POSTINGAN POPULER

Tuesday, November 06, 2018

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai keuntungan mengkonsumsi pete, saya sudah menjadi 'pete mania'. Ibarat kata saya ditawarin makan pete atau sate, saya pasti memilih sate, sama pete! Wkwkwk

Istri sayapun mahfum bahwa isi kulkas boleh kosong dari telur, daging atau ikan, tapi tak boleh absen dari sayur yang namanya pete ini! Pagi ini saya cek stok pete di kulkas, dan ternyata tersisa satu papan saja. "Waduh, mesti segera hunting lagi nih", si pete mania dalam diri saja berbisik.

Maka selesai mengantar si bungsu ke sekolahnya, sayapun meluncur ke pasar tradisional yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah anak saya tadi. Di pasar tadi ada beberapa penjual sayur yang biasanya menyediakan pete sebagai dagangan pelengkap mereka. Namun pagi ini rupanya mereka sedang tidak ready stock.

Seingat saya masih ada satu kios di pojok pasar yang malah hanya menjual pete, jengkol dan beberapa buah tertentu. Biasanya kios ini buka agak siang, jadi kalau saya datang pagi sehabis mengantar anak sekolah tadi, kios tadi belum buka. Untunglah pagi ini, kios tadi sudah buka. Bergegas saya menuju ke pojok pasar, dan betul saja, bapak penjual sedang menyusun pete yang sangat segar serta montok di lapaknya.
"Berapaan petenya Pak?"
"Tujuh ribu saja Mas", jawabnya dengan logat Jawa yang sangat kental
Menyadari ternyata penjualnya adalah orang Jawa, spontan saya menimpalinya dengan bahasa Jawa (tanpa perlu dimedok-medokkan, karena bahasa Jawa saya memang masih medok, meski sudah tinggal lama di ranah Parahiyangan ini)
"Larang men (mahal amat) Pak? Biasane mung rong ewuan (biasanya cuma dua ribuan)?"
"Wah mboten wonten pete kok rong ewu, niki sampun arang petenipun (gak ada pete 2 ribuan, pete sudah mulai jarang sekarang ini)", penjual pete tadi berargumen.

Sejurus kemudian saya sengaja mengajak dia mengobrol menggunakan bahasa Jawa, selain karena saya juga merindukan obrolan Jawa ini, juga ada satu maksud terselebung, yaitu melakukan pendekatan batiniah (pace to get connected)

"Asli pundi to Mas, kok saged boso Jowo (Asli mana Mas kok bisa bicara dalam bahasa Jawa)", penjual tadi akhirnya menanyakan asal saya
"Kulo saking Kendal Pak. Lha njenengan? (Saya dari Kendal Pak. Kalau Bapak dari mana?)", sembari menjawab, saya balik bertanya
"Oalah jebul tonggo. Kulo ungaran. Lha niki pete ayu-ayu niki nggih saking Ungaran (Oo ternyata kita masih tetangga. Saya dari Ungaran. Pete yang cantik-cantik ini juga dari  Ungaran)", jelas penjual pete tadi bersemangat karena bertemu tetangga jauh di perantauan
"Dados menawi kulo mendet sejinah, terus pinten niki petene? (Jadi kalau saya ambil 10, terus berapa nih)", saya mulai melakukan leading setelah merasa connectedness nya terbangun.
"Lha monggo kagem Mase cekap 35 ewu kemawon (Silakan untuk Anda cukup 35 ribu saja)"
"Alhamdulillah, bonus setunggal nggih (Bonus satu ya)"
"Monggo, kagem tonggo kulo tambahin setunggal (Silakan, untuk tetangga sih saya tambah satu lagi)"
***

Wew, dari harga Rp 77 ribu untuk 11 papan pete, akhirnya saya hanya mengeluarkan kocek Rp 35 ribu sahaja. Apakah penjual pete tadi merugi? Tentu saja tidak! Dia tentu sudah menghitung margin minimal yang akan dia peroleh dengan mengimpor pete dari Ungaran ke Bogor.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa memotong harga drastis 50% lebih pagi ini?

Kalau kita mempelajari NLP (Neuro Linguistic Programming), kita pasti akan dikenalkan pada 4 Pilarnya, yaitu:
1. Outcome Thinking (Menentukan goal)
2. Building Rapport (Jalin Koneksi)
3. Sensory Acuity (Kepekaan Indrawi)
4. Behavior Flexibility (Keluwesan Perilaku)

Sebagai seorang pembelajar NLP, maka dimanapun tempat dan situasi, proses pembelajaran ini akan senantiasa terbawa. Jadi ketika pagi tadi, saya mendengar harga pete yang menurut saya masih terlalu mahal, dalam benak saya langsung terbentuk sebuah goal (pilar pertama). Sederhana saja goalnya, yaitu saya ingin membeli pete dengan harga di bawah 5 ribu.

Kemudian saya mulai menjalin koneksi (pilar kedua) dengan penjual tadi ketika mulai menanyakn harga dll. Dan ketika menyadari ternyata penjualnya orang Jawa (pilar ketiga), maka saya kemudian melanjutkan obrolan menggunakan bahasa Jawa (pilar ke empat)

Dalam menjalin koneksi, ada sebuah teknik ampuh agar bisa segera tercipta keakraban batiniah (connectedness), yaitu teknik Pacing (menyesuaikan)-Leading (mengarahkan).

Pacing dan Leading sangat penting dalam membangun hubungan baik dan menentukan kita berhasil atau tidak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk itulah para pakar komunikasi menyarankan agar kita memahami gambar orang lain dahulu, berempati; baru mereka akan memahami kita. Dalam habit ke 4, Stephen Covey, mengatakan, “pahami dan mengertilah maka Anda akan mengerti orang lain.”

Jangan menunggu orang lain untuk terlebih dahulu melakukan PACING terhadap kita. Kitalah yang harus memulainya.

Indikasi dari proses menyesuaikan adalah perasaan nyaman dan munculnya kepercayaan kepada diri kita dari pasangan komunikasi kita. Untuk melakukan PENYESUAIAN (pacing) kita perlu menggunakan teknik membangun keakraban dan kesamaan model dunia dengannya (Matching). Itulah alasan saya menggunakan bahasa Jawa, dan mengajak penjual tadi mengobrol sejenak sebelum saya menawar petenya.

Sehingga dia merasa nyaman, merasa sama model dunianya, dan searah peta pikirannya. Frequensi emosi yang sama, gerakan tubuh yang sama (Mirroring), tutur kata dan pemilihan kalimat yang sejenis mampu mendorong perasaan dua orang ke dalam sebuah ikatan emosi (connectedness).

Dan ketika sudah terjadi penyesuaian, langkah selanjutnya adalah arahkan. Arahkan komunikasi sesuai dengan harapan dari tujuan ‘untuk apa kita berkomunikasi' yaitu untuk mencapai hasil atau outcome thinking.

Sidang Pembaca yang berbahagia, itulah oleh-oleh saya dari pasar pagi ini, Pete Matching

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...