POSTINGAN POPULER

Friday, August 10, 2018

TAKUT GAGAL

'TAKUT GAGAL'

Menjelang maghrib pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Raden Inten II Lampung Selatan. Segera saya memesan taksi online untuk melanjutkan perjalanan saya menuju rumah mertua, agar bisa langsung istirahat serta mempersiapkan materi untuk seminar NLP Parent Talk di MAN I Tanjungkarang keesokan harinya.
Tak harus menunggu lama, notifikasi di smartphone saya menunjukkan kalau seorang driver segera akan menjemput saya. Namun aneh, tetiba saja dia membatalkan pesanan saya, bahkan sebelum saya sempat berkomunikasi dengannya. Hal seperti ini terulang sampai 2 kali. Ada apa gerangan?

Untunglah driver ke 4 tidak membatalkan pesanan saya, dia bahkan menelpon saya dan berjanji akan sampai bandara kurang dari 5 menit.

Benar saja, sesuai janjinya sebuah Ayla baru berwarna dark silver memberikan kode dim light ketika melihat ciri-ciri yang sudah saya sebutkan dalam pembicaraan per telepon tadi. Baju celana hitam dan topi fedora coklat.

Sambil mengemudi, driver tadi bercerita bahwa seminggu ini sedang terjadi demo para driver online di kota tersebut menuntut kenaikan incentive. Pantesan pesanan saya di-cancel oleh beberapa driver.

Ketika saya tanya kenapa dia tidak ikut demo, dengan simple dia menjawab bahwa dia perlu uang untuk membayar cicilan mobil yang baru sebulan dia beli itu. Obrolan berlanjut pada curcol dia mengenai sistem transportasi online dan konvensional yang memang belum berjalan dengan harmonis di kota ini. Bahkan tanpa disadari dia mulai menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Tentang ketakutannya menghadapi masa depan. Tentang kekhawatiran pada pernikahan. Alasannya sangat klise,  dia takut gagal!

Mendengar curcol seperti ini, naluri coach yang sudah saya asah bertahun-tahun langsung terusik. Dan saya memulai proses informal coaching dengan mengajukan pertanyaan sederhana, "Mas, Anda tahu gak apa lawan kata dari takut gagal?"
"Mmm, apa ya? Takut sukses?", jawabnya tergagap, tidak menyadari bakal mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Bukan Mas", jawab saya singkat
"Berani sukses", jawabnya lagi, ragu
"Itu nanti langkah selanjutnya Mas, untuk memulai sebuah gerakan atau tindakan, kita mesti 'berani gagal' dulu", kata saya mulai menggeser paradigma 'takut gagal'-nya.
"Tapi kenapa mesti berani gagal Pak, apa bedanya dengan takut gagal?"
"Nah, coba Anda ucapkan sendiri, aku takut gagal. Rasakan. Aku berani gagal. Rasakan bedanya"

Dhueng, seperti baru terantuk palu Thor,  sahabat baru saya tadi tersadar. "Benar juga Pak. Ketika saya mengucap takut gagal, maka tidak ada tenaga dan keberanian untuk mencoba. Yang ada di benak saya justru sebuah kegagalan. Ketika mengucap berani gagal, kok terasa ada sebuah keberanian mencoba. Sebuah rencana. Berhasil atau gagal itu urusan belakangan", katanya sambil tersenyum.
"Nah....!"
***

Sidang Pembaca yang budiman, bisa Anda bayangkan apa yang bakal terjadi kepada orang-orang yang memiliki belief awal 'takut gagal' ini. Sepanjang hidup, mereka akan dicengkeram oleh sebuah keyakinan yang salah, atau istilah kerennya adalah limiting belief. Sepanjang kehidupan mereka, yang akan terjadi adalah 'procastination' atau penundaan berkepanjangan berdasarkan pada ribuan alasan.

"Gue belum siap!"
"Aku terlalu muda!"
"Saya terlalu tua!"
"Ilmu saya belum cukup!"

Dan masih banyak seabrek alasan lain, yang pada dasarnya sebenarnya adalah metastase dari  limiting belief "Aku takut gagal!"

Maka untuk mulai melangkahkan kaki, hal yang perlu kita dobrak adalah limiting belief tersebut. Tak perlu membuat retorika pikiran yang rumit, cukup ganti kata 'takut' dengan lawan katanya, yaitu 'berani',  untuk kemudian biarkan pikiran bawah sadar kita memaknainya sendiri.

Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) ada sebuah presuposisi (asumsi dasar berpikir) yang mengatakan 'Sebenarnya tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah sebuah ampan balik. Dan umpan balik hanyalah sebuah informasi biasa'. Maka berpegang pada presuposisi ini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan, orang yang takut gagal adalah orang yang takut menerima umpan balik. Demikian juga sebaliknya, orang yang berani gagal adalah orang yang berani menerima umpan balik. Gitu aja kok repot!
***

Sidang Pembaca yang budiman, tentunya kita sependapat bahwa rejeki kita telah diatur dengan sangat rancak oleh Allah Sang Pemberi Rejeki. Maka tak ada lagi alasan bagi kita untuk khawatir serta cemas menghadapi kehidupan kita. Berikut saya cuplikan sebuah kisah menarik tentang bughat.

Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetaskan seekor burung kecil yang disebut 'bughat'. Ketika sudah besar dia akan menjadi gagak (ghurab).

Anak burung gagak ini ketika baru menetas kulitnya berwarna putih, bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Sang induk tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga ia tidak mau memberi makan. Sang induk hanya akan mengintainya dari kejauhan saja.

Burung kecil malang yang baru menetas ini tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum…?

Allah Yang Maha Pemberi Rejeki yang menanggung rejekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan AROMA busuk (feromon) tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak yang dapat mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Maka berdatanganlah berbagai macam ulat dan serangga sesuai dengan kebutuhan anak gagak tersebut. Sesampai di sarang burung gagak, dengan mudah bughat akan menyantap serangga dan ulat tadi.
Masya Allah…

Keadaan seperti ini akan berulang sampai  bulunya tumbuh, sehingga warna bughat menjadi hitam.

Menyadari perubahan ini barulah sang induk gagak mengetahui kalau bughat adalah anaknya dan ia pun mau memberi makan hingga bughat tumbuh dewasa dan bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Raziq, Yang Maha Menjamin Rezeki…

Kalau bughat saja berani menghadapi hidupnya, apakah ada di antara Anda yang masih takut gagal!

Saya akhiri tulisan ini dengan quote terkenal dari Henry Ford.

“Whether you think you can, or you think you can’t, you’re probably right.”

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...