POSTINGAN POPULER

Saturday, January 27, 2018

Percaya vs Yakin


Wow, jadi ini rupanya salah satu kunci doa yang makbul!  YAKIN!

Hasil gambar untuk trustPagi ini saya mendengar tausiah Ust Abi Makky di salah satu stasiun TV swasta yang mengulas tentang adab dalam berdoa. Betapa banyak dari kita yang sering memanjatkan doa, namun merasa bahwa Allah tidak adil karena belum mengijabahnya juga.  Begitu sering kita berdoa minta kesejahteraan diiringi dengan ibadah tak kunjung putus namun hidup kita masih begini-begini saja. Sementara banyak pihak di luar sana yang sepertinya ibadahnya biasa saja kalau tak boleh dibilang ahli maksiat kok kehidupannya lebih sejahtera dibanding kita. Kira-kira begitu opening dari Ustadz Abi Makky.

Bahkan sebenarnya jajaran malaikat di atas sana sudah jengah dengan perilaku para ahli maksiat ini sehingga para malaikat itu menutup pintu langit agar doa ahli maksiat ini tidak tembus sampai ke langit. Namun anehnya Allah malah memerintahkan malaikatnya untuk membuka kembali pintu langit. Ketika mereka bertanya, maka Allah berkata, "Aku suka dengan keYAKINan mereka bahwa Aku akan mengabulkan doa mereka. Aku suka mereka YAKIN bahwa hanya Akulah yang mampu mengabulkan doa mereka. Dan Aku suka bahwa mereka YAKIN kalau Aku pasti mengabulkan doa mereka"

Dalam kisah lain ketika nabi Ibrahim menghadapi hukuman bakar oleh Namrud, datanglah Jibril menawarkan bantuan. Namun Ibrahim menolak dengan halus, "Aku memang sedang berada dalam masalah besar tapi aku tidak butuh bantuanmu wahai Jibril, aku hanya perlu bantuan Allah, karena aku YAKIN hanya Dia yang mampu membantuku selamat dari jilatan api yang membara ini". Maka Allah memerintahkan api untuk menjadi kawan Ibrahim, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Qs 21 ; 69)
Hasil gambar untuk trust
Saya yakin Anda juga pasti sudah membaca cerita sederhana di bawah ini:
Suatu hari di sebuah kampung diadakan shalat istisqa' untuk berdoa meminta hujan. Warga kampung pun berdatangan ke lapangan membawa sajadah dan alas. Ada keanehan saat seorang anak kecil datang tidak hanya membawa sajadah tapi juga membawa payung. Maka dia pun ditanya oleh warga lain mengapa membawa payung. Jawaban anak ini sungguh luar biasa "Saya YAKIN setelah shalat selesai Allah akan menurunkan hujan". Wow!

Keyakinan sangat penting dalam segala aktivitas kita. Keyakinan bisa membuat seseorang melakukan pekerjaan yang di luar nalar dan akal sehat manusia. Tindakan bisa positif bisa juga negatif. Teroris yang berani melakukan bom bunuh diri dilandasi oleh keyakinan yang salah. Jika keyakinannya benar maka tindakannya juga hasilnya berupa kebaikan dan kemenangan.
***
Sidang Pembaca yang budiman seringkali juga kita mendengar percakapan sederhana seperti ini. 

"Lu percaya sama gue khan?"
"Percaya kok!"
"Yakin?"
"Enggg...
"

Sebenarnya apa sih perbedaan percaya  dan yakin ?  Untuk lebih mudahnya saya akan menggambarkannya melalui  cerita di bawah ini. 

Suatu hari Anda memasang lowongan kerja untuk driver karena Anda merasa capek kalau mesti berkendara Jakarta-Bogor setiap hari. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya Anda memilih satu orang yang menurut Anda paling berkualitas sebagai seorang driver. Ini namanya PERCAYA. Anda percaya bahwa kandidat tadi memang memiliki kompetensi sebagai seorang driver dan mampu membawa mobil Anda dengan baik dan benar.

Di hari pertama Anda berkendara dengan driver tadi Anda masih belum merasa nyaman karena belum mengenal gaya menyupir driver tadi. Sampai setelah beberapa hari Anda mulai nyaman dan bahkan bisa tidur di perjalanan. Ini yang namanya YAKIN. Anda sudah menyerahkan hidup Anda di tangan driver Anda.

Kembali ke doa yang dikabulkan. Kalau selama ini Anda sudah berdoa, itu menandakan Anda percaya dengan adanya Allah,  namun sudahkah Anda siap menyerahkan hidup Anda kepada Allah? Kalau belum berarti Anda belum YAKIN.

Hasbunallah wanikmal wakil, 
nikmal maula wanikman nasir

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039272

Wednesday, January 24, 2018

Saya, Aku, atau Gue?

Sejak jaman Aristoteles,  kepribadian manusia sudah mulai dipilah dan dipilih sesuai dengan gejala psiko-motorik keseharian yang dominan dimunculkannya. Maka kita mengenal Koleris (si Kuat),  Sanguin (si Superstar),  Plegmatis (si Pencinta Damai),  dan Melankolis (si Sempurna). 

Hasil gambar untuk aristotelesKoleris suka mengatur dan memerintah orang. Dia tidak mau ada orang berdiam diri saja sementara dia sibuk kerja/beraktivitas.  Orang dengan tipe sanguin terkenal dengan banyak omongnya, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta mengusasai pembicaraan.  Kaum plegmatis umumnya menghindari konflik alias netral, bagi mereka perdamaian itu nomer satu.  Mereka juga baik hati, pribadinya tenang rendah hati dan juga penyabar. Tipe Melankolis mempunyai sifat dasar yang tertutup. Mereka sering mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bersifat estetis yang mendalam sehingga mereka lebih menghargai seni dibandingkan dengan perangai yang lainnya. Tipe Melankolis cenderung suka murung dan mudah putus asa.

Selain tipologi di atas, kita juga mengenal DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Compliance), MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan beberapa varian ragam tipologi lainnya. NLP sebagai salah satu keilmuan yang dikenal cerdas dalam melakukan transformasi kepribadian manusia juga memiliki sistem tipologi tersendiri yang dikenal sebagai Meta Program. Istilah ini merujuk pada Program pada tataran Meta yang berfungsi sebagai alat sortir ketika kita akan memproses suatu pemaknaan melalui persepsi, meliputi proses input, filtering dan penyimpanan data yang pada akhirnya termanifestasi pada perilaku manusia.

“In Neuro-Linguistic Programming (NLP), meta-programs are the keys to the way you process information. They’re basically how you form your internal representations and direct your behavior” 

Meta program ini terbentuk dari pikiran dan perasaan yang muncul dalam diri kita secara berulang-ulang.  Memahami Meta program adalah prasyarat mutlak bagi terapis,  konselor, motivator, HRD people, pengusaha, atasan dan siapa saja yang ingin melakukan profiling,  baik dalam rangka mencari solusi terhadap masalah seseorang, membangkitkan semangat dan prestasi, dan lain sebagainya.

Dalam literatur dikenal ada puluhan meta program. Setidaknya menurut Michael Hall ada 60 meta program dari hasil penelitiannya. Namun, kita coba melihatnya dari Rodger Bailey yang melakukan riset secara empiris dan universal, yang dinamakan LAB (Language And Behaviour) Profile.  Adapun yang menjadi perhatiannya adalah struktur bahasa (language structure) seseorang.

Marilah kita simak beberapa meta program tersebut  :
- Proactive/Reactive
Ada beberapa orang yang terbiasa memulai sebuah aksi (proaktif) dan ada sebagian lainnya yang bereaksi atas sebuah aksi (reaktif)

- Toward/Away
Sebagian orang bergerak untuk mencapai kenikmatan  (toward), sementara sebagian lainnya bergerak untuk menjauhi kesengsaraan  (away)

- Internal/External
Sumber motivasi seseorang bisa berasal dari dalam dirinya (internal) atau bisa dari orang lain (eksternal)

- Optional/Prosedural
Ada orang yang langsung bisa dengan mudah mengambil pilihan-pilihan kegiatan atau usaha (opsional) namun ada juga yang senang dengan serangkaian prosedur atau seperangkat aturan untuk menjalankan sesuatu (prosedural)

- Sameness/Difference
Ada orang-orang yang senang ketika memasuki suatu pekerjaan atau usaha yang memiliki “persamaan” dengan yang pernah ia jalankan sebelumnya (Sameness).  Sedangkan adapula yang ketika disuguhkan pekerjaan yang itu-itu juga akan merasa cepat bosan dan ia ingin sesuatu yang lebih menantang dan berbeda (Difference)

- Feeling/Thinking
Ada beberapa orang yang melakukan penilaian berdasarkan “perasaan” mereka (Feeling), dan ada yang lebih dominan melihat dari sisi logika atau “Pikiran” (Thinking).
***

Sebagai terapis, saya dituntut untuk memahami profiling ini dengan baik agar segera tercipta keterhubungan bathin dengan klien dalam proses terapinya.
Setelah paham sumber motivasinya, kecenderungan feeling/thinkingnya, biasanya saya akan mencari tahu pendekatan internal/externalnya. Untuk klien dengan tipe external saya biasanya memberikan direct sugestion,  menggunakan sudut pandang orang kedua (Anda) dan mencari panggilan yang nyaman bagi klien sehingga sugesti akan menjadi lebih kuat.

Kalau di rumah seorang anak dipanggil 'kakak' maka saya juga akan menggunakan sebutan tersebut. Ketika seorang ibu muda lebih suka dipanggil Mbak/Teh, saya juga akan mengikutinya. Yang saya akan tolak ketika ada lelaki macho yang minta dipanggil 'Beb',  hiiiiy emang eike cowok apaan!  

Dan untuk tipe internal, saya akan meminta klien mengulangi dalam hati (atau mengucap dengan suara lembut) sugesti yang saya sampaikan yang biasanya menggunakan sudut pandang orang pertama (aku). Awalnya saya mengira varian orang pertama ini bisa diwakilkan oleh satu sebutan yang seragam yaitu aku atau saya. Namun saya mendapatkan pencerahan ketika melakukan terapi masal quit smoking beberapa waktu yang lalu.

Klien saya waktu itu adalah beberapa waitress di salah satu Resto favorit di kota Bogor. Kebetulan ke 5 klien ini bertipe internal, jadi setelah melakukan beberapa tahapan, saya mengunci niat berhenti merokok mereka dengan sugesti:

"Aku tahu, jauh di dalam diriku, bahwa Aku adalah tuan untuk diriku sendiri, tidak ada yang pernah bisa mengendalikan diriku, dan karena itu aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan …  oleh karena itu, aku memutuskan untuk berhenti merokok … aku  memutuskan untuk diri sendiri kapan harus benar-benar berhenti merokok … aku telah memutuskan untuk berhenti merokok. Dan waktu yang paling tepat untuk berhenti merokok adalah sekarang. Maka mulai sekarang dan selanjutnya aku adalah pribadi sehat tanpa rokok, dsb dst"

Setelah saya lakukan terminasi kemudian saya cek apakah mereka masih menginginkan rokok ketika saya tawarkan. Dan ternyata hanya satu orang yang betul-betul menolak bahkan terkesan mual ketika menerima rokok dari saya, sementara ke-empat kawannya masih bisa menikmati rokok mereka. Saya berfikir keras mencari tahu, pasti ada yang kurang tepat dalam penyusunan sugesti tadi. Kenapa hanya kurang tepat, bukan salah? Karena ada yang berhasil dipengaruhi.

Saya ingat satu presuposisi bahwa setiap individu adalah unik dan mereka merespon dunia eksternal sesuai dengan dunia internal mereka masing-masing. Kemudian saya tanya bagaimana mereka menyebut diri mereka ketika melakukan self talk. Klien yang terpengaruh oleh sugesti tadi menjawab,  'aku',  dua kawan di sampingnya menjawab 'abdi',  satu orang menjawab 'urang',  satu lagi menjawab 'aing'.

Dhuarrr,  bagai dikagetkan oleh geledek di siang bolong saya baru nyadar. Kok bisa hal ini terlewat dari pengamatan saya! Kalau untuk menyebut klien dalam sudut pandang orang kedua saja saya mencari varian sebutan yang nyaman bagi klien, rupanya connectedness klien kepada dirinya sendiri juga dibutuhkan dengan mencari varian sebutan yang paling nyaman bagi mereka.
Dan ketika proses terapi saya ulangi untuk ke empat klien tersisa dengan arahan untuk mengganti sebutan 'aku' dengan sebutan yang nyaman bagi mereka yaitu abdi, urang dan aing. Alhasil siang itu akhirnya saya mendapatkan sumbangan 5 bungkus rokok dikarenakan pemiliknya sudah insyaf dari kebiasaan merokoknya.
***
Sidang Pembaca yang budiman, mungkin ada sebagian dari Anda yang menganggap bahwa hal yang saya sampaikan ini adalah hal yang sepele dan remeh temeh. Namun tunggu dulu, sejak saat itu saya mencoba mencari korelasi dengan sendi kehidupan yang lebih luas yaitu mengenai keterhubungan kita dengan orang terdekat kita (keluarga) bahkan dengan  Sang Khalik. Coba cek lagi apakah kita sudah menyebut anak dan istri kita dengan sebutan yang nyaman untuk mereka?

Anak bungsu saya bernama Aditya Sakti Celestion Dewanto, dari kecil kami panggil dia Tion. Namun begitu menginjak SD, entah dengan alasan apa, dia minta dipanggil Adit di depan kawan-kawannya. Dia tidak akan merespon bahkan cenderung kesal ketika di depan kawan-kawannya kami panggil Tion. Mungkin Anda juga punya pengalaman sejenis.

Dalam tataran yang lebih relijius, apakah kita sudah memosisikan kedudukan kita di hadapan Allah dengan dekat? Maksud saya, apakah ketika mengucap doa, kita sudah betul-betul mendekatkan diri denganNya menggunakan sebutan orang pertama yang cocok, nyaman dan dekat?

Ini mirip dengan dialektika dalam keseharian, ketika berbincang dengan kawan yang menurut kita sudah dekat hubungannya, biasanya kita akan ber-'aku' atau ber-'gue', sementara ketika sedang berada di dalam forum atau kurang dekat hubungan kita dengan lawan bicara maka kita akan menggunakan kata ganti orang pertama 'saya'.

Nah, jika Anda merasa bahwa hubungan Anda dengan keluarga belum bagus, atau doa Anda selama ini belum ma'bul, cobalah teliti lagi apakah tingkat connectedness bathin Anda dengan keluarga atau dengan Allah sudah sangat erat.

Lu paham maksud gue khan? 

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NLP Trainer
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Friday, January 19, 2018

Optimizing Object Imagery Therapy

Jika suatu permasalahan atau ketidak-nyamanan psikologis dapat ditransformasikan ke dalam bentuk benda atau “dibendakan”, maka akan lebih mudah untuk ditindak-lanjuti, bahkan benar-benar dapat diperlakukan seperti benda sesungguhnya. Itu adalah teori Object Imagery yang pertama kali dulu saya dapatkan ketika mengikuti pelatihan hypnotherapy.

Ternyata dalam keseharian kitapun kita sering mengalami fenomena ini. Namun kita lebih mengenalnya sebagai simbolisasi, baik dalam ranah budaya maupun agama. Dalam kepercayaan kejawen, seseorang yang hidupnya selalu dirundung sial, sangat biasa disarankan untuk mandi di tujuh sumber air yang dianggap suci. Artinya, sial ini dibendakan/disimbolkan sebagaimana kotoran tubuh yang menempel di kulit, dan dapat dibersihkan dengan air.

Di Bali terdapat suatu ritual yang dikenal sebagai Upacara Melasti. Upacara melasti atau melelasti dapat didefinisikan sebagai 'nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta', yang berarti menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai asal tirta amerta atau air kehidupan.

Hasil gambar untuk melastiUmat Kristiani memiliki simbolisasi yang sangat kuat berbentuk tanda salib (cross) yang bisa digunakan untuk menangkal hal negatif dalam kehidupan.  Dan sebagai seorang muslim, saya menengarai banyak sekali simbolisasi seperti ini dalam pelbagai ritualnya, dimulai dari wudhu, shalat, sampai ibadah haji.

Meski masih ada perbedaan pendapat dalam mensikapi apakah wudhu itu dilakukan untuk membersihkan  tubuh atau mensucikan hati, namun saya lebih sreg dengan asumsi kedua.
Apa pasal? Ya, nyatanya ketika kita buang gas, kita tidak perlu membasuh (maaf) lubang pembuangan gas tersebut. Kita cukup mengulang ritual membasuh muka (menjaga mata), berkumur (mensucikan lisan), membasuh tangan (menjaga perbuatan), membasuh kepala dan telinga (mensucikan pikiran dan menjaga pendengaran), serta membasuh kaki (menjaga langkah). Kesemua tahapan wudhu tadi merupakan simbolisasi dari pensucian antara pikir, kata dan lelaku.

Hasil gambar untuk jumrohRitual dalam ibadah haji seperti  melempar jumroh juga penuh nuansa simbolisasi, yaitu menyatakan perang terhadap kemaksiatan (yang disimbolkan dengan 3 jumroh, yaitu Ula, Wusto dan Aqobah). Maka ketika seseorang telah pulang dari ibadah haji, diharapkan mereka juga telah terlepas dari kemaksiatan, baik pikir, kata maupun lelaku.
Meski seolah remeh temeh, ritual membuat simbolisasi atau membendakan sebuah situasi seperti ini ternyata efektif mengubah belief beberapa orang, hanya dengan melakukan intervensi pada benda atau simbolnya.

Sebagai contoh, seringkali di pelatihan-pelatihan motivasi, Sang Motivator membuat suatu game:
“Mari kita tuliskan seluruh sifat-sifat atau perilaku buruk yang mungkin ada dalam diri kita masing-masing di atas selembar kertas. Hayati dengan penuh perasaan sewaktu menuliskannya, rasakan bahwa semua hal negatif itu benar-benar telah berpindah ke kertas putih itu. Nah, sekarang, remas kertas itu, dan bakar sampai menjadi abu. Bersama lenyapnya kertas ini, maka seluruh perilaku buruk dan negatif ini akan turut lenyap”.
***

'Object Imagery'
Setelah sekian tahun mempelajari dan melakukan praktek hipnosis, baik berupa stage hypnosis ataupun hypnotherapy, saya menemukan banyak keajaiban dari teknik Object Imagery ini.  Teknik ini dapat diterapkan untuk membantu suyet membuang tekanan, beban, stress, bahkan sensasi nyeri dengan cara mengubah hal-hal tersebut menjadi benda yang mudah ditindak-lanjuti. Benda yang akan merepresentasikan kondisi klien semestinya adalah benda yang sangat dikenali oleh klien dan sebisa mungkin memiliki dimensi atau ukuran tertentu sehingga mudah diintervensi. Untuk pemula, saran saya gunakan saja shape/bidang dua dimensi yang memiliki ukuran sisi sama. Saya biasanya menggunakan segitiga sama sisi, bujur sangkar dan lingkaran. Dengan menggunakan 'shape' yang berukuran sama sisi, maka untuk mengintervensi menjadi lebih kecil atau lebih besar akan lebih mudah.

Contoh :
Kita sedang menghadapi seorang klien yang merasa nervous jika diminta untuk berbicara di depan publik. Orang nervous biasanya karena rasa percaya dirinya yang sangat kecil sehingga dikalahkan rasa nervousnya tadi. Ada 2 cara penggunaan teknik object imagery untuk klien semacam ini. Kita bisa mengecilkan nervousnya sehingga tertangani oleh PDnya, atau kita bisa membesarkan PDnya sehingga mengalahkan rasa nervousnya.
Saya yakin Anda juga sependapat dengan saya untuk lebih mengambil pilihan kedua, yaitu membesarkan PD-nya. Maka contoh scriptnya bisa seperti ini:

Hipnoterapis (H): “Sekarang coba bayangkan rasa PD  Anda dalam menghadapi tugas berbicara di depan Publik itu kalau dikonversikan mejadi bidang dua dimensi itu kira-kira bentuknya seperti apa?” Kalau suyet tidak mengerti maksud Anda maka Anda boleh memberi pilihan tiga shape di atas.
Suyet (S): “Mmm lingkaran..”
H: “Baik, terima kasih atas jawaban Anda ini. Nah, sekarang coba dibayangkan lagi ketika Anda nervous seperti ini, kira-kira ukuran  lingkaran PD Anda tadi sebesar apa. Maksud saya berapa diameternya?”
S: “Kecil Pak. Mmm mungkin hanya berkisar 3-5 cm”
H: “Baik, berarti hanya sekitar segini ya?” sambil Anda peragakan jari tangan Anda yang membentuk lingkaran berdiameter 5 cm.
H: “Kalau menurut Anda, agar Anda mampu mengatasi rasa nervous ini, kira-kira diperlukan lingkaran yang berdiameter berapa cm?” (tunggu jawaban klien. Anda tidak boleh menentukan besaran lingkaran tersebut)
S: “Mmmmm sekitar satu meter kali ya?”
H: “Bagus, Anda sudah memutuskan besaran lingkaran Anda. Sekarang prhatikan tangan saya ini. Dalam hitungan ke-3 maka lingkaran ini akan saya besarkan menjadi lingkaran berdiameter 100cm. Nanti bersamaan dengan membesarnya lingkaran ini, maka secara ajaib rasa PD Anda juga berkembang drastis sangat besar sehingga mampu mengalahkan nervous Anda ini. Baik bersiap. Satu..tarik nafas. Duaaa tariik nafas lagi, daaan tiga,..ziiiuuuuud. lingkaran ini sudah membesar dengan diameter 100 cm” (ketika angka tiga Anda sebutkan bersamaan dengan mulut Anda bergumam zziiuuuud maka perbesar peragaan jari lingkaran Anda menjadi 100 cm.
***

'Color Imagery'
Seperti kita tahu bahwa pikiran manusia lebih mudah merespon bentuk dan warna ketimbang kata atau kalimat, maka selain object ternyata kita juga bisa melakukan simbolisasi menggunakan warna. Jika suatu permasalahan atau ketidak-nyamanan psikologis dapat digantikan oleh sbuah warna tertentu, maka akan lebih mudah untuk diintervensi, dan atau bahkan dihilangkan bersamaan hilangnya warna tertentu tadi dalam imajinasi klien. Kira-kira seperti inilah definisi dari Color Imagery.
Saya biasanya mengkombinasikan teknik ini dengan konsep Swish Pattern (yang telah dimodifikasi tentunya).

Contoh:
Anak-anak saya jika sepulang sekolah suka minta dipijitin, apalagi kalau hari itu pas waktunya pelajaran Olah Raga. Kalau waktu saya sedang sempit maka saya gunakan teknik ini. Saya akan minta anak saya untuk membayangkan bagian tubuh yang pegal-pegal tadi kalau diberi warna akan berwarna apa.
Hari (H): “Bagian mana yang pegal-pegal Teh?”
Syifa (S): “Kaki Pah. Kiri dan kanan”
H: “Sekarang coba Teteh tutup mata dan bayangkan rasa pegal tadi kalau diberi warna kira-kira apa warnanya?”
S: “Mmmm hitam agak abu-abu Pah”
H: “Bagus. Sekarang buka mata dan perhatikan telapak tangan kiri Papa ini. Bayangkan saja telapak tangan kiri Papa ini berwarna hitam agak abu-abu. Bisa?”
S: “Sebentar Pah. Oke, bisa Pah”
H: “Bagus, sekarang tarik nafas coba. Dalam hitungan ketiga Papa akan menghapus warna hitam agak abu-abu ini. Satu, dua dan tigaaaa. Plak...!” Tangan kiri saya pukul dengan tangan kanan, kemudian tangan kiri saya sembunyikan di belakang punggung saya, sambil berucap, “Nah sekarang lupakan warna tadi. Bersamaan dengan hilangnya warna tadi, ajaibnya pegal-pegal di kaki Teteh juga hilang. Betul khan?”
S: “Eh, bener lho Pah. Kok bisa sih?”

Anak saya kebingungan, dan saya lanjutkan aktifitas saya, hehehe. Bahkan dalam stage hypnosis saya sering membuang nama suyet atau angka dengan cara sejenis. Sangat cepat dan elegan. Saya akan minta suyet untuk memberi warna pada nama atau sebuah angka, langkah selanjutnya sama seperti contoh di atas. Dalam sekejap suyet kebingungan karena kehilangan namanya atau sebuah angka jadi terlewat ketika berhitung.

Teknik Object Imagery terutama efektif bagi klien yang memiliki modalitas utama Kinestetik.

Sekali lagi, jangan percaya omongan saya sebelum Anda mencoba teknik ajaib ini.

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Monday, January 15, 2018

Apa itu Schismogenesis?

Hasil gambar untuk blue n gold lady shoesAlkisah Anto dan Anti sedang bersiap untuk pergi ke pesta. Anti baru saja membeli baju baru dan ingin terlihat lebih cantik. Sambil memegang 2 pasang sepatu, sepasang warna biru, sepasang warna emas, dia bertanya kepada Anto,  “Mas, sepatu mana yang harus Anti pakai dengan baju ini ya?”
“Ahh…umm…yang mana saja yang kamu suka, Sayang,” jawab Anto
“Ayo dong Mas,” kata Anti lagi, gak sabaran, “Yang mana yang kelihatan lebih bagus…..yang biru atau yang emas?”
“Kayaknya yang emas deh!” jawab Anto mulai gugup.
“Emangnya yang biru kenapa?” tuntut Anti.
“Kamu memang dari dulu gak pernah suka yang Biru! Aku beli mahal-mahal dan kamu gak suka, kan?” dalam hati Anto mulai dongkol, “Kalau gak mau dengar pendapatku, kenapa tadi nanya!”

Anto berpikir tadi dia disuruh menyelesaikan suatu masalah, tapi ketika masalahnya sudah ia selesaikan, Anti malah kesal. 

Sementara Anti sebenarnya sedang menggunakan bahasa yang tipikal cewek alias cuma cewek yang bisa mengerti: bahasa tidak langsung atau kerennya 'indirect speech'
Anti sebenernya sudah memutuskan mau memakai sepatu yang mana dan tidak sedang minta pendapat; yang dia inginkan adalah konfirmasi dari Anto bahwa ia terlihat lebih cantik.
***
Kawan, pernahkan Anda mendengar kisah sejenis ini, atau justru Anda sendiri sering mengalaminya? Tak usah berkecil hati kalau memang iya, sebenarnya komunikasi kurang presisi antara cowok dan cewek seperti ini masih sering terjadi kok di sekitar kita.

Di tahun 1930-an, Gregory Bateson, seorang Antropolog berkebangsaan Amerika sudah melakukan penelitian mengenai watak bangsa (national character) dengan suatu proyek penelitian yang disebut Contemporary Culture. Metode penelitian yang digunakan adalah Study Culture from Distance. Adapun pendekatan teoritisnya adalah gabungan dari teori Freud tentang pentingnya pengasuhan anak, dan metode penganalisaan yang dikembangkan Gregory Bateson yang disebut konsep Schismogenesis, yaitu penelitian mengenai dua kutub yang kontras (bipolar interaction).

Konsep Schismogenesis
Schismogenesis adalah suatu proses pembedaan dalam norma-norma kekhasan pribadi sebagai akibat interaksi antara individu-individu yang terus menerus secara bertimbun banyak.
Menurut Bateson, masyarakat di seluruh dunia berbeda dalam sifat pola interaksi bipolar tersebut. Dengan meneliti cara khas hubungan antar pribadi (interpersonal) dan antar kelompok (intergroup relationship) dapat disimpulkan watak tipikal suatu masyarakat/suku bangsa.

Seorang individu belajar dengan jalan mengambil alih pola watak (characteristic pattern) dari hubungan peran (role) dalam masyarakat tempat ia dibesarkan.
Misalnya, seorang anak dalam hubungannya dengan orang tuanya akan berperan sebagai pihak yang menggantungkan diri (dependence), sedangkan orang tua sebagai pihak yang memberi bantuan (succoring).

Berdasarkan konsep Schismogenesis, bila kita hendak meneliti pola watak suatu suku bangsa, maka kita harus melihat interaksi bipolarnya. Interaksi bipolar untuk hubungan orang tua – anak misalnya dapat bersifat sebagai:

  • Penguasa (dominance) – yang dikuasai (submission)
  • Pemberi bantuan (succorance) – menggantungkan diri (dependence)
  • Mempertontonkan diri (exhibitionism) – menjadi penonton (spectatorship)


Pola-pola bipolar inilah yang membentuk kecenderungan berpikir bagi seorang anak. Dominansi dari salah satu dari orangtuanya, baik itu figur ayah atau ibu bisa juga memengaruhi pola pikir seorang anak, termasuk pola pikir indirect bagi cewek dan direct bagi cowok. Meski tidak menutup kemungkinan juga terjadi sebaliknya.
Bahkan kebiasaan adat istiadat dimana seseorang dibesarkan juga akan memengaruhi konsep pikirnya. Orang Sumatera identik dengan keras, termasuk bicaranya, orang Jawa biasanya halus dalam tutur katanya, merupakan sebuah bentukan juga dari leluhurnya, meski tidak semuanya seperti itu.
***

Dikarenakan perbedaan itulah maka fragmen Anto dan Anti di atas muncul. Masing-masing individu biasanya merespon stimulus yang ada di sekitarnya menggunakan mental map mereka sendiri.

Mereka berpikir bahwa setiap orang adalah sama adanya, sehingga berharap lawan bicara akan memahami apapun kata/perilaku yang mereka utarakan.
Dikarenakan tidak memahami schismogenesis ini maka betapa banyak terjadinya kasus pertikaian dalam rumah tangga yang diakibatkan oleh hal yang sangat sepele seperti kasus sepatu itu? Remeh temen, tidak prinsip, namun bisa berakibat fatal!

Maka di sinilah peran people profiling menjadi penting. Kita mesti memahami pola pikir orang di sekitar kita, sehingga pada akhirnya mampu melakukan komunikasi dengan baik. 

Bukankah keberhasilan sebuah komunikasi tidak diukur oleh maksud, namun oleh respon dari lawan komunikasi kita?
***

RAPPORT
Rapport adalah salah satu prinsip dan teknik komunikasi dan membangun hubungan yang paling populer di dunia. Dan Rapport menyangkut hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain.

Rapport dibangun dengan prinsip pacing-leading dan matching-mirroring. Prinsip pacing berarti menyamakan atau menyesuaikan. Pemahaman praktisnya adalah 'menyamakan frekuensi'. Dengan penyamaan ini, tahap berikutnya, yakni 'leading' bisa dilakukan.

Berbekal ilmu pacing leading ini sebenarnya tragedi sepatu emas tadi bisa dihindarkan. Anto dan Anti bisa belajar untuk mengerti satu sama lain.
Dengan memahami bahwa cewek merupakan makhluk indirect maka sangatlah penting bagi kaum cowok untuk tidak memberikan jawaban secara langsung.

Bila kita re-wind situasi tadi, Anto bisa bertanya, “Kamu sudah memilih yang mana, Sayang?”
Dan jawaban berikutnya biasanya, “Ehm…..aku pikir aku bisa memakai yang emas…” Karena memang pada kenyataannya Anti sudah memilih sepatu emasnya
“Kenapa yang emas?” tanya Anto, sambil tersenyum cerdik.
“Soalnya aku mau mengenakan asesoris warna emas dan bajuku ada pola
keemasannya“
, demikian jawab Anti bangga.
Kemudian dengan yakin Anto bisa menjawab, “Wow! Pilihan kamu bagus tuh An! Kamu bakal kelihatan paling cantik nanti!”

Maka diskusi malam itupun berakhir dengan happy ending.

Sila tebar jika manfaat

Tabik

-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Sumber acuan:
- Danandjaja, James, Antropologi Psikologi : Kepribadian Individu dan Kolektif
- RH Wiwoho: Terapi-Terapi Kilat

Monday, January 01, 2018

Teruslah Berdetak

Hasil gambar untuk dolphin tale 2Beberapa hari yang lalu, saya nonton film Dolphin Tale 2 yang menceritakan perjuangan Clearwater Marine Aquarium (CMA) yang dipimpin oleh Dr. Clay Haskett (Harry Connick Jr.) menyelamatkan Winter,  lumba-lumba muda yang kehilangan ekornya setelah terjerat dalam perangkap kepiting. Dengan bantuan Dr Cameron McCarthy (Morgan Freeman) yang mengembangkan ekor prostetik unik untuk Winter, mereka akhirnya menyelamatkan hidupnya untuk melawan segala rintangan. Juga berarti mereka telah menyelamatkan akuarium (CMA) yang dikunjungi oleh orang dari seluruh dunia.

Namun perjuangan mereka belum berakhir. Induk Winter yaitu dolphin Panama meninggal meninggalkan Winter sendirian yang berduka hingga tidak mau terlibat dengan siapa pun, bahkan terhadap sahabatnya yaitu Sawyer Nelson (Gamble). Film ini berakhir bahagia ketika pada akhirnya tim CMA berhasil memasangkan Winter dengan dolphin muda yaitu Hope.

Film keluarga ini sangat menarik untuk ditonton karena banyak pesan moral yang bisa diambil. Misal rasa sayang pada hewan, kekompakan sebuah tim penyelamat, sampai keharmonisan keluarga Nelson. Namun saya justru lebih tertarik pada konflik bathin yang dialami Sawyer, karena dia mesti meninggalkan CMA demi melanjutkan studinya ke kota lain. Satu kepentingan dalam dirinya mengajak dia untuk menjawab beasiswa yang telah diperolehnya, namun bagian lain dari dirinya enggan meninggalkan CMA, apalagi dengan kasus Winter yang belum mendapatkan pasangan waktu itu.

Dialog menarik terjadi ketika pesta perpisahan untuk Sawyer yang dibuat oleh orang tuanya, Sawyer yang sedang duduk menyudut di samping kolam didatangi oleh Dr. McCarthy dan diberi kenangan berupa sebuah kotak kayu antik yang berisi jam bandul peninggalan paman Dr. McCarthy. Alangkah gembiranya Sawyer mendapatkan kenang-kenangan tersebut, namun kegembiraannya agak pudar ketika menyadari jam bandul itu tidak berdetak lagi.  Melihat kegusaran Sawyer tersebut, Dr McCarthy mengambil jam bandul tadi untuk kemudian menggoyangkannya, dan ajaib, jam bandul tadi berdetak lagi.
"Kamu tahu kenapa hal ini terjadi?", Dr McCarthy mencoba memancing semangat Sawyer dengan sebuah metafora terselubung. "Apa maksud Anda Dok?", Sawyer masih belum 'ngeh' dengan perumpamaan yang disampaikan Dr McCarthy.
"Jam itu terlalu lama tersimpan di gudang saya. Semenjak diberikan oleh paman beberapa tahun yang lalu, sangat jarang saya membuka kotak dan menimang jam tersebut. Maka karena terlalu lama berada di satu tempat, terkadang jam tersebut berhenti berdetak. Nah, untuk menormalkan detakannya, kita perlu menggocangkannya terlebih dahulu.  Am I clear?", Dr McCarthy mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan.

Tiba-tiba saja Sawyer menjadi sumringah. Sambil manggut-manggut dia bangkit dari kursinya, untuk kemudian bergabung dengan para tamu undangan pesta perpisahan yang memang diadakan untuknya. 
***
Sidang Pembaca yang budiman, tak perlu saya jelaskan pencerahan yang didapatkan Sawyer berkat metafora yang disampaikan Dr McCarthy, Anda tentu juga paham khan? Bahwa seseorang perlu senantiasa bergerak agar dinamika yang ada dalam tubuhnya tidak macet. Dan repotnya meski kita bisa menggerakkan lagi sesuatu yang macet tadi, kita perlu menggoncangkannya. Tidak cukup sekedar menggoyang.

Sudah banyak pihak yang membahas tentang rentannya sebuah comfort zone, maka film besutan sutradara Charles Martin Smith ini menguatkan premis mengenai hal itu. Salah satu mentor saya pernah mengingatkan bahwa comfort zone itu belum tentu sebuah zona yang membuat kita nyaman sehingga enggan beranjak. Kondisi pekerjaan yang tidak memberdayakan dengan remunerasi kecil, jobdesc tidak jelas, dan atasan yang killer, namun tidak juga membuat Anda pindah kerja, itu juga merupakan jebakan comfort zone. Ibarat jam bandul tadi maka lambat laun, Anda akan berhenti berdetak. Hilang kreatifitas. Lenyap antusias. Duit di dompetpun lenyap tanpa bekas!  

Kalau sampai hal itu terjadi, maka untuk membangkitkan Anda dibutuhkan goncangan hebat. Dan goncangan selalu tidak akan menyenangkan.

Maka Kawan, besok kita sudah akan menginjak di tahun yang baru lagi. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk senantiasa berdetak. Bergerak, baik pikir maupun fisik kita. So there is no chance anybody to shake us up.

Selamat tahun baru Kawan, dan teruslah berdetak menyongsong harapanmu, tik tak tik tak tik tak...

Tabik
- haridewa -
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

PETE MATCHING

Entah sejak kapan tepatnya saya tidak ingat, kenapa saya sangat hoby makan pete. Bahkan jauh sebelum beredarnya artikel di dumay mengenai k...