POSTINGAN POPULER

Thursday, February 21, 2019

JAVANESE TAICHI

Ini adalah cerita dari sahabat saya Agung Webe:

Suatu ketika seorang kawan mengalami kecelakaan yang sangat parah sehingga seluruh tubuhnya nyaris remuk. Dokter bahkan memvonis untuk recovery sampai bisa berjalan dibutuhkan waktu paling cepat dua tahun. Namun ajaib, hanya dalam waktu 6 bulan, kawan tadi sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Rupanya dia ditangani oleh salah satu orang 'pintar' di Yogyakarta dengan terapi tarian. Dan tarian yang digunakan untuk melakukan terapi salah satunya adalah Bedhoyo Ketawang.

Saat itu saya juga diajarkan beberapa gerakan modifikasi tarian Bedhoyo Ketawang ini, dan saya memang merasakan ada energi negatif yang keluar dari tubuh saya. Setelah melakukan ritual tarian selama setengah jam, tubuh dan perasaan saya terasa enteng.
***

Hasil gambar untuk bedhaya ketawangPenasaran dengan fenomena yang terjadi pada diri saya, kemudian saya ngulik, apa sih hebatnya tarian ini. Dari Wikipedia saya mendapatkan informasi yang luar biasa. Ada beberapa legenda yang mengungkapkan pembentukan tarian ini. 

Suatu ketika, Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah Kesultanan Mataram dari tahun 1613-1645, sedang melakukan laku ritual semadi. Konon, dalam keheningan sang raja mendengar suara tetembangan (senandung) dari arah tawang atau langit.

Sultan Agung merasa terkesima dengan senandung tersebut. Begitu selesai bertapa, Sultan Agung memanggil empat orang pengiringnya yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Sultan Agung mengutarakan kesaksian batinnya pada mereka. Karena terilhami oleh pengalaman gaib yang ia alami, Sultan Agung sendiri menciptakan sebuah tarian yang kemudian diberi nama Bedhoyo Ketawang
***

Pada perkembangannya,Tari Bedhoyo Ketawang menjadi sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta Tingalan dalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja). Nama Bedhaya Ketawang sendiri berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana. Sedangkan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. Tari Bedhaya Ketawang menjadi tarian sakral yang suci karena menyangkut Ketuhanan, dimana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Tari Bedhaya Ketawang ini dibawakan oleh sembilan penari yang terdiri dari para gadis yang masih suci. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari Bedhaya Ketawang menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai oleh sembilan dewa yang disebut dengan Nawasanga. 

Sembilan penari Bedhaya Ketawang memiliki nama dan fungsi masing-masing. Tiap penari tersebut memiliki simbol pemaknaan tersendiri untuk posisinya:

Penari pertama disebut Batak yang disimbolkan sebagai pikiran dan jiwa.
Penari ke dua disebut Endhel Ajeg yang disimbolkan sebagai keinginan hati atau nafsu.
Penari ke tiga disebut Endhel Weton yang disimbolkan sebagai tungkai kanan.
Penari ke empat disebut Apit Ngarep yang disimbolkan sebagai lengan kanan.
Penari ke lima disebut Apit Mburi yang disimbolkan sebagai lengan kiri.
Penari ke enam disebut Apit Meneg yang disimbolkan sebagai tungkai kiri.
Penari ke tujuh disebut Jangga yang disimbolkan sebagai kepala dan leher.
Penari ke delapan disebut Dhada yang disimbolkan sebagai badan.
Penari ke sembilan disebut Buncit yang disimbolkan sebagai organ seksual. Penari ke sembilan di sini direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang yang merupakan simbol tawang atau langit.

Wow, pantas saja tarian ini mampu mengusir energi negatif, karena rupanya ini bukan merupakan sembarang tarian.

Tarian ini memiliki sembilan gerakan dasar yang memiliki makna 'nutup babahan howo songo' (Menutup sembilan lubang hawa nafsu), yaitu dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, lubang kelamin dan lubang anus. Dan gerakan-gerakan tersebut mesti dilakukan dengan sangat perlahan, serta dilakukan stretching pada otot-otot tubuh kita. Mirip senam taichi, itulah kenapa saya cenderung menyebutnya sebagai Javanese Taichi.
***

Saya pernah membaca sebuah tulisan mengenai sebuah teknik katarsis yang menurut saya lumayan unik karena menggunakan nyanyian, tarian serta goyangan badan. Teknik itu disebut Neo Self Empowerment (NSE), yang diprakarsai oleh Anand Krishna dan diberikan di setiap pusat latihan meditasi resmi milik beliau di berbagai kota di Indonesia.

Berbekal pengalaman mencoba tarian Bedhoyo Ketawang, dan informasi mengenai NSE di atas, maka saya mencoba mengadopsi teknik ini menjadi salah satu teknik katarsis dalam setiap pelatihan NLP Cafe Therapy, dan saya sebut teknik tersebut Javanese Taichi (JT)

Gerakan JT juga ada 9, dengan penamaan seperti posisi para penari Bedhoyo Ketawang:

  1. Batak, kedua tangan tertangkup di depan dada. Mulai dengan pernafasan dasar 7 3 7 (tarik nafas dari hidung 7 detak, tahan 3 detak, lepas dari mulut 7 detak). Membaca doa dan meniatkan untuk katarsis
  2. Endhel ajeg, melakukan kuda-kuda. Kedua kaki agak ditekuk dan lentur. Kedua tangan di pinggang. Badan bergerak mengikuti irama musik
  3. Apit mburi, tangan kiri mulai bergerak dengan lamban, penuh stretching. Nikmati setiap tarikannya. 
  4. Apit ngarep, tangan kiri kembali ke pinggang, tangan kanan mulai bergerak lamban. Stretch. 
  5. Apit Meneg, tangan kanan kembali ke pinggang. Kaki dan tungkai kiri mulai ditarik. Stretching
  6. Endhel Weton, gantian kaki kanan sekarang yang ditarik. 
  7. Jangga, kedua kaki kembali pada posisi endhel ajeg. Leher dan kepala mulai digerakkan. Masih dengan gerakan lamban. Bisa diputar ke kanan dan ke kiri, atau melakukan pacak gulu (gerakan penari seperti yang sering dilakukan oleh Tina Toon dulu)
  8. Dhada, sekarang giliran dada dan bahu ditarik dengan gerakan memutar ke depan dan ke belakang, atau berputar seperti permainan tornado di Ancol
  9. Buncit, gerakan semacam goyang pinggul atau ngigel, putar kanan dan putar kiri, namun juga dilakukan dengan sangat lamban.

Setelah lengkap ke sembilan gerakan tadi satu persatu dilakukan, maka kita bisa membebaskan diri kita dengan menggerakkan seluruh tubuh kita mengikuti irama musik kombinasi gending Jawa dan Bali. Dan tantangannya adalah semua gerakan tadi dilakukan dengan mata tertutup.

Seperti pengalaman yang pernah saya dapatkan, biasanya usai melakukan JT, para peserta yang berhasil mengikuti dorongan hatinya agar secara kinestetik semua emosi negatif mereka keluar, akan merasakan kelegaan yang luar biasa.

Dan kelas terdekat untuk menikmati Javanese Taichi ini ada di tanggal 09-10 Maret 2019 bertempat di Grand Mutiara Hotel Megamendung Bogor. 
Selama 2 hari 1 malam kita akan memahami diri kita sendiri melalui pembelajaran Neuro Linguistic Programing yang akan dibawakan langsung oleh salah satu Certified Master Trainer NNLP

Masih tersisa 3 seat lagi, jadi tunggu apa lagi. Segera amankan seat Anda dengan menghubungi 08179039372

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
www.thecafetherapy.com

No comments:

Artikel Unggulan

TERAPI ANTI NGOMPOL

Cafe Therapy, 3 November 2019 Saya ingin menceritakan pengalaman melakukan terapi kepada keponakan kawan kantor dulu ketika masih bekerja ...