POSTINGAN POPULER

Thursday, December 13, 2018

PBS & SATPAM

Tahukah Kawan, bahwa ternyata otak manusia memerlukan energi yang sangat besar ketika beroperasi (berpikir). Ketika kita memikirkan sebuah situasi, memutuskan untuk memilih sesuatu, atau sekedar melakukan sebuah aktifitas, semua itu akan dimulai dari sebuah proses kodifikasi perintah di dalam otak kita. Selain memerlukan energi yang besar, tumpukan aktifitas yang mesti diselesaikan secara simultan tersebut bisa memperlambat kinerja otak kita. Oleh karena itu, otak membuat sebuah sistem agar penggunaan energinya bisa efisien, yaitu dengan membagi kinerja otak (pikiran) menjadi Pikiran Sadar/PS (conscious mind) dan Pikiran Bawah Sadar/PBS (subconscious mind)

Pemaparan mengenai pembagian tugas otak ini muncul pertama kali dalam studi psikonalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Dalam studi itu,  Freud meyakini bahwa porsi terbesar yang menentukan kehidupan manusia justru ada di PBS. Otak kita senantiasa berusaha agar segala aktifitas harian kita bisa beroperasi dengan otomatis. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat efisiensi yang tinggi dalam penggunaan energi ke otak. Maka hampir semua proses metabolisme tubuh diatur oleh sistem otomasi ini. Beberapa ketrampilan yang sudah sering kita lakukan, kebiasan baik maupun buruk juga sudah akan berjalan dengan autopilot 
Dengan porsi PBS sebesar 88% maka memang wajar manusia sering disebut sebagai mahluk bawah sadar. Nah, meski kita ini sering disebut mahluk bawah sadar, namun masih banyak yang tidak ngeh, seperti apa sih PBS itu?
***

Jadi gini friend, kalau menurut saya PBS itu ibarat satpam komplek perumahan mewah. Lho kok gitu?

Coba perhatikan ketika kita pertama kali ada tamu asing bertandang ke sebuah komplek perumahan mewah, yang pastinya setiap gerbangnya ditunggu oleh 1-3 satpam, tamu tadi akan ditanya dan diperiksa dengan seksama oleh para satpam tadi. Tidak mudah bagi tamu tadi untuk bisa memasuki komplek tersebut. Hanya ketika tamu tadi memiliki tujuan serta alasan yang jelas serta masuk akal bagi para satpam, maka tamu tadi akan memeroleh inside permit (tiket masuk) ke komplek tersebut. Bahkan mungkin dibutuhkan waktu berkali-kali untuk bisa mendapatkan inside permit tersebut.

Sama halnya ketika tetiba saja ada sebuah ide, atau informasi atau bahkan kebiasaan baru yang akan kita mulai. Apakah kita langsung mau menerima ide, informasi atau kebiasaan baru tadi? Tentu tidak bukan? Diperlukan jeda waktu sampai akhirnya ide tadi diterima dengan sempurna.

Sekarang kita kembali pada tugas satpam komplek tadi. Ketika sang tamu ternyata bukan sekedar bertamu. Dia ternyata penghuni baru komplek tersebut. Semua itu dibuktikan dengan surat kepemilikan rumah, surat pengantar dari kelurahan dlsb, maka kemudian alih-alih mengusir, para satpam justru berebut untuk mengantarkan sang tamu ke rumah baru mereka.

Masalah muncul ketika ternyata alamat rumah yang dituju sang tamu sudah berpenghuni. Oo rupanya si penjual rumah belum bersedia pindah dari rumahnya. Di sini dibutuhkan ketegasan dan campur tangan hukum untuk menentukan siapa yang paling berhak menempati rumah tersebut. Pada awalnya satpam pasti akan berpihak kepada penghuni lama karena sudah mengenalnya sejak lama. Namun dengan semua kelengkapan dokumen yang dimilikinya, sang tamulah yang akan memenangi perselisihan tersebut. Maka mulai hari itu, rumah dengan alamat dimaksud sudah berganti penghuni.
***

Sidang Pembaca yang budiman, retorika ini mirip dengan dimulainya sebuah kebiasaan baru untuk menggantikan kebiasaan lama yang kurang memberdayakan. Pada awalnya PBS kita akan mempertahankan kebiasaan lama dan mempertanyakan (manfaat) kebiasaan baru kita.

Seperti halnya satpam yang tak berkutik ketika sang tamu berhasil menunjukkan setumpuk dokumen yang membuktikan bahwa memang sang tamulah pemilik sah dari rumah tersebut, PBS juga dengan mudah akan non aktif menghadapi beberapa situasi sbb:
1. Pesan yang berulang (repetisi)
2. Figur otoritas
3. Identitas kelompok (crowd)
4. Emosi yang mendalam
5. Hipnosis
***

Oo jadi ketika sudah mengalami 5 situasi seperti itu maka dengan mudah kita bisa menerapkan sebuah kebiasaan baru dong?

Sabar Kawan, seperti yang saya bilang di atas bahwa PBS itu seperti satpam, maka tugasnyapun sangat mirip dengan satpam. Jika Anda perhatian, maka Anda akan melihat satpam ketika berkeliling kompleks sambil membawa kotak besi kecil. Itu namanya Guard Tour Patrol System (GTPS). Di dalam kotak kecil itu terdapat lubang kunci yang mesti diputar dalam periode tertentu. Lalu dimanakah anak kunci pemutarnya? Dipasang di lokasi sekeliling kompleks. Dengan sistem seperti ini maka mau tak mau satpam yang sedang mendapatkan giliran jaga akan berkeliling komplek sesuai jadwal untuk kemudian memutar lubang kunci pada GTPS. Di dalam GTPS terdapat kertas pencatat waktu dan lokasi setiap kali lubang kunci diputar.

Nah rupanya PBS juga memiliki fungsi seperti ini. Dia akan berkeliling lingkungan kebiasaan kita, dan ketika pada satu titik kebiasaan dia menemukan kejanggalan, dia akan berusaha mengembalikan kejanggalan tadi ke posisi semula. Sistem ini dikenal dengan istilah homeostatis. Menurut Walter Bradford Cannon (American Physiologist) homeostasis adalah Kemampuan proses fisiologis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan dan kecenderungan semua jaringan hidup guna memelihara dan mempertahankan kondisi setimbang atau ekuilibrium.

Ternyata sistem homeostatis ini tidak hanya berlaku untuk kondisi fisilogis namun juga berlaku untuk kondisi psikologis. Itulah salah satu alasan kenapa saya termasuk terapis yang tidak percaya dengan terapi instant sekali jadi. Meski menggunakan teknik hipnosis yang dikenal instant, namun saya masih menghargai kinerja satpam eh PBS dalam menjaga sistem homeostatis ini. Sehingga minimal terapi yang mangkus adalah 2 atau 3 kali (termasuk tasking). Kenapa begitu? Ketika satpam tadi sedang patroli, mesti ada yang membackup kebiasaan baru, sampai dia menjadi permanent resident in our mind.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life  Coach
Professional Hypnotherapist
www.thecafetherapy.com


Tuesday, December 11, 2018

REPRESENTATIONAL SYSTEM

"Eh, gua mah ga bisa lho kalau diminta ngebayangin sesuatu, secara gua khan bukan orang visual"

"Ayahbunda yang berbahagia, jangan paksa ananda belajar seperti dulu ayahbunda belajar, karena belum tentu tipe ananda sama dengan ayahbunda. Kalau dulu ayahbunda senang mendengar musik, itu menandakan ayahbunda orang auditori. Jika ananda senang belajar sambil bergerak, biarkan saja, karena itu tandanya dia adalah anak kinestetik"

Sidang Pembaca yang berbahagia, pernahkah Anda mendengar statement seperti kalimat di atas? Pernah? Atau malah statement tersebut keluar dari mulut Anda sendiri?

Kalau iya, emang kenapa? Apa hak Anda bertanya seperti itu?

Nah, maka dari itu kita perlu mengkaji ulang pemahaman yang selama ini sudah kita yakini.
***

'SISTEM RE-PRESENTASIONAL'
Manusia menangkap informasi dari dunia eksternal melalui lima inderanya:

- Visual (penglihatan),
- Auditory (pendengaran),
- Kinesthetic (perasa),
- Olfactory (pembauan) dan
- Gustatory (pengecap).

Dan semua informasi tadi akan di-presetasi-kan ulang di dalam pikiran dalam bentuk sesuai dengan indera yang menerimanya.  Informasi tadi entah  berbentuk visual yang bisa dipahami atau bisa disimpulkan sebagai sesuatu, atau bentuk kata-kata yang punya makna tertentu, dll.

Ketika kualitas dan kuantitas stimulus terhadap indera tadi berbeda, berbeda pula pengalaman yang terjadi, dan konsekuensi logisnya,  akan berbeda pula 'state' (kondisi pikiran/perasaan) yang muncul.

Berbagai perilaku dan perasaan kita terhadap sesuatu atau seseorang, dipengaruhi bagaimana kita merepresentasikan sesuatu atau seseorang di pikiran kita. Berarti, apabila kita mengubah representasi kita terhadap sesuatu atau seseorang, sikap kita pun akan ikut berubah.

Di antara pintu gerbang informasi yang 5 tadi, setiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda (dominan) ketika menerima informasi. Kecenderungan inilah yang disebut sebagai 'Sistem Preferensi' (disebut juga Primary System). Karena jarang digunakan secara terpisah untuk membangun representasional internal, maka Olfactory dan Gustatory sering dilebur ke dalam sistem kinestetik sebagai sensasi rasa.

Jadi dalam pembelajaran Sistem Representasional selanjutnya kita hanya akan membahas 3 preferensi saja, yaitu:

1. Preferensi Visual
2. Preferensi Auditory
3. Preferensi Kinestetik

Kenapa kok istilahnya adalah preferensi yang memiliki kata dasar 'prefer', yang maknanya adalah 'lebih menyukai'?

Ya karena pada dasarnya setiap manusia memiliki ketiga (baca ke-5) sistem representasi tersebut, hanya dalam penggunaan hariannya, manusia memilih untuk dominan dalam menggunakan salah satunya sahaja.

Kenapa pula demikian? Ya karena mereka lebih suka menggunakan salah satu dari Reps System tadi.

Dan kenapa pula mereka lebih suka salah satunya? Ho ho ho, kalau masalah satu ini, Anda tidak berhak mempertanyakannya. Tanya saja kepada rumput yang bergoyang, hehehe.

Dari uraian sederhana ini, maka satu hal yang selama ini kita yakini perlu diperbaharui, yaitu tidak ada orang bertipe visual, auditori, maupun kinestetik!

Yang ada adalah orang dengan preferensi visual, preferensi auditori dan preferensi kinestetik.
***

'Cara Mengetahui Preferensi'
Kita dapat mengetahui sistem preferensi seseorang melalui 3 cara, yaitu:

1. LINGUISTIK
Dalam linguistik sendiri kita masih bisa melihatnya dari 2 segmen:

A. Cek predikat yang sering digunakan:

a. Visual: melukiskan, membayangkan, melihat, cerah, kabur, … dll.

b. Auditori: suara, membisikkan, teriakan, merdu, mendengar,  dll.

c. Kinestetik: halus, hangat, panas,  menggenggam, merasa, wangi, harum
pahit, kecut, mencicipi… dll

B. Cek intonasi saat mereka berbicara:

a. Visual: bicaranya cepat; karena mereka berusaha mengejar gambar yang ada dalam pikiran mereka

b. Auditori: berbicara dengan intonasi berirama; karena telinga mereka menikmati irama tersebut

c. Kinestetik: bicaranya lambat; karena setiap kata akan memunculkan sensasi tersendiri di dalam diri mereka

2. BODY LANGUAGE
Cek gerakan tubuh seseorang ketika berkomunikasi dengan Anda

a. Visual: cenderung mengambil jarak; karena mereka ingin melihat gambaran besar dari kawan bicara mereka. Gerakan tangan mereka cepat, dinamis, dan terstruktur.

b. Auditori: mendekat saat berkomunikasi; karena mereka perlu mendengar dengan lebih jelas setiap kata yang meluncur dari kawan bicara mereka. Gerakan tangan mengikuti irama bicaranya.

c. Kinestetik: kerap kali melakukan kontak fisik, sentuhan-sentuhan kecil; karena dengan cara inilah mereka mendapatkan informasi lebih jelas. Gerakan tangan mereka cenderung lambat

3. EYE MOVEMENT
Cek kemana arah bola mata ketika mereka mengucapkan kata atau kalimat tertentu. Perhatikan dengan seksama ke arah mana bola mata tersebut bergerak paling dominan.

a. Visual: ke atas, ke kiri atau kanan
b.Auditori: mendatar, ke kiri atau kanan
c. Kinestetik: ke bawah, ke kiri atau kanan.

Setelah melakukan cek pada ketiga aspek di atas, lakukanlah kalibrasi. Jika ketiga aspek menunjukkan kecenderungan V, maka dipastikan orang tersebut memiliki preferensi Visual. Demikian juga ketika terdapat 2 aspek yang sama, maka itulah preferensinya. Misal si Fulan, aspek Linguistiknya (L) V, Body Language (BL) V,  sementara Eye Movement (EM)  A, maka preferensi Fulan adalah V. Si Anu, L-nya K, BL-nya V, EM-nya K, maka preferensi Anu adalah K.

Bagaimana jika ketiga aspeknya menunjukkan hal yang berbeda. Contoh, si Inu, L-nya A, BL-nya K, EM-nya V? Ditilik dari jaraknya dengan otak  yang mengatur subconscious mind, dan mata adalah aspek dengan lokasi paling dekat, maka aspek inilah yang paling akurat dan jauh dari bias.

Mulut bisa dilatih untuk berbohong, bahasa tubuh juga bisa dibiasakan dengan kondisi yang diharapkan, namun mata tak pernah ingkar janji. Dengan demikian kita bisa menentukan bahwa preferensi Inu adalah V. Sekali lagi saya tandaskan, ini adalah preferensi, bukan absolut.
***

'Manfaat Preferensi'
Sidang Pembaca yang berbahagia, ternyata penting juga ya bagi kita memahami preferensi ini. Kalau begitu, apa saja sih manfaatnya?

1. Untuk Diri Sendiri
Manfaat mengetahui preferensi tentunya untuk pemberdayaan diri kita sendiri dulu.
Dengan menyadari konsep ini maka tidak akan ada lagi ujaran seperti contoh pertama di atas, yang alih-alih memberdayakan justru memperdayakan. Mengacu pada satu presuposisi yaitu semua orang sudah memiliki sumber daya untuk sukses, yang perlu dilakukan hanyalah mengenali, memperkuat dan mengurutkan, maka ketika kita merasa tidak visualpun, sebenarnya kemampuan visual itu tetap kita miliki. Pertanyaannya adalah, sudahkan kita mengenalinya, atau bahkan memperkuatnya. Kalau demi pencapaian sebuah goal, tentunya tidak ada lagi istilah prefer atau tidak. Suka tidak suka, sebenarnya kita mampu kok mengenali dan memperkuatnya.

Contoh sederhana lain, bagi kita yang 'right handed' alias tidak kidal, maka kita akan melakukan banyak hal menggunakan tangan kanan. Menulis, makan, menyikat gigi, menggunting, membubuhkan tanda tangan dll dengan mudah akan kita lakukan. Kita sadar bahwa kita juga memiliki tangan kiri, namun atas dasar banyak pertimbangan (salah satunya adalah moral dan agama) maka penggunaan tangan kiri sebatas pada istinja'. Mungkinkah suatu saat kita membutuhkan tangan kiri lebih dari sekedar untuk urusan bebersih diri tadi? Sangat mungkin!

Bayangkan saja ketika tangan kanan Anda mengalami celaka sehingga mesti diperban, maka kemampuannya otomatis akan menurun bahkan lenyap. Saat itulah, prefer or not, Anda akan mengenali tangan kiri Anda, menguatkan dan mulai menggunakannya.

2. Untuk Melakukan Pacing
Kegunaan lain mengenal preferensi adalah untuk melakukan pacing kepada orang lain. Dengan memahami ketiga aspek penentu preferensi di atas (L, BL, EM) maka agar mendapatkan trust dari kawan bicara, kita bisa melakukan mirroring dan matching. Dan hal ini akan sangat bermanfaat dalam selling, coaching, parenting maupun teaching.
***

'Learning STYLE'
Sidang Pembaca yang berbahagia, tahukah Anda bahwa sistem preferensi ini erat kaitannya dengan cara belajar seseorang. Setiap preferensi memiliki gaya belajarnya masing-masing.

Karena gerbang masuknya informasi memang telah dipilih oleh masing-masing preferensi, maka ketika seseorang menggunakan gerbang yang paling disukainya, informasi yang tercerap akan lebih banyak, sehingga map yang terbentuk juga lebih lengkap. Berikut saya kutip dari materi pelatihan Kang Surya mengenai cara memfasilitasi pembelajaran masing-masing preferensi:

A. Visual
- Gunakan gambar, video dan media peraga
- Puaskan dengan warna (tapi jangan berlebihan)
- Gunakan predikat visual
- Optimalkan bahasa tubuh untuk menunjuk dan menggambar
- Atur jarak menjauh agar mereka bisa melihat lebih banyak

B. Auditori
- Perbanyak menjelaskan, atau beri mereka kesempatan untuk menjelaskan ulang
- Gunakan predikat auditori
- Perdekat jarak agar mereka bisa mendengar lebih jelas
- Atur intonasi mendayu dan gerak tubuh yang menyesuaikan suaranya

C. Kinestetik
- Ijinkan mereka menyentuh dan meraba seperlunya
- Gunakan alat peraga 3 dimensi.
- Gunakan predikat kinestetik
- Atur intonasi lambat dan dalam
- Gunakan bahasa tubuh lambat
- Sentuh seperlunya (dan sopan)

Oo ternyata itu to maksud dan manfaat Reps System? Kalau begitu ujaran kedua tadi itu benar atau salah?
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, bukan salah namun perlu diluruskan pada judgement VAK, menjadi preferensi VAK. Dan meskipun kita sudah paham mengenai sistem preferensi serta gaya belajar masing-masing preferensi, namun ketika kondisinya hanya mendukung pada pemenuhan salah satu preferensi saja, atau terdapat hal yang tidak ekologis, ya perkuat saja sistem preferensi lain yang masih memungkinkan.

Contoh seorang anak dengan preferensi kinestetik sedang bermain di taman kaktus, apakah akan kita biarkan dia menyentuh kaktusnya? Tentu tidak bukan? Ajarkan saja dia dengan apa yang dia lihat, karena di dalam dirinya toh juga terdapat kemampuan visualnya.

Karena adanya Bandler dan Grinder menciptakan NLP (Neuro Linguistic Programming) adalah untuk memudahkan hidup kita. Jangan karena terjebak oleh teknik atau dikotomi metodologinya, justru kita mengabaikan sisi ekologis sekitar kita, sehingga hidup kita makin susyah gegara eN eL Peh.

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Thursday, December 06, 2018

RAPPORT BUILDING

'Resistance indicate lack of rapport'. 
Penolakan menunjukkan kurang terjalinnya hubungan Anda.



Ketika  kali pertama menemukan kalimat ini dalam rangkaian presuposisi  saat belajar NLP beberapa tahun yang lalu, saya sempat bingung. Bagian mana yang diterjemahkan sebagai hubungan? Bukankah rapport itu berarti laporan?

Aih, rupanya saya terkontaminasi dengan istilah buku raport yang berisi laporan perkembangan siswa. Setelah membuka Oxford Dictionary & Thesaurus, saya menemukan makna lain rapport yaitu 'a relationship of mutual' atau 'understanding or trust and agreement between people'. Makin jelas deh kalau begitu, jadi rapport akan selalu bersinggungan dengan:
  • relationship (hubungan), 
  • understanding (pengertian), 
  • trust (kepercayaan), bahkan 
  • agreement (kesepakatan).

Dalam salah satu bukunya, Robert Dilts (NLP University) mengatakan bahwa salah satu cara membangun rapport adalah dengan tidak merusak rapport yang sudah ada. Artinya jika tujuan building rapport adalah demi mendapatkan trust, maka maintaining relationship merupakan salah satu cara paling mudah dalam mendapatkan kepercayaan.
***

Covey dalam bukunya Speed of Trust, mengatakan bahwa level of trust selalu berbanding terbalik dengan besaran cost. Artinya ketika level of trust kita tinggi, maka jumlah cost yang mesti dikeluarkan akan menurun. Begitu sebaliknya. 

Dalam buku itu disebutkan bahwa terdapat 4 komponen dasar agar seseorang gaining trust, yaitu:
  1. Kesamaan (Similarity)
  2. Niat baik (Good Intention)
  3. Kompetensi (Competence) 
  4. Jejak Rekam (Track Record)

Dari 4 syarat di atas, prasyarat pertamalah yang paling mudah dilakukan, bisa dilakukan oleh siapa saja dan dengan effort serta waktu singkat. Oleh karena itulah Bandler dan Grinder mengulik dan mengasahnya dengan seksama untuk kemudian membuat polanya agar mereka bisa mendapatkan persamaan dengan kawan bicara mereka. Ternyata inilah asal usul teori PACING (menyelaraskan) yang terkenal itu.

Dalam pengamatan Bandler dan Grinder, teknik pacing dibedakan menjadi 2 terminologi, yaitu:
  1. Mirroring (menyamakan) 
  2. Matching (mencocokkan)

Selama ini banyak pembelajar NLP yang masih bingung membedakan tindakan yang mencerminkan teknik matching dan mirroring, termasuk saya, sampai perjumpaan saya dengan Kang Surya Kresnanda minggu kemarin. Dengan apik Kang Surya menjelaskan bahwa teknik mirroring senantiasa mencari kesamaan, baik verbal, non verbal, visual (gesture) ataupun intonasi. Demi mencapai connectedness (keterhubungan bathin), maka sebagai praktisi NLP, kita perlu menjadi cermin bagi kawan bicara baik dalam pilihan kata (diksi), nada bicara, bahkan bahasa tubuh kita. 

Kawan bicara menggunakan predikat dengan preferensi visual, maka kita juga menggunakan pilihan kata visual. Intonasi kawan bicara menjadi cepat atau lambat, kitapun menyelaraskan. Bahkan ketika mereka menggerakkan salah satu bagian tubuhnya, secara subtle (tak kentara) kitapun mengikutinya. Itulah mirroring.

Namun ternyata tak selamanya kita boleh me-mirror orang lain. Ada beberapa hal khusus yang tidak boleh di-mirror, seperti tic (kebiasaan khusus seperti berdehem atau berkedip berlebihan secara tak sengaja.   Atau menggaruk bagian tertentu ketika panik), bindeng, gagap, latah dan hal sejenisnya. Bukan itu saja, dalam kondisi normalpun ternyata kita tidak boleh sembarang me-mirror orang lain. 

Sebagai contoh, ketika seorang anak buah ingin mendapatkan trust dari atasannya, dan dia ingin melakukan pacing. Saat dia melihat atasannya mengangkat dan menyilangkan kaki, apa yang akan terjadi jika dia juga ikut menyilangkan kaki? Saya yakin Anda bisa menjawabnya. Tidak akan ekologis kalau bawahan dengan posisi lebih rendah dari atasannya ikut menyilangkan kaki. Akan lebih sopan dan selaras kalau sebagai bawahan dia tetap duduk dengan kedua kaki menapak lantai.

Kenapa begitu? Ya cocoknya memang seperti itu, agar si bos merasa lebih tinggi posisinya serta merasa lebih dihargai. Itulah teknik mencocokkan atau matching.
Lho, teknik pacing kok tidak sama? Memang kecocokan tidaklah harus sama. Yang dicari bukanlah kesamaan melainkan kesetaraan posisi. Saling mengisi.

Adanya seseorang disebut bos, karena dia memiliki anak buah. Seseorang disebut istri karena dia memiliki suami. Anda disebut anak karena memiliki orang tua, dlsb.
Ketika kita berjumpa dengan pihak yang sangat senang bicara, maka posisi matching kita adalah dengan menjadi pendengar yang baik, bukan malah me-mirror dengan banyak bicara juga. Jika Anda hendak berburu rusa dengan kolega Anda, ketika melihat dia membawa busur, maka sediakanlah anak panah, bukan sama-sama menjinjing busur agar terlihat sama! Karena dua buah busur tidak akan mampu memanah rusa!
Itulah keindahan teknik matching. Saling mengisi posisi yang kosong.

Dari penuturan di atas, maka jelaslah perbedaan antara matching dan mirroring, serta kapan kita menggunakannya. Mirror-lah semua aspek kawan bicara kita seoptimal mungkin, dan ketika terjadi ketakselarasan, baru gunakan matching.
Lalu kapan kita melakukan leading? Sabar Bro, leading bukan termasuk pada bahasan Rapport Building. Teknik Leading akan kita ulas tersendiri. Jangan latah setiap kali membicarakan pacing, terus dilanjutkan dengan leading. Pacing-Leading. 

Pokok bahasan rapport building selesai sampai kawan bicara kita terhubung secara bawah sadar sehingga memberikan trust-nya kepada kita, maka diharapkan akan tercipta sebuah agreement.

Ooo jadi kalau begitu buku raport itu bukan buku laporan ya, melainkan buku penghubung antara pihak sekolah dengan orang tua sehingga tercipta trust yang diharapkan akan muncul sebuah agreement di antara mereka demi perkembangan siswa.

Ternyata NLP itu mudah dan memudahkan hidup kita ya....

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

PS: Matur sembah tengkyu Kang Surya Kresnanda untuk pencerahannya

KAPOK ROKOK JILID 2

Tadi malam selesai dari acara ngobrol bareng beberapa hipnoterapis Jabodetabek, saya pulang naik commuter line disambung gocar dari stasiun ke rumah. Saya memilih gocar, selain karena sudah lewat tengah malam juga karena rintik hujan masih membasahi sepanjang jalan menuju ke rumah. Dan saya tidak heran ketika sang driver, sebut saja Kang Nas, bertanya apa pekerjaan saya, menilik baju yang saya kenakan. Kali ini saya hanya memakai celana pendek, t shirt hitam dan blangkon hitam berkuncir.

"Dari kerja atau main nih Pak?", Kang Nas mencoba mencairkan suasana malam itu.
"Main sambil kerja", jawab saya sekenanya
"Maksudnya Pak?"
"Ya kerja saya memang main"
"Dapat duit Pak?"
"Alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah kekurangan duit Kang"
"Lha emang apa kerjaannya Pak?"
"Saya seorang terapis Kang"
"Ooo pantes, nyantai banget ya Pak? Apa saja yang bisa diterapi Pak?"
"Macem-macem Kang. Mulai dari kecanduan rokok, fobia, insomnia, sampai gay juga pernah saya terapi"
"Bisa bantu berhenti merokok Pak? Eh, saya pingin dong"
"Serius?"
"Iya Pak. Dari dulu saya ingin berhenti merokok, tapi sulit banget. Saya sering kepikiran sendiri, ngapain sih duit kok dibakar-bakar. Mending untuk beli susu atau beras"
"Baik Kang Nas, Anda sudah punya modal yang lumayan kuat untuk berhenti merokok. Kalau boleh tahu apa niat baik Anda merokok?"
"Untuk pergaulan sih Pak"
"Betul, untuk pergaulan. Pertanyaan saya kenapa merokok yang dijadikan sarana pergaulan tadi? Kenapa tidak gigit daun, atau ngisepin batu gitu?"

Sejenak Kang Nas termangu. Dia tidak paham maksud pertanyaan saya.
“Baik Kang Nas, pertanyaannya saya ganti. Makanan apa yang paling Anda suka?”
“Ikan asin”
“Kenapa?”
“Ya suka aja”
“Kalau disuruh memilih dengan telur dadar, Anda memilih apa?”
“Tetep ikan asin Pak”
“Kenapa?”
“Ya karena enakan ikan asin”
“Tepat sekali Kang Nas, Anda memilih sesuatu karena merasa sesuatu itu enak. Jadi balik pada pertanyaan pertama tadi. Kenapa Anda merokok?”
“Hehehe, ya karena enak”
“Nah, ituh. Jadi menurut Anda bagaimana caranya agar seorang perokok berhenti menghisap rokoknya?”
“Ngg, rokoknya dibikin gak enak?”
“Nah itu tahu”
“Emang bisa ya Pak?”
“Mau bukti?”
“Mau deh Pak”
“Baik, kita punya waktu sekitar 10 menit dari sini ke rumah saya. Sekarang mana rokoknya?”

***

Sejurus kemudian Kang Nas mengambil rokok dari laci mobilnya. Sebungkus rokok filter yang sepertinya baru saja dibeli. Saya minta dia membaui rokok tersebut, kemudian saya bertanya,
“Bagaimana baunya?”
“Ya harumlah Pak. Seperti normalnya rokok”
“Boleh saya pinjam rokoknya?”
Kemudian dia mengangsurkan rokok tadi ke tangan saya. 

“Nah, sekarang coba cari satu benda yang bagi Anda baunya luar biasa busuk”
“Bangkai tikus Pak”
“Coba sembari nyetir, Anda munculkan gambar tikus mati di benak Anda, dan anehnya bersamaan dengan munculnya gambar tikus mati tadi, baunya yang sangat menyengatpun langsung menusuk hidung Anda”,
sambil memberikan bantuan sugesti tadi, saya menekan pundak kiri Kang Nas.

“Hoeeksss,...!”, kurang dari satu menit saya lakukan induksi, Kang Nas meminggirkan mobilnya, membuka pintu dan muntah-muntah. 
”Sabar Kang, ini belum mulai kok. Silakan atur nafas Anda”
Dan ketika dia sudah bisa mengendalikan dirinya, saya dekatkan rokok ke hidungnya, sambil menekan pundak kirinya sekali lagi, “Nah, sekarang coba cium aroma rokok ini, anehnya baunya sangat busuk seperti bangkai tikus”
“Hoooeeekkkssss!! Ampun Pak!”, kembali dia menepikan mobilnya dan muntah lebih parah dari sebelumnya.
“Enak gak Kang rokok ini sekarang?”
“Ampun Pak, bau banget”
“Kalau semua merk rokok, baik yang ini ataupun yang ada di luaran sana berbau busuk seperti ini, apakah Anda akan terus merokok?”
“Tentu tidak Pak. Saya memilih berhenti merokok sekarang juga. Pak Hari, kalau boleh tahu tadi itu pakai jampe-jampe ya, kok cepet banget rokok ini bisa bau busuk begini?”
“Kalau pakai jampe-jampe, kira-kira kalau dilawan pakai Ayat Kursi bakal menang mana Kang Nas?”
“Ya pastinya Ayat Kursilah”
“Kita buktikan yuk”
“Gak usah Pak, saya percaya ini bukan jampe-jampe. Karena setahu saya kalaupun pakai jampe-jampe efeknya juga tidak akan secepat ini”

Singkat cerita, sisa waktu sebanyak 5 menit saya gunakan untuk menetralisir bau busuk, dan mengunci keinginan Kang Nas untuk berhenti merokok. Sesampainya di rumah, Kang Nas mengucapkan terimakasih berkali-kali karena telah membantunya lepas dari candu nikotin, dan satu hal yang tak saya duga ketika saya mengajak jabat tangan, dia malah mencium tangan saya. “Terima kasih Pak Hari, Bapak sudah membebaskan saya dari ketergantungan rokok yang sudah bertahun-tahun membelenggu saya. Nomor telponnya saya save ya Pak”
Hehehe, ini adalah driver gocar ketiga yang berhenti merokok dalam dua bulan terakhir ini.
***

Sidang Pembaca yang Berbahagia, jika Anda pembelajar atau minimal pemerhati hipnosis atau NLP (Neuro Linguistic Programming) tentu Anda tidak asing dengan teknik yang saya gunakan untuk mengintervensi bau rokok tersebut. Ya, Anda benar, tekniknya adalah collapsing anchor. Anchor yang terprogram dalam pikiran manusia secara sengaja atau tidak ternyata masih dapat dihilangkan dengan salah satu teknik dalam anchor yang bernama Collapsing Anchor tadi. Secara singkat, prinsip penggunaan teknik ini adalah dengan membuat sebuah anchor (kinestetik, yaitu tekanan di pundak kiri, ketika klien diminta membayangkan bau tikus mati). Jadi setelah anchor ini terpasang, maka kapanpun pundak kiri klien ditekan, secara otomatis bau busuk akan muncul dengan sendirinya. Proses peng-collaps-an terjadi ketika saya sodorkan bungkus rokok (yang seharusnya harum menurut persepsi klien), dan dalam waktu bersamaan sata tekan pundak kiri, maka pikiran bawah sadar manusia yang sangat cerdas itu langsung memberi makna bahwa bau busuk tersebut keluar dari rokok yang saya sodorkan. Gampang bukan?
***

Nah,  sekarang saya akan jawab pertanyaan Kang Nas, yang mungkin juga menjadi pertanyaan Anda, “Kok cepet banget?”
  1. Baju yang saya kenakan malam itu sudah merupakan sebuah ‘framing’, atau ‘pacing’ yang sangat kuat. Ditambah aroma melati yang selalu saya pakai. 
  2. Waktu tengah malam juga menambah kuat pacing saya. Anda bayangkan, tengah malam mendapat penumpang seperti saya, dengan aroma melati, sudah dipastikan kalau bukan hantu, maka ini ‘bukan’ orang yang sembarangan 
  3. Awalnya bisa jadi Kang Nas merasa takut, namun ketika tahu bahwa saya adalah manusia dan bukan hantu, rasa takutnya bergeser menjadi TRUST. Ketika orang sudah trust kepada kita, maka akan mudah bagi kita nge-lead mereka.
  4. Retorika pertanyaan di awal sudah lumayan membombardir pikirannya sehingga concious mindnya overloaded.
  5. Lepas dari semua itu, keinginan kuat Kang Nas untuk berhenti merokok sehingga dia bisa menggunakan uang rokok untuk membeli susu atau beras merupakan modal utama dari sesi singkat tadi malam.
  6. Tanpa perlu mengikuti pelatihan hipnosispun, selama Anda bisa mengikuti langkah-langkah dan tips yang saya berikan dalam tulisan ini, Anda akan mampu membantu orang terdekat Anda untuk berhenti merokok.
  7. Kalau Anda masih bingung, ya mending ikuti saja pelatihan Fundamental Hipnosis yang akan saya lakukan di Medan, pada tanggal 16 Desember 2018

Sila tebar jika manfaat

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Artikel Unggulan

PBS & SATPAM

Tahukah Kawan, bahwa ternyata otak manusia memerlukan energi yang sangat besar ketika beroperasi (berpikir). Ketika kita memikirkan sebuah ...