POSTINGAN POPULER

Wednesday, August 22, 2018

E KO LOGIS

Dalam sebuah seminar parenting ada pertanyaan dari seorang ibu muda terkait pemaparan saya mengenai salah satu syarat cita-cita yaitu ekologis.
Syarat ekologis akan membuat sebuah goal lebih mind friendly. Lebih mudah dipahami oleh pikiran kita dan lebih mudah bagi tubuh untuk menggapainya karena sadar bahwa tubuh fisik dan mental tetap akan aman dalam mengejarnya.
Ibarat hama sawah yaitu tikus dan ular, yang paling ditakuti petani pastilah ular. Namun petani tidak akan serta merta membasmi semua ular di sawah karena ketika semua ular musnah maka tikus akan merajalela. Itulah sistem keseimbangan lingkungan atau ekologi.
***

Dari barisan peserta, tetiba saja ada seorang ibu muda yang mengacungkan tangan, dan bertanya, "Pak Hari saya pernah mengikuti training motivasi dan motivatornya mengatakan jangan pernah menurunkan target kita, namun tambahlah power kita agar sebuah cita cita bisa dicapai. Kok berbeda dengan pemaparan Anda yang perlu memikirkan aspek ekologis ini. Mana yang benar Pak?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya minta ibu tadi maju ke stage, bersama dengan seorang laki laki kecil dan seorang laki laki tegap. Kemudian saya minta mereka secara bergantian untuk mengangkat sofa besar yang ada di stage. Bapak tegap dengan mudah mengangkat sofa tersebut, mas kecil agak kepayahan mengangkat sofa tadi. Hanya sebentar terangkat langsung dijatuhkan dengan berdebam. Keringat dingin mengucur dari ibu muda tadi. Dia berusaha mengangkat sofa tersebut namun hanya terangkat sebagian.

"Bagaimana Ibu, bisa mengangkat sofa ini?", tanya saya. 
"Emmm berat Pak.", jawabnya sambil tersenyum kecut. 
"Seandainya saya berikan motivasi sampai subuh untuk meningkatkan power Ibu, kira kira sofa ini bakal terangkat nggak?", tanya saya lagi. 
"Mmm sepertinya sih gak bisa Pak",  jawabnya sambil geleng geleng kepala. 
"Kalau saya beri waktu sebulan untuk latihan angkat berat, apakah bulan depan Ibu bakal kuat mengangkat sofa ini?" 
"Mungkin bisa Pak"
"Bagus. Namun coba perhatikan tubuh Ibu yang kecil ini, kalaupun sofa ini terangkat, kira-kira apakah tubuh Ibu akan tetap sehat dan selamat?"
"Mmmmm, bisa jadi terkilir atau patah tulang karena bebannya terlalu berat"
"Nah, kalau Mas kecil, kalau diberi waktu sama dengan ibu ini apakah akan mampu mengangkat sofa ini lebih lama?", saya beralih bertanya ke laki laki dengan tubuh kecil.
"In syaa Allah bisa Pak", jawabnya mantab
"Dan tetap selamat?",  kejar saya lagi
"Yup, saya yakin.",  jawabnya lagi

"Nah,  ini yang saya sebut ekologis Bu. Target berhasil dicapai dan kondisi kita tetap aman dan afiat", saya mencoba mengambil kesimpulan dari pertanyaan ibu tadi.
"Kalau begitu motivator itu salah dong Pak?", ternyata ibu tadi belum puas dengan jawaban saya
"Wah, saya tidak berani mengatakan apakah dia salah atau benar. Sekarang kalau lain kali kita ketemu lagi apakah Ibu akan bersedia mengangkat sofa ini lagi. Atau memilih kursi yang lebih kecil ini?", tanya saya sambil menunjuk kursi kecil pendamping kiri kanan sofa besar itu.
"Ya saya memilih yang kecil saja Pak"
"Kenapa?"
"Mmm karena lebih eko.... ekologis Pak"
, jawabnya terbata dan tersipu
"Nah.... "

E.. ko' logis ya penjelasannya...

Silakan tebar bila manfaat

Tabik

- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Saturday, August 18, 2018

LIATIN DUITNYE


Moment tujuhbelasan seperti sekarang ini selalu meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita yang mampu mensyukuri kemerdekaan bangsa ini. Bayangkan saja seandainya para pemuda waktu itu tidak menculik dan memaksa Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, bisa jadi kehidupan berbangsa kita masih didikte oleh bangsa penjajah. Seandainya saja Bung Karno dan Bung Hatta tidak memiliki nyali untuk mewakili seluruh rakyat Indonesia, bisa jadi kita juga masih belum berhasil menentukan masa depan kita sendiri. Jika saja para pahlawan itu tidak berjuang secara marathon mengusir para penjajah, mungkin saja nasib kita sekarang tak jauh beda dengan masyarakat negara miskin di belahan benua Afrika sana. Melarat & kere!

Maka demi merayakan kebebasan ini, demi mensyukuri nikmat dari Sang Pencipta alam semesta ini, setiap tujuhbelasan selalu saja ada peringatan yang menarik hati. Dimulai dari malam tasyakuran, upacara bendera memeringati detik-detik proklamasi kemerdekaan dan tak lengkap semua suasana kegembiraan itu tanpa adanya perlombaan-perlombaan rakyat.
Balap karung, makan kerupuk, balap kelereng, sepak bola sarung merupakan lomba yang biasa menyemarakkan peringatan kemerdekaan bangsa kita. Dan tentunya tak lengkap semua lomba tadi tanpa perlombaan panjat pinang. Semua orang, tua muda akan berkelompok untuk memanjat batang pinang yang telah dilumuri oli terlebih dahulu, guna meraih hadiah yang tergantung pada puncaknya. Baju, celana, panci, wajan, radio, bahkan kadang sepeda menjadi motivasi para peserta untuk memanjat batang pinang super licin tersebut.
***

Beberapa tahun yang lalu ketika masih berkantor di bilangan Pulogadung, dalam perjalanan pulang, saya melihat ada perlombaan yang mirip dengan panjat pinang di seputaran Kalimalang. Sarana yang digunakan juga sama, yaitu batang pohon pinang yang dilumuri oli. Bedanya batang ini tidak ditegakkan, namun diletakkan melintang, menjadi semacam titian di atas selokan Kalimalang yang berjarak sekitar 5 meter. Di atas titian itu ada tali membentang, sejajar dengan batang pinangnya, yang menjadi tempat untuk mencantolkan kantong plastik berisikan uang kertas. Semakin ke tengah maka terlihat besaran uang kertasnya semakin tinggi.  Pada jarak sekitar 1,5 m dari masing-masing tepian selokan terlihat hanya pecahan 10 ribuan, kemudian kira-kira berjarak 30 cm tergantung plastik berisi pecahan 20 ribuan, selanjutnya pecahan 50 ribuan dan tepat di tengah titian, di atasnya tergantung pecahan 100 ribuan. Menurut warga sekitar perlombaan ini dinamakan Titian Pinang, dan peserta yang diijinkan ikut hanya anak SD serta SMP.
***
Melihat keramaian di sepanjang selokan Kalimalang, yang membuat jalanan semakin macet sore itu, tak urung saya memarkirkan mobil saya di sebuah masjid, sekalian menumpang shalat ashar, untuk kemudian mengamati tontonan gratis setahun sekali itu.
Saya melihat ada 3 batang pinang yang diletakkan melintang, dan di sekitarnya terlihat kerumunan anak kecil yang memakai celana pendek, sebagian masih memakai kaos, sebagian lagi sudah bertelanjang dada, duduk di pinggir selokan. Wajah-wajah mereka terlihat capek dan tersirat gambaran putus asa. Sementara batang-batang pinang tadi masih tegar melintang, tak bergeming. Hanya olesan olinya pada satu meter pertama dari pinggir selokan yang terlihat sudah tak karuan, menandakan sudah banyak bocah yang mencoba menitinya, dan gagal!  Bocah-bocah tadi pastinya terpeleset dan tercebur di selokan Kalimalang yang berwarna coklat pekat itu.

Usai rehat sejenak sore itu, beberapa bocah mencoba lagi untuk meniti batang pinang tadi, demi menjangkau plastik-plastik berisi pecahan rupiah di atasnya. Seorang anak berbadan gempal, kira-kira berumur 12 tahun mulai menapakkan kaki kanan telanjangnya pada batang pinang pertama. Sambil matanya fokus menatap batang pinang tadi. Mencari pijakan yang kuat untuk kaki kirinya. Namun belum juga mendapatkan satu langkah, begitu kaki kirinya menginjak batang pinang, dia langsung terpelanting mencebur ke selokan. Byurrr! 

Dari seberang batang pinang pertama berdiri bersiap seorang anak yang lumayan jangkung, untuk usianya yang kira-kira 11 tahun. Kedua kakinya langsung bertumpu pada ujung batang pinang. Matanya tertumbuk pada batang pinang di depannya. Kengerian kawan-kawan yang terpeleset dan terpelanting jelas tergambar di matanya. Dan benar saja, ketakutannya tadi mewujud menjadi petaka kecil. Belum sempat melangkah, dia sudah kehilangan keseimbangan. Bak ilalang yang tersapu badai, tubuh jangkungnya tumbang menghantam batang pinang kemudian menyusur selokan. Pletak, ceburrrr...!

Pada pinang kedua terlihat seorang anak tanggung berusia kira-kira 12 tahun yang mencoba gaya kepiting. Dia beringsut menyamping, berharap dengan telapak kaki menyilang batang pinang seperti itu, keseimbangannya akan lebih stabil. Kedua matanya berusaha fokus pada batang pinangnya, meski dia agak kesulitan melakukannya dengan posisi miring tersebut.
Rupanya teknik ini lumayan berhasil. Anak tanggung ini berhasil beringsut sejauh setengah meter. Namun dengan posisi kepala meleng miring begitu rupanya membuatnya cepat kelelahan, sehingga pada langkah selanjutnya, dia juga terpeleset. Byurr lagi!

Dari seberang pinang kedua, seorang anak kecil, mungkin baru berumur 9 atau 10 an juga mencoba teknik lain. Dia berjongkok, dan menjadikan kedua tangan sebagai penyeimbang pada batang pinangnya. Sejengkal demi sejengkal anak kecil ini berhasil merambat menyusuri batang pinang. Penonton bersorak riuh memberikan semangat. Luar biasa, anak ini berhasil merayap sampai batas uang pecahan 10 ribuan. Namun naas, ketika mencoba berdiri untuk meraih uang tadi, dia kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam selokan. Grusak, cburrr...!

Pada batang ketiga, di kedua ujungnya bersiap dua bocah tanggung usia 12-13 tahunan. Mereka tersenyum getir menyaksikan kawan-kawannya yang semuanya tumbang. Terjatuh ke air selokan berwarna coklat pekat itu. Mata mereka menatap nanar pada kantong-kantong plastik berisi pecahan uang kertas yang masih utuh, tak tersentuh satu pesertapun semenjak perlombaan ini dimulai pukul 11 tadi pagi. Saya yakin mereka sangat berharap bisa mengambil minimal selembar uang kertas itu dengan nilai berapapun. Saya bisa melihat tatapan penuh harap itu berpendar dari mata kedua bocah itu. Pun, bocah-bocah lain yang telah tumbang pastinya juga mengharap hal sama. Namun peristiwa jatuhnya kawan-kawan lain menyisakan kengerian tersendiri dalam benak kedua bocah tadi. Sehingga alih-alih bergerak, mereka justru mematung di ujung batang pinang. Hening.

Tetiba saja entah muncul dari arah mana, menyeruak seorang lelaki tua ke tengah kerumunan penonton. Kakek itu mengenakan baju khas Betawi: celana komprang hitam, kaos oblong putih dan ikat pinggang lebar berwarna hijau, serta peci berwarna marun kusam. Kakek itu berteriak, "Bener gituh Tong. Liatin duitnye, jangan liatin olinye! Pikirin lu pade bisa beli ape pake duit ntu. Terus ngibrit sono. Amprok duitnye!"
Entah karena kaget, atau karena saking putus asanya, kedua bocah tadi seolah terkena hipnotis sang kakek. Mereka berlari secepat-cepatnya dengan mata tetap nanar menatap kantong-kantong plastik berisi uang tadi. Penonton bersorak seru memberi semangat.
Keajaibanpun  terjadi, salah satu dari bocah tadi berhasil menyabet uang 10 ribuan, meski kemudian tercebur juga.

Penonton bertempik sorak makin seru. Telur berhasil dipecahkan. Teknik telah ditemukan. Kerumunan bocah di pinggir selokan yang awalnya patah arang, mulai memberanikan diri untuk mencoba lagi. Semua bocah tadi mengikuti teriakan sang kakek, yang kini telah menjadi koor masal para penonton, "Liatin duitnye Tong! Liatin duitnye Tong!"
Tak menunggu lebih dari satu jam, semua kantong plastik telah terenggut dengan sempurna. Amblas tak bersisa. Para bocah senang mendapatkan uang yang jumlahnya lebih dari uang jajan mereka. Panitia puas karena akhirnya lomba ini berakhir sempurna, dan mereka bisa pulang dengan tenang. Anehnya sang kakek telah raib entah kemana, karena semenjak ada bocah yang berhasil meraup kantong plastik tadi, semua perhatian tertuju pada ketiga batang pinang lagi. Tak ada satu orangpun yang menyadari siapa kakek tadi, dan kemana dia pergi.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, ada beberapa pelajaran menarik saya saya peroleh dari pengamatan saya sore itu:
  1. Fokus pada tujuan (bukan pada aral) akan memberikan kita energi luar biasa untuk maju
  2. Jika apa yang kita lakukan belum berhasil, maka coba cara yang lain
  3. Setiap pengalaman memiliki polanya tersendiri
  4. Kita memiliki sumberdaya yang kita butuhkan untuk sukses, bukan orang lain
  5. Jika satu orang bisa melakukannya, maka yang lain juga pasti bisa

Ups, sebentar Kawan, bukankah poin nomor 1 itu biasa disebut sebagai WFO atau Well Formed Outcome dalam NLP (Neuro Linguistic Programming). Bahwa penentuan sebuah tujuan merupakan sebuah hal maha penting sebelum seseorang melakukan sebuah tindakan.  Dan agar menjadi mudah serta akurat dalam pencapaiannya, maka WFO mesti disusun mengikuti kaidah  cara berpikir manusia atau human mind friendly.
Dan poin 2-5 ternyata merupakan presuposisi atau pikiran-pikiran dasar seseorang  yang dirasa benar dan diyakini begitu saja sebelum melakukan sebuah tindakan.
Bila dipandang dari dunia IT, Presuposisi NLP ini ibaratnya operasional sistem (OS) pada komputer. Maka setiap aplikasi atau softwafe yang dijalankan pada komputer tersebut tidak akan berjalan apabila tidak ada basic operasional sistemnya. Misalkan windows, mac, linux merupakan bentuk dari Operational System (OS) yang kemudian bisa dipasang berbagai aplikasi lain seperti office, KMP, browser, coreldraw, photoshop, dll. Tidaklah mungkin suatu aplikasi berjalan sendirinya tanpa OS yang melatar belakanginya kan? Begitupula dengan beragam teknik NLP, tidak akan berjalan tanpa berlandaskan asumsi atau presuposisi ini.

Oalah, ternyata NLP itu begitu nyata tergambar dalam peristiwa sehari-hari ya? Mungkin saja sang kakek penyeru itu tidak sadar bahwa seruannya memunculkan sebuah tujuan, menciptakan WFO untuk bocah-bocah Kalimalang tersebut. Bisa jadi bocah-bocah tadi juga tidak memahami kaidah-kaidah WFO ataupun presuposisi NLP,  karena saya yakin mereka juga belum belajar NLP. Tapi lihatlah bagaimana impactnya dalam perlombaan sore itu.

Bayangkan apa yang bakal terjadi pada orang-orang yang dengan sengaja memelajari keilmuan NLP ini dengan benar dan baik! Sudah banyak kok contohnya di dunia ini. Sebut saja Lady Diana, Nelson Mandela,  Andre Agasi, bahkan Obama!  Mereka adalah tokoh-tokoh yang sukses pada bidang mereka masing-masing dengan taraf internasional.
Kalau mereka saja belajar NLP,  bagaimana dengan Anda?

Daftarkan diri Anda sekarang di kelas sertifikasi Nasional NNLP yang  kami selenggarakan rutin stiap bulannya. 

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
Profesional Hypnotherapist
Neo NLP Master Trainer
WA 08179039372

Friday, August 10, 2018

TAKUT GAGAL

Menjelang maghrib pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Raden Inten II Lampung Selatan. Segera saya memesan taksi online untuk melanjutkan perjalanan saya menuju rumah mertua, agar bisa langsung istirahat serta mempersiapkan materi untuk seminar NLP Parent Talk di MAN I Tanjungkarang keesokan harinya. 
Tak harus menunggu lama, notifikasi di smartphone saya menunjukkan kalau seorang driver segera akan menjemput saya. Namun aneh, tetiba saja dia membatalkan pesanan saya, bahkan sebelum saya sempat berkomunikasi dengannya. Hal seperti ini terulang sampai 2 kali. Ada apa gerangan?

Untunglah driver ke 4 tidak membatalkan pesanan saya, dia bahkan menelpon saya dan berjanji akan sampai bandara kurang dari 5 menit.
Benar saja, sesuai janjinya sebuah Ayla baru berwarna dark silver memberikan kode dim light ketika melihat ciri-ciri yang sudah saya sebutkan dalam pembicaraan per telepon tadi. Baju celana hitam dan topi fedora coklat.
Sambil mengemudi, driver tadi bercerita bahwa seminggu ini sedang terjadi demo para driver online di kota tersebut menuntut kenaikan incentive. Pantesan pesanan saya di-cancel oleh beberapa driver.

Ketika saya tanya kenapa dia tidak ikut demo, dengan simple dia menjawab bahwa dia perlu uang untuk membayar cicilan mobil yang baru sebulan dia beli itu. Obrolan berlanjut pada curcol dia mengenai sistem transportasi online dan konvensional yang memang belum berjalan dengan harmonis di kota ini. Bahkan tanpa disadari dia mulai menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Tentang ketakutannya menghadapi masa depan. Tentang kekhawatiran pada pernikahan. Alasannya sangat klise,  dia takut gagal!

Mendengar curcol seperti ini, naluri coach yang sudah saya asah bertahun-tahun langsung terusik. Dan saya memulai proses informal coaching dengan mengajukan pertanyaan sederhana, 

"Mas, Anda tahu gak apa lawan kata dari takut gagal?"
"Mmm, apa ya? Takut sukses?"
, jawabnya tergagap, tidak menyadari bakal mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Bukan Mas", jawab saya singkat
"Berani sukses", jawabnya lagi, ragu
"Itu nanti langkah selanjutnya Mas, untuk memulai sebuah gerakan atau tindakan, kita mesti 'berani gagal' dulu", kata saya mulai menggeser paradigma 'takut gagal'-nya.
"Tapi kenapa mesti berani gagal Pak, apa bedanya dengan takut gagal?"
"Nah, coba Anda ucapkan sendiri, aku takut gagal. Rasakan. Aku berani gagal. Rasakan bedanya"

Dhueng, seperti baru terantuk palu Thor,  sahabat baru saya tadi tersadar. "Benar juga Pak. Ketika saya mengucap takut gagal, maka tidak ada tenaga dan keberanian untuk mencoba. Yang ada di benak saya justru sebuah kegagalan. Ketika mengucap berani gagal, kok terasa ada sebuah keberanian mencoba. Sebuah rencana. Berhasil atau gagal itu urusan belakangan", katanya sambil tersenyum.
"Nah....!"
***

Sidang Pembaca yang budiman, bisa Anda bayangkan apa yang bakal terjadi kepada orang-orang yang memiliki belief awal 'takut gagal' ini. Sepanjang hidup, mereka akan dicengkeram oleh sebuah keyakinan yang salah, atau istilah kerennya adalah limiting belief. Sepanjang kehidupan mereka, yang akan terjadi adalah 'procastination' atau penundaan berkepanjangan berdasarkan pada ribuan alasan.

"Gue belum siap!"
"Aku terlalu muda!"
"Saya terlalu tua!"
"Ilmu saya belum cukup!"

Dan masih banyak seabrek alasan lain, yang pada dasarnya sebenarnya adalah metastase dari  limiting belief "Aku takut gagal!"

Maka untuk mulai melangkahkan kaki, hal yang perlu kita dobrak adalah limiting belief tersebut. Tak perlu membuat retorika pikiran yang rumit, cukup ganti kata 'takut' dengan lawan katanya, yaitu 'berani',  untuk kemudian biarkan pikiran bawah sadar kita memaknainya sendiri.

Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) ada sebuah presuposisi (asumsi dasar berpikir) yang mengatakan 'Sebenarnya tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah sebuah ampan balik. Dan umpan balik hanyalah sebuah informasi biasa'. Maka berpegang pada presuposisi ini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan, orang yang takut gagal adalah orang yang takut menerima umpan balik. Demikian juga sebaliknya, orang yang berani gagal adalah orang yang berani menerima umpan balik. Gitu aja kok repot!
***

Sidang Pembaca yang budiman, tentunya kita sependapat bahwa rejeki kita telah diatur dengan sangat rancak oleh Allah Sang Pemberi Rejeki. Maka tak ada lagi alasan bagi kita untuk khawatir serta cemas menghadapi kehidupan kita. Berikut saya cuplikan sebuah kisah menarik tentang bughat.

Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetaskan seekor burung kecil yang disebut 'bughat'. Ketika sudah besar dia akan menjadi gagak (ghurab).
Anak burung gagak ini ketika baru menetas kulitnya berwarna putih, bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Sang induk tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga ia tidak mau memberi makan. Sang induk hanya akan mengintainya dari kejauhan saja.
Burung kecil malang yang baru menetas ini tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.
Lalu bagaimana ia makan dan minum…?

Allah Yang Maha Pemberi Rejeki yang menanggung rejekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya. Allah menciptakan AROMA busuk (feromon) tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak yang dapat mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Maka berdatanganlah berbagai macam ulat dan serangga sesuai dengan kebutuhan anak gagak tersebut. Sesampai di sarang burung gagak, dengan mudah bughat akan menyantap serangga dan ulat tadi. 

Masya Allah…
Keadaan seperti ini akan berulang sampai  bulunya tumbuh, sehingga warna bughat menjadi hitam. Menyadari perubahan ini barulah sang induk gagak mengetahui kalau bughat adalah anaknya dan ia pun mau memberi makan hingga bughat tumbuh dewasa dan bisa terbang mencari makan sendiri. Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Raziq, Yang Maha Menjamin Rezeki…
Kalau bughat saja berani menghadapi hidupnya, apakah ada di antara Anda yang masih takut gagal!
Saya akhiri tulisan ini dengan quote terkenal dari Henry Ford.
“Whether you think you can, or you think you can’t, you’re probably right.”

Sila tebar jika manfaat

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach

Artikel Unggulan

NEW BEHAVIOR GENERATOR

S egala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu melalui dua proses penciptaan. Mental Creation dan physical creation . Proses pertama ...