POSTINGAN POPULER

Wednesday, May 08, 2019

NEW BEHAVIOR GENERATOR


Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan. Mental Creation dan physical creation. Proses pertama yang terjadi di pikiran kita memiliki peran yang sangat penting dalam memudahkah kita mewujudkan proses selanjutnya. Mari kita perhatikan lebih jauh bagaimana seorang arsitek tentu membuat sketsa sebelum membangun sebuah rumah, seorang sutradara akan membuat atau menyuruh orang lain menulis skenario sebelum membesut sebuah film. Bahkan dalam keseharian kita, meski cuma sesaat kreasi mental akan selalu mendahului kreasi fisik. Contoh ketika kita ingin makan sesuatu, tentu sudah terbayang makanan apa yang ingin kita nikmati. Begitu pula ketika kita mengendarai mobil atau motor. Di kepala kita tentu terbayang rute mana yang akan kita tempuh. 



Kita mengenal kreasi mental ini sebagai imajinasi. Meski banyak orang yang sudah mengakui kehebatan sebuah imajinasi dalam mendukung kesuksesan, namun masih saja ada orang yang menafikannya.  Sekali kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran kita, fisik kita pun mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikirkan.

Agar Anda lebih mudah memahami kekuatan imajinasi, berikut ada dua kisah nyata yang mewakilinya.

Pertama, kisah hidup Mayor James Nesmeth, seorang tentara yang gemar main golf. Dia begitu tergila-gila dengan golf. Tapi sayang sekali, sebelum menikmati kesempatan itu, dia ditugaskan ke Vietnam Utara.

Sungguh sial, saat di Vietnam dia ditangkap oleh tentara musuh dan dijebloskan ke penjara yang pengap dan sempit. Dia tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siapa pun. Situasi pengap, kosong, dan beku itu sungguh menjadi siksaan fisik dan mental yang meletihkan baginya.

Untungnya, Nesmeth sadar dirinya harus menjaga pikirannya agar tidak sinting. Dia mulai berlatih mental. Setiap hari, dengan imajinasinya, dia membayangkan dirinya berada di padang golf yang indah dan memainkan golf 18 hole. Dia berimajinasi secara detail. Dia melakukannya rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun.

Lantas, tujuh tahun kemudian, dia pun dibebaskan dari penjara. Luar biasanya saat dia mulai bermain golf kembali untuk pertama kalinya. Ternyata Mayor James Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang pun bertanya kepada siapa dia berlatih.

Tentu saja, tidak dengan siapa pun. Yang jelas, dia hanya bermain dengan imajinasinya. Tetapi, ternyata itu berdampak pada hasil kemampuannya. Nah, inilah kekuatan imajinasi itu.
***

Kisah kedua adalah cerita tentang Tara Holland, seorang gadis yang bermimpi menjadi Miss America sejak kecil. Pada 1994, dia berusaha menjajaki menjadi Miss Florida. Sayangnya, dia hanya menyabet runner-up pertama. Tahun berikutnya dia mencoba, tapi lagi-lagi hanya di posisi yang sama. Hati kecilnya mulai membisikkan dirinya untuk berhenti.

Tapi, dia bangkit dan membulatkan tekadnya lagi. Dia pindah ke negara bagian lain, Kansas. Pada 1997, dia terpilih menjadi Miss Kansas. Dan di tahun yang sama, dia berhasil menjadi Miss America! Yang menarik, adalah saat Tara diwawancarai setelah kemenangannya, Tara menceritakan bagaimana dia sudah ingin menyerah setelah dua kali kalah di Florida.

Tapi, tekadnya sudah bulat. Selama beberapa tahun kemudian, dia membeli video dan semua bahan yang bisa dipelajari tentang Miss Pagent, Miss Universe, Miss America, dan sebagainya. Dia melihatnya berkali-kali. Setiap kali melihat para diva meraih penghargaan tertinggi, Tara membayangkan dirinyalah yang menjadi pemenangnya.

Satu lagi yang menarik dari wawancaranya adalah saat dia ditanya apakah dia merasa canggung saat berjalan di atas karpet merah. Dengan mantap, Tara Holland menjawab, “Tidak sama sekali. Anda mesti tahu saya sudah ribuan kali berjalan di atas panggung itu.”

Seorang reporter menyela dan bertanya bagaimana mungkin dia sudah berjalan ribuan kali di panggung, sementara dia baru pertama kalinya mengikuti kontes. Tara menjawab, “Saya sudah berjalan ribuan kali di panggung itu,…dalam pikiran saya.”
***
Salah satu teknik berbasis mental creation yang dikembangkan NLP adalah  New Behavior Generator. Teknik membentuk perilaku baru merupakan salah satu teknik yang memanipulasi sub modalitas untuk menciptakan perilaku baru yang diinginkan. Ini adalah teknik NLP yang menggunakan citra mental atau latihan untuk mendapatkan hasil jangka panjang.

Tujuan dari teknik ini adalah memungkinkan diri Anda untuk membentuk ‘PERILAKU BARU’ dengan menerapkannya dalam pikiran (mind) sehingga mengaktifkan semua sumber daya yang Anda miliki di system saraf (neurological resources).
Imajinasi adalah energi. Energi yang kalau diolah terus-menerus akan mewujud dalam apa yang kita imajinasikan itu. Kita tidak harus belajar semuanya dari awal. Sesuai dengan bunyi sebuah presuposisi bahwa semua manusia telah memiliki sumber daya untuk sukses. Yang perlu dilakukan hanyalah mengakses, memperkuat dan mengurutkannya. Kita telah memiliki banyak referensi dan perilaku bawah sadar mengenai sebuah keterampilan, baik itu berasal dari diri kita maupun dari orang lain di sekitar kita. Kita hanya perlu  mengatur dan mengurutkan agar bisa menjadi keterampilan baru. Ketrampilan kita. Orang belajar melalui observasi, praktek dan perbaikan. Kita bisa menciptakan strategi untuk mencapai hal-hal baru. Teknik ini akan mengadopsi pemahaman eye accessing cue yang akan mengakses semua sumber daya Anda pada tataran neurological resources

New Behavior Generator ini didasarkan pada sistim keyakinan yang kita miliki:
  • Orang belajar perilaku baru dengan menciptakan peta mental baru dalam otak mereka.
  • Semakin lengkap Anda membuat peta mental Anda, semakin besar kemungkinan Anda akan mendapatkan perilaku baru yang Anda inginkan.
  • Fokus pada tujuan Anda (WFO) adalah cara tercepat untuk mencapai perilaku baru.
  • Setiap orang memiliki sumber daya mental yang mereka butuhkan untuk mencapai perilaku baru.
  • Sukses adalah fungsi dari mengakses dan mengatur sumberdaya yang sudah ada



 Sebelum Anda membantu klien ada baiknya Anda memulai  langkah berikut:
  1. Bangunlah rapport dan lakukan kalibrasi dengan baik.
  2. Nyatakan intensi atau tujuan Anda kepada klien bahwa Anda ingin membantunya.
  3. Mintalah kesediaan klien untuk dibantu dan bangun keyakinan klien serta dapatkan kepercayaan dari klien bahwa Anda akan berhasil bila klien juga bisa diajak bekerja sama dengan baik.
  4. Mintalah klien untuk menyatakan WFO atau keinginan dengan jelas untuk menghindari kesalahpahaman atau salah langkah dalam proses kerja sama tersebut.
  5. Buatlah WFO Anda sendiri yang inline dengan WFO klien
  6. Tanyakanlah manfaat apa yang akan diperoleh bila klien mencapai apa yang diinginkannya itu? Siapa saja yang akan memeroleh keuntungan tersebut?

Berikut adalah enam langkah dasar cara melakukan Strategi Pembentukan Perilaku Baru. Silakan gunakan alat bantu berupa pinsil atau pulpen, dan minta mata klien untuk mengikuti arah dari pinsil yang Anda gerakkan nanti:
1.  Arahkan mata klien ke kanan bawah (dari sudut pandang Anda sebagai terapis) dan tanyakan, “Jika Anda sudah mencapai WFO Anda nanti, seperti apakah diri Anda nanti?” Langkah pertama ini merupakan pemaparan keinginan klien sesuai dengan self talk mereka (Auditory Digital)

2.  Arahkan mata klien ke kiri atas dan tanyakan, “Coba sekarang lihat, dengar dan rasakan diri Anda di masa yang akan datang dimana diri Anda sudah memiliki perilaku baru tersebut” Pandu klien untuk menggunakan semua inderanya, sehingga mereka bisa menjawab, “Aku melihat…., aku mendengar….., aku merasa……” Langkah kedua ini merupakan sebuah imajinasi masa depan (Visual Construction)

3.   Arahkan mata klien ke kanan atas, dan minta klien untuk mengingat sebuah peristiwa dimana mereka pernah mengalami minimal sensasi yang sama dengan WFO yang sedang direncanakan. Untuk lebih memudahkan langkah ini, Anda bisa membantu dengan menanyakan:
a.  “Coba ingat sebuah kesuksesan yang pernah Anda capai yang menggunakan perilaku yang mirip dengan perilaku baru yang sedang Anda proses ini?”
b.    “Coba ingat sebuah keberhasilan kecil saja yang pernah Anda capai menggunakan perilaku yang sedang Anda proses ini?”
c.    “Coba ingat seorang tokoh yang sangat ahli dengan perilaku ini, dan Anda bisa mulai memodelnya”
Langkah ketiga ini merupakan sebuah pengaksesan sumber daya (Visual Remembered)

4.    Arahkan mata klien ke kiri atas lagi, dan tanyakan, “Dengan semua sumber daya yang sudah Anda miliki tadi, bagaimana sekiranya diri Anda nanti?”

5.  Arahkan mata klien ke kiri bawah, dan minta klien merasakan bahwa perilaku yang mereka inginkan memang sekarang sudah menjadi satu dengan diri mereka. Goal sudah tercapai. Dan tanyakan perasaan mereka, “Apa yang Anda rasakan sekarang? Senangkah Anda melakukan perilaku tersebut ?” Langkah ini juga sekaligus untuk melakukan kalibrasi apakah proses yang dijalankan sudah sesuai dengan harapan klien. (Kinaesthetic)

6.  Arahkan mata klien ke kanan bawah lagi, dan minta mereka membandingkan kesuksesan ini dengan kesuksesan lain yang pernah dicapai di masa silam, dan apakah sama perasaannya. Jika perasaannya tidak sama maka minta klien untuk menambahkan detail dari WFO mereka, sehingga diharapkan pada proses pembentukan perilaku baru nantinya, perasaan yang dicapai juga sesuai dengan yang diharapkan. Langkah ini kembali memandu klien untuk melakukan self-talk (Auditory Digital)
Seperti yang telah saya sampaikan pada awal tulisan ini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan, mental creation dan physical creation. Maka jika Anda ingin perilaku baru tadi benar-benar terwujud, Anda mesti memiliki komitmen yang kuat serta selalu melatih diri menuju WFO Anda tadi. Maka berikut tambahan langkah yang mesti dilakukan:
1.       Future Pacing dan tes.
Lakukan tes di kehidupan nyata, cari situasi yang cocok untuk melakukan perilaku baru tersebut dan rasakan serta nikmati.
2.      Ucapkan syukur di dalam hati dan nikmati lagi perasaannya.
Anda bisa mengulangi proses ini berkali-kali sampai fisik Anda bekerja sama untuk mewujudkan perilaku baru Anda tadi.

Selamat mencoba

Thursday, April 11, 2019

Five Days Becoming NNLP Trainer Batch#2


Alhamdulillah wa syukurillah,  kelar juga program akbar tahunan Cafe Therapy dengan melahirkan 14 Certified Neo NLP baru.

Trainer is a leader, maka stamina mereka mesti kuat dan handal sehingga perlu sebuah kawah Candradimuka untuk menggodognya. Selama 5 hari, peserta digembleng dari jam 6 pagi sampai 10 malam, namun luar biasanya hal ini tidak membuat peserta kelelahan tapi malah tertantang setiap harinya. 

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah bagi peserta pria muslim, kami langsung meregangkan fisik dengan serangkaian senam sederhana seperti brain gym, poco-poco, sajojo, maumere serta Javanese Taichi.

Secara bergantian peserta mesti memimpin senam ini, karena hal ini akan bermanfaat ketika mereka sudah membuka kelas sendiri nantinya sebagai salah satu icebreaker keren.
Peserta batch kali ini beruntung karena mendapatkan bonus teknik taichi dari salah satu peserta yang rupanya merupakan bos dari Taman Air Spa Bali, yaitu mbak Debra. Maka saya akan menamakan teknik ini Water Castle Taichi. (Saya akan mengulas teknik taichi ini dalam tulisan tersendiri)
***

Setelah istirahat sesaat, jam 9 sesi classroom dimulai dengan melakukan review materi sebelumnya. Cara review yang kami lakukan tidaklah seperti kelas pada umumnya dimana trainer akan mengulang poin-poin penting materi hari sebelumnya. Justru para peserta yang akan mengungkapkan hal paling menarik yang mereka dapatkan kepada kawan semeja mereka.

Setelah itu masing-masing meja mesti mengirimkan wakil untuk mempresentasikan hal menarik mejanya di depan kelas. Cara ini menantang semua peserta untuk belajar menjadi trainer dari hari pertama mereka belajar.

Jika dihitung menggunakan jam belajar regular, maka sebenarnya bootcamp ini setara dengan 10 hari pelatihan, dimana setiap hari para peserta selain diberikan bekal teori juga mesti melakukan role play, serta mengerjakan borang (paperwork) baik berupa ‘daily test’, WFO Form, Ecological Form, dll.

Setiap malam, sesi classroom diakhiri dengan gimmick yang akan membuat para peserta ingin segera kembali ke ruang kelas keesokan harinya.

Malam pertama kami sajikan ‘ring and chain magic trick’ yang merepresentasikan salah satu presuposisi, yaitu jika seseorang mampu melakukan sebuah keahlian, maka orang lain juga mampu melakukannya, asalkan mau mempelajari caranya. 

Meski hanya menggunakan alat sederhana berupa kalung dan gelang, namun para peserta sangat antusias untuk memodel 7 style permainan sulap yang diperagakan oleh Pak Kono dan Pak Joko ini.

Malam kedua, semua peserta diminta mentransfer mental block-nya ke dalam sebuah pinsil untuk kemudian mematahkan pinsil tersebut. Meski pada awalnya beberapa peserta wanita merasa ngeri, namun begitu berhasil mematahkan sebuah pinsil dan mereka merasakan plongnya perasaan mereka, beberapa emak-emak ini malah minta beberapa pinsil lagi untuk dipatahkan.

Malam ketiga, kami melakukan eksperimen telepati sederhana setelah mendemokan teknik mirroring yang sangat ajaib. Dua orang peserta diminta untuk maju ke depan kelas, dimana salah satu akan memirror dan peserta satunya akan dimirror. Setelah tujuh kali gerakannya dimirror, peserta ini diminta untuk menebak sebuah angka yang ditulis oleh peserta yang memirror. Dan luarbiasanya dua kali kesempatan menebak angka, keduanya dilakukan dengan tepat.

Malam ke empat, saya berikan tantangan kepada para peserta untuk menghantamkan bola pijar (bohlam bening) pada sebuah keramik. Saya memberikan prolog dengan pengandaian bahwa bohlam ini adalah sumber daya dan keramik merupakan hambatan. Sumberdaya yang terlihat ringkih tadi mesti dihantamkan pada hambatan yang kokoh.
Premis awal, semua peserta kompak menyatakan bahwa bohlam-lah yang akan pecah. Sumber daya yang terlalu kecil pasti akan hancur berkeping-keping menghadapi hambatan yang besar dan kuat.

Sebelum tantangan dimulai, saya kembali mengulas framework NLP Change Model. Saya tekankan lagi bahwa framework ini bisa terbentuk ketika kita memulainya dengan meletakkan titik goal kita (desired state) dan juga menentukan titik start (current situation), sehingga terbentanglah sebuah roadmap di antara start dan goal tadi.
Dalam perjalanan menuju goal, selalu kita akan didampingi oleh sumberdaya baik internal maupun eksternal, namun juga selalu dibayangi oleh hambatan (internal dan eksternal juga)

Sumberdaya adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik goal. Dan hambatan adalah segala aspek yang mendekatkan kita pada titik start. (Jangan Anda pikir hambatan adalah segala aspek yang menjauhkan dari titik goal. Karena secara sadar tidak ada orang yang menjauh dari goalnya. Namun alangkah banyaknya orang yang terjebak di zona nyaman, sehingga enggan berjauhan dengan titik start. Itulah senyatanya hambatan!)
Ketika berfokus pada sumberdaya dalam mencapai goal (outcome thinking), kita mesti peka (sensory acuity), serta senantiasa menjalin hubungan (building rapport) dengan semua pihak terkait, juga fleksibel dalam berperilaku.

Dan ketika usai prolog saya, peserta mulai mencoba menghantamkan bohlam tadi pada keramik. Kami sudah menyiapkan sebuah kardus untuk menjaga jika bohlam pecah maka belingnya terlokalisir dengan aman di dalam kardus. Bergantian peserta mencoba peruntungan mereka. Ada yang langsung memukulkan, ada yang gagal, ada yang berhasil. Ada yang menjatuhkan dan juga gagal. Namun mereka mulai takjub dengan kekuatan bohlan ketika pada kesempatan pertama mereka, bohlam yang terlihat ringkih tersebut tidak pecah.

Maka pada kesempatan berikutnya, peserta mulai melakukan modifikasi. Ada yang meletakkan penyangga pada sudut keramik, sehingga terdapat ruang di bawahnya. Masuk akal. Ada yang mengambil kursi dan menjatuhkan dari ketinggian yang menurut mereka cukup untuk memberikan daya dorong pada bohlam tersebut.
Dan satu persatu peserta yang premis awalnya adalah memecahkan bohlam, mulai bisa yakin bahwa keramik mereka yang pecah, setelah melalui beberapa percobaan.
Setelah para peserta puas dengan tantangan mereka, kami berdiskusi untuk membahas fenomena ini.

Dan kesimpulannya adalah:
1. Ini bukan magis tapi logis
2. Jangan suka meremehkan sumberdaya meski sekecil apapun
3. Fleksibilitas membantu kita menguatkan sumberdaya dalam rangka mencapai goal
***
Bootcamp ini menggabungkan 3 kelas regular, yaitu NNLP Practitioner, Master Practitioner dan diakhiri  dengan materi NNLP trainer, yang membuat si genius dan si rajin harus sering dipanggil untuk dapat menyerap semua materi dalam waktu singkat.
Peserta bootcamp kali ini berasal dari berbagai macam profesi dan lokasi.  Peserta paling jauh terbang dari ternate, yaitu bu Ernie Arifin, seorang widya iswara yang selalu antusias mengikuti sesi demi sesi.  

Ada juga ASN dari kemenkumham yang baru mendapatkan sertifikasi profesi advokat dari peradi yaitu bu Hj. Sri Sulistijaningsih. Meski usianya tidak lagi muda, namun Bu Sulis (begitu beliau biasa dipanggil) merupakan peserta paling aktif selama pembelajaran lima hari itu.  Saya merasa sanga tersanjung karena salah satu peserta bootcamp yang datang dari Semarang merupakan seorang Psikolog yang juga Dosen di UIN Walisongo Semarang. Dengan gayanya yang sangat kalem, Bu Fitriyati Sjirozi  bisa melengkapi informasi yang saya butuhkan jika berhubungan dengan keilmuan psikologi.  Ada bu Evi Sofiyah, seorang Dosen yang haus ilmu sehingga rela melakukan reseat lagi demi mengejar ketuntasan pemahaman NLP-nya, lalu ada mbak Asturida Dewi Astika Asturida, seorang akuntan dengan kekuatan thinkingnya, yang terbang dari Bali demi memuaskan rasa  penasarannya akan manfaat belajar NLP. Syukurlah di hari terakhir dia akhirnya menemukan jawabannya. Semoga dia juga segera menemukan jodohnya, hehehe.
Bootcamp kali ini juga menjadi ramai berkat kehadiran seorang course-holic, yang juga seorang praktisi energy-healer, Mbak Debra Maria Rumpesak yang bermurah hati berbagi serta memimpin senam taichi setiap pagi dan sekaligus membuka aura energy para peserta.   

Ada sosok emak tangguh yang haus ilmu berasal dari negeri jiran yang tinggal di Bekasi yaitu Mba Sarinah Jameaan, yang kami panggil Kak Ros kerana logat bicaranya mengingatkan kita pada kakak sulung Ipin dan Upin. Meski masih merasakan jetlag dan sempat mengalami demam sepulang umroh, namun Kak Ros tetap berjuang untuk mengikuti semua sesi dan mengerjakan semua tugas yang ada.
Dan hadir juga sahabat lama serta saudari saya, seorang yang selalu mengabdi untuk penyembuhan anak-anak trauma sex abuse dan sebagai owner Lintas Organizer serta pemilik yayasan Bushido.  yaitu Mbak Adriana Eko Susanthy.
Ada seorang magician yang punya toko alat sulap online juga paling rajin mengikuti materi dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas harian juga hadir full dalam acara ini yaitu Mas Bernartdous Sugiharto

Lalu ada Kang Riswan Ekananta  seorang spesialist cleaning service dari zero to hero, yang berhati sangat mulia karena bersedia menjemput Bu Erni dari Bandara dan mengantar sampai Hotel. Betul-betul walk the talk sebagai seorang Service Excellent Practitioner.
Ada mas ''oji' Fauzi Yusdi seorang praktisi HR yang dikirim oleh organisasinya agar banyak belajar mengenai NLP, sehingga bisa ditularkan kepada kawan se-organisasinya.   Peserta berikut merupakan peserta yang pertama kali mendaftarkan diri pada bootcamp kali ini. Seorang yang juga sangat hobby mencari ilmu melalui kursus-kursus singkat demi melengkapi pemahaman retorika bisnis English Centernya, dia adalah Bro Thomas Pakaya, yang akrab dipanggil Uncle Tom.

Peserta satu ini merupakan seorang Internal Trainer dari ATC (Air Training Center) milik Lion Air yang akrab disapa Captain Yadhee Muhammad Sutiyadi. Adapun CAPTAIN sendiri rupanya akronim merupakan kredo hidupnya, yaitu Communicator, Arranger, Professional, Trainer, Assessor, Ideator, Networker
Peserta terakhir adalah ibu dari anak-anak saya, Elita Taurisiawati yang selama ini tidak terlalu tertarik dengan dunia training apalagi NLP, sampai dia diminta untuk menjadi Trainer untuk ibu-ibu PKK oleh istri Walikota Bogor.

Mereka semua adalah manusia-manusia pembelajar yang sangat hebat, disiplin, kompeten serta siap mengabdikan diri mereka demi perkembangan diri serta orang di sekitar mereka.
Terimakasih untuk kebersamaan kita selama 5 hari kemarin, in sya Allah dengan niat mulia ingin mengembangkan orang di sekitar kita mencapai kebahagiaan mereka, kita akan dimnudahkan dalam mencapai kebahagiaan kita juga.
Terima kasih juga untuk kawan seperjuangan saya Mas Kono dan Pak Joko yang senantiasa ceria dalam segala suasana. Terimakasih juga untuk Master Hypno Massage Therapist yang membantu melemaskan otot saya dan peserta lain. Terimakasih juga untuk Certified Trainer batch 1, Mas
Adun Muhar yang telah meluangkan waktunya untuk reseat sekaligus memimpin sesi review pagi hari 4-5.

Agar selalu ingat proses melakukan therapy/coaching, di bawah ini saya tuliskan lagi langkahnya:
1. Building Rapport (kepada diri sendiri, klien, dan lingkungan sekitar)
2. Menanyakan kesediaan klien untuk dibantu (menanyakan kesediaan diri untuk melakukan sebuah tindakan)
3. Membuat WFO (diri sendiri dan klien)

Akhirul kalam, selamat mengaplikasikan keahlian yang telah dipelajari selama 5 hari kemarin. 

Siapa kita?

eN eL Pe TRAINER!

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
#salambahagia
#semangatpagi
#becomingnlptrainer
#cafetherapy

MAGIC APA LOGIC?


Mengikuti teknik opening magic yang dulu pernah saya ikuti dalam pelatihan public speaking, maka sampai sekarang saya selalu berusaha memberikan perhatian lebih pada teknik penarik minat ini. Ibarat sebuah botol yang ingin kita isi dengan air, maka tutup botol tersebut mesti kita buka terlebih dahulu. Nah, opening magic itu mirip pembuka botol tersebut.

Saya sangat suka mengenakan pakaian berwarna hitam, baik dalam keseharian maupun ketika tampil sebagai public speaker. Celana hitam, kemeja hitam, jas beludru hitam merupakan pakaian kebesaran saya ketika berbagi pengalaman di dalam kelas-kelas training saya. Setelah mengucap salam dan chit chat sejenak, saya akan menanyakan apparel apa yang masih kurang dalam penampilan saya. Beberapa peserta yang jeli langsung bisa melihat bahwa saat itu saya tidak mengenakan dasi.

Dan memang betul dari luar, terlihat bahwa saya tidak memakai dasi. Saya kemudian minta waktu, sambil tebak-tebakan berapa lama waktu yang saya perlukan untuk menyempurnakan penampilan saya. Durasi terlama yang diperkirakan oleh audiens biasanya adalah setengah jam, dan tercepat adalah 5 menit.
Sambil tersenyum dan memutar badan, sim salabim abrakadabra, ketika saya sudah menghadap audiens lagi, gold tie saya sudah terpasang dengan sempurna dan rapi. Wow, para peserta langsung bertepuk tangan, sembari beberapa di antara mereka bergumam,

"Kok bisa?"
"Menurut teman-teman peristiwa yang baru saja terjadi, from nothing to something ini disebut apa?"
"Sulaaaap!", kompak mereka menjawab
"Masak teknik sekeren ini kok dibilang sulap?  Anda ini kayak memanggil dokter dengan sebutan mantri saja!", sambil bercanda saya mencoba mengoreksi pendapat audiens
"Magic Pak!"
"Nah ini baru keren. Magic!  Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa hal ini disebut magic?"
"Ya karena keren Pak. Aneh gitu"
"Benar, teknik ini sangat keren. Memang aneh, tapi bukan itu maksud saya. Apakah teman-teman sudah tahu rahasianya?"
"Beluuuum!"
"Mau tahu rahasianya?"
"Mauuuuu!"
"Mau tahu aja apa mau tahu bangeet?"
"Bangeeet!"

Maka kemudian saya bongkar rahasia 'Auto Appearing Neck Tie' sebuah magic trick yang dipopulerkan oleh Sumit Chajjer, seorang magician kelahiran India. Tekniknya sangat sederhana, dasi biasa diikat dengan benang berwarna hitam dimana bagian atasnya digantungkan pada leher menggunakan metal berbentuk U (mirip bando) yang di kedua ujung metal tadi terdapat rel benang hitamnya. Rel ini mirip dengan rel yang digunakan pada gantungan name tag yang bisa dipanjang pendekkan sesuai kebutuhan.

Ketika saya masuk ke stage, sebenarnya dasi emas saya sudah terpasang, namun saya gulung dan ditarik ke bawah sehingga tertutup oleh jas saya. Gulungan dasi tadi tinggal diselipkan di dalam celana panjang saya, dan ketika saya berbalik tadi, saya tinggal mengendurkan perut saya sehingga gulungan dasi tadi tertarik ke atas dan muncul merapat ke pangkal leher saya. Viola, dan kini saatnya saya mengatakan, "Sempurna!"

"Oooooo!", tanpa dikomando serempak audiens bergumam.
"Nah, masih MAGIC apa tidak nih?"
"Tidaaaak!" 
"Apa dong, kalau sudah bukan magic lagi?"
"LOGIC Pak"
"Beng-beng untuk Anda"
"Kenapa jadi logic?"
"Karena kini kami sudah tahu rahasianya Pak"
"Seratus untuk Anda. Beng-beng lagi"
***
Sidang Pembaca yang berbahagia, dari retorika opening magic ini, selain saya berhasil mendapatkan perhatian dari audiens, saya juga mulai membuka cakrawala baru di benak audiens mengenai perbedaan antara magic dan logic.
Segala sesuatu dengan mudah akan dihukumi magic sebenarnya hanya karena kita belum tahu rahasianya atau cara kerjanya. Melihat tetangga yang sangat kaya, kita mengatakan mereka ngipri, dan ngipri termasuk dalam golongan magic (magis). Ada kolega yang sangat jago menjadi trainer, dibilangnya pasti punya jimat. Jimat termasuk dalam golongan magis. Bahkan melihat sahabat yang memiliki istri cantik, dikira dia memiliki ajian pelet. Pelet termasuk dalam golongan magis. Padahal bisa jadi kita berkata begitu hanya karena kita ngiri dan tidak tahu rahasia mereka.

Maka agar menjadi logic, menjadi tugas kitalah untuk mencari tahu rahasia alam semesta  ini. Itulah kenapa ayat yang pertama kali diturunkan dalam Al Quran adalah Iqro! Bacalah!
Sepanjang hayat ini sudah banyak saya membaca. Baik membaca (belajar) secara formal maupun informal. Dan ketika mempelajari NLP (Neuro Linguistic Programing), saya menemukan banyak pencerahan mengenai perbedaan magic-logic ini. Dengan metodologinya yang sangat akurat, pengajaran attitude yang sangat militan dan teknik-teknik praktis yang sangat aplikabel, saya yang dulunya juga terlalu sering berkata, "Kok bisa?" sekarang sudah melakukan sebuah transformasi dengan senantiasa berpikir, "Bisa kok!"

Anda ingin juga melakukan transformasi seperti saya?

Saya yakin Anda juga bisa kok

Tabik
-haridewa-

Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Sunday, April 07, 2019

ATTITUDE & BOOTCAMP

Setelah sekian tahun belajar NLP,  saya menyadari adanya perbedaan pola pikir praktisi NLP (NLPers) dengan orang kebanyakan (OK)

OK: Siswa saya malas
NLPers: _Siswa Anda belum mengenali sisi rajinnya_

OK: Suami saya pemarah
NLPers: _Suami Ibu belum mengenali sisi sabarnya_

OK: Anak saya nakal
NLPers: _Anak Ibu belum mengenali sisi baiknya_

OK: Bawahan saya bebal
NLPers: _Bawahan Anda belum mengenali sisi cerdasnya_

OK: Dia pemurung
NLPers: _Dia hanya belum paham sisi riangnya_

de el el
***

Rupanya yang membedakan kedua kelompok di atas adalah *attitude* (sikap) atau cara pandang mereka terhadap suatu hal. Attitude akan memengaruhi cara berpikir dan cara bertindak seseorang yang pada akhirnya memengaruhi hasil yang kita dapatkan.

Idealnya seorang praktisi NLP mempunyai minimal tiga ATTITUDE NLP yang paling mendasar, yaitu:

*1. Respect (Rasa Menghargai)*
Dalam  NLP, ada satu asumsi (presuposisi) yang sangat terkenal yaitu _The Map is not The Territory._ Bahwa peta (persepsi, realitas internal seseorang) bukanlah wilayah (fakta, kenyataan yang sebenarnya, realitas eksternal seseorang). Dan manusia merespon peta mereka, bukan kenyataan sebenarnya. Maka satu kejadian yang sama bisa dipetakan/dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda. Artinya, tidak ada peta yang sama dalam diri setiap orang.

Wajar kiranya jika kita perlu menghargai (RESPECT) terhadap peta orang lain. Termasuk ketika memandang perilaku seseorang yang dianggap negatif. Bersandar pada pemahaman ini, seorang praktisi NLP idealnya mampu memisahkan antara sebuah perilaku (behavior) dengan niat (intention) di baliknya. Karena ada asumsi bahwa ada niat baik dalam setiap perilaku dan manusia selalu melakukan pilihan terbaik yang memungkinkan baginya. Sehingga kita perlu hargai dan jaga niat baiknya dan kita bantu ubah perilakunya.

*2. Curiousity  (Rasa Ingin Tahu)*
Jika orang lain mampu melakukan sesuatu, maka kita pun bisa belajar untuk melakukannya. Dan pada dasarnya seseorang tidak bisa tidak berkomunikasi. Ketika  kita memiliki asumsi seperti ini, maka kita mampu untuk menjadi apa saja yang kita inginkan. Karena pada dasarnya setiap manusia telah memiliki hampir seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai apa yang diinginkannya. Maka, sikap curiosity terhadap kehebatan (excellency) orang lain menjadi dasar dari proses modelling (pemodelan).

*3. Flexibility (Keluwesan Perilaku)*
Pikiran dan tubuh saling berterkaitan dan saling memengaruhi. Maka seorang praktisi NLP tidak mengenal kata gagal. Yang ada hanyalah umpan balik apakah satu cara efektif atau belum efektif. Memiliki pilihan lebih baik dari tidak memilikinya. Penolakan mengindikasikan kurang terjalinnya hubungan Anda. Maka, jika apa yang Anda lakukan belum berhasil, lakukan dengan cara  lain..

Ooo itu to ternyata rahasianya? Ternyata NLP itu memang mudah dan memudahkan hidup kita.  Yuk belajar NLP.

Daftarkan diri Anda dalam *COMPREHENSIVE NNLP BOOTCAMP BATCH #2*

WAKTU:
*03-07 april 2019*
Rabu-Minggu
*Jam 05.00-22.00 WIB* tiap hari
***
TEMPAT:
Grand Mutiara Hotel
Jl. Raya Puncak KM.75
Gg.Habib Umar No.220, Cipayung Datar, Megamendung, Bogor, Jawa Barat 16770
***
INVESTASI:
Normal: Rp 10 juta
*Super Early Bird (Lunas sebelum 15/3/19): Rp 8 juta sahaja*
Early Bird (Lunas Sebelum 31/3/19): Rp 9 juta sahaja

Member Cafe Therapy mendapat cash back sebesar Rp 2 juta.
***
FASILITAS:
- Twin Sharing AC
- Meal 13x, Coffee Break 10x
- Exclusive NLP TShirt
- Exclusive Training Modul
- NLP Book Bandler
- Mini Web NNLP
- Sertifikat NNLP Pract, Master Pract & Trainer (3 Sertifikat NNLP)
- Gratis Mengulang di kelas yang sama
- Cash back berupa voucher Umroh senilai Rp 1 juta dari Andalan Travel
***
INFORMASI:
- Mas Joko: +62817878337
- Mas Kono: +6287872152653
- Mas Dewo: +628119487572
- Mas Muhar: +6282213438963

Jadi, tunggu apalagi? Masih tersisa 6 seat dari 12 seat yang kami sediakan.

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

Sunday, March 31, 2019

META PROGRAM

Seorang anak merebut mainan kuda-kudaan milik anak tetangga sebelah dan menaikinya. Si empunya mainan tentu tidak terima, namun karena badannya kalah besar dia hanya bisa menangis. Merasa malu dengan perilaku anaknya, orang tua dari anak yang merebut mainan itu mencoba merayu, tapi si anak tidak mau menggubris.

Kebetulan saat itu ada seorang polisi lewat dan dimintai bantuan untuk membujuk si anak, tapi tidak mempan juga.

Giliran dokter datang membujuk, tapi si anak masih cuek. Demikian seterusnya datang berturut-turut, ada bidan, tentara, badut, hingga mendatangkan gurunya dari sekolah, tapi masih juga tidak mempan.

Setengah putus asa,  akhirnya si orang tua mendatangkan seorang dukun. Dengan tenang dan mantab, sang dukun yang mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan blangkon hitamnya mendekati si anak dan berbisik pelan di telinganya. Ajaib, tanpa menunggu lama anak itupun diam-diam turun dari kuda-kudaan milik temannya itu, lalu pergi mendekati si anak tetangga untuk meminta maaf.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu merasa takjub. Pak polisi pun mendekati sang dukun dan bertanya tentang bisikkan ajaib apa yang membuat si anak begitu patuh? Sang dukun dengan santai menjawab: "Saya kan sudah dibayar mahal, jadi saya harus bisa menghentikan perilaku anak tersebut"

"Tapi kata-kata apa yang Bapak sampaikan sehingga anak tadi mau menurut?", pungkas pak polisi.

"Ya, saya bilang, kalau kamu masih tidak mau turun juga, maka saya akan patahkan kakimu!" jawab sang dukun sambil ngeloyor pergi.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, saya mendapatkan kisah di atas dari sahabat saya Om Danang Setyo Baskoro. Dan kisah tadi langsung mengingatkan saya pada salah satu bagian dari keilmuan NLP (Neuro Linguistic Programing) yang bernama Meta Program.

Meta program adalah program yang kita gunakan dalam sistem pikiran dan tubuh untuk melakukan input dan memproses informasi. Program ini berfungsi sebagai alat filter setiap kali kita akan mempersepsi, memperhatikan hal-hal yang kita anggap penting, serta memasukkan dan memproses stimulus. Meta Program merupakan suatu filter dalam pikiran manusia yang akan membentuk mental map.

Mempelajari meta program akan membuat kita lebih mudah untuk mengerti cara orang memproses informasi yang masuk melalui indra. Meta Program merupakan pola internal yang menentukan bagaimana seeorang membentuk representational system dan mempengaruhi prilakunya.

Meta Program merupakan program internal yang digunakan untuk mensortir dan menentukan hal-hal yang menaruh perhatian.

Pikiran melakukan generalisasi, menghapus dan mengedit beberapa informasi dari luar karena hanya mampu mengolah sedikit informasi pada saat yang sama. Meta Program akan memberikan informasi pada kita bagaimana seseorang mengolah informasi itu.

Dapat disimpulkan bahwa meta program merupakan program sebagai syarat yang dimiliki oleh seseorang, untuk mengambil keputusan dalam berperilaku.

Setiap keputusan yang diambil manusia pada dasarnya mempunyai alasan yang melandasinya. Alasan yang melatarbelakangi perilaku tersebutlah yang disebut Meta Program
***
Berikut beberapa contoh meta program:
Set 1: Proactive vs Reactive
Proactive = preferensi untuk senantiasa bertindak dwngan cepat dan mengambil inisiatif
Reactive = preferensi untuk menunggu, menimbang-nimbang dulu sebelum bertindak

Set 2: Towards vs Away from
Towards = berfokus mendapatkan kenikmatan (mencapai goal)
Away From = fokus menghindari kesengsaraan (masalah)

Set 3: Internal Reference vs External Reference
Internal Reference = menggunakan standar pribadi ketika bertindak
External Reference = menggunakan standar orang lain ketika bertindak

Set 4: Options vs Procedure
Options = preferensinya berdasarkan banyak pilihan/kemungkinan
Procedure = preferensinya berdasarkan rencana bertahap

Set 5: General vs Specific
General  = fokusnya pada gambaran besar
Specific = fokusnya pada hal yang mendetail

Set 6: Matching vs Mismatching
Matching = fokusnya pada menemukan sesuatu yang bagus dan benar
Mismatching =  fokusnya pada menemukan sesuatu yang buruk dan salah 

Dan masih terdapat beberapa set meta program lainnya.
***

Sidang pembaca yang berbahagia, kita kembali kepada cerita di atas. Semua orang yang mencoba membujuk si anak berasumsi (atau tidak sadar) bahwa sebagai anak kecil tentunya dia akan mudah diiming-imingi sesuatu (set towards). Sementara dalam kenyataannya mungkin saja anak ini sudah terlalu sering kecewa dengan iming-iming, maka setnya bergeser menuju away from.

Kedatangan sang dukun dengan kata-kata mematahkan kaki merupakan sebuah 'ancaman nyata' bagi dirinya. Maka warning system ini kemudian cocok dengan meta program yang tersimpan di dalam dirinya, yaitu away from (menjauhi kesengsaraan) 

Ternyata memang benar kata orang bahwa Mempelajari NLP akan memudahkan kita dalam mencapai goal kita.

Berikut beberapa manfaat mengaplikasikan Meta Program dalam kehidupan kita:

Konseling Karier
Analisa Budaya Perusahaan dan Manajemen Perusa­haan
Merekrut dan Menyeleksi Karyawan
Membangun Tim
Negosiasi
Analisa Pasar
Pendidikan
Dll.

Selain Meta Program,  NLP juga mengajarkan beberapa bahasan andalan seperti meta model, milton model, anchoring, frame dan reframing. Belum lagi teknik-teknik praktis terapi dan coaching seperti Circle of Excellence, Swish Pattern, Perceptual Position, dll.

Anda ingin juga menguasai NLP,  bahkan mungkin ingin menjadi Trainer NLP?

Daftarkan diri Anda dalam COMPREHENSIVE NNLP BOOTCAMP BATCH #2

WAKTU:
03-07 april 2019
Rabu-Minggu
Jam 05.00-22.00 WIB tiap hari
***
TEMPAT:
Grand Mutiara Hotel
Jl. Raya Puncak KM.75
Gg.Habib Umar No.220, Cipayung Datar, Megamendung, Bogor, Jawa Barat 16770
***
INVESTASI:
Normal: Rp 10 juta
Early Bird (Lunas Sebelum 31/3/19): Rp 9 juta sahaja

Member Cafe Therapy mendapat cash back sebesar Rp 2 juta.
***
FASILITAS:
- Twin Sharing AC
- Meal 13x, Coffee Break 10x
- Exclusive NLP TShirt
- Exclusive Training Modul
- NLP Book Bandler
- Mini Web NNLP
- Sertifikat NNLP Pract, Master Pract & Trainer (3 Sertifikat NNLP)
- Gratis Mengulang di kelas yang sama
- Cash back berupa voucher Umroh senilai Rp 1 juta dari Andalan Travel
***
INFORMASI:
- Mas Joko: +62817878337
- Mas Kono: +6287872152653
- Mas Dewo: +628119487572
- Mas Muhar: +6282213438963

Awalnya kami sediakan 12 seat, karena permintaan publik yang luar biasa, sekarang sudah terdaftar 15 peserta. Maka kami batasi menjadi 16 peserta. Artinya tersisa 1 seat lagi. Jadi, tunggu apalagi?

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com




Saturday, March 30, 2019

Kickass Trainer Bengis Story

Hanya baja yang mampu menempa besi. Dimana baja menempa diri? Kickass TRAINER BENGIS. Brave Enthusiastic Nurture Grounded Intense Sincere

Begitu membaca iklan pelatihan tersebut, tanpa berpikir panjang saya langsung men-challenge diri saya untuk join dan langsung membayar tanpa pikir panjang lagi.

Padepokan Sigura gura tgl 26-28 Maret 2019 menjadi saksi 20 peserta training yang dipimpin oleh Coach Dr Fahmi ini.  Selama nyaris 60 jam (20 jam per hari) kami dituntut untuk men-stretch diri kami sepanjang dan selebar mungkin sampai titik terjauh yang terkadang kami sendiri tidak sadar bahwa kami sebenarnya sanggup melakukannya.

Hari pertama kami duduk di ruang meeting Restoran Ayam Pakuan tersebut, kami langsung disuguhi setumpuk borang (paperwork) yang langsung menghilangkan selera makan apalagi selera tidur. Hari pertama seluruh peserta mesti menyelesaikan 10 set (satu set berisi antara 2-6 lembar. Ada yang lebih) borang yang berhubungan dengan pemahaman bisnis serta pemberdayaan diri seorang trainer.

Setelah dilakukan pembukaan oleh Mba Henny, Coach Abi Darwis dan Kang Surya Kresnanda, tugas peserta adalah mengerjakan tugas-tugas harian. Tugas hari pertama adalah menulis 5 lembar narasi hidup. Semacam obituari perjalanan ke masa depan untuk apa kita dilahirkan di dunia ini. Apa kebermanfaatan yang bisa kita andilkan kepada masyarakat sekitar kita.

After lunch Coach Fahmi memberikan penguatan-penguatan emosional kepada peserta dengan gayanya yang sangat khas.  Beliau menekankan penting salah satu peran penting seorang trainer, yaitu melakukan winning intervention. Winning intervention merupakan sebuah tugas mulia dari seorang GTrainer,  selain melakukan delivery materi pelatihan di dalam kelas, dalam rangka menghantarkan klien mencapai big goal mereka.

Beliau menegaskan tidak ada cara nyaman untuk mencapai sebuah kemenangan. Maka untuk mencapainya, seseorang harus berani keluar dari zona nyamannya (Comfort Zone) untuk menuju zona pertumbuhan (Growth Zone)  

Agar bisa menuju Growth Zone, kita perlu melalui 2 fase terlebih dahulu, yaitu:

1. Fear Zone
Dalam zona ini biasanya kita mengalami sindrom percaya diri, BEJ (Blame, Excuse, Justify), dan terlalu terpengaruh oleh omongan orang lain
3. Learning Zone
Zona ini banyak mengarahkan kita untuk berdamai dengan masalah dan tantangan, memelajari skill baru serta melebarkan zona nyaman kita.
***

Konsep yang ditawarkan dalam training ini, bahwa seorang trainer pada dasarnya merupakan LEADER

Dan seorang leader yang baik mesti memiliki sebuah TUJUAN serta mampu mengarahkan orang lain pada tujuannya tadi. Itulah LEGACY dari kita sebagai seorang TRAINER.

Rule dalam training ini sebenarnya sangat sederhana. Silakan bersantai, silakan diskusi, silakan makan, silakan bercanda, bahkan silakan tidur, asal borang sudah terisi semua dengan sempurna.

Hari pertama kami juga diminta untuk menulis dua status di FB dan mesti mendapatkan like minimal 300 per status. Rulenya pun masih tetap sama, silakan bersantai, silakan diskusi, silakan makan, silakan bercanda, bahkan silakan tidur, asalkan jumlah like sudah tercapai.

Jam 5 sore, waktu yang lumrah sebuah pelatihan selesai, semua peserta masih sibuk berkutat dengan tugas masing-masing. Jam 9 malam, resto tempat pelatihan bersiap untuk menutup gerainya. Para peserta masih sibuk dengan tugas masing-masing, dan akhirnya kami semua direlokasi ke teras dalam rumah Coach Fahmi. Wajah para peserta mulai terlihat aneh serta lucu dikerjain oleh jajaran borang yang seolah tak pernah habis dikerjakan. Ada yang mulai keluar masuk toilet dengan alasan kebanyakan cabe. Ada yang mulai bernyanyi tak jelas antara menangis atau meracau. Yang terbanyak ya bergulingan bersama spidol warna, sticky not dan membersamai para borang tadi sampai adzan subuh berkumandang. Wadaw...
***

Tugas hari kedua, sebelum dhuhur, seluruh peserta mesti sudah melakukan winning intervention kepada pejabat publik kota Malang. Ada yang menjumpai rektor,  kepala sekolah, pimpinan hotel, dokter dan beberapa business owner.

Sesampai di ruang kelas, satu tumpuk borang juga sudah menanti kami. Setengah meledek, borang-borang tadi melambai-lambai untuk segera diselesaikan. Hari kedua jam 17.00 15 plus 1 set borang sudah harus kelar. Ditambah lagi tugas kelompok membuat naskah buku sebanyak 25 lembar, serta menyiapkan final project berupa presentasi audio visual meeting intervention yang sudah dikerjakan pagi harinya. Keren apa keren?

Rule hari pertama tetap berlaku, silakan santai, silakan ngobrol, silakan ngocol, yuk maree bernyanyi, monggo tidur,  asal presentasi audio visual serta draft buku sudah tersaji hard copy. Eh, rupanya tugas dua status dengan like 300 juga tersaji pada hari kedua ini. Wadaw....
***

Hari terakhir, jam 8 pagi presentasi final project sudah dimulai. Sepuluh team menunggu dengan harap-harap cemas giliran menghadap duo coach bengis. Sementara di dalam kelas kesibukan dan keributan masih terjadi. Draft buku belum kelar. Borang yang disetor rupanya masih belum sempurna. Beberapa orang masih belum membuat video narasi. Dasi terbalik memakainya. Kawan yang bolak balik toilet mulai kumat lagi. Jumlah like belum mencapai target minimal. Tekanan demi tekanan masih silih berganti terjadi.

Dan alhamdulillah menjelang jam 5 sore satu persatu tugas mulai terselesaikan ditandai dengan cek list tugas yang lengkap terisi. Kelompok-kelompok penulisan buku mulai melengkapi tugasnya. Saya yang dari awal mencoba menikmati serta melakukan observasi mulai melihat gambaran besar rangkaian program ini.

Bahwa benar apa yang dikatakan oleh Coach Fahmi, bahwa untuk sukses, kita mesti berani melakukan stretching. Melakukan instilling. Berani mempertanyakan sebuah pertanyaan yang bahkan belum pernah terpikir sebelumnya. Bukan hanya thinking out of the box. Bahkan kalau perlu bepikirlah tanpa kotak sama sekali. Berani membuat innovation of innovation, sehingga kita mampu menjadi core of the core. Hehehe...

Menjelang maghrib hati makin berbunga ketika diumumkan bahwa tim kami yang melakukan winning intervention kepada Mas Udin, owner dari UD. Lima Sarana Bersih terpilih menjadi kelompok terbaik dan berhak mendapatkan buku dari Coach Fahmi.

Terbayar sudah jerih payah selama 3 hari ini. Selain ilmu yang luar biasa, pemahaman pada bisnis training yang benar, pengalaman kemarin tak kan pernah saya lupakan.

Terimakasih Coach Fahmi, Mbak Henny, Kang Surya, Bapak Abi Darwis, teman-teman seborang setanah air yang tidak bisa saja sebutkan satu persatu.

Tugas kita sekarang adalah implementasi ilmu yang luar biasa ini sehingga tidak sia-sia gelar Grounded Trainer kita.

Salam Grounded

Aku bahagia!

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Monday, March 18, 2019

META MODEL

'Kemahalan'
Dalam sebuah kelas Master NLP, saya menunjukkan gambar Vanesa Angel, kemudian minta komentar dari para peserta. Dan berikut saya sarikan beberapa komentar mereka:

Peserta 1: "Wow, gadis 80 jeti!"
Peserta 2: "Cewek ga bener tuh!"
Peserta 3: "Kasihan dia... "
Peserta 4: "Kemahalan kalau segitu!"

Hehehe, saya yakin Anda juga punya segudang komentar berbeda jika dihadapkan pada peristiwa sejenis. Pertanyaannya adalah kenapa satu gambar yang sama bisa memunculkan komentar beragam?
Sebelum kita cari tahu jawaban pertanyaan ini, saya akan ajak Anda memahami beberapa hal yang melatari fenomena tersebut.
***

'Prior Knowledge'
Sepanjang hidup kita, hari demi hari, bulan dan tahun yang terlewati pasti memberikan kita pengalaman dan informasi mengenai sekeliling kita. Bahkan konon kabarnya pengetahuan tadi sudah bermula saat usia kita masih 4 bulan di dalam kandungan ibunda. Pengalaman dan informasi tadi dikenal dengan istilah Prior Knowledge (pengetahuan awal)

Hailikari dalam disertasinya: Assessing University Students’ Prior Knowledge: Implications For Theory And Practice. Finland: Helsinki University. 2009,  mendefinisikan pengetahuan awal (prior knowledge) sebagai kombinasi antara pengetahuan dan keterampilan. Lebih lanjut, ia menjelaskan pengaruh pengetahuan awal dalam proses pembelajaran yaitu:

1. Pengetahuan awal berfungsi sebagai kategori label yang mempengaruhi informasi baru untuk ditambahkan ke pengetahuan struktur yang sudah ada

2. Pengetahuan awal berfungsi sebagai konteks asimilasi di mana materi baru akan saling berkaitan, sehingga akan lebih mudah mengkonstruksi pengetahuan melalui proses elaborasi, dan

3. Pengaktifan pengetahuan awal dapat meningkatkan akses pengetahuan selama proses pembelajaran.

Jadi, dapat dinyatakan pengetahuan awal adalah pengetahuan yang dibangun oleh seseorang sebelum sebuah proses pembelajaran terjadi. Kalangan praktisi pendidikan mengenal Prior Knowledge dengan istilah APERSEPSI.
***

'Model dari Model'
Sebuah experience masuk ke dalam pikiran manusia melalui panca indera (vakog) yang setelah melalui proses filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi) kemudian akan menjadi sebuah belief (deep structure). Belief terbentuk karena adanya prior knowledge. Dengan kata lain prior knowledge sama dengan Deep Structure. Proses terbentuknya deep structure ini merupakan pemodelan pertama yang terbentuk dalam sebuah jalinan komunikasi intrapersonal.

Komunikasi intrapersonal akan membuat para penuturnya melakukan wicara timbal balik. Proses wicara yang dilakukan seseorang merupakan proses transliterasi yang juga mesti melewati filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi) deep structure menjadi jalinan kata (surface structure). Proses ini merupakan pemodelan kedua yang secara tak sadar terjadi.
Dengan kata lain sebenarnya Meta Model merupakan 'model dari model' perilaku wicara intrapersonal manusia.
Proses pembelajaran paling dasar terjadi ketika informasi (data) terbaru terkoneksi dengan prior knowledge /deep structure kita. Istilahnya dalam pembelajaran adalah ASOSIASI.

Nah, terjawab sudah kenapa satu gambar yang sama bisa memunculkan beberapa komentar berbeda. Para peserta tadi mencari konektivitas (asosiasi)  gambar tadi dengan data yang ada di pikiran mereka. Kemudian ketika mereka memroses pendapat mereka (deep structure) menjadi jalinan kata (surface structure) secara tak sadar mereka melakukan filterisasi (generalisasi, distorsi, delesi), maka munculah komentar-komentar tersebut.

Agar data awal dan informasi baru terkoneksi dengan baik, maka isi deep structure mesti JELAS. Akan terjadi blunder ketika kita terlalu cepat mengambil  kesimpulan deep structure seseorang hanya berbasis dari jalinan kata (surface structure) mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah proses KLARIFIKASI.

UNTUK melakukan klarifikasi, diperlukan pertanyaan bersifat chunking down, yang berfungsi:
1. Men-spesifik-kan yang telah tergeneralisir
2. Melengkapi yang telah terdelesi
3. Mengungkap hubungan distorsi yang terjadi

'META MODEL'
Meta Model bukan sekedar ‘TEKNIK BERTANYA’, melainkan lebih dalam dari itu. Sebagaimana dibahas dalam buku THE ULTIMATE INTRODUCTION OF NLP karya RICHARD BANDLER, ALESSIO ROBERTI & OWEN FITZPATRICK, tujuan penggunaan Meta Model adalah sebagai berikut:

• Mendapatkan informasi yang lebih SPESIFIK.
• MENGKLARIFIKASI informasi.
• Membuka MODEL DUNIA seseorang

A. GENERALIZATION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi disampaikan dengan DISAMARKAN dalam bentuk PENYAMARATAAN, seolah-olah satu hal berlaku untuk berbagai atau semua hal lain. Kalimat yang mengandung kata SETIAP, SEHARUSNYA, TIDAK PERNAH, SEMUA, SELURUH, TIDAK ADA, dll.

a. UNIVERSAL QUANTIFIER
--> Kamu tidak pernah peduli sama aku (Sejak kapan? Tidak pernah?)
b. MODAL OPERATOR
--> Kita harus bisa! Kita bisa melakukannya. Harus! (Bisa apa? Bagiamana caranya?)
c. LOST PERFORMER
Informasi yang seolah dilontarkan dari figur otoritas, biasanya keyakinan turun-temurun, yang tidak jelas sumber asalnya
--> Ini ide bodoh! (Ide siapa? Siapa yang menilai?)

B. DELETION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi disampaikan dengan tidak utuh, karena ada bagian yang TERHAPUS di dalamnya (S+P+O, P+O+K, S+P+K)

a. SIMPLE DELETION
Menggunakan simple deletion, kita mengucapkan suatu kalimat dengan mengabaikan informasi mengenai seseorang, suatu benda/hal, atau keterkaitan antara keduanya.
--> Pergi! (Siapa yang Anda suruh pergi, saya? Atau?)

b. COMPARATIVE DELETION
Membandingkan suatu hal dengan hal lain, tanpa menyebutkan secara jelas pembandingnya.
--> Kemahalan! (Dibandingkan apa?Apanya yang kemahalan)

c. UNSPECIFIED NOUN OR VERBS DELETION
Mengucapkan sebuah kalimat yang tidak secara spesifik menunjuk suatu obyek atau kata kerja tertentu.
--> Cewek ga bener! (Menurut siapa? Apanya yang ga bener?)

C. DISTORTION PATTERN
Tahapan dimana sebuah informasi MENYIMPANG pemaknaannya, apa yang disampaikan berpotensi menciptakan makna tersendiri yang lain meski kenyataannya mungkin tidak begitu.

a. COMPLEX EQUIVALENCE (A=B)
Informasi yang disampaikan dengan melibatkan dua hal yang seolah ada hubungannya padahal keduanya belum tentu memiliki keterhubungan satu sama lain

“Dia tidak pernah memberi saya bunga lagi, dia tidak mencintai saya lagi.”

Analisa:
Apa hubungannya antara memberi bunga dengan cinta? Apakah cinta harus selalu disimbolkan dengan bunga? Bagaimana jika ia menggantinya dengan hal lain kali ini?

b. CAUSE EFFECT (A --> B)
Informasi yang menyiratkan ada keterhubungan dari suatu hal yang menyebabkan hal lain terjadi, Menyakini bahwa sesuatu terjadi oleh hukum sebab akibat.
--> Dia membuat saya marah! (Bagaimana ceritanya)

c. MIND READING
Informasi yang disampaikan seolah dengan membaca pikiran atau persepsi orang lain
--> Maaf telah membuat Anda kecewa (Kecewa, apanya? Bagaimana?)

d. NOMINALIZATION
Informasi yang disampaikan seolah membuat sebuah proses perilaku menjadi seperti ‘benda’ mati yang kaku. Dalam normalization perlu diungkap: AKTOR dan AKSI
--> Kebahagiaannya semakin berkurang sejak dia pergi. (Maksud Anda rasa bahagianya?)
***

Jika Anda perhatikan kumpulan pola kalimat di atas, sesungguhnya bisa kita simpulkan bahwa satu pola MELIBATKAN pola lain. Ada kalanya sebuah kalimat memiliki unsur deletion, di saat yang bersamaan memiliki unsur distortion dan generalization.

Yang terpenting bukan mengetahui pola pelanggarannya secara teori, melainkan memahami esensi di balik kalimat yang diucapkan klien, ada informasi apa yang hilang disana yang Anda ingin ketahui lebih dalam.

Tanya diri Anda apakah informasi itu sudah cukup spesifik untuk Anda pahami? Apakah Anda masih harus mengklarifikasinya karena kalimat itu masih perlu diuji? Apa yang Anda ingin lakukan kemudian, membuka model dunia klien untuk apa dan dengan cara bagaimana? Semua kembali pada tujuan dasar Anda melakukan komunikasi dengan orang tersebut

Anda masih ingin memahami pelanggaran apa lagi yang sering dilakukan orang di sekitar kita? Daftarkan diri Anda dalam NNLP Comprehensive Bootcamp, tanggal 3-7 April 2019 bertempat di Hotel Grand Mutiara Megamendung Puncak Bogor.

Selama 5 hari 4 malam, kita akan bersama-sama ngulik pemahaman kita tentang diri kita sendiri dan bagaimana bisa memahami orang di sekitar kita agar kita bisa hidup berdampingan dengan harmonis bersama mereka.
Masih tersisa 2 seat lagi.

Jadi, tunggu apa lagi, segera hubungi nomor di bawah ini:
•Mas Joko: +62817878337
•Mas Kono: +6287872152653
•Mas Dewo: +628119487572
•Mas Muhar: +6282213438963

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Certified Master Trainer
www.thecafetherapy.com

PS: Sebagian besar materi ini saya dapatkan ketika mengikuti kelas NF NLP yang diampu oleh guru saya Kang Surya Kresnanda. Sungkem pak guru...

Tuesday, March 05, 2019

JANGAN LUPA BAHAGIA

Saya pernah mendengar sebuah kisah menarik dari seorang  ustadz dalam sebuah pengajian.

Dikisahkan suatu hari, ada seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?”

“Tidak mungkin, Nak,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu penasaran. Baginya, bisa saja ada orang yang tidak melakukan dosa selama hidupnya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?”

Sambil menggelengkan kepalanya, ayahnya berkata, “Tak mungkin, Nak.”

Gadis kecil itu tidak mau berhenti bertanya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?”

Sang ayah berkata, “Tidak mungkin, Nak.”

Gadis kecil itu bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?”

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawabnya. Lantas ia berkata, “Hmm.. Satu hari 24 empat jam Nak, sepertiganya (terpotong) 8 jam kita gunakan untuk tidur, dan sisanya kita gunakan untuk bersosialisai, jadi tidak mungkin kita tidak berbuat berdosa dalam sehari”

Gadis kecil itu mengajukan pertanyaan lagi, “Lalu bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, ayah? Bisakah?”

Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu mungkin bisa, Nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar untuk tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ayah,” kata gadis kecil itu.

Ayahnya berkata : “Kalau begitu nak,  Yuk satu jam ini,  kita taat menahan diri untuk tidak berbuat dosa, kalau memang satu jam ini kita bisa,  maka pelan-pelan kita  tambah  setengah jam, dan jam-jam berikutnya…"
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, menurut saya cara Ustadz ini berkisah sangatlah luar biasa. Dia mencoba mencacah sebuah perilaku besar menjadi perilaku-perilaku kecil yang lebih sederhana dan terasa mudah untuk dilakukan. Menghikmati kisah di atas maka kita bisa menarik sebuah analogi, berarti kita bisa berbuat baik sepanjang usia kita. Atau bahkan kita akan mampu merasa bahagia sepanjang usia kita. Caranya dengan mengulang perbuatan baik dan kebahagiaan kita setiap saat, setiap jam. Bukankah ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa pengulangan merupakan ibu dari semua keahlian?
***

Tahun 70-an ada dua orang jenius dari Amerika yang menemukan teknik kunci mengulang ini. Mereka menyebutnya dengan modeling. Dua orang jenius tadi adalah Richard Bandler, seorang mahasiswa matematika dan ilmu komputer, dan John Grinder, seorang associate profesor bidang linguistik. Keilmuan yang mereka ciptakan kemudian diberi nama NLP (Neuro Linguistic Programing)

Bandler dan Grinder mengklaim bahwa ketrampilan seseorang dapat 'dimodel' menggunakan metodologi NLP kemudian ketrampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Artinya dengan memelajari NLP maka keinginan anak kecil tadi akan lebih mudah diwujudkan. Dengan mendapatkan polanya, maka kita bisa mengulang perasaan bahagia kita dari masa ke masa. Keren apa keren?

Salah satu asumsi NLP yang paling dasar adalah the map is not the territory. Bahwa peta itu meskipun mewakili sebuah wilayah, namun bukanlah wilayah itu sesungguhnya. Bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita hanyalah sebuah kilasan peristiwa belaka, sampai kita memberinya sebuah makna.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membuat sebuah eksperimen kecil. Yaitu pergi ke kantor hanya berbekal uang tunai sebesar Rp 10 ribu. Dan semuanya baik-baik saja ketika pikiran saya menganggap bahwa seluruh perjalanan saya PP kantor rumah akan berjalan baik. Tentu bensin dalam kondisi penuh, dan kartu tol juga tersedia.

Biasanya orang baru merasa aman ketika di dompet mereka tersedia dana yang cukup untuk mengatasi kasus emergensi yang mungkin muncul. Taruh kata untuk perjalanan Jakarta Bogor, ya tersedia uang Rp 200-300 ribu. Ketika dana di dompet kurang dari itu, biasanya orang akan merasa galau. Dan biasanya memang ada saja hal tak diiginkan yang terjadi. Ban gemboslah, nyenggol kendaraan lainlah, dlsb.

Luar biasanya ketika dompet kita tertinggal, namun kita tidak menyadarinya, kok kita merasa nyaman saja berkendara sampai kantor. Dan biasanya perjalanan juga berjalan dengan lancar saja. Betul tidak?

Terbukti, bahwa yang membuat kita nyaman bukan jumlah uang di dompet, namun perasaan memiliki dana yang cukup. Atau dalam istilah kerennya abundance mentality. Perasaan berkecukupan ini rupanya bisa dilatih tanpa harus menilik wilayah sesungguhnya.

Hari ini usia saya ganjil 47 tahun (bukan genap khan?) dan sudah banyak berseliweran peristiwa demi peristiwa yang saya lalui. Dengan berpegang pada tausiah ustadz di atas, serta pemahaman saya tentang NLP, maka saya senantiasa berjuang untuk menjadi bahagia, masa demi masa.

Terimakasih saya ucapkan kepada semua sahabat, kerabat yang telah mendoakan yang terbaik bagi saya, pesan saya untuk Anda semua.

Jangan lupa bahagia, apapun situasi yang sedang Anda hadapi

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Tuesday, February 26, 2019

MANCING MANIA!

Di tengah laut, terlihat sebuah fishing boat yang berjalan pelan. Begitu kamera mulai mendekat, terlihat ada 5 orang pria dengan perlengkapan memancing sedang sibuk mengulurkan joran mereka. Mereka mengulur, dan memutar fishing reel beberapa kali, dan tak lama berselang salah satu dari mereka berteriak, "Strike!"

Jorannya melengkung, tangan kiri mempertahankan ujung joran yang menempel di fishing rod belt, sementara tangan kanan sibuk memutar fishing reel, mengulur lagi, menunggu ikannya kelelahan.
Terlihat betapa cerianya pria yang berhasil mendapatkan seekor ikan kue lumayan besar itu. Dia berfoto dengan ikan hasil pancingannya tadi sambil berucap, "Mancing Mania. Maantaab!"

Fragmen di atas merupakan cuplikan acara TV yang masih sering saya tonton, yaitu Mancing Mania.
Saya punya kawan yang sangat hobby mancing di laut. Dan takjub dengan pengetahuan dia mengenai dunia permancingan. Dus, termasuk penguasaan dia mengenai lahan tempat dia mancing, yaitu lautan lepas. Dia bahkan punya aplikasi yang bisa memprediksi cuaca dan tingginya gelombang di lautan. Wow...
***

Disadari atau tidak, saya kok merasa ada persamaan antara trainer dan fisherman.
Ternyata menjadi trainer itu tidak sekedar menguasai materi dan menyampaikan materi tersebut dengan sempurna, kemudian selesai. Jauh sebelum hal itu dilakukan, ada sebuah proses panjang yang mesti dilalui oleh seorang trainer. Apakah itu?
***

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiriBagi Anda yang hobby memancing tentu sangat mahfum bahwa terdapat beberapa tipe memancing lengkap dengan pelbagai tingkat kesulitannya. Ada yang hobby mancing di empang, di sungai, di pantai, bahkan sampai ke tengah laut. Mancing yang paling 'murmer' tentu saja di sungai. Tinggal cari sungai yang banyak spot ikan kumpulnya, pakai umpan cacing, maka duduklah di tepian sungai sembari sesekali menarik joran. Namun bekal kesabaran memang modal utama pada hobby memancing tipe ini.

Memancing yang high risk sekaligus menyedot budget yang tidak bisa dibilang murah adalah deep sea fishing. Tentu saja ikan yang diperoleh serta kepuasannya juga sepadan.
Nah, bagi Anda yang tidak berani ke tengah laut, dan malas nunggu lama di pinggir kali, Anda bisa mencoba mancing di empang. Di empang kita bisa memilih untuk mendapatkan ikan apa saja. Biasanya pemilik empang sudah memisah-misahkan ikan mereka pada kolam yang berbeda. Ada ikan mas, patin, bawal, lele dll. Memang ada tarif tersendiri untuk masing-masing ikan yang akan kita pancing tersebut.
***

Bagaimana kawan, sudah ngeh dengan metafora yang saya berikan? Ya, selain keahlian yang mumpuni sebagai seorang trainer, kita juga perlu memelajari keahlian lain memancing ikan, alias mencari peserta training. Idem dito dengan metafora di atas, kita bisa memilih style river fishing atawa mancing di kali. Selain perlu kesabaran tingkat tinggi, biasanya hasil yang diperoleh tidak akan terlalu banyak. Ya wajar sahaja kerana modal yang dikeluarkan juga tidak banyak. Trainer tipe ini adalah mereka yang setelah menyiapkan sebuah pelatihan, memesan tempat, kemudian puas dengan menebar brosur di medsos tak berbayar (atau berbayar minimal).

Atau kita bisa memilih deep sea fishing. Modal besar, risiko tinggi, hasil sepadan. Biasanya trainer tipe ini adalah mereka yang berdompet tebal. Mereka pasang iklan lewat TV, Radio atau memasang baliho dengan investasi yang tidak bisa dibilang murah. Beberapa di antara mereka bisa sukses dengan cara demikian. Berarti ada juga yang kurang berhasil.

Nah, kalau kita merasa tak sanggup memilih dua tipe pemancing di atas, masih ada kok empang penuh ikan yang bisa kita pancing kapanpun kita mau. Dan berapapun ikan yang kita ingin dapatkan, boleh dibawa. Asal kita siap dengan maharnya, hehehe.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, dunia berjalan begitu pesat. Dunia internet sudah mencapai kecepatan 5G. Dunia industri sudah menginjak masa 4.0, dimana salah satu kunci agar pelaku bisnis bisa bertahan adalah kolaborasi.

Maka, jika sebagai trainer jika kita belum memiliki kolam sendiri, pinjamlah kolam kawan kita. Tentu syarat dan ketentuan akan berlaku. Sembari meminjam kolam, kita bisa belajar bagaimana membuat dan mengelola sebuah kolam. Istilah jaman now nya adalah 'funneling market'. Dan sebagai trainer, jangan lupa untuk senantiasa membaca literatur terbaru, sehingga kita juga dengan mudah akan mulai menulis. Yup, tulisan kita merupakan representasi dari siapa diri kita.
Dengan tulisan pula, kita bisa mulai membuat kolam kita.

Saya masih sangat ingat pesan yang diberikan oleh salah satu guru saya, Alm. Yan Nurindra. "Har, kalau Anda ingin orang lain mengenal Anda, maka menulislah"

"Strike!"


Sila tebar jika manfaat...

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Saturday, February 23, 2019

Sanctuary

Tempat Suci
Hampir semua agama memiliki tempat suci mereka masing-masing berkenaan dengan ritual peribadatan mereka. Islam dengan Mekah dan Madinahnya, Kaum Nasrani dan Yahudi dan juga Islam dengan Palestinanya, Gunung Kailasa Tibet untuk agama Hindu, dsb. Kenapa tempat-tempat tersebut dianggap suci, tentunya selain sejarah yang terkandung di dalamnya juga karena persepsi yang muncul pada para penganut agama bersangkutan.
Konsekuensi logis dari persepsi ini maka mereka yang meyakini sebuah tempat merupakan tempat suci mereka, maka mereka akan merasa mendapatkan kedamaian ketika berada di sana. Tercipta sebuah ikatan (asosiatif) antara tempat dengan perasaan kita, sehingga muncul kedamaian hati.
Hasil gambar untuk sanctuary
Beberapa seniman rupanya juga membutuhkan lokasi khusus untuk 'nenepi' (mengasingkan diri) dari keriuhrendahan masyarakat demi memeroleh inspirasi untuk karya-karya mereka. Pada kasus ini juga tercipta ikatan emosi antara tempat tersebut dengan perasaan sang seniman sehingga muncul sebuah proses kreatif tertentu
Dalam situasi dan kondisi yang sedikit lebih ekstrim, beberapa bangsa di dunia ini 'melarikan diri' ke negara lain dalam rangka memperoleh perlindungan atau mendapatkan keamanan. Biasanya situasi yang terjadi di negara bersangkutan sedang chaos atau bahkan perang. Istilah yang sering kita dengar, mereka meminta SUAKA dari negara tetangga mereka.
***

New Technic
Rupanya Grinder (Sang Creator NLP) sangat jeli dalam memahami kebutuhan perlindungan ini. Sebagai pencipta NLP yang memang berkecimpung dalam pemberdayaan pikiran bawah sadar manusia, maka Grinder mencoba membantu mengatasi perasaan tak nyaman seseorang ketika mengalami sebuah kondisi tertentu.

Misal ketika seorang presentor mengalami kesalahan, atau seorang lawyer sedang mengalami serangan gencar dari kubu lawan, tentu perasaan mereka akan menjadi negatif.
Dengan pendekatan teknik asosiasi-disasosiasi, anchoring dan sub modality mapping accross, maka terciptalah sebuah teknik bernama 'sanctuary'.

Sebagaimana namanya, maka sanctuary merupakan sebuah lokasi imajiner yang bisa membuat kita merasakan sebuah keamanan atau kenyamanan, sehingga mampu menghilangkan energi negatif yang sedang melanda diri kita. Lokasi ini bisa kita ciptakan di tempat kita akan melakukan sebuah aktivitas, yang dimungkinkan akan memberi kita energi negatif, seperti contoh di stage kita presentasi atau di ruang sidang bagi para lawyer. Keren apa keren?
Terus,  bagaimana cara membuat sebuah sanctuary?

  1. Buatlah sebuah lingkaran di lantai dengan diameter sekitar 50 cm, beri warna sesuai keinginan Anda.
  2. Masuk ke dalam lingkaran tadi dan akses semua pengalaman menarik yang pernah Anda alami, untuk kemudian hubungkan (ciptakan anchor) tempat tadi dengan suasana menyenangkan dari pengalaman tadi. Jika memang diperlukan boleh sambil mendengarkan musik favorit atau ciptakan juga anchor fisik (kinestetik). Lingkaran tadi adalah sanctuary (tempat perlindungan)  Anda
  3. Keluar dari lingkaran tadi (disasosiasi). Kemudian lihat ke arah lain dengan jarak tertentu dimana kondisi Anda sedang galau, lemah, low energy, dan menyerap energi negatif. Begitu Anda merasakan energi negatif begitu kuat menyerang, ditandai dengan gerakan in voluntary yang mencemaskan, segera masuk ke lingkaran tadi dan sembuhkan diri Anda
  4. Keluar lagi dari lingkaran dan mulai berjalan lambat menuju tempat dimana Anda merasakan energi negatif tadi. Pelan saja bergeraknya sambil merasakan sinyal tubuh merasakan kehadiran energi negatif itu. Begitu Anda merasakan tanda negatif, meski sekecil apapun, segera masuk ke sanctuary
  5. Ulangi langkah ini beberapa kali, sampai Anda merasa kuat dan berani meski sudah berada di luar sanctuary

Sederhana bukan? Thanks Mr. Grinder for this impacfull technic.

Ah, ternyata NLP itu memang mudah, dan memudahkan hidup kita.
***
Becoming NLP Trainer
Anda ingin mempelajari keilmuan NLP ini dengan komplit? Bukan sekedar teknik yang akan kami ajarkan. Metodologi, attitude dan business opportunity juga akan kami berikan dalam COMPREHENSIVE NNLP BOOTCAMP 2.0, yang akan digelar selama 5 hari di tempat sama yaitu Grand Mutiara Hotel Cipayung Bogor.
Batch pertama yang digelar bulan November 2018 telah melahirkan 12 Certified Trainer yang juga telah membuat kelas NNLP mereka sendiri.

Segera daftarkan diri Anda pada bootcamp yang luar biasa ini. Hubungi:
- Mas Joko: +62817878337
- Mas Kono: +6287872152653

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

Artikel Unggulan

NEW BEHAVIOR GENERATOR

S egala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan. Mental Creation dan physical creation . Proses pertama ...