyai senter terlebih dahulu. Dan senter ini bukanlah sembarang senter, karena setiap senter haruslah sesuai dengan minat dan perhatian pikiran orang yang akan kita senter.

Artinya kita haruslah memahami pikiran mereka dulu (pacing), atau minimal kita mencari persamaan kondisi dari orang-orang tadi (common sense), agar kita bisa memahami mereka. Dalam bahasa kerennya, teori ini disebut pacing-leading. Dan idealnya untuk sukses melakukan sebuah leading, kita perlu melakukan tiga kali pacing. Pahami kondisi orang yang ingin kita hipnosis, akui kelebihan, kekurangan mereka, cari common sense-nya, baru kemudian berikan sugesti Anda.

Ternyata mudah sekali untuk bisa menghipnosis orang bukan?
Ya, karena hipnosis bukanlah ilmu untuk menidurkan orang. Hipnosis adalah sebuah teknik komunikasi yang sangat-sangat persuasif. Sedemikian persuasifnya sehingga kita memilih untuk mengikuti perintah (sugesti) yang ada di dalamnya. 

Tertarik untuk bisa menghipnosis orang lain atau diri sendiri? Klik saja link di bawah ini http://bit.ly/DAFTAR-FTHIY-BGR

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

#FTHIY
#IHC
#PKHI

Thursday, September 12, 2019

KAPOK ROKOK JILID 3

Mataram, 11 Sep 2019

Hari kedua Workshop Creative Happy NLP di Hotel Lombok Plaza juga berjalan lancar. Setelah kuat pondasi pemahaman NLP diberikan pada hari pertama, di hari kedua ini peserta mulai belajar beberapa teknik dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Teknik terapi praktis tersebut di antaranya adalah anchoring, new behavior generator, six step reframing, perceptual position, optimizing object imagery therapy, dan time line therapy.

Setelah break makan siang saya kedatangan tamu seorang kawan SMP yang sudah 30 tahun lebih tidak bertemu. Kebetulan dia sedang ada rapat dinas di Mataram juga.

Sembari menemani beberapa peserta yang sedang merokok, kami ngobrol mengingat masa lalu dan saling betukar kabar kegiatan yang digeluti sekarang. Dikarenakan rokok kawan saya tadi habis maka dia minta sebatang rokok kepada salah satu peserta workshop.

"Mmm kurang mantab nih rokoknya", kawan saya bergumam lirih.

Rupanya merk rokok kawan saya berbeda dengan peserta workshop tadi. Rokok dia LA Menthol, sementara rokok yang dia dapat adalah Dunhill.

Mendengar gumaman kawan saya tadi, saya tawarkan bantuan. "Mau dibuat mantab rokoknya?"

"Emang bisa?", tanya kawan saya setengah ragu namun penuh harap
"Bisalah asal sampeyan mau", jawab saya sambil tersenyum
"Ojeh, mau"

"Baiklah. Menurut sampeyan, nikmatnya rokok yang sekarang dipegang itu (Dunhill) jika dikonversi ke dalam bentuk 2 dimensi akan menjadi apa? Saya kasih pilihan, segitiga sama sisi, lingkaran atau bujur sangkar?", saya memulai proses intervensi sembari menunjukkan simbol segitiga, lingkaran dan bujur sangkar dengan kedua tangan saya.

"Nggg apa ya? Segitiga deh"
"Bagus. Nah segitiga khan punya dimensi. Berapa ukuran sisi-sisinya?"
"Mmm rokok ini sih cuma sekitar 3 cm"
"Oke. Lha kalau yang rokok sampeyan tadi berapa cm kira-kira dimensinya?"
"Sepuluh senti kalau itu. Mantab banget"

"Baiklah Bro, sekarang coba lihat ke sini. Tarik nafas panjang. Saya akan membesarkan segitiga di tangan saya ini dari 3 cm menjadi 10 cm. Ziiiiuuuud!", kata saya sembari memeragakan pembesaran segitiga di tangan saya, lengkap dengan bunyi-bunyian yang keluar dari mulut saya yang menandakan sebuah pembesaran.

"Nah sekarang silakan dinikmati rokok di tangan sampeyan. Entah kenapa sekarang rasanya sudah seperti LA Menthol. Semakin sampeyan ragu, anehnya rasa LA Menthol semakin kuat", saya melanjutkan intervensi saya dengan 'the more pattern'

"Nah ini baru enak Bro. Segar. Terimakasih ya", ujar kawan saya setengah takjub.

Menyadari 'keajaiban' yang baru saja terjadi, peserta workshop yang berbagi rokok tadi menjadi penasaran. "Teknik apa yang barusan digunakan Pak?"
"Object Imagery Mas. Seperti yang sudah dibahas di kelas bahwa jika satu kondisi psikologis bisa dikonversikan dalam bentuk benda atau 'dibendakan' dan ketika benda tadi diintervensi maka kondisi psikologisnya juga ikut berubah. Kecanduan merokok pada dasarnya juga sebuah kondisi psikologis. Maka sensasi nikmatnya rokok juga bisa diintervensi menggunakan object imagery ini"

"Kalau begitu rokok saya juga bisa dibuat lebih nikmat dong?" tanya peserta tadi penasaran.
"Tapi itu khan memang rokok yang sudah enak bagi Anda. Untuk apa lagi diintervensi?", tanya saya juga penasaran
"Iseng aja sih Pak. Ingin tahu sehebat apa teknik object imagery ini", jawab peserta tadi
"Baiklah jika demikian. Jika dikonversi ke dalam bidang 2 dimensi, Anda memilih apa?, tanya saya sejurus kemudian
"Samain saja Pak. Segitiga. Ukuran 10 cm"
"Oke, silakan lihat ke sini. Saya akan besarkan segitiga di tangan saya ini sebesar-besarnya. Zzziiiuuuuuuuuuddd!", dan tangan saya memang membentuk sebuah segitiga yang sangat besar, sampai kedua tangan saya tertarik ke belakang.

"Silakan dinikmati rokoknya, yang sudah super nikmat tersebut", ujar saya sambil menahan senyum

Dan kemudian terjadilah hal yang sudah saya prediksikan sebelumnya. Peserta tadi batuk-batuk menahan mual dan heran dengan perubahan rasa rokoknya. "Uhuks uhuks uhuks!"

Senyum sayapun meledak menjadi tawa tertahan.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, sebenarnya apa yang terjadi pada peserta workshop tadi? Bukankah ketika kawan saya diintervensi rasa rokoknya, dia menjadi puas karena rasa rokoknya berubah sesuai keinginannya dengan teknik object imagery. Tapi kenapa dengan teknik yang sama hasilnya kok berbeda ketika diaplikasikan kepada peserta workshop tadi?

Ini jawabannya:

Kawan saya sudah memiliki tujuan yang jelas dan terukur (dalam NLP hal ini disebut WFO atau Well Formed Outcome), sehingga proses intervensi yang saya lakukan juga sesuai dengan keinginan dia. Sementara peserta workshop tadi hanya iseng saja sehingga saya juga iseng membesarkan segitiga sebesar mungkin. Loh, kalau segitiganya dibuat sebesar mungkin bukankah rasa nikmatnya juga akan menjadi sangat nikmat?

Betul Bro, memang menjadi sangat nikmat. Namun coba Anda bayangkan ketika Anda diminta untuk makan nasi satu bakul dengan lauk soto satu baskom. Apakah akan nikmat, atau muntah?

Hehehe, yang saya lakukan dalam teknik kapok rokok jilid 3 ini adalah Compulsion Blowout. Prinsip kerjanya masih menggunakan object imagery, dan ketika klien sudah bersedia mengkonversikan kondisi psikologisnya ke dalam bentuk benda, maka kita akan paksa (compulsion) perbesar benda tadi sampai titik maksimal, bahkan jika dibutuhkan sampai meledak (blowout)

Dengan meledaknya kondisi psikologis tadi, diharapkan pikiran bawah sadar akan belajar bahwa kondisi yang sedang dialaminya hanya sebuah persespsi semu belaka yang dengan mudah bisa dibuang.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

ANJING PELACAK


Mataram, 10 Sep 2019

Hari pertama workshop CH NLP (Creative Happy Neuro Linguistic Programing) di hotel Lombok Plaza berjalan lancar tanpa aral yang berarti. Empat orang peserta yang berasal dari pelbagai kalangan membersamai saya mengulik pemahaman mengenai pemrograman pikiran bawah sadar dengan efektif. Ada seorang polisi, seorang dosen, pengusaha kursus bahasa Inggris dan seorang marketing/pebisnis online bersama saya hari ini.

Tidak ada hal istimewa terjadi sampai break makan siang. Namun begitu sesi lunch yang ditata ala family table hampir berakhir, Bapak  Polisi kita mengatakan bahwa jam tangannya hilang. Kamipun sibuk memberi masukan penuh spekulasi.

"Di mushola kali Pak".
"Di toilet kali Pak"
"Jatuh di selasar hotel kali Pak"

Dan pak polisi merespon dengan bergegas mencari arlojinya ke mushola,  toilet dan selasar hotel.

"Bagaimana Pak, ketemu?", tanya saya penasaran.
"Ga ada pak Hari. Sudahlah saya pasrah. Sudah nasib saya, setiap kali punya arloji, pasti hilang", jawabnya masygul
"Mau saya bantu Pak?", melihat kesusahan hatinya, saya mencoba menawarkan diri
"Bagaimana caranya Pak Hari?"
"Bapak duduk relaks. Kedua kaki di lantai, kedua tangan di paha. Pikirkan sebuah tempat yang nyaman. Saya hitung mundur sepuluh sampai satu, dan rasakan setiap hitungan mundur membuat Bapak semakin relaks. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Bagus sekali. Sekarang saya akan kirimkan anjing pelacak K9 dalam pikiran Bapak. Jika anjing tersebut sudah muncul, anggukkan kepala Bapak"
Pak polisi tersebut mengangguk

Saya lanjutkan proses pencarian, "Bagus. Nah sekarang biarkan anjing tersebut berjalan di dalam kerangka waktu pikiran Bapak. Biarkan dia berjalan ke toilet, ke mushola, ke selasar hotel dan ke sekeliling hotel. Di tempat dimana anjing tadi tidak mau beranjak lagi, di situlah arloji Bapak berada. Tak usah terburu-buru. Relaks saja, dan biarkan semua suara gaduh di sekitar Bapak, justru membantu mempermudah proses pencarian ini. Jika anjing tadi sudah berhenti bergerak, segera tarik nafas panjang dan buka mata Bapak"

Setelah memberikan sugesti tersebut, saya dan kawan lain melanjutkan menikmati es cendol yang sudah terhidang di meja makan. Kami kembali melanjutkan perbincangan mengenai beberapa materi di kelas yang belum mereka pahami dengan baik.

Kira-kira 2 menit, pak polisi kita membuka mata dan tersenyum agak ragu.

"Bagaimana Pak, dimana anjing tersebut berhenti?", tak sabar saya ingin tahu
"Agak gak jelas gambar anjing tadi Pak Hari", jawabnya ragu
"Tak apa Pak Polisi, meski demikian anjingnya berhenti di satu tempat khan? Nah, dimanakah itu?", saya mencoba meyakinkan bahwa proses ini sudah berjalan sebagaimana mestinya
"Di atas. Di ruang training kita"

Dan ketika kami kembali ke ruang training, arloji tersebut memang berada di meja, di tempat pak polisi tersebut duduk.  Dengan penuh kebahagiaan, beliau mengenakan arlojinya kembali.
***

Sidang pembaca yang berbahagia, sebenarnya teknik yang saya gunakan untuk membantu pak polisi tersebut adalah bagian dari Past Life Age Regression yang disebut hypermnesia yaitu meningkatnya daya ingat secara luar biasa sehingga bisa mengingat dengan detil kejadian atau pengalaman di masa lalu.

Tentunya diperlukan tips dan trik tersendiri ketika melakukan teknik ini, karena kita tidak bisa sekedar memberikan sugesti seperti ini, "Dalam hitungan ketiga, ingatan Anda akan semakin tajam. Anda semakin ingat dan ingat"

Pikiran bawah sadar membutuhkan sebuah visualisasi yang nyata ketimbang sebuah kata 'ingat', maka saya biasanya membuat sebuah skenario pencarian menggunakan benda ajaib, makhluk ajaib, hewan, atau apapun yang menurut belief klien bisa membantunya menemukan bendanya. Dalam pengalaman saya membantu klien, ada yang menggunakan tokoh detektif dalam kartun kesukaannya. Ada yang menggunakan alat ajaib doraemon, ada yang memunculkan kucing, anjing, bahkan mahkluk astral berupa asap putih yang bisa terbang. Semua tergantung klien, bukan kehendak kita sebagai terapis.

Dan karena yang saya bantu kali ini adalah seorang polisi, tentu saja dalam belief beliau anjing pelacaklah, sosok yang cocok untuk membantu menemukan arlojinya.

Saatnya saya mengatakan "SEMPURNA!"

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

Terapi Anti Ngompol 2

Sepulang dari mengisi seminar di UIN Walisongo minggu lalu, tak sengaja saya bertemu dengan anak kawan SMP saya yang sedang mengambil pendid...