POSTINGAN POPULER

Monday, December 17, 2018

TEORI PAWANG SINGA

Hari ini, dalam training Fundamental Hypnosis dengan beberapa kawan di Medan, saya ditanya mengenai kapan timing yang tepat untuk melakukan sebuah induksi. Saya jawab pertanyaan peserta tadi dengan cerita mengenai pawang singa.

Alkisah di sebuah pertunjukan sirkus, seorang pawang singa sedang beraksi di dalam sebuah panggung yang berupa kandang besi besar. Sang pawang mengenakan pakaian kebesarannya berupa baju dan celana ketat mirip seragam seorang rodeo namun berwarna kuning keemasan. Di tangan kiri Sang pawang tergenggam erat sebuah kursi kayu kecil, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah cambuk hitam panjang. Tiga ekor singa dengan badan nyaris dua kali lipat dari badan sang pawang berputar-putar mengelilingi Sang Pawang. Sesekali mereka mengaum menunjukkan geligi mereka yang perkasa. Namun anehnya, meski hanya bersenjatakan kursi dan cambuk, namun tak seekor singapun yang berani menerkam pawang tadi. Alih-alih menerkam, singa-singa tadi bahkan menuruti setiap perintah Sang Pawang di sela-sela geletar cambuk hitamnya.
***

Sidang Pembaca yang Berbahagia, menurut Anda, apakah singa-singa tadi takut kepada 'senjata' yang dibawa Sang Pawang? Ataukah sebenarnya singa-singa tadi pada dasarnya takut kepada Sang Pawang itu sendiri?

Baiklah, kalau Anda masih bingung dengan jawaban pertanyaan ini, saya ganti pertanyaannya. Seandainya Anda yang diminta untuk masuk ke dalam kandang besi tadi dan Anda juga dipersenjatai dengan kursi kayu serta seutas cambuk, apakah Anda berani? Tidak? Kenapa?

Ya, tentunya kita semua tahu bahwa Anda akan segera menjadi mangsa empuk singa-singa tadi. Bahkan sekiranya Anda dipersenjatai dengan sepucuk pistolpun, saya yakin Anda juga akan tetap dimangsa oleh singa-singa tadi. Apa pasal? Karena Anda pasti tetap merasa takut, merasa terancam berada satu kerangkeng dengan raja hutan tersebut. Ketika mahluk hidup merasa takut, maka hipocampusnya akan mengeluarkan hormon tertentu yang berfungsi pada mekanisme fight or flight. Hewan predator semacam singa sangat peka dalam menandai calon mangsanya yang sudah mengeluarkan hormon rasa takut tersebut.

Namun berhadapan dengan Sang Pawang yang merawatnya sedari kecil, justru para singalah yang mengeluarkan hormon takut tersebut. Mereka sadar di dunia ini yang menjadi tuan mereka adalah Sang Pawang, karena dialah yang selalu memberi makan dan merawat mereka.  Artinya ketika pawang tadi tiada, bakal runyam pulalah nasib para singa tersebut. Jadi sebenarnya kursi dan cambuk tadi hanyalah sebuah gimmick semata dalam pertunjukan sirkus tadi. Kenyataannya singa-singa tersebut selalu berada dalam kendali figur otoritas sang pawang.

Kalau begitu apa kaitan hormon takut ini dengan timing melakukan induksi? Seperti kita tahu bahwa unsur kuat terjadinya efek hipnotic adalah sbb:
1. Pesan yang berulang (repetisi)
2. Figur otoritas
3. Identitas kelompok (crowd)
4. Emosi yang mendalam
5. Aktifitas spiritual

Unsur kedua atau figur otoritas inilah yang mampu memunculkan hormon rasa takut pada para singa. Artinya kalau kita ingin melakukan induksi kepada seorang klien, munculkanlah dulu sosok figur otoritas Anda terhadap klien. Jangan pernah sekalipun merasa ragu, karena ketika terdapat keraguan mesti hanya sebiji ara, klien kita akan mencium keraguan tadi ibarat singa yang mencium hormon takut pada mangsanya.

Dan ketika hal ini terjadi maka sadar atau tidak, ketakutgagalan Anda akan terbaca oleh klien. Dan biasanya kalau sudah  begini mekanisme pertahanan Anda akan membawa Anda pada tindakan flight, maka berantakan pula sesi hipnosis Anda.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

No comments:

Artikel Unggulan

TERAPI ANTI NGOMPOL

Cafe Therapy, 3 November 2019 Saya ingin menceritakan pengalaman melakukan terapi kepada keponakan kawan kantor dulu ketika masih bekerja ...