POSTINGAN POPULER

Saturday, April 28, 2018

Messi Gagap Bola

Kisah ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Seorang kawan lama mengajak anak lelakinya (kelas 5 SD) untuk ditingkatkan kemampuan bermain bolanya menggunakan NLP. Beberapa waktu sebelumnya, dia menelpon saya untuk menanyakan apakah hal itu mungkin dilakukan.

Sejujurnya, saya sendiri juga tidak memiliki jawaban pasti, maka satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah meminta kawan saya tadi membawa anaknya untuk saya intervensi kemampuan bermain bolanya.

Singkat cerita,  setelah mengajarkan membuat WFO (Well Formed Outcome), saya gunakan teknik Circle of Excellence kepada anak kawan saya tadi.

H: "Kakak suka main bola?"
K: "Suka Om"
H: "Mau dibantu supaya lebih keren main bolanya?"
K: "Mau banget Om"
H: "Siapa pemain bola idola Kakak?"
K: "Messi Om"
H: "Kakak tahu Messi itu siapa?"
K: "Tahu banget Om"

Kemudian kakak menceritakan mengenai  Messi dengan sangat antusias dan detail.

H: "Wow,  Kakak sangat mengenal Messi ya? Emang suka nonton Messi kalau lagi tanding ya?"
K: "Sering Om. Pokoknya kalau Messi tanding aku pasti nonton. Kalau ga bisa karena malam, aku minta ayah untuk merekamnya"

Selanjutnya saya membuat sebuah lingkaran di lantai menggunakan spidol dengan diameter 1 meter. Saya minta Kakak berdiri di luar lingkaran, kemudian membayangkan semua kehebatan Messi ketika bermain bola sambil memejamkan mata. Dan ketika saya melihat tanda-tanda trance di wajah Kakak, saya minta dia membuka mata untuk kemudian mengambil 'sesuatu' dari udara dan memasukkan ke dalam lingkaran. Saya minta Kakak mengulanginya beberapa kali.

H: "Baik Kakak,  sekarang Kakak bayangkan bahwa semua keahlian Messi bermain bola seperti menggocek bola,  power ketika menendang, ketepatan mengoper bola dll sudah ada di dalam lingkaran ini. Dalam hitungan 3, Kakak langkahkan kaki kanan dulu ke lingkaran ini. Satu dua dan tiga. Rasakan dan bayangkan keahlian Messi merambat melalui kaki kanan Kakak. Kakak bisa merasakan?"
K: "Ya Om. Rasanya seperti kesemutan."
H: "Bagus. Dalam hitungan 3, langkahkan kaki kiri ke dalam lingkungan. Satu dua dan tiga. Dan sekarang rasakan semua keahlian Messi juga memasuki kaki kiri Kakak. Sekarang pejamkan mata Kakak dan bayangkan dalam pikiran Kakak bahwa Kakak sedang bermain bola di lapangan yang ajaibnya pola permainan bola Kakak persis sama seperti Messi. Rasakan bangga dan bahagianya. Kalau Kakak sudah merasa sangat bangga dan bahagia, segera remas jempol tangan kanan dengan lembut. Bagus!"

Saya biarkan proses ini berjalan sekitar dua menit. Saya perhatikan wajah Kakak terlihat gembira. Di mulutnya tersungging senyum kecil, bola matanya terlihat bergerak-gerak di balik kelopaknya yang terpejam.

H: "Baik Kakak, buka mata sekarang. Dan dalam hitungan 3, keluar dari lingkaran kaki kiri terlebih dahulu. Satu dua dan tiga"

Setelah semua proses selesai,  kemudian saya hapus lingkaran di lantai tadi.
***

Sehari setelah sesi terapi, dengan takjub kawan saya memberitakan via whatsapp message bahwa semua skill anaknya dalam bermain bola meningkat drastis. Kawan-kawannya takjub. Pelatihnya takjub. Saya juga takjub.

Namum sebulan setelah itu, kawan saya menelpon saya dengan agak gusar, mengabarkan bahwa Kakak 'gagap' bermain bola. Alih-alih menggiring bola atau menendang, melihat bola saja dia 'gagap', kebingungan tanpa juntrungan. Bahkan dia menanyakan apakah 'keajaiban' yang terjadi sebulan sebelumnya itu ada jangka waktunya. Apakah setelah keajaiban hilang perlu direcharge lagi, yang artinya ada mahar lagi.

Jujur, saat itu saya juga jadi gagap. Kasus seperti ini baru sekali ini saya alami. Meski terkesan simple, namun saya bisa membayangkan kegusaran kawan saya menyadari anak kesayangannya yang selama ini sudah jago bola, tetiba saja menjadi 'gagap bola'.

Untunglah sebelum semua berlarut-larut, saya ingat sesuatu. Saya tanyakan apa yang terjadi sebelum Kakak gagap bola. Menurut kawan saya tadi, dengan usia yang meningkat maka Kakak pindah klub bola yang lebih senior.

Nah, cahaya terang mulai terlihat semburatnya.

H: "Apakah Kakak tetap di posisi semula, yaitu striker?"
Kawan (K): "Tentu bergeser Bro. Sekarang dia ada di posisi back"
H: "Nah itu dia jawabannya Bro. Seumur hidup atau minimal sepengetahuan Kakak, Messi tidak pernah jadi back. Jadi ya wajar saja ketika jadi back dia akan mengalami kegagapan keahlian"
***

Sidang pembaca yang berbahagia, mungkin Anda juga gagap dengan cerita di atas. Sedrastis itukan perubahan pada seseorang bisa terjadi, bahkan sampaj pada aspek perilaku?

NLP mengenalkan sebuah metode yang disebut NLL (Neuro Logical Level) atau tingkat logis perubahan, tingkat berpikir logis dan tingkat neurologis.
Metoda atau alat ini sangat berguna untuk membantu  memahami perubahan dari titik sudut pandang individu, sosial atau organisasi. Metoda ini dikembangkan oleh Robert Dilts yang didasarkan pada "tingkat neurologis" oleh antropolog Gregory Bateson.

Teori tingkat neurologis menyebutkan tiga jenis perubahan yang mendasar dalam individu atau kelompok sosial:
1. Perubahan remediative:
Apa yang terjadi ditingkat lingkungan dan perilaku.
2. Perubahan generative:
ini terjadi pada tingkat kemampuan, keyakinan dan nilai-nilai.
3. Perubahan evolusioner:
ini terjadi pada tingkat identitas dan tujuan.

Dilts dan DeLozier menyatakan bahwa "tingkat perubahan remediative adalah seperti mencabut rumput liar tumbuh di lapangan. Tingkat generatif, perubahannya mirip dengan menanam bibit baru dengan tujuan untuk mendapatkan rumput baru tumbuh. Tingkat perubahan evolusioner melibatkan proses mendalam mengubah sifat tanah di mana ia tumbuh dan kedua rumput dan bijinya berkembang. "
***

Ada enam tingkatan NEURO LOGICAL LEVEL.

(6) Spirituality & Purpose ==> Pola TUJUAN, GOAL! ==> WHO ELSE?

Tingkat ini diperuntukan pada sistem yang lebih besar (yaitu keluarga, rekan kerja, mereka yang memerlukan jasa atau produk, masyarakat). Apa tujuan Anda? Apa dampak yang ingin Anda miliki?

(5) Identity & Mission ==> Pola MISI, kesungguhan dalam bertindak ==> WHO?

Siapa Anda atau peran apa yang Anda mainkan? Identitas seperti apa yang ingin Anda kenakan?

(4) Belief & Value ==> Pola MOTIVASI ==>WHY?

Keyakinan dan nilai yang Anda miliki tentang diri Anda, tentang orang lain, tentang dunia pada umumnya. Apakah keyakinan ini mendukung Anda dalam memenuhi peran Anda?

(3) Kapability & Strategy ==> Pola TINDAKAN==> HOW?

Kemampuan, strategi dan rencana tindakan apa yang Anda miliki? Apakah Anda perlu mengembangkan kemampuan baru, strategi atau rencana tindakan?

(2) Behaviors ==> Pola PERILAKU ==> WHAT?

Apa yang orang benar-benar lihat dari pengalaman dalam perilaku Anda? Apakah perilaku Anda sejalan dengan masing-masing tingkat logika di atas?

(1) Environment ==> Identifikasi HAMBATAN==> WHERE?

Kapan, di mana, dengan siapa Anda lakukan perilaku ini? Apakah mereka sejalan dengan tingkat logika atas? Apakah lingkungan tersebut mendukung Anda?
***

Dengan memahami NLL di atas, kita jadi paham apa yang terjadi pada Kakak. Di usianya yang masih sangat muda ini, pikirannya masih lebih sering berada di gelombang alpha, maka ketika saya minta dia melakukan 'circle of excellence' tempo hari ternyata Kakak mengalami proses perubahan lengkap dari level environment sampai level purpose. Maka dalam urusan bermain bola, dia benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah Messi. Messi adalah striker. Oleh karenanya segala sesuatu di luar striker bukanlah permainan bola.

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NLP Trainer
WA: 08179039372

Sunday, April 22, 2018

Terapi Anti Migrain

Seorang istri pulang dari kantor dan mengabarkan pada suaminya kalau penyakit migrain menahunnya sudah sembuh total. Rupanya dia pergi mengunjungi seorang hipnoterapis. Dia diajarkan untuk melakukan belief change technique dengan cara berdiri menghadap cermin, lalu menatap matanya sambil mengulangi kata-kata “Saya tidak punya migrainn, saya tidak punya migrain, saya tidak punya migrain”.
Hasilnya?
Luar biasa, migrainnya lenyap dalam sekejap!

“Wah…hebat banget Ma!”, kata suaminya. Si istri lalu berkata, “Pa, Papa kan tahu sendiri, akhir-akhir ini Papa sudah nggak bergairah dan loyo di ranjang. Gimana kalau Papa juga mengunjungi hipnoterapis itu?"

Si suami setuju, lalu pergilah dia menuju tempat praktek hipnoterapis itu. Begitu sampai di rumah segera dia melucuti pakaiannya, menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.
Diletakkannya si istri -yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi-   di ranjang dan berkata, “Jangan kemana-mana, Papa segera kembali”.

Dia pergi ke kamar mandi, kembali beberapa menit kemudian, melompat ke atas ranjang dan pasutri itupun segera terlibat dalam percintaan yang sangat membara, yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. “Wah…Papa luar biasa!”

“Eit! Itu belum seberapa. Jangan kemana-mana, Papa segera kembali”. Sekali lagi sang suami masuk kamar mandi, kembali ke ranjang dan memulai ronde ke 2 yg bahkan lebih hot lagi.

Ronde ke 3 lagi-lagi si suami berkata, “Papa segera kembali” Kali ini, sambil memuji “kehebatan” sang suami, si istri diam-diam mengikutinya ke kamar mandi dan di sana dia melihat suaminya berdiri di depan cermin sambil berkata:
“Dia bukan istriku…..! Dia bukan istriku…..! Dia Sekretarisku…..!"
Bhuahahahahaha.... 😂😂😂😂
***

Sidang pembaca yang berbahagia, sudah ah tertawanya. Awas istri Anda nanti curiga lho, hehehe.

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul 'Ayam atau Bebek', kita sudah membahas mengenai  Human Model of the World (HMoW), yang menguraikan bahwa sumber dari sebuah belief adalah kondisi pikiran-perasaan atau state of mind.

Sebuah informasi yang masuk melalui kelima panca indera kita tidak begitu saja disimpan, namun difilter dulu oleh pengalaman masa lalu sehingga sebenarnya sebuah belief merupakan sebuah 'persepsi' saja adanya. Maka kunci dari Human Model of the World,  ada pada pengelolaan 'persepsi' atau lebih dikenal sebagai Internal Representative tadi.

'Submodality'
Ada 5 panca indera (atau dalam NLP lebih dikenal sebagai Representational System) yang kita miliki. Yakni secara visual (penglihatan), auditori (pendengaran), kinestetik (sentuhan & Perasaan), olfaktori (penciuman) dan gustatori (penciuman). Meskipun informasi yang kita terima telah melalui ke 5 'reps system' tadi, namun terkadang kita belum bisa menangkap dengan jelas pesan yang ingin disampaikan oleh setiap aspek yang kita miliki tersebut. Jadi kita masih perlu menggalinya  lebih dalam lagi atau dengan kata lain mencari sub informasinya. Inilah yang dalam NLP disebut submodalitas.

Jadi Sebenarnya Submodalitas Itu Apa?

Secara singkat, submodalitas adalah kualitas yang dapat dihasilkan oleh reps system kita. Lebih dalam dari sekedar visual, auditori, ataupun kinestetik, submodalitas memungkinkan kita untuk merasakan ‘sensasi' yang dimunculkan oleh pengalaman kita. Hitam putih-berwarna, tiga-dua dimensi, bergerak-diam, terang-gelap, dll adalah kualitas yang dapat dihasilkan oleh reps system visual.

Suara keras-lembut, nada tinggi-rendah, suara dari jauh-dekat, cepat-lambat, dll adalah kualitas dari reps system auditori. Sementara intentitas, tekstur, berat, bentuk, suhu, dll adalah kualitas dari reps system kinestetik.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan dengan submodalitas ini?

Sangat banyak. Inilah salah satu 'keajaiban' NLP, setiap jenis pengalaman dikode oleh otak kita dengan kualitas yang berbeda-beda. Pengalaman buruk-baik, menyedihkan-menyenangkan, menakutkan-menggairahkan, dll direpresentasikan dengan kualitasnya masing-masing dalam pikiran kita.

Nah, keajaiban lain yang lebih penting: kita dapat mengubah kualitas dari pengalaman yang ada dalam pikiran kita dan karenanya mengubah pula efek yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut. Menggunakan pendekatan visual, auditori ataupun kinestetik, ketika komponen kualitas dari aspek reps system itu kita intervensi, ajaibnya kondisi pikiran-perasaan (state of mind) kita juga berubah yang pada akhirnya belief kita juga ikut berubah.

'Submodality Map Across'
Dalam  kelas-kelas pelatihan NLP, saya selalu mencoba melakukan intervensi kualitas dari reps system ini (biasa dikenal dengan istilah submodality map across) pada peserta agar mereka langsung mendapatkan bukti nyata. Suatu kali ada peserta yang sangat takut pada sosok kuntilanak. Setiap pulang kerja, dia akan senantiasa memacu motornya meski hari baru menjelang maghrib. Dia tidak ingin bertemu Mbak Kunti di jalan. Dan ketika kami tunjukkan gambar kuntilanak di internet, dia memang kelihatan sangat ketakutan. Maka saya ajak dia untuk melakukan intervensi submodalitasnya,  sbb:

Visual:
- Rambut panjang --> botak
- Daster putih panjang --> daster batik pendek sepaha
- Muka putih pucat, lingkaran mata hitam --> muka badut dengan hidung tomat
- Terbang --> meluncur pakai skateboard
- Menggendong bayi pocong --> menggendong bayi kambing

Auditori:
- Suara melengking --> suara ngebas seperti Mr Bean
- Hiiii hiiii hiii --> ho ho ho ho sepatu kekecilan (dilagukan seperti pada film cinderela)

Hari kedua ketika kami tanyakan apakah hari pertama dia pulang dengan memacu motor seperti biasanya, dengan lugu dia bercerita bahwa kemarin dia pulang dengan nyantai, sambil melihat ke kiri dan ke kanan, barangkali bisa ketemu mbak kunti. Padahal hari pertama pelatihan baru kelar jam 8 malam. Owsem!
***

Sidang pembaca yang berbahagia, kisah pasutri di atas hanyalah fiktif belaka, termasuk teknik afirmasinya,  namun ketika teknik intervensi  submodalitas ini dilakukan dengan tepat dan dalam timing yang tepat maka hasil dari dari kualitas hubungannya bisa diwujudkan dalam dunia nyata, seperti pada kejadian mbak kunti tadi.

Mau tau teknik lengkapnya?
Mau tau aja atau mau tau banget?

Kalau mau tau banget ya tinggal ikut saja workshop Neo NLP tgl 5-6 Mei 2018 di Cafe Therapy Bogor.

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach

Friday, April 20, 2018

PEDAGANG ATAU WIRAUSAHA?

Alhamdulillah acara Kab Bogor Berdaya hari ini berjalan lancar meski sempat diwarnai kekhawatiran panitia karena hujan mengguyur Bogor dan Cibinong dari pagi. Sekitar jam 9 lewat sedikit acara dimulai dengan pemaparan yang asyik serta menarik dari Ketua Umum Forum UMKM Kab Bogor yaitu Kang Haikal Thalib, dengan topik 'Menjadi UKM Juara.'
Dengan sangat rendah hati namun kaya hadiah, Kang Haikal memberi rahasia kecil agar bisa menjadi UKM Juara, yaitu dengan menyitir salah satu hadits nabi “KHAIRUNNAS ANFA’UHUM LINNAS”
"Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”
Kang Haikal membuktikan hal ini dengan membagi-bagikan hadiah kepada para peserta. Beliau memiliki prinsip 'pay it forward', yang secara maknawi berarti, 'jangan biarkan kemurahan hati ini berakhir pada diri Anda, namun teruskanlah kepada orang di sekitar Anda'
Sebuah prinsip sederhana namun jika dilakukan oleh semua orang maka 'Menjadi UKM Juara' adalah sebuah keniscayaan.
Hatur nuhun pisan Kang Haikal sudah memberi pencerahan kepada kami di pagi yang mendung tadi.
***
Acara selanjutnya adalah giliran saya menyampaikan 'The Art of Entrepreneurship', atau seni menjadi wirausaha.
Menurut Ir.Ciputra, ada tiga jenis Wirausaha :
1.Necessity Entrepreneur
yaitu menjadi wirausaha karena terpaksa dan desakan kebutuhan hidup.
2.Replicative Entrepreneur
yang cenderung meniru-niru bisnis yang sedang ngetren sehingga rawan terhadap persaingan dan kejatuhan.
3.Inovatif Entrepreneur
wirausaha inovatif yang terus berpikir kreatif dalam melihat peluang dan meningkatkannya.
***
Seringkali orang tidak bisa membedakan antara pedagang dengan wirausaha. Mereka menganggap wirausaha pastilah seorang pedagang atau sebaliknya, padahal survey membuktikan bahwa kedua profesi ini sangatlah jauh berbeda. Lalu dimana bedanya?
Pedagang memiliki dagangan, sementara wirausaha memiliki BISNIS. Loh, apa bedanya kalau begitu,  bukankah dagangan para pedagang tadi juga merupakan bisnis mereka.
Sebentar, jangan sewot dulu Kawan, ternyata BISNIS para wirausaha di sini merupakan akronim dari:
• Berbasis Ilmu
• Inovatif
• Strategis
• Niat yang kuat
• Informasi dan Teknologi
• Supel
Kita boleh disebut memiliki BISNIS ketika ke-6 syarat di atas terpenuhi, jika belum, bisa jadi kita baru sebatas menjadi seorang pedagang. Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah cerita menarik di bawah ini:
Si Bejo adalah salah satu mahasiswa ternama di Universitas Indonesia. Seperti biasanya, setelah pulang kuliah Si Bejo langsung nongkrong di depan kampus tempat orang berjualan teh botol. Tanpa basa-basi Si Bejo langsung meminta satu teh botol. Iseng-iseng ia bertanya pada si tukang teh botol yang bernama Pak Untung,
“Pak Untung sudah lama jualan teh botol?”
“Sekitar 20 tahun lebih, Dik!” jawab Pak Untung
Bejo kembali bertanya, ”Bapak anaknya berapa?”
Sambil melayani pembeli, Pak Untung menjawab, ” Saya mempunyai 3 (tiga) anak laki-laki. Anak saya yang pertama di IPB, yang kedua di ITB, dan terakhir di UGM.”
Dalam hati, Bejo sangat heran, tidak disangka anak seorang tukang teh botol bisa kuliah di IPB, ITB, dan UGM. Berarti anaknya pintar-pintar. Bejo kembali bertanya,
“Ngomong-ngomong anak bapak ambil jurusan apa, Pak?”   Dengan santainya Pak Untung menjawab,
” Enggak, Dik. Di sana mereka jualan teh botol juga. Hehehehe….. :)
Nah, menurut Anda Pak Untung tadi seorang Pedagang, atau Wirausaha?
Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

Accept & Explore

Mungkin selama ini sebagian dari Anda sudah familiar dengan istilah accept &  utilize. Terima dan manfaatkan. Pameo ini banyak diugemi oleh praktisi aikido dan hipnosis. Prinsipnya adalah kita memanfaatkan hal apapun yang ada pada klien (atau lawan dalam aikido) untuk membantu menyelesaikan masalah klien (atau untuk menjatuhkan lawan)

Sementara istilah accept &  explore saya dapatkan ketika mengikuti salah satu sesi seminar Arvan Pradiansyah (Motivator Nasional di Bidang Happiness) ketika membahas tentang rasa syukur.

Hasil gambar untuk cellphoneMenurut para ulama syukur adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya di mana rasa senang. Lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.
Menurut Arvan Pradiansyah dalam syukur terdapat dua unsur yaitu menerima (accepting) dan mengeksplor (exploring).

Mengucapkan terimakasih, merasa lega dan senang serta menyebut nikmat yang telah kita terima merupakan indikasi dari unsur accepting tadi. Namun ternyata belumlah lengkap ungkapan syukur kita tadi ketika kita belum melakukan ekplorasi atas nikmat yang telah kita terima tadi.

Accept
Mari kita ikuti ilustrasi berikut ini. Suatu hari tiba-tiba Anda mendapatkan hadiah berupa smartphone dari bos Anda. Tentunya Anda akan menerima hadiah tersebut dengan wajah berseri-seri, tak lupa dari mulut Anda meluncur  bertubi-tubi ucapan terima kasih. Sebuah reaksi yang sangat wajar bukan? Dan tentunya wajah bos Anda juga tak kalah sumringahnya menyadari kegembiraan Anda menerima (accepting) hadiah tersebut. Waktupun terus berjalan, dengan antusias Anda sudah menggunakan smartphone hadiah tadi untuk melakukan telephon dan sms. Sampai Anda sadari bahwa raut bos Anda selalu kelihatan masygul kalau berbicara dengan Anda.

(Not) Explore (yet)
Tahukah Anda apa penyebabnya? Ya, dia merasa telah salah menghadiahi sebuah smartphone kepada Anda yang hanya Anda gunakan untuk telepon dan sms. Anda tidak melakukan eksplorasi fungsi lain benda canggih tersebut.
Padahal masih banyak fungsi lain dari sebuah smartphone selain untuk bertelephon dan ber sms-ria. Anda bisa menjelajah internet misalnya. Atau melakukan chatting, bahkan videocall. Karena menganggap Anda belum bersyukur, bisa saja bos Anda mengambil lagi hadiah tersebut dan diberikannya kepada orang lain yang menurutnya akan mengeksplorasi fungsinya.
***

Pembaca yang budiman, sebagai ciptaan Allah paling sempurna,  kita telah dikarunia pelbagai potensi untuk menghadapi segala macam tantangan hidup. Kita hanya akan dikatakan bersyukur setelah kita melewati tahapan menerima dan mengeksplor tadi.
Oleh karena itu kita perlu ngulik segala sumber daya yang ada dalam diri kita dan mengembalikannya kepada alam semesta ini dalam bentuk manfaat yang sebesar-besarnya.
Explore
Sedari kecil, saya sering penasaran dengan pelbagai hal di sekita saya. Melihat lilin bisa menyala tanpa minyak pun membuat saya penasaran. Bahkan perjumpaan saya dengan istilah hipnosis pun karena penasaran melihat aksi sulap orang yang mampu menggerakkan boneka dari jarak jauh di sebuah pasar malam.
Karena penasaran maka saya selalu mencari tahu jawaban atas kepenasaran saya tadi. Maka ketika sekarang sudah mendedikasikan diri sebagai seorang terapis dan trainer hipnosis, saya juga masih rajin mengeksplore apa saja kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain.

Dalam workshop Find The Hypnotist in YOU! beberapa waktu yang lalu, kembali saya mengeksplore kemampuan seorang peserta dengan membuka mata bathinnya. Sebelumnya saya sudah memiliki keyakinan bahwa dengan satu dan beberapa teknik maka manusia akan memiliki kemampuan untuk melihat menembus pandang pelbagai wujud  meski terhalang benda lain.

Dan benar saja setelah melakukan induksi dan memastikan bahwa klien sudah berada pada gelombang theta alias deep trance maka kamipun melakukan beberapa eksperimen.
Eksperimen pertama, saya menuliskan sebuah angka di telapak tangan saya kemudian saya kepalkan tangan kiri tadi, dan saya minta suyet untuk berkonsentrasi menembus telapak tangan saya. Dalam kesempatan pertma dia langsung bisa melihatnya. Angka yang saya tuliskan adalah 7, dan dia seolah melihat angka 7 terbalik di punggung telapak tangan saya. Luar biasa!

Eksperimen kedua, kali ini yang memberikan sugesti adalah alumnus training yang sedang reseat (Pak Kono). Saya menyusun dua kertas warna origami di bawah selembar karton tebal dan kemudian Pak Kono memberikan sugesti bahwa mata suyet menjadi lebih peka dan tajam sehingga mampu menembus karton tebal untuk melihat warna apa yang tersembunyi di baliknya.

Hanya sekilas melihat, suyet tersenyum dan menjawab, merah dan kuning. Pak Kono tertawa takjub dan mau membuka kartonnya. Segera saya tahan dan saya bertanya lagi di sebelah mana warna merahnya. Dengan tenang suyet menjawab, merah kanan, kuning kiri. Dan tepat lagi jawaban suyet. Warbyazahh! 

Belum puas dengan dua eksplorasi tadi, Pak Kono mencoba teknik baru yaitu kacamata ajaib. Kali ini setelah memberikan sebuah kacamata plastik kepada suyet sambil mengatakan bahwa itu adalah kacamata ajaib yang mampu menembusa pandang, Pak Kono menuliskan sebuah huruf di balik karton. Dengan cepat suyet menjawab, huruf A. Dan tepat lagi.

Bahkan ketika suyet diminta untuk mendeteksi kaki sebelah mana dan hernia sebelah mana yang bermasalah, suyetpun masih mampu menjawab dengan tepat.
Iseng saya tanya suyet, itu uang yang di kantong baju Pak Kono berapa nilainya. Kalau bisa jawab maka uang itu jadi milik suyet. Dia tersenyum dan minta kepastian dari sang empunya uang. Pak Kono mengiyakan. "Sepuluh ribu",  jawab suyet. Pak Kono tertawa lebih takjub lagi sambil mengeluarkan lembaran sepuluh ribuan baru dan mengangsurkan kepada suyet. "Untung bukan seratus ribuan", gumam Pak Kono. Warrrbyaazaaah banggeds!

Dan sehari setelah pelatihan saya mendapatkan whatsapp message dari suyet sbb:
"Oiya Pak Hari, saya dpt 1 hal yg penting lg hari ini. Ternyata baru bljr dan belum buka praktek therapy saya sdh menghasilkan uang. Meskipun nominalnya hanya 10rb. Tapi pesan moral buat saya, ini adalah keyakinan saya untuk kedepannya saya insya Allah Pasti bisa menghasil yg lebih lg jumlahnya berkali kali lipat... Aamiin"

Saya kemudian  berpesan kepada suyet bahwa  yang kami lakukan itu adalah sebagian dari implementasi rasa syukur dengan accept dan explore tadi. Saya katakan agar dia rajin mengksplore kemampuan lain yang telah diberikan Allah agar nantinya kita bisa menjadi rahmatan lil alamin, rahmat untuk alam beserta segala isinya. Karena bila kita lalai, dan tidak mengeksplore, seperti halnya smartphone yang bisa diminta lagi oleh bos kita, bisa saja Allah selaku Bos dari Segala Bos mengambil semua potensi kita dan memberikannya kepada orang lain.

Ya, karena SYUKUR adalah 
Saya 
Yakin 
Usaha 
Kita 
Urusan 
Rabb.

Tertarik untuk accept & explore?

Daftarkan saja diri Anda dalam Workshop Find The Hypnotist in YOU!  rutin setiap bulan di Cafe Therapy Bogor

Tabik
- haridewa -
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Thursday, April 19, 2018

Human Model of the World

Ayam atau Bebek
Berikut ini adalah cerita dari seorang GURU, Ajahn Chah dari Thailand timur laut.
Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu pagi musim panas yang indah, seusai sarapan. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kwek! Kwek!"
Hasil gambar untuk kukuruyuk"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kwek! kwek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
"Kwek! Kwek!" terdengar lagi.
"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.
"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.
"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue… bek, kamu… kamu…."

Terdengar lagi suara, "Kwek! Kwek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam…."
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."
"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kwek! Kwek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.
***

Sidang pembaca yang berbahagia, mungkin kita juga pernah berada dalam situasi seperti cerita di atas. Pertanyaannya bukanlah kenapa bisa terjadi hal seperti ini atau siapa yang salah, melainkan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

NLP (Neuro Linguistic Programming)  mengenalkan kita pada sebuah 'Communication Model' atau  sering juga disebut dengan 'Human Model of the World' (HMoW), yang menguraikan bahwa sumber dari sebuah belief adalah kondisi pikiran-perasaan atau state of mind.

Hasil gambar untuk human model of the worldSebuah informasi yang masuk melalui ke-lima panca indera kita tidak begitu saja disimpan, namun difilter dulu oleh pengalaman masa lalu sehingga sebenarnya sebuah belief merupakan sebuah 'persepsi' saja adanya. Maka kunci dari Human Model of the World,  ada pada pengelolaan 'persepsi' atau lebih dikenal sebagai Internal Representative (IR).

Memahami proses terjadinya IR akan menjadikan kita mengenal diri dan lingkungan, sebab kita jadi tahu bagaimana sebenarnya pikiran ini bekerja. Bahwa makna sebuah situasi yang kita hadapi  tidak terletak pada kejadiannya, melainkan pada cara kita menyimpan informasi akan kejadian serupa di masa silam yang tersimpan dalam pikiran.

Onomatope
Ketika berada di bangku sekolah dulu, saya pernah belajar teori bahasa yang disebut onomatope. Menurut KBBI, onomatope (Inggris: onomatopoeia) adalah nominalisasi kata tiruan bunyi, misalnya 'kokok' merupakan tiruan bunyi ayam, 'cicit' merupakan tiruan bunyi tikus.

Makna lain onomatope adalah pembuatan kata berdasar pada  apa yang didengar. 'Plung' adalah bunyi benda yang masuk ke air. 'Gludug' adalah bunyi benda keras besar terjatuh ke lantai. 'Krompyang' adalah bunyi kaca yang pecah. Dlsb.

Ada kawan saya setiap janjian di Giant selalu mengirim pesan "kita ketemu di gayen". Belum lagi dulu banyak team saya yang menulis 'remainding' untuk mengingatkan dokter agar senantiasa meresepkan produk kami.

Semua itu terjadi karena informasi yang masuk melalui telinga (auditory) diproses menggunakan pengalaman subyektif untuk kemudian direpresentasikan dalam bentuk ujaran (kata)  tadi.

Kembali ke suara ayam di atas, ternyata pelbagai bangsa menengarai bunyinya sesuai dengan Human Model of the World mereka masing-masing.
Bangsa  Inggris menyebut suara ayam jantan dalam menyambut pagi dengan ‘cock-a-doodle-doo’. Ayam jago Belanda juga tak mau kalah membangunkan manusia dari peraduannya dengan seruan ‘kukeleku’. Ayam jantan Perancis yang bertetangga akan menyahut dengan ‘cocorico’.

Dan berikut adalah padanan kokok ayam dalam berbagai bahasa dunia lainnya antara lain ‘kikeriki’ (Jerman), ‘quiquiriquí (Spanyol), ‘cucurigu’ (Rumania dan Bulgaria), ‘chicchirichi’ (Italia), ‘gue-gue’ (China), ‘kou-kou-kou-kou’ (Jepang), ‘kou-ka-re-kou’ (Rusia).

Di negara kita sendiri, tak semua ayam jago akan menyerukan ‘kukuruyuk’ menyambut datangnya pagi. Di kawasan Jawa Barat, ayam jantan Sunda akan bersenandung ‘kong-ko-rongok’.
***
Sidang Pembaca yang berbahagia,  dengan memahami HMoW maka kita juga akan mampu memahami perilaku seseorang sesuai dengan belief mereka. Seperti si suami pada kisah Thailand di atas akhirnya sadar, siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.

Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"? Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.

Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan terbukti ternyata kita salah?
Lho, siapa tahu? Mungkin saja suara yang terdengar pagi itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!
"Kwek! Kwek...!"

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

English Phobic

Hasil gambarBeberapa waktu yang lalu, saya mendapat klien yang menurut saya situasinya lumayan menarik. Dia adalah seorang pemuda Batak yang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan ekspedisi multinasional yang lumayan tenar di tanah air. Dengan posisi yang sudah berada pada level managerial, tentunya dia dituntut untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Namun apesnya, boro-boro berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, mendengar kata berbahasa asing itu saja sudah mampu membuat keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Wew...!

Sementara jika klien tadi ingin melaju ke jenjang yang lebih tinggi, salah satu syarat utamanya ya bahasa Inggris tadi. Saya bisa membayangkan posisi simalakama yang terjadi pada klien ini.
Sebelum menggali lebih dalam lagi asal muasal terjadinya english-phobic ini, seperti biasa, saya ajak dulu klien saya tadi membuat WFO (Well-formed Outcome), sbb: "Aku yakin atas ijin Tuhan,  mulai sekarang dan selanjutnya aku merasa nyaman dan menyukai bahasa Inggris, sehingga di kemudian hari memudahkan diriku dalam mempelajari serta menguasai Bahasa Inggris. Aamiin"
***

Kemudian saya minta dia untuk mengingat peristiwa asal dirinya mengalami ketaknyamanan terhadap bahasa Inggris ini. Rupanya dia masih sangat ingat  detail peristiwanya yang terjadi ketika dia masih balita. Saat itu orang tuanya mewajibkan semua anaknya untuk menguasai bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Maka ayah klien saya ini mendatangkan guru les Inggris ke rumah untuk ketiga anaknya. Klien saya yang masih balita dan dua abangnya yang waktu itu sudah SMP.

Berbeda dengan kedua abang yang menyambut gembira kedatangan tentor bahasa Inggris ini, klien saya justru merasa ketakutan pada sosok tua tentor itu yang menyerupai datuk Maringgih. Alih-alih ikut belajar, setiap kali tentor itu datang ke rumah, klien saya pasti langsung bersembunyi di dalam lemari.

Rupanya perilaku englishphobic ini berlanjut sampai ketika klien saya menginjak bangku SMP dan SMA. Setiap kali pelajaran Bahasa Inggris, dia pasti kabur dari kelas. Tak heran jika sampai saat itu ketakutannya pada bahasa Inggris kian menjadi saja.
***

Setelah paham 'niat baik' dari perilaku englishphobic nya ini, maka langkah pertama yang saya ambil adalah mengkoreksi ketakutan masa kecil klien saya pada pak tua itu. Karena selama ini program yang berjalan di pikiran bawah sadarnya adalah sbb:

Pak tua itu menakutkan
Pak tua itu guru bahasa Inggris
Maka Bahasa Inggris itu menakutkan!

Kemudian saya tanyakan, siapa tokoh yang berbahasa Inggris yang dia sukai. Jawabannya adalah Jason Statham, pemeran The Trasporter.

"Baiklah Bang Rambo (bukan nama sebenarnya), coba perhatikan telapak tangan kiri saya,  silakan Anda proyeksikan sosok Pak Tua tentor Bahasa Inggris di sini. Berikan sensasi yang jelas pada setiap detil sosok tadi. Ingatlah semua ketakutan Anda waktu itu. Bisa khan?", saya mulai melakukan intervensi beliefnya menggunakan teknik Swish Pattern. Setelah dia mengangguk, saya turunkan telapak tangan kiri, digantikan dengan telapak tangan kanan. 

"Dan sekarang perhatikan telapak tangan kanan ini, kemudian proyeksikan sosok Jason Statham dalam film apapun yang Anda suka. Rasakan bedanya dengan ketika Anda menatap telapak tangan kiri tadi"

Setelah saya lakukan hal itu selama 3 kali, dengan cepat saya pukulkan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri. "Plakkkk!"

Segera saya sembunyikan telapak tangan kiri dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah Bang Rambo sembari memberikan sugesti tambahan. 

"Entah kenapa mulai sekarang dan selanjutnya bayangan sosok pak tua itu tergantikan oleh Jason Statham. Dan mulai sekarang dan selanjutnya Anda merasa nyaman serta menyukai bahasa Inggris sehingga di kemudian hari memudahkan Anda mempelajari serta menguasainya."
***
Saya melakukan tes dengan memberinya novel Dan Brown  berbahasa Inggris yang berjudul Demon & Angels, dan luar biasanya ternyata dia mampu membaca novel tadi dengan lancar (dengan logat bataknya tentu saja), meski dia tidak tahu artinya. Wow...!

Apakah sesi terapi selesai di sini?  Tentu tidak. Saya mesti meyakinkan Bang Rambo supaya dia tidak kabur lagi ketika nanti mulai mengikuti kursus bahasa Inggris.

Kali ini saya gunakan teknik Six Step Reframing. Saya minta dia rebahan di kursi terapi dan setelah menarik nafas 3 kali, saya minta dia untuk berkomunikasi dengan 'part' dirinya yang selalu mengajak kabur setiap pelajaran bahasa Inggris waktu sekolah dulu. Dia memberinya nama si Kabur yang berwarna hitam. 

"Baiklah Bang Rambo, silakan tanyakan apakah si Kabur mau diajak berkomunikasi. Jika mau minta dia memberikan signal"
Sekiranya menunggu 1 menit, tetiba saja Bang Rambo menjawab, "Lutut kiri saya berdenyut lembut Pak Hari"
"Bagus, berarti si Kabur mau berkomunikasi. Sekarang tanyakan apakah dia mau non aktif,  agar Anda bisa segera mengambil kursus bahasa Inggris?"
Semenit lagi berlalu, "Aduh aduh lutut kiri saya berdenyut kuat agak sakit Pak Hari"
"Wah, ternyata dia belum mau non aktif Bang Rambo. Coba sekarang panggil si jenius dalam diri Anda. Minta dia memberikan beberapa pilihan agar Anda bisa segera belajar bahasa Inggris."

Agak lama berselang, baru Rambo menjawab bahwa kepalanya bergoyang ke depan dan belakang seolah mau dijedotin ke kursi, sementara tangan kirinya bergerak seolah sedang menulis.

Saya arahkan lagi untuk menanyakan kepada si kabur, apakah dia menerima alternatif dari si jenius tadi. Dan denyutan di lutut kiri Bang Rambo mulai sirna bahkan berhenti. Berhasil!

Ketika Rambo membuka mata, dia masih terlihat takjub dengan komunikasi bawah sadar yang baru saja terjadi. Sambil mengejapkan mata dia bertanya kenapa si kabur tidak dibuang saja. Saya jelaskan bahwa si kabur itu merupakan part dari dirinya yang suatu saat nanti mungkin akan berguna, maka tidak boleh dibuang. Contoh dalam kondisi bencana semisal gempa atau kebakaran dimana Rambo perlu melarikan diri dari situasi tersebut, maka si kabur akan berperan penting.

"Terus apa makna kepala saya yang maju mundur sama tangan saya yang bergerak seperti menulis tadi Pak?"
"Itu bukan dijedotin Bang, ketika nanti Anda sudah berada di kelas bahasa Inggris, Anda diharapkan untuk serius ditunjukkan oleh anggukan kepala Anda. Juga Anda diharap rajin mencatat agar kosa kata Anda bertambah dengan signifikan. Sederhana bukan informasi dari pikiran bawah sadar Anda tadi?"

Sekali lagi terbukti bahwa kita sebenarnya telah memiliki semua sumber daya menuju sukses. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengakses, memperkuat kemudian mengurutkannya.

Sila tebar jika manfaat

Salam Bahagia

Tabik
-haridewa-
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

Sunday, April 15, 2018

Duniaku Berkabut

Hari ini, sepanjang hari ini aku merasakan duniaku penuh kabut. Pagi ketika aku memulai hariku berangkat ke kantor, waktu terhitung memang masih subuh. Mentari belum memancarkan sinar keemasannya. Lampu besar mobilku nyalang menerobos kepulan asap putih sepanjang hitungan kilometer jalan bebas hambatan.
Sebentar siang kemudian, aku masih merasakan duniaku berkabut. Kantorku dipenuhi ruam tipis keputihan. Saat bertatap kolega kerja, mereka tampak sedikit buram bersemu rona putih.
Laptopku, jendela samping ruang kerjaku, mejaku, bahkan foto keluarga yang aku letakkan di meja kerjakupun tak luput dari serangan ruam tipis putih itu. Berkabut.
Sore hari, saat menyusuri kembali rute kantor menuju rumah, kegundahanku kian bertambah saja. Segala sesuatu yang tampak dari pandangku, remang-remang saja adanya. Nyaris berkabut.

Aku bingung. Aku galau. Tuhan, apakah ini akhir dari segalanya? Apakah telah Kau ambil salah satu dari inderaku sebagai pertanda bahwa dunia ini memang kian menua?
Setibanya di rumah, kulihat istriku, anak-anakku, lemari pakaianmu, sofa di ruang tamu, hiasan dinding semuanya tampak masih berkabut.
Aku tambah bingung. Ada apa gerangan? Tuhan, salah apa lagi hambaMu ini, sehingga Kau hukum hamba sedemikan rupa?

Namun, semuanya menjadi jelas ketika aku hendak mandi, dan aku melepas kacamataku.
Ooo rupanya, hari ini aku lupa mengelap kacamataku.
Hehehe, serius amat sih bacanya..!
***
Sidang Pembaca yang berbahagia, mungkin salah satu dari Anda juga pernah mengalami hal ini. Pandangan serta pemandangan di depan Anda serasa berubah disebabkan karena kacamata Anda yang ternyata kurang bersih.

NLP (Neuro Linguistic Programming)  menawarkan suatu pola komunikasi yang berguna sebagai parameter untuk membatasi ruang lingkup komunikasi.  Pola ini dikenal dengan Frame atau kerangka pikir.

Dengan memahami pola komunikasi ini maka kita meluaskan atau menyempitkan pemahaman sebuah situasi yang sedang kita hadapi sesuai dengan kebutuhan kita saat itu.
Frame memberi batasan pada kita bagaimana kita memandang dunia. Frame juga mempengaruhi bagaimana kita berfikir mengenai dunia. Dan Frame jugalah yang mengatur bagaimana kita bersikap serta berperilaku.

Frame inilah yang menjadi kerangka kerja bagi kekuatan pikiran kita. Baik Pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar.

Saat kita mengubah Frame, kita juga mengubah banyak hal di dalam diri kita. Mengubah cara kita memandang dunia. Mengubah Cara berfikir kita. Mengubah cara-cara kita dalam menilai serta mengambil keputusan. Mengubah cara-cara kita dalam bersikap dan bertindak.

Beberapa jenis frame dalam NLP yaitu :
  • Outcome Frame : Orientasi pada hasil dari sebuah tindakan (Outcome)
  • Backtrack Frame : Mengembalikan kepada frame sebelumnya
  • Agrement Frame : Orientasi pada kesepakatan antara beberapa pihak
  • Evidence Frame : Orientasi pada bukti-bukti yang ada.
  • As If Frame : Orientasi pada pengandaian / perumpaan / kemungkinan.
  • Contrast Frame : Orientasi pada frame yang bertolak belakang / polaritas
  • Ecological Frame : Orientasi pada kondisi ekologis

Selain dalam konteks terapi,  pola framing juga dapat diterapkan sebagai strategi untuk memenangkan negosiasi, membujuk calon pembeli, atau menentukan sebuah tujuan bersama dalam sesi coaching.

Beberapa jenis frame di atas dapat dikombinasikan ataupun hanya menggunakan salah satunya saja, namun apapun itu bila menggunakan frame ini di dalam negosiasi atau komunikasi persuasif lainnya maka ucapan kita menjadi lebih terukur dan juga besar peluang untuk memenangkan sesi persuasif tadi.

Pesan moral:
Kalau suatu saat pandangan Anda menjadi berkabut, atau remang-remang, jangan salahkan orang lain, keadaan atau bahkan Tuhan.
Datang saja ke dokter mata atau optic terdekat, siapa tahu mata Anda atau kacamata Anda yang memang bermasalah, hehehe.
Nah kalau mau belajar NLP, bisa join kelas saya besok,  atau tgl 5-6 Mei di Cafe Therapy Bogor.

Salam Bahagia

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
WA: 08179039372
FB: Hari Dewanto

Tuesday, April 10, 2018

Pesan Dulu

Suatu sore yang cerah,  Mukidi singgah di sebuah cafe sekedar untuk melepas lelah sembari menikmati sajian kopi yang konon kabarnya sangat nikmat. Mukidi mencari tempat duduk di sudut yang agak temaram agar bisa lebih santai. Sambil memesan kopi dia bertanya apa password wifi di cafe tersebut. "Pesan dulu", jawab waitress cantik yang melayani Mukidi. "Iye, gue pesen black coffee satu", jawab Mukidi

Tak selang berapa waktu, waitress cantik tadi kembali sambil menyodorkan secangkir black cofee. "Nah saya sudah pesen black coffee. Jadi passwordnya apa Mbak Cantik", kata Mukidi agak genit. "Pesan dulu", jawab waitress tadi sambil tetap tersenyum ramah. "Oke, jadi belum cukup nih gue pesen kopi. Oke, gue minta kue muffin satu", kata Mukidi mulai gusar.

Segera saja waitress tadi dengan cekatan mengambil satu muffin dan menyerahkan kepada Mukidi. "Nah, sekarang gue sudah pesen minuman sama snack, boleh dong dikasih tahu passwordnya!", kata Mukidi lagi gak sabaran. Sambil tetap menjaga senyum manisnya, waitress tadi menjawab, "Pesan dulu"

"Apa?  Cafe apaan ini, memasang tulisan free wifi tapi syarat untuk dapat password saja bererot amat. Baiklah kalau begitu, gue pesen sekalian nasi goreng jengkol, beef steak, french fries, sekalian orange juice satu. Cukup khan?", Mukidi benar-benar kehabisan kesabarannya. Waitress cantik tadi tersenyum kemudian pamit ke belakang.

Agak lama, karena pesanan Mukidi kali ini memang membutuhkan waktu untuk menyiapkannya, waitress tadi kembali menuju tempat duduk Mukidi untuk menyajikan pesanan terakhir ini. "Gimana Mbak waitress, jadi apa sebenarnya password wifinya?", kali ini Mukidi sudah malas untuk basa basi. "Khan dari tadi saya sudah kasih tahu Bapak. Pesan dulu. P E S A N D U L U!", jawab waitress cantik tadi kalem.

Dan Mukidi hanya bisa gigit meja sambil menghabiskan semua pesanannya tadi.
***

Sidang Pembaca yang berbahagia, silakan kalau mau tertawa dulu. Mungkin Anda menganggap Mukidi terlalu naif, bodoh atau segudang celaan lain. Namun pernahkah Anda mengalami peristiwa sejenis? Anda bercakap, membaca sebuah informasi, atau melihat sebuah peristiwa dan Anda memaknainya menggunakan peta pikiran (mental map) Anda? Pernah? Atau bahkan sering?

Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) dikenal istilah presuposisi atau asumsi dasar yang melandasi manusia berpikir. Salah satu presuposisi yang paling terkenal adalah 'The Map is not The Territory'. Bahwa realitas internal manusia tidaklah selalu sama dengan realitas eksternal yang terjadi di luar dirinya. Repotnya dalam beberapa kejadian, manusia cenderung untuk merespon kondisi luar (RE) menggunakan  kondisi dalam (RI) pikirannya. Inilah yang terjadi pada cerita Mukidi di atas.
***
Dengan memahami NLP,  maka kita jadi mampu memahami cara kerja pikiran manusia sesuai dengan beberapa presuposisi yang telah dibuat oleh penciptanya. Dan ketika kita memahami cara kerja pikiran manusia, maka dengan sengaja kita bisa mengarahkan kemana sebuah perilaku akan dibawa.

Cerita di atas hanyalah fiktif belaka, namun bisa juga dijadikan sebuah strategi bisnis. Menentukan password wifi dengan taktik seperti itu akan mampu menaikkan jumlah pesanan pada sebuah cafe.

Anda ingin tahu lebih banyak mengenai teknik NLP? Gampang kok caranya.

Pesen dulu!

Saya buka kelas Neo NLP setiap bulan di Cafe Therapy Bogor.

Sila tebar jika manfaat.

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
WA: 08179039372

Monday, April 09, 2018

Putih Melati

Mawar, sebut saja begitu adalah seorang perempuan muda yang sangat energik serta periang yang berprofesi sebagai Sales Supervisor Otomotive. Usai pelatihan Selling with Happiness untuk Wiraniaga pabrikan otomotif yang berada di bawah management Eurokars Indonesia, dia menemui saya untuk menceritakan sebuah kondisi yang meski tidak parah namun lumayan mengganggu dirinya belakangan ini.
Setiap kali dia diajak makan seafood oleh team, baik atasan atau bawahan maka yang bisa dia nikmati hanya sayurannya saja. Kalau dia mencoba mencicipi udang atau cumi maka perutnya langsung merasa panas dan mual.

Ketika saya tanya apakah hal ini terjadi dari dulu, jawabannya tidak. Dia pernah punya pengalaman menikmati makan udang dan cumi dengan nikmat.

Suatu ketika dia melihat adiknya mencari udang di kali dan dia melihat banyak lumut di sekitar tempat mendapatkan udang tadi. Sejak saat itulah setiap kali melihat bahkan mencium bau udang maka terjadi serangan di perutnya,  mual dan panas.

Beda pula cerita asal muasalnya phobia cumi. Suatu ketika Mawar mencoba makan cumi yang dimasak dengan tintanya. Hitam legam cumi tadi terendam pada kuah tintanya. Entah karena alasan apa, namun anehnya yang terbayang di benak Mawar, hitam legam itu adalah cairan olie mobil. Dan sejak saat itu Mawar pasti mual ketika mencoba makan cumi dalam masakan apapun.
***

Seperti biasa, langkah pertama yang saya lakukan adalah membimbing klien membuat WFO. Maka berikut ini WFO dari Mawar:

"Bismillahir rahmanir rahiim. Aku yakin atas ijin Allah, mulai sekarang dan selanjutnya, aku bisa menikmati udang dan cumi dalam masakan apapun. Aamiin"

Setelah melakukan edukasi teknik yang akan saya pakai yaitu empty chair therapy, maka saya minta Mawar untuk duduk lebih relaks sambil menunjuk di bagian mana tolakan itu sering terjadi. Mawar menunjuk bagian perut sebelah kanan. Kemudian saya minta dia memberi warna serta nama pada bagian itu, yang diberi nama Putih Melati.

Sejurus kemudian Putih Melati sudah didudukan di kursi di depan Mawar. Berikut dialog mereka:

M: "Putih, apa niat baikmu menggangu aku setiap kali makan udang dan cumi?"
PM: "Mawar, kamu tahu khan bahwa kedua makanan itu kadar kolesterolnya tinggi?"
M: "Ya, aku tahu. Tapi kamu juga tahu khan bahwa itu makanan kesukaanku?"
PM : "Betul Mawar, meski itu kesukaanmu, namun kamu tetap mesti membatasi. Kalau kamu makan berlebih pasti aku akan memberikan warning berupa perut panas dan mual!"
M : "Oo begitu ya Putih. Terimakasih kalau begitu. Selain perut panas dan mual ada alternatif lain gak?"
PM: "Bagimana kalau pusing?"
M: "Jangan ah, aku tidak suka juga dengan pilihan pusing"
PM: "Mmm bagaimana kalau bersin satu kali. Jadi aku akan bersin satu kali setiap kali cumi dan udang yang kamu makan aku rasa cukup"
M: "Baik. Aku bisa menerima pilihan itu. Terimakasih ya Putih"
Kemudian saya minta Mawar untuk mengembalikan Putih Melati ke tempat asal, yaitu perut sebelah kanan.
***
Pas coffee break sore, saya mendapat pesan WA dari Mawar sbb:

"Pak..mawar td sdh makan udang n cuminya, Alhamdulilah perutnya ok". 🙏
"Thanks a lot ya pak  Hari
Atas bantuannya"

😊
***

Simple, singkat serta powerful, itulah  Solution Focused Brief Therapy (SFBT) yang benar benar berfokus pada klien. Tanpa mengintervensi masa lalu, hanya memperkuat sisi positive klien dan totally awake sehingga sangat client friendly.

Sila tebar jika manfaat

PS:
Anda ingin tahu teknik lain dalam SFBT?
Anda bisa join di kelas hipnosis dan NLP, rutin sebulan sekali  di Cafe Therapy Bogor

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
WA: 08179039372

Thursday, April 05, 2018

MUDIK GRATIS TAHUN INI

Tahun ini kemenhub kembali membuka program mudik lebaran gratis ke pelbagai pelosok daerah di Jawa. Tentunya masyarakat menyambut penuh suka cita program bagus ini. Dengan bergegas mereka segera mendaftarkan diri mereka meski bulan puasa saja belum menampakkan batang hidungnya.

Sahabatku yang berbahagia, dari sekian persyaratan yang dibutuhkan agar bisa mengikuti program ini, menurut Anda apakah syarat yang paling utama?
KTP, surat domisili, surat rekomendasi kantor, dll?
Bukan, bukan itu syarat utamanya. Justru syarat yang paling mendasar agar bisa disetujui ikut program mudik gratis adalah kita mesti memiliki KAMPUNG halaman! Sebuah TUJUAN!

Akan sama halnya ketika suatu saat Anda ingin memesan kendaraan online. Hal pertama yang mesti Anda lakukan adalah setting lokasi tujuan. Setelah itu Anda juga mesti menentukan 'pick up location'.
Bahkan terkadang meski sudah melakukan dua hal mendasar tadi kita masih juga bisa gagal mendapatkan kendaraan on line.
Apa pasal? Sang driver tidak mengenal atau tidak mau mengantar menuju tujuan tadi.
Ya, itulah pentingnya menentukan sebuah tujuan dalam semua lini kehidupan kita. Ketika kita tidak menentukan sebuah tujuan maka kita tidak akan beranjak dari posisi kita sekarang atau kita akan tiba di tempat yang tidak kita inginkan.
***

'WFO'
Banyak sekali terminologi mengenai penentuan tujuan ini. Visi, DREAM, goal,  resolusi, target dlsb. NLP mengenal hal ini sebagai WFO (Well Formed Outcome) atau sebuah tujuan yang disusun dengan baik yang telah disesuaikan dengan cara kerja pikiran manusia sehingga menjadi lebih mudah dicapainya. 

Minimal terdapat 8 syarat dalam WFO.

  1. WFO perlu disusun dengan kalimat yang berstruktur grammar positif, alias absen dari kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.
  2. WFO perlu bisa dimengerti oleh indera, makin banyak indera bisa mengerti seperti apa WFO  yang diharapkan, maka makin mudah pikiran untuk mendapatkannya. Jadi WFO minimal bisa dihayati 3 dari 5 indera: secara Penglihatan, Pendengaran, Perabaan/Perasaan, dan lebih baik lagi Penciuman atau Pencecapan. Dengan membuat WFO dimengerti indera, maka pikiran menjadi mengerti, apakah sudah tercapai, atau belum WFO itu?
  3. WFO perlu disusun dengan spesifik, bila perlu gunakan standard 5W,  1H.
  4. Sesuai konteks
  5. Pastikan WFO tadi berada dalam kendali kita
  6. Kita memiliki sumberdaya untuk mencapainya
  7. WFO perlu ekologis, alias tidak melawan sistem keseimbangan internal diri sendiri dan terhadap kehidupan sekitarnya.
  8. Tentukan langkah awal. WFO yang bisa diinisiasi (diawali) dan dijaga oleh pemiliknya, akan lebih mudah didapatkan, dari pada WFO yang (tercapai atau tidaknya) sangat digantungkan dari pihak luar.
***

'Time Distortion'
Sahabatku yang berbahagia , pernahkah Anda mengalami 'time distortion' dalam sebuah perjalanan? Anda merasa lama dan jenuh ketika berkendara menuju satu tempat yang belum pernah Anda tuju. Namun anehnya ketika pulang Anda merasa jarak tempuhnya menjadi lebih dekat dan dalam waktu singkat bisa sampai ke tujuan (rumah). Pernah khan?

Tahukah Anda apa penyebabnya? Dari beberapa kawan yang saya tanya, inilah alasannya:

  1. Kita mengenal rumah kita dengan baik 
  2. ‎Kita merasa lega karena urusan di tempat tujuan sudah selesai dan saatnya pulang 
  3. ‎Ada kerinduan untuk pulang ke rumah 
  4. ‎Kita sudah mengenal rute menuju rumah 
  5. ‎Perjalanan pulang tanpa beban


Demikian juga pola pencapaian sebuah WFO, jika Anda merasa bahwa mencapai WFO merupakan sebuah journey panjang menuju sebuah tempat yang masih asing, maka perasaan pertamalah yang akan muncul. Anda akan merasa jenuh, terbebani dan hopeless.

Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan semua indera kita agar kita mampu merasakan sensasi 5 alasan di atas. Kita perlu merasa bahwa WFO itu sudah kita capai bahkan pada etape pertama kita memulainya. Jika kita menuliskannya dalam bahasa Inggris, maka gunakanlah kaidah waktu 'Past Future Perfect Tense'. Sesuatu yang sudah selesai dikerjakan dalam waktu yang akan datang. Maka sebisa mungkin hindarkan pula penggunaan kata 'mau, ingin atau akan'.
***

'Antara WFO dan DOA'
Sebagai kaum beragama, dari kecil kita diajarkan untuk selalu berdoa sebelum memulai sebuah aktifitas. Ada doa sebelum dan  sesudah makan, doa mau tidur dan bangun tidur, doa naik kendaraan, doa berbicara di depan umum dlsb.

Mungkin sebagian dari Anda menganggap bahwa doa hanyalah sebuah retorika belaka. Pelengkap ujaran agar terkesan religius. Namun tahukah Anda bahwa ternyata rangkaian kata yang kita ucap maupun tidak, akan langsung menghantarkan kita pada suatu state (kondisi pikiran-perasaan yang kita alami) tertentu. Ketika kita berucap baik maka state kita menjadi baik,  ketika kita berucap buruk, state pun menyesuaikan.

State, pada akhirnya akan menjadi penentu perilaku yang akan kita munculkan. State positif, ada orang menyenggol mobil kita di jalan,  bisa kita maafkan. State negatif, orang nyalip kita di jalan tol,  bisa kita kejar tanpa ampun.

Maka kunci memunculkan perilaku yang baik adalah memprogram state yang positif, yang kuncinya adalah memulai dengan pemilihan kata-kata yang positif pula.
Nah WFO merupakan satu cara yang sangat powerful dalam pemilihan kata kata tadi.
Dalam pengalaman saya pribadi, ternyata WFO ini bisa dipilah menjadi beberapa term disesuaikan dengan jangka waktu pencapaiannya. Ada yang immediate, short term, mid term, long term dan very long term.

Semua orang pada akhirnya ingin hidup bahagia dan kemudian meninggal masuk surga. Itu adalah very longterm WFOLongterm WFO  bisa berupa VISI besar karier atau pencapaian kehidupan spiritual. Sementara short-mid term WFO  mungkin termasuk pada kepemilikan rumah atau mobil.

Dan apakah yang masuk dalam kriteria immediate WFO? Justru hal penting ini yang sering kita abaikan. Misal, siang ini kita ingin makan apa. Perjalanan ke kantor mau lancar atau macet? Mau mendapat tempat parkir yang sesuai keinginan di kantor atau mal? Atau sekedar ingin buang hajat dengan aman dan nyaman di kemacetan lalulintas Jakarta yang kian hari kian parah saja.

Semua itu perlu WFO!

Dan meski sederhana tetaplah ingat untuk menyusunnya sesuai 8 kaidah seperti yang sudah saya paparkan pada awal tulisan ini.
Bahkan ketika saya masih menjadi Sales Manager di perusahaan farmasi dulu saya tidak akan mengijinkan team saya keluar kantor tanpa memiliki sebuah WFO.  Kami menyebutnya sebagai action call plan.
***

Sudah terlalu banyak contoh WFO yang berhasil saya capai, dari rumah, mobil, pencapaian karir sampai kemenangan tender training. Tanpa berniat untuk menyombongkan diri, saya ingin menceritakan hal remeh temeh yang saya alami beberapa waktu yang lalu.

Hari itu saya janji terapi dengan klien di kantor Jakarta di bilangan Tanah Abang. Siang ketika saya sampai di lokasi ternyata klien juga sudah sampai sehingga tidak ada lagi waktu untuk makan siang. Maka saya segera membujuk salah satu 'musketeer' saya agar menahankan lapar sampai waktu terapi selesai. 

Kemudian saya menyusun sebuah WFO agar bisa makan sate solo selepas sesi terapi usai sbb:

'Bismillahir rahmanir rahiim. Aku yakin atas ijin Allah aku bisa makan sate dan tongseng Solo selepas sesi terapi ini dengan nikmat. Aamiin'

Ternyata terapi baru kelar menjelang maghrib, sementara malam itu saya ada janji untuk bertemu dengan beberapa kawan terapis (Muhammad Hujairin cs) di Tanjung Barat. Segera saya bergegas bersama seorang kawan (Mas Kono) menuju Tanjung Barat sambil di sepanjang jalan mencari warung sate Solo.

Beberapa kali kawan saya menawarkan untuk mampir di Food Court yang terlihat ramai. Namun saya masih menolak karena food court tadi tidak menyediakan sate Solo. Sampai akhirnya kami melewati lokasi tempat pertemuan tadi, dan kawan saya menawarkan untuk kembali saja ke food court yang sudah terlewati tadi dari pada perut semakin keroncongan.
Namun saya tetap keukeuh dengan WFO saya dan mengajak kawan saya untuk melaju sedikit lagi melewati gedung pertemuan tadi.

Sim salabim abrakadabra prok prok prok dibantu jadi apa ya? Hanya berselang sepuluh meter dari gedung pertemuan tadi di sebuah tikungan ada sebuah warung Sate Khas Solo yang seolah memang sedang menunggu kedatangan kami berdua.

Kawan saya bertanya apakah saya memang sudah tahu bahwa ada warung Sate Solo di tikungan tadi. Lha boro boro tahu, datang ke situ saja seingat saya baru sekali kok. 

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih bersyukur serta menambah keyakinan saya bahwa seluruh perjalanan kehidupan ini merupakan jalinan-jalinan WFO yang saling terhubung satu sama lain. Tergantung kita mau menyusunnya atau tidak.

Saya jadi ingat sebuah quote dari Jack Welch yang mengatakan 'Tentukan nasib Anda sendiri sekarang, karena jika Anda tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya untuk Anda'

Maka pertanyaan saya untuk Anda, "Sudahkah Anda membuat WFO hari ini?"

"Saya sudah....!"

PS:
Anda ingin belajar lebih jauh mengenai WFO dan NLP?  Join saja kelas Neo NLP Practitioner  yang rutin sbulan sekali saya buat di Cafe Therapy Bogor

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...