POSTINGAN POPULER

Friday, July 13, 2018

SLEIGHT OF MOUTH

Jumat berkah, meski tertanggal 13, namun saya doakan Anda semua berada dalam kondisi yang bergairah, penuh semangat dan dianugerahi rejeki melimpah. Aamiin.
Sidang Pembaca yang Berbahagia, di bawah ini saya sajikan dua cerita yang seolah tidak berhubungan.

'Hak - hak para Kambing'
Suatu hari Bung Sjahrir (mantan Perdana Menteri RI) bersama kawan-kawannya mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan H. Agus Salim (HAS) sebagai  pembicara utamanya.  Tujuan mereka tak lain hanya ingin "mengacaukan" rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka saat itu sedang "genit-genit"nya secara intelektual.
Setiap HAS yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda sosialis liberal tersebut serempak menyahutinya dengan  suara: "embeeekkkkkk". Satu kali didiamkan. Dua kali masih dicuekkan. 

Begitu kali ketiga, embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba HAS mengangkat tangan seraya berkata:
"Tunggu sebentar. Bagi saya, adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan,  agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar  menikmati rumput di lapangan"
***

'Suami Yang Cerdas'
Sepasang suami istri sedang terlibat dalam sebuah perdebatan sengit, namun keduanya sama-sama tak mau mengakui bahwa dirinyalah yang salah.
"Aku akan bilang kalau aku salah," sahut sang istri mencoba mengakhiri perdebatan, "jika kamu mengakui kalau pendapatku benar."
Suaminya setuju dan ia mempersilakan istrinya mengatakannya terlebih dulu.
"Aku salah," kata istrinya
Dengan mata berbinar suaminya segera menjawab, "Ya, kamu benar!"
Hehehehe
***

Sudah tertawanya? Bisa melihat hubungan antara dua kisah di atas? Tidak? Memang tidak ada hubungannya kok, jadi tak perlu Anda pusing mencari-cari hubungannya. Suami itu bukanlah HAS, dan HAS juga bukan merupakan suami yang tak mau salah terhadap istrinya.

Sekarang lupakan sejenak kedua kisah di atas.
Ketika dulu mulai mempelajari ilmu sulap (magician), saya dikenalkan pada beberapa teknik yang salah satunya adalah sleight of hand (kecepatan tangan). Teknik ini memanfaatkan kelemahan penglihatan manusia (visual) yang tak mampu menangkap sebuah gerakan yang terlalu cepat frame by frame. Dan ketika seseorang mampu melatih kecepatan tangannya dalam melakukan sebuah aksi sulap, maka terjadilah deception (pembohongan) pada saat itu, dikarenakan apa yang terlihat tidaklah sama persis dengan apa yang terjadi. Ada satu atau beberapa frame yang luput dari pengamatan mata telanjang penontonnya.  

Hebatnya, meski mengalami pembohongan, para penonton justru bertepuk tangan penuh suka cita. Bahkan mereka rela membayar mahal untuk sekedar dibohongi. Ya, karena memang justru itulah tujuan dari sebuah magic show. Deception! 

Ketika mendalami ilmu pemberdayaan diri yang bernama NLP (Neuro Linguistic Programming), saya kemudian berkenalan dengan sebuah teknik yang bernama Sleight of Mouth (SoM). Apa pula teknik ini? Apakah ini merupakan sebuah teknik berbicara dengan cepat. Dengan mengharap akan terjadinya deception secara auditory? Terus kalau emang ya, apa pula manfaatnya?
***

Sleight of Mouth (kelihaian bercakap) merupakan suatu pola bahasa yang sangat ampuh untuk melakukan persuasi. Konsep ini disusun oleh Robert Dilts dengan cara memodel keahlian persuasif dan berdebat dari Richard Bandler (the co-founder of Neuro-linguistic programming).

Dilts memecah metodologi ini menjadi 14 pola, yang mengkombinasikan beberapa pola kalimat NLP, utamanya adalah Meta Model.
Meta Model adalah salah satu model formal pertama NLP yang dipublikasikan pada tahun 1975 oleh Richard  Bandler dan John Grinder, dalam buku fenomenal mereka: THE STRUCTURE OF MAGIC, Vol. 1.

Penggunaan Meta Model, biasanya dalam bentuk PERTANYAAN. Ketika seorang klien menyampaikan informasi tertentu, maka seorang NLP Coach menggunakan pemahaman Meta Model untuk menganalisa kalimat yang diucapkannya, lalu menindakanjutinya dengan pertanyaan sesuai TUJUAN yang ia tetapkan.

Meta Model bukan sekedar ‘TEKNIK BERTANYA’, tapi lebih dalam dari itu.  Tujuan penggunaan Meta Model adalah sebagai berikut:

  • Mendapatkan informasi yang lebih SPESIFIK.
  • MENGKLARIFIKASI informasi.
  • Membuka MODEL DUNIA seseorang.

Tergantung dari tujuan pembicaraan, jawaban atas pertanyaan itu bisa kita tindaklanjuti dengan lebih efektif. Tujuan pembicaraan seorang sales yang menghadapi prospek tentu berbeda dengan tujuan seorang coach yang menghadapi kliennya

Berikut contoh pola-pola SoM ketika menghadapi sebuah situasi:
Taruh kata Anda dalam posisi dipanggil oleh atasan Anda karena terlambat datang ke kantor beberapa kali. Bos Anda berkata,  "Anda sering datang terlambat menunjukkan bahwa Anda tidak peduli terhadap kerjaan Anda"

Berikut 14 respon berbeda yang bisa Anda gunakan:

  • Reality strategy:  Darimana Bapak tahu bahwa keterlambatan dan kepedulian merupakan hal yang sama?
  • Model of the world: Beberapa orang yakin bahwa kepedulian ditunjukkan oleh kualitas kerja dan hasil yang diperoleh (bukan karena telat atau tidak)
  • Counter example:  Kita semua tahu bahwa orang yang selalu tepat waktu itu sebenarnya hanya membuang waktu mereka ketika hasil kerjanya tidak sesuai standard.
  • Intent: Saya tidak pernah berniat untuk terlambat, apalagi tidak peduli Pak. Saya hanya ingin memberikan kualitas waktu serta produktivitas tertinggi saya ketika saya berada di sini.
  • Redefine: Saya tidak telat kok, saya hanya tertahan di kemacetan
  • Chunking up: Apakah menurut Bapak hal paling  penting dalam pekerjaan saya adalah datang tepat waktu?
  • Chunking down: Bagaimana tepatnya keterlambatan dan ketakpedulian merupakan hal yang sama?
  • Metaphor or analogy: Jika seorang ahli bedah terlambat makan malam karena mesti menyelamatkan nyawa pasiennya, apakah itu berarti dia tidak peduli pada masakan istrinya?
  • Another outcome: Pertanyaan sebenarnya adalah bukan pada saya telat atau saya peduli. Pertanyaan sebenarnya adalah sebesar apa saya berkontribusi kepada perusahaan?
  • Consequence: Jika saya tidak telat, saya tidak akan mampu menutup penjualan dalam breakfast meeting pagi ini
  • Higherachy of Criteria: Bukankah lebih penting berfokus pada berapa banyak seorang karyawan menghasilkan, dibandingkan pada ketepatan waktu?
  • Apply to self: Astaga, saya berharap Bapak cukup peduli kepada saya dengan mengatakan hal ini lebih awal.
  • Changing frame size: Baik Pak, seiring berjalannya waktu, saya akan tunjukkan kepada Bapak bahwa saya bisa menghasilkan lebih banyak, dibandingkan orang-orang yang selalu tepat waktu itu
  • Meta frame: Mulai banyak perusahaan yang menerapkan waktu kerja fleksibel bagi karyawan yang memberikan kontribusi tinggi. Saya yakin Bapak adalah seorang manajer yang berpikir selangkah lebih maju.

Wow, satu situasi bisa disikapi dengan 14 (atau lebih) pola. Betapa powerful nya teknik SoM ini.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, sekarang kita kembali pada dua kisah di awal tulisan ini. Ternyata HAS, entah sadar atau tidak telah menguasai teknik keren ini. Tanpa harus balik menyerang para 'pengganggunya', dia berhasil memunculkan realita baru bahwa yang kambing itu bukan dirinya, melainkan para pengembik tadi.
Begitu juga dengan suami yang cerdas tadi. Alih-alih mendebat istrinya, dia justru memanfaatkan susunan kalimat sehingga pada akhirnya sang istri mau mengakui kesalahannya.

Itulah sekilas mengenai Sleight of Mouth. Tak perlu kecepatan, melainkan ketepatan pertanyaan dan pernyataan balik yang diutamakan. Hasilnyapun bukan deception melainkan  perception dislodgement.(perubahan paradigma)

Tertarik mempelajari teknik keren ini? 

Ah, Anda pasti tahu kalau saya membuka kelas NNLP setiap bulan, 



Hari: Sabtu Minggu
Di Cafe Therapy
Jl Johar Raya no 27 Taman Cimanggu Bogor

Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
NLP Trainer

Monday, July 02, 2018

SALAH PILIH

‘Good decisions come from experience, experience come from a bad decision’.
(Unknown author)

 


Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih berkantor di bilangan Simatupang. Ketika sedang makan siang di sebuah café di daerah Fatmawati,  seorang kawan kantor tetiba nyeletuk , “Kenapa ya, kok hidupku ini selalu sial?”
Kawan lain hanya menanggapi celetukan teman yang satu ini sambil terus mengunyah makanan masing-masing. Rerata malah menanggapi dengan gaya pesimistis yang nyaris sama, “Jalani saja hidup ini, sial atau beruntung itu sudah ada yang mengatur..”

Namun anehnya, mendengar celetukan ini, meminjam istilah Peter Parker, justru indera laba-laba saya berdencing. "Something wrong with this guy", pikir saya. Another mental block telah melingkupi pikiran kawan saya ini. Saya tidak bisa diam saja membiarkan seorang kawan terpenjara oleh pikirannya sendiri seperti ini. Saya harus segera bertindak.
Namun alih-alih menjawab pertanyaannya, saya malah balik tanya, “Tahu nggak, kenapa hidup Anda SELALU sial?”
“Ya nggaklah, makanya saya juga lagi bingung..”
, jawabnya sekenanya.
“Anda SELALU sial karena Anda yang minta!”, kata saya dengan kalem. Setengah melotot dia kemudian menyela, ”Eh, jangan sembarangan ngomong ya. Siapa sih yang mau sial?”
“Oke, kalem Bro. Coba sekarang ceritakan apa yang membuat Anda berpikir selalu sial?”,
saya coba tenangkan dia, sambil menggali lebih dalam lagi masalah yang membuatnya merasa selalu sial.

Dengan penuh semangat dia kemudian bercerita mengenai istrinya yang  selalu mengeluh, tidak pernah menerima apa yang sudah diberikannya. Anak-anaknya juga menurut dia sangat bandel, tidak mau mendengarkan kata orang tuanya. Kalau disuruh belajar atau shalat susahnya minta ampun. Belum lagi perlakuan atasan yang semena-mena. Apapun yang dikerjakan selalu disalahkan. Sudah begitu dia merasa gajinya juga terlalu kecil dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dilakukannya. “Oo jadi itu yang membuat Anda merasa SELALU sial. Ada lagi?”, saya masih mencoba mencari pokok permasalahannya. “Yah, intinya Tuhan itu kok sepertinya tidak adil sama saya ya..”, jawabnya penuh skeptisme. “Oke, kalau begitu ijinkan saya ajukan beberapa pertanyaan”
“Tadi pagi sempat sarapan nggak?”
“Sempat sih..”
“Siapa yang menyiapkan?”
“Istri”
“Sambil mengeluhkah”
“O tidak, istri saya memang suka memasak”
“Hmm, jadi tadi pagi istri tidak mengeluh?
“Eh,,oh, bbelum sih..”
“Oke, bagaimana dengan anak-anak. Mereka sehat?”
“Ya, alhamdullillah. Mereka tadi berangkat sekolah bersama saya”
“Mereka rewel?”
“Tidak juga. Biasanya kalau habis ulangan, jadwal sekolah mereka agak longgar”
“Jadi, mereka tidak bandel dong?”
“Eh ya, tadi sih tidak..”
“Selama di perjalanan, ada kendala nggak?”
“Ya, tumben hari ini kok lancar ya. Mungkin karena banyak anak sekolah yang meliburkan diri sehabis ulangan…”
“Sampai kantor tepat waktu?”
“Iyalah. Setiap hari saya selalu berusaha tepat waktu”
“Barusan makanannya enak nggak”
“Wah enak sekali. Setelah menghabiskan energy meeting dengan bos tadi, perut ini lapar sekali rasanya. Kalau nggak ingat kolesterol, mungkin sudah saya habiskan tunjang sama rendang satu baskom tadi”
“Eh, gimana kabar Bos tadi?”
“Baik. Dia senang dengan ide-ide saya tadi”
“Kalau semua berjalan lancar begitu, lalu dimana letak sialmu tadi Bro?”

***

Sidang Pembaca yang budiman, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata 'selalu' merujuk pada keadaan 'senantiasa; selamanya; sering; terus-menerus; tidak pernah tidak'. Ketika teman saya merasa bahwa dirinya 'selalu sial', artinya dia merasa bahwa dirinya 'senantiasa, sering, tidak pernah tidak sial'. Artinya dia merasa bahwa dirinya akan selamanya sial. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) fenomena ini disebut generalisasi.

Faktanya, hasil obrolan tadi menunjukkan bahwa tidak selamanya hidupnya sial. Dia mempunyai istri yang pandai memasak. Dia mempunyai anak, dan bisa bersekolah. Dia mempunyai bos, yang artinya punya pekerjaan.
Dia merasa sial karena terkooptasi oleh pemikirannya sendiri. Meskipun terkesan sepele, namun ketika dibiarkan berkepanjangan maka akibatnya bisa fatal. Mengacu pada buku The Secret, dimana Rhonda Byrne mengatakan bahwa bahwa Rahasia Besar Kehidupan adalah hukum tarik-menarik. Hukum ini mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke diri Anda. Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi.  Ketika Anda memikirkan sebuah pikiran, pikiran-pikiran itu dipancarkan ke alam semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik hal serupa yang berada di frekuensi yang sama.
Segala sesuatu yang dikirim keluar akan kembali ke sumbernya, Anda. Maka ketika kawan saya tadi berpikir bahwa dia akan selalu sial, pada akhirnya hal itu pula yang akan terjadi.
***

Sidang pembaca yang budiman, memang hidup ini adalah pilihan. Kadang kita melakukan pilihan tepat, namun tak jarang kita juga membuat kesalahan dalam memilih. Dan kita pasti menyesal ketika menyadari bahwa kita telah salah pilih.
Kita akan menyesal selama sehari ketika salah pilih kostum. Hari kamis biasanya 'dress code' kantor adalah batik, maka ketika kita mengenakan baju selain batik, seharian itu kita akan menjadi salah tingkah dan merasa tidak nyaman.

Menyesal selama sebulan ketika kita salah pilih model potongan rambut. Penampilan kita jadi aneh dan tak biasa. Kita mesti menunggu minimal sebulan sampai rambut kita cukup panjang untuk dibentuk sesuai dengan keinginan kita.

Menyesal selama setahun ketika salah pilih kontrakan rumah. Dan penyesalan ini bisa berujung penderitaan selama setahun ketika rumah kontrakan kita tadi  berada di daerah banjir.

MENYESAL selama LIMA TAHUN ketika salah pilih pemimpin kita. Janji manis saat kampanye biasanya segera menjadi angin  lalu bahkan sebelum usia pemerintahan mereka genap berumur seratus hari. Maka jangan sampai Anda SALAH PILIH dalam AJANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH  kali ini. Pilihlah pemimpin yang memiliki rekam jejak jelas dan berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Kalau salah pilih pemimpin akan membuat kita menyesal selama 5 tahun, namun ternyata ada yang akan menyesal seumur hidup! Yaitu ketika kita salah pilih state of mind. Segala sesuatu yang kita hadapi akan bermakna negatif dan hidup kita tidak akan bahagia, seperti yang terjadi pada kawan saya pada kisah di atas.
Oleh karena itu saya mengajak Anda semua untuk selalu menemukan sudut pandang berbeda atas semua kondisi yang kita hadapi.

Dalam dunia NLP (Neuro Linguistic Programming), ada satu teknik yang sangat ampuh untuk mengubah sebuah paradigma. Bahkan teknik ini mampu mengubah state of mind kita, meskipun pada kenyataannya kondisi kita belum berubah. Nama teknik tadi adalah Reframing, yang dikembangkan oleh seorang psikolog Amerika yang bernama Virginia Satir.

Reframing adalah sebuah cara  'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya bermakna negatif  menjadi bermakna positif.
Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;
  • Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
  • Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton pertandingan bola di TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
  • Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
  • Untuk pajak penghasilan yang cukup besar, karena itu artinya gaji saya juga sudah besar
  • Untuk bos yang terlalu demanding, karena berarti saya masih punya pekerjaan
  • Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
  • Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
  • Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
  • Untuk mobil yang sering ngadat, karena itu berarti saya punya mobil sehingga tak perlu kepanasan dan kehujanan
  • Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yang membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.

Dengan mengubah sudut pandang seperti contoh di atas kita akan menemukan hikmah di balik semua peristiwa yang kita alami, karena Tuhan tidak akan memberi cobaan dimana hambaNya tidak mampu menerimanya. Insya Allah…

#hindarigolput
#memilihdengannurani
#reframing

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach


Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...