POSTINGAN POPULER

Thursday, April 19, 2018

English Phobic

Hasil gambarBeberapa waktu yang lalu, saya mendapat klien yang menurut saya situasinya lumayan menarik. Dia adalah seorang pemuda Batak yang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan ekspedisi multinasional yang lumayan tenar di tanah air. Dengan posisi yang sudah berada pada level managerial, tentunya dia dituntut untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Namun apesnya, boro-boro berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, mendengar kata berbahasa asing itu saja sudah mampu membuat keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Wew...!

Sementara jika klien tadi ingin melaju ke jenjang yang lebih tinggi, salah satu syarat utamanya ya bahasa Inggris tadi. Saya bisa membayangkan posisi simalakama yang terjadi pada klien ini.
Sebelum menggali lebih dalam lagi asal muasal terjadinya english-phobic ini, seperti biasa, saya ajak dulu klien saya tadi membuat WFO (Well-formed Outcome), sbb: "Aku yakin atas ijin Tuhan,  mulai sekarang dan selanjutnya aku merasa nyaman dan menyukai bahasa Inggris, sehingga di kemudian hari memudahkan diriku dalam mempelajari serta menguasai Bahasa Inggris. Aamiin"
***

Kemudian saya minta dia untuk mengingat peristiwa asal dirinya mengalami ketaknyamanan terhadap bahasa Inggris ini. Rupanya dia masih sangat ingat  detail peristiwanya yang terjadi ketika dia masih balita. Saat itu orang tuanya mewajibkan semua anaknya untuk menguasai bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Maka ayah klien saya ini mendatangkan guru les Inggris ke rumah untuk ketiga anaknya. Klien saya yang masih balita dan dua abangnya yang waktu itu sudah SMP.

Berbeda dengan kedua abang yang menyambut gembira kedatangan tentor bahasa Inggris ini, klien saya justru merasa ketakutan pada sosok tua tentor itu yang menyerupai datuk Maringgih. Alih-alih ikut belajar, setiap kali tentor itu datang ke rumah, klien saya pasti langsung bersembunyi di dalam lemari.

Rupanya perilaku englishphobic ini berlanjut sampai ketika klien saya menginjak bangku SMP dan SMA. Setiap kali pelajaran Bahasa Inggris, dia pasti kabur dari kelas. Tak heran jika sampai saat itu ketakutannya pada bahasa Inggris kian menjadi saja.
***

Setelah paham 'niat baik' dari perilaku englishphobic nya ini, maka langkah pertama yang saya ambil adalah mengkoreksi ketakutan masa kecil klien saya pada pak tua itu. Karena selama ini program yang berjalan di pikiran bawah sadarnya adalah sbb:

Pak tua itu menakutkan
Pak tua itu guru bahasa Inggris
Maka Bahasa Inggris itu menakutkan!

Kemudian saya tanyakan, siapa tokoh yang berbahasa Inggris yang dia sukai. Jawabannya adalah Jason Statham, pemeran The Trasporter.

"Baiklah Bang Rambo (bukan nama sebenarnya), coba perhatikan telapak tangan kiri saya,  silakan Anda proyeksikan sosok Pak Tua tentor Bahasa Inggris di sini. Berikan sensasi yang jelas pada setiap detil sosok tadi. Ingatlah semua ketakutan Anda waktu itu. Bisa khan?", saya mulai melakukan intervensi beliefnya menggunakan teknik Swish Pattern. Setelah dia mengangguk, saya turunkan telapak tangan kiri, digantikan dengan telapak tangan kanan. 

"Dan sekarang perhatikan telapak tangan kanan ini, kemudian proyeksikan sosok Jason Statham dalam film apapun yang Anda suka. Rasakan bedanya dengan ketika Anda menatap telapak tangan kiri tadi"

Setelah saya lakukan hal itu selama 3 kali, dengan cepat saya pukulkan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri. "Plakkkk!"

Segera saya sembunyikan telapak tangan kiri dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah Bang Rambo sembari memberikan sugesti tambahan. 

"Entah kenapa mulai sekarang dan selanjutnya bayangan sosok pak tua itu tergantikan oleh Jason Statham. Dan mulai sekarang dan selanjutnya Anda merasa nyaman serta menyukai bahasa Inggris sehingga di kemudian hari memudahkan Anda mempelajari serta menguasainya."
***
Saya melakukan tes dengan memberinya novel Dan Brown  berbahasa Inggris yang berjudul Demon & Angels, dan luar biasanya ternyata dia mampu membaca novel tadi dengan lancar (dengan logat bataknya tentu saja), meski dia tidak tahu artinya. Wow...!

Apakah sesi terapi selesai di sini?  Tentu tidak. Saya mesti meyakinkan Bang Rambo supaya dia tidak kabur lagi ketika nanti mulai mengikuti kursus bahasa Inggris.

Kali ini saya gunakan teknik Six Step Reframing. Saya minta dia rebahan di kursi terapi dan setelah menarik nafas 3 kali, saya minta dia untuk berkomunikasi dengan 'part' dirinya yang selalu mengajak kabur setiap pelajaran bahasa Inggris waktu sekolah dulu. Dia memberinya nama si Kabur yang berwarna hitam. 

"Baiklah Bang Rambo, silakan tanyakan apakah si Kabur mau diajak berkomunikasi. Jika mau minta dia memberikan signal"
Sekiranya menunggu 1 menit, tetiba saja Bang Rambo menjawab, "Lutut kiri saya berdenyut lembut Pak Hari"
"Bagus, berarti si Kabur mau berkomunikasi. Sekarang tanyakan apakah dia mau non aktif,  agar Anda bisa segera mengambil kursus bahasa Inggris?"
Semenit lagi berlalu, "Aduh aduh lutut kiri saya berdenyut kuat agak sakit Pak Hari"
"Wah, ternyata dia belum mau non aktif Bang Rambo. Coba sekarang panggil si jenius dalam diri Anda. Minta dia memberikan beberapa pilihan agar Anda bisa segera belajar bahasa Inggris."

Agak lama berselang, baru Rambo menjawab bahwa kepalanya bergoyang ke depan dan belakang seolah mau dijedotin ke kursi, sementara tangan kirinya bergerak seolah sedang menulis.

Saya arahkan lagi untuk menanyakan kepada si kabur, apakah dia menerima alternatif dari si jenius tadi. Dan denyutan di lutut kiri Bang Rambo mulai sirna bahkan berhenti. Berhasil!

Ketika Rambo membuka mata, dia masih terlihat takjub dengan komunikasi bawah sadar yang baru saja terjadi. Sambil mengejapkan mata dia bertanya kenapa si kabur tidak dibuang saja. Saya jelaskan bahwa si kabur itu merupakan part dari dirinya yang suatu saat nanti mungkin akan berguna, maka tidak boleh dibuang. Contoh dalam kondisi bencana semisal gempa atau kebakaran dimana Rambo perlu melarikan diri dari situasi tersebut, maka si kabur akan berperan penting.

"Terus apa makna kepala saya yang maju mundur sama tangan saya yang bergerak seperti menulis tadi Pak?"
"Itu bukan dijedotin Bang, ketika nanti Anda sudah berada di kelas bahasa Inggris, Anda diharapkan untuk serius ditunjukkan oleh anggukan kepala Anda. Juga Anda diharap rajin mencatat agar kosa kata Anda bertambah dengan signifikan. Sederhana bukan informasi dari pikiran bawah sadar Anda tadi?"

Sekali lagi terbukti bahwa kita sebenarnya telah memiliki semua sumber daya menuju sukses. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengakses, memperkuat kemudian mengurutkannya.

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

No comments:

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...