POSTINGAN POPULER

Wednesday, November 28, 2018

RUBIK & NLP

Kubus Rubik adalah sebuah permainan teka-teki mekanik yang ditemukan pada tahun 1974 oleh pemahat dan profesor arsitektur Hungaria, ErnÅ‘ Rubik.  Kubus ini terbuat dari plastik dan terdiri atas 27 bagian kecil yang berputar pada poros yang terlihat. Setiap sisi dari kubus ini memiliki sembilan permukaan yang terdiri dari enam warna yang berbeda. Ketika terselesaikan/terpecahkan, setiap sisi dari kubus ini memiliki satu warna dan warna yang berbeda dengan sisi lainnya.

Saya mengenal rubik untuk pertama kalinya ketika duduk di bangku SD, beberapa puluh tahun yang lalu. Namun perkenalan itu tidaklah berlangsung lama dikarenakan saya tidak pernah bisa menyelesaikan rubik tadi dengan sempurna. Karena merasa bahwa teka-teki kubus itu terlalu rumit untuk anak seusia saya, maka saya kapok memainkannya. Beberapa tahun yang lalu demam rubik rupanya berulang kembali. Kali ini saya sangat bersemangat memainkan teka-teki ini karena sudah banyak informasi mengenai algoritma pemecahannya. Banyak buku, media masa dan tak ketinggalan youtube juga menyediakan video dalam pelbagai variasi dan kualitasnya.

Berbeda dengan dulu, dimana saya tidak pernah mampu menyelesaikan teka-teki ini meski telah berjuang dalam kurun waktu lama, kini saya mampu menyelesaikan rubik ini dalam hitungan menit. Kenapa bisa terjadi? Karena saya telah menguasai algoritmanya.

Algoritma Rubik
Sebelum memainkan rubik, kita harus mengenali kubus ini dengan baik. Seperti halnya kubus lain, rubik memiliki 6 sisi. Dan untuk memudahkan kita menyebutnya maka kita akan memberi sisi ini nama/label. Saya akan menggunakan istilah aslinya, yaitu bahasa Inggris.

Sisi yang menghadap diri kita biasa disebut Front (F), dan sisi dibaliknya disebut Back (B). Sisi sebelah kanan disebut Right (R), sisi kiri disebut Left (L). Sisi atas disebut Up (U), sisi bawah disebut Down (D)Setiap sisi tersusun atas satu keping tengah yang disebut sebagai Center, 4 kotak sudut yang disebut Corner,  dan 4 keping tengah tepi yang disebut Edge.

Setelah mengenali semua komponen kubus ini maka langkah pertama yang perlu diambil adalah membuat bidang plus (➕) pada sisi D. Kemudian menyelesaikan semua keping D menjadi satu warna. Setelah sisi D ini sempurna, barulah kita bisa melanjutkan pada bagian tengah, dan terakhir bagian atas. Semua pergerakan memutar keping-keping kubus ini sudah dibuatkan polanya untuk kemudian diberi kodifikasi masing-masing. Jika tertulis kode R, itu artinya kita mesti memutar sisi kanan searah jarum jam. Jika R' (R aksen), itu berarti kita diminta memutar sisi kanan berlawanan arah jarum jam. Untuk kode L agak berbeda sedikit karena justru kita diminta memutar sisi kiri berlawanan arah jarum jam. Sebaliknya L' itu artinya memutar sisi kiri searah jarum jam. Pola U dan  F sama dengan R,  sementara B & D sama dengan L.

Demikianlah sekilas algoritma rubik yang jika diikuti dengan baik akan mampu mengantarkan siapapun menjadi juara dunia permainan rubik ini. Baru-baru ini warga Australia terkesima atas rekor dunia yang dipecahkan oleh Feliks Zemdegs asal Melbourne.
Pria 20 tahun itu mememecahkan rekor dunia dalam 3x3x3 konten rubik tradisional dengan waktu penyelesaian adalah 4,73 detik. Wow!
***

NLP
Neuro Linguistic Programming adalah sebuah pendekatan komunikasi,  pengembangan pribadi, dan psikoterapi  yang diciptakan oleh Richard Bandler  dan John Grinder di California, USA pada tahun 1970-an.  
Penciptanya mengklaim adanya hubungan antara proses syaraf (neuro), bahasa (linguistic) dan pola perilaku yang dipelajari melalui pengalaman (programming) dan bahwa hal tersebut dapat diubah untuk mencapai tujuan tertentu dalam kehidupan. Bandler dan Grinder mengklaim bahwa ketrampilan seseorang dapat 'dimodel' menggunakan metodologi NLP kemudian ketrampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Bandler dan Grinder juga mengklaim bahwa NLP dapat mengobati masalah seperti phobia,  depresi, gangguan kebiasaan, penyakit psikosomatik, miopi, alergi, flu dan gangguan belajar, seringkali hanya dalam satu sesi terapi.

Seperti halnya permainan rubik tadi, NLP juga mengajarkan pengenalan kepada diri sendiri. Bahwa setiap individu memiliki sisi mereka masing-masing. Bahwa 'the map is not the territory'. Kita mempelajarinya dalam Peta Model Dunia Manusia  (Human Model of The World). NLP juga mengajarkan algoritma langkah pencapaian yang dimulai dari pengenalan presuposisi, perencanaan matang (WFO), pola bahasa, sampai ke teknik-teknik yang terjamin ampuh dalam mencapai WFO. Secara singkat bisa disimpulkan bahwa NLP merupakan sebuah teknik agar manusia bisa memperoleh kualitas kehidupan yang mereka inginkan, yaitu BAHAGIA. Maka beberapa buku NLP yang beredar di masyarakat juga tak luput dari branding pencapaian hidup bahagia ini. Sebut saja buku tulisan Teddi Prasetya Yuliawan yang berjudul The Art of Enjoying Life, atau buku Hingdranata Nikolay yang berjudul Be Happy, Get The Life You Want. Kedua buku ini mengulas aplikasi NLP dalam mencapai hidup yang bahagia.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tanpa belajar NLP, kita tidak akan bahagia? Tentu saja tetap bisa, namun tanpa memahami algoritma pikiran kita, mungkin kita membutuhkan waktu yang sangat lama dalam menggapainya. Syukur-syukur kalau kita dikaruniakan umur panjang, sehingga bisa mengeksplor rahasia hidup bahagia tadi.
Kembali pada permainan rubik tadi, tanpa mengenal algoritmanya maka kita memerlukan waktu panjang untuk menyelesaikan ke enam sisinya. Dengan mengenal algoritmanya, terbukti bahwa Feliks Zemdegs mampu menyelesaikan semua sisinya hanya dalam waktu 4,73 detik.

Nah, bagi Anda yang mengharapkan kehidupan yang bahagia, kini Anda tahu apa yang mesti Anda lakukan. Kenalilah algoritma hidup bahagia tadi.

Tanggal 6-10 Maret  2018, Cafe Therapy akan menghelat acara perkenalan pada algoritma hidup bahagia ini berupa camp NNLP Basic, Master hingga Trainer di Grand Mutiara Hotel Cipayung Bogor. Selama 5 hari kita akan berkemah dan saling mengenal satu sama lain sambil mempelajari sejarah, pilar, presuposisi, WFO hingga aplikasi teknik dalam kehidupan sehari-hari. Malam harinya kita akan mempraktekkan keilmuan ini untuk membantu memberdayakan masyarakat sekitar mendapatkan kualitas hidup yang mereka inginkan.

Menarik bukan? Jangan sampai ketinggalan, you are the one.
Tunggu apalagi, segera hubungi nomor kontak di bawah ini, karena seat yang tersedia hanya untuk 20 peserta saja.

- Mas Joko: +62817878337
- Mas Kono: +6287872152653

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer

Tuesday, November 06, 2018

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai keuntungan mengkonsumsi pete, saya sudah menjadi 'pete mania'. Ibarat kata saya ditawarin makan pete atau sate, saya pasti memilih sate, sama pete! Wkwkwk. Istri sayapun mahfum bahwa isi kulkas boleh kosong dari telur, daging atau ikan, tapi tak boleh absen dari sayur yang namanya pete ini! Pagi ini saya cek stok pete di kulkas, dan ternyata tersisa satu papan saja. "Waduh, mesti segera hunting lagi nih", si pete mania dalam diri saja berbisik.

Maka selesai mengantar si bungsu ke sekolahnya, sayapun meluncur ke pasar tradisional yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah anak saya tadi. Di pasar tadi ada beberapa penjual sayur yang biasanya menyediakan pete sebagai dagangan pelengkap mereka. Namun pagi ini rupanya mereka sedang tidak ready stock. Seingat saya masih ada satu kios di pojok pasar yang malah hanya menjual pete, jengkol dan beberapa buah tertentu. Biasanya kios ini buka agak siang, jadi kalau saya datang pagi sehabis mengantar anak sekolah tadi, kios tadi belum buka. Untunglah pagi ini, kios tadi sudah buka. Bergegas saya menuju ke pojok pasar, dan betul saja, bapak penjual sedang menyusun pete yang sangat segar serta montok di lapaknya. 
"Berapaan petenya Pak?"
"Tujuh ribu saja Mas"
, jawabnya dengan logat Jawa yang sangat kental
Menyadari ternyata penjualnya adalah orang Jawa, spontan saya menimpalinya dengan bahasa Jawa (tanpa perlu dimedok-medokkan, karena bahasa Jawa saya memang masih medok, meski sudah tinggal lama di ranah Parahiyangan ini)
"Larang men (mahal amat) Pak? Biasane mung rong ewuan (biasanya cuma dua ribuan)?"
"Wah mboten wonten pete kok rong ewu, niki sampun arang petenipun (gak ada pete 2 ribuan, pete sudah mulai jarang sekarang ini)",
penjual pete tadi berargumen.

Sejurus kemudian saya sengaja mengajak dia mengobrol menggunakan bahasa Jawa, selain karena saya juga merindukan obrolan Jawa ini, juga ada satu maksud terselebung, yaitu melakukan pendekatan batiniah (pace to get connected)
"Asli pundi to Mas, kok saged boso Jowo (Asli mana Mas kok bisa bicara dalam bahasa Jawa)", penjual tadi akhirnya menanyakan asal saya
"Kulo saking Kendal Pak. Lha njenengan? (Saya dari Kendal Pak. Kalau Bapak dari mana?)", sembari menjawab, saya balik bertanya
"Oalah jebul tonggo. Kulo ungaran. Lha niki pete ayu-ayu niki nggih saking Ungaran (Oo ternyata kita masih tetangga. Saya dari Ungaran. Pete yang cantik-cantik ini juga dari  Ungaran)", jelas penjual pete tadi bersemangat karena bertemu tetangga jauh di perantauan
"Dados menawi kulo mendet sejinah, terus pinten niki petene? (Jadi kalau saya ambil 10, terus berapa nih)", saya mulai melakukan leading setelah merasa connectedness-nya terbangun.
"Lha monggo kagem Mas-e cekap 35 ewu kemawon (Silakan untuk Anda cukup 35 ribu saja)"
"Alhamdulillah, bonus setunggal nggih (Bonus satu ya)"
"Monggo, kagem tonggo kulo tambahin setunggal (Silakan, untuk tetangga sih saya tambah satu lagi)"

***

Wew, dari harga Rp 77 ribu untuk 11 papan pete, akhirnya saya hanya mengeluarkan kocek Rp 35 ribu sahaja. Apakah penjual pete tadi merugi? Tentu saja tidak! Dia tentu sudah menghitung margin minimal yang akan dia peroleh dengan mengimpor pete dari Ungaran ke Bogor. Lalu apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa memotong harga drastis 50% lebih pagi ini?

Kalau kita mempelajari NLP (Neuro Linguistic Programming), kita pasti akan dikenalkan pada 4 Pilarnya, yaitu:
  1. Outcome Thinking (Menentukan goal) 
  2. Building Rapport (Jalin Koneksi) 
  3. Sensory Acuity (Kepekaan Indrawi)
  4. Behavior Flexibility (Keluwesan Perilaku)

Sebagai seorang pembelajar NLP, maka dimanapun tempat dan situasi, proses pembelajaran ini akan senantiasa terbawa. Jadi ketika pagi tadi, saya mendengar harga pete yang menurut saya masih terlalu mahal, dalam benak saya langsung terbentuk sebuah goal (pilar pertama). Sederhana saja goalnya, yaitu saya ingin membeli pete dengan harga di bawah 5 ribu. Kemudian saya mulai menjalin koneksi (pilar kedua) dengan penjual tadi ketika mulai menanyakn harga dll. Dan ketika menyadari ternyata penjualnya orang Jawa (pilar ketiga), maka saya kemudian melanjutkan obrolan menggunakan bahasa Jawa (pilar ke empat)

Dalam menjalin koneksi, ada sebuah teknik ampuh agar bisa segera tercipta keakraban batiniah (connectedness), yaitu teknik Pacing (menyesuaikan)-Leading (mengarahkan).
Pacing dan Leading sangat penting dalam membangun hubungan baik dan menentukan kita berhasil atau tidak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk itulah para pakar komunikasi menyarankan agar kita memahami gambar orang lain dahulu, berempati; baru mereka akan memahami kita. Dalam habit ke 4, Stephen Covey, mengatakan, “pahami dan mengertilah maka Anda akan mengerti orang lain.”

Jangan menunggu orang lain untuk terlebih dahulu melakukan PACING terhadap kita. Kitalah yang harus memulainya. Indikasi dari proses menyesuaikan adalah perasaan nyaman dan munculnya kepercayaan kepada diri kita dari pasangan komunikasi kita. Untuk melakukan PENYESUAIAN (pacing) kita perlu menggunakan teknik membangun keakraban dan kesamaan model dunia dengannya (Mirroring). Itulah alasan saya menggunakan bahasa Jawa, dan mengajak penjual tadi mengobrol sejenak sebelum saya menawar petenya. Sehingga dia merasa nyaman, merasa sama model dunianya, dan searah peta pikirannya. Frequensi emosi yang sama, gerakan tubuh yang sama (Mirroring), tutur kata dan pemilihan kalimat yang sejenis mampu mendorong perasaan dua orang ke dalam sebuah ikatan emosi (connectedness).

Dan ketika sudah terjadi penyesuaian, langkah selanjutnya adalah arahkan. Arahkan komunikasi sesuai dengan harapan dari tujuan ‘untuk apa kita berkomunikasi' yaitu untuk mencapai hasil atau outcome thinking.

Sidang Pembaca yang berbahagia, itulah oleh-oleh saya dari pasar pagi ini, Pete Matching

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
NNLP Master Trainer
www.thecafetherapy.com

Artikel Unggulan

NEW BEHAVIOR GENERATOR

S egala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan. Mental Creation dan physical creation . Proses pertama ...