POSTINGAN POPULER

Friday, May 18, 2018

JANGAN MALU MERASA MALU

Akhir-akhir ini saya sedang senang menjalani kehidupan para roker, alias rombongan kereta. Namun saya memilih untuk naik kereta hanya pada jam yang tidak sibuk. Paling cepat saya berangkat ke Jakarta jam 8 pagi dan paling lambat menuju Bogor jam 3 sore. Lepas dari jam tersebut, saya memilih menggunakan bis,  taksi online atau mengendarai mobil sendiri, karena kondisi kereta yang sangat tidak manusiawi dengan jubelan ribuan penumpangnya.

Senin kemarin saya berangkat menuju stasiun Tanah Abang jam 9 pagi, dengan perhitungan kondisi kereta yang sudah lengang. Namun dugaan saya meleset, dari stasiun Bogor kereta sudah penuh. Alhasil saya mesti rela bergelantungan bersama dengan beberapa penumpang lain. Di stasiun Bojonggede, naik beberapa ibu berjilbab yang salah satunya kelihatan sangat memerlukan bantuan saat itu, sehingga ada satu penumpang yang langsung memberikan tempat duduknya. Begitu duduk perempuan paruh baya itu terlihat sehat wal afiat dan mengobrol riuh rendah dengan beberapa kawan seperjalannya.

Kereta terus melaju dan sepanjang stasiun menuju Tanah Abang, penumpang  makin berjubelan memenuhi koridor kereta. Sesampai stasiun Tanah Abang dengan berebutan para penumpang berlomba dahulu mendahului keluar kereta, tak ketinggalan ibu paruh baya yang berjilbab tadi. Tetiba saja meluncur umpatan dari ibu tadi,  "Anj*** lu!" ditujukan kepada seorang perempuan muda yang baru naik kereta. Rupanya perempuan muda ini menghalangi pintu keluar sehingga ibu paruh baya tadi nyaris terjatuh. Sontak sebagian besar penumpang mengucap tasbih. .

Sungguh selain kesal, saya juga merasa malu menyadari ada seorang perempuan yang dari dandanannya menunjukkan agamanya, namun tanpa malu dia mengumpat sekasar itu.

Subhanallah
***

Sejak resign dari kantor, saya memiliki waktu lebih untuk bersama dengan anak-anak saya. Setiap pagi, kalau sedang tidak ada jadwal pelatihan, saya selalu menyempatkan untuk mengantar anak bungsu saya menuju sekolahnya menggunakan motor agar bisa berzigzag di kemacetan pagi hari kota Bogor.

Anak saya lebih suka memilih jalan besar ketimbang jalan perumahan yang biasa saya ambil. Di sepanjang jalan besar yang terpisah menjadi dua lajur itulah saya sering merasa geram pada pengendara yang dengan sengaja melawan arus demi mempersingkat rute menuju beberapa titik. Mereka tidak mau mengikuti arus untuk kemudian mengambil putaran menuju titik tersebut. Dan geram ini bercampur sesal, kasihan serta malu ketika pelakunya adalah ibu-ibu berjilbab yang memboncengkan anak-anaknya (kadang lebih dari 1) menuju sekolah. Apa mereka tidak berpikir alangkah bahayanya melakukan contra flow seperti itu? Apakah mereka tidak pernah diajarkan tertib lalu lintas ketika memgambil SIM. Apakah orang tua mereka tidak pernah mengajarkan kedisiplinan sejak kecil? Atau apakah agama yang mereka anut tidak menekankan pentingnya memelihara rasa malu melanggar aturan demi mencapai sebuah tujuan?
Subhanallah.
***

Masih segar di ingatan kita semua kisah memilukan yang menimpa beberapa saudara kita di Surabaya. Beberapa bom meledak di beberapa tempat umum di kota pahlawan tersebut.

Media berlomba memberitakan bahwa pelakunya adalah satu keluarga, suami istri beserta anak-anaknya. Dari penyelidikan pihak berwajib serta bukti-bukti di lapangan diketahui keluarga itu menganut agama tertentu. Yang saya tidak habis pikir adalah perilaku keluarga tersebut yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang juga saya yakini.

Jelas-jelas agama yang saya anut dari lahir ini mengajarkan kelemahlembutan, jauh dari anarkisme, apalagi sampai menyakiti pihak lain. Sebagai seorang muslim, saya merasa malu akan tindakan pelaku bom Surabaya tadi.
***

Tak tahu malu!
Fragmen satu, dua dan tiga tadi memiliki sebuah kesamaan, yaitu lenyapnya rasa malu pada pelakunya. Perbedaannya hanya pada kadar malunya tadi. Ibu separuh baya di kereta dengan atau tanpa sengaja membuang rasa malunya sehingga dia mampu mengumpat, yang tentunya akan melukai hati seseorang.

Ibu-ibu pengedara motor itu juga meninggalkan rasa malunya di rumah, atas nama mengantar anak dengan cepat dan tepat. Mereka lupa bahwa tindakannya itu berpeluang menyakiti diri sendiri atau pihak lain di jalan raya tersebut.

Keluarga pelaku bom itu dengan sengaja menanggalkan rasa malu mereka, atas nama kebenaran apapun yang mereka anut, namun nyatanya mereka sudah benar-benar menyakiti fisik serta nurani bangsa ini.

Padahal Islam mengajarkan bahwa rasa malu merupakan sifat terpuji. Rasa malu membawa keindahan pada akhlaq seseorang. Malu dalam hal ini bukan malu dalam pengertian rendah diri atau minder, tetapi malu dalam perkara melakukan perbuatan yang kurang pantas apalagi menyebabkan dosa.

Adanya rasa malu, mencegah orang berbuat sesuatu yang tidak pantas. Hilangnya rasa malu menyebabkan orang melakukan perbuatan buruk tanpa beban bahkan jika sudah terbiasa ia bisa saja enjoy melakukan perbuatan buruk.

Yang menarik adalah adanya fenomena hilangnya rasa malu secara kolektif di tengah masyarakat kita. Bila hal itu terjadi maka akan membawa kehancuran moral. Hancurnya moral akan membawa dampak kerusakan di bidang-bidang lain. Ibarat penyakit kanker, penyakit ini akan menyebar dengan cepat hingga membinasakan bagian-bagian tubuh yang lain. Pada saatnya seluruh sistem akan berakhir tragis menjadi kematian.

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga kehormatan diri (muru'ah) melalui perasaan malu. Sebaliknya syaithon selalu berusaha menggelincirkan manusia ke derajat yang paling rendah.

Sebagai contoh, saat ini mayoritas media lebih senang mengekspos gaya hidup yang cenderung individualis, cuek, ujub (narsis), yang mengarah kepada sikap membuang rasa malu. Dan hasilnya lahir generasi muda yang memiliki gaya hidup individualis, cuek, narsis, dan sebagainya. Dan yang paling memprihatinkan adalah generasi muda saat ini tidak malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat di depan umum. Bermesraan dengan pacar, berpakaian seksi, berselingkuh dengan teman sekantor, dan lain sebagainya.

Hilangnya rasa malu secara kolektif akan mendatangkan lebih banyak lagi kerusakan bagi sebuah kaum atau bangsa. Kerusakan bisa dalam bentuk pergaulan bebas baik lawan jenis maupun yang sejenis, perselingkuhan, perseteruan politik yang cenderung menghalalkan segala cara, korupsi, merebaknya praktik-praktik suap menyuap serta munculnya mafia dalam peradilan, dan lain sebagainya.

Khusus untuk bangsa Indonesia, fenomena ini menyebabkan lemahnya mental/spiritual bangsa ini. Sebagai sebuah bangsa, akhirnya kita hanya menjadi penonton atau hanya sekedar konsumen, atau diadu domba,  bahkan yang lebih tragis lagi tanpa kita sadari sebenarnya kita 'dijajah' oleh bangsa lain.

Dijadikan pecundang, kekayaan kita di rampas, keringat kita diperas. Seiring habisnya rasa malu, habis pula harga diri.

Jadi sebagai bagian dari bangsa yang dikenal sangat besar ini, andil apa yang bisa kita berikan?

Sederhana saja, JANGAN MALU untuk MERASA MALU!
***

Sidang pembaca yang berbahagia, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah anekdot.

Pada jaman dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan besar, yang katanya ijo royo royo, gemah ripah loh jinawi. Aman dan sejahtera. Sang Raja mempunyai empat orang anak, tiga putra dan satu putri. Sang Raja ini pada awalnya memimpin dengan bijaksana. Dia membangun kerajaanya dengan serius.

Semua infrastruktur yang diperlukan oleh rakyatnya dibangun dengan sempurna. Jalanan semua mulus. Jembatan kokoh. Sekolah tersedia, demikian juga pasar-pasar dan tempat ibadah.

Namun ketika anaknya mulai beranjak dewasa, dan mereka mulai tertarik dengan bisnis, sang Raja memilih menjadi ayah yang baik, dengan cara menuruti semua permintaan anak-anaknya, meski kadang hal ini merugikan rakyatnya.

Pada suatu saat, ketika sang Raja merasa sudah makin uzur, dia mengumpulkan anak-anaknya untuk membahas bisnis yang masih bisa ditangani oleh mereka.

“Nah, anakku, sebelum Romo mangkat, Romo ingin membagikan bisnis yang masih bisa kalian urus. Kamu Sulung, kamu mau bagian apa?”, tanya Sang Raja.

“Eem, saya minta jatah pembangunan jalanan saja ya Romo. Pokoknya semua jalanan di kerajaan ini harus saya yang membangun”, jawab Si Sulung. “Oke anakku. Jalanan adalah milikmu. Kamu Nomor Dua, minta apa kamu?”, kata Sang Raja selanjutnya.

Setelah berpikir sejenak, Si Nomor Dua menjawab, “ Anu Romo, saya minta jatah semua perdagangan sayur mayur dan buah, harus melalui saya ya…” “Boleh saja”, kata Sang Raja lagi, “Nah Nomor Tiga, kamu mau apa?”.

“Begini Romo”, kata Si Nomor Tiga antusias, “ Saya ini khan sekolahnya paling tinggi. Dan saya tertarik dengan dunia pendidikan, jadi semua sekolah di Kerajaan ini, haruslah menjadi milik saya”. Raja manggut-manggut senang, ”Itu bisa diatur anakku. Ragil, kok dari tadi kamu diam saja. Kamu mau apa Ndhuk?”. Raja menyapa anak bungsu kesayangannya.

Memang si bungsu ini agak pendiam dan pemalu, tidak seperti ketiga kakaknya. Namun Raja paling sayang kepada anak bungsunya ini. Andaikan anaknya ini minta bulan atau matahari pun pasti akan diusahakannya. Lama tak menyahut, sambil malu-malu si bungsu berkata lirih, “Ehm, anu Romo. Ah, MALU saya mau minta..”. Kali ini sang Romo cepat-cepat menukas, “Aduh, Ndhuk, minta yang lain saja ya. Kalau yang satu itu Romo tidak punya…”.
😀😀😀😀

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...