POSTINGAN POPULER

Saturday, August 18, 2018

"Liatin Duitnye Tong!"

Moment tujuhbelasan seperti sekarang ini selalu meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita yang mampu mensyukuri kemerdekaan bangsa ini. Bayangkan saja seandainya para pemuda waktu itu tidak menculik dan memaksa Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, bisa jadi kehidupan berbangsa kita masih didikte oleh bangsa penjajah. Seandainya saja Bung Karno dan Bung Hatta tidak memiliki nyali untuk mewakili seluruh rakyat Indonesia, bisa jadi kita juga masih belum berhasil menentukan masa depan kita sendiri. Jika saja para pahlawan itu tidak berjuang secara marathon mengusir para penjajah, mungkin saja nasib kita sekarang tak jauh beda dengan masyarakat negara miskin di belahan benua Afrika sana. Melarat & kere!

Maka demi merayakan kebebasan ini, demi mensyukuri nikmat dari Sang Pencipta alam semesta ini, setiap tujuhbelasan selalu saja ada peringatan yang menarik hati. Dimulai dari malam tasyakuran, upacara bendera memeringati detik-detik proklamasi kemerdekaan dan tak lengkap semua suasana kegembiraan itu tanpa adanya perlombaan-perlombaan rakyat.

Balap karung, makan kerupuk, balap kelereng, sepak bola sarung merupakan lomba yang biasa menyemarakkan peringatan kemerdekaan bangsa kita. Dan tentunya tak lengkap semua lomba tadi tanpa perlombaan panjat pinang. Semua orang, tua muda akan berkelompok untuk memanjat batang pinang yang telah dilumuri oli terlebih dahulu, guna meraih hadiah yang tergantung pada puncaknya. Baju, celana, panci, wajan, radio, bahkan kadang sepeda menjadi motivasi para peserta untuk memanjat batang pinang super licin tersebut.
***

Beberapa tahun yang lalu ketika masih berkantor di bilangan Pulogadung, dalam perjalanan pulang, saya melihat ada perlombaan yang mirip dengan panjat pinang di seputaran Kalimalang. Sarana yang digunakan juga sama, yaitu batang pohon pinang yang dilumuri oli. Bedanya batang ini tidak ditegakkan, namun diletakkan melintang, menjadi semacam titian di atas selokan Kalimalang yang berjarak sekitar 5 meter. Di atas titian itu ada tali membentang, sejajar dengan batang pinangnya, yang menjadi tempat umtuk mencantolkan kantong plastik berisikan uang kertas. Semakin ke tengah maka terlihat besaran uang kertasnya semakin tinggi.  Pada jarak sekitar 1,5 m dari masing-masing tepian selokan terlihat hanya pecahan 10 ribuan, kemudian kira-kira berjarak 30 cm tergantung plastik berisi pecahan 20 ribuan, selanjutnya pecahan 50 ribuan dan tepat di tengah titian, di atasnya tergantung pecahan 100 ribuan. Menurut warga sekitar perlombaan ini dinamakan Titian Pinang, dan peserta yang diijinkan ikut hanya anak SD serta SMP.
***

Melihat keramaian di sepanjang selokan Kalimalang, yang membuat jalanan semakin macet sore itu, tak urung saya memarkirkan mobil saya di sebuah masjid, sekalian menumpang shalat ashar, untuk kemudian mengamati tontonan gratis setahun sekali itu.

Saya melihat ada 3 batang pinang yang diletakkan melintang, dan di sekitarnya terlihat kerumunan anak kecil yang memakai celana pendek, sebagian masih memakai kaos, sebagian lagi sudah bertelanjang dada, duduk di pinggir selokan. Wajah-wajah mereka terlihat capek dan tersirat gambaran putus asa. Sementara batang-batang pinang tadi masih tegar melintang, tak bergeming. Hanya olesan olinya pada satu meter pertama dari pinggir selokan yang terlihat sudah tak karuan, menandakan sudah banyak bocah yang mencoba menitinya, dan gagal!  Bocah-bocah tadi pastinya terpeleset dan tercebur di selokan Kalimalang yang berwarna coklat pekat itu.

Usai rehat sejenak sore itu, beberapa bocah mencoba lagi untuk meniti batang pinang tadi, demi menjangkau plastik-plastik berisi pecahan rupiah di atasnya. Seorang anak berbadan gempal, kira-kira berumur 12 tahun mulai menapakkan kaki kanan telanjangnya pada batang pinang pertama. Sambil matanya fokus menatap batang pinang tadi. Mencari pijakan yang kuat untuk kaki kirinya. Namun belum juga mendapatkan satu langkah, begitu kaki kirinya menginjak batang pinang, dia langsung terpelanting mencebur ke selokan. Byurrr! 

Dari seberang batang pinang pertama berdiri bersiap seorang anak yang lumayan jangkung, untuk usianya yang kira-kira 11 tahun. Kedua kakinya langsung bertumpu pada ujung batang pinang. Matanya tertumbuk pada batang pinang di depannya. Kengerian kawan-kawan yang terpeleset dan terpelanting jelas tergambar di matanya. Dan benar saja, ketakutannya tadi mewujud menjadi petaka kecil. Belum sempat melangkah, dia sudah kehilangan keseimbangan. Bak ilalang yang tersapu badai, tubuh jangkungnya tumbang menghantam batang pinang kemudian menyusur selokan. Pletak, ceburrrr...!

Pada pinang kedua terlihat seorang anak tanggung berusia kira-kira 12 tahun yang mencoba gaya kepiting. Dia beringsut menyamping, berharap dengan telapak kaki menyilang batang pinang seperti itu, keseimbangannya akan lebih stabil. Kedua matanya berusaha fokus pada batang pinangnya, meski dia agak kesulitan melakukannya dengan posisi miring tersebut.
Rupanya teknik ini lumayan berhasil. Anak tanggung ini berhasil beringsut sejauh setengah meter. Namun dengan posisi kepala meleng miring begitu rupanya membuatnya cepat kelelahan, sehingga pada langkah selanjutnya, dia juga terpeleset. Byurr lagi!

Dari seberang pinang kedua, seorang anak kecil, mungkin baru berumur 9 atau 10 an juga mencoba teknik lain. Dia berjongkok, dan menjadikan kedua tangan sebagai penyeimbang pada batang pinangnya. Sejengkal demi sejengkal anak kecil ini berhasil merambat menyusuri batang pinang. Penonton bersorak riuh memberikan semangat. Luar biasa, anak ini berhasil merayap sampai batas uang pecahan 10 ribuan. Namun naas, ketika mencoba berdiri untuk meraih uang tadi, dia kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam selokan. Grusak, cburrr...!

Pada batang ketiga, di kedua ujungnya bersiap dua bocah tanggung usia 12-13 tahunan. Mereka tersenyum getir menyaksikan kawan-kawannya yang semuanya tumbang. Terjatuh ke air selokan berwarna coklat pekat itu. Mata mereka menatap nanar pada kantong-kantong plastik berisi pecahan uang kertas yang masih utuh, tak tersentuh satu pesertapun semenjak perlombaan ini dimulai pukul 11 tadi pagi. Saya yakin mereka sangat berharap bisa mengambil minimal selembar uang kertas itu dengan nilai berapapun. Saya bisa melihat tatapan penuh harap itu berpendar dari mata kedua bocah itu. Pun, bocah-bocah lain yang telah tumbang pastinya juga mengharap hal sama. Namun peristiwa jatuhnya kawan-kawan lain menyisakan kengerian tersendiri dalam benak kedua bocah tadi. Sehingga alih-alih bergerak, mereka justru mematung di ujung batang pinang. Hening.

Tetiba saja entah muncul dari arah mana, menyeruak seorang lelaki tua ke tengah kerumunan penonton. Kakek itu mengenakan baju khas Betawi: celana komprang hitam, kaos oblong putih dan ikat pinggang lebar berwarna hijau, serta peci berwarna marun kusam. Kakek itu berteriak, "Bener gituh Tong. Liatin duitnye, jangan liatin olinye! Pikirin lu pade bisa beli ape pake duit ntu. Terus ngibrit sono. Amprok duitnye!"

Entah karena kaget, atau karena saking putus asanya, kedua bocah tadi seolah terkena hipnotis sang kakek. Mereka berlari secepat-cepatnya dengan mata tetap nanar menatap kantong-kantong plastik berisi uang tadi. Penonton bersorak seru memberi semangat.
Keajaibanpun  terjadi, salah satu dari bocah tadi berhasil menyabet uang 10 ribuan, meski kemudian tercebur juga.

Penonton bertempik sorak makin seru. Telur berhasil dipecahkan. Teknik telah ditemukan. Kerumunan bocah di pinggir selokan yang awalnya patah arang, mulai memberanikan diri untuk mencoba lagi. Semua bocah tadi mengikuti teriakan sang kakek, yang kini telah menjadi koor masal para penonton, "Liatin duitnye Tong! Liatin duitnye Tong!"

Tak menunggu lebih dari satu jam, semua kantong plastik telah terenggut dengan sempurna. Amblas tak bersisa. Para bocah senang mendapatkan uang yang jumlahnya lebih dari uang jajan mereka. Panitia puas karena akhirnya lomba ini berakhir sempurna, dan mereka bisa pulang dengan tenang. Anehnya sang kakek telah raib entah kemana, karena semenjak ada bocah yang berhasil meraup kantong plastik tadi, semua perhatian tertuju pada ketiga batang pinang lagi. Tak ada satu orangpun yang menyadari siapa kakek tadi, dan kemana dia pergi.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, ada beberapa pelajaran menarik saya saya peroleh dari pengamatan saya sore itu:

1. Fokus pada tujuan (bukan pada aral) akan memberikan kita energi luar biasa untuk maju
2. Jika apa yang kita lakukan belum berhasil, maka coba cara yang lain
3. Setiap pengalaman memiliki polanya tersendiri
4. Kita memiliki sumberdaya yang kita butuhkan untuk sukses, bukan orang lain
5. Jika satu orang bisa melakukannya, maka yang lain juga pasti bisa

Ups, sebentar Kawan, bukankah poin nomor 1 itu biasa disebut sebagai WFO atau Well Formed Outcome dalam NLP (Neuro Linguistic Programming). Bahwa penentuan sebuah tujuan merupakan sebuah hal maha penting sebelum seseorang melakukan sebuah tindakan.  Dan agar menjadi mudah serta akurat dalam pencapaiannya, maka WFO mesti disusun mengikuti kaidah  cara berpikir manusia atau humand mind friendly.

Dan poin 2-5 ternyata merupakan presuposisi atau pikiran-pikiran dasar seseorang  yang dirasa benar dan diyakini begitu saja sebelum melakukan sebuah tindakan.

Bila dipandang dari dunia IT, Presuposisi NLP ini ibaratnya operasional sistem (OS) pada komputer. Maka setiap aplikasi atau softwafe yang dijalankan pada komputer tersebut tidak akan berjalan apabila tidak ada basic operasional sistemnya. Misalkan windows, mac, linux merupakan bentuk dari Operational System (OS) yang kemudian bisa dipasang berbagai aplikasi lain seperti office, KMP, browser, coreldraw, photoshop, dll. Tidaklah mungkin suatu aplikasi berjalan sendirinya tanpa OS yang melatar belakanginya kan? Begitupula dengan beragam teknik NLP, tidak akan berjalan tanpa berlandaskan asumsi atau presuposisi ini.

Oalah, ternyata NLP itu begitu nyata tergambar dalam peristiwa sehari-hari ya? Mungkin saja sang kakek penyeru itu tidak sadar bahwa seruannya memunculkan sebuah tujuan, menciptakan WFO untuk bocah-bocah Kalimalang tersebut. Bisa jadi bocah-bocah tadi juga tidak memahami kaidah-kaidah WFO ataupun presuposisi NLP,  karena saya yakin mereka juga belum belajar NLP. Tapi lihatlah bagaimana impactnya dalam perlombaan sore itu.

Bayangkan apa yang bakal terjadi pada orang-orang yang dengan sengaja memelajari keilmuan NLP ini dengan benar dan baik! Sudah banyak kok contohnya di dunia ini. Sebut saja Lady Diana, Nelson Mandela,  Andre Agasi, bahkan Obama!  Mereka adalah tokoh-tokoh yang sukses pada bidang mereka masing-masing dengan taraf internasional.

Kalau mereka saja belajar NLP,  bagaimana dengan Anda?

Tersisa 5 seat lagi untuk kelas sertifikasi Nasional NNLP yang akan kami selenggarakan pada tanggal 25-26 Agustus 2018 bertempat di hotel bintang 4plus, yaitu Grand Keisha by HORISON Yogyakarta.

Daftarkan diri Anda sekarang, atau Anda akan menyesal selamanya.

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Profesional Hypnotherapist
NLP Trainer
WA 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...