POSTINGAN POPULER

Saturday, August 31, 2019

APEL & KEBENCIAN

Kisah ini terjadi beberapa tahun silam, ketika saya masih belum sepenuhnya menjadi Professional Hypnotherapist. Sepulang kerja, saya diminta untuk mampir ke tempat bimbingan belajar milik salah satu kawan saya di daerah jalan baru Bogor.

Sesampai di lokasi, rupanya telah menunggu seorang ibu dengan anak lelaki berusia sekitar 10 tahunan. Singkat cerita sang bunda minta tolong dibantu untuk menterapi anak semata wayangnya yang sudah satu minggu tidak mau sekolah. Ibu tadi menceritakan bahwa anaknya mengalami bullying yang lumayan parah di sekolah.

Beberapa kali dia diganggu oleh kawan sekelas, yang puncaknya terjadi seminggu silam dimana sang anak dikeroyok oleh 3 orang kawan sekelas, bahkan sampai perutnya diinjak-injak. Sang anak sempat dibawa ke dokter, namun tidak terdapat luka fisik yang membahayakan.

Namun rupanya anak ini mengalami luka bathin lumayan berat sehingga setelah peristiwa pengeroyokan tersebut, dia tidak mau lagi masuk sekolah. Sampai ibu tadi bercerita kepada kawan saya yang memiliki usaha bimbel ini, yang kemudian disarankan untuk konsultasi kepada saya.

"Apakah kondisi traumatik seperti ini bisa dibantu menggunakan hipnosis Pak Hari?", tanya ibu tadi harap-harap cemas
"Dari pengalaman saya menangani kasus, hal seperti ini disebut unresolved past experiences Bu. Menurut saya tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi", jawab saya menenangkan ibu tadi.
"Ini ya putra Ibu?", tanya saya kepada ibu tadi sambil menunjuk anak lelaki yang sedang asyik bermain gadget. Saya baru tersadar bahwa ada sedikit perbedaan anak ini dengan anak sebayanya. Dia sangat fokus dengan gadget di tangannya, tanpa memedulikan lingkungan sekitarnya.

Bahkan dari tadi seingat saya, dia juga tidak 'salim' seperti kebiasaan anak kecil pada umumnya jika bertemu orang yang lebih dewasa. Tangannya juga bergerak dengan cepat menekan layar ponsel tersebut, seolah cemas kehilangan sesuatu.

"Nggg maaf Bu, putra Ibu.... "
"Ya Pak Hari, anak saya divonis menderita autistic disorder atau autism. Apakah masih bisa dibantu Pak Hari?", ibu tadi memotong perkataan saya begitu melihat perubahan sikap saya.
"Mmm semoga Bu. Sejujurnya saya belum pernah menangani klien autis. Tapi akan saya coba. Apakah setiap hari putra ibu bermain gadget seperti ini?"
"Iya Pak. Dia hanya bisa tenang kalau saya pinjamkan HP saya"
"Apa yang biasanya dia lakukan dengan HP Ibu tersebut. Main game?"
"Dia tidak terlalu suka game. Dia lebih senang browsing kemana-mana. Bahkan kadang saya heran dengan pemahaman dia mengenai alam semesta ini. Dia tahu semua galaxy dan nama planet. Bahkan dia tahu mengenai mitos sang alkemis, yang bisa membuat batu menjadi emas"
"Apa yang akan terjadi kalau dia tidak dibolehkan bermain HP?"
"Dia akan bergerak dengan sporadis Pak Hari. Bisa memanjat, meloncat atau berlarian ke sana kemari"
"Repot juga ya Bu?"
"Itulah alasan saya membiarkan dia memainkan HP saya"

"Boleh saya duduk di sebelah ananda Bu?" tanya saya sambil beringsut mendekati anak laki-laki tersebut
"Apa kabar Dik. Lagi nonton apaan tuh?", saya mencoba menjalin hubungan dengan anak tadi. Dia hanya menengok sejenak, kemudian asyik menatap layar ponselnya lagi.

Saya ingat pernah membaca sebuah tulisan di web bahwa anak autis hanya akan berfokus pada satu hal. Dan untuk mengganggu fokusnya tadi kita mesti memiliki fokus tandingan. Berbekal informasi tadi, saya memutar video hypnotron (spiral berputar lengkap dengan suara mistisnya) kemudian memposisikan HP saya di sebelah kanan HPnya.

Awalnya dia cuek saja, namun rupanya suara yang sengaja saya setel keras-keras itu mulai mengusiknya. Dia melirik HP saya dan berkata dengan mata berbinar, "Itu hipnotis ya Om?"
"Lho kok Adik tahu kalau ini hipnotis. Mau enggak main HP ini?", tanya saya balik sambil mendekatkan HP saya kepadanya.

Diambilnya HP saya sambil menjawab, "Iya, aku khan sering lihat yang seperti ini di HP Bunda"
"Ya sudah, kalau begitu sekarang lihat saja terus HP Om ini. Asyik khan. Dan ketika Adik sudah merasa sangat asyik,  entah kenapa Adik merasa sangat mengantuk", lanjut saya memanfaatkan kondisi yang sangat menguntungkan tadi.

Pelahan namun pasti anak tersebut mulai mengantuk. Dia mulai minta tiduran di pangkuan bundanya. Belum sampai  hipnotron yang berdurasi sekitar 5 menit tadi usai, tangan anak tersebut sudah lunglai. Dan saya langsung melakukan induksi dengan mengatakan, "Sekarang saatnya tidur Dik. Tidurlah dengan tenang dan nyenyak" Zzzzzzzzzz

Akhirnya pulas juga anak tadi. Tugas saya sekarang adalah memberikan sugesti agar anak tadi mau bersekolah lagi.

Saya mulai mengajak dia bicara dengan fasilitas ideo motor response.

"Dik, apakah benar sudah satu minggu ini Adik tidak mau sekolah. Jika benar, coba gerakkan telunjuk tangan kanannya"

Setelah menunggu sekitar setengah menit telunjuk mungil tangan kanannya bergerak pelahan.

"Dik, apakah benar Adik dikeroyok oleh kawan-kawan Adik? Jika benar, coba gerakkan telunjuk tangan kanannya"

Kali ini telunjuknya langsung bergerak.

"Adik marah ya kepada kawan-kawan? Jika ya, coba gerakkan telunjuk tangan kanannya"

Telunjuknya bergerak.

"Maukah Adik memaafkan mereka? Jika mau, coba gerakkan telunjuk tangan kanannya"

Telunjuknya diam

"Hmmm jadi Adik masih marah ya? Ya memang tidak seharusnya kawan-kawan Adik melakukan hal seperti itu. Ngomong-ngomong Om punya cerita menarik, Adik mau dengar nggak? Jika mau, coba gerakkan telunjuk tangan kanannya"

Telunjuknya bergerak

‘Apel dan kebencian’
Alkisah, seorang  guru SD mengadakan permainan. Beliau meminta para muridnya untuk membawa sekantong plastik transparan berisi apel. Jumlah apel yang dibawa harus sesuai dengan jumlah orang yang dibenci dalam hidupnya. Jadi kalau membenci  3 orang, ya membawa 3 apel, dst. Setiap anak bebas membawa berapapun jumlah apel yang diinginkan. Keesokan harinya, para murid dengan riang gembira membawa sekantong plastik transparan yang sudah berisi beberapa buah apel. Ada yang membawa 1, 5, 7, bahkan 10!

Mereka merasa senang karena mengira bahwa apel-apel yang dibawa akan segera dimakan, seolah-olah memakan orang yang dibenci. Nyaaammm!! Namun ternyata hal yang diharapkan tidak terjadi. Bukannya dimakan, namun kantong berisi apel-apel tersebut harus dibawa kemana saja anak-anak itu pergi selama 1 minggu, bahkan saat ke toilet sekalipun.

Hari berganti hari, apel yang tadinya segar pun mulai membusuk, yang lama kelamaan mulai mengeluarkan bau yang menyengat. Murid yang hanya membawa 1 atau 2 apel tentunya lebih beruntung dibandingkan mereka yang membawa 5 atau lebih, meskipun sama-sama tidak enak juga baunya. Murid yang membawa 10 apel hampir pingsan di hari ke-5 karena tidak tahan dengan bau busuk yang makin menyengat.

Setelah 1 minggu, permainan pun usai. Murid-murid dipersilahkan untuk membuang kantong berisi apel-apel tersebut, dan mereka pun sangat lega dan senang. Bu guru lalu menanyakan kepada para muridnya, “Anak-anak, bagaimana rasanya membawa apel busuk selama 1 mingguu??” Tanpa dikomando, keluhan dan kekesalan langsung bermunculan. Jawaban semuanya hampir sama, bahwa mereka sangat merasa tidak nyaman karena harus membawa apel busuk.

Bu guru pun dengan tersenyum menjelaskan, “Anak-anak, seperti itulah kondisinya jika kebencian selalu kalian bawa di dalam hidup. Semakin kalian pendam kebencian itu, semakin tersiksa diri kalian. Bukan orang yang kalian benci tersebut yang akan merasakan dampaknya, melainkan diri kalian sendiri. Sungguh tidak nyaman bukan jika setiap hari harus membawa apel busuk bernama kebencian kemanapun kita pergi? Dalam permainan tersebut, apel busuk itu hanya dibawa 1 minggu. Coba bayangkan kalau kalian harus membawanya selama 1 bulan? Atau mungkin 1 tahun? Bisa pingsan dan masuk rumah sakit deh rasanya. Begitu juga dengan kebencian, yang akan membuat diri kita tidak nyaman. Apa mau kalian membawa kebencian seumur hidup, bahkan sampai mati? Karena itu, ikhlaskan hati dari kebencian untuk memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, sama persis dengan keikhlasan kalian saat membuang apel-apel busuk tadi. Karena ketika kita tidak mau memaafkan orang yang kita benci, itu sama saja dengan memegang bola berduri yang akan membahayakan diri kita sendiri”
***

Selesai menceritakan kisah apel dan kebencian, saya mengecek kondisi anak tersebut, “Adik masih bisa mendengar suara Om? Jika masih gerakkan telunjuk tangan kananmu”

Telunjuknya bergerak

“Bagus. Jadi apakah Adik mau membawa apel busuk selamanya?”

Telunjuknya diam

“Apakah ini artinya Adik sudah mau memaafkan kawan-kawan yang sudah mengeroyok Adik?”

Telunjuknya bergerak

“Bagus Dik. Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan tidak harus memberitahukan. Memaafkan adalah untuk kenyamanan diri sendiri. Memaafkan bukan berarti menyukai orang yang telah bersalah. Memaafkan bukan berarti mengijinkan kembali kesalahan untuk terjadi. Maka maafkanlah mereka dengan tulus, dan rasakan sekarang leganya diri Adik. Bahkan setiap tarikan nafas membuat Adik merasa semakin bahagia, sehat serta cerdas. Jika mengerti, setuju dan percaya dengan apa yang Om katakana, coba gerakkan telunjuk tangan kananmu lagi”
Telunjuknya bergerak

“Apakah ini artinya Adik mau berangkat ke sekolah lagi?”

Telunjuknya bergerak.

Sebenarnya kasus selesai di sini. Namun karena saya ingat bahwa terapis terbaik adalah orang terdekat, maka saya meminta sang Bunda untuk memberikan sugesti positif kepada putranya, sehingga di kemudian hari dia akan lebih mudah untuk mengatur putranya tersebut.

Pembelajaran besar yang saya dapatkan dalam menangani kasus anak autis ini adalah, ternyata ketika sudah masuk dalam kondisi trance, seorang anak autis bisa diajak berkomunikasi seperti layaknya anak normal, meski hanya dengan bahasa isyarat (IMR).

Silakan tebar jika dirasa tulisan ini bermanfaat…

Jika Anda tertarik untuk memelajari keilmuan hypnosis, silakan klik link di bawah ini : http://bit.ly/DAFTAR-FTHIY-BGR

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach

Monday, August 12, 2019

Mengatasi Kesurupan dengan Aman dan Damai

Indonesia merupakan bangsa kaya budaya termasuk budaya kesurupan, bahkan di daerah daerah tertentu  fenomena kesurupan justru disengajakan, dan menjadi tontonan menarik seperti reog, kuda lumping, debus dan tari kecak.
Setiap kita memiliki potensi untuk kesurupan karena memang bawah sadar kita dalam collective unconciousness berisi mitos mitos seperti memedi pocong, wewe gombel, jin penunggu rumah, jin penunggu sungai, dan banyak lagi, bahkan penunggu laut selatan.

Mitos inilah yang turun menurun dari jaman dulu terus hingga sekarang. Ditambah lagi pengalaman masa kecil yang sering ditakut takuti dengan berbagai macam hantu dan segala varian nya, yang kemudian tersimpan dalam personal unconciousness sehingga kedua kenyataan itu klop membentuk suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang setiap saat bisa muncul bila ada pemicunya (precipitating event).

Dalam kasus kesurupan masal yang menjadi precipitating event adalah teman yang sudah kesurupan, dalam istilah hipnotisme teman yang sudah kesurupan menginduksi bawah sadar teman lainnya sehingga seperti penyakit menular yang bila tidak diisolasi akan mewabah ke kawan yang lain.

Seringkali orang yang kesurupan memiliki kekuatan yang melebihi kemampuan biasanya, dalam beberapa kasus kesurupan dia bisa berteriak teriak hingga berjam jam, atau bisa melemparkan beberapa orang yang sedang memeganginya. Ada lagi kesurupan mampu berbicara seperti bukan dia yang bicara, dalam keadaan seperti ini seseorang yang kesurupan sedang memasuki alam bawah sadarnya tepatnya di alam ketidaksadaran kolektif dimana menurut freud ketidaksadaran tersebut mengandung kekuatan jiwa (psyche) sehingga dia memiliki kekuatan yang melebihi seperti biasanya

Mengapa orang bisa masuk kedalam alam bawah sadarnya (atau kesurupan)? Sebab utamanya adalah melemahnya tingkat kesadaran (faktor kritis) seperti orang yang memasuki kondisi tidur (sensasi awal mirip orang mengantuk)
***

Psikologi memberikan penjelasan mengenai fenomena kesurupan sebagai berikut :

1. Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya;
2. Hysteria , saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya ,
3. Split personality , saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.

Saya akan menggarisbawahi penjelasan nomor 3. Dalam psikoanalisa,  Freud menyatakan bahwa tingkat kesadaran manusia terbagi 3, yaitu Id, Ego dan Superego.

-Id adalah komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Contoh kebutuhan makan dan minum dipengaruhi oleh Id.

-Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani  realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata.

-Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat

Lebih mudahnya kita pahami seperti ini. Kita ignore dulu Id.  Dalam diri kita ada 2 entitas yang memengaruhi perilaku kita. Saya (ego) yang banyak dipengaruhi oleh pikiran kritis. Dan AKU (Superego) yang lebih kontemplatif dan banyak dipengaruhi oleh perasaan. Porsi dominansi aku lebih besar dari saya dengan prosentase 88:12.

Dengan kekuatan dominan 88% maka kapanpun dibentrokkan selalu yang keluar sebagai pemenang adalah si AKU. Kenapa demikian? Ya karena tugas si AKU memang untuk melindungi seluruh tubuh dan pikiran kita. Menjaga agar keseluruhan sistem tubuh dan pikiran kita berada dalam keadaan paling nyaman.
***

Kembali ke kasus kesurupan di tanah air. Biasanya orang kesurupan ketika mereka berada dalam tekanan (stress).  Kesurupan juga cenderung terjadi pada perempuan dan biasanya massal. Apa alasannya?

1. Dalam kondisi tertekan maka untuk membuat kondisi diri lebih nyaman si AKU biasanya akan mengambil alih kendali diri. Dengan preferensi masa lalu yang mungkin lebih menyenangkan  (minimal menurut si AKU) maka AKU kemudian muncul ke permukaan.

2. Perempuan cenderung lebih feeling, maka superego (aku) nya akan lebih dominan

3. Kesurupan memang cenderung menular. Karena pemicunya justru orang di sekitar yang sudah kesurupan duluan

Maka kasus kesurupan biasanya terjadi pada siswi ketika mendekati ujian. Atau karyawati pabrik ketika musim pesanan produksi melejit tinggi. Kondisi di atas tentunya penuh dengan tekanan. Bagaimana kalau nilai ujian nanti jelek? Tentu kena marah mama. Atau, bagaimana kalau target produksi tak terkejar? Tentu kena semprot manajer.

Nah, dalam kondisi tertekan inilah secara otomatis si AKU akan menyetabilkan kondisi tubuh agar terhindar dari ketaknyamanan (kemarahan mama atau semprotan manajer).  Maka muncullah AKU dengan tingkah anehnya seperti  menangis bombay, teriak tak berkesudahan dll. Gunanya untuk apa? Agar mama jadi kasihan dengan anak kesayangannya sehingga tak jadi marah meski nilai ujian anaknya jelek. Demikian juga manajer tak marah meski produksi tak sesuai target. Nyamanlah jadinya (menurut si AKU)
***

Berikut beberapa tips menangani kasus kesurupan
1. Isolasi sesegera mungkin orang yang kesurupan agar tak memengaruhi orang lain
2. Tenangkan suasana, karena kesurupan cenderung membuat suasana menjadi gaduh, ketakutan, dan crowded atau ramai.
3. Tenangkan orang yang mengalami kesurupan dengan membiarkannya, jangan dipaksa atau dipegang apalagi diteriaki terlebih di pukul pukul (kecuali kondisinya sudah membahayakan dirinya atau orang lain)
4. Karena penngendali setiap kita adalah diri kita sendiri maka katakan bahwa dia adalah pengendali dirinya sendiri. Dan minta dia untuk mengendalikan dirinya. Katakan dengan tegas namun tidak membentak. Kalau perlu sambil usap wajahnya.
5. Kalau hal ini belum berhasil juga maka gunakan senjata pamungkas ini. Katakan dengan keras agar orang yang kesurupan mendengarnya.

'Baiklah. Karena diri orang ini dimasuki oleh jin maka saya akan berikan makanan kesukaan jin yaitu kotoran. Tolong segera carikan saya kotoran ayam sesendok saja. Saya akan berikan makanan ini agar jinnya senang dan mau diajak kerja sama! Tolong pegangi dia dan buka mulutnya! '

Tunggu beberapa waktu, daaan sim salabim, orang itu akan tersadar dengan sendirinya bahkan sebelum kita kasih kotoran tadi. Kenapa bisa begitu?

Ingat bahwa AKU akan selalu menyetabilkan kondisi pikiran dan tubuh dengan preferensinya sendiri. Maka ketika dia mendengar bahwa dirinya akan dikasih makan kotoran, dia segera mengembalikan kendali kepada saya. Kenapa? Ya supaya kotoran tidak jadi dimasukkan ke mulutnya. Siapa sih orang yang mau dikasih makan kotoran?

Sederhana saja khan? Bahkan kalau orang terdekat menghalangi kita untuk memberikan kotoran, silakan gunakan hadits berikut yang menguatkan bahwa makanan bangsa jin adalah tulang dan kotoran.

"Tulang dan kotoran merupakan makanan jin. Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Lalu aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan”. (HR. Bukhari no. 3860)

Ternyata pemahaman hipnosis punya manfaat banyak dalam kehidupan sehari-hari kita ya?
Selamat mencoba.

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist,
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

FORGIVENESS THERAPY

Pagi ini ada seorang hipnoterapis yang menelpon saya dan menanyakan mengenai penanganan pada kawannya yang mengalami anxiety pasca terpuruk...