POSTINGAN POPULER

Monday, December 31, 2018

ANTARA PETANI, ZAENUDDIN MZ & RAHWANA

'Petani & Kudanya'
Ada seorang petani tua yang tinggal di pinggir hutan yang memiliki sawah dan ladang luas. Ia dibantu anak lelakinya yang berusia 17 tahun, yang biasa membajak sawahnya dengan seekor kuda jantan. Jelas di sini, anak lelaki dan kudanya berguna sekali dan sangat diandalkannya dalam bertani dan berladang. 

Pada suatu hari kuda tersebut hilang karena lari ke hutan tanpa jejak. Maka sejak hari itu bertambah repotlah bapak dan anak ini dalam mengolah ladang dan sawahnya.

Pertanyaan 1: Apakah bapak ini rugi atau untung dengan kehilangan kuda jantannya itu?
***


Seminggu sejak kehilangan kuda itu, mereka sudah sangat kelelahan bekerja keras, tetiba saja dikejutkan oleh suara derap kaki kuda dari arah hutan. Ternyata kuda jantannya pulang dan bahkan membawa serta 5 ekor kuda liar yang sangat menurut pada kuda jantan mereka. Dengan pengalamannya, cukup mudah bagi bapak dan anak ini menjinakkan kelima kuda liar tersebut agar bisa digunakan untuk membajak sawah ladangnya. Sekarang pekerjaan meladang dan membajak sawah ini menjadi jauh lebih mudah, lebih ringan dan cepat selesai dibandingkan saat mereka hanya punya satu ekor kuda. `

Pertanyaan 2: Dengan kondisi sekarang, apakah bapak ini rugi atau untung dengan kehilangan kuda jantannya waktu itu?
***


Suatu hari si pemuda bertingkah sok jagoan dengan mengendarai dua kuda sekaligus sambil berdiri. Tetiba saja kuda ini bergerak liar dan memelantingkan si pemuda ini sehingga jatuh dan kakinya patah. Akhirnya si pemuda tidak bisa membantu kerja di sawah ladangnya dan ia hanya berbaring di rumah. Bahkan bapaknya terpaksa harus merawat dan menjaganya hingga pekerjaannya terbengkalai.

Pertanyaan 3: Dengan kondisi sekarang, apakah bapak ini rugi atau untung atas pulangnya kuda jantan sambil membawa 5 kuda liar itu?
***


Sebulan anaknya dirawat dan berbaring di rumah, datanglah rombongan pasukan dari pemerintah mengumumkan bahwa semua pemuda sehat berusia 17 –30 tahun di desa itu harus pergi menjadi wajib militer untuk berperang di wilayah konflik.
Rombongan itu mengambil paksa semua pemuda di desa itu untuk dibawa ke pelatihan militer, karena negara sedang berperang melawan negara tetangga. Situasi sangat genting karena banyak tentara yang meninggal dalam peperangan yang kurang berimbang melawan musuh.

Pertanyaan 4:
Dengan kondisi sekarang, apakah bapak ini rugi atau untung saat anaknya jatuh dan kakinya patah karena jatuh dari kuda liar itu?
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, Anda bebas menjawab setiap pertanyaan di atas menggunakan asumsi Anda. Dan saya yakin jawaban dari Anda semua tidak akan seragam. Sebagian dari Anda akan menjawab rugi semua, atau ada juga yang akan menjawab untung semua, atau bahkan ada juga di antara Anda yang menjawab untung dan rugi. Semuanya sah-sah saja, karena memang sebenarnya makna sebuah kejadian tidak melekat pada peristiwanya, melainkan tergantung dari SUDUT mana kita memberi makna. Kata-kata baru akan memiliki makna, jika dan hanya jika ia diletakkan dalam konteks tertentu

'Frame/Framing'
Dalam dunia NLP (Neuro Linguistic Programming) sikap atau cara pandang seseorang dalam merespon dunia eksternal (External Reality) berdasarkan peta internalnya (Internal Reality) sesuai dengan sistem keyakinan yang dimilikinya disebut dengan FRAME (kerangka berpikir).

Ketika saya mengikuti kelas  Kang Surya Kresnanda beberapa waktu yang lalu, saya makin mendapatkan pencerahan mengenai topik frame ini. Contoh yang diberikan juga sangat relevan. Mungkin Anda masih ingat peristiwa yang menimpa Da’i Sejuta Umat di tahun 2010 lalu. Saat itu alm Zaenuddin MZ diberitakan telah menikahi Aida Saskia. Hal ini dibuktikan oleh pihak Aida dengan foto mereka yang sedang berduaan. Sebuah pose foto yang tentunya tidak layak dilakukan oleh seorang ulama panutan jutaan umat. Dan masyarakat ramai cenderung percaya pada tuduhan tadi, karena menyaksikan foto berduaan tadi. Itulah salah satu keampuhan dari ‘framing’, yaitu menggiring opini publik menuju pada makna yang diharapkan oleh si pembuat frame.

Menyadari keampuhan dari fenomena frame ini, maka para penggagas Neuro Linguistic Programming (NLP) merancangnya  sehingga mampu mengidentifikasikan konteks yang dihadapi (menjadi sebuah pemaknaan). Dengan demikian proses framing ini dapat mengarahkan seseorang kepada intepretasi dan perilaku tertentu. Media sangat suka menggunakan pola ini guna menaikkan rating mereka.

Framing yang dilakukan media seperti ini bukanlah sebuah kebohongan. Mereka hanya berusaha membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolann aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar sehingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan. Namun ketika hal semacam ini menimpa diri kita, baik karena disengaja dikreasikan oleh pihak lain, atau karena kita terjebak pada frame kita sendiri sehingga merugikan diri kita, maka langkah yang mesti kita ambil adalah membingkai ulang, atau reframing.

***

Sebelum lebih jauh membahas reframing, ada baiknya kita menengok buku NLP Workbook karya Joseph O’ Connor yang membeberkan beberapa racikan frame, sbb:

Ecology Frame : Frame yang mengacu pada pertimbangan ekologis terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Frame ini selalu mengajak kita untuk melihat dalam jangka panjang.
Outcome Frame : Frame yang berorientasi pada outcome  atau tujuan.
Agreement Frame : Penyampaian suatu pernyataan dengan tujuan untuk memberikan suatu kesepakatan kepada kawan bicara.
Evidence Frame : Frame yang berorientasi pada fakta yang secara nyata dapat dibuktikan.
As-if Frame : Frame yang ditujukan kepada kawan bicara dengan menggunakan sebuah pengandaian.
Contrast Frame : Frame yang disampaikan kepada lawan bicara dengan memberikan sebuah polaritas secara kontras.
Backtrack Frame : Frame yang digunakan untuk memberikan suatu batasan pada sebuah konteks pembicaraan serta bersifat penegasan.

'Reframing'
Proses reframing adalah secara sengaja membingkai ulang suatu kalimat sehingga memiliki makna yang betul-betul berubah secara dramatis. Dengan demikian dapat dikatakan, reframing dilakukan untuk memberikan makna ulang yang berbeda, dengan tujuan agar:

• Punya perspektif yang berbeda
• Punya pilihan tindakan lain
• Lebih membesarkan hati
• Positif thinking
• Terlepas dari keterikatan makna.

Saya sudah membaca berkali-kali definisi reframing dari pelbagai buku dan artikel NLP yang intinya reframing adalah urusan membingkai ulang pemaknaan sebuah peristiwa dengan cara mengubah sudut pandang kita. Membingkai ulang artinya mengganti satu bingkai dengan bingkai yang lain. 

Dan sekali lagi Kang Surya Kresnanda membuat saya tercengang, karena rupanya reframing tidak HARUS MENGGANTI bingkainya, namun cukup MELUASKAN BINGKAI tersebut.

Kembali ke kasus KH Zaenuddin MZ di atas, menghadapi fitnah keji dari pihak Aida, tim pembela dai sejuta umat inipun tak tinggal diam. Setelah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, mereka berhasil menemukan foto asli dari pose berduaan tersebut, yang rupanya telah dicrop. Jika kita meluaskan bingkainya (melihat lebih luas) rupanya di sebelah kanan Aida ikut berfoto tantea dari Aida.

Dari sini jelas, bahwa sang dai tidak sedang berdua-duaan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Maka masyarakat ramaipun bisa memahami apa yang terjadi pada KH Zaenuddin MZ. Reframing terjadi dengan meluaskan bingkainya.

Selain meluaskan bingkai, rupanya kita juga bisa menggeser bingkai tadi ke arah lain, sesuai kebutuhan kita. Saya akan memberikan contoh dengan mengambil satu presuposisi NLP,  yaitu: Manusia lebih dari sekedar jumlah perilakunya.
Dengan berpegang pada presuposisi ini, mau tak mau kita mesti meluaskan paradigma kita dalam melihat seseorang.

Maksudnya, ketika selama ini kita mengenal si fulan sebagai si temperamen, mungkin itu terjadi gegara selama ini fokus kita (baca: bingkai kita) hanya kepada sisi temperamental fulan saja. Semestinya di dalam dirinya juga terdapat sisi sabar dan tenangnya. Maka jika kita mau menggeser bingkai kita, sampai pada sisi sabar ini, pastilah perasaan dan persepsi kita kepada si fulan akan berubah.

Saya akan mengakhiri artikel ini dengan mengambil contoh dari dunia pewayangan. Tahun 2014, budayawan jancukers, Sujiwo Tedjo merilis Novel berjudul Rahvayana, Aku Lala Padamu.

Berikut saya tayangkan sinopsisnya yang saya nukilkan dari laman berikut: http://intisari.grid.id/read/0390398/cinta-suci-rahwana?page=all.

Selama ini kita sudah sangat mahfum dengan framing hitam dan putih antara Rama dan Rahwana. Bahwa Rama adalah pahlawan, sementara Rahwana adalah penjahat. Namun tahukah Kawan, menurut Sujiwo Tedjo, dalam urusan cinta, kita masih bisa memperdebatkannya lagi. 

Dengan meluaskan pengetahuan kita mengenai sosok Rahwana dalam menghadapi wanita terkasihnya, saya yakin Anda akan setuju dengan Sujiwo Tedjo, bahwa dikotomi pahlawan-penjahat ini masih debatable.

Dalam sebuah epik diceritakan, Rahwana hanya mencintai satu wanita, Dewi Setyawati namanya. Hingga kemudian sang dewi meninggal dan kemudian menitis ke dewi Sinta. Rasa di hati Rahwana selalu tersimpan utuh. Hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan Sinta, yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, raja Ayodya, karena memenangi sayembara di kerajaan Mantili.

Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rahwana tinggal punya dua pilihan: merelakannya atau merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan nyawa. Dan, Rahwana memilih pilihan kedua.

Sinta pun diculiknya dan dibawa pulang ke Alengka. Selama tiga tahun disekap, Sinta diperlakukan bak ratu oleh Rahwana. Meski dia bisa memaksa atau bahkan memperkosa Sinta, Rahwana tak pernah mau melakukannya. Rahwana tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa.

Dia pun tak pernah menyentuhnya. Menunggu. Menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti. Entah kapan. Padahal dia tahu benar bahwa titisan Dewi Setyawati itu terlahir begitu setia pada suaminya.

Setiap hari Rahwana mendatangi Sinta dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan semata mata karena cinta dan ingin menjadikan Sinta sebagai permaisuri, satu-satunya istri terkasih. Namun, Sinta selalu menolak.

Apa yang datang dari hati, pasti sampai ke hati. Sekejam apa pun Rahwana, ketulusannya pelan-pelan dirasakan oleh Sinta. Selama dirinya di Alengka, Rahwana berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana kerajaan menjadi baik pula dan penuh kedamaian. Sinta mulai tergoda tapi di sisi lain dia tak mau mengkhianati suaminya. Namun, hingga hampir tiga tahun lamanya, kenapa Rama tak kunjung juga menyelamatkannya? Apakah suaminya sudah tak mencintainya lagi?

Duhai wanita terkasih, kamulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” kata Rahwana penuh harap kepada Sinta.

Sinta menjawab, "Jujur. Aku sebenarnya mulai mencintaimu. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Kata-kata Sinta ibarat mantra yang menyihir Rahwana. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti. “Baik, jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan mengembalikanmu kepadanya,” tegas Rahwana.

Ketika Rama datang dengan balatentara wanara plus hanoman, dengan gagah berani Rahwana menyambutnya. “Aku mencintai Sinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan kembali Sinta.”

Singkat kata, pertarungan pun terjadilah. Dengan dibantu Hanuman, berhasil mengalahkan Rahwana dan membunuhnya. Sinta yang cantik pun kembali jadi miliknya.

Sinta senang bukan kepalang. Dia lari menghambur ke pelukan Rama. Namun, sambutan Rama justru mengagetkannya. Rama curiga, jangan-jangan Sinta telah dinodai Rahwana.

Berkali-kali Sinta menjelaskan bahwa dirinya masih suci. Rahwana tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Tapi Rama tak juga percaya. Hingga akhirnya, Sinta nekat membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke bara api. Karena dia masih suci, api tak bisa membunuhnya. Barulah setelah itu Rama  mau menerimanya kembali.

Tinggal kemudian sukma Rahwana yang menangis sejadinya karena nestapa cinta. Kenapa takdir tidak memilihnya? Andai dia ikut perlombaan di Kerajaan Mantili, niscaya Sinta menjadi miliknya. Pasalnya, kesaktian Rama masih jauh di bawahnya. Kenapa pula Sinta memilih pria yang tidak mempercayainya 100 persen? Sementara bagi Rahwana, Sinta ternoda atau tidak, dia tetap akan mencintainya
***


Sidang Pembaca yang berbahagia, setelah membaca sinopsis di atas, masihkah Anda kan menganggap Rama adalah pahlawan, dan Rahwana adalah penjahat? Terjadi perubahan sudut pandang bukan, setelah kita mengulik satu bagian yang selama ini tak pernah kita ketahui. 

Ya, itulah teknik reframing yang legendaris itu. Agar mampu meluaskan bingkai kita, maka kita perlu lebih membuka mata, telinga serta hati kita agar informasi yang masuk ke benak kita menjadi berimbang.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018, esok hari kita akan menapaki jalanan baru, yang tentunya juga perlu langkah-langkah baru. Saya mengajak diri saya sendiri agar lebih mawas diri menghadapi frame-frame pikiran yang terkadang kurang memberdayakan. 

Dan ketika kita merasa terjebak di dalam frame yang kurang memberdayakan tadi, marilah kita luaskan bingkai pikir kita. Selamat Tahun Baru 2019 Kawan, semoga kita makin berdaya di tahun baru ini.

Tabik
-haridewa-
www.thecafetherapy.com

No comments:

Artikel Unggulan

TERAPI ANTI NGOMPOL

Cafe Therapy, 3 November 2019 Saya ingin menceritakan pengalaman melakukan terapi kepada keponakan kawan kantor dulu ketika masih bekerja ...