POSTINGAN POPULER

Friday, May 25, 2018

Tanah Rot

Sepasang suami istri sedang menikmati bulan madu mereka di Pulau Dewata, Bali. Hari ini mereka berniat mengunjungi Tanah Lot untuk menyaksikan keindahan pantai sekaligus kemegahan Pura yang berada di kawasan tersebut.

Singkat  cerita pasutri tadi telah sampai di Tanah Lot, dan ketika melewati gerbangnya mereka terlibat percakapan yang cukup sengit.
Suami: "Istriku, menurut legenda yang pernah aku baca, sebenarnya kawasan ini namanya bukan Tanah Lot, melainkan Tanah Rot."
Istri: "Ah ngaco saja kamu ini, dari dulu sampai sekarang namanya ya Tanah Lot"
Suami: "Bener lho sayang, legenda itu terpercaya kok"
Istri: "Nggak bener itu, yang bener Tanah Lot"
Suami: "Tanah Rot, Beb!"
Istri: "Tanah Lot!"
Suami: "Tanah Rot!"
Istri: "Tanah Lot!" (mulai berkaca-kaca mau menangis)
Suami: "Okelah istriku, daripada kita berdebat tanpa ujung begini, mending kita tanya pada kakek tua yang sedang mencari ikan di sana"

Sang istripun setuju. Mereka berdua bergegas menghampiri kakek pencari ikan. Sang suami kemudian bertanya, “Kek, sebenarnya kawasan ini namanya Tanah Lot atau Tanah Rot?”
Setelah terdiam sejenak, akhirnya kakek tadi menjawab, “Tanah Rot anak muda”. Dengan penuh kemenangan sang suami menghardik istrinya, “Tuh khan apa juga kubilang. Kawasan ini namanya Tanah Rot! Dasar bandel”
Sebelum berlalu, sang suami berkata kepada kakek pencari ikan tadi, “Terima kasih informasinya Kek”
“Kembari”, jawab kakek pencari ikan.
***

Sidang Pembaca yng berbahagia, mungkin Anda akan tertawa membaca kisah di atas. Namun coba mari kita renungkan sejenak, jangan-jangan dalam keseharian kita, seringkali kita justru bertindak seperti sang suami seperti dalam kisah fiktif di atas. Kita merasa benar atas sebuah fakta yang sudah lama kita yakini. Betapa kesalnya kita ketika ada orang lain yang menyanggah kebenaran fakta tersebut. Orang lain itu bisa jadi istri kita, suami kita, anak kita, atasan kita, atau bahkan bawahan kita.

Dan kekesalan kita kian menjadi manakala kita mendapatkan dukungan dari pihak ketiga yang mengesahkan keyakinan kita tadi.
Seringkali kita lupa bahwa kebenaran hakiki datangnya hanya dari Allah, Tuhan Semesta Alam. Apa yang kita yakini benar, bahkan sudah mendapat dukungan dari pihak ketiga, keempat, keseratus bahkan keseribupun masih perlu kita kalibrasi keabsahannya dengan kebenaran hakiki dari Sang Empunya Kebenaran tadi.

Sebenarnya untuk menghindarkan terjadinya debat tanpa juntrungan seperti cerita pasutri tadi, ada satu tips yang sangat ampuh untuk dilakukan, yaitu berempati.
'Standing in someone’s shoes' adalah istilah kerennya. Empati adalah menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Dengan berporos pada rasa empati ini kita akan mampu menilik sisi lain dari argumen orang lain.
Salah satu cara untuk melakukan empati adalah dengan banyak mendengar. Karena ternyata empati ini berasal dari salah satu sifat Allah, yaitu As Samii’u atau Yang Maha Mendengar.

Itulah alasan Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, karena kita diminta untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Sementara letak telinga juga lebih tinggi dibandingkan posisi mulut juga menambah pengukuhan keutamaan mendengar dibandingkan banyak bicara.

Empati tidak terletak di hati kita. Tidak juga di jantung kita, melainkan di otak afektif kita, otak kanan. Otak kiri  bersifat self-centric maka tak mampu melakukan empati, sementara otak kanan  sangat other-centric, maka mampu melakukannya.
Menurut Erbe Sentanu dalm bukunya Quantum Ikhlas, untuk mampu menguasai other-centric kita harus ber-positive feeling sebelum positive thinking.
Karena perasaanlah yang mengatur pikiran, bukan sebariknya, eh maksud saya sebaliknya…..

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Wednesday, May 23, 2018

Hypnophobia

Entah kenapa tiba-tiba ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika masih bekerja di perusahaan multinasional. Selesai meeting sore itu saya dipanggil menghadap GM, dan berikut adalah obrolan saya dg beliau,

GM: "Why did you sleep during the meeting?"
HD: "I am not sleeping Sir. You can check may understanding about the meeting topics"
Dan saya pun menjawab semua pertanyaan pak GM dengan perfect. Tak ada satu hal pun yang terlewat dari pengamatan saya. Dan dia terlihat bingung sambil menutupi ketakjubannya
GM: "But, I see you close your eyes!"
HD: "Yes, indeed. That is the way I absorb  information better"
GM: "But, next time you can not do that anymore!"
Dan saya hanya diam.
***

Suatu saat ketika saya sedang memberikan pelatihan kepada beberapa karyawan baru, saya membuat sebagian peserta tertidur sambil saya berikan sugesti motivasi. Kebetulan Pak GM singgah di kelas saya dan melihat hal ini.
Saya dipanggil lagi menghadap beliau dan berikut obrolan kami,

GM: "What hell are you doing now? Why your participant were sleeping during your class?"
HD: "They are not sleeping Sir. They just close their eyes, coz that was the way I teach them better. You want to check their understanding"
GM: "Nope. You already prooved me earlier. But, actually what kind of magic that you practice?"
HD: "That's just simply hypnosis Sir"
GM: "Okay, you can not use hypnosis in this office from nowadays"
HD: "Why?"
GM: "Never ask. Just dont!"
HD: "Ok then. So I am quit!"
***

Dan sejak saat itu saya memutuskan untuk menjadi seorang Professional Hypnotherapist, sekaligus trainer hipnosis yang akan menyebarkan keilmuan ini ke lebih banyak orang lagi sehingga suatu saat nanti tidak akan ada lagi orang yang antipati pada ilmu Hipnosis.

Mari kita meng-hipnosis Indonesia dan meng-Indonesiakan hipnosis

Tabik
-haridewa-

Friday, May 18, 2018

JANGAN MALU MERASA MALU

Akhir-akhir ini saya sedang senang menjalani kehidupan para roker, alias rombongan kereta. Namun saya memilih untuk naik kereta hanya pada jam yang tidak sibuk. Paling cepat saya berangkat ke Jakarta jam 8 pagi dan paling lambat menuju Bogor jam 3 sore. Lepas dari jam tersebut, saya memilih menggunakan bis,  taksi online atau mengendarai mobil sendiri, karena kondisi kereta yang sangat tidak manusiawi dengan jubelan ribuan penumpangnya.

Senin kemarin saya berangkat menuju stasiun Tanah Abang jam 9 pagi, dengan perhitungan kondisi kereta yang sudah lengang. Namun dugaan saya meleset, dari stasiun Bogor kereta sudah penuh. Alhasil saya mesti rela bergelantungan bersama dengan beberapa penumpang lain. Di stasiun Bojonggede, naik beberapa ibu berjilbab yang salah satunya kelihatan sangat memerlukan bantuan saat itu, sehingga ada satu penumpang yang langsung memberikan tempat duduknya. Begitu duduk perempuan paruh baya itu terlihat sehat wal afiat dan mengobrol riuh rendah dengan beberapa kawan seperjalannya.

Kereta terus melaju dan sepanjang stasiun menuju Tanah Abang, penumpang  makin berjubelan memenuhi koridor kereta. Sesampai stasiun Tanah Abang dengan berebutan para penumpang berlomba dahulu mendahului keluar kereta, tak ketinggalan ibu paruh baya yang berjilbab tadi. Tetiba saja meluncur umpatan dari ibu tadi,  "Anj*** lu!" ditujukan kepada seorang perempuan muda yang baru naik kereta. Rupanya perempuan muda ini menghalangi pintu keluar sehingga ibu paruh baya tadi nyaris terjatuh. Sontak sebagian besar penumpang mengucap tasbih. .

Sungguh selain kesal, saya juga merasa malu menyadari ada seorang perempuan yang dari dandanannya menunjukkan agamanya, namun tanpa malu dia mengumpat sekasar itu.

Subhanallah
***

Sejak resign dari kantor, saya memiliki waktu lebih untuk bersama dengan anak-anak saya. Setiap pagi, kalau sedang tidak ada jadwal pelatihan, saya selalu menyempatkan untuk mengantar anak bungsu saya menuju sekolahnya menggunakan motor agar bisa berzigzag di kemacetan pagi hari kota Bogor.

Anak saya lebih suka memilih jalan besar ketimbang jalan perumahan yang biasa saya ambil. Di sepanjang jalan besar yang terpisah menjadi dua lajur itulah saya sering merasa geram pada pengendara yang dengan sengaja melawan arus demi mempersingkat rute menuju beberapa titik. Mereka tidak mau mengikuti arus untuk kemudian mengambil putaran menuju titik tersebut. Dan geram ini bercampur sesal, kasihan serta malu ketika pelakunya adalah ibu-ibu berjilbab yang memboncengkan anak-anaknya (kadang lebih dari 1) menuju sekolah. Apa mereka tidak berpikir alangkah bahayanya melakukan contra flow seperti itu? Apakah mereka tidak pernah diajarkan tertib lalu lintas ketika memgambil SIM. Apakah orang tua mereka tidak pernah mengajarkan kedisiplinan sejak kecil? Atau apakah agama yang mereka anut tidak menekankan pentingnya memelihara rasa malu melanggar aturan demi mencapai sebuah tujuan?
Subhanallah.
***

Masih segar di ingatan kita semua kisah memilukan yang menimpa beberapa saudara kita di Surabaya. Beberapa bom meledak di beberapa tempat umum di kota pahlawan tersebut.

Media berlomba memberitakan bahwa pelakunya adalah satu keluarga, suami istri beserta anak-anaknya. Dari penyelidikan pihak berwajib serta bukti-bukti di lapangan diketahui keluarga itu menganut agama tertentu. Yang saya tidak habis pikir adalah perilaku keluarga tersebut yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang juga saya yakini.

Jelas-jelas agama yang saya anut dari lahir ini mengajarkan kelemahlembutan, jauh dari anarkisme, apalagi sampai menyakiti pihak lain. Sebagai seorang muslim, saya merasa malu akan tindakan pelaku bom Surabaya tadi.
***

Tak tahu malu!
Fragmen satu, dua dan tiga tadi memiliki sebuah kesamaan, yaitu lenyapnya rasa malu pada pelakunya. Perbedaannya hanya pada kadar malunya tadi. Ibu separuh baya di kereta dengan atau tanpa sengaja membuang rasa malunya sehingga dia mampu mengumpat, yang tentunya akan melukai hati seseorang.

Ibu-ibu pengedara motor itu juga meninggalkan rasa malunya di rumah, atas nama mengantar anak dengan cepat dan tepat. Mereka lupa bahwa tindakannya itu berpeluang menyakiti diri sendiri atau pihak lain di jalan raya tersebut.

Keluarga pelaku bom itu dengan sengaja menanggalkan rasa malu mereka, atas nama kebenaran apapun yang mereka anut, namun nyatanya mereka sudah benar-benar menyakiti fisik serta nurani bangsa ini.

Padahal Islam mengajarkan bahwa rasa malu merupakan sifat terpuji. Rasa malu membawa keindahan pada akhlaq seseorang. Malu dalam hal ini bukan malu dalam pengertian rendah diri atau minder, tetapi malu dalam perkara melakukan perbuatan yang kurang pantas apalagi menyebabkan dosa.

Adanya rasa malu, mencegah orang berbuat sesuatu yang tidak pantas. Hilangnya rasa malu menyebabkan orang melakukan perbuatan buruk tanpa beban bahkan jika sudah terbiasa ia bisa saja enjoy melakukan perbuatan buruk.

Yang menarik adalah adanya fenomena hilangnya rasa malu secara kolektif di tengah masyarakat kita. Bila hal itu terjadi maka akan membawa kehancuran moral. Hancurnya moral akan membawa dampak kerusakan di bidang-bidang lain. Ibarat penyakit kanker, penyakit ini akan menyebar dengan cepat hingga membinasakan bagian-bagian tubuh yang lain. Pada saatnya seluruh sistem akan berakhir tragis menjadi kematian.

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga kehormatan diri (muru'ah) melalui perasaan malu. Sebaliknya syaithon selalu berusaha menggelincirkan manusia ke derajat yang paling rendah.

Sebagai contoh, saat ini mayoritas media lebih senang mengekspos gaya hidup yang cenderung individualis, cuek, ujub (narsis), yang mengarah kepada sikap membuang rasa malu. Dan hasilnya lahir generasi muda yang memiliki gaya hidup individualis, cuek, narsis, dan sebagainya. Dan yang paling memprihatinkan adalah generasi muda saat ini tidak malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat di depan umum. Bermesraan dengan pacar, berpakaian seksi, berselingkuh dengan teman sekantor, dan lain sebagainya.

Hilangnya rasa malu secara kolektif akan mendatangkan lebih banyak lagi kerusakan bagi sebuah kaum atau bangsa. Kerusakan bisa dalam bentuk pergaulan bebas baik lawan jenis maupun yang sejenis, perselingkuhan, perseteruan politik yang cenderung menghalalkan segala cara, korupsi, merebaknya praktik-praktik suap menyuap serta munculnya mafia dalam peradilan, dan lain sebagainya.

Khusus untuk bangsa Indonesia, fenomena ini menyebabkan lemahnya mental/spiritual bangsa ini. Sebagai sebuah bangsa, akhirnya kita hanya menjadi penonton atau hanya sekedar konsumen, atau diadu domba,  bahkan yang lebih tragis lagi tanpa kita sadari sebenarnya kita 'dijajah' oleh bangsa lain.

Dijadikan pecundang, kekayaan kita di rampas, keringat kita diperas. Seiring habisnya rasa malu, habis pula harga diri.

Jadi sebagai bagian dari bangsa yang dikenal sangat besar ini, andil apa yang bisa kita berikan?

Sederhana saja, JANGAN MALU untuk MERASA MALU!
***

Sidang pembaca yang berbahagia, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah anekdot.

Pada jaman dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan besar, yang katanya ijo royo royo, gemah ripah loh jinawi. Aman dan sejahtera. Sang Raja mempunyai empat orang anak, tiga putra dan satu putri. Sang Raja ini pada awalnya memimpin dengan bijaksana. Dia membangun kerajaanya dengan serius.

Semua infrastruktur yang diperlukan oleh rakyatnya dibangun dengan sempurna. Jalanan semua mulus. Jembatan kokoh. Sekolah tersedia, demikian juga pasar-pasar dan tempat ibadah.

Namun ketika anaknya mulai beranjak dewasa, dan mereka mulai tertarik dengan bisnis, sang Raja memilih menjadi ayah yang baik, dengan cara menuruti semua permintaan anak-anaknya, meski kadang hal ini merugikan rakyatnya.

Pada suatu saat, ketika sang Raja merasa sudah makin uzur, dia mengumpulkan anak-anaknya untuk membahas bisnis yang masih bisa ditangani oleh mereka.

“Nah, anakku, sebelum Romo mangkat, Romo ingin membagikan bisnis yang masih bisa kalian urus. Kamu Sulung, kamu mau bagian apa?”, tanya Sang Raja.

“Eem, saya minta jatah pembangunan jalanan saja ya Romo. Pokoknya semua jalanan di kerajaan ini harus saya yang membangun”, jawab Si Sulung. “Oke anakku. Jalanan adalah milikmu. Kamu Nomor Dua, minta apa kamu?”, kata Sang Raja selanjutnya.

Setelah berpikir sejenak, Si Nomor Dua menjawab, “ Anu Romo, saya minta jatah semua perdagangan sayur mayur dan buah, harus melalui saya ya…” “Boleh saja”, kata Sang Raja lagi, “Nah Nomor Tiga, kamu mau apa?”.

“Begini Romo”, kata Si Nomor Tiga antusias, “ Saya ini khan sekolahnya paling tinggi. Dan saya tertarik dengan dunia pendidikan, jadi semua sekolah di Kerajaan ini, haruslah menjadi milik saya”. Raja manggut-manggut senang, ”Itu bisa diatur anakku. Ragil, kok dari tadi kamu diam saja. Kamu mau apa Ndhuk?”. Raja menyapa anak bungsu kesayangannya.

Memang si bungsu ini agak pendiam dan pemalu, tidak seperti ketiga kakaknya. Namun Raja paling sayang kepada anak bungsunya ini. Andaikan anaknya ini minta bulan atau matahari pun pasti akan diusahakannya. Lama tak menyahut, sambil malu-malu si bungsu berkata lirih, “Ehm, anu Romo. Ah, MALU saya mau minta..”. Kali ini sang Romo cepat-cepat menukas, “Aduh, Ndhuk, minta yang lain saja ya. Kalau yang satu itu Romo tidak punya…”.
😀😀😀😀

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Wednesday, May 02, 2018

PERCEPTUAL POSITION

Pak Bejo dan Untung
"Pak Hari, saya memiliki seorang anak buah yang sangat sulit diajak berkomunikasi. Berbeda dengan anggota team lain, kinerjanya juga agak kurang bagus. Bisakah dia diterapi menggunakan hipno?", seorang kawan yang bekerja sebagai manager di sebuah BUMN energy terbesar di Indonesia menceritakan sebuah situasi yang dialaminya, ketika saya bertandang ke kantornya, beberapa waktu yang lalu. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan kawan saya tadi. Saya justru bercerita mengenai bagaimana seorang manusia menerima sebuah informasi. Bahwa semua data yang masuk melalui panca indera manusia akan difilter sebelum menjadi sebuah informasi yang ujung-ujungnya akan menjadi sebuah belief. Berdasarkan pada belief inilah seseorang berperilaku. Oleh karena itulah sebuah stimulus yang sama bisa mengakibatkan perilaku yang berbeda kepada orang yang berbeda.

Dan setelah kawan saya memahami hal prinsip ini, kemudian saya ajak dia melakukan sebuah eksperimen. Dari kursi besar di belakang meja kerjanya, saya minta dia memunculkan sosok anak buahnya tadi di kursi kosong di depannya, di sebelah kanan saya.
"Oke Bro, coba Anda bayangkan bahwa anak buah itu duduk di kursi sebelah saya ini. Cobalah berkomunikasi dengan dia", saya memulai eksperimen tadi.
"Gimana caranya Pak? Kursi itu khan kosong. Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan kursi kosong?", kawan saya masih bingung campur ragu
"Mulai saja Bro. Coba mulai dengan menyebut namanya dan menanyakan kabarnya", saya memberikan sedikit arahan
"Ngg, baiklah. Untung (bukan nama sebenarnya), apa kabarnya hari ini?", masih agak tergeragap kawan saya memulai komunikasinya

Kemudian saya minta kawan saya tadi berpindah duduk ke kursi kosong tadi dan berpura-pura menjadi si Untung.
"Mmm baik Pak Bejo (juga bukan nama sebenarnya)", kawan saya mulai bisa memahami prosesnya

Dan berikut ini adalah perbincangan antara Pak Bejo (B) dan Pak Untung (U):
B: "Tung, selama ini kalau diajak komunikasi kok selalu menghindar, sebenarnya niat baikmu apa sih?"
U: "Mmm jadi gini Pak Bejo. Sebenarnya tidak ada niat untuk menghindar, namun terkadang saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan"
B: "Maksudnya?"
U: "Kalau bisa mbok menggunakan bahasa yang sederhana. Saya ini pendidikannya tidak setinggi Bapak. Karena sering tidak mengerti maksud Bapak, daripada kena marah, maka lebih baik saya menyibukkan diri saya di lapangan"

Saya tersenyum mengamati komunikasi ini. Kemudian saya minta Pak Bejo untuk duduk di kursi saya dan memerankan satu sosok yang mengenal dan dikenal oleh Bejo maupun Untung.
"Silakan Anda berikan feedback kepada Untung dan Bejo sekaligus", saya memberikan sedikit arahan lagi

"Baik, Pak Bejo dengan jumlah anak buah yang tidak sedikit, maka Anda tidak bisa menyamaratakan pemahaman dan pengetahuan mereka. Anda mesti pandai mengatur gaya komunikasi Anda kepada satu dan lain anggota team. Bahkan kalau perlu buatlah aturan juknis step by step, agar dipahami oleh semua team member Anda. Dan untuk Untung, rajin-rajinlah bertanya kalau kamu tidak paham apa yang diperintahkan oleh Pak Bejo"

Dan senyum saya makin lebar ketika seluruh rangkaian eksperimen ini selesai.  Apa pasal?  Kawan saya berhasil menemukan solusi untuk masalah komunikasi dengan anak buahnya. Melihat saya tersenyum makin lebar, dia berkomentar, "Pak Hari, tadi saya menasehati diri saya sendiri ya? Kok bisa sih?"
"Lha kok tanya saya, justru saya yang mau bertanya, apa yang terjadi tadi?"
"Saya juga heran Pak Hari, yang saya rasakan ketika saya duduk di kursi besar saya ini memang tekanannya luar biasa besar. Yang ada di kepala saya hanyalah bagaimana mencapai target 300 juta per bulan. Berat dan sesak dada ini Pak. Berbeda ketika saya duduk di kursi lain dan mencoba berperan sebagai orang lain,  justru saya mendapat sudut pandang berbeda  ", kawan saya menjelaskan.
***

Si Malas, Si Rajin & Si Kreatif
Selesai memberikan training Find The Happiness in You untuk karyawan dinas pertanian di kota tembakau, tak disangka saya berjumpa kawan lama. Langsung saya diajak mampir ke rumahnya, dan sepanjang jalan dia menceritakan situasi anak sulungnya yang menurut kawan saya tadi suka menunda pekerjaan. Lagi-lagi pertanyaannya adalah apakah kondisi seperti itu bisa diobati dengan hipnosis.

Sesampai di rumah kawan saya yang juga merangkap sebagai sebuah kedai kopi, saya langsung dipertemukan dengan anak sulung yang juga berprofesi sebagai baristanya. Dengan pendekatan singkat, saya mendapatkan informasi mengenai situasi yang sedang terjadi. Anak kawan saya ini, sebut saja Bravo, seringkali membuka kedai kopinya jam 1 atau 2 siang, padahal jam buka yang terpampang  di depan kedai kopi tersebut adalah 10.00-22.00. Sebuah procastination behaviour yang lumayan parah.

Segera saja saya ajarkan cara membuat WFO, dan mengambil 3 buah kursi untuk melakukan eksperimen seperti pada kasus pak Bejo di atas.
"Baik Mas Bravo, apa yang Anda rasakan ketika pagi hari mau membuka kedai kopi?", saya mulai menggali situasi yang terjadi
"Ngg anu Om. Seperti ada bagian tubuh saya yang menghalangi untuk bergerak"
"Dan di bagian tubuh sebelah mana itu?"
"Sebelah kiri Om", jawab Bravo sambil membuat garis membelah dadanya menjadi kanan dan kiri.
"Oo jadi yang sebelah kiri menahan Anda untuk bergerak. Dan, apakah ada keinginan untuk mengembangkan kedai ini. Jika ada di bagian sebelah mana?"
"Ada Om. Sebelah kanan"

Singkat kata bagian kiri diberi nama si Malas dan bagian kanan adalah si Rajin. Dan berikut adalah perbincangan antara Malas (M) dan Rajin (R):
R: "Wahai Malas, apa sih niat baikmu sehingga sering menahan aku untuk bergerak?"
M: "Ya untuk membiarkan kamu istirahat lebih lah. Lagian, untuk apa juga kita repot serta capek, toh Bapak sama Ibu masih bisa kasih kita duit?"
R: "Memang benar Bapak sama Ibu masih bisa ngasih duit, tapi apakah akan selamanya? Terus apakah kita tidak ingin kedai kita ini berkembang?"
M: "Betul juga ya Jin, Bapak Ibu sudah semakin sepuh, dan aku juga ingin kedai kita ini berkembang. Jadi apa yang mesti aku lakukan Jin?"
R: "Bagaimana kalau mulai besok kamu istirahat dan tidak menahan aku lagi untuk bergerak. Demi berkembangnya kedai ini. Demi Bapak Ibu dan demi keluarga kita?"
M: "Setuju"

Kemudian saya arahkan si Rajin untuk bertanya kepada Kreatif (K) yang ada di kursi ke 3.
R: "Wahai Kreatif, apakah kedai kita sudah cukup bagus. Apakah baristanya sudah keren. Adakah saran untuk perbaikan?"
K: "Untuk ukuran kota ini kedai ini sudah bagus. Dan akan lebih mantab kalau menunya ditambah dengan snack khas. Dan untuk barista, dari kemampuan sudah lumayan bagus. Dan akan lebih bagus kalau penampilannya dibuat lebih menarik lagi. Sehingga setiap tamu yang datang langsung bisa mengenalinya"

Wow, sekali lagi ada orang yang menasehati dirinya sendiri. Dan ini bagus, karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau diatur oleh orang lain. Maka sekali lagi eksperimen ini membuahkan hasil yang luar biasa.

Sebenarnya itu eksperimen apa sih?  Adakah mahluk ghoib berperan di situ sehingga seseorang bisa bercakap dengan dirinya sendiri dan menghasilkan  sebuah solusi?
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, eksperimen itu adalah sebuah teknik dalam NLP yang disebut sebagai Perceptual Position.

Perceptual Position adalah sebuah teknik  digunakan untuk melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan merubah sudut pandang terhadap suatu permasalahan dapat memberikan penilaian yang berbeda pula terhadap satu permasalahan yang sama.

Ada tiga Perceptual Position, yaitu :

Posisi Pertama: melihat, mendengar dan merasakan situasi melalui mata, telinga dan perasaan kita sendiri. Jadi pada posisi ini kita dalam kondisi ter-asosiasi dengan permasalahan yang sedang dihadapi.

Posisi Kedua: memposisikan diri sebagai orang lain, sehingga pada posisi ini kita menempatkan diri sebagai “orang lain” yang sedang melihat, mendengar dan merasakan permasalahan kita.

Posisi Ketiga: ini adalah posisi sebagai observer (pengamat).

Teknik Perceptual Position dikenal juga sebagai salah satu teknik untuk melakukan self improvement. Salah satu teknik yang membutuhkan kesadaran dan juga kesabaran dalam melakukannya. Karena tidak semua orang dengan mudah melakukan teknik ini.

Dalam workshop atau pelatihan NLP hal ini akan dijelaskan lebih gamblang sehingga siapa saja yang mempelajarinya dapat mengaplikasikan teknik ini dengan mudah.

Perceptual Position mengajarkan kita untuk melihat suatu permasalahan dengan berbagai sudut pandang, semakin banyak perceptual position yang kita lakukan maka semakin banyak pula perspektif yang kita dapatkan.

Yes, ternyata memang NLP itu selalu mudah dan memudahkan hidup kita.

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik

-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...