POSTINGAN POPULER

Wednesday, May 02, 2018

PERCEPTUAL POSITION

Pak Bejo dan Untung
"Pak Hari, saya memiliki seorang anak buah yang sangat sulit diajak berkomunikasi. Berbeda dengan anggota team lain, kinerjanya juga agak kurang bagus. Bisakah dia diterapi menggunakan hipno?", seorang kawan yang bekerja sebagai manager di sebuah BUMN energy terbesar di Indonesia menceritakan sebuah situasi yang dialaminya, ketika saya bertandang ke kantornya, beberapa waktu yang lalu. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan kawan saya tadi. Saya justru bercerita mengenai bagaimana seorang manusia menerima sebuah informasi. Bahwa semua data yang masuk melalui panca indera manusia akan difilter sebelum menjadi sebuah informasi yang ujung-ujungnya akan menjadi sebuah belief. Berdasarkan pada belief inilah seseorang berperilaku. Oleh karena itulah sebuah stimulus yang sama bisa mengakibatkan perilaku yang berbeda kepada orang yang berbeda.

Dan setelah kawan saya memahami hal prinsip ini, kemudian saya ajak dia melakukan sebuah eksperimen. Dari kursi besar di belakang meja kerjanya, saya minta dia memunculkan sosok anak buahnya tadi di kursi kosong di depannya, di sebelah kanan saya.
"Oke Bro, coba Anda bayangkan bahwa anak buah itu duduk di kursi sebelah saya ini. Cobalah berkomunikasi dengan dia", saya memulai eksperimen tadi.
"Gimana caranya Pak? Kursi itu khan kosong. Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan kursi kosong?", kawan saya masih bingung campur ragu
"Mulai saja Bro. Coba mulai dengan menyebut namanya dan menanyakan kabarnya", saya memberikan sedikit arahan
"Ngg, baiklah. Untung (bukan nama sebenarnya), apa kabarnya hari ini?", masih agak tergeragap kawan saya memulai komunikasinya

Kemudian saya minta kawan saya tadi berpindah duduk ke kursi kosong tadi dan berpura-pura menjadi si Untung.
"Mmm baik Pak Bejo (juga bukan nama sebenarnya)", kawan saya mulai bisa memahami prosesnya

Dan berikut ini adalah perbincangan antara Pak Bejo (B) dan Pak Untung (U):
B: "Tung, selama ini kalau diajak komunikasi kok selalu menghindar, sebenarnya niat baikmu apa sih?"
U: "Mmm jadi gini Pak Bejo. Sebenarnya tidak ada niat untuk menghindar, namun terkadang saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan"
B: "Maksudnya?"
U: "Kalau bisa mbok menggunakan bahasa yang sederhana. Saya ini pendidikannya tidak setinggi Bapak. Karena sering tidak mengerti maksud Bapak, daripada kena marah, maka lebih baik saya menyibukkan diri saya di lapangan"

Saya tersenyum mengamati komunikasi ini. Kemudian saya minta Pak Bejo untuk duduk di kursi saya dan memerankan satu sosok yang mengenal dan dikenal oleh Bejo maupun Untung.
"Silakan Anda berikan feedback kepada Untung dan Bejo sekaligus", saya memberikan sedikit arahan lagi

"Baik, Pak Bejo dengan jumlah anak buah yang tidak sedikit, maka Anda tidak bisa menyamaratakan pemahaman dan pengetahuan mereka. Anda mesti pandai mengatur gaya komunikasi Anda kepada satu dan lain anggota team. Bahkan kalau perlu buatlah aturan juknis step by step, agar dipahami oleh semua team member Anda. Dan untuk Untung, rajin-rajinlah bertanya kalau kamu tidak paham apa yang diperintahkan oleh Pak Bejo"

Dan senyum saya makin lebar ketika seluruh rangkaian eksperimen ini selesai.  Apa pasal?  Kawan saya berhasil menemukan solusi untuk masalah komunikasi dengan anak buahnya. Melihat saya tersenyum makin lebar, dia berkomentar, "Pak Hari, tadi saya menasehati diri saya sendiri ya? Kok bisa sih?"
"Lha kok tanya saya, justru saya yang mau bertanya, apa yang terjadi tadi?"
"Saya juga heran Pak Hari, yang saya rasakan ketika saya duduk di kursi besar saya ini memang tekanannya luar biasa besar. Yang ada di kepala saya hanyalah bagaimana mencapai target 300 juta per bulan. Berat dan sesak dada ini Pak. Berbeda ketika saya duduk di kursi lain dan mencoba berperan sebagai orang lain,  justru saya mendapat sudut pandang berbeda  ", kawan saya menjelaskan.
***

Si Malas, Si Rajin & Si Kreatif
Selesai memberikan training Find The Happiness in You untuk karyawan dinas pertanian di kota tembakau, tak disangka saya berjumpa kawan lama. Langsung saya diajak mampir ke rumahnya, dan sepanjang jalan dia menceritakan situasi anak sulungnya yang menurut kawan saya tadi suka menunda pekerjaan. Lagi-lagi pertanyaannya adalah apakah kondisi seperti itu bisa diobati dengan hipnosis.

Sesampai di rumah kawan saya yang juga merangkap sebagai sebuah kedai kopi, saya langsung dipertemukan dengan anak sulung yang juga berprofesi sebagai baristanya. Dengan pendekatan singkat, saya mendapatkan informasi mengenai situasi yang sedang terjadi. Anak kawan saya ini, sebut saja Bravo, seringkali membuka kedai kopinya jam 1 atau 2 siang, padahal jam buka yang terpampang  di depan kedai kopi tersebut adalah 10.00-22.00. Sebuah procastination behaviour yang lumayan parah.

Segera saja saya ajarkan cara membuat WFO, dan mengambil 3 buah kursi untuk melakukan eksperimen seperti pada kasus pak Bejo di atas.
"Baik Mas Bravo, apa yang Anda rasakan ketika pagi hari mau membuka kedai kopi?", saya mulai menggali situasi yang terjadi
"Ngg anu Om. Seperti ada bagian tubuh saya yang menghalangi untuk bergerak"
"Dan di bagian tubuh sebelah mana itu?"
"Sebelah kiri Om", jawab Bravo sambil membuat garis membelah dadanya menjadi kanan dan kiri.
"Oo jadi yang sebelah kiri menahan Anda untuk bergerak. Dan, apakah ada keinginan untuk mengembangkan kedai ini. Jika ada di bagian sebelah mana?"
"Ada Om. Sebelah kanan"

Singkat kata bagian kiri diberi nama si Malas dan bagian kanan adalah si Rajin. Dan berikut adalah perbincangan antara Malas (M) dan Rajin (R):
R: "Wahai Malas, apa sih niat baikmu sehingga sering menahan aku untuk bergerak?"
M: "Ya untuk membiarkan kamu istirahat lebih lah. Lagian, untuk apa juga kita repot serta capek, toh Bapak sama Ibu masih bisa kasih kita duit?"
R: "Memang benar Bapak sama Ibu masih bisa ngasih duit, tapi apakah akan selamanya? Terus apakah kita tidak ingin kedai kita ini berkembang?"
M: "Betul juga ya Jin, Bapak Ibu sudah semakin sepuh, dan aku juga ingin kedai kita ini berkembang. Jadi apa yang mesti aku lakukan Jin?"
R: "Bagaimana kalau mulai besok kamu istirahat dan tidak menahan aku lagi untuk bergerak. Demi berkembangnya kedai ini. Demi Bapak Ibu dan demi keluarga kita?"
M: "Setuju"

Kemudian saya arahkan si Rajin untuk bertanya kepada Kreatif (K) yang ada di kursi ke 3.
R: "Wahai Kreatif, apakah kedai kita sudah cukup bagus. Apakah baristanya sudah keren. Adakah saran untuk perbaikan?"
K: "Untuk ukuran kota ini kedai ini sudah bagus. Dan akan lebih mantab kalau menunya ditambah dengan snack khas. Dan untuk barista, dari kemampuan sudah lumayan bagus. Dan akan lebih bagus kalau penampilannya dibuat lebih menarik lagi. Sehingga setiap tamu yang datang langsung bisa mengenalinya"

Wow, sekali lagi ada orang yang menasehati dirinya sendiri. Dan ini bagus, karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau diatur oleh orang lain. Maka sekali lagi eksperimen ini membuahkan hasil yang luar biasa.

Sebenarnya itu eksperimen apa sih?  Adakah mahluk ghoib berperan di situ sehingga seseorang bisa bercakap dengan dirinya sendiri dan menghasilkan  sebuah solusi?
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, eksperimen itu adalah sebuah teknik dalam NLP yang disebut sebagai Perceptual Position.

Perceptual Position adalah sebuah teknik  digunakan untuk melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan merubah sudut pandang terhadap suatu permasalahan dapat memberikan penilaian yang berbeda pula terhadap satu permasalahan yang sama.

Ada tiga Perceptual Position, yaitu :

Posisi Pertama: melihat, mendengar dan merasakan situasi melalui mata, telinga dan perasaan kita sendiri. Jadi pada posisi ini kita dalam kondisi ter-asosiasi dengan permasalahan yang sedang dihadapi.

Posisi Kedua: memposisikan diri sebagai orang lain, sehingga pada posisi ini kita menempatkan diri sebagai “orang lain” yang sedang melihat, mendengar dan merasakan permasalahan kita.

Posisi Ketiga: ini adalah posisi sebagai observer (pengamat).

Teknik Perceptual Position dikenal juga sebagai salah satu teknik untuk melakukan self improvement. Salah satu teknik yang membutuhkan kesadaran dan juga kesabaran dalam melakukannya. Karena tidak semua orang dengan mudah melakukan teknik ini.

Dalam workshop atau pelatihan NLP hal ini akan dijelaskan lebih gamblang sehingga siapa saja yang mempelajarinya dapat mengaplikasikan teknik ini dengan mudah.

Perceptual Position mengajarkan kita untuk melihat suatu permasalahan dengan berbagai sudut pandang, semakin banyak perceptual position yang kita lakukan maka semakin banyak pula perspektif yang kita dapatkan.

Yes, ternyata memang NLP itu selalu mudah dan memudahkan hidup kita.

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

No comments:

Artikel Unggulan

ENTER

Sudah hampir 2 tahun ini masyarakat Purwakarta dan sekitarnya dimanjakan oleh pertunjukan airmancur menari yang dihelat setiap malam minggu ...