POSTINGAN POPULER

Friday, May 25, 2018

Tanah Rot

Sepasang suami istri sedang menikmati bulan madu mereka di Pulau Dewata, Bali. Hari ini mereka berniat mengunjungi Tanah Lot untuk menyaksikan keindahan pantai sekaligus kemegahan Pura yang berada di kawasan tersebut.

Singkat  cerita pasutri tadi telah sampai di Tanah Lot, dan ketika melewati gerbangnya mereka terlibat percakapan yang cukup sengit.
Suami: "Istriku, menurut legenda yang pernah aku baca, sebenarnya kawasan ini namanya bukan Tanah Lot, melainkan Tanah Rot."
Istri: "Ah ngaco saja kamu ini, dari dulu sampai sekarang namanya ya Tanah Lot"
Suami: "Bener lho sayang, legenda itu terpercaya kok"
Istri: "Nggak bener itu, yang bener Tanah Lot"
Suami: "Tanah Rot, Beb!"
Istri: "Tanah Lot!"
Suami: "Tanah Rot!"
Istri: "Tanah Lot!" (mulai berkaca-kaca mau menangis)
Suami: "Okelah istriku, daripada kita berdebat tanpa ujung begini, mending kita tanya pada kakek tua yang sedang mencari ikan di sana"

Sang istripun setuju. Mereka berdua bergegas menghampiri kakek pencari ikan. Sang suami kemudian bertanya, “Kek, sebenarnya kawasan ini namanya Tanah Lot atau Tanah Rot?”
Setelah terdiam sejenak, akhirnya kakek tadi menjawab, “Tanah Rot anak muda”. Dengan penuh kemenangan sang suami menghardik istrinya, “Tuh khan apa juga kubilang. Kawasan ini namanya Tanah Rot! Dasar bandel”
Sebelum berlalu, sang suami berkata kepada kakek pencari ikan tadi, “Terima kasih informasinya Kek”
“Kembari”, jawab kakek pencari ikan.
***

Sidang Pembaca yng berbahagia, mungkin Anda akan tertawa membaca kisah di atas. Namun coba mari kita renungkan sejenak, jangan-jangan dalam keseharian kita, seringkali kita justru bertindak seperti sang suami seperti dalam kisah fiktif di atas. Kita merasa benar atas sebuah fakta yang sudah lama kita yakini. Betapa kesalnya kita ketika ada orang lain yang menyanggah kebenaran fakta tersebut. Orang lain itu bisa jadi istri kita, suami kita, anak kita, atasan kita, atau bahkan bawahan kita.

Dan kekesalan kita kian menjadi manakala kita mendapatkan dukungan dari pihak ketiga yang mengesahkan keyakinan kita tadi.
Seringkali kita lupa bahwa kebenaran hakiki datangnya hanya dari Allah, Tuhan Semesta Alam. Apa yang kita yakini benar, bahkan sudah mendapat dukungan dari pihak ketiga, keempat, keseratus bahkan keseribupun masih perlu kita kalibrasi keabsahannya dengan kebenaran hakiki dari Sang Empunya Kebenaran tadi.

Sebenarnya untuk menghindarkan terjadinya debat tanpa juntrungan seperti cerita pasutri tadi, ada satu tips yang sangat ampuh untuk dilakukan, yaitu berempati.
'Standing in someone’s shoes' adalah istilah kerennya. Empati adalah menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Dengan berporos pada rasa empati ini kita akan mampu menilik sisi lain dari argumen orang lain.
Salah satu cara untuk melakukan empati adalah dengan banyak mendengar. Karena ternyata empati ini berasal dari salah satu sifat Allah, yaitu As Samii’u atau Yang Maha Mendengar.

Itulah alasan Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, karena kita diminta untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Sementara letak telinga juga lebih tinggi dibandingkan posisi mulut juga menambah pengukuhan keutamaan mendengar dibandingkan banyak bicara.

Empati tidak terletak di hati kita. Tidak juga di jantung kita, melainkan di otak afektif kita, otak kanan. Otak kiri  bersifat self-centric maka tak mampu melakukan empati, sementara otak kanan  sangat other-centric, maka mampu melakukannya.
Menurut Erbe Sentanu dalm bukunya Quantum Ikhlas, untuk mampu menguasai other-centric kita harus ber-positive feeling sebelum positive thinking.
Karena perasaanlah yang mengatur pikiran, bukan sebariknya, eh maksud saya sebaliknya…..

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...