POSTINGAN POPULER

Thursday, April 11, 2019

Five Days Becoming NNLP Trainer Batch#2


Alhamdulillah wa syukurillah,  kelar juga program akbar tahunan Cafe Therapy dengan melahirkan 14 Certified Neo NLP baru.

Trainer is a leader, maka stamina mereka mesti kuat dan handal sehingga perlu sebuah kawah Candradimuka untuk menggodognya. Selama 5 hari, peserta digembleng dari jam 6 pagi sampai 10 malam, namun luar biasanya hal ini tidak membuat peserta kelelahan tapi malah tertantang setiap harinya. 

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah bagi peserta pria muslim, kami langsung meregangkan fisik dengan serangkaian senam sederhana seperti brain gym, poco-poco, sajojo, maumere serta Javanese Taichi.

Secara bergantian peserta mesti memimpin senam ini, karena hal ini akan bermanfaat ketika mereka sudah membuka kelas sendiri nantinya sebagai salah satu icebreaker keren.
Peserta batch kali ini beruntung karena mendapatkan bonus teknik taichi dari salah satu peserta yang rupanya merupakan bos dari Taman Air Spa Bali, yaitu mbak Debra. Maka saya akan menamakan teknik ini Water Castle Taichi. (Saya akan mengulas teknik taichi ini dalam tulisan tersendiri)
***

Setelah istirahat sesaat, jam 9 sesi classroom dimulai dengan melakukan review materi sebelumnya. Cara review yang kami lakukan tidaklah seperti kelas pada umumnya dimana trainer akan mengulang poin-poin penting materi hari sebelumnya. Justru para peserta yang akan mengungkapkan hal paling menarik yang mereka dapatkan kepada kawan semeja mereka.

Setelah itu masing-masing meja mesti mengirimkan wakil untuk mempresentasikan hal menarik mejanya di depan kelas. Cara ini menantang semua peserta untuk belajar menjadi trainer dari hari pertama mereka belajar.

Jika dihitung menggunakan jam belajar regular, maka sebenarnya bootcamp ini setara dengan 10 hari pelatihan, dimana setiap hari para peserta selain diberikan bekal teori juga mesti melakukan role play, serta mengerjakan borang (paperwork) baik berupa ‘daily test’, WFO Form, Ecological Form, dll.

Setiap malam, sesi classroom diakhiri dengan gimmick yang akan membuat para peserta ingin segera kembali ke ruang kelas keesokan harinya.

Malam pertama kami sajikan ‘ring and chain magic trick’ yang merepresentasikan salah satu presuposisi, yaitu jika seseorang mampu melakukan sebuah keahlian, maka orang lain juga mampu melakukannya, asalkan mau mempelajari caranya. 

Meski hanya menggunakan alat sederhana berupa kalung dan gelang, namun para peserta sangat antusias untuk memodel 7 style permainan sulap yang diperagakan oleh Pak Kono dan Pak Joko ini.

Malam kedua, semua peserta diminta mentransfer mental block-nya ke dalam sebuah pinsil untuk kemudian mematahkan pinsil tersebut. Meski pada awalnya beberapa peserta wanita merasa ngeri, namun begitu berhasil mematahkan sebuah pinsil dan mereka merasakan plongnya perasaan mereka, beberapa emak-emak ini malah minta beberapa pinsil lagi untuk dipatahkan.

Malam ketiga, kami melakukan eksperimen telepati sederhana setelah mendemokan teknik mirroring yang sangat ajaib. Dua orang peserta diminta untuk maju ke depan kelas, dimana salah satu akan memirror dan peserta satunya akan dimirror. Setelah tujuh kali gerakannya dimirror, peserta ini diminta untuk menebak sebuah angka yang ditulis oleh peserta yang memirror. Dan luarbiasanya dua kali kesempatan menebak angka, keduanya dilakukan dengan tepat.

Malam ke empat, saya berikan tantangan kepada para peserta untuk menghantamkan bola pijar (bohlam bening) pada sebuah keramik. Saya memberikan prolog dengan pengandaian bahwa bohlam ini adalah sumber daya dan keramik merupakan hambatan. Sumberdaya yang terlihat ringkih tadi mesti dihantamkan pada hambatan yang kokoh.
Premis awal, semua peserta kompak menyatakan bahwa bohlam-lah yang akan pecah. Sumber daya yang terlalu kecil pasti akan hancur berkeping-keping menghadapi hambatan yang besar dan kuat.

Sebelum tantangan dimulai, saya kembali mengulas framework NLP Change Model. Saya tekankan lagi bahwa framework ini bisa terbentuk ketika kita memulainya dengan meletakkan titik goal kita (desired state) dan juga menentukan titik start (current situation), sehingga terbentanglah sebuah roadmap di antara start dan goal tadi.
Dalam perjalanan menuju goal, selalu kita akan didampingi oleh sumberdaya baik internal maupun eksternal, namun juga selalu dibayangi oleh hambatan (internal dan eksternal juga)

Sumberdaya adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik goal. Dan hambatan adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik start. (Jangan Anda pikir hambatan adalah segala aspek yang menjauhkan dari titik goal. Karena secara sadar tidak ada orang yang menjauh dari goalnya. Namun alangkah banyaknya orang yang terjebak di zona nyaman, sehingga enggan berjauhan dengan titik start. Itulah senyatanya hambatan!)
Ketika berfokus pada sumberdaya dalam mencapai goal (outcome thinking), kita mesti peka (sensory acuity), serta senantiasa menjalin hubungan (building rapport) dengan semua pihak terkait, juga fleksibel dalam berperilaku.

Dan ketika usai prolog saya, peserta mulai mencoba menghantamkan bohlam tadi pada keramik. Kami sudah menyiapkan sebuah kardus untuk menjaga jika bohlam pecah maka belingnya terlokalisir dengan aman di dalam kardus. Bergantian peserta mencoba peruntungan mereka. Ada yang langsung memukulkan, ada yang gagal, ada yang berhasil. Ada yang menjatuhkan dan juga gagal. Namun mereka mulai takjub dengan kekuatan bohlan ketika pada kesempatan pertama mereka, bohlam yang terlihat ringkih tersebut tidak pecah.

Maka pada kesempatan berikutnya, peserta mulai melakukan modifikasi. Ada yang meletakkan penyangga pada sudut keramik, sehingga terdapat ruang di bawahnya. Masuk akal. Ada yang mengambil kursi dan menjatuhkan dari ketinggian yang menurut mereka cukup untuk memberikan daya dorong pada bohlam tersebut.
Dan satu persatu peserta yang premis awalnya adalah memecahkan bohlam, mulai bisa yakin bahwa keramik mereka yang pecah, setelah melalui beberapa percobaan.
Setelah para peserta puas dengan tantangan mereka, kami berdiskusi untuk membahas fenomena ini.

Dan kesimpulannya adalah:
1. Ini bukan magis tapi logis
2. Jangan suka meremehkan sumberdaya meski sekecil apapun
3. Fleksibilitas membantu kita menguatkan sumberdaya dalam rangka mencapai goal
***
Bootcamp ini menggabungkan 3 kelas regular, yaitu NNLP Practitioner, Master Practitioner dan diakhiri  dengan materi NNLP trainer, yang membuat si genius dan si rajin harus sering dipanggil untuk dapat menyerap semua materi dalam waktu singkat.
Peserta bootcamp kali ini berasal dari berbagai macam profesi dan lokasi.  Peserta paling jauh terbang dari ternate, yaitu bu Ernie Arifin, seorang widya iswara yang selalu antusias mengikuti sesi demi sesi.  

Ada juga ASN dari kemenkumham yang baru mendapatkan sertifikasi profesi advokat dari peradi yaitu bu Hj. Sri Sulistijaningsih. Meski usianya tidak lagi muda, namun Bu Sulis (begitu beliau biasa dipanggil) merupakan peserta paling aktif selama pembelajaran lima hari itu.  Saya merasa sanga tersanjung karena salah satu peserta bootcamp yang datang dari Semarang merupakan seorang Psikolog yang juga Dosen di UIN Walisongo Semarang. Dengan gayanya yang sangat kalem, Bu Fitriyati Sjirozi  bisa melengkapi informasi yang saya butuhkan jika berhubungan dengan keilmuan psikologi.  Ada bu Evi Sofiyah, seorang Dosen yang haus ilmu sehingga rela melakukan reseat lagi demi mengejar ketuntasan pemahaman NLP-nya, lalu ada mbak Asturida Dewi Astika Asturida, seorang akuntan dengan kekuatan thinkingnya, yang terbang dari Bali demi memuaskan rasa  penasarannya akan manfaat belajar NLP. Syukurlah di hari terakhir dia akhirnya menemukan jawabannya. Semoga dia juga segera menemukan jodohnya, hehehe.
Bootcamp kali ini juga menjadi ramai berkat kehadiran seorang course-holic, yang juga seorang praktisi energy-healer, Mbak Debra Maria Rumpesak yang bermurah hati berbagi serta memimpin senam taichi setiap pagi dan sekaligus membuka aura energy para peserta.   

Ada sosok emak tangguh yang haus ilmu berasal dari negeri jiran yang tinggal di Bekasi yaitu Mba Sarinah Jameaan, yang kami panggil Kak Ros kerana logat bicaranya mengingatkan kita pada kakak sulung Ipin dan Upin. Meski masih merasakan jetlag dan sempat mengalami demam sepulang umroh, namun Kak Ros tetap berjuang untuk mengikuti semua sesi dan mengerjakan semua tugas yang ada.
Dan hadir juga sahabat lama serta saudari saya, seorang yang selalu mengabdi untuk penyembuhan anak-anak trauma sex abuse dan sebagai owner Lintas Organizer serta pemilik yayasan Bushido.  yaitu Mbak Adriana Eko Susanthy.
Ada seorang magician yang punya toko alat sulap online juga paling rajin mengikuti materi dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas harian juga hadir full dalam acara ini yaitu Mas Bernartdous Sugiharto

Lalu ada Kang Riswan Ekananta  seorang spesialist cleaning service dari zero to hero, yang berhati sangat mulia karena bersedia menjemput Bu Erni dari Bandara dan mengantar sampai Hotel. Betul-betul walk the talk sebagai seorang Service Excellent Practitioner.
Ada mas ''oji' Fauzi Yusdi seorang praktisi HR yang dikirim oleh organisasinya agar banyak belajar mengenai NLP, sehingga bisa ditularkan kepada kawan se-organisasinya.   Peserta berikut merupakan peserta yang pertama kali mendaftarkan diri pada bootcamp kali ini. Seorang yang juga sangat hobby mencari ilmu melalui kursus-kursus singkat demi melengkapi pemahaman retorika bisnis English Centernya, dia adalah Bro Thomas Pakaya, yang akrab dipanggil Uncle Tom.

Peserta satu ini merupakan seorang Internal Trainer dari ATC (Air Training Center) milik Lion Air yang akrab disapa Captain Yadhee Muhammad Sutiyadi. Adapun CAPTAIN sendiri rupanya akronim merupakan kredo hidupnya, yaitu Communicator, Arranger, Professional, Trainer, Assessor, Ideator, Networker
Peserta terakhir adalah ibu dari anak-anak saya, Elita Taurisiawati yang selama ini tidak terlalu tertarik dengan dunia training apalagi NLP, sampai dia diminta untuk menjadi Trainer untuk ibu-ibu PKK oleh istri Walikota Bogor.

Mereka semua adalah manusia-manusia pembelajar yang sangat hebat, disiplin, kompeten serta siap mengabdikan diri mereka demi perkembangan diri serta orang di sekitar mereka.
Terimakasih untuk kebersamaan kita selama 5 hari kemarin, in sya Allah dengan niat mulia ingin mengembangkan orang di sekitar kita mencapai kebahagiaan mereka, kita akan dimnudahkan dalam mencapai kebahagiaan kita juga.
Terima kasih juga untuk kawan seperjuangan saya Mas Kono dan Pak Joko yang senantiasa ceria dalam segala suasana. Terimakasih juga untuk Master Hypno Massage Therapist yang membantu melemaskan otot saya dan peserta lain. Terimakasih juga untuk Certified Trainer batch 1, Mas
Adun Muhar yang telah meluangkan waktunya untuk reseat sekaligus memimpin sesi review pagi hari 4-5.

Agar selalu ingat proses melakukan therapy/coaching, di bawah ini saya tuliskan lagi langkahnya:
1. Building Rapport (kepada diri sendiri, klien, dan lingkungan sekitar)
2. Menanyakan kesediaan klien untuk dibantu (menanyakan kesediaan diri untuk melakukan sebuah tindakan)
3. Membuat WFO (diri sendiri dan klien)

Akhirul kalam, selamat mengaplikasikan keahlian yang telah dipelajari selama 5 hari kemarin. 

Siapa kita?

eN eL Pe TRAINER!

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
#salambahagia
#semangatpagi
#becomingnlptrainer
#cafetherapy

No comments:

Artikel Unggulan

Terapi Anti Ngompol 2

Sepulang dari mengisi seminar di UIN Walisongo minggu lalu, tak sengaja saya bertemu dengan anak kawan SMP saya yang sedang mengambil pendid...